Anak kampung
dibawah pohon mangga
Di Jakarta
Jangan Lupa Asal

Laut Disana
Begitu luas..
Jangan Lupa Asal



   

<< June 2010 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, July 02, 2012
daun muda dikampung

Nikmatnya Daun Muda Di Kampung
Aku menemukan satu kampung unik ini secara kebetulan. Temanku yang bekerja di salah satu kementerian suatu hari mengajakku melakukan survey advance. Demikian istilah yang sering mereka gunakan untuk mempersiapkan suatu acara seremonial besar. Acara yang dipersiapkan adalah “Panen Raya Kedelai”.

Temanku ini bekerja di bagian biro protokol, sehingga tugasnyalah menyiapkan segala sesuatu untuk kelancaran acara bagi menteri. Aku dengar malah bukan hanya menteri yang akan hadir, tetapi juga Presiden.

Aku berdua dengan temanku sebut saja namanya Johan meluncur dengan kendaraan dinasnya ke arah Kabupaten Subang. Jam 9 pagi kami sudah berada di kantor Kabupaten Subang untuk melakukan koordinasi dengan pejabat setempat sekaligus membawa penunjuk jalan untuk menuju lokasi. Kami sempat rapat sebentar dengan Bupati dan segenap Muspida untuk persiapan acara ini.

Akhirnya dipersingkat saja ceritanya aku dan Johan serta staf Dinas Pertanian Subang sampai di lokasi. Perkampungan yang agak jauh dari jalan raya. Tadi kuingat, dari Subang mengarah ke Pamanukan lalu membelok ke arah Timur. Dari jalan raya kami melalui jalan perkebunan tebu hampir satu jam baru sampai ke lokasi. Tempat yang kami datangi memang menghampar tanaman kedelai. Tempat acara sudah dipilih oleh pejabat setempat, suatu petak sawah yang kedelainya siap dipanen.

Selesai meninjau lokasi kami melakukan rapat berlarut-larut di kantor kelurahan yang baru tuntas sekitar pukul 5 sore.
“Pak menginap di sini saja pak, dari pada harus kembali ke Subang,” kata Lurah. Dia lalu memperkenalkan kepada kami kepada seorang wanita dengan umur kitaran 30 tahun yang memperkenalkan diri bernama Aminah. Dia adalah Sekretaris penggerak PKK desa setempat.

Mbak Aminah kemudian ikut mobil kami untuk menunjukkan dimana kami akan menginap. Aminah membawa kami ke kampung . Mobil berhenti di sebuah bangunan yang bagian depannya terdapat warung kopi. “ Pak mari turun, ini rumah saya,” katanya.
Aku dan Johan diajak masuk ke dalam rumahnya. Lumayan lega juga di dalam.
“Bapak nginap di sini saja, ini ada 3 kamar kosong, tapi ya keadaannya sederhana, maklum di desa,” kata Aminah.
Kami lalu diajak meninjau kamar, seperti kami meninjau kamar hotel. Untuk ukuran desa kamar yang dimiliki Aminah cukup lumayan dan bersih. Aku kagum, karena tempat tidurnya semua adalah spring bed. Aku jadi bertanya-tanya siapa Aminah, apa kerjanya dan mana suami dan anak-anaknya.
Kami setuju dan Aminah mengarahkan agar kami bertiga mengambil kamar sendiri-sendiri. “Santai saja pak, di sini tidak perlu buru-buru kayak di Jakarta,” kata Aminah.
Rumah Aminah cukup besar dan sejak aku datang sampai selesai mandi dan ngopi aku belum menemukan suaminya atau anak-anaknya. “ Kamu tinggal sama siapa mbak, “ tanyaku penuh penasaran.
“Sendiri saja pak, paling ya ditemeni sama yang kerja di warung itu. Saya sudah tidak punya suami lagi pak, sudah jomblo,” katanya genit.

Aku menanyakan kenapa rumahnya punya banyak kamar, seperti hotel.
“ O itu biasalah pak, sering ada yang nginap, kadang-kadang dari Jakarta juga, mereka kan mau rileks di sini,” kata Aminah sambil senyum genit.
Ketika Aminah ke belakang Pak Cecep, staf Dinas Pertanian Subang menjelaskan kepada kami bahwa di daerah ini kehidupan sangat bebas. Siapa saja yang kita inginkan, baik dia sedang punya suami, janda atau masih perawan bisa diajak tidur. Aku jadi berpandang-pandangan dengan Johan. Kami berdua memang penjahat kelamin.

Sekembalinya Aminah bergabung dengan kami pak Cecep tanpa basa basi menanyakan ke Aminah mengenai teman tidur yang bisa disediakan malam ini. “ Bapak-bapak mau yang model apa, “ tanya Aminah.
Agak repot juga menjawab pertanyaannya.
“ Ya udah nanti pada saya panggilin, bapak-bapak tenang saja, ada yang abg ada yang stw,” kata Aminah lalu berlalu. Dia berbicara dengan pembantu lakinya yang tidak lama kemudian pembantu itu pergi membawa sepeda motor.

Sekitar 2 jam setelah kami makan malam, kami diajak melihat warung di depan. “ Itu pak anak-anaknya, bapak-bapak tinggal pilih saja yang mana itu ada 8 orang yang bisa siap malam ini nginap.
Aku dan Johan menyapu pandangan ke seluruh cewek yang duduk di warung. Cukup lumayan juga. Johan dan Cecep sudah menentukan pilihan. Aminah memanggil mereka yang terpilih. “ Bapak yang mana,” tanya Aminah kepadaku.
“Wah agak susah juga nih menyebutnya, “ kataku.
“ Kenapa pak gak ada yang cocok ya, nanti biar dipanggil lagi yang lain, “ kata Aminah.
“Nggak bukan itu , ndak perlu manggil lagi, tapi saya dari tadi naksir sama yang punya rumah,” kataku terus terang.
“ Ah bisa aja si Bapak, saya mah udah tua, udah kendor pak, takutnya nanti ngecewain,” katanya tersipu malu dengan pandangan genit.
“ Ah tapi pandangan saya, yang punya rumah yang terbaik dari semua itu,” kataku mulai melambungkan pujian.

Aminah lalu memberi kode ke pada pembantunya laki-laki dan kepada perempuan yang tidak terpilih satu persatu meninggalkan warung.

Cecep dan Johan langsung menggiring pasangannya masuk ke kamar, sementara aku masih ngobrol dengan Aminah. Aku banyak mengorek keterangan mengenai kehidupan di kampung ini.
Menurut Aminah masyarakat di kampung ini bebas terhadap masalah sex. Dia tidak tahu bagaimana awalnya sampai adat kampung ini demikian. “ Kalau bapak tinggal di sini baru bisa merasakan bahwa di sini masyarakatnya ramah dan masalah sex bukan hal yang tabu,” katanya.
“Tapi bagaimana istri orang kok bisa diajak nginep,” tanyaku.
“ Disini uang kan susah pak, Kalau istrinya dibooking, berarti kan dia dapat duit, seratus duaratus sudah besar di kampung, pak” katanya.
“Pak kita terusin ngobrolnya dikamar saya saja pak,” kata Aminah sambil menggandeng tanganku.

Di dalam kamar Aminah melepas semua pakaiannya, BH nya tinggal celana dalam dan dia memakai sarung setinggi dada. Dia tidak malu-malu bertelanjang di depan saya. Susunya cukup besar dan pahanya juga tebal sekali.

Aku tidak perlu menceritakan secara rinci bagaimana pertempuranku dengan Aminah. Dia memulai dengan memijat seluruh tubuhku lalu mengoral dan akhirnya kami mengayuh birahi. Permainannya cukup trampil dan memeknya bisa dia mainkan sehingga penisku seperti di pijat-pijat. Kami bermain dua ronde lalu tertidur lelap sampai pagi.

Pagi-pagi Aminah sudah menyiapkan nasi goreng dengan telur mata sapi serta dua telur ayam kampung setengah matang untuk kami masing-masing.
Aku merasakan ketenangan dan kedamaian di desa yang teduh. Hari ini aku dan Johan melanjutkan rapat koordinasi untuk ancara Panen Raya Kedelai. Soal apa yang kukerjakan kurang menarik untuk diceritakan, tetapi, ketika semua rampung sekitar pukul dua siang kami berdua kembali ke rumah Aminah. Pak Cecep kembali ke Subang.

Aminah menyambut kami, kami mengobrol sebentar. Saat Johan ke kamar mandi, Sofei mendekatiku, “ Pak ada janda baru cerai masih muda, anaknya cantik, saya lagi suruh dia di bawa kemari,” kata Aminah.
Aku sebenarnya agak rikuh, karena semalam sudah menunggangi Aminah. Untuk berpindah ke lain hati sepertinya saya tidak punya perasaan. Tapi, si Aminah yang menawarkan. “Begitu bebaskah pergaulan di desa ini sehingga tidak ada rasa memiliki,” batinku.

Tidak lama kemudian datang 2 sepeda motor. Aminah menyambut dan menggandeng salah seorang yang lalu diperkenalkan kepadaku. Gadis yang masih kelihatan masih sangat remaja itu disuruh duduk disampingku. Kuakui dia memang cukup cantik dan seksi. Yang seorang lagi juga seimbang cantiknya, tetapi tubuhnya lebih pendek, dan dia dijodohkan ke Johan.

Aminah tanpa basa-basi membuka omongan dengan memperkenalkan gadis yang disebelahku bernama Yaya, janda baru 3 bulan dan cewek Johan Mimin belum pernah kawin tapi sudah janda. Selama 3 hari kami menginap di rumah Aminah, aku puas karena setiap malam berganti-ganti pasangan. Setelah pekerjaan Johan selesai dan dia harus kembali ke Jakarta, aku masih bertahan di desa itu.

Selama seminggu aku memuaskan fantasi sex ku dikampung sex bebas ini. Kehadiranku di situ, rupanya cepat diketahui peduduk kampung. Warung Aminah jika sudah sore sekitar jam 5 sering didatangi cewek-cewek. Mereka sengaja datang untuk aku pilih menjadi teman tidurku. Kegilaanku makin mejadi-jadi, karena aku mencoba berbagai tipe, dari mulai yang gendut, kurus, muda , STW dan berbagai tipe. Suatu hari aku digamit Aminah, “ Pak itu ada orang nawarin anaknya yang masih perawan, bapak berminat gak. Aku melepas pandangan ke warung, terlihat seorang ibu didampingi gadis kecil. Kutaksir umurnya masih dibawah 15 tahun. Aku jadi penasaran ingin pula mencoba perawan kampung. Aku setuju dan harga yang ditawarkan ternyata juga tidak terlalu tinggi. Gadis kecil itu digandeng Aminah masuk ke ruang tamu lalu dia menyuruh menyalamiku.

Buset masih kecil sekali. Teteknya memang sudah nyembul, tetapi masih kecil sekali. Anaknya duduk disampingku menunduk malu diam saja. Aku berusaha mengorek informasi ternyata umurnya baru 13 tahun, baru lulus SD.” Kamu benar berani tidur dengan saya,” tanyaku.
Dia menjawab dengan anggukan saja.
“Sudah pernah pacaran,” tanyaku.
Dia menggeleng.
“Sudah pernah dicium laki-laki,” tanyaku lagi.
Dia menggeleng lagi.
Aku lantas bertanya dalam hati apa aku sanggup memerawani anak sekecil ini. Bukan soal menusukkan penis ke memeknya, tetapi mengolahnya bagaimana ?

Aku berdiri dan menarik Aminah. Kami berbicara di dalam. Intinya aku minta bantuan Aminah untuk mengajari anak ini memuaskan laki-laki. Aminah terdiam, tampaknya dia berpikir sebentar. “ Emang kenapa kok pakai perlu dituntun, tancep aja kan sudah, kan anaknya juga sudah pasrah,” kata Aminah.
Aku lalu menjelaskan ke Aminah bahwa anak sekecil itu belum bisa membayangkan kejadian seperti apa yang bakal dia alami ketika berdua dengan laki-laki. Aku minta Aminah melakukan kursus singkat mempersiapkan dia agar benar-benar siap. Bukan hanya itu, Aminah juga harus ikut di dalam kamar menunjukkan contoh dan cara meladeni laki-laki.

Mungkin ini adalah pengalaman pertama bagi Aminah memberi training sex sampai pada praktek. Aku pun baru pertama kali ini menghadapi perempuan kecil. Jiwa petualanganku lah yang mendorong aku ingin mencicipi daun muda.

Aminah akhirnya paham. Dia lalu menarik anak itu dan kelihatannya dia diminta membantu-bantu Aminah. Aku memang mencadangkan energi untuk eksekusinya nanti malam sekitar jam 10. Sekarang baru jam 5 sore. Aminah punya waktu 5 jam untuk mempersiapkan anak itu sebelum ditikam.
Sementara itu aku memanfaatkan waktu senggang dengan beristirahat tidur dulu mempersiapkan stamina. Selama ini setiap malam aku bertempur minimal 3 ronde.

Jam 8 malam aku dibangunkan Aminah untuk makan malam. Aku duduk di meja makan. Kulihat Aminah mengajari Dini, demikian namanya untuk meladeniku makan. Ia mengambilkan piring, lalu menyendokkan nasi, mengambilkan lauknya lalu menyerahkan ke aku. Setelah itu dia makan disampingku.
Pembawaannya kelihatan masih canggung, malu menunduk terus, tidak bicara kalau tidak ditanya. Dini cukup ayu, kulitnya agak gelap, rambutnya sebahu lebih sedikit. Rambutnya kelihatan masih belum begitu kering, sekelebat memancarkan bau harum. Tadi ketika baru datang terasa bau anak kampung, dan rambutnya samar-samar bau minyak kelapa. Aminah kelihatannya membersihkan dan mempersiapkan Dini sebelum aku santap nanti malam.

Selesai makan kami ngobrol sambil menonton TV. Sekitar sejam kemudian kami digiring Aminah memasuki kamar. Setelah di dalam kamar, Aminah mengajak Dini keluar lagi. Aku berganti celana pendek dan kaus oblong lalu berbaring di tempat tidur. Tidak lama kemudian Aminah dan Dini masuk. Mereka berdua sudah berkemben sarung. Aku diminta Aminah membuka kaus dan tidur telungkup. Aminah mengajari Dini memijati seluruh tubuhku. Pijatannya tidak terasa, tekanannya terlalu ringan. Aku maklum sajalah, karena dia masih kecil dan mungkin baru pertama kali memijat laki-laki dewasa. Berrkali-kali Aminah memberi instruksi cara memijat.

Setelah seluruh bagian belakang badanku dipijat, aku diminta telentang. Aminah mengajak Dini membuka sarungnya. Mereka berdua lalu bugil setengah badan. Tetek Aminah besar bergayut-gayut, sementara susu Dini masih kecil, kelihatannya baru tumbuh. Pentilnya masih kecil. Aminah mengarahkan Dini melepas celana luar dan celana dalamku. Gerakannya agak kaku, malah terasa agak gemetar. Penisku langsung tegak ketika celana dalamku diloloskan. Aminah dengan bahasa setempat mengajari Dini memegang-megang penisku lalu disuruh mengocok pelan. Nikmat sekali rasanya meskipun genggamannya kecil. Aminah mengambil alih dan mengajari bagaimana melakukan oral terhadap penisku. Mulanya Dini menolak, kata dia jijik. Aminah lalu mencontohkan mengoralku. Aminah memang sudah piawai dengan hisapan dan jilatan. Dini diminta mengikuti apa yang baru saja dilakukan Aminah. Dengan ragu-ragu mendekatkan kepalanya dan dia mulai menjulurkan lidahnya menjilat penisku. Aminah setengah memaksa, sampai akhirnya Dini mau mengulum kepala penisku dan menjilati buah zakarnya. Tidak begitu nikmat rasanya, tetapi karena yang menjilat ini adalah anak yang belum punya pengalaman, aku merasakan sensasi yang luar biasa.

Hampir setengah jam aku dioral, lalu Dini dibaringkan di sebelahku. Ia membuka dulu celananya, sehingga Dini dan Aminah sekarang sudah bugil. Belum ada bulu jembut dikemaluan Dini, Memeknya cembung dan belahannya rapat seperti memek anak bayi.

Aku dipersilakan Aminah untuk mencumbu Dini. Aku bangkit dan mulai menciumi pipi Dini. Wajah Dini ketakutan. Kupegang, telapak tangannya dingin. Aku mencoba mengulum bibirnya. Aminah terus-menerus memberi instruksi bagaimana Dini harus membalas ciumanku. Meski kelihatan agak terpaksa, Dini membuka mulutnya dan menyambut uluran lidahku. Setelah kurasa cukup mengulum bibirnya. Ciumanku berpindah ke bagian telinga lalu turun ke leher. Dini menggelinjang sambil mengatakan rasanya geli sekali. Sementara itu aku merabai tetek kecilnya yang masih sangat kenyal. Aku berhati-hati meremas, karena mungkin saja dia kesakitan kalau aku remas terlalu keras.

Aku menjilati kedua puting susunya yang mengeras, dan masih sangat kecil. Dini tertawa sambil menahan geli. Aminah memarahi Dini agar jangan ketawa dan harus menahan rasa gelinya. Dini terus saja menggelinjang-gelinjang menahan rasa geli dari jilatanku. Aku mengindra bahwa nafas Dini mulai memburu dan terdengar detak jantungnya semakin cepat. Mungkin saja anak ini mulai terangsang, atau dia sedang merasakan ketakutan. Sambil kujilati teteknya aku meraba selangkangannya. Belahan memeknya masih kering. Jika cewek dewasa, tanda di memeknya yang masih kering itu berarti dia belum terangsang, tetapi bagi cewek bau kencur ini, aku belum punya pengalaman. Bisa saja dia sudah mulai terangsang, tetapi lendir vaginanya belum berproduksi sempurna. Atau memang dia belum terangsang sama sekali, karena tercekam rasa takut dan kegelian.

Dari bagian teteknya aku turun menciumi gundukan memeknya. Aminah membantuku melebarkan kakinya. Aku berpindah diantara kedua kakinya lalu menjulurkan lidahku ke belahan memeknya. Dini menggelinjang-gelinjang sambil tertawa kegelian. Aminah memarahi Dini agar jangan tertawa. Dini beralasan dia tidak dapat menahan rasa geli. Aku menguak belahan memeknya, Terlihat merah di dalamnya dan lubang vaginanya sangat kecil. Tampaknya satu jariku pun tidak muat ditusukkan ke lubang itu. Lipatan bibir dalamnya agak menonjol, sehingga ketika memeknya tertutup lipatan kulit labia minoranya menyembul keluar. Belum ada kerutan di kulit labia minoranya. Aku mulai menjilati lipatan kulit memek bagian dalam itu. Dini menggelinjang terus kegelian. Aku memaksa menjilatinya terus, tanpa menyentuh bagian clitorisnya.

Aku sadar kalau dia belum terangsang maka rasa geli dan ngilu tidak akan mampu dia tahan. Setelah Dini agak tenang dan tidak bergerak-gerak lagi, lidahku baru mulai menggapai kulit penutup clitorisnya. Dini menggelinjang setiap kali lidahku menyentuh kulit penutup clitoris itu. Dia menggelinjang-gelinjang terus. Namun dari perasaanku mengatakan bahwa gelinjang nya kali ini karena rangsangan. Lidahku mulai mencari ujung clitorisnya. Agak terasa mengeras daging seperti daging tumbuh. Dini mulai memasuki gelombang rangsangannya sehingga secara tidak sadar dia merengek-rengek nikmat. Aku meraba lubang memeknya mulai terasa berlendir. Cukup lama juga aku mengoral Dini, sampai aku pegal, tetapi dia tidak bisa mencapai orgasme. Karena bosan akhirnya aku bangkit dan melanjutkan episode berikutnya memerawaninya.

Sebelum penisku ku tusukkan Aminah mengalasi bagian bawah memek Dini dengan kain batik. Mungkin Aminah menghindarkan spreinya terkena darah perawan. Aku melumuri penisku dengan ludah sebanyak-banyaknya dan juga lubang memek Dini. Dengan bantuan dan tuntunan Aminah penisku diarahkan ke lubang memek Dini. Dia agak berjingkat ketika penisku mulai menusuk gerbang memeknya. Dini mengeluh memeknya perih. Aminah menginstruksikan Dini menahan sakit yang kata aminah cuma sebentar.

Penisku pelan-pelan menikam lubang memek Dini. Ketat sekali rasanya lubang memek anak bau kencur ini. Meski penisku sudah di dalam lubang memek, tetapi untuk memajukannya sulit sekali. Aku mencoba menarik sedikit lalu menekan lagi demikian berkali-kali sampai kepala penisku masuk seluruhnya. Untuk masuk lebih jauh terasa halangan selaput daranya. Dini sudah bercucuran air mata dan dia kelihatannya menangis meski tanpa suara. Aminah mengusap-usap rambutnya sambil menghibur bahwa sakitnya cuma sebentar. “ Sebentar lagi kamu ngrasai enak, tahanlah,” begitulah kira-kira kata Aminah dalam bahasa lokal.

Setelah agak lancar gerakanku, aku mulai menekan perlahan-lahan dengan tenaga ekstra sampai terasa menjebol sesuatu di dalam rongga memek itu. Dini menjerit kesakitan. Penisku langsung bisa maju terus sampai akhirnya tertelan memek Dini seluruhnya. Aku menahan beberapa saat sampai Dini tenang dan berkurang rasa sakitnya. Setelah itu ketika aku melakukan gerakan menarik sedikit Dini kelihatan tegang dan merintih. Aku hunjamkan lagi begitu berkali-kali sampai dia tidak terlihat ekspresi kesakitan. Aku pun lantas melakukan gerakan lebih jauh maju mundur. Memang terasa sempit dan ketat sekali. Maklumlah memek anak kecil yang belum berkembang dipaksa menerima penis orang dewasa. Aku tidak mampu bertahan sehingga lepaslah spermaku di dalam memeknya. Ketika kucabut penisku, terlihat ada guratan merah bercampur dengan sperma. Dini terdiam pasrah, seperti orang pingsan. Aminah membantu membereskan bekas maniku dan membersihkan batang penisku dengan handuk basah. Dia juga membersihkan memek Dini yang ada lelehan maniku bercampur darah.

Sekitar satu jam kami bertiga istirahat berbaring. Aku dipinggir disebelahku Dini lalu Aminah. Kami bertiga bugil. Aku merasa canggung juga meminta Aminah ikut di dalam pertempuran ini. Perannya memang besar. Jika dia tidak memberi arahan, bisa-bisa aku gagal memerawani Dini. Untuk membalas jasanya aku bangkit dan langsung nyosor menindih Aminah. Aminah tidak siap dia terkejut. Dia mungkin sudah setengah tidur. Aku menciumi mulutnya menghisap kedua teteknya yang menggelembung dan menyedot-nyedot pentilnya. Setelah dia terbakar birahinya aku mulai turun menjilati clitorisnya. Aminah tanpa malu-malu mengerang-ngerang nikmat. Dia kuoral sampai orgasme yang ditandai dengan jeritannya. Semua adegan itu disaksikan Dini sambil dia duduk bersila.

Aku lalu menancapkan penisku yang sudah 75 persen mengeras. Aku genjot Aminah dengan posisi MOT. Bosan pada posisi itu kami ganti posisi Aminah diatas. Dia menggenjot penisku sampai dia mencapai orgasmenya dengan jeritan dan ambruk ke dadaku. Penisku masih menegang dan belum ada tanda-tanda mencapai puncaknya. Aminah kuminta nungging lalu aku menusuknya dari belakang. Aminah mengerang-negerang kembali sampai dia mendapat orgasme lagi. Lubang memek Aminah sudah sangat licin sehingga aku mengambil handuk basah untuk membersihkan lendir dari penisku dan menyeka lendir dari memek Aminah. Aku kembali mengambil posisi MOT, dengan berbagai gaya mulai dari kaki Aminah ditekuk sampai kakinya di letakkan di pundakku. Hampir 45 menit aku menggenjot Aminah dengan berbagai gaya dan aku sudah merasa mulai lelah, maka aku berusaha berkosentrasi untuk mencapai puncak kenikmatan. Akhirnya sampai juga kenikmatanku dan aku benamkan sedalam-dalamnya penisku ke dalam memek Aminah.

Setelah beristirahat sebentar Aminah lalu keluar berbalut sarung bersama dengan Dini. Mereka kelihatannya menuju kamar mandi. Setelah mereka keluar, aku juga merasa agak sesak pipis, maka dengan hanya bersarung aku menuju kamar mandi satu-satunya dirumah itu. Aku mengetuknya dan Aminah membuka pintunya. Aminah dan Dini sedang jongkok membersihkan memeknya. Aminah mengajari Dini berkumur dengan larutan penyegar dan membersihkan daerah kewanitaan dengan sabun khusus. Sementara itu aku ditelanjangi Aminah dan Dini disuruh menyabuni seluruh bagian kelaminku sampai bagian dubur. Kami bertiga keluar dari kamar mandi. Jam di dinding menunjukkan pukul 1 dini hari. Perutku terasa lapar dan hal itu kusampaikan ke Aminah. Dia menawarkan membuatkan mi instan. Aku pun setuju. Dengan hanya berkemben sarung Aminah dan Dini mempersiapkan mi instan ditambah dengan telur. Kami bertiga makan mi instan hangat. Lumayan kenyang juga. Aku lalu kembali ke kamar mandi mengosok gigi. Mereka berdua sudah berbaring di bed ketika aku masuk kamar. Aku disisakan tempat di tengah. Kami pun tidur bertiga sampai pagi.
Pada pagi hari penisku masih bisa berdiri dan aku menggarap Dini. Dia tidak terlalu merasa sakit, tetapi di wajahnya terlihat masih ada trauma.
Aku akhirnya tinggal sebulan di rumah Aminah, mendapat 5 perawan dan setiap malam berganti-ganti pasangan. Aku senang dengan suasa desa itu. Aku sampai bercita-cita membeli sebidang tanah dan rumah serta sawah di kampung ini.

Dari pengalamanku menjajal potensi desa ini aku mendapatkan kesimpulan bahwa wanita yang berkulit agak gelap, tetek tidak terlalu besar dan badannya terlihat kencang serta mukanya bersih dari jerawat, memeknya rasanya sangat nikmat. Sementara itu wanita yang teteknya gede alias Toge, hanya indah dipandang, tetapi memeknya kurang nikmat dan permianannya di ranjang kurang agresif.
Aku sering ke desa ini menghabiskan liburanku. Aku akhirnya dikenal luas di desa ini sampai ke aparat desa pun aku akrab.

Posted at 05:39 pm by pohonmangga
Make a comment  

Saturday, January 26, 2013
keperawananku direnggut kakak pacarku...

“ Bagaimana Di , udah depet , cobain cewek eloe “ tanya Bram kakak Dodi , yang sedang nonton televisi di kamarnya . Dodi mengeleng “ belom , dia engak mau , gua baru cium cium aja “ jawab Dodi sambil mesem mesem . “ bego loe , dapet cewek cantik gak di pake , emang eloe gak nafsu sama dia ? “ . “ nafsu sih , tapi dia nolak terus “ jawab Dodi. “ udeh , gini aja , eloe bawa diia kemari , kita kerjain aja “ usul Bram.

“ kerjain ? , kerjain gimana “ tanya Dodi , menatap kakaknya dan melewati acara televisi itu . Bram menjelaskan secara rinci rencananya pada Dodi . “ wah , gua coba deh besok , tapi gua gak janji loh , kalau dia nolak bagaimana ? “ tanya Dodi . “ usaha dong , usaha , eloe rayu dikit…” kata kakaknya . Dodi menganguk anguk saja , dan matanya kembali menonton tanyangan layar kaca .

>>>

Gadis cantik itu , berjalan cepat keluar dari gedung sekolahnya . Dia berhenti di depan jalan raya , kepalanya bergoyang ke kiri dan kekanan , mencari sesuatu . Dia menemukan sedan merah milik Dodi . Dia menghampirinya dan masuk ke mobil itu . “ hai , Santi sayang.. “ kata Dodi menyapa gadis itu . Santi tersenyum .

Mobil warna merah itu bergerak , membawa sepasang anak SMU di dalamnya . “ Dodi , kenapa kamu mau ajak aku rumah kamu “ tanya Santi . “ kakakku si Bram , berulang tahun , tidak di pestain , jadi aku membawa kamu ke rumah , yah hitung hitung buat menghibur dia “ jawab Dodi . Santi tersenyum “ oh jadi si Bram ultah yah “ ujarnya .

Yah , Santi memang kenal dengan Bram sebelumnya . Awal pertama mereka bertemu di sebuah mall . Saat itu Bram mencoba mengoda Santi . Dan berhasil berkenalan dengan Santi . Tapi karena Bram sudah kuliah , sedang Dodi masih SMU setingkat Santi , akhirnya Dodi yang lebih mendekati Santi . Bram memang terkenal rusak , dia buaya . Dia berusaha mendidik adiknya mengikuti jejaknya .

>>>

“ hebat “ ujar Bram dalam hati , ketika melihat Dodi berhasil membawa Santi masuk ke dalam rumahnya . Santi tersenyum melihat Bram “ selamat ulang tahun yah “ . “ oh terima kasih , sorry loh , gak ada pesta , apa apa “ jawab Bram .
Mereka akhirnya duduk di sofa ruang tamu rumah itu . Kemudian Bram memulai pembicaraan..dan mulai bertambah akrab dengan Santi.



Mereka berbicara tentang , sekolahnya , temannya , hobinya dan sebagainya . Bram memang ahli , dia tak pernah ke habisan kata kata . Tampaknya Bram yang banyak bicara dari pada Dodi . “ Dodi , ambilkan minuman dong , masa tamu secantik Santi , di biarkan ke hausan sih “ perintah Dodi , sambil memberi kode kedipan mata.

Tak lama Dodi , telah kembali dengan tiga gelas sirop . Dia meletakan di Meja . “ ayo di munum San “ ujar Dodi . “ terima kasih “ jawab Santi sambil meraih gelas yang berisi Sirop, yang telah di oplos dengan obat perangsang yang keras . Obat perangsang itu, tak berbau dan tak berasa , tapi efeknya sangat kuat .

“ eh sebentar yah , San saya mau ke WC nih , sakit perut “ kata Dodi . Lalu meninggalkan Santi dengan kakaknya . Dodi melakukan sesuai rencana Bram . Ini akan memberi kesempatan Bram untuk bisa lebih mudah merayu Santi . Apalagi dengan bantuan obat perangsang yang berefek kuat itu .

“ San , kamu itu cantik sekali yah , rambut kamu sepertinya halus sekali “ rayu Bram , yang membuat Santi tersipu . “ ih , Bram , kamu bisa aja ..” kata Santi malu malu .
“ ih , benar koq , gak bohong , sumpah “ kata Bram , sambil meminta Santi meminum sirop itu lagi . Dan lagi lagi Santi mengangkat gelas itu , meminum sirop itu , tanpa curiga .

Obat perangsang itu sepertinya mulai bereaksi . Santi tampak gelisah . Dia duduk dengan tidak nyaman . Tapi Bram terus merayu dia , dengan cara memuji muji kecantikan dan ke indahan tubuhnya . “ Santi , kata Dodi , kalian pernah berciuman yah “ tanya Bram . “ eh , iyah … “ jawab Santi dengan malu malu .

“ wah , si Bram beruntung yah , bisa mencium cewek secantik kamu “ ujar Bram , yang makin membuat Santi terlena . “ ah , Bram kamu bisa aja , eh kamu lebih baik yah dari si Dodi “ kata Santi . Bram tersenyum “ boleh gak , aku mencium kamu “ kata Bram .
Santi , sepertinya terkejut , dia menatap Bram . “ boleh gak sayang , itung itung hadiah ultah saya “ kata Bram .

Dorongan obat perangsang itu begitu kuat , membuat syaraf syaraf di otak Santi tak bisa berpikir jernih . Libidonya meningkat , tak terkontrol . Santi mengangguk , sambil memejamkan matanya . Tanpa membuang waktu Bram mulai mencium bibir mungilnya. Melumatnya memasukan lidahnya ke dalam mulut Santi . Matanya terpejam. , Bram terus memainkan lidahnya di dalam mulut Santi . mengelitik langit langitnya .

Detak jantung Santi meningkat , Bram tahu dia mulai terangsang. Bram mulai meraba dadanya, dia merintih.”jangan Bram ” Santi berkata lirih. Bram menjilat lehernya , ”sayang , kamu jangan munafik , aku yakin m-*-m-*-k mu sudah basah . ”
Bram tersenyum , dia meledek Santi dengan sinis. ”m-*-m-*-k mu basah kan , ayo jawab jangan muna ’”kata Bram sambil meraba raba dadanya

Muka Santi memerah , dia menatap Bram dengan lirih. Santi diam , tak berkata kata . Bram tersenyum , Santi sudah sepenuhnya berada di bawah kendalinya .

Kembali Bram menciumi bibir Santi lagi . Santi pun membalasnya dengan penuh nafsu Dengan cepat Bram melepas kancing bajunya satu per satu. Santi sama sekali tak bisa menolak . Bajunya telah terbuka buka ,dia memaki bra pink . Tangan Bram cekatan melepas bra pink itu . Kini matanya bebas menatap buah dada , ABG , SMU itu.

Buah dada yang sedang dalam masa pertumbuhan itu tak luput dari sentuhannya . Tubuh Santi gemetar , baru kali ini buah dadanya di sentuh tangan pria . Putingnya yang kecil ke merahan juga di mainkan dengan liar oleh jari Bram . Santi mendesah
“ ahh.. geli Bram … “ erang Santi . “ geli tapi enak yah “ seloroh Bram .

Lidah Bram pun menjulur , menjilat putting susu Santi yang tampak menonjol keluar . Santi sudah sepenuhnya di kuasai birahi . Bram dengan rakus melumat , menyedot buah dada Santi . Membuat Santi semakin birahi . Suara erangan nikmat Santi terdengar , menambah gairah Bram .

Puas dengan buah dadanya Bram pun melepas rok abu abunya , pangkal pahanya masih terbalut celana dalam pink . Tangan Bram dengan lembut meraba raba paha putih mulus Santi , Santi tak lagi berkuasa atas tubuh nya .



Kedua kakinya di buka lebar Bram , Bram dapat jelas melihat bercak basah , cairan nikmat yang merembes dari vagina perawan Santi . “ sayang , saya akan buat kamu terbang ..” ujar Bram di telinga Santi , lalu menjilati daun telinga Santi , sehingga membuatnya terangsang geli .

Satu sentuhan dengan tekanan , tepat di selangkangan celana dalam pink milik Santi . Suara erangan birahi keluar dari mulut ABG itu . “ ahh , Bram .. ahhh “ . Lidah Bram terus aktif menyapu , putting susu Santi , buah dadanya tanpak mengeras karena
nafsu . Di sertai getaran getaran jari Bram di atas selangkangan celana dalamnya , membuat tubuh Santi bergejolak .

“ ohh .. ahhh .. sudah Bram aku mau pipis ..” erang Santi ketika jarinya bergerak cepat di selangkangan celana dalamnya . Bram tidak berhenti , jari itu bergetar semakin liar , Putting susunya juga di jilat cepat . Tubuh Santi mengejang , Santi menjerit histeris , pantat indahnya terangkat , mengejang lalu jatuh terduduk kembali .

Rasa nikmat yang baru pertama kali di rasakannya . Nafasnya masih memburu , di sertai degup jantungnya yang cepat . Bram pun menciumi bibir indah Santi “ bagaimana sayang , kamu merasa nikmat ..” tanyanya . Santi tak bisa menjawab pertanyaan itu , dia hanya diam pasrah .

Tangan Bram lalu melepas celana dalam pink Santi yang telah basah itu . Bram melihat bukit kemaluan Santi dengan bulu bulu tispis . Dengan dua jarinya , bibir tebal vaginanya di kuak lebar oleh Bram . Santi mengerang . Lidah Bram menjulur , menjilati klitorisnya . Lagi lagi Santi mengerang nikmat .

Jilatan lidah Bram di klitorisnya terus membangkitkan nafsu birahi Santi sebentar saja , Gadis itu telah kembali birahi . Santi terus mengerang kenikmatan . Pengaruh obat perangsang itu begitu kuat . Lendir vagina Santi mengalir terus . Dan tubuhnya kembali menegang . “ ahh… enak… ahhh ahhh..enak..” erangnya .

Lidah Bram terus bergerak menyapu klitoris , dan membawa Santi kembali mengejang kerena orgasme . Tubuhnya kembali lemas .

Saat itu Dodi sudah berdiri , dan melihat tubuh bugil Santi terduduk lemas di atas Sofa . Santi yang melihat Dodi tiba tiba , berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terbuka dengan roknya . Tapi Bram menarik rok itu . “ Dodi buka celana eloe “ perintah kakaknya . Dodi pun melakukan apa yang di suruh kakaknya .

Penis Dodi telah tegang . Dodi mendekati Santi . “ San , jilatin k-*-*-t-*-l nya . Santi menolak “ tidak , aku tidak bisa “ . “ ayo di coba , nanti aku jilati lagi m-*-m-*-k eloe “ rayu Bram . Tapi Santi tetap menolak . Bram hanya tersenyum .

Tiba tiba , Bram mengangkat tubuh Santi , dan memangkunya . Tubuh Santi terasa lemah , dia tak banyak melawan . Dan kedua kakinya di buka lebar oleh Bram . “ Dodi , sekarang eleo bisa e-*-t-*-t-in Santi “ kata Bram sambil tertawa . Santi meronta dalam pangkuan Bram , tapi dia seperti kehilangan tenaga . “ jangan.. tolong jangan…” ibanya

Dodi semakin mendekat tubuh muda itu , Dodi menatap , wajah cantik Santi , dan kepala penisnya sudah menempel di bibir vaginanya . Santi memejamkan matanya , dan dia bersuara lemah “ tolong .. jangan , jangan Dodi… “ ibanya . Penis Dodi perlahan mendesak masuk , membuka belahan vagina Santi . Santi meringis , Penis itu bergerak masuk lebih dalam . “ ahhh .. sakit.. tolong hentikan..” erang Santi , ketika penis Dodi , telah masuk seluruhnya dalam liang Santi .

Dodi pun menikmati , jepitan erat vagina Santi . Dia mulai mengoyang , menarik keluar batang penisnya , dan mendorong masuk kembali dengan cepat . Santi mengerang , setiap kali penis Dodi , menusuk liang vaginanya . Dari belakang , tubuh Santi di peluk erat oleh Bram , yang meremas remas buah dada muda itu .

Gerakan Dodi pun makin lama semakin liar . Penisnya terus bergerak keluar masuk , membuat Santi terus menerus , mengerang ke sakitan . Dodi tak peduli yang di rasakan hanya nikmat tubuh muda Santi . Penisnya terus bergerak keluar masuk . Gerakkan Dodi semakin cepat , menghentak hentak keras , dan tiba tiba menekan habis batang penisnya dalam liang vagina Santi . Dia Diam .

Saat itu , Santi merasakan cairaan hangat sprema Dodi , telah memenuhi vaginanya . Perlahan Dodi , mencabut batang penisnya , dan sebagian dari spremanya keluar dari liang vagina Sani , berserta darah perawan Santi .

Bram , melepaskan pelukkan-nya . Dan membiarkan Santi terkulai lemas di atas Sofa . Bram sambil tersenyum membuka kancing celana blue jean belelnya , perlahan resleting celana itu di turunkan , Bram melepas celananya , penisnya yang lebih besar dari Dodi , telah tegak mengacung .

Tangan Bram , menarik tubuh Santi , sehingga kembali terduduk . Bram menyodorkan penis itu tepat di depan mulut Santi . “ kulum k-*-*-t-*-l gua “ pintanya pada Santi . Santi membuang muka “ aku gak bisa , ..” katanya . Jari Bram , menyentuh vagina Santi , satu jarinya menerobos masuk , liang vaginanya . Santi mengerang “ ahh perih..” .

“ ayo , sayang .. coba jilat .. “ pinta Bram , terus mendesak kepala penisnya ke wajah Santi . Santi meronta . Dan tiba tiba , dua jari Bram mendesak masuk ke liang vagina Santi . “ ahhh … sakit…. jangan… “ erangnya . “ kalau gitu , eleo jilat dan kulum k-*-*-t-*-l gua , kalau gak tiga jari gua masuk ke lobang m-*-m-*-k eleo “ ancam Bram .

“ jangan jangan .. saya jilat ..” kata Santi , lalu menjulurkan lidahnya menjilati ujung penis Bram . “ ohh .. enak juga lidah eleo sayang..” erang Santi . Santi tak berani berhenti , perlahan Bram mulai menekan masuk penisnya ke mulut Santi . Santi meronta , tapi tangan Bram memegang erat kepalanya . Dengan terus mendorong dorong batang penisnya di mulut Santi .

Sekarang Santi tak bisa lagi menolak , penis itu mulai bergerak cepat di dalam mulutnya , maju mundur dengan cepat , disertai dengusan nafas Bram yang penuh dengan nasfu .
Dodi pun tak ketinggalan , dia duduk di sebelah Santi , dan memainkan buah dada , Santi , meremasnya , menjilatnya , dengan penuh nafsu .

Setelah penis itu cukup lama bergerak , dalam mulut Santi , sekarang Bram mengarahkan penisnya ke liang vagina Santi . “ jangan .. sudah… jangan tolong..” Santi mengiba iba . Tapi Bram tak peduli , penisnya terus mendekat ke liang vagina Santi . “ ahhh.. sakit… jangan… sudah.. “ rintih Santi . Penis Bram sudah menancap di liang vagian Santi .
Penis Dodi pun sudah kembali tegang , dan kini Dodi berusaha , memasukan penis itu di mulut Santi .

Santi meronta , tapi Bram meremas buah dadanya keras , “ sakittt.. ahhh … sakit ..” .erangan Santi terdengar keras . “ buka mulut eloe , isep k-*-*-t-*-l Dodi , cepat.. “ bentak Bram . Mau tak mau Santi membuka mulutnya menerima penis Dodi .

Akhirnya tubuh Santi harus menerima penis kakak beradik itu . Satu mengaduk aduk vaginanya , satu menyodok nyodok mulutnya . Gerakkan penis Bram kasar , bergerak cepat di liang vagina milik Santi . Santi tak hentinya mengerang kesakitan . Penis itu bergerak cepat , rasa perih dan panas melanda vaginanya .

Gerakan penis itu semakin cepat , sampai akhirnya memuntahkan spermanya di liang vagina Santi . Sedang satu penis lagi masih bergerak cepat di mulutnya , siap menembakkan spermanya . “ ahhh .. gua udah mau keluar… “ erang Dodi . Tubuh Dodi mengejang . Dan sperma itu tertampung di mulut Santi .

Perlahan Dodi menarik penisnya keluar dari mulutnya , Santi berusaha memuntahkan sperma itu , dari mulutnya . Dan kedua kakak beradik tertawa melihat Santi .

Dengan tubuh yang lemah , Santi berusaha memakai pakaiannya , Perlahan dia memakai celana dalamnya , roknya , dan bajunya . “ loh , koq sudah pakai baju , emang eloe sudah puas , sayang ..” seloroh Bram . “ saya , mau pulang ..” pintanya .

Santi berusaha berdiri , lalu berjalan , dia berjalan sempoyongan . Tapi Bram , menarik tanganya , dan membawanya ke kamar . Santi meronta , tapi tenaganya lemah sekali . Dan Bram mendorong , tubuh lemah Santi hingga terbaring di kasur ranjangnya .
Bram kembali menindih tubuh Santi . Membuka bajunya , dan melumat buah dadanya dengan nafsu .

“ tolong... sudah , saya sakit… jangan.. tolong..” erangnya . Bram tersenyum , penisnya tampak sudah tegang lagi . Bram bermain cepat , rok santi di singkapnya ke atas , dan celana dalamnya di singkap ke samping . Penis besarnya langsung melesak masuk ke vaginanya yang terlihat memar kemerahan . Santi kembali menjerit dan terdengar keras .

Vaginanya di paksa menerima penis Bram . Bram pun kembali memperkosa dengan penuh nafsu , dan goyangannya semakin kasar . Santi terus mengerang kesakitan . Tangan Bram pun meremas remas buah dada Santi . Dan tubuh Santi terus di dera rasa sakit .Erangan Santi semakin terdengar lemah .

Penis Bram masih terus mengaduk aduk vagina Santi yang terluka . Sampai penis itu terpuaskan . Bram melepas seluruh hawa nafsunya . Vaginanya kembali di penuhi sperma Bram .

“ Dodi , eloe masih mau ..” tanya kakaknya . Dodi mengeleng . “ kalau gitu , kita antar dia pulang oke “ kata Bram . Bram bersiap kembali , memakai pakaiannya kembali . Lalu membawa tubuh Santi yang setengah pingsan itu , ke dalam mobilnya .

Mobil berjalan , kencang , dan berhenti tepat di depan sekolah Santi . Suasana tampak sepi , Tak ada seorang pun terlihat disana . Mereka pun melepaskan Santi di sana .
Dan tubuh lemah Santi pun jatuh terduduk di pinggir jalan, depan sekolahnya .

Mobil Dodi segeara meluncur cepat , meninggalkan tubuh lemah Santi begitu saja .
Dengan sisa tenaganya Santi berjalan tertatih tatih masuk kegedung sekolahnya . Dia berjalan ke belakang , di mana di situ ada gudang . Santi masuk kegudang itu . Dia duduk di sebuah kursi tua .

Dari dalam tas sekolahnya dia melihat ke layar HP ,nya sudah jam 1.00 malam . Untuk pulang ke rumah dia tidak berani . Santi berusaha tenang , walau seluruh tubuhnya terasa sakit . Tulang tulangnya seperti lepas .

Tanpa terasa , Santi mulai terlelap karena lelah . Suara anak anak SMU , yang baru tiba di sekolah itu , membangunkan Santi . Santi kembali melihat layar Hpnya lagi . Waktu sudah menunjukkan puluk 6.50 pagi . Santi diam , menunggu , dia menunggu bel tanda masuk berbunyi .

Tepat pukul 7.00 bel berbunyi . Santi masih diam . Setelah lewat beberapa saat , dan yakin seluruh murid sudah masuk kelas .
Santi memberanikan diri keluar dari gudang itu . Walau rasa nyeri masih mendera vaginanya . Dia berusaha berjalan dengan cepat , hingga keluar dari gedung sekolahnya dan langsung menuju ke rumahnya dengan mengunakan jasa kendaraan umum .

>>>

Setibanya di rumah , Santi berjalan mengendap endap , memasuki rumahnya . Dia berjalan terus dan masuk ke kamarnya . Berhasil , yah.. Santi telah tiba di kamarnya.
Tiba tiba suara ibunya memanggilnya “ Santi .. dari mana saja kamu ? “ . “ eh anu , Santi belajar di rumah teman bu ..” jawabnya .

“ kamu , jangan bohong sama ibu yah .., kalau ayah kamu tahu kamu bisa di pukul tahu .” hardik ibunya . “ ayah , ayah saya sudah meninggal bu , suami ibu bukan ayah saya ..” kata Santi dengan nada tinggi . “ Santi apa apaan kamu bicara seperti itu , walau dia ayah tiri kamu , tapi dia yang biayain hidup kita , apa kamu mau jadi gelandangan , jadi pelacur di jalanan ..” bentak ibunya , Santi menatap wajah merah ibunya , “ jadi pelacur , mungkin bu , kalau ibu mengharapakan Santi jadi pelacur …” kata Santi .

“ kurang ajar “ kata ibunya . ..PLAAKK!! Satu tamparan ibunya mendarat di pipinya . Santi terjatuh dan berbaring di ranjang. Sambil menutup mukanya dengan bantal, gadis SMU ini menangis . Ibunya yang masih emosi , pun tak bisa berbuat apa apa , ada rasa sesal di hati ibunya , telah menampar buah hatinya sendiri . Dia memilih untuk tidak berkonfrontasi lebih lanjut dengan putrinya , lalu keluar dari kamar Santi .

Santi terlelap , saat dia bangun , saat waktu telah sore , Santi bergegas ke kamar mandi , dia membuka pakaiannya , dan di selangkangan celana dalamnya dia melihat bercak bercak , darah yang telah mengering . Air mata Santi meleleh . Dalam hati Santi memaki maki kakak beradik yang telah menghancurkan hidupnya ini .

Santi menyiram tubuhnya dengan air dingin , dia mandi sebersih bersih , membasuh vaginanya , yang masih terasa sakit dan pedih . Kemudian setelah selesai membersihkan tubuhnya , dan mengenakan baju tidurnya , dia kembali ke kamarnya .

Santi , duduk di depan meja belajarnya , pikirannya mumet . Bagaimana kalau saya hamil ? . apa yang harus saya lakukan ?

Tiba tiba ayah tirinya . seorang pria berumur 50 tahunan , berbadan tegap itu, masuk ke kamar Santi . Seperti biasa , Santi tampak acuh dengan ayah tirinya . “ Santi , kamu tidak boleh begitu dengan ibu kamu , kalau kamu ada masalah , coba bicarakan sama ayah , ayah pasti bantu kamu , sayang” kata ayah tiri Santi , sambil membelai belai rambut Santi .

Santi menatap wajah ayahnya . Mata Santi jelas melihat mata ayahnya nanar , menatap belahan dadanya dari lobang leher kaos t-shirt yang di gunakannya . Dasar buaya , maki Santi dalam hati , sambil berdiri . “ Santi tidak ada masalah , kemarin , saya kemalaman belajar di rumah teman , jadi tak berani pulang “ ujar Santi .

“ oh , kalau begitu , tak apa apa , baiklah ..” kata ayah tirinya . Santi hanya diam menatap ayahnya . “ oh yah , lain kali , kalau mau nginap , telpon dulu , biar ibumu gak kawatir.” Kata ayahnya lagi . “ baik ayah “ kata Santi . Dan ayahnya pun keluar dari kamar tidur Santi.

Santi masih merasakan sakit di vaginanya , dan masih terasa pedih . Dia berjalan keluar kamar , mengambil es batu dari lemari es , dan kembali masuk ke kamarnya . Dia mengunci pintu kamar tidurnya . Lalu berbaring di atas ranjangnya , dan membuka celana dalamnya . Santi teringat es batu bisa menghilangkan rasa sakit .

Santi membuka lebar kakinya dan di tempelkan es batu tsb ke vaginanya . Pertama rasa dingin itu membuat vaginanya terasa pedih , namun semakin lama rasa pedihnya hilang . Santi terus melakukan itu , untuk mengurangi rasa sakit di vaginanya .
Sampai akhirnya Santi terlelap . Dan tertidur dalam mimpinya . Rasa senang , nafsu , takut , marah dan sedih , tertuang dalam mimpinya .

>>>>>>>>.....

“ ha.. Bram , bagaimana kamu bisa kemari “ kata Santi yang tiba tiba melihat Bram ada di kamarnya . Bram hanya tersenyum , lalu dia menjilati vagina santi yang terbuka . Santi ingin menjerit , tapi suara tak ada yang keluar . Lidah Bram terus mengaduk aduk vaginanya , membuat Santi menjadi birahi .

Lidah itu demikan lembut menstimulasi klitorisnya , sehingga Santi mengejang dan orgasme . Tubuh Bram kemudian berada di atas tubuhnya , dengan penis besarnya telah berada dalam tubuhnya . Santi merasakan nikmat sekali , atas apa yang di lakukan Bram
Santi dengan mata terpejam ,mengejang , tubuhnya bergoyang , menerima perlakuan Bram .

“ dasar , pelacur murahan “ terdengan suara ibunya . Santi membuka matanya , terlihat ibu dan ayah tirinya . Ditangan ayah tirinya terdapat sebatang rotan . “ pak , pukul dia , anak kurang ajar ..” hardik ibunya . Ayah tirinya segera mengayunkan rotan di tangannya . Santi menjerit , melengking ke sakitan .
>>>>>>...
Dia terbangun dari tidurnya , dengan peluh membasahi tubuhnya .

>>>

Santi terduduk di ranjang , matanya melirik jam weker yang ada di meja belajarnya . 5.30 pagi . Santi berjalan ke kamar mandi . dia baru teringat , dia tidur tak memakai celana dalam , dia berjongkok , hendak buang air . Ketika tanganya menyentuh vaginanya , terasa lendir membasahi vaginanya , Santi pun merasakan nikmat .

Jarinya bermain di vaginanya sendiri . Birahinya terangkat . Makin cepat jarinya memainkan klitorisnya , semakin nikmat pula yang dirasakannya .
Jari jarinya juga masuk ke liang vaginanya , terus dan terus . Santi terus bermasturbasi , sampai tubuhnya mengejang di kamar mandi itu .

Setelah itu dia mandi , dan kembali mengenakan seragam sekolahnya , putih abu abu .

Setelah selesai sarapan pagi , Santi meraih tas sekolahnya , dia berpamitan pada ibu dan ayah tirinya . Santi berjalan dengan langkah gontai ke sekolahnya . Dengan pikiran yang kacau balau .

Saya sudah tak perawan , aduh gimana nih , apa mesti lapor polisi , saya diperkosa , saya malu akan jadi berita di koran , aduh bagaimana kalau saya hamil . Kenapa saya bermasturbasi . Tapi ada kenikmatan disana . Segala macam pikiran , menghantuinya .

Tapi Santi harus tegar dan berani menerima keadaan ini.....

2. terjerumus
Di kelasnya , Santi sama sekali tak bisa berkonsentrasi . Pikirannya masih kacau , apa yang di terangkan gurunya tak ada yang masuk dalam memorynya . Santi hanya diam , walau matanya menatap lurus ke depan , dimana gurunya sedang menerangkan rumus matematika , tapi pikirannya kosong melopong .

Saat istirahat , Santi melihat , Gina dan Lala . Dua orang gadis ini , terkenal dengan kenakalannya . Mereka suka menjajakan diri kepada om om yang berkantong tebal . Santi pernah berselisih dengan Gina . Saat itu Santi memaki maki Gina . Santi mengumpat Gina , perek , pecun dan sebagainya .

Tapi saat ini Santi sepertinya butuh pertolongan Gina . Dengan memberanikan diri Santi menghampiri Gina dan Lala . Belum sempat Santi berbicara Gina telah menghardiknya . “ eloe jangan dekat dekat sama gua , eloekan anak alim , anak baik baik , gua ini perek , jadi eloe lebih baik pergi sana , jauh jauh..” .

“ Gina , gua mau minta tolong “ kata Santi . “ minta tolong .. anak alim , mau minta tolong sama perek .. “ kata Gina . Santi menatap Gina , lalu berkata “ maaf , kalau eloe masih dendam masalah dulu , tapi tolong , gua butuh bantuan eloe ..” . Gina tersenyum “ ha .. coba gua pikir pikir dulu yah , pantes gak gua bantuin eloe ..”

“ Gin , sudahlah , ada apa sih San , koq eloe serius gitu “ ujar Lala . Santi pun bercerita , setelah Lala dan Gina berjanji akan merahasiakan semuanya . Setelah Santi selesai bercerita , Gina tertawa “ jadi eloe takut bunting , setelah di gituin cowok eloe. ha ha ha..” . “ Gina , sudah deh .. eloe jangan ngeledekin si Santi terus dong..” kata Lala . “ abis lucu sih , katanya anak alim , tahunya doyan juga ha ha ha “ ejek Gina lagi .

“ Gina… “ kata Lala . “ oke deh oke , biar gua perek , gua juga masih punya hati , gua bantu eloe deh “ katanya . Lalu Gina mengeluarkan Hpnya . Hp , PDA-phone yang mahal dan mendial seseorang . “ Halo , Rom , entar praktek gak , gua mau kesana ..” kata Gina di Hp nya . Setelah selesai pembicaraan di Hpnya , Gina berkata pada Santi “ entar pulang sekolah , eloe cari gua , gua anter eloe ke teman gua..”

“ eh eleo dapet dari mana Hp canggih ini “ tanya Lala , sambil merebut PDA-phone nya Gina . “ dari mana lagi , jual m-*-m-*-k .. lah , dapet duit gua beli tuh Hp , sini hp gua ..” jawab Gina , dan mengambil lagi Hp itu dari tangan Lala. “ wah , m-*-m-*-k eloe mahal banget “ kata Lala lagi . Santi yang mendengar percakapan mereka menjadi risih .

>>>

Setelah pelajaran hari itu usai , Santi segera berjalan , mencari Gina . Gina sudah di atas sepeda motor Supranya . Berbicara dengan Lala . Ketika melihat Santi, Gina berkata “ ayo naik..” . Santi pun duduk dibelakang jok motor bebek itu . Gina menjalankan motornya . Hingga tiba di sebuah rumah .

Rumah kecil, yang terdapat plang di depannya . DR ROMI . Gina membawa Santi masuk . Setelah mengetuk pintu , dan mereka di sambut Dr .
Romi sendiri . “ halo , Gina sayang , sakit apa loe… “ katanya genit , sambil menepuk pantat Gina . Santi menetap Dr Romi , wajahnya ganteng , dan dia masih muda .

“ Rom , yang sakit ini gua nih “ katanya sambil memegang tangan Dr Romi , dan membawanya ke selangkangannya . Santi hanya terbengong melihat kelakuan mereka berdua . Dr Romi pun meraba raba selangkangan Gina , yang masih tertutup celana dalam kuning mudanya . “ udah Rom , malu gua jadinya , tuh pasien baru .. “ kata Gina sambil menunjuk Santi .

“ oh , nama eloe siapa cantik “ sapa Dr Romi , matanya menatap Santi dari ujung rambut , sampai ujung kaki . “ Santi .. “ jawabnya singkat . Dr Romi menanyakan masalahnya , lalu Gina menceritakannya . “ oh , masalah kecil , sini gua suntik “ katanya . Dr Romi pun menyiapkan peralatan suntiknya . Dan Santi teleh tengkurap di atas ranjang praktek Dr Romi .

Kemudian, dia menyingkap rok abu abu Santi , menurunkan celana dalam putihnya . Dr Romi menatap pantat Santi . “ wah , pantat eleo bagus juga , yah mulus..” katanya seraya mengusap usap pantat Santi . Santi pun hanya diam . Dan Dr Romi pun menyuntiknya dengan obat anti hamil .

Setelah itu ,Dr Romi memberinya salep , “ nih , olesin di m-*-m-*-k eloe , buat bantu hilangin rasa nyeri.” . Santi pun berterima kasih . Satu masalah telah selesai . “ berapa dok ? “ tanya Santi . “ ha ha ha , untuk cewek secantik eloe , gua gak perlu di bayar ..” kata Dr Romi tertawa . Gina pun tertawa “ ha ha ha , awas tuh San , dia mulai ngerayu..”

Santi hanya diam, senyum senyum . “ malah kalau eleo mau main sama gua , gua yang bayar eloe “ kata Dr Romi lagi . Raut wajah Santi berubah , dahi mengerut , bertanya tanya maksud perkataan Dr Romi .

“ eh , udah yok kita balik “ ajak Gina pada Santi , sambil berdiri . Santi pun ikut berdiri . “ koq buru buru “ tanya Dr Romi . Gina membisiki sesuatu di kuping Dr Romi . Dan Dr Romi tersenyum , sambil memandang Santi . Tangan nakal Dr Romi pun kembali meremas pantat Gina . Lalu mengeluarkan dompetnya , memberinya dua lembar uang lima puluh ribuan . “ nih , buat eloe jajan ..” .

Dalam perjalan Santi yang penasaran bertanya pada Gina “ Gin , koq Dr Romi gak mau di bayar , malah eloe di kasih duit .. kenapa sih..” . “ Si Romi tuh , langganan gua , dia sering n-*-e-*-t-*-t sama gua , sama Lala juga ..” jawab Gina . “ Gina , jadi eloe serius yah , jual diri ..” kata Santi .

Gina memberhentikan motornya di pinggir jalan . Gina menolehkan kepalanya , menatap Santi , lalu berkata “ iyah gua serius , loe tahu gak , gua minta ceban ( sepuluh ribu ) aja sama bokap gua susah bener , lihat pantat gua di kobok , gua di kasih seratus ribu , asik gak jadi perek ..” kata Gina . Santi melongo “ tapi …Gin .. tapi.. “ .

Gina mentap wajah Santi , yang terlihat bingung “ tapi apa , eloe pikir aja sendiri , gua udah di perawanin cowok gua dulu , gua di tinggal , terus gua mesti gimana dong , kepalang becek , tanggung , mending gua jual diri , dapet enak , dapet duit..” . Santi tak bisa berkata , dia hanya diam menatap temannya itu .

“ San , kalau eloe gak percaya , coba eleo cari si Romi , elo n-*-e-*-t-*-t sama dia , lihat eleo di kasih duit berapa sama dia ..” kata Gina . “ tapi gua gak bisa , Gin , takut ..” kata Santi . “ takut .. takut apa , eloe udah bolong , udah di suntik anti hamil takut apalagi , yang penting enak dan dapet duit..” kata Gina .

Santi tampak mulai terpengaruh dengan ucapan Gina . “ tapi Gin , kalau dia mainnya kasar bagaimana ..” tanya Santi . “ Selama gua main sama dia , dia gak pernah kasar ..” kata Gina . Santi diam menatap Gina .

“ San , gua bilangin sama eloe , kalau eloe pake rok , jangan yang kaya gini , pake rok mini kayak gua , cowok gak nafsu liat rok eloe ..” kata Gina . “ Gua gak biasa Gin , risih pake rok mini ..” kata Santi . Gina tertawa “ yah , sekarang sih , tapi besok besok , ceritanya akan lain ..” .

Gina kembali menstater motornya , dan motor itupun melaju . Gina mengantar Santi pulang kerumahnya .
Malam itu Santi terus memikirkan kata kata Gina , Sambil berbaring , Santi mengangkat daster tidurnya , dan melepas celana dalam , dia mengolesi salep pemberian Dr Romi , di vaginanya . Tak terasa pedih . tapi yang di rasakan Santi hanya rasa dingin . Jarinya menelusuri vaginanya .

Entah apa yang ada dipikirannya , yang jelas Santi mulai terangsang . Jari jarinya terus bergeser turun naik , memainkan klitorisnya . Liang vaginanya mulai terasa berlendir .
Semakin lama , Santi semakin merasakan nikmat . Sambil menggigit bibirnya , jari Santi memainkan vaginanya sendiri .

Santi terus bermasturbasi , sampai tercapai kepuasan birahinya , dan dia terlelap .

>>>

Esok paginya , Santi masih terus memikirkan kata kata temannya . Santi penuh keraguan . Bagaimana kalau ada yang tahu dia menjajakan dirinya . Apa yang akan terjadi nanti , bagiamana masa depannya .. Semua pikiran itu , terus berkecamuk di hatinya .

“ bu , Santi mau sekolah “ kata Santi pada ibunya . “ yah , hati hati di jalan , jangan nakal yah “ jawab ibunya . “ bu , Santi belum bayaran , sekarang sudah tanggal sembilan bu “ kata Santi . Ibunya menghela nafas “ yah sabar ya Santi , ayah kamu belum kasih ibu uang ..” jawab ibunya . Santi pun tak bisa berkata lagi , ia lalu berpamitan .

Sampai di sekolah , dia menemui Gina . “ Gin , tolong dong gua mau pinjem uang , buat bayaran , nih Hp gua , buat jaminan ..” katanya . Gina melihat Hp Santi , lalu menatap wajahnya “ elo gila yah , Hp eloe itu , Hp zaman revolusi , di jual aja paling laku goban ( lima puluh ribu ) “ kata Gina . “ yah , gimana dong , tolong dah “ pinta Santi . “ nih gua pinjemin , tapi eloe cepet balikin yah “ kata Gina memberikan sejumlah uang pada Santi .

Santi menerima uang itu “ thanks yah Gin.. “ . Lalu Santi segera berjalan . “ eh , eloe mau kemana ..” tanya Gina . “ ke TU , bayaran dulu..” jawabnya .

>>>

Berkali kali Santi di tegur gurunya , karena melamun di kelas , selagi gurunya menerangkan pelajaran hari itu . Dan Santi menjadi bahan ejekan temannya . Waktu seakan akan berjalan sangat lambat . Sampai akhirnya bel tanda berakhirnya belajar mengajar berbunyi . Satu persatu murid keluar dari kelas , menuju rumahnya masing masing . Santi berjalan keluar sekolahnya , bergabung bersama Gina dan Lala .

“ Santi , ikut kita yuk , ke mal …” ajak Lala . “ eh hari ini enggak deh , gua ada janji “ jawab Santi . “ ha .. ada janji dia , sama sapa ..” ujar Gina , sambil menatap Lala . Lala pun tersenyum . “ elo mau tahu aja yah , gua tadi janji sama om om..” jawab Santi . Lala dan Gina tertawa . “ om om yang mana ..” kata Lala Sambil tertawa .

“ udeh deh , gua jalan dulu ..” kata Santi meninggalkan Gina dan Lala . Santi berjalan cepat . Dia berjalan menjauh dari gedung sekolahnya . Kemudian menyetop bajaj , dan menaiki bajaj tersebut . Tekat Santi sudah bulat . apa boleh buat , terlanjur basah pikirnya . Bajaj itu tepat berhenti di rumah Dr Romi .

Setelah urusan transaksi dengan tukang bajaj selesai , Santi mengetuk pintu rumah Dr Romi . Pintu terbuka , wanita setengah baya menyapanya “ ada apa dik “ . “ maaf bu , Dokter Romi ada..” tanya Santi . “ oh ada , sebentar yah ..” jawab ibu itu , sambil menyilakan Santi masuk . Santi pun menunggu di ruang tunggu .

Tak lama Dr Romi keluar . “ oh , hai Santi .. ada apa masih sakit.. “ tanya Dr Romi ramah . “ eh masih , eh anu , eh sakit sedikit ..” jawab Santi gugup . Dr Romi tersenyum , “ oke oke , biar saya periksa , ayo masuk “ ajak Dr Romi ke ruang prakteknya .

Santi duduk di kursi pasien , dengan gelisah . Dr Romi tersenyum melihatnya . “ Santi ayo sini , berbaring , biar gua periksa “ kata Dr Romi . Santi pun berbaring di ranjang pratek itu . Dr Romi , membuka kancing bajunya , dan menatap dada Santi . Santi memejamkan matanya . Kemudian tangan Dr Romi pun membuka Bra Santi . Selanjutnya Santi merasa geli dan dingin di putting susunya yang imut itu .



Lidah Dr Romi , sedang asik menjilati putting susunya . “ ahh … geli.. ahh.. ah.. “ erangnya . “ oh , indahnya buah dada loe , San ..” ujar Dr Romi , lalu meremas lembut buah dadanya . Lidahnya juga terus menjilati putting kecil itu .
Menyusui dengan nafsu , membuat ABG itu terus mengerang . Vaginanya menjadi lembab , Santi mulai terangsang .

Sambil terus memainkan putting susunya , tangan Dr Romi , meraba raba paha putih mulus ABG itu . Tangannya terus merayap sampai ke atas . Tanpa sadar Santi , pun merengangkan ke dua kakinya . Sehingga tangan dr Romi , dengan mudah dapat mencapai selangkangan celana dalam putihnya . “ ahhh … ahh… dokter… ahhh “ erangnya nikmat .

Dr Romi , melepas lidahnya di putting susu Santi . Sekarang targetnya adalah selangkang Santi . Dia membuka lebar kaki Santi , hidung menempel di selangkan celana dalam Santi , menghirup aroma vaginanya . Tubuh Santi menggelinjang . “ ahh dokter .. ahhh saya malu…ahhh …” erangnya . Dr Romi dengan bernafsu menciumi selangkangan celana dalam Santi yang sudah basah itu .

Perlahan , celana dalam itu terlepas dari tubuhnya , kini jelas terlihat vagina muda itu . Dengan bulu bulu lembut di bukitnya . Dua jari Dr Romi membelah bibir kemaluannya , lalu lidahnya menjilati klitorisnya . Tubuh Santi gemetar , jantung berdegup cepat . Rasa nikmat menjalar cepat di seluruh tubuhnya .

“ ahhh… ahhh…enak.. ahhh… dokter.. ahh…. “ erang Santi semakin membuat Dr Romi nafsu . Lidah itu terus menyapu klitorisnya . Lendir nafsu Santi yang merembes keluar dari liang vaginanya di sapu oleh lidah Dr Romi , dan di telannya dengan penuh nafsu . Santi benar benar di bawa ke puncak birahinya .

Tubuh Santi terus mengeliat . Lidah Dr Romi semakin cepat memainkan klitorisnya. Erang demi erangan , mengiringi Santi yang semakin dekat mencapai puncak birahinya .
“ ahh dokter .. ahh Santi ahhh mau pipis… ahh….” erangnya . Dr Romi pun mempercepat gerakan lidahnya . Dan akhirnya tubuh ABG itu mengejang , dan Santi tiba di puncak orgasme .

Tubuh ABG itu kejang kejang sesaat . “ Santi elo mau pipis “ tanya Dr Romi . Santi mengeleng “ engak sih , tapi tadi , rasanya mau pipis ..” terang Santi . Dr Romi tersenyum ,” itu nama elo sudah hampir orgasme , sudah mau keluar istilahnya ..” .
Santi hanya diam saja . “ San , kita terus yah “ ajak Dr Romi .

Dr Romi pun membuka celananya , dan terlihat jelas penis Dr Romi yang telah ereksi penuh . Penis cukup besar , seperti penis Bram . Dr Romi , mendekatkan penisnya ke mulut Santi . Santi terlihat ragu “ ah , gua gak bisa.. Rom ..” tolaknya . Dr Romi pun tak memaksa . “ kalau gitu gua masukin aja yah ..” katanya . Santi menganguk “ tapi pelan pelan yah..” pintanya .

Dr Romi pun naik ke ranjang prateknya . Kedua kaki ABG itu pun di pentangkanya . Ujung penisnya di gesek di bibir vagina Santi . Santi kembali menggelinjang . Perlahan Dr Romi menekan masuk ujung penis . “ aww … ahh… “ jerit Santi pelan .

Dr Romi berhenti sesaat , dan melumat bibir Santi . Santi pun menerima ciuman Dr romi , dan balas dengan ciumannya .

Tanpa terasa , penis Dr Romi , sudah seluruhnya tertanam dalam tubuhnya . Dr Romi mulai menggoyang dengan lembut . “ ahhh … ohhh… Romi … oh… ahh… “ erang Santi . Penis itu terus bergerak , lambat laun gerakkan maju mundur penis Dr romi membuat Santi , kembali birahi .

Santi pun mulai bisa menerima nikmatnya gesekan penis . Dr Romi pun tahu cara membahagiakan wanita . Penisnya terus bergerak keluar masuk dengan lembut .
Dr Romi pun melumat bibir Santi dengan lembut . Kadang Dia berbisik di telinga Santi memuji muji Santi , yang tentu saja membuat Santi semakin hanyut , dalam birahi .

Saat saat birahi Dr Romi mendekati puncaknya dia mulai bergerak cepat . Penis itu bergerak lancar di liang Santi , yang telah sangat berlendir itu . Dr Romi semakin terengah engah dalam kenikmatannya . Santi mengigit bibirnya , walau merasa nikmat , Santi tak sepenuhnya menikmati penis itu .

Akhirnya sprema Dr Romi membasahi vaginanya . Dr Romi berhasil mencapai puncaknya .

Mereka berdua pun segera membersihkan dirinya . Lalu berpakaian kembali . “ Santi , gua orang kedua yang n-*-e-*-t-*-t sama elo yach “ tanya Dr Romi . “ ehm , orang ketiga , gua di paksa si Bram , sama si Dodi “ jawab Santi . Dr romi mangut mangut . “ “ lalu rencana elo apa selanjutnya ? “ tanya Dr Romi . Santi menggeleng “ enggak tahu juga “ .

“ kenapa loe gak tuntut , mereka “ tanyanya . “ gak mau , entar gua jadi berita , makin malu aja , lagian dia orang anak orang kaya “ jawabnya . Dr Romi hanya diam “ eh Santi , nih buat elo ..” kata Dr Romi , dan memberinya uang sebanyak satu juta rupiah .
Santi menerima uang itu dengan gembira . “ Romi , terima kasih yah ..” .

“ Kalau elo perlu uang , elo boleh kemari “ kata Dr Romi lagi . “ yah , terima kasih yah “ jawab Santi . Santi pun pamit . Dr Romi pun mengantarnya sampai depan pintu rumahnya .

Santi pun terus berjalan , mencari kendaraan roda tiga , untuk pulang kerumahnya .
Santi berpikir , enak juga yah , dapet duit , dapet kenikmatan . Benar kata Gina pikirnya .
Seumur hidup baru kali ini dia punya uang satu juta .

Yah , karena uang satu juta itu , akan membuat Santi , terperosok lebih dalam lagi , masuk ke lembah hitam , dunia prostitusi .

>>>

“ Gina , nih gua bayar utang gua “ kata Santi sambil memberikan Gina uang dua ratus ribu rupiah . Santi mengembalikan pinjamannya pada Gina . “lunas yah “ katanya . “ eh elo dapet duit dari mana nih .? “ tanya Gina . “ he he he , dari mana lagi , jual m-*-m-*-k lah “ jawab Santi . Gina melongo . “ loe serius San ? . Santi tersenyum , dan mengangguk .

Jam 9.10 pagi itu Hp butut Santi berbunyi , “ halo “ jawab Santi . “ Santi , entar pulang sekolah bisa ke rumah gua yah , ada yang mau kenalan sama elo “ kata Dr Romi . “ ha , siapa ..” tanya Santi . “ yah elo kemari dulu dah ,..” jawab Romi , membuat Santi penasaran . “oke deh , entar gua ke sana yah ..” kata Santi . Hari itu Santi juga tak berkonsentrasi dalam pelajarannya . Gurunya sempat menegurnya , tapi tampaknya Santi cuek saja .

>>>

“ San , ada yang mau main sama elo , orangnya tajir , elo mau gak ? “ tanya Dr Romi . Setelah Santi berada di rumah Dr Romi , sepulang dari sekolahnya . “ siapa orangnya ? “ tanya Santi penasaran . “ teman gua , orangnya baik koq “ terang Dr Romi . “ mana orangnya “ tanya Santi . “ entar lagi dateng “ jawab Dr Romi .

Santi menatap Dr Romi “ koq enggak elo aja sih yang ajak gua main “ tanya Santi .
“ elo gak bosen main sama gua terus ? “ Dr Romi balik tanya . Santi mengeleng .
“ San , gua mau lihat celana dalam eloe “ kata Dr Romi . Santi tersenyum , lalu dia mengangkat rok abu abunya , dan memperlihatkan celana dalam kremnya . Tangan Dr Romi segera meraba selangkangan celana dalam Santi .

Santi mundur selangkah “ ah , jangan entar gua jadi nafsu , elo kan gak mau main sama gua “ katanya protes . “ gua bukan gak mau main sama elo , tapi teman gua minta , gua cariin cewek buat dia ..” terang Dr Romi . Tiba tiba Dr Romi memeluk Santi , dan menciumi bibirnya , tangan Dr Romi juga meraba raba selangkangan celana dalamnya . Tentu saja , semua perlakuan ini , membuat birahi Santi naik .

Tiba tiba , terdengar ketukan di pintu ruang prateknya . Dr Romi melepas pelukkannya , dan membuka pintu kamar prakteknya . “ Jo , sini masuk , kenalin nih , Santi “ sapa Dr Romi . Johan , menatap tubuh sexy Santi , sambil mengulurkan tangannya “ Johan “ katanya sambil tersenyum manis . Santi pun menyambut uluran tangan itu “ Santi “ , sambil menatap Johan , yang berumur , 32 tahun itu . Mereka pun berbincang bincang .

Johan menatap Dr romi , matanya mengedip sebelah , memberi tanda . Dr Romi pun berbisik di telinga Santi “ san , gimana , mau gak ke hotel sama Johan ..” tanya Dr Romi .
Santi tersenyum , dan mencubit lengan Dr Romi . Yah itu kata lain dari mau . Akhirnya Johan menjadi customer Santi yang kedua .

“ Jo , tolong yah , mainnya yang halus yah , dia pacar gua nih “ kata Dr Romi . Santi pun mencubit genit lengan Dr Romi lagi . “ Jangan takut , gua pria lembut koq “ kata Johan , sambil membimbing Santi memasuki mobilnya .

Mobil itu berjalan , membawa Santi dan Johan , menuju sebuah motel . Di mobil mereka pun berbincang bincang . Berbicara seputar soal sex. Dan Santi pun tanggap menjawab pertanyaan Johan . Mereka cepat menjadi akrab . Terlihat sesekali Johan mencium pipi Santi, juga meraba raba paha Santi . Akhinrya mobil itu tiba di motel tujuan Johan .
Mobil bergerak , memasuki motel , setelah , bell boy , menutup pintu rolling door , dan mereka pun masuk ke motel itu .

Mereka berpelukan ,ciuman . Santi pun bisa mengimbangi ciuman ciuman Johan , walau johan tak seganteng Dr Romi , tapi Santi menikmati ciuman Johan . Tampak tangan Johan pun meremas remas pantat Santi . Lidah Johan juga menjilati leher Santi , yang membuat tubuhnya mengelinjang , geli dan nikmat .

Johan mengambil tempat di Sofa , membuka celananya , dan penis besarnya mencuat keluar dari kolornya . Dia meminta Santi Jongkok . untuk mengulum penisnya . “ ah , saya gak bisa itu ..” protes Santi . “ ah .. gak apa , ayo coba saja .. jilat dulu ..” rayu Johan . Santi hanya diam menatap Johan .

“ ayo , sayang .. nanti gua tambahin tip buat elo .. ayo jilat saja..” rayu Johan lagi .
Santi pun terpaksa melakukannya , padahal dia tidak suka . Perlahan lidahnya menjulur , menjilati batang penis Johan . “ oh , yah gua suka lidah eloe , terus jilat “ erang Johan . Santi pun menjilati terus batang penis Johan .

Kadang , Santi memakai tanganya , mencoba mengocok batang penis Johan . Tapi Johan menolak “ jangan pakai tangan sayang , pakai mulut eloe “ . Santi pun menurut , lalu mulai lagi menjilati batang penis Johan . “ Kulum , sayang , elo gak suka sama k-*-*-t-*-l gua yah “ kata Johan . Santi pun berusaha tak mengecewakan pelanggannya . Santi pun membuka mulut mengulum penis Johan, yang semakin tegang .

Sambil memegang kepala Santi Johan juga menggerakkan penisnya keluar masuk mulut Santi . Johan mengerang , kenikmatan . Cukup lama waktu yang di perlukan hingga penisnya memuntahkan isinya . Santi terbatuk , dan menumpahkan sperma Johan . “ Johan hanya tersenyum , melihat Santi .

Setelah beberapa saat , Johan berkata “ San , ayo dong buka baju eloe “ . Santi pun mulai membuka baju dan roknya . Santi masih berdiri di depan Johan . “ loh koq , ...buka bh sama celana elo dong ..” kata Johan Lagi . Santi pun semakin tak menyukai gaya main Johan . Tapi apa boleh buat . Dia melepas Bra dan celana dalamnya .

Johan menatap nafsu tubuh perek ABG itu , “ San , sini dong duduk sini “ katanya . Santi pun menurut duduk di samping Johan . Johan melumat bibir Santi , dan tangannya meraba raba , buah dada Santi . Santi mengerang , rabaannya agak kasar , tapi dia harus menerimanya . Puas dengan buah dadanya , tangan Johan berpindah , sekarang selangkangan Santi , di raba rabanya .

Jari Johan tiba tiba masuk dalam liang vaginanya . “ ahhh … sakit .. pelan pelan “ erangnya . Johan hanya tersenyum ., tapi jari itu tetap berada di liangnya , merasakan hangat liang vagina ABG itu . Jari itu perlahan bergerak keluar masuk . Santi pun mengerang , perlahan nafsunya bangkit . Jari Johan bekerja giat di liang vaginanya , sementara Johan melumat bibir Santi dengan nafsu .

Liang vagina Santi menjadi basah , memudahkan jari Johan bergerak dengan lancar . Santi mengerang nikmat . Johan menghentikan gerakan jarinya , dia membimbing Santi ke ranjang . Santi terbaring tengkurap , dengan kakinya di buka lebar oleh Johan .

“ ahhhggg …. “ erang Santi ketika liang Vagina terisi penis besar Johan . Johan menggerakan Batang penis keluar masuk liang vagina Santi . Santi memejamkan mata , tangannya mencengkram bantal, kepala penis Johan bergerak liar di liang vaginanya .
“ ahhh .. pelan pelan.. ahhh … “ erang Santi .

Penis Johan terus bergerak keluar masuk , Johan tampaknya sangat bernafsu main dengan gadis muda ini . Dia bertahan cukup lama . Sedang Santi tak sepenuhnya bisa menikmati permainan Johan . Dia hanya pasrah , dan berharap Johan segera ejakulai . Tapi Johan cukup bertahan . Penisnya terus mengobok obok liang vagina ABG itu . Sambil terus mengerang kenikmatan .

Akhirnya , setelah hampir setengah jam , Johan menikmati tubuh Santi , penisnya terasa segera akan muntah . Johan mempercepat gerakan tubuhnya . Santi semakin mengerang . “ ahhh, aghhh ahhhhh ….” . Penis Johan tertanam dalam dalam , lalu penis itu menumpahkan spermanya . Santi merakan panasnya cairan Johan dalam tubuhnya . Johan terkulai lemas . Begitu juga dengan Santi , yang merasakan lelah melayani Johan .

Setelah berbaring sesaat , Santi masuk dalam kamar mandi . . Santi terangsang , tapi tak bisa sampai pada puncaknya . Ada kekecewaan di hati Santi . Tangan meraba vaginanya , dengan sisa sisa sperma Johan , Santi menstimulasi sendiri Klitorisnya . Dia mengerang pelan , merasakan nikmat di klitorisnya .

Santi terus merangsang dirinya sendiri , mencari kepuasan . Akhirnya Tubuhnya mengejang , dan Santi orgasme , karena bermasturbasi . Setelah itu dia membasuh vaginanya . Lalu berpakaian kembali , dan keluar . Santi duduk di Sofa .

Johan pun mengantar Santi pulang setelah membayar tubuhnya . Santi menerima se jumlah uang dari Johan , sambil mengucapkan terima kasih .

Malam itu di rumahnya , Santi berada di meja belajarnya . Menghitung uang yang diperolehnya , dari hasil menjajakan dirinya , selama beberapa hari terakhir ini . Sambil tersenyum , dia berkata dalam hati , “ aku bisa beli apa yang aku mau , tak perlu lagi mengharapkan ayah tiriku itu “

Santi telah merubah jalan hidupnya...
Esok hari , Santi kembali mengunjungi rumah Dr Romi . Dia hendak menceritakan pengalamannya main dengan temannya Johan .

“ payah , Rom , si Johan mainnya gak enak “ keluh Santi . “ yah gimana , yang pentingkan eloe di bayar , dapet duit yah enggak “ ujar Dr Romi . Santi dia menatap Dr Romi . Dr Romi tersenyum “ gua tahu deh , eloe gak puas yah kemarin “ kata Dr Romi , sambil meraba bokongnya . “ i ih “ suara Santi terdengar genit .

Dr Rom tiba tiba mencium bibirnya “ mau main sama gua ngak , tapi gratis yah , gua lagi bokek nih “ . Santi tersenyum saja . Tangan Dr Romi pun meraba dada Santi . Dan Santi semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Dr Romi . Mereka pun duduk di pinggir ranjang praktek Dr Romi .

Tangan Dr Romi meraba raba paha mulus ABG itu , Santi terus naik ke selangkangan celana dalam pinknya . Santi mulai mendesah , merasa birahi mulai , meningkat drastis . Jari Dr Romi bergetar , di selangkangan celana dalamnya , membuat selangkangan celana dalamnya menjadi lembab. Dr Romi jongkok , sehingga mukanya tepat berada di depan selangkangan celana dalam Santi .

Tangan menyibak , celana dalam pink itu , lalu lidahnya menjilati klitoris ABG itu . “ ahhh , ahhh…” erang Santi kenikmatan . Satu jari Dr Romi pun bermain di dalam liang vaginanya , bergerak keluar masuk , membuat tubuh Santi semakin di dera rasa nikmat , yang tak bisa di tahannya . Saat lidah Dr Romi bergerak nakal , yang membuat klitoris Santi semakin membesar . Tubuhnya pun mengejang .

“ ahhh … Rom .. aku gak tahan lagi…” erangnya . Tubuhnya mengejang sesaat , lalu terlemas . Santi berhasil mendaki puncak kenikmatannya . Dr Romi pun kembali menciumi bibir Santi , Santi pun menerima cumbuan dari Dr Romi . Cumbuan itu membuat birahinya sedikit menjadi naik lagi .

Dr Romi mulai membuka kancing celananya , dan menurunkan resleting celananya . Penisnya tampak tegak . Dengan menyibak celana dalam pink Santi , penis itu bergerak masuk ke liang vagina Santi . “ ahhh , ahh , terus Rom .. ahh “ erangnya menikmati penis Romi yang tengah mengisi ruang ruang di liang vagina Santi .

Penis itu bergerak keluar masuk liang vagina Santi . Santi sangat merasakan batang penis Romi , mengesek dinding liang vaginanya . Baru kali ini Santi merasa begitu nikmat dalam , bersenggama . Santi terus mendesah desah menikmati gesekan batang penis Dr Romi di liang vaginanya . Liang vagina terus merembeskan cairan pelicin , karena birahi yang terus meningkat .

Nikmat gesekan penis itu , membuat tubuhnya mengejang , dan berakhir dalam kenikmatan .
Santi memeluk erat tubuh Dr Romi , dan tubuh itu mengejang dalam pelukan Dr Romi . Saat kemudian , Dr Romi pun melepas spermanya dalam liang hangat vagina Santi . Perlahan penis itu keluar , dan meninggalkan seluruh isinya , dalam liang vaginanya . Santi merapikan celana dalamnya .

Saat yang sama pintu ruang kamar itu di ketuk seseorang . Setelah mereka merapikan pakaian mereka , Dr Romi membuka pintu ruang prakteknya . “ maaf dok , ada pasien “ kata pembantunya . “ Oh baiklah “ kata Dr Romi . Sambil melepas Santi, pulang kerumahnya . “ makasih yah Dokter , saya sudah lebih baik sekarang “ kata Santi . “ oke yah , di minum obatnya yah “ jawab Dr Romi , sambil tersenyum

Dr Romi pun menyambut pasien yang sedang menunggunya di ruang tunggu .Santi berjalan pulang kerumahnya , selangkangannya terasa tak nyaman , karena basah oleh sperma Dr Romi . Santi pun terus mempercepat langkahnya , sambil matanya mencari kendaraan umum , untuk mengantarnya ke rumahnya .

>>>

Begitu tiba di rumahnya , Santi segera mengambil handuk dari kamarnya , lalu masuk ke dalam WC . Dia segera membersihkan tubuhnya . Santi membasuh vaginanya , membersihkan sisa sisa sperma Dr Romi , yang tertinggal dalam liang vaginanya .Santi mandi , dengan guyuran air dingin , yang akan membuat tubuhnya segar dan bersih .

Sehabis mandi sore itu Santi tiduran diranjangnya , kemudian terdengar pintu kamar tidurnya di ketuk, “yah masuk bu , tidak di kunci koq “ kata Santi yang mengira pintu itu di ketuk oleh ibunya . Pintu terbuka , tapi yang masuk ayah tirinya. Santi segera bangkit , dan merapikan baju tidurnya . Lalu Santi duduk di depan meja belajarnya .

Ayah tirinya lalu berdiri di sampingnya ,”Santi , kamu banyak berubah sekarang , ke sekolah pakai rok mini , juga sering pulang malam, masa pulang sekolah jam 7.00 malam , ada apa dengan mu? “tanya ayahnya. Santi menatap ayah tirinya , lalu dia menjawab belajar dirumah teman .

Ayahnya tersenyum ,”Santi ,ayah tahu kamu bohong ,ayah sayang sama kamu ,walau kamu anak tiri ayah, tadi siang ayah di panggil ke sekolah oleh kepala sekolahmu “ Wajah Santi memucat . Ayahnya berkata lagi “ di sekolah nilai pelajaran kamu menurun , ada apa Santi ,coba kamu cerita yang sesungguhnya.”kata ayah . Santi berpikir ini skak mat , tapi dia tetap tenang , toh dia bisa cari uang sekarang ,walau diusir dia tidak takut

Santipun mulai bercerita Dari Dodi merayunya ,membawa kerumahnya , sampai bagaimana mereka kakak beradik itu memperkosanya dengan sadis , lalu tanpa sadar air matanya berlinang. Ayah Santi dengan lembut membelai rambutnya. “ Yah sudah lah ,San mungkin takdir mu begini “,kata ayahnya. Lalu ayahnya bertanya “kamu punya pacar lagi sekarang”. Santi menatap ayahnya “ tidak punya yah..”.

Ayahnya tersenyum dan berkata ,”kamu bohong lagi yah, Ayah bisa membedakan antara noda keputihan dan noda sperma “,kata ayahnya . Lalu ia memperlihatkan celana dalam pink milik Santi yang siang di kenakannya .

Di selangkangan celana dalam itu . memang penuh dengan spermanya Dr Romi. Dan Waktu mandi tadi Santi kelupaan mencucinya dan tertinggal di WC setelah Santi selesai mandi tadi sore itu .

“ dasar maniak sex “ umpat Santi dalam hati . Emosi Santi jadi meninggi , “ ayah , itu milik pribadi saya “ . Ayahnya hanya tersenyum sinis “ jangan sewot gitu dong , ayah cuma nanya ini p-*-j-u- siapa he he he , kamu harus cerita dong..” . Santi pun sudah siap dengan segala hal dia menceritakan seluruhnya.

Santi menceritakan pengalamannya minggu mingu terakhir ini . Menceritakan dirinya menjajakan tubuhnya dengan lelaki hidung belang . Santi bercerita dengan Gamblang . Dia tak takut sama sekali . “ nah , ayah sudah tahu semuanya , mau usir saya , usir saja “ kata Santi. Expresi ayahnya tenang sekali “ Santi ayah sayang kamu , mana mungkin ayah usir kamu , Santi ayah bisa ngerti dan menerima , tapi ibumu , dia bisa mati jantungan …kalau sampai tahu ,anaknya jadi perek...."

“ ibu ...." gumamnya dalam hati . Santi menatap ayahnya , lalu berkata ,”ayah tolong jangan kasih tahu ibu , ini rahasia kita berdua saja “. Lalu ayahnya tersenyum dan berkata ,”Baik lah ayah bantu kamu merahasiakannya , tapi kamu bantu ayah ok “ . Santi tersenyum , terima kasih ayah , ayah butuh bantuan apa sama Santi “ tanyanya polos.

“ Begini Santi ayah suka sama kamu , ayah juga nafsu sama kamu , kamu mau main sama ayahmu ” . ayahnya bertanya tanpa malu malu . “ ayah , maksudnya apa ?!?! “ tanya Santi terkejut . “ masa sih kamu gak tahu , ayah mau n-*-e-*-t-*-t- sama kamu , anggap saja ayah langganan kamu “ kata Ayahnya .

”tapi bagaimana dengan ibu , ayah…” Santi protes . Ayahnya menjawab “ sapi tua itu , tak bisa apa apa lagi susunya udah kering , dagingnya udah alot…”. “ dasar bandot tua “ umpat Santi dalam hati . Tapi Santi tak bisa berbuat apa apa , secara tak langsung , ayahnya mengancam akan memberi tahu ibunya kalau Santi tak bersedia melayaninya.Bagaimana pun Santi sangat menyayangi ibunya itu .

Santi pasrah , dan mulai membuka dasternya . Lalu dia buka celana dalamnya . Santi duduk di meja belajarnya ,lalu membuka lebar kakinya . Ayah tirinya memandangi tubuh sexy Santi dengan liar,memelototi buah dadanya yang montok ,dan vaginanya yang berbulu halus .

Ayah tirinya dengan bernafsu melepas sarungnya. .Santi tertegun memelototi penis ayahnya .Penisnya kecil sekali ,hanya sepanjang kira kira jari telunjuk Santi, besarnya sebesar spidol untuk menulis whiteboard . Dalam hati Santi tertawa “ bandot tua ini buaya , tapi k-*-*-t-*-l cuma segitu “ ujarnya dalam hati.

Ayahnya mendekat ,buah dada Santi diraba raba dan diremas dengan nafsu . Santi menjerit , dia pun melepasnya . Lalu bandot tua itu mengarahkan penisnya ke vagina Santi , dimasukan dengan keras. .”Ah….sakit….,” jerit Santi menjerit. Ayahnya tersenyum , lalu berkata sambil meledek ”,Ah.. Santi ,kamu kayak masih perawan aja ,”

“ s-i-a-l-a-n “umpat Santi dalam hati . Tentu saja Santi merasa sakit , ayahnya memasukan penisnya dengan tiba tiba , di saat Santi belum siap , vaginanya masih kering. Ayah tirinya terus mengoyang penis imutnya . Saat vagina Santi mulai becek karena nafsunya bangkit . Tiba tiba ayahnya mengerang , dan Santi merasakan vagina menjadi panas oleh cairan birahi ayahnya .

Sepertinya belum semenit bergoyang , ayahnya sudah ejakulasi . Ayahnya tersenyum puas ,lalu memakai sarungnya lagi dan ayah tirinya berkata ,”Santi m-*-m-*-k kamu ,enak sekali ,udah yah ayah balik dulu ,nanti sapi tua itu bangun ,dan jaga ya rahasia kita ya….”,lalu meninggalkan santi di kamarnya .

Saetalah ayahnya keluar dari kamar tidurnya , santi pun berjalan ke kamar mandi . Dia membasuh vaginanya. Sambil memasukan jarinya di liang vaginanya ,untuk membersihkan sisa sia air mani ayah tirinya . “ ..ih encer banget “ ujar Santi dalam hati Jarinya pun masuk lagi berusaha mengeluarkan semua sperma ayah tirinya .

Karena Santi yang tadi setengah horny , maka dengan jarinya keluar masuk liang vaginanya membuatnya tambah Horny . Jarinya malah bermain di liang vaginanya keluar masuk, melakukan masturbasi , sampai dia merasa puas . Lalu kembali ke kamarnya dan Santi tertidur .

Paginya seperti biasa Santi bangun ,mandi dan bersiap hendak berangkat kesekolah Ibunya sedang kepasar , Saat itu Santi melihat ayahnya , sedang menikmati kopinya di ruang makan. Timbul niat iseng Santi , Dihampiri ayah tirinya , kemudian Santi meraba raba selangkangan ayah tirinya . Kontan penisnya bangun , terlihat jelas penis imut itu berdiri tegak di balik kain sarungnya .

”Ih…ayah genit ,nggak pake kolor…..,” goda santi dengan nada yang genit dan nakal. Ayahnya hanya bisa mengerang nikmat ,” ahhh . .shhhh ….ah….. ,” sambil merem melek keenakkan.Santi pun menyibak sarungnya, dan mulai mengocok penisnya . Belum sampai sepuluh kocokan ayah tirinya sudah keluar.

Spermanya belepotan di tangan Santi. “ Dasar nafsu besar tenaga kurang “ dalam hati Santi meledeknya. ,”yah , ayah sayang minta uang jajan dong,” Dia berkata dengan manja . ”pantes pagi pagi bikin ayah “senang” , Kata ayahnya dan memberiku seratus ribu.

Santi pun berjalan kesekolah dan Santi tersenyum sendiri , baru kali ini ayahnya yang pelit itu memberi Santi uang seratus ribu ,biasanya kalo minta uang sama ayahnya santi paling di beri cuma lima ribu perak.

Sepulang dari sekolah siang itu , Gina dan Lala mengajak Santi pergi ke sebuah mall , Santi memutuskan untuk ikut dengan dua temannya itu . Berangkatlah tiga ABG yang cantik dan sexy itu ke Mall .

Di dalam mall itu mereka nongkrong di food cort .”San begini nich ,cara gua orang cari duit ,” kata Gina. Santi hanya tersenyum , rupanya mereka sering ke mall untuk mejeng mencari om om tajir . Gina dan Lala ngegosip apa aja , dari guru disekolah sampai pengalaman mereka di booking sama om om. Santi pun ikutan ngegosip.sambil nunggu kalau kalau ada om om yang mengajak berhappy ria .

Tiba tiba mereka di hampiri , dua orang cowok muda berseragam SMU . “hai ,cewe cewe manis kenalan dong”, goda seorang di antaranya . “ mau kenalan buat apa “ tanya Lala tersenyum genit . “ yah kenalan dulu dong , baru ngajak kencan “ cowok muda itu menjawab sekenanya .

Tiba tiba Gina membentak dengan juteknya ,”Eh , loe pikir loe ganteng yah , k-*-*-t-*-l loe gede , Loe liat dompet loe , kalo eloe punya duit cetiaw ( sejuta ) , loe boleh kencan ama gua . kalo eloe mau n-*-e-*-t-*-t gratis, ama emak loe aja. ..” . Langsung dua cowok muda itu kabur. Dan Gina bersama Lala tertawa terpingkal pingkal.

”Gina jahat loe , kan tuh anak cuma mau kenalan , lagian mereka ok ok loh”.kata Santi pada Gina .Gina menatap Santi , kemudian Gina memberi wejangan , nasehat penting untuk perek-perek.

”San, dengar yah, kita itu perek, prinsip kita ada uang , ada m-*-m-*-k. Tidak ada kata cinta dalam kamus kita. lelaki itu semuanya buaya , kecuali kalau lelaki itu , impoten , atawa dia homo , so kita harus permainkan mereka

Posted at 04:55 am by pohonmangga
Make a comment  

Friday, February 01, 2013
sambungan santi

”Gina jahat loe , kan tuh anak cuma mau kenalan , lagian mereka ok ok loh”.kata Santi pada Gina .Gina menatap Santi , kemudian Gina memberi wejangan , nasehat penting untuk perek-perek.

”San, dengar yah, kita itu perek, prinsip kita ada uang , ada m-*-m-*-k. Tidak ada kata cinta dalam kamus kita. lelaki itu semuanya buaya , kecuali kalau lelaki itu , impoten , atawa dia homo , so kita harus permainkan mereka, jangan sampai kita yang di permainkan mereka .”

Santi diam dan berpikir , mencoba mencerna kata kata Gina . Santi berpikir ada benarnya juga kata kata Gina . Tapi tak semua cowok itu buaya , mungkin takdirnya memang harus bertemu dengan Dodi . Sehingga hidupnya menjadi berantakan seperti ini . Dalam hatinya Santi berharap , suatu saat akan bertemu cowok yang bisa menerima dirinya apa adanya .

Tiba tiba ada seorang pria setengah baya .Tubuhnya pendek, perutnya agak buncit , mendekati mereka .Kepala pria itu celingak celinguk ke kiri dan ke kanan . Lalu dia berkata ,” maaf, apa kalian teman Gina,” . Gina menjawab “, om , tau dari siapa kita teman Gina ,” . Lalu pria itu tersenyum , dan duduk semeja dengan mereka .”Dari , pak Bondo , dia bilang kalian bisa , anu eh di booking ,”

Gina diam sebentar , dia berpikir , “ pak Bondo ? yang mana yah “ ujarnya dalam hati .Lalu Gina tersenyum dan berkata ,” iya om benar , om tinggal pilih deh , kita semua ABG pengalaman ,”Gina berpromosi lalu melanjutkan ,”Om sukakan sama ABG , tapi kita mintanya 1 juta , sekali main , om “, kata Gina buka harga.

“ oh…harga om tidak masalah , apa lagi kalo servis bagus , nanti om tambahin “, Kata om itu . Pria kelihatan gembira sekali ,seperti anak kecil yang dapat mainan baru.lalu dia melanjutkan bicaranya . ”Om cuma bingung mau milih yang mana , habis kalian semua cantik cantik ,”…….

Lalu om itu memilih Gina . tapi Gina tak bisa, lagi lampu merah. Santi pun menolak dengan alasan lampu merah , padahal dia nolak karena om nya jelek . Akhirnya Lala yang bertransaksi .Transaksi terjadi ,uang satu juta harus bayar dulu dan Gina yang menyimpan. Untuk menghindari penipuan , takut nanti habis di en*** nggak di bayar.Lalu Lala pun dibawa oleh om itu.

“ Gin , eloe bener benar lagi mens yah “ tanya Santi . “ yah bener , mau lihat , udah gak banyak sih ,tapi kalau di colok yah keluar “ jawab Gina . Santi tersenyum, timbul niat isengnya untuk ngerjain Ayah tirinya .

Santi lalu menceritakan perlakuan ayah tirinya terhadap dirinya . Gina pun tertawa terbahak bahak “ benar benar bandot tua tak tahu diri yah , udah k-*-*-t-*-l cuma segitu masih doyan lagi , ha ha ha “ . Santi pun tertawa lalu mengutarakan ide gilanya pada Gina . “ ha ha ha , boleh juga ide elo “ kata Gina sambil terus ketawa . “ gina , tapi elo mesti bisa akting yang serius yah “ kata Santi .

>>>

Hari ini memang hari Sabtu , yang berarti si bandot tua itu tak ke kantor , karena libur , dan ibu Santi juga ikut arisan di rumah temannya .

Santi dan Gina pun , langsung berangkat kerumah Santi. Santi melihat ayahnya di ruang tamu , sedang membolak balik halaman majalah . Gina pun mulai berakting , seperti seorang gadis lugu . Santi pun memperkenalkan Gina pada ayah tirinya. Mata ayah tirinya menatap tubuh sexy Gina dengan nasfu .

Mereka berdua duduk di ruang tamu rumah itu . Santi sengaja memancing ayahnya , dengan berbicara cukup keras pada Gina . Sehingga ayah tirinya bisa mendengar jelas percakapan mereka .

“ Gina , jalan satu satunya , untuk dapet duit tiga juta , yah mau gak mau eloe mesti jual perawan elo “ kata Santi . Kuping ayah tiri Santi terbuka lebar , menangkap suara Santi . “ yah , gua tahu gua rela , asal ibu gua bisa berobat dan sembuh “ kata Gina dengan nada sedih . “ oke deh kalau gitu , nanti gua cariin om om yang mau beli perawan elo yah “ kata Santi .

Sekonyong konyong , ayah Santi menghampiri mereka , “ ibu kamu sakit apa , koq mahal berobatnya “ tanya ayah tiri Santi .Gina tak menjawab hanya menunduk saja.

“ ibu nya harus segera di operasi yah “ kata Santi . “ wah mahal yah sampai tiga juta “ kata ayahnya . “ tau deh , habis kata ayah juga , sekarang apa apa mahal “ kata Santi .

“ emang benar , teman kamu masih perawan “ tanya ayah tiri Santi yang tampaknya semakin tertarik . “ yah , benar dong , pokoknya berdarah , kalau gak berdarah , mana mau om om itu bayar “ kata Santi . Ayah tirinya yang buaya itu lalu berkata “ eh gimana kalau , ayah saja yang beli perawannya “ kata Ayah tirinya .

“ ha , ayah punya uang segitu ? “ tanya Santi . “ ada dong “ kata ayah tirinya . “ kalau ayah mau , yah gak apa apa , yang penting harus ada uangnya sekarang , sebab Gina benar benar butuh uang itu yah “ kata Santi . “ oh baik baik “ kata ayahnya , lalu berjalan masuk kekamarnya . Gina tersenyum , setelah ayah Santi masuk kamar . Gina pun berbisik di telinga Santi . Santi tersenyum

Tak lama ayahnya keluar dari kamar , dengan membawa uang tiga juta rupiah . Santi pun menerima uang itu . “ ayah , ayo deh , tapi Gina maunya di temani Santi , boleh yah yah .” kata Santi . Ayahnya mengangguk “ boleh boleh “.

Kemudian Santi dan Gina Ke WC Gina membuka softeknya,lalu Gina cebok membersihkan darah yang ada di luar vaginanya. Lalu mereka masuk kekamar Santi . Gina hanya memakai handuk. Lalu Santi menyusun bantal agar pas tepat menganjal pantat Gina. Jadi posisi vaginanya agak tinggi, supaya darah mensnya tidak mudah keluar.

Posisi Gina jadi sexy menantang , Santi menutup tubuh bugil Gina dengan selembar selimut . Lalu dia memanggil ayah tirinya masuk . “ ayah , Gina sudah siap , tapi ayah jangan kasar kasar yah “ kata Santi . “ oh , tentu , pasti ayah akan pelan pelan “ jawab ayahnya .

Dan Santi pun membuka selimut yang menutupi tubuh bugil Gina . “malu….aku malu….”tangannya segera menutupi vaginanya .

Ayah tiri Santi melihat dengan nafsu tubuh bugil Gina , yang membuat penisnya berdiri . Buaya darat itu segera membuka bajunya dengan cepat , sampai berbugil ria. Gina pun berpura pura lugu, dia menjerit kaget dan menutup mukanya dengan bantal.

Tangan ayah tiri Santi , segera meraba raba buah dada Gina , yang sedikit lebih besar di banding milik Santi . Lidahnya juga menjilati putting susunya , membuat Gina menjadi geli . Gina mendesah ” …ah… se…. ah… ah…….” . Santi melihat Gina mulai birahi . dan Santi takut juga kalau diteruskan akan membuat liang vagina Gina bertambah basah .

Santi lalu berinisiatif , dan berkata ” ayah , udah deh cepat perawani , nanti ibu keburu pulang….” Lalu tangan Gina yang menutupi vaginanya dari tadi , di angkat oleh Santi , Santi juga membuka buka kaki Gina lebar lebar ” cepat ayah masukin ”kata Santi . Lelaki setengah tua itu tersenyum , lalu memasukan penisnya ke liang vagina

Gina berpura pura menjerit kesakitan “Ahhh…… sakit sekali , ampun ….. om…..” Ah ….. ah…… ampun…..sakit…….” . Jeritan itu semakin membuat nafsu ayah tiri Santi . Dia mempercepat gerakan penisnya , di liang vagina Gina . Gina berakting dengan sempurna . Ayah tiri Santi sangat bernafsu , tak bisa lama menahan birahinya . Dia mengeram , .memuncratkan spermanya dalam liang vagina Gina

Gina menutup mukanya dengan tangganya berpura pura nangis . Dari liang vaginanya keluar darah mensnya , bercampur sperma lelaki buaya itu . Santi melihat ayah tirinya seperti orang idiot, menjilat darah mens yang keluar dari liang vagina Gina.Darah mens yang bercampur spermanya sendiri dijilati bersih.!

Lalu Santi dan Gina Ke WC , Gina mencebok vaginanya , sambil tersenyum dia berusaha menahan tawanya. Lalu cepat cepat berpakaian .Kemudian Gina pamit mau pulang pada ayah Santi . “ Gina , om baru sekali loh , boleh nambah gak ?” tanya ayah tiri Santi . “ bo .. boleh om , tapi jangan sekarang yah , anu saya masih sakit om ..” jawab Gina . kemudia dia berjalan, yang di buatnya agak ngengkang , sambil meringis .

Santi pun mengantarnya . Setelah mereka keluar agak jauh dari rumah Santi , Santi dan Gina tak lagi bisa menahan tawanya . Mereka tertawa terpingkal pingkal .

“ San , bokap elo nafsunya gede , tenaga kurang , udah gitu bego lagi ha ha ha “ kata Gina . “ iyah .. rasain tuh bandot tua “ kata Santi . “ Gina, ini uang bagian elo “ kata Santi . “ udeh San , elo simpen saja , gua gak mau ..” kata Gina . “ Tapi kitakan udah janji , bagi dua hasilnya “ kata Santi lagi .

“ udeh , simpen , elo beli Hp napa sih , beli yang baru “ kata Gina . Santi tersenyum “ iyah gua juga mau beli “ . “ bener nih eloe mau beli Hp baru “ tanya Gina . “ iyah “ jawab Santi . “ ayo gua anterin “ kata Gina .

>>>

Setelah melihat sana sini , akhirnya Santi menentukan pilihan , model Hp yang akan di belinya . Mereka menuju sebuah toko . Mereka di layani oleh pelayan toko , seorang pemuda , yang ganteng . Pemuda itu , beberapa kali mencoba menggoda Santi , dengan halus , Pemuda itu mencoba mendekati Santi , tapi di halangi oleh Gina .

Setelah transaksi selesai , pelayan toko itu , berkata “ coba di test ke Hp saya yah “ . Santi menekan no Hp pemuda itu , yang tentu saja pemuda itu mendapatkan nomer Hp Santi . Semua ok , setelah membayar Hp tersebut , mereka pun meninggalkan toko itu . Mereka pun berjalan untuk kembali pulang .

Santi merasa gembira memiliki sebuah Hp yang selama ini hanya ada dalam mimpinya.
Begitu mudah memiliki Hp cangih yang berharga mahal . Hanya dengan menjual tubuhnya . ABG ini semakin terperosok dalam dunia hitam pelacuran.
Sepulang sekolah besok harinya , tiga ABG itu berkumpul di pojok kantin sekolahnya . Mereka bergosip ria . “Gila bokapnya Santi ,k-*-*-t-*-lnya kecil banget ,gua baru liat tuh yang kayak gitu….udeh gitu masa belom semenit udah kelojotan..”kata Gina sambil ketawa ngakak. Lalu mereka semua pun tertawa . “ eh tapi idenya Santi , gila juga yah , bokapnya bego banget sih , percaya aja , tiga juta dapet darah mens ha ha ha “ kata Lala.

“ nanti kalau gua lagi M , boleh juga tuh tawarin bokap tiri eloe , San “ kata Lala . “ ha ha ha , kenapa, eloe mau tiga jutanya , apa cobain k-*-n-t-*-l bokap tiri si Santi “ kata Gina . Lala cemberut . “ San, hebat juga elo yah , udah ganti Hp “ ujar Lala lagi . Santi Cuma tersenyum saja .

“ Lala , sama om Gondo , elo di apain aja “ tanya Gina . “ om , Gondo yang mana ? “ tanya Lala . “ yang mana , kemarin , gua main sama bokapnya Santi , elo kan di boking om om , om Gondo “ terang Gina . “ oh , itu , biasa aja “ jawab Lala . “ biasa aja , ceritain dong “ pinta Gina . Lala tersenyum “ loe mau tau aja..” .

“ loe tau gak , waktu negur kita kan orangnya sopan banget , begitu di kamar wah liar banget Jo “ kata Lala . Santi mendengar dengan serius . “ terus terus ..” kata Gina penasaran . “ yah begitu masuk di kamar motel , si Gondo lamgsung duduk di pinggir ranjang , minta gua isepin k-*-*-t-*-lnya , dia bilang , isepein dong k-*-*-t-*-l gua , udah gak tahan nih ,” cerita Lala .

“ terus yah gua isep aja , sampe dia keluar , keluarnya di mulut gua lagi , masa gua di suruh nelen p-*-j-u nya “ sambung Lala .

Gina dan Santi mendengar cerita Lala , dengan antusias . “ terus gimana , La “ tanya Santi . “ yah , udah gua di telajangin , t-e-t-e gua di sedot sedot , m-*-m-*-k gua juga di jilatin , terus , gua di e-*-t-*-t “ kata Lala . “ yah terus , terus …” kata Gina . “ Gin elo kayak tukang parkir yah , terus .. terus..” canda Lala . “ eh bukan maksud gua , k-*-*-t-*-l nya gede apa kecil , mainnya lama apa sebentar “ ujar Gina .

“ biasa aja , sedang sedang saja , tapi mainnya cukup lama , biar tua di kuat loh , tapi gak bisa bikin gua keluar “ kata Lala . “ tapi elo nafsu “ tanya Santi . “ gila loe , gua normal nih , masa t-e-t-e gua di sedot , m-*-m-*-k di jilat gak nafsu sih “ kata Lala. “ tapi eloe kan gak keluar , mana enak ? “ tanya Lala lagi .

“ ih bego yah , kita di bayar buat bikin cowok puas , soal elo mau puas atau kagak tergantung nasib elo , kalo gak puas , elo colok colok aja m-*-m-*-k eloe pake jari , sampe puas “ kata Lala . Santi hanya diam saja .
Gina tersenyum . “ elo di tambahin gak ? “ . “ di kasih lima ratus ribu , terus di ajak makan , tapi terakhir dia minta di sepong lagi , jadi dia tiga kali keluar tuh ” kata Lala .

“ yah masih mending deh , dulu gua pernah di nyepong sampe tiga kali , cuma di bayar gopek ceng “ kata Gina . Santi terdiam mendengar pengalaman teman temannya , yang lebih pro .

“ Gina , berarti dapet om om , beda beda yah , ada yang baik , ada yang jahat yah “ ujar Santi . “ yah.. baru tau dia ..” kata Lala sambil tertawa . Gina tersenyum “ emang gitu San , resiko , ada yang baik , yang baik ada, kalo yang jahat mati loe , makanya pilih pilih “ kata Gina .

“ eh , pilih pilih , emang elo pilih apanya , di luar kelihatan baik , begitu di kamar liar , elo mau bilang apa ? “ kata Lala . “ yah itu tadi , resiko , apa lagi , elo jual barang elo , yah terserah yang beli dong , mo di apain keq , elo kan tahu resikonya..” kata Gina lagi . Santi jadi semakin terbuka wawasannya tentang dunia yang baru saja dimasukinya .

“ eh , yah udeh deh , elo orang mau ke mal lagi nggak, mejeng ? “ tanya Gina . “ eh enggak ah , kemarin baru di pake , kalau saban hari bisa dobol m-*-m-*-k gua “ kata Lala . “ yah udeh deh , kalo gitu bubur aja , balik ah , ngantuk, gua mau tidur..” ujar Gina . Akhirnya tiga ABG itu pulang kerumahnya masing masing . Gina membonceng Santi dengan Supranya , mengantar temannya pulang .

>>>

Santi pun berbaring di ranjangnya , memainkan games yang ada di ponselnya . Tiba tiba Hpnya berdering . Yang menelpon Johan , yang pernah main dengannya beberapa minggu yang lalu . “ hi , saya Johan , teman Dr Romi “ suaranya terdengar di Hp Santi . “ yah , ada apa “ tanya Santi . “ San , aku kangen , mau main lagi sama kamu “ katanya . Santi tersenyum , “ kapan ? “ . Akhirnya Santi sepakat , sepulang dari sekolah Johan akan menjemputnya .

Sepulangnya dari sekolah , Santi langsung ke tempat yang sudah di janjikannya . Mobil Johan sudah menunggunya disana . Santi masuk ke dalam mobil itu . Dan Johan membawanya ke sebuah Hotel . Santi di bawa masuk ke kamar Hotel itu . Di dalam kamar itu sudah menuggu seorang cowok lain . Santi agak terkejut , dia mulai merasa tak enak . “ Bob , kenalin nih cewek gua “ katanya . Cowok muda itu menjulurkan tangannya , Santi menerima jabat tangan Boby .

Johan tiba tiba memeluk tubuh imut ABG itu dari belakang memciumi leher Santi . Santi mengelinjing . “ Johan , jangan begini dong , saya gak mau main bertiga “ katanya . Tiba tiba Boby , mengangkat rok mininya hingga ke pinggang “ cewek elo nakal juga yah , Jo “ ujarnya

Tangan Jo pun bermain di selangkangan celana dalam biru muda yang di kenakan Santi . Jarinya meraba raba bagian itu .

Santi meronta “ jangan begini , tolong Johan “ pintanya . Johan tersenyum “ sayang gua akan bayar eloe , jangan takut “ . Tangan Johan mengangkat sebelah kaki Santi , sehingga Abg itu berdiri dengan sebelah kakinya . “ Jo , saya gak mau , kalau begini “ kata Santi . “ San , dengar yah sayang , elo perek , gua beli m-*-m-*-k elo ” kata Johan . Kata katanya terasa pedas .

Dengan posisinya yang berdiri sebelah kaki , tangan Boby leluasa memainkan selangkangan celana dalamnya . Boby mencium selangkangan Santi . “ eh , m-*-m-*-k eloe bau , eloe kencing gak cebok yah “ kata Boby . Santi meronta “ Johan , lepaskan saya , saya gak mau “ . Johan hanya tersenyum , tangannya semakin erat memeluk tubuh Santi . Tangan Boby menyibak celana dalam birunya itu . Boby membasahi jarinya dengan air liurnya , lalu Jari itu di masukan ke liang vagina Santi .

Santi mengerang sakit , dia sama sekali tidak terangsang , vaginanya kering kerontang . Jari Boby terus mencolok colok liang vaginanya . Semakin lama semakin kasar . Tubuh Santi meronta ronta . “ lepaskan Johan , tolong , sakit .. sudah..” erang Santi . Boby semakin gila , dia mencolok vagina ABG itu dengan dua jarinya . Tentu saja membuat Santi semakin sakit . Santi menjerit kesakitan , tapi dua cowok itu tak peduli .

Dua jari itu bergerak liar , mengaduk aduk , mengorek ngorek liang vaginanya dengan kasar . Tujuan Boby jelas , bukan memberinya kenikmatan , tapi menyiksa tubuh ABG ini , untuk kepuasan dirinya sendiri.

Hampir setengah jam , vagina mudanya di dera rasa sakit , akibat sodokan sodokan kasar dua jari Boby . Ketika Boby puas menyiksa dengan cara itu , Johan melepas pelukkannya pada tubuh Santi . Tubuh Santi ambruk terjatuh di lantai . Vaginanya memerah , memar . Boby membuka celana blue jean belelnya . Penisnya yang besar di sodorkan ke mulutnya . “ isep “ kata Boby . Santi menatap Boby , menatap wajah kejamnya .

“ isep , apa elo mau m-*-m-*-k eloe gua colok sampe robek “ ancam Boby . Santi tak bisa berbuat apa apa , Dia membuka mulutnya , dan mengulum penis besar Boby . Sambil megang kepalanya, Boby mendorong masuk batang penisnya , hingga ke tenggorokan Santi . Membuat nafas Santi terasa sesak .

Penis Boby terus bergerak , keluar masuk , terkadang menyentak dengan kasar dan tiba tiba .Sedang Johan menonton sambil memainkan penisnya yang sudah terlihat ngacung itu . Kepala Santi terasa pusing karena goyangan tangan Boby yang kasar . Santi merasakan siksaan ini cukup lama , sampai Boby melepas spermanya di mulut Santi . Dia menahan penisnya dalam mulut Santi , berharap Santi menelan spermanya .

Santi megap megap , sebagian sperma Boby tertelannya . “ ha ha ha , eh perek , gimana p-e-j-u gua enak gak “ kata Boby , setelah penisnya terlepas dari mulut Santi . Santi tak sempat menjawab , kerena penis Jo sudah mengisi mulutnya .

Johan pun mengoyang penisnya dalam mulut Santi . Untungnya Johan tak sekasar Boby . Penis itu bergerak di dalam mulut Santi maju mundur , tapi tidak menghentak hentak . Dan Johan juga tidak terlalu lama , Penis itu segera memuntahkan isinya . Perlahan Johan mencabut penisnya . Dan spermanya tampak meleleh keluar dari mulut Santi .

Penis Boby yang masih lemas , mendekati Santi Lagi . Santi meronta , dia mengoyangkan mukanya berusaha menghindari penis Boby . Tapi Johan memegang kepalanya , sehingga tak bisa bergerak . Penis Boby semakin mendekat ,dan masuk kemulutnya . Boby meringis , dan tiba tiba , Santi merasa mulutnya penuh dengan air hangat .

Boby mengencingi , mulut Santi . Air seninya keluar dalam mulut Santi . Banyak sekali . Air seni itu tumpah hingga membasahi baju seragamnya . Setelah tetes terakhir air seninya keluar , Boby mengeluarkan penisnya dari mulut Santi . “ he he he , Johan , ini yang gua bilang toilet hidup .. ha ha ha “ kata Boby .

Santi menitikkan air mata , dia harus menerima penghinaan seperti ini dalam hidupnya . Siksaan dan hinaan ini belum berakhir . Tubuh Santi di angkat Boby di bawa ke atas ranjang . Boby , melepas seluruh pakaiannya . Santi terbaring , terisak tanpa busana di atas ranjang hotel itu . Santi tak bergairah unutk melawan , dia hanya pasrah . Dan Boby membuka lebar kakinya .

Penisnya yang sudah tegak lagi itu segera di desak masuk ke vagina Santi . Santi menjerit panjang “ ahhhh…… “ vaginanya terasa pedih dan panas . Penis Boby menggesek liang vaginanya dengan kasar . Santi mengerang , bukan kenikmatan , tapi sebaliknya dia sangat kesakitan . Sedangkan Boby melenguh menikmati vagina ABG ini . Dia menggoyang , tubuhnya menindih tubuh imut Santi .

Kadang tangannya dengan nafsu dan kasar meremas buah dada ranum Santi . Semua ini dilakukan sepertinya hendak menyakiti tubuh Santi . Dan Santi tak bisa berbuat apa apa . Hanya pasrah , menikmati semua siksaan yang di berikan Boby .

Santi memejamkan mata , mengigit bibirnya . Dari matanya tampak meleleh air matanya membasahi pipinya . Santi berharap semua ini segera berakhir . Tapi untuk sementara , vaginanya harus terasa sakit , pedih dan panas , di sodok sodok penis besar Boby dengan kasar . Boby terus saja mengerang menikmati vagina Santi dengan kasar . Penisnya terus bergerak keluar masuk menghentak hentak . Boby mencari puncak kenikmatanya .

Sampai suatu saat , penis itu di tekan masuk dalam dalam , lalu penis itu mengeluarkan spermanya . Santi merasa spermanya begitu panas , dan terasa pedih di liang vaginanya . Boby tersenyum puas . “ wah , biarpun eloe perek , tapi enak juga m-*-m-*-k eloe gak rugi gua beli “ . Santi hanya bisa menangis , menerima hinaan dari Boby .

“ b-a-j-i-n-g-a-n loe , menghina seenaknya “ kata Santi . Kata kata itu membuat Boby marah . “Plak …” . Boby menampar pipi Santi dengan keras . Santi mengaduh kesakitan . “ dengar yah , gua memang bajingan , dan eloe pelacur , gua beli badan elo tau ..” bentaknya . Wajah Boby berubah merah menyeramkan , Santi tak berani barkata lagi.

Boby yang telah terpuaskan , untuk sesaat , dia memberikan tubuh Santi , untuk bergantian dangan Johan . “ wah , peju eloe banyak banget nih “ ujar Johan , sambil melap vagina Santi dengan Tisuee . “ Santi mengerang terasa vaginanya semakin pedih karena usapan tisuee itu.

Penis Johan segera beraksi . Penis itu dengan mudah masuk ke vagina santi yang telah basah oleh sperma Boby . “ s-i-a-l ..m-*-m-*-k eloe jadi longgar “ kata Johan .

Johan pun mengoyang penisnya dalam liang vagina Santi . Semakin cepat , dan cepat . Santi mengerang . Walau penis Johan tak sebesar Boby , tapi rasa pedih tetap mendera vaginanya. Santi memohon agar Johan berhenti , tapi tidak di tanggapi . Malah penis Johan bergerak semakin liar , mengaduk aduk liang vaginanya . “ aghhhh perih .. sudah.. tolong..” erang Santi mengiba .

Tapi semuanya tidak dihiraukan . Santi bahkan menerima penghinaan lagi . kalau gak mau di e-n-*-*-t , jangan jadi perek , berisik amat sih loe” kata Johan . “ gebuk aja Jo “ saran Boby yang terkenal sadis sama wanita itu .

Johan terus mengoyang penisnya , sampai tubuh Santi seakan akan luluh lantak . Akhirnya puncak kepuasan Johan tiba , dengan melepas benihnya di rahim ABG ini . Tubuh Santi terbaring lemas di atas ranjang , dengan di tonton mereka berdua .Santi sadar , tubuh terbuka dan lemahnya menjadi santapan mata mereka , Santi tak rela , dia mebalikkan badannya .

Posisi ini malah membuat birahi Boby meningkat , melihat bokong indah ABG ini . “ wah , Jo nih perek hebat juga , minta di e-*-t-*-t nunging “ ujar Boby . Boby menghampiri tubuh Santi , memposisikannya menungging . Santi meronta , akhirnya Johan turun tangan , memaksa Santi menungging .

Dari belakang , Santi merasakan vaginanya di colok colok kembali oleh jari jari Boby . “ aghhh .. sudah .. tolong.. saya sakit sekali sudah.. “ erang Santi . “ diam loe , dasar pelacur murahan “ bentak Boby . Yang langsung mengarahkan penisnya ke liang vagina Santi yang merah memar . “ aghhh… Santi mengerang , menjerit kesakitan “ . Liang Vaginanya kembali merasakan kesakitan lagi .

Boby memegang pinggang , dengan erat . Dan penisnya terus mengobok obok , liang vagina Santi dengan penuh nafsu . Kesempatan itu tidak di sia siakan Johan . Penisnya di sodorkan ke mulut Santi . Kini tubuh ABG itu , harus menerima dua penis sekaligus . Kedua orang pria itu berlomba mencari kenikmatan dari tubuh Santi . pelacur muda itu .

Boby tidak hanya menyodok nyodok vagina Santi dengan penisnya , tapi tangannya yang berat , dengan sengaja , memukul pantat Santi dengan keras . Juga meremas dengan kasar , mencengkramnya , membuat gores luka di kulitnya akibat kuku tajam Boby.

Semua itu harus di terima Santi dengan pasrah . Mereka telah membeli tubuh ABG ini , itu pikiran mereka .

Tubuh Santi semakin lemas akibat rasa sakit yang terus menderanya . Dia tak tahu berapa lama Boby memainkan vaginanya dalam posisi nunging ini . Yang jelas Santi merasakan vagina basah di sembur sperma panas Boby . Juga semburan hangat di mukanya , dari penis Johan . Tubuhnya kembali ambruk tergeletak di ranjang itu .

“ bagaimana Bob , puas loe “ tanya Johan . “ lumayanlah “ jawab Boby , Sambil mengenakan pakaiannya kembali . “ nih , gua bayar tubuh eloe “ kata Boby melempar , setumpuk uang lembaran lima puluh ribuan ke muka Santi . Air mata Santi kembali menitik , membayangkan betapa hina dirinya . “ gua cabut dulu yah , eloe urus cewek eloe tuh “ ujar Boby , dan pergi meninggalkan mereka berdua .

Johan kemudian membantu tubuh lemah Santi berpakaian kembali . Santi berusaha untuk berdiri , seluruh tubuhnya terasa sakit , terutama di selangkangannya . Santi membandingkan waktu dulu dia di perkosa Dodi dan Bram . Saat itu tubuhnya tidak sesakit ini . Hanya sakit hatinya yang tertertahankan .

Santi berjalan , merapikan uang yang berserakan di ranjang , Santi tak bisa lagi menghitung jumlah uang itu , uang itu langsung di masukkan ke dalam tas sekolahnya . “ ayo aku antar kamu pulang “ tawar Johan . “ tidak usah , aku pulang sendiri “ kata Santi . Berjalan pelan berusaha mencari taksi . Johan mengerti perasaan Santi dia tak memaksa . Dari saku celananya , Johan mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluhan ribu , dan memasukkan ke saku baju seragamnya “ buat ongkos taksi .

>>>

Akhirnya , Santi bisa pulang dengan selamat , sampai di rumahnya . Hari sudah malam , sekitar pukul delapan malam . Saat Santi memasuki ruang tamu rumahnya ibunya langsung mencak mencak “ dari mana kamu , anak gadis pulang malam malam “ . Ayah tirinya langsung melerai “ sudah bu ..” katanya . Santi berusaha menahan sakit di selangkangannya , dan berjalan cepat menuju kamarnya .

Ayahnya berbicara dengan ibunya , kemudian pasangan suami istri itu masuk ke kamar mereka . Tak lama ayah tiri Santi keluar lagi . Entah apa yang di bicarakan yang jelas , ayah tirinya menuju kamar Santi . Dan ayah tirinya melihat Santi terbaring lemah di ranjangnya . Ayahnya menutup pintu kamar Santi , dan menguncinya . Lalu menghampiri anak tirinya itu .

“ Santi kamu kenapa “ tanya Ayah Tirinya menatap wajah lemah Santi . Ayah tirinya meperhatikan bibir Santi yang agak membengkak , akibat tamparan tangan Boby tadi . “ saya tidak apa apa yah “ kata Santi . “ Santi jangan begitu , kita sama sama punya rahasia , ceritakan dengan ayah , apa masalah kamu , ayah akan bantu “ rayu ayah tirinya dengan lembut .

Santi menitikan air mata , menceritakan kejadian tadi . Ayah tirinya menjadi geram “ Santi ayah kamu ini memang bajingan , buaya , bejat , tapi ayah tidak pernah melakuan hal kejam terhadap wanita .. kurang ajar mereka , kamu tahu dimana mereka tinggal “ tanya ayahnya . Santi menggeleng . Santi membalik badannya meraih resleting rok mini abu abunya , dia membuka rok mini itu , lalu menurunkan celana dalamnya , memperllihatkan luka di bokongnya .

Ayah tirinya terperajat , pantat mulus Santi tampak merah , dan ada luka cakaran di sana .
“ kurang ajar mereka “ kata ayah tirinya geram . Ayah tirinya juga mencium bau tak sedap di pakaiannya . Sisa air seni Boby yang sudah mengering . “ Santi , lebih baik kamu mandi dulu “ saran ayahnya . “ yah , Santi lemas sekali “ katanya . “ baik deh , kamu tunggu yah “ kata ayah tirinya lembut .

Ayahnya keluar kamar tidur Santi . Tak lama ayahnya kembali membawa handuk kecil , dan seember air hangat . Ayah tiri nya kembali menutup pintu dan menguncinya . Ayah tirinya membuka seluruh pakaian yang di kenakan Santi . Santi hanya pasrah , toh ayah tirinya pernah melihat seluruh bagian tubuhnya .

Perlahan dengan lembut ayah tirinya membersihkan tubuhnya dengan handuk yang di rendam dengan air hangat itu . Ayah tirinya melap seluruh tubuh Santi . “ ahhh .. perih ayah “ erang Santi ketika ayah tirinya melap vaginanya . Ayahnya menatap vagina Santi yang terlihat memar . Akhirnya Santi melap sendiri vaginanya , sambil meringis .

Ayahnya juga mengolesi luka di bokongnya dengan obat luka . Dan memakaikan baju tidur yang bersih ke tubuh anak tirinya yang cantik itu . Tanpa terasa Santi menaruh rasa simpatik pada ayah tirinya ini . Walaupun dia tahu ayah tirinya bejad . “ terima kasih ayah “ kata Santi. Ayahnya menarik nafas “ Santi jangan begitu , seharus ayah bisa melindungi kamu , walau kamu anak tiri ayah , tapi ayah sayang sama kamu “ .Ayahnya mencium kening Santi .

Santi menatap ayah tirinya “ ayah benar sayang sama Santi “ . “ Santi , ayah tiri kamu memang bejat , meniduri anak tirinya sendiri , itu karena ayah tak bisa mengendali nafsu ayah , maafkan ayah nak , tapi ayah benar benar sayang kamu “ kata Ayahnya . Santi melihat ayah tirinya bersunguh sunguh . Santi tak bisa berkata apa apa .

“ ayah cium Santi “ pinta Santi tiba tiba . Ayahnya kembali mencium kening anak tirinya . “ bukan di situ yah “ protes Santi . Ayahnya mengenyitkan dahinya . Lalu mencium bibir anak tirinya . Ayah tirinya menjadi nafsu . Mencium dengan penuh birahi . “ auuu “ jerit Santi . Ciuman ayahnya mengenai luka di bibirnya . “ ahhh perih yah “ kata Santi . Ayahnya tersenyum . “ maaf …abis kamu bikin ayah nafsu sih “ kata ayah tirinya .

Tak dipungkiri , bukan hanya ayah tirinya yang nafsu , birahi Santi pun naik . “ ayah tolong Santi yah , ambilkan es batu “ pintanya . “ oh kamu haus yah , sebentar yah sayang “ kata ayah tirinya .
Ayahnya berjalan ke depan , tak lama kembali dengan segelas air putih dengan es batu . Santi meminum habis air es itu , hingga tersisa es batunya .

Santi mengangkat daster tidurnya sebatas pinggang , lalu melepas celana dalamnya . Semua perbuatan Santi itu membuat ayah tirinya semakin bernafsu . Tangan Santi mengambi sebuah es batu , lalu menempelkan di vaginanya . “ Santi ….. “ ujar Ayahnya . “ m-*-m-*-k Santi sakit yah , kalau di kasih es agak mending sakitnya ..” katanya .

Es itu mencair , Santi mengambil es kedua , dan terus begitu hingga hampir seluruh es di gelas itu habis . Ayah tirinya semakin birahi , tangannya mendekati vagina Santi , menyentuhnya “ ahhh ayah…” erangnya pelan . Jarinya pun memainkan klitoris Santi dengan lembut . Cairan birahi Santi mulai membasahi liang vaginanya . Tak lama Ayah tirinya semakin liar . Lidahnya menjulur , berusaha memberikan hiburan buat Santi.

“ ahhh ayah… ohhh .” Santi mengerang menerima kenikmatan ayahnya . Santi perlahan melupakan pedih di vaginanya . Ayah tirinya dengan lembut menstimulasi vaginanya . Cairan vagina santi semakin banyak . Ayah tirinya pun semakin nafsu . Dia berusaha memuaskan Anak tirinya . Ayah tirinya terus menjilati klitorisnya . Sampai tubuh Santi mengejang mendapat orgasmenya “ ayah… ahh Santi keluar…. “ .

Santi menatap ayahnya “ ayah , koq sekarang lain sih , dulu gak gitu , koq sekarang mau sih jilatin Santi sampai keluar ..” . Ayah tirinya tertawa “ belajar dari film porno “ . mereka berdua tertawa . “ ayah , mau gak “ tanya Santi . “ mau , tapi m-*-m-*-k kamu kan lagi sakit “ kata Ayah tirinya . Santi meraba raba penis ayahnya . Ayahnya pun membuka celananya . Penis itu di kulum Santi dengan nafsu.

Walau penis itu kecil , tapi Santi mengulumnya nafsu. Ayah tirinya mengeram kenikmatan . Sayang ayah tirinya cepat keluar , jadi tak bisa berlama lama , menikmati servis anak tirinya yang cantik itu . Ayahnya mengeluarkan spermanya yang encer di mulut Santi . Lalu ayah tirinya melap mulut Santi dengan penuh perhatian .

“ sudah yah sayang , kamu istirahat , kalau besok masih sakit ayah antar ke dokter “ kata ayah tirinya , lalu mengecup kening anak tirinya . “ ayah .. terima kasih yah “ kata Santi . Ayahnya tersenyum , sambil meniggalkan kamar itu , lalu kembali ke kamar istrinya . “ bagaimana pak , “ tanya ibu Santi . “ bu , dia itu remaja , masih mau senang senang , mau berteman , yah sekali sekali biar saja “ kata suaminya .

“ sekali sekali , gimana , dia sering pulang malam koq “ kata ibunya protes . “ iyah , saya tahu , tapi nanti kita bilangin pelan pelan , kalau di kerasi anak seusia dia semakin melawan bu “ kata suaminya lagi . Ibunya diam saja . “ sudahlan , biar bapak yang atur ..” kata suaminya . “ yah terserah bapak deh , tapi omong omong mau mesra mesraan gak pak “ rayu ibu Santi . “ aduh , bu pinggang ku lagi sakit nih , besok besok ajah ayah “ kata suaminya , menolak secara halus .

Santi menatap langit langit kamarnya , merenungi kejadian yang baru menimpa dirinya . Ini pelajaran buatnya , harus berhati hati terhadap pelangannya .
Santi belajar dari pengalamanya . Benar kata Gina dan Lala . Semua ada resikonya , dia baru saja menghadapi resiko profesi yang di gelutinya .

Santi pun merasa sangat bersalah pada ibunya . Membohongi ibunya , seakan akan merebut suaminya . Tapi Santi tak bisa menolak ayahnya . Semakin hari ayahnya semakin baik terhadap dirinya .

>>>

Pagi itu ketika ibu Santi pergi ke pasar , ayah Santi kembali ke kamar anak tirinya . Santi yang sudah bangun , tapi masih malas beranjak . Baju dasternya tersingkap , mempertontonkan ke mulusan paha putihnya , serta celana dalam nya . Santi tak merapikan pakaiannya , dia cuek saja . Ayah tirinya yang melihat itu tentu saja menjadi birahi penis imutnya meronta di balik kolornya .

“ selamat pagi , ayah “ katanya mesra . “ selamat pagi juga sayang “ balas ayah tirinya . “ bagaimana , kamu sudah mendingan “ tanya ayah tirinya . “ mendingan sih , tapi m-*-m-*-k nya masih gak enak “ kata Santi . “ kalau gitu kamu istirahat saja deh , gak usah sekolah hari ini , nanti ayah mampir ke sekolah kamu , minta izin sama guru kamu “ kata ayah tiri Santi .

Santi tersenyum . “ ayah sini dong “ kata Santi menyuruh ayahnya mendekat . Lalu Santi membuka dasternya , memperlihatkan buah dadanya yang ranum itu . “ ayah mau nyusu gak “ kata Santi dengan genit . “ gila , gua engak nyesel kawin ama ibu eloe “ ujar ayah tirinya dalam hati . Ayah Santi lalu menjilati buah dada Santi dengan nafsu . Dia menyedot dengan nafsu , menjilati putting itu dengan liar .

Santi mengerang nafsu , birahinya meningkat . Vaginanya mulai terasa berlendir . Sambil ayah tirinya menyedot nyedot putting susunya , Santi memegang tangan ayah tirinya membawa ke selangkangannya . Tangan ayahnya pun meraba raba , mengusap usap selangkangan celana dalam Santi . Birahi Santi meningkat . Selangkangannya semakin becek .

“ ayah , sudah e-*-t-*-t aja ayah “ pinta Santi . Ayah tirinya dengan senang hati mengabulkan permintaan anak tirinya . Penis imutnya itu di masukkan dalam liang vagina Santi . “ ahhh … ayahh enak “ erang Santi . Ayah tirinya begitu bernafsu terus mengoyang penis imutnya di liang vagina Santi . Sebentar saja , vagina Santi sudah bertambah basah oleh sperma ayahnya .

“ ohh enak sekali Santi “ erang ayahnya . “ iyah , Santi juga enak “ kata Santi . Santi pun memakai celana dalamnya lagi . “ eh San , sini pantat kamu ayah kasih obat dulu “ kata ayahnya . Lalu ayahnya mengolesi obat luka , di pantat indah Santi . “ Sudah agak mendingan San “ ujar ayah tirinya .

Ayah tirinya juga , meminta nomer Hp Johan . “ yah sudah deh , jangan cari gara gara , ini salah saya koq , saya mau di boking dia “ kata Santi .
“ iyah ayah tahu , ayah cuma mau menegurnya , jangan begitu terhapad wanita “ kata ayah tirinya . Santi diam saja . “ sudah yah Santi , kamu istirahat hari ini , gak usah sekolah “ kata ayah tirinya , lalu meninggalkan Santi di kamarnya .

Tangannya perlahan membuka celana dalamnya , dengan sisa sisa sperma ayah tirinya jari bergerak memainkan klitorisnya . Meneruskan nafsunya yang tadi terputus . Dia tahu ayah tirinya tak bisa membuatnya orgasme dengan penis imutnya , apa lagi sebentar saja ayah tirinya sudah ejakulasi . Tujuan Santi hanya untuk memuaskan birahi ayahnya .

Jari Santi bergerak liar di klitorisnya , dia mendesah pelan , terus dan terus hingga mencapai puncak birahinya . Santi lemas dalam kenikmatannya .

Santi pun merenung sendiri dalam kamarnya .
Merenungi jalan hidupnya yang menjadi pilihannya....

Santi masih bermalas malas di ranjangnya . Siang itu pukul 1.00 , Gina dan Lala menengoknya . “ kenapa loe , bisa ampe gitu , sih “ tanya Lala . Santi pun menceritakan secara detail kejadian yang menimpa dirinya . “ wah eloe sih , lain kali hati hati , pilih tamu , jo “ kata Lala . “ gua , kan tahu si Johan , dari si Romi , yah gua juga udah pernah main sama Johan, yah gua oke aja dong ..” kata Lala .

“ udeh entar gua tanya si Romi “ kata Gina . “ ah , udah deh , biar aja , emang nasib gua kali..” kata Santi . “ yah , tapi jangan gitu dong , koq tuh cowok sadis banget “ kata Lala.
Santi terdiam , dalam hati , Santi senang karena , teman temannya memperhatikan dirinya.

“ eloe sekarang gimana, badan loe masih pada sakit “ tanya Gina . “sudah mendingan koq , besok gua sekolah ..” jawab Santi .“ wah , besok udah bisa mejeng lagi dong “ canda Lala . Santi melemparnya pakai bantal. “enggak janji deh kalau besok mah..” .
Setelah bersenda gurau cukup lama , teman temanya , berpamitan .

Tak lama , teman temannya pulang , Hp Santi berdering . “ halo .. “ sapa Santi . “ halo , Santi yah , bagaimana Hpnya bagus gak “ tanya orang di seberang sana . “ siapa yah ini “ tanya Santi . “ Aku Tedy ..” jawabnya . “ Tedy , Tedy yang mana yah ..” tanya Santi lagi “ . “ loh , aku yang jual Hp , kamu kan beli Hp sama aku … “ jawabnya .

Santi mengingat ingat , cowok ganteng yang menjual Hp di mall itu . “ oh yah , ada apa yah “ tanya Santi . “ oh tidak apa apa , cuma mau kenalan aja ..” katanya . “ oh , oke deh , kita kan sudah kenal , saya Santi , kamu Tedy “ ujar Santi . “ eh maksud saya , kita bisa jadi teman kan ..” kata cowok itu lagi . “ ehm , oke deh , kalau mau berteman “ kata Santi .

Cowok yang bernama Tedy itu lalu bercakap cakap dengan Santi . Santi pun menanggapinya dengan senang hati . Tampaknya Tedy cukup , baik , sopan dan kata katanya menarik . Mereka berbicara di Hp cukup lama , sampai Santi , menyudahi percakapannya “ eh Ted , udah dulu yah , kuping gua panasnya “ kata Santi . “ oke dah , besok saya boleh telpon kamu lagi gak ? “ tanya Tedy . “ ehm , terserah kamu deh ..” jawab Santi .

Esok harinya ABG cantik itu , sudah ada di sekolahnya . Santi sudah tampak ceria kembali . Setelah bertemu teman temannya , mereka berkumpul di kantin sekolah , sambil menunggu jam pelajaran di mulai . “ sebentar lagi , ujian akhir nih , gimana yah gua takut gak lulus “ kata Lala . “ wah , tumben loe mikirin , cuek aja deh “ jawab Gina.
Santi hanya berdiam diri , dalam hati ia juga kawatir tidak lulus . Belakangan ini nilainya merosot terus .

>>>

“ loh , mana si Gina “ tanya Santi ketika sudah berada di luar sekolahnya , saat bubar sekolah siang itu .
“ laku dia , sama om om barusan di bawa “ kata Lala . “ oh gitu “ ujar Santi . “ eh San , eloe mau kemana ? “ tanya Lala . “ gak tahu deh , pulang aja kali “ jawab Santi . “ ehm, ayo deh gua antar “ ajak Lala . “ eh , gak usah deh , gua mau jalan aja “ kata Santi . “ oke deh , gua duluan yah “ kata Lala , pergi dengan motor bebeknya meninggalkan Santi.

Santi berencana mau ke mall , dia ingin belanja . Santi berjalan , sampai ketemu kendaraan umum , lalu menumpang kendaraan umum itu , dan tiba di mall . Selagi Santi berjalan , dalam mal itu , tiba tiba ada wanita , menabraknya .” ops , sorry yah dik “ katanya . “ oh tak apa apa kak “ jawab Santi , lalu terus berjalan . Dan Wanita yang berwajah cantik itu mengikutinya . Santi pura pura cuek saja .

Wanita itu , terus berjalan , dan dia berkata lagi “ dik , mau kemana ..” tanyanya . “ eh engak cuma lihat lihat saja , kalau ada yang cocok baru beli “ katanya sambil tersenyum . “ oh gitu , boleh yah saya temani , nama kamu siapa ? “ tanya wanita itu lagi . Santi menatap wajah wanita itu dan mereka reka , apa maunya . Dalam hati Santi berpikir wanita cantik ini seorang germo . Santi pun bermain bodoh . “ nama saya Santi kak ..” .

Wanita itu tersenyum , “ nama saya Henny “ . Santi hanya tersenyum , lalu masuk ke sebuah toko . Santi melihat baju di sana . “ mbak , yang itu berapa harganya “ tanya Santi pada penjaga toko itu . Wanita yang bernama Henny itu , juga melihat lihat baju di sana , bahkan ikut memilihkan Santi baju yang bagus . Henny pun , membeli beberapa baju untuknya .Akhirnya Santi memutuskan membeli tiga buah baju .

Di kasir ,wanita itu mengeluarkan kartu kreditnya “ biar saya sekalian , yang bayar “ katanya . Tapi Santi dengan halus menolaknya “ jangan kak , ngak enak ,kita baru kenal , lain kali aja yah ..” kata Santi . Wanita itu tersenyum , sambil mengangguk . Akhirnya wanita itu mengajak Santi ke satu café yang ada di pojok mall itu . Mereka duduk di , menikmati minuman dan makanan ringan .

“ apple pie nya enak juga yah “ kata Henny , membuka percakapan dengan Santi . “ ehm iyah ..” jawab Santi . “ eh San , omong omong kamu sudah punya pacar “ tanya Henny . “ ehm , sudah kak “ jawab Santi berbohong . “ oh , sudah lama pacarannya “ tanyanya lagi . “ baru setahun deh “ jawab Santi .

Pertanyaan wanita itu semakin serius “ kamu sudah pernah berciuman “ . “ ih .. kakak .. “ jawab Santi , sambil pura pura malu . “ loh koq gitu, sudah apa belom “ tanyanya . Santi cuma mengangguk . Wanita itu tersenyum , “ pacarannya sudah ngapain aja “ tanyanya lagi . Santi tak menjawab , lalu berbalik bertanya pada wanita itu “ kalau kakak sudah punya pacar , sudah berciuman “ .

Henny tersenyum , “ umur saya 32 tahun , saya sudah menikah , tentu saja pernah berciuman , sampai begituan “ jawabnya . Santi diam . Henny berkata lagi “ kamu sudah pernah gituan “ . “ ih kakak ..” kata Santi . “ loh , sama sama cewek koq malu sih “ ujar Henny . “ sudah pernah kak “ jawab Santi.

“ wah , hebat juga kamu yah , sering yah “ tanyanya lagi . “ eh , enggak sering sih , kadang kadang aja “ jawab Santi . Henny menatap Santi , lalu Henny bercerita tentang dirinya . Dia seorang wanita bisex . Nafsu dengan cowok , tapi suka dengan sesama jenis juga . Henny bercerita tentang petualangan sex nya bersama suaminya . Santi tampaknya tertarik juga , dan Santi menjadi agak terangsang , lembab vaginanya mulai terasa .

Henny pun menawari Santi , untuk mencoba main dengannya dan suaminya . “ ah , saya takut , nanti ketahuan sama pacar saya “ ujar Santi . Dalam hati Santi sebenarnya ingin mencoba . “ ah , tenang saja , cowok kamu gak bakalan tahu..” rayu Henny . “ tapi kalau dia tahu , saya bisa di putusin , kalau di putusin saya gak dapet uang lagi darinya , saya perlu uang itu kak..” kata Santi .

Henny tersenyum , sepertinya dia dapat menduga arah pikiran Santi . “ soal uang jangan kawatir , saya bisa kasih kamu uang lebih banyak dari cowok kamu ..” . “ nah , ini yang ditunggu “ ujar Santi dalam hati . “ sudah , ayo ikut aku “ ajak Henny . “ eh , tapi…tapi..kak…” kata Santi terbata . Henny menggelengkan kepala , dan jari telunjuknya di tempel ke bibir Santi , “Santi ,sudah lah , percaya deh sama saya , kamu ikut aja “ .

Seperti kerbau di cocok hidungnya , Santi mengikuti Henny . Tangan Henny menarik tangan Santi . Mereka berjalan ke tempat parkir mobil . Henny membuka pintu mobil besar berwarna hitam , buatan Jerman . Mereka masuk ke dalam mobil itu . Mobil mewah itu bergerak pelan keluar dari areal parkir mall itu menuju jalan raya . Mobil terus berjalan pelan , menembus kemacetan siang hari itu .

Sambil sebelah tangannya memegang kemudi mobil , sebelah tangan Henny meraba paha Santi . “ eh , jangan kak , malu di lihat orang “ kata Santi , sambil berusaha menahan tangan Henny bergerak lebih jauh . “ tenang aja Santi , koq gugup begitu “ ujar Henny . Santi jelasnya tidak gugup , hanya merasa risih , jika tubuhnya di raba sesama jenis .

Seperti tak bisa di rem , tangan Henny , terus bergerak masuk selangkangan Santi . “ eh.. kakak .. jangan saya malu ..” kata Santi . “ ha ha ha , kamu lucu , sama sama cewek koq malu sih ..” kata Henny . Tangannya bisa merasakan lembab di celana dalam Santi . Akhirnya tangannya meninggalkan selangkangan Santi dan kembali memegang kemudi mobil mewah itu .

Tak lama tangannya mengambil Hp di dalam tas nya . Tangannya menekan tombol di Hp itu . “ halo , sayang , lagi ngapain ..” kata Henny . “ oh , kalau gitu , pulang dong sayang , aku gatel nih ..” katanya genit . “ oke yah , eh aku bawa hadiah nih buat kamu sayang “ katanya lagi . Pembicaraan selesai . Mobil itu sekarang melaju cepat di jalan bebas hambatan . Membawa Santi ke rumah Henny .

>>>

“ ayo masuk , Santi “ ajak Henny ketika tiba di rumah mewahnya . Santi berjalan mengikuti Henny , langsung menuju kamar tidurnya yang besar , dan tampak mewah itu .
Ranjang tidur yang besar dengan sprei putih bersih . Henny mengajak Santi duduk di sofa besar di kamarnya . Mereka duduk berdekatan . “ Santi kamu cantik sekali “ puji Henny sambil membelai rambut Santi .

Santi hanya berdiam diri . “ Santi , boleh saya mencium kamu ..” tanya Henny . “ ah .. maaf , kak , saya bukan lesbian , tidak bisa ..” tolak Santi . “ Santi coba saja , pejamkan mata kamu , bayangkan saja , saya seorang cowok..” rayu Henny . Santi sepertinya tak bisa menolak , Henny telah menjanjikan sejumlah uang yang banyak buatnya . Santi memejamkan matanya , bibir mereka bertemu .

Henny tampak begitu bernafsu melahap bibir Santi . Lidah Henny seperti mendesak desak ingin memasuki ruang di mulut Santi . Bagi Santi ciuman ini terasa begitu hambar.
Santi meronta ketika tangan Henny meraba dadanya “ eh .. ah kak .. “ erangnya . Tapi Santi merasakan rabaan Henny begitu lembut . Tangan Henny terus berusaha membuka beberapa kancing baju Santi . Santi tak bisa menolak .

Kulitnya terasa di sentuh oleh kulit tangan Henny yang lembut . Jari jari menyelinap memasuki bra Santi . Memainkan putingnya , Santi mulai merasakan nikmatnya sentuhan tangan Henny yang terasa begitu lembut . “ ahh kakak .. saya malu..” erangnya . Bibir Henny kembali menciumi bibir Santi , ciuman yang begitu lembut , tak pernah di rasakan selama ini .

Tangan Henny cekatan menyibak branya ke atas , sehingga buah dadanya terbuka . Kini tangan Henny semakin leluasa menstimulasi birahi Santi melalui buah dadanya . Santi mengerang pelan . “ kakak .. oh… kak…. “ . Tangan Henny tak hanya memainkan buah dada Santi , sekarang tangannya meraba dan mengelus paha mulus Santi . Tangan Henny bergerak maju mundur , dan semakin jauh .

“ ahh… kakak.. Santi malu sekali…” rintih Santi , ketika tepat jari Henny mengenai selangkangan celana dalam Santi yang berwarna biru muda . Jari mengesek selangkangan celana dalam Santi . “ ahh kakak .. sudah.. kak ..Santi malu ..” erangnya .
“ Santi , kamu nakal yah .. sudah basah yah..” kata Henny . Henny benar benar membawa Santi masuk dalam birahi .

“ wah .. koq sudah mulai dulu sih..” suara seorang cowok terdengar . Santi terkejut dan merapikan pakaiannya . “ kamu lama sekali sayang .. nih kenalin , adik saya “ kata Henny . “ hai .. saya Robert , suami Henny “ kata lelaki itu . Santi menatapnya Robert terlihat gagah dan ganteng , umurnya kira kira 40 tahun , tapi penampilanya modis sekali.
“ sa saya Santi ..” katanya terbata .

Suami istri itu lalu berciuman dengan mesra di depan Santi . Santi hanya bisa menatap mereka dengan heran . “ Bert , ayo kamu ciuaman sama , Santi .. dia juga jago loh ..” kata Henny . Santi hanya diam , Robert menghampiri Santi , lalu mencium bibir Santi.

Santi tak bisa menolak , Ciuman Robert juga ganas , penuh birahi , Santi pun membalasnya . Mereka berciuman , saling memainkan lidah mereka . Semua di saksikan jelas oleh istri Robert .

“ bagus , kamu memang jago , Santi “ puji Robert ketika bibir mereka terlepas . Dan Robert pun mengambil posisi duduk di sebelah Santi . Dengan cepat Robert membuka kancing baju Santi satu persatu , sehingga baju seragamnya lepas , begitu pula dengan branya . “ wah , indah sekali buah dada kamu , sayang ..” puji Robert lagi .
Lidahnya pun tak sungkan , langsung menjilati putting susu imut Santi .

Tubuh Santi mengelinjing . selangkangannya semakin basah . Henny pun tak ketinggalan.Dia membuka lebar kedua kaki Santi ,sebelah kaki Santi bertumpu di kaki Robert . Henny menatap selangkangan celana dalam Santi yang sudah begitu basah . Tak ada rasa jijik , celana dalam Santi disibaknya . Lidahnya menjulur , menijlati vagina Santi . “ oh .. ahhh … kakak …ahh… kakak…. “ erang Santi merasakan kenikmatan .

Robert pun tak memperdulikan istrinya , yang asik dengan penuh nafsu menjilati vagina ABG ini . Dia pun asik melumat buah dada Santi . Sesekali melumat bibir Santi . Santi pun semakin larut dalam kenikmatan , yang di berikan suami istri ini . Tubuh Santi terus mengelinjing , merasakan nikmat . Lidah Henny pun seakan tidak pernah lelah , bergerak liar , penuh nafsu menyapu klitorisnya.

“ ahh.. kakak .. aku ingin pipis… “ erang Santi . Lidah Henny bergerak semakin liar. Tubuh Santi gemetar , kemudian kejang , dan kaku . Lalu tubuhnya manjadi lemas , di sertai erangan panjang puncak kenikmatannya . “ kakakkk…. Santi keluar… “ erangnya .
Tubuh muda itu pun lunglai di atas Sofa .

Kini pasangan suami istri itu mulai bercumbu . Robert melepas satu persatu baju Henny . Buah dadanya yang montok menonjol di dadanya , menjadi sasaran Robert . Remasan tangan Robert yang mesra membuat Henny mengerang nikmat . Robert pun membawa tubuh istri tercintanya duduk di sebelah Santi . “ San , coba raba tetek Henny “ pinta Robert . Santi agak bingung dengan perintah itu .

“ tidak apa apa sayang “ kata Henny lalu membawa tangan Santi untuk meraba buah dadanya . Santi pun menuruti , tangannya meraba raba buah dada Henny . Dia sama sekali tak merasakan apa apa . Tapi Henny mengerang . “ oh .. yah begitu sayang.. terus ..saya suka sekali ..”. Robert pun perlahan membuka rok yang di gunakan Henny , sehingga tinggal celana dalam hitam yang tersisa di tubuh istrinya itu .

Jari Robert menyelinap di balik celana dalam istrinya , merasakan basahnya vagina istrinya . “ ahh .. Bert .. ahh,…” erangnya . Santi coba jilat teteknya “ perintah Robert lagi . “ ah… sa sa saya gak bisa ..” tolak Santi . “ coba sekali saja , masa kamu gitu sih , kak Henny kan sudah jilati m*m*k kamu “ rayu Robert . Santi tak enak , lalu dengan memejamkan matanya di menjilati putting susu Henny .

“ ahh… Santi .. ahh… enak.. lidah kamu enak sekali..” erangnya . Suaminya perlahan melepas celana dalam hitam istrinya . Lidahnya pun langsung menari di vagina istrinya yang berbulu tipis itu . Lidahnya keluar masuk liang vagina istrinya . Membuat istrinya mengerang kenikmatan .

Santi masih tampak canggung menjilati buah dada sesama jenisnya . Henny tau itu , Santi seorang pemula . Dia tak memaksa , lalu menarik tubuh Santi dekat dengannya dan mencium kening ABG itu . “ Bert , sudah , aku gak tahan , masukin aja sayang..” pintanya pada suaminya untuk ke level selanjutnya . Robert pun membuka pakaiannya .

Santi menatap penis Robert , penisnya berukuran sedang . “ Santi , kalau jilat k**t*l kamu bisa “ tanya Henny . Santi tersenyum , lalu mengenggam batang penis Robert dan mengulumnya . “ ohh.. kamu nakal juga yah sayang ..” erang Robert , menikmati kuluman mulutnya . Penis Robert bergerak keluar masuk dalam mulut Santi . Tapi tak lama , “ sudah dong Bert , aku cemburu nih , masukin deh ..”

Henny lalu membuka kakinya lebar . Dan penis Robert bergerak masuk ke liang vaginanya dengan cepat . “ ohh.. Bert tekan terus .. tekan…” erang Henny . Santi hanya Diam menyaksikan pasangan ini bermain sex di depan matanya . Birahinya naik kembali , berharap , dapat juga main dengan Robert yang ganteng itu .

Robert terlihat masih terus bernafsu mengauli istrinya , Penisnya terus bergerak cepat di liang vagina Henny . Henny pun terus mengerang “ ahhh .. enak…enak…” . Santi tersenyum , malu malu melihat Henny yang tengah bersetubuh dengan Robert . Tapi sebaliknya , Henny tampak biasa saja , tak ada rasa malu . Malah Henny berkata “ Santi , mau coba .. di e-*-t-*-t sama Robert ..” . Tentu saja Santi tak bisa menjawab .

Gerakan penis Robert semakin liar , pasangan itu sudah mendekati puncaknya . “ ahh .. Bert .. aku sudah gak tahan nih … enak.. “ erang Henny . Robert pun menjawab hanya dengan dengusan nafasnya yang memburu keras . Penisnya terus mengocok vagina istrinya . “ ahhhh … Bert… aku ..keluarr…” jerit Henny panjang , sambil tubuhnya mengejang . Dan lemas sesaat .

Tak lama Robert pun mendapat puncak ke puasnya , spermanya pun menghambur dalam liang vagina istrinya .

>>>

“ Santi bagaimana , kamu merasa nikmat , atau aneh dengan permainan kita “ tanya Henny sambil menikmati hangatnya air di bak jacuzzi , berendam bersama Santi , di kamar mandinya . “ emh .. gimana yah kak , Santi baru pertama kali , main seperti ini ..” jawab Santi polos . Henny tersenyum .

“ San , omong omong suami saya , ganteng gak ? “ tanya Henny yang agak sulit di jawab Santi . “ ehm .. eh ganteng sih..” . “ Santi , entar kamu main yah sama dia..” kata Henny . “ eh ..emm.. terserah kak Henny saja ..” kata Santi .
Selesai menikmati gelembung gelembung udara , di bak jacuzzi itu , mereka kembali berpakaian . Henny meminjamkan baju tiburnya yang sexy kepada Santi . Dan dia pun mengenakan baju tidur yang sama , hanya berbeda warna . Dua cewek itu tampak sexy . Mereka pun keluar dari kamar mandi , melihat Robert yang sedang mengutak utik lap top nya sambil berbicara di telpon selularnya .

“ wow .. sexy sekali kamu sayang “ kata Robert kepada Santi . Santi tersipu malu . Henny berbisik pelan di telinga suaminya . Dan suaminya tersenyum . Dia mengecup bibir istrinya “ yah , tapi aku lapar , kita makan dulu yah ..” ajak suaminya . Mereka bertiga keluar dari kamar , Santi agak protes “ kak , masa pakai baju ini , ini tipis sekali “.
“ pembantu saya sudah tua , dan sudah biasa dengan saya koq .. “ jawab Henny .

Makan malam sudah tersedia mereka bertiga menikmati hidangan yang tersedia . Sambil makan , mereka juga bersenda gurau . Robert banyak mengajukan pertanyaan pada Santi. Menyelidiki latar belakang kehidupannya . Santi lalu bercerita dengan jujur , siapa dirinya . Santi menundukkan kepalanya “ maaf kak , Santi berbohong , Santi memang cuma seorang pelacur ..” .

Henny tersenyum , sambil membelai rambutnya , “ saya sudah tahu dari awal , saya sering memperhatikan kamu , bertiga sama teman teman kamu berkumpul di foodcourt mall , menunggu om om ..” . “ ha .. kok kakak tahu sih ..” tanya Santi . “ sebenarnya saya mau menghampiri kalian , tapi karena saya juga wanita kan gak enak ..” ujar Henny lagi . Santi hanya diam , menatap wajah Henny .

“ tadi , pas sya lihat kamu jalan sendirian , maka saya pura pura menabrak kamu ..” kata Henny . Santi pun tertawa . Robert pun cuma mendengar ocehan dua cewek itu sambil memakan buah melon.

>>>

Santi duduk di tepi ranjang empuk itu , bersama suami Henny . “ Bert , saya terima telpon dulu yah ,” kata Henny , ketika Hpnya berdering . Kemudian Henny keluar dari kamar . Santi agak canggung , bermain dengan Robert . Sepertinya dia tak enak , karena dia tahu jelas Robert itu suaminya Henny .

Tapi lain halnya dengan Robert , dia langsung mencium bibir Santi , dan tangannya pun meraba raba paha mulus Santi , dan terus menuju selangkangannya . Belaian tangan Robert yang lembut , serta cumbuan di bibirnya , menaikan birahinya . Robert terus melangkah , tangannya kini mengelus elus selangkangan celana dalam Santi .

“ ahhh… eh…. “ erang Santi . Perlahan , Robert melepaskan gaun tidur yang di kenakan Santi , buah dada nya langsung terpampang jelas tanpa ditutupi bra . Putingnya tampak menonjol , merah . Robert pun menjilati putting kecil itu . “ ahh…. Ehhh …..” erang Santi dengan tubuh yang mengelinjing .

Lidah Robert menyapu buah dadanya , dan jari jari Robert bermain di selangkangannya.

Semua ini membuat Santi semakin menjadi birahi . Ketika jari Robert menyelinap masuk di balik celana dalamnya , Santi menjerit kecil “ aghhh…… ehh…” erangnya .
Jari Robet terus menggelitik klitoris Santi . Liang vaginanya sudah berlendir . Henny yang sudah selesai berbicara di Hp , memasuki kamarnya . Dia melihat Santi sudah terengah engah dalam birahinya .

Henny mendekat , dan melepas celana dalam Santi . Henny mengambil alih vaginanya dari tangan Robert . Jari Henny , menerobos masuk liang vagina Santi “ ahhh… kakak.. “ erangnya . Jari Henny bergerak keluar masuk dengan lembut . Sedang Robert asik dengan buah dada ramun Santi .

Begitu jari Henny lepas dari liang vaginanya , lidah Henny dengan penuh nafsu , menjilati vagina Santi . Yang semakin membuat klitoris Santi , membesar karena birahinya semakin meninggi. “ ehh… kakak .. Santi gak tahan .. kak…” erang Santi yang sudah semakin dekat dengan orgasmenya . Lidah nya berhenti menjilati klitoris Santi. Di gantikan dengan jari Henny yang bergerak nakal di liang vaginanya .

Sebentar saja tubuh ABG itu mengejang , mengejet , di sertai suara erangkan nikmat Santi yang panjang . “ Ahhh … kakak …. Santi .. keluar…” . Dan tubuhnya lemas terbaring di ranjang .

Henny kemudian membuka celana suaminya . Penis Robert yang tampak tegang itu di kulumnya dengan nafsu . Penis itu semakin mengeras , Henny melepasnya “ Bert , masukin di m-*-m-*k Santi , yah..” ujarnya . Henny pun membenarkan posisi Santi . Santi berbaring terlentang di atas ranjang empuk itu , dengan kaki terbuka lebar , siap bercinta dengan Robert .

Sedang Heny berbaring dekat denganya , sambil membelai rambutnya , Henny mencium bibir Santi dengan bernafsu . Santi seperti mulai terbiasa , dia juga membalas ciuman Henny . “ aghhh….. “ jerit Santi , ketika merasa liang vaginanya , di sesaki penis Robert. Robert pun bergerak pelan , membuat Santi merasa nyaman .

Sambil menatap wajah ABG yang tangah di landa birahi itu , tangan lembut Henny juga meraba raba buah dadanya , yang semakin membuat Santi , mengerang nikmat . Santi sangat menikmati gesekan penis Robert yang bergerak lembut , mengesek dinding vaginanya . Erangan demi erangan Santi , terus membawanya menuju orgasmenya .
“ kakak .. ohh.. enak..sekali… saya gak tahan..” ujarnya penuh nafsu .

Henny tersenyum , sambil mengecup keningnya “ lepaskan … lepaskan nafsu kamu sayang , jangan di tahan tahan..” . Lidah Henny dengan nakal mengelitik lehernya , semakin menambah rasa geli dan nikmat buat Santi . Tak lama tubuh Santi , kembali mengejang . “ aghh…. Kakak… “ erangnya . Tangan Santi dengan erat menggenggam tangan Henny , dan ABG itu melepas birahinya .

Robert bergerak pelan , lalu diam , membiarkan penisnya dalam liang vagina Santi yang berdenyut denyut . Sesaat kemudian penis Robert kembali bergerak , dengan lembut . Santi kembali mengerang “ ahh.. ngilu… ahhh…” .

Robert terus bergerak , mencari orgasmenya . Tak lama Robert pun melepas spermanya . Cairan kental putih itu , membasahi liang vagina Santi .

>>>

Setelah itu Santi dan Henny kembali ke kamar mandi . Santi membasuh dirinya , setelah itu mengenakan kembali pakaian sekolahnya . “ayo , aku antar kamu pulang “ kata Henny. “ Bert , aku antar Santi pulang dulu yah “ kata Henny pada suaminya . “ oh , oke “ jawab Robert . “ kak Robert Santi pulang dulu yah “ pamit Santi . “ oke sayang .. “ balas Robert .

Henny pun mengemudikan mobilnya , mengantar Santi pulang kerumahnya . Di dalam mobilnya Henny memberikan Santi uang sebesar lima juta rupiah . “ wah , kakak , ini terlalu banyak .. “ kata Santi . “ tidak apa apa , untuk kamu ..” ujar Henny . “ wah , terima kasih yah kakak ..” kata Henny bergembira menerima uang itu . “ Santi , simpan uangnya ditabung ..” kata Henny . Santi mengangguk .

“ kak , eh ehm.. koq , kakak gak cemburu sih ..” tanya Santi . “ maksud kamu , suamiku main sama kamu ? “ ujar Henny . Santi mengangguk . “ buat apa aku cemburu , aku larang juga dia tetap bisa main sama cewek lain , apa lagi aku ini bisex , jadi biar aja sama sama enak koq ..” terang Henny . Santi pun bertambah wawasannya . “ Santi , terus terang aku

Posted at 01:20 pm by pohonmangga
Make a comment  

Thursday, February 07, 2013
mbak narsih

Namaku Kuntadi Priyambada. Aku biasa di pangil Kun. Kedua orang tuaku sudah meninggal, Ketika itu aku baru kelas 2 SMP, Aku terpaksa ikut Mas Pras. Dia adalah anak ayah dari isteri pertama. Jadi aku dan Mas Pras lahir dari ibu yang berbeda. Mas Pras ( 30 tahun ) orangnya baik dan sayang kepadaku, tapi istrinya……… wah judes, dan galak. Ketika Ibuku meninggal, yang mengakibatkan aku jadi sebatang kara di dunia, Mas Pras baru seminggu menikah. Kehadiranku di keluarga baru itu, tentu sangat mengganggu privasi mereka. Rumah kontrakan sempit hanya ada tiga kamar. Kamar tidur, kamar tamu dan dapur. Aku merasakan sikap yang kurang enak ini sejak aku hadir di situ.

“Kun, kamu tidur di kursi tamu dulu, ya…? Atau di karpet juga bisa. Kamu tau kan, memang tidak ada tempat?” Mas Pras menyapaku dengan lembut.”Sama Mbak-mu harus nurut. Bantu dia kalu banyak pekerjaan” Aku hanya mengangguk.

Aku tidak begitu akrab dengan Mas Pras, karena memang jarang bertemu. Aku di Jogja, Mas Pras kerja di Semarang. Nengok ibu (tiri) paling setengah tahun sekali. Sambil mengirim uang buat biaya sekolah aku.

Kakak lalu berangkat kerja. Dia adalah sopir truk antar-propinsi. Saat itu aku putus sekolah. Di Jogja belum keluar, tapi di Semarang belum masuk ke sekolah baru. Sehari-hari di rumah sempit itu menemani kakak ipar yg baru seminggu ini kukenal. Rasanya aku tidak krasan tinggal di “neraka” ini. Tapi mau ke mana dan mau ikut siapa?

Pagi itu aku sudah selesai menjemur pakaian yang dicuci Mbak Narsih. Kulihat dia lagi sibuk di dapur.
“Mbak, saya disuruh bantu apa?” aku mencoba pedekate dengan Mbak Narsih.

"Cah lanang, bisanya apaaa. Sana ambil air, cuci gelas, piring dan penuhi bak mandi.” Sakit telinga dan hatiku mendengar perintahnya yang kasar. Tanpa ba-bi-bu semua kulaksanakan. Karena tak ada lagi yang mesti dikerjakan lagi, iseng-iseng aku nyetel radio kecil di meja tamu (Kakak gak punya tivi)

“E…malah dengerin radio……….sana belanja ke warung” aku diberi daftar belanjaan. Untungnya aku sudah biasa membantu Ibu ketika beliau masih ada. Aku hidup bersama Ibu sejak kecil, karena ayah sudah lama meninggal. Agak jauh warung itu. Aku tidak malu-malu dan canggung beli sayuran, malah Bu Salamun, yang jual sayur heran, “Mbok, nyuruh pembantunya, to cah bagus. Kok belanja sendiri.” Aku cuma senyum saja. “Ini, Mbak, belanjaannya. Ini susuknya.” Kuserahkan tas kresek dan uang kembalian, tapi Mbak Narsih tetep sibuk marut kelapa. Kutaruh saja tas kresek itu di kursi kayu dekat kompor minyak. Memang kesannya dia baru marah. Padahal aku tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Tanpa disuruh aku ikut mengupas bawang, memetik sayur dan menyiapkan bumbu yang tadi kubeli.

“Mau bikin sayur lodeh,to Mbak?”
“Sok tau………..” jawabnya ketus. Dia mulai masak. Aku keluar saja. Ada rasa ngeri deket-deket orang marah. Di luar aku nggak berani dengerin radio lagi. Ingin rasanya aku menangis dan pergi dari rumah ini. Aku duduk di teras rumah melihat orang berlalu lalang di depan rumah. Tiba-tiba aku membaui masakan yang gosong. Tapi aku tidak berani masuk. Takut dibentak istri Mas Pras yang cantik tapi guualakke pol itu.

“Kuuuuuunnn…………..sini” Mbak Narsih berteriak memanggil. Aku bergegas masuk. Kulihat dapur berantakan. Panci sayur di lantai, sayur tumpah. Kursi tempat menaruh bumbu sudah terguling.Bumbu bertebaran di lantai. Dan…. kompor menyala besaar sekali. Untung aku tidak ikut panik dan bisa berpikir cepat.
“Mbaaaakk…kenapa tanganmu?” Kulihat tangannya merah melepuh, Tangan Mbak Narsih sepertinya ketumpahan kuah tapi perhatianku lebih tertuju pada kompor yang menyala besar sekali,. Cepat kuambil keset di ruang tamu, kubasahi dengan air cucian dan kututupkan ke kompor yang menyala itu. Sesaat kemudian kompor itu padam. Cepat kupetik papaya di depan rumah ( padahal itu milik Lik Yanto, tetangga) kubelah pakai pisau. Lalu getahnya kuusapkan ke tangan Mbak Narsih yang melepuh.
“Jangan…nanti sakit….ngawur….aduuuuh,,,” Mbak Narsih menangis dan aku nekad menutup lukanya iu dengan sayatan-sayatan papaya mentah. Luka itu akhirnya tertutup semua dengan sayatan buah papaya. Keliatannya usahaku berpengaruh. Mbak Narsih agak tenang sekarang.
“Sudah dingin, Mbak?” aku menatap dengan iba kakak iparku yang malang ini. Air matanya meleleh. Dia diam membisu sambil menggigit bibirnya menahan sakit. Pasti panas dan perih, aku tahu itu.
“Kun, kita gak bisa makan siang.” Akhirnya keluar suara Mbak Narsih, pelan tidak galak lagi.
“Wis Mbak, istirahat saja, masih sakit kan?” kutegakkan kursi yang terguling dan kutuntun Mbak Narsih duduk. Dapur segera kubersihkan. Kompor bisa menyala lagi. Sisa-sisa bumbu yg ada kupakai untuk masak sayur pepaya. Aku sudah terbiasa membantu Ibu, jadi ini hanya suatu kebiasaan. Mbak Narsih hanya melihat aku sibuk di dapur tanpa komentar. Dia terus-terusan mengaduh kesakitan. Tapi aku mendahulukan selesainya pekerjaan di dapur. Sayur sudah masak. Nasi sudah ada. Semua kuatur di meja tamu yang sekaligus menjadi meja makan.
“Mbak, mau makan? Tak ambilke, ya?” Mbak Narsih hanya memandangku dengan mata basah.
“Kun, kamu baik, ya? Terimasih, ya Dik, tapi kedua tanganku melepuh begini, dan ini perutku perih sekali. Kulihat perut Mbak Narsih, Astaga…. Ternyata daster sebelah kiri sudah terbakar dan perut Mbak Narsih bengkak kemerah-merahan. Aku cari sisa-sisa irisan papaya tadi. Aku parut lembut dan kuparamkan di perutnya. Waktu itu aku tidak berpikir macem-macem, karena perhatianku pada penderitaannya. Dia agak tenang sekarang.
“Ambilkan daster Mbak yang utuh di lemari, Kun. Yang kupakai ini dibuang saja, sudah separo terbakar.”
Aku ambilkan daster pink di lemari lalu….aku berhenti dan termangu di depan Mbak Narsih.
“Ayo, buka daster yang terbakar ini. Tolong diganti dengan yang kamu ambilkan tadi.” Mbak Narsih melihat keraguanku tadi. ‘Pelan, pelan…. Ada yang masih lengket di kulit…ssss… adduuuh”
Akhirnya daster itu bisa kulepas. Baru kali ini aku melihat dengan jelas dan dari dekat, wanita setengah telanjang. Mbak Narsih berkulit putih bersih. Perutnya rata dan…. yang terbungkus di bra hitam itu bulat putih dan besaar. Aku terpesona sesaat.
“Ayoooo….. dingiiin, Kun. Cepat ambil daster pink itu” aku tersadar dari pesona keindahan di depanku segera memakaikan daster itu.
Siang itu aku menyuapi Mbak Narsih. “Enak, Kun, masakanmu. Kamu kok bisa masak, to?”
“Halah, aku Cuma liat Ibu masak dan sering membantu Ibu.” Tapi dalam hati aku bangga memperoleh perhatian seperti itu.
Lik Yanto dan Mbak Saodah, isterinya, datang menengok dan memberi salep dingin. Tiap hari, pagi dan sore aku mengolesi luka-lukanya. Kedua tangan, jari, dan perutnya. Tiga hari aku merawat Mbak Narsih ……. suasana sudah berubah total. Keadaan dia, dua tangannya nyaris nggak bbisa pegang apapun. Telapak tangan melepuh, membuat dia menyadari bahwa saat itu, aku diperlukan, selama Mas Pras belum pulang. Karena tiap pagi dan sore, mengepel tubuhnya, aku bisa melihat dari dekat seperti apa tubuh wanita dewasa itu. Saat aku mengelap tubuhnya, aku jadi tau, bentuk payudaranya yang bulat dan kenceng, putingnya yang coklat dipucuk gunung putihnya, Saat kulepas celdamnya, bisa kulihat bibir bawahnya yang indah berambut tipis. Pangkal pahanya lebih putih daripada sekitarnya. Memang Mbak Narsih wanita cantik sempurna. Kakakku tidak salah memilih pasangan hidupnya. Mas Pras ganteng, Mbak Narsih cantik. Hidungnya mungil tapi tidak pesek. Runcing indah di atas bibirnya yang mungil. Seperti Yuni Shara, tapi tubuh kakakku jauh lebih besar dan lebih tinggi. Tanpa kusadari, aku kok merasa asyik merawat kakakku ini. Pengen nya hari segera sore atau kalau malam ingin segera pagi. Ada kerinduan untuk melihat keindahan itu. Ah, berdosakah aku? Sering aku diam melamun diombang-ambingkan perasaan ingin menikmati tapi juga merasa bersalah kepada Mas Pras.
Setelah tiga hari hanya di lap dan dipel dengan handuk basah., pagi itu dia minta dimandikan dengan air hangat. Kusiapkan air hangat di baskom. Mbak Narsih duduk di kursi kayu, kamar mandi kubiarkan terbuka, agar ruangan lebih luas dan aku bisa ikut masuk mengguyur tibuhnya dan memandikannya. Aku merasakan kehalusan kulitnya saat aku menyabuni tubuhnya. Pahanya yang mulus dan bersih, pundak dan lehernya yang jenjang dan putih. Tadinya aku ragu-ragu untuk menyabuni susunya. Tapi Mbak Narsih dengan “marah” memaksaku menyabuni bukit kembarnya itu.
“Kun, terus saja gosok dan putar-putar di situ, biar bersih.” perasaan sudah bersih banget, kenapa disuruh menyabuni terus. Melihat kemontokannya terasa celanaku jadi sempit.
“Nah. Diputar putar gitu, Kun. Terus dari bawah diangkat sambil digosok.” Mbak Narsih terus member pengarahan. Kusangga payudaranya naik, lalu sedikit kuremas dan kupijit. Mbak Narti tidak protes, Cuma memandang ke payudaranya yang semakin menggembung montok itu. Apalagi kedua tangannya diangkat naik karena takut telapak tangannya yang luka terkena air, sehingga keteknya yang bermbut tipis itu terbuka lebar. Payudaranya terangkat naik.
“Sekarang, ambil air lagi, diguyur pelan-pelan. Sambil dihilangkan sabunnya.” Kuguyur merata, dan sisa-sisa busa larut ke bawah menampakkan kecerahan kulitnya yang semakin terang. Aku yakin tanpa lampu pun kamar mandi itu akan terang benderang karena kecerahan kulitnya.
“Dikosoki, Kun biar dakinya ilang.” Mbak Narsih mengulang lagi. Mulutku terkatub rapat sambil menggigit bibir, menahan perasaan aneh di hati, kugosok-gosok sisa sisa sabun yang terasa licin itu.
Memang enak rasanya menyentuh daging empuk ini. Aku malah setengah meremas pada ujung-ujungnya. Aku heran kenapa pucuknya keras. kenapa setiap aku remas ujung susunya, Mbak Narsih memejamkan matanya. “Masih sakit, Mbak?” Dia Cuma menggeleng tapi tetap mata terpejam.
“Kun, sudah tiga hari ini Mbak nahan untuk tidak ke WC, tapi perutku sudah sakit banget. Aku mau ke WC, Nanti tolong kamu semprot ya anuku, pakai toler air. Tanganku masih melepuh.” Mbak Narsih jongkok di WC, pintu kututup. Wah, baunya sampai juga di luar. Aduuuh, tugas berat nih, keluhku dalam hati membayangkan kotoran yang baunya saja sudah begitu menyengat. Kupijit hidungku.
“Kun, buka pintu WC dan semprot aku ya” kudengar suaranya dari dalam. Sudah kusipkan air yg kuberi sedikit obat pel yang wangi. Kubuka kran dan kutembakkan “water kanon” itu untuk membersihkan kotoran yang menempel di sana. Lalu Mbak Narsih membalikkan badan, membelakangiku. Pantatnya yang besar dan putih itu terpampang di hadapanku,”Semprot, Kun….!” Aku arahkan dari bawah air itu menyemprot lubang anusnya.
“Sudah bersih belum Kun?” Mbak Narsih nungging, terlihat dua lubang dobel. Berwarna pink semuanya. Ooo, seperti ini bentuk tempik perempuan dewasa dari dekat? Celanaku semakin mengggembung.
“Sudah belum? Kok lama sekali lihatnya?” dia protes
“SSssuudah…Mbak, jelas sekali…eeehh bersih sekali” aku jadi salah tingkah dan keseleo lidah.
“Sekarang ambil sabun. Tolong sabunilah biar hilang baunya. Tanganmu gak akan kena kotoranku lagi”
Haaaa…. Menyabuni “ituuu?” Aku kok jadi bersemangat, tapi kusembunyikan kegiranganku itu dengan bersikap senormal dan setenang mungkin. Kugosok anusnya dengan sabun, lalu kemaluannya secukupnya, kemudian kubilas lagi dengan semprotan air wangi tadi..
Pengin-nya aku mau lama-lama, tapi aku malu. Waktu meraba belahan kemaluan Mbak Narsih tadi, punyaku berkedut-kedut hebat seperti mau kencing.
“Kun, kok cepet-cepet, ya nggak bersih dong.” Sergah Mbak Narsih dengan raut marah.”Ayo lagi”
Aku ambil sabun lagi. Lubang duburnya kuusap-usap pelan, dari belakang kulihat bokong putih itu terangkat-angkat saat aku mengusap tadi. Seluruh permukaan bokongnya kusabuni dengan penuh perasaan. O, bersihnyaaaa..ooo putihnya…. Lalu kutelusupkan jariku maju ke “garis” di depan sana. Ternyata jariku “keceplos” ke dalam alur yang basah dan hangat. Di dalam terasa ada keduta-kedut yg menjepit jariku. Seperti aliran listrik, menjalar ke celanaku terasa juga kedutan kedutan liar di yang semakin terasa.
“Terus saja, Kun, teruussss….. nah.. pinter kamu, Kun…” Mbak Narsih menggumam seperti ngomong sendiri. Aku semakin tak bisa menahan kedutan di celanaku. Tak terasa dan tak kusadari, jariku bergerak menusuk semakin dalam ke “sana” seiring rasa yg kurasakan. Ujung jariku terasa menggapai-gapai sesuatu yang menonjol di dalam “sana” dan Mbak Narsih mendesis ; “Aaaaahhhh.. ssssshhh…” mendengar rintihan Mbak Narsih, aku semakin “menderita” karena ada semacam gelombang getaran yang mau menjebol benteng. Jariku bergerak maju-mundur semakin cepat, dan gelombang itu semakin mendekat.”Aaaahhhh…Mbak..”
Bersamaan dengan itu Mbak Narsih juga merintih,”Ahh ssshhh,,,, aku keluaarrrr…oooohhhh”
Aku merasa ada yang keluar di celanaku. Aku ngompol! Padahal aku tidak tidur? Tapi kok enaaak sekali? Tiba-tiba aku merasa malu, takut kalau Mbak Narsih menoleh dan melihat celanaku basah. Mbak Narsih keliatan lemes tapi wajahnya mengekspresikan kepuasan. Setelah kulap dengan handuk seluruh tubuhnya, aku kenakan daster yang bersih. Rambutnya aki sisir rapi. Mbak Narsih diam saja dengan sikap manis. Pagi ini terlihat dia sangat cantik. Sambil menyisir rambutnya, kupandangi sepuasnya makhluk cantik di hdapanku sepuas-puasnya.
Seminggu kemudian Mas Pras pulang. Perban sudah dilepas, tapi tangan jadi belang.
“Kenapa, Sih, tanganmu?” Mas Pras terlihat kuwatir.
“Kompornya meledak. Untung ada pahlawan kecilmu.” Mas Pras mengelus kepalaku. dia tersenyum. Aku jadi bangga campur nalu. Aku khawatir Mbak Narsih cerita kalau aku menyeboki dia. Aku berdebar-debar terus. Untung Mbak Narsih malah cerita kalau aku ternyata pinter masak.
“Dik Narsih, Kuntadi ini juara masak dalam lomba masak di sekolahnya. Dia juga bintang lapangan basket.” Pujian Mas Pras membikin aku semakin malu saja. Meskipun itu memang benar.
Malam itu aku sudah bebas tugas menjaga Mbak Narsih. Kecuali tangannya sudah pulih, Mas Pras sudah datang. Jadi biarlah semuanya dilayani oleh suaminya. Aku menjatuhkan diri di sofa kamar tamu disergap rasa lelah luar biasa dan langsung tertidur lelap. Padahal itu baru jam enam sore. Tengah malam, aku terjaga. Sayup- sayup aku mendengar suara orang menangis, tetapi diberangi suara mendengus-dengus….Aku diam mendengarkan. Itu datangnya dari kamar Mas Pras. Ahhh…rupanya Mas Pras sedang “anu” dengan Mbak Narsih. Aku harus pura-pura tidur lelap. Aku merasa tidak sopan kalau nguping kegiatan mereka. Tetapi mataku tak mau dipejamkan lagi. Aku memang sudah puas tidur sejak petang tadi. sekarang mendengar suara Mbak Narsih nerintih dan menangis…. jadi ingat kejadian di kamar mandi kemarin. Terbayang lagi tubuh Mbak Narsih yang seksi dan putih mulus. wajah cantiknya ketika menangis sambil berkata,” kamu …baiiik… Kun”. Ada perasaan aneh menguasai diriku. Tak ada lagi wanita galak, yang ada wanita cantik yang pernah aku raba seluruh tubuhnya. Beraneka pikiran berkecamuk di kepala mengantarkanku ke alam mimpi indah, bertemu wanita cantik… wanita itu memperliatkan tubuhnya yang telanjang bulat. Kemaluannya didekatkan ke batangku Dia mendekatkan lubang itu ke arahku lalu memasukkannya ke sana. Suatu rasa yang nikmat menjalari sekluruh pori-pori kulitku dan…….ketika terbangun celanaku basah.
Tak terasa sudah dua bulan aku ikut Mas Pras. Beliau masih sering tugas luar kota. Kali ini beliau ada di Lampung dan Palembang selama dua bulan. Gaji hanya dititipkan kantor. Aku sering disuruh Mbak Narsih mengambil gajinya di kantor Mas Pras. Meskipun Mbak Narsih sudah baik, tapi sifat judesnya tak mau hilang. mungkin sudah pembawaan. Wah…. Kalau memerintah… harus dilaksanakan tanpa protes. Aku membuat kelalaian sedikit saja, bisa dia “menyanyi” sepanjang hari. Maka aku harus hati-hati kalau ngomong atau bertanya sesuatu. Aku harus membereskan semua pekerjaan di rumah, baru aku berani keluar untuk maen. Paling suka aku ke lapangan maen sepakbola dengan anak-anak tetangga pada sore hari. Kalo pagi aku suka “menghilang” di rumah Oom Yanto tetangga depan rumah untuk baca Koran atau majalah. Bulik Saodah cukup ramah. Dia mengerti kalo aku sedang “mengungsi” di situ, Aku sering curhat kepada Om Yanto dan isteriya tentang perlakuan Mbak Narsih.
“Kenapa ya, makin hari Mbak Narsih makin sering marah-marah tanpa tahu sebabnya?”
“Sabar dan cuek saja. Mungkin dia jengkel karena Mas Pras nggak pulang-pulang.” Om Yanto mencoba menganalisa. “Maklum kan manten anyar?”
“Dia tidak marah sama kamu Dik Kun,” Bulik Saodah menambahkan, “ tapi sama keadaan rumah yang membosankan. Dia butuh hiburan, penyegaran.” Aku sedikit memahami penjelasan mereka.
“Dik Kun saya nilai anak yang baik, lho. Jaman sekarang, hampir tidak ada anak laki-laki yang bisa trampil ngurus pekerjaan rumah tangga.” Bulik mencoba memberi support dan aku merasa terhibur.
Meskipun aku di rumah Om Yanto, tetapi aku selalu mengawasi keadaan rumah. Supaya kalau sewaktu-waktu dicari, aku sudah siap datang. Terlambat sedikit, bisa pecah kemarahannya.
Jam satu, saatnya makan siang. Aku harus pulang, menyiapkan meja makan. Memang aku merasakan, sepertinya aku ini bukan sebagai adiknya Mas Pras, tetapi lebih sebagai pembantu rumah tangganya Mbak Narsih. Tetapi sampai di rumah, aku melihat piring kotor dan gelas kosong di meja makan. Sayur juga sudah ada di meja makan. Berarti Mbak Narsih sudah makan. Tetapi kok nggak ada. Aku menengok ke kamar tidurnya, tidak ada. O, pasti di kamar mandi. Ya, sudah aku makan sendiri saja. Baru satu sendok aku makan, terdengar suara dari kamar mandi, “Hooeeeek……” Aku berhenti makan dan berdiri bimbang, harus apa aku? “Hoooeeeek….” O, mungkin ini tanda Mbak Narsih hamil. Aku mendekati pintu kamar mandi. “Sakit, Mbak?” “Hoooeeeek…” itu jawabannya. Aku mencoba mengetuk pintu kamar mandi yg terbuat dari seng itu, ternyata tidak dikancing, Kriiiit… terbuka dengan sendirinya. “Kun, aku mual banget.” Aku masuk dan menggandengnya keluar. Kududukkan di kursi ruang makan. Dia lalu merebagkan kepalanya di meja makan. Lemas. Badannya basah kuyup keringat dingin. “Sudah makan, Mbak?” sebetulnya aku nggak perlu Tanya, jelas baru saja dia makan dan habis banyak. Itu bisa dilihat dari sisa nasi di tempat nasi. “Sudah. …..Kun….bawa aku ke tempat tidur.” Lirih suaranya. Kupapah jalannya ke kamar. Satu tangannya di pundakku. Satu tanganku di pinggangnya.
Kurebahkan pelan-pelan tubuhnya dan kuberi bantal yang agak tinggi.
‘Kamu kok lama sekali di rumah Mas Yanto. Enak di sana ya?” pelan suaranya, tapi terasa menusuk perasaanku. Aku merasa bersalah.
”Aku …aku cuma baca-baca koran kok Mbak. Di rumah kan nggak ada bacaan.”
“Aku tau Kun” Mbak Narsih meraih tanganku disuruh duduk di tepi tempat tidur. “Mbak Narsih galak, kan?” Aku benar-benar jadi kikuk. Mau ngomong apa? Mau bilang tidak, nyatanya memang dia galak. Mau bilang nggak, pasti dia tau kalau aku bohong.
“Aku cuma takut saja, Mbak, kalau pas marah.”
“Maafin Mbak, ya Kun. Aku merasa sendirian kalau kamu pergi main atau kamu begitu krasan di rumah Mas Yanto.” Mbak Narsih menarik diriku hingga mukaku jatuh ke wajahnya. Diciumnya bibirku.
Lidahnya memaksa mulutku untuk terbuka. Di kulumnya bibirku. Aku gelagapan, tapi aku tidak berusaha menghindar. Rengkuhan tangannya begitu lembut penuh kehangatan. Kita berdua berciuman beberapa saat. Mula-mula aku pasif tapi lama-lama aku bisa mengikuti caranya. Lidanya pun kadang kusedot. Karena aku tidak bisa benafas aku mencoba melepaskan diri.
“Kun, …… jangan tinggalkan Mbak sendirian” matanya sayu dan mengiba. Sama sekali tidak terlihat galak dan judesnya. Sungguh penampilan yang sangat berbeda.
“Bisa pijit aku ya Kun, biar agak enteng mualku?” pintanya sambil memegang erat kedua telapak tanganku. Tatapan matanya menyihirku untuk mengangguk. “Pintunya ditutup dulu, nanti ada kucing masuk” Aku segera menutup pintu depan. Memang kucing putih punya tetangga sudah dua kali membongkar tudung saji di meja makan. Aku kembali ke kamar sambil membawa obat gosok.
“Gak usah pake minyak itu. Panas. Dipijit saja pelan-pelan. Lututnya dinaikkan dan roknya melorot ke pangkal paha. Kini nampaklah pahanya yang putih itu. Kupijit lututnya pelan-pelan. Aku tidak berani pegang pahanya. Tetapi dia malah menarik roknya lebih ke atas dan menyuruh pijit pahanya. Aku pijit dengan ragu-ragu. Telapak tanganku merasakan kulit Mbak Narsih begitu hangat. Pijatan-pijatan ku menjadi tidak terarah, karena saat kulirik ke atas, di pangkal paha itu….. tak ada secuil kain pun menutupi kemaluan Mbak Narsih. Keringat bermunculan di wajahku, mataku jadi terasa panas. Gigiku gemeletuk seperti kedinginan. Aku heran, kenapa aku ini. Apa aku ketularan sakitnya Mbak Narsih.
“Mijitnya pindah ta, Kun. Kok di situ terus. Paha yang satunya.” Sambil bilang begitu dia mengangkat pantatnya dan melolos roknya lepas. Kini tubuhnya bugil-sebugil-bugilnya. Tanganku dipegang dan dituntun ke garis di tengah tenpiknya. Aku menurut saja. Kuurut-utur bibir bawahnya yang segera basah dan terbuka sendiri. Kulihat cairan bening mengalir. Tubuhku semakin gemetar dan rasanya ingin sekali aku kencing. Kemaluanku mengeras sehingga seperti terjepit rasanya.
“Mbak, aku mau pipis dulu….” Aku memberanikan diri memohon.
“Sini, sini, aku lihat. Apa kamu benar-benar mau pipis.” Diturunkannya celanaku dan dikuakkan CD-ku ku samping, sehingga batangku yang sudah sekeras pentungan satpam itu teracung. Aku malu sekali. Tapi aku juga ingin benda itu dipegangnya. Dibelai-belainya “helm”ku dengan lebut. Segera gelombang kenikmatan mengalir seperti listrik ke pusat syarafku. Tangan kiriku masih di lubang tempiknya dan terus mengorek-ngorek di kedalamannya. Kurasakan dinding-dinding lembut yang hangat dan basah itu berkedut-kedut. “Mbak…Mbak…aduuuuh sudah Mbak…aku mau kencing Mbak…”
Dilepaskannya kemaluanku dan menurun pula irama gelombang itu, Anehnya, aku merasa kecewa, ingin dipegang tangan Mbak Narsih lagii. Aku melihat susu yang begitu montok dan putih menntang dan didorong oleh nafsu yang sudah mendidih, kuremas dan kuelus bukit kembarnya. Aku lupa diri. Malahan tanpa disuruh aku mengulum ujung susunya yang kemerah-merahan itu. Kiri, kanan, kiri lagi. Mbak Narsih menggelinjang dan mendesis. “Enak Kun….yang kanan Kun…”
“Terusss…Kun, kamu pinter yang kiriiii……terussss…. Dipijit-pijit terus…”
Entah kapan aku melepaskan pakaianku, tau-tau aku sudah tak berpakaian lagi. Aku berdiri di samping tempat tidur. Mbak Narsih menyorongkan lubangnya di depanku. Pahanya dinaikkan di pundakku. Terasa berat kakinya bagi tubuhku yang masih kerempeng.
“Kun, masukkan ke situ,,,,,cepat….aku sudah nggak tahan…”
Aku kagum melihat punyaku bisa sebesar dan sepanjang itu. Belum pernah kulihat sebelumnya. Sepertinya hari ini sudah berubah jadi naga raksasa. Kudorong pelan-pelan kerah lubang Mbak Narsih yang putih kemerahan itu. Pertama kali menyentuh bibir bawahnya, aku merasakan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan. Geli tetapi enak. Makin ke dalam semakin hangat dan nikmat. Tak kuhiraukan rintihan Mbak Narsih, dia menangis seperti malam-malam dulu ketika bersama Mas Pras.
“Kuuuuunnnnn……. tusuk yang dalam…..dalam….dalam….ahhhhh”
Kini gemeretak gigiku sudah hilang, tetapi keringat membanjir luar biasa. Demikian pula Mbak Narsih, sprei jadi kusut dan basah kuyup. Diputar-putarnya pantatnya, sehingga aku makin kesetanan menusuk. Mbak Narsih terus duduk dan aku diberi dua bola bulat putih untuk kupetik dan kukulum. Tapi aku tidak kuat menahan beban tubuhnya. Kujatuhkanlah dia ke kasaur, lalu aku naik. Setan sudah menguasaiku. Mbak Narsih kini telentang, wanita cantik yang galak dan judes itu, kini menyerah di bawah sana. Kedua pahanya yang mulus dan putih kubentangkan, sehingga kemaluannya semakin terbuka. Sambil berlutut kusodokkan lagi senjataku ke sana. Terasa lebih dalam sekarang, karena ada ruang yang lebih bebas. Terdengar suara crop crop crop, seperti memompa dengan kelep yang basah. Wajahnya yang cantik itu menyeringai jadi jelek karena menahan rasa nikmat yang luarbiasa . Mulutnya menganga, matanya menatap liar. Hossss…..husssss…hhhhh…..napasku dan napas Mbak Narsih seperti seperti nafas orang berlari mendaki bukit. Makin cepat gerakan maju-mundurku semakin memuncak terasa gelombang datang bergulung-gulung berusaha menjebol benteng pertahanan. Mbak Narsih mengangkat pantatnya, tangannya menekan kuat-kuat pantatku sehingga batangku tertancap dalam-dalam di lubang kenikmatan itu saat pertahanku jebol. Mbak Narsih juga sama, cengkeraman tangannya di pantatku begitu kuat seakan kuku-kukunya tertancap di dagingku.
“Kuuuunnnn……………akuuuuuuuuu……keluar…..”
“Mbaaaaaakk……..oooohhhhh……..” berapa kali senjataku memuntahkan peluru aku tak sempat menghitungnya. aku terkulai di perut Mbak Narsih.
Keadaan jadi sunyi sekarang. Kupeluk kakak iparku. Dia pun memelukku bagaikan seorang ibu memeluk bayinya di pangkuannya. Badanku memang terlalu kecil dibandingkan tubuhnya yang bongsor
Mulai saat itu secara teratur aku diberi ( atau memberI ) ” jatah harian” di saat-saat Mas Pras tidak ada di rumah. Kalau sifat galaknya kambuh itu tanda Mbak Narsih “minta”. Benar kata Bulik Saodah, Mbak Narsih kesepian dan haus minum “es lilin”
Sekarang baru aku tau bahwa saat itulah aku kehilangan keperjakaanku. Setaun kemudian aku lulus SMP Saat itu Mbak Narsih melahirkan. Anaknya cewek berkulit hitam seperti kulitku. Padahal Mas Pras dan Mbak Narsih itu putih semua. Nggak taulah. Itu anak siapa? Tapi sampai cerita ini kutulis, Mas Pras tetap mengira kalau Shamira itu anaknya. Anak tunggalnya, Mbak Narsih tak pernah hamil lagi, menurut dokter (Mbak Narsih member tahuku ) Mas Pras punya gangguan kesehatan.
Dalam kisah sebelumnya aku telah menceritakan perubahan hidupku yang drastis setelah kematian ibuku. Aku terpaksa ikut Mas Pras saudara semata wayangku, sebagai pengganti kedua orangtua ku yang sudah tiada. Aku harus beradaptasi dengan isteri Mas Pras yang judes dan galak. Karena kepepet aku berusaha bertahan di “neraka” itu, tetapi karena kompor meledak itu pula Mbak Narsih, kakak iparku itu akhirnya mau menerima keberadaaanku. Kebetulan saja aku sebagai anak laki-laki punya keterampilan memasak yg diwariskan almarhumah ibuku. Dari kenyataan itulah Mbak Narsih tidak lagi menganggapku “cah lanang isane opo”
Saat-saat yang selalu teringat dan terukir mendalam dalam hatiku adalah kemesraan sesaat yang kurasakan ketika merawat Mbak Narsih. Pribadi yang keras dan menakutkan itu suatu saat berubah menjadi seorang yang sangat lembut yang membutuhkan belaian dan kasih sayang. Rasanya aku sedang bercumbu dengan singa betina yang setiap saat bisa menjadi ganas dan mematikan. Ada rasa takut bercampur nafsu birahi yang berkobar.
Sifat dan watak Mbak Narsih itu sudah mendarah daging, merupakan sifat bawaan, tak kan pernah berubah selama hidupnya. Jika dia baik dan lembut itu hanya sesaat, seakan-akan “lupa”. Dalam keadaan normal, watak aslinya itu keluar dan itu berarti aku kembali hidup dalam suasana terror mental. Sedikit saja kesalahan yang aku buat, sengaja atau tidak. Pasti dia marah. Cuci piring tidak bersih apalagi cuci gelas, mudah sekali ketahuan kalau tidak bersih. Gelas tidak boleh bau amis atau bau sabun. Kalau itu terjadi, semua gelas di rak diturunkan dan dicuci ulang semuanya, SENDIRI. Mulutnya ngomel menyindir dan memakai ungkapan-ungkapan yang menyakitkan perasaan.
“Eee, paringana kuwat. Memang aku nggak kuat bayar pembantu. Ya, nyuci sendiri. Keliatannya saja bersih. Mata bisa ditipu, hidung nggak bisa ditipu.” Mulutnya terus nyerocos disertai suara benturan-benturan gelas berkelotakan seakan mau pecah. Kasar sekali. Berisik sekali. Aku bertahan .
“Sudah bosan ikut kakaknya. Di sini harus kerja. Bisa saja makan tidur, kan punya pembantu. Pulang sekolah belajar, dengerin radio. Wah, enake, jadi murid teladan.”
Aku diam saja. Orasinya berkembang dari masalah gelas, ke masalah lain yang semuanya bikin panas hati. Mana berani aku menjawab? Bisa saja aku melawan, tapi itu berarti mengakhiri hidupku sendiri. Ke mana lagi aku harus hidup? Aku ingat almarhum ibuku yang lembut dan penuh kasih. Aku hanya bisa menangis dalam hati. Tak ada lagi kasih sayang ibu. Biasanya Mbak Narsih terus mendiamkan aku hari itu. Sebelum beliau ngajak omong, aku belum berani menyapa. Dalam situasi perang dingin seperti itu, aku dibuat “mati langkah” karena semua pekerjaan rumah, sudah dia kerjakan. Mbak Narsih pada dasarnya ibu rumah tangga yang rajin. Aku jadi semakin tidak enak saja. Belanja, masak, cuci piring sampai ngepel, semua sudah diberesi. Ah, masih ada, Ada pakaian kotor ( termasuk pakain dalamnya) segera ku bawa ke sumur umum. Lega rasanya, masih kebagian sedikit pekerjaan. Itu artinya aku menang. Sehabis mencuci, Mbak Narsih, menyapa aku.
“Enak ya? Semua pekerjaan sudah beres?” aku tidak menjawab. meskipun masih terdengar keras, namun aku sudah merasa tenang, paling tidak aku sudah disapa. Lalu esok hari suasana sudah normal lagi.
Dalam situasi dimarahi, aku merasa hidup sendiri. Bahkan saat ada Mas Pras pun, Mbak Narsih tetap “menyerang”. Seakan Mbak Narsih mencoba menunjukkan bahwa aku “tidak beres” kerjanya. Sayang, Mas Pras termasuk kelompok sukutri (suami takut istri). Di situlah hidupku benar-benar tertekan. Anehnya, di saat seperti itu pula, aku teringat atau suka mengingat saat-saat manis bersama Mbak Narsih. Saat dia minta dicumbu. Kubayangkan matanya yang redup dan rntihannya yang “memilukan” saat memperoleh kenikmatan dariku. Rasanya tidak mungkin beliau bisa bersikap sekasar itu saat ini. Sampai jauh malam mata tak bisa dipejamkan. Kuingat tadi siang saat aku “pura-pura”belajar ( karena semua pekerjaan sudah diberesi) aku sempat melirik sebentar saat Mbak Narsih mandi di luar kamar mandi, karena kamar mandi dikuras. Dia hanya pakai kain panjang untuk basahan. Meskipun aku takut sama galaknya, tapi tergoda juga untuk melirik menikmati kemulusan kulitnya. Putih mulus tertimpa temaramnya sinar matahari dari genteng kaca.
Dia menyabuni payudaranya yang bulat dan mulus itu dengan bebas, seakan-akan hanya dia saja yang ada di rumah ini. Membayangkan penampakan siang tadi dalam kesunyian pekatnya kamarku, tak terasa mulutku berbisik litih. “ Oh, Mbak Narsih…”
Aku tidak habis mengerti, kenapa di setiap saat beliau marah-marah, cara duduknya atau cara berpakaiannya di rumah seenaknya sendiri. Kalau tiduran di sofa, pahanya dinaikkan di meja tamu, dibiarkan tersingkap lebar. Aku berjalan menunduk saja saat menuju kamarku. Aku tahu Mbak Narsih mengamati langkah-langkahku sampai aku masuk kamar. Suasana diam yang mencengkam
Siang itu seperti biasanya sesudah mengangkat semua jemuran, beliau tidur siang. Kamarnya tidak ditutup, sehingga hampir seisi tempat tidur itu terlihat jelas dari luar kamar. Meskipun tertutup kelambu, aku tahu beliau tidak mengenakan pakaian apa pun. Cuaca Semarang bawah memang panas. Kelambu hanya untuk menghindari nyamuk saja. Dulu Mas Pras belum punya kipas angin. Terlalu mewah untuk kehidupan waktu itu. Dengan cara demikian mungkin beliau merasa nyaman. Sambil makan siang berkali-kali aku mencuri pandang kea rah kamar. Nasi dengan sup yang begitu banyak kuah terasa susah ditelan . Konsentrasi makanku terpecah, selera makan jadi hambar. Aku terlalu dini untuk mengalami pengalaman sex orang dewasa. Sehingga aku ketagihan untuk terus merasakan lagi. Aku berharap Mbak Narsih membuang guling yang dipeluknya, biar kulihat bukit kembarnya yang putih dan kemaluannya yang merah jambu dan basah itu. Seperti tahu yang aku inginkan, Mbak Narsih sekarang melepaskan gulingnya dan menjepitnya dengan kedua pahanya. Sehingga terlihat jelas apa saja yang tadi ingin kulihat. Susunya berdesakan terhimpit kedua tangannya. Pahanya terbuka karena terganjal guling dan mataku tak lepas memandang hutan lebat yang kurindukan itu. Lama sekali sendok terhenti di depan mulut tak segera kumasukkan. Aku menelan ludah. Hilang nafsu makan. Rasanya seperti ada yang menarikku untuk mendekat ke pintu kamar yang terbuka lebar itu. Agak menyamping aku melihat ke dalam, menghindari pandangan Mbak Narsih kalau tiba-tiba beliau terbangun. Aku berjingkat mendekati dinding sebelah kanan pintu. Pemandangan indah semakin jelas. Seandainya saja, kelambu itu tak ada,

pasti kemulusan kulit nya akan semakin nyata. Kuberanikan diri melongokkan sedikit kepalaku melihat ke dalam. Mbak Narsih mendengkur halus. Enak sekali tidurnya. Ah, wajah yang sangat cantik. Alisnya yang hitam tebal jadi semakin indah jika matanya terbuka. Kakak iparku ini memang mirip sekali dengan Cici Faramida. Saat tertawa, barisan giginya yang rapi dibalik bibirnya yang tipis menambah kecantikannya. Aku tak tau sebabnya, kenapa tubuhku menggigil. Gigiku gemeletuk seperti kedinginan. Degup jantungku semakin kencang . Mukaku terasa panas. Ada dorongan yang sangat kuat tak tertahankan untuk terus mendekati tempat wanita cantik itu pulas tertidur. Napasku memburu. Batangku sudah menegang sejak masih di meja makan tadi, kini semakin mengeras saja. Ketakutanku akan sikap galaknya dikalahkan dengan berkobarnya nafsu remajaku. Pelan-pelan kutarik kelambu sialan yang menghalangi pandanganku. Srrrrrttt! Pelan dan halus kutarik. Lagi, srrrrtttt! Nah, sekarang lebih jelas. Oooohhh…. Putihnya……tubuhnya yang mulus itu indah sekali. Tak terasa mulutku berbisik lirih, “Ohhh Mbak Narsih…….”
Aku kaget sendiri mendengar suaraku itu. Lebih terkejut lagi saat kudengar suara Mbak Narsih, seperti orang mengigau, “Kuuuun, sini!” Aliran darahku seperti berhenti. Aku jadi takut sekali. Tapi aku juga penasaran, jangan-jangan aku salah dengar. Mau keluar dari kamar sudah terlambat. Aku hanya berhenti terpaku dengan kaki menggigil. Takut sekali. Benarkah dia memanggil aku tadi?
‘Sini……….jangan berdiri saja.” Matanya masih terpejam, tapi jelas kulihat mulutnya bergerak.
“Kamu sudah pengin……….Kun…….” Mbak Narsih memiringkan tubuhnya membelakangiku. Dari nadanya sepertinya dia tidak marah. Berkurang sedikit ketakutanku. Tapi aku tetap diam di samping tempat tidurnya.
“Kuuuunnnn……..” sekarang suaranya lebih keras, tapi posisinya masih memunggungiku. Kuperhatikan bongkahan pantatnya yang bulat. Putih mulus. Agak ke bawah kulihat warna hitam bersembunyi di balik nya. “Ayoooo Kuuun……tunggu apa lagi.” Kini aku yakin dia memanggilku.
“Ya, Mbak…….…..” senang sekali aku disapa kembali. Aku merasa bahagia dan damai. Kuberanikan diri mendekat dan duduk di pinggiran kasurnya. Mbak Narsih masih diam. Tanganku sudah gemetaran ingin menyentuh pantatnya. Kusentuh pelan dan kurasakan hangaaaat sekali kulitnya. Kuelus pahanya sambil kutunggu reaksinya. Masih tetap diam. Tapi tidak ada penolakan. Kuelus pahanya yang putih mulus itu dan kurasakan bulu-bulu lembut halusnya. Kehangatan kulitnya sangat terasa mempengaruhi diriku. Aku jadi gerah sekali dan ingin membuka baju. Kulempar keluar saja bajuku dan jariku kembali beraksi. Kini kuberanikan diri menuju sudut htam di arah bawah pantatnya. Aaahhh…… kenapa basah sekali? Ujung jariku masuk pelan-pelan ke lubang yang hangat dan licin itu. Makin ke dalam semakin panas. Kudekatkan mukaku untuk melihat lebih jelas bagian yang paling menarik itu. Inilah yang selalu terbayang dalam kesendirianku. Kini terlihat nyata dalam jarak sangat dekat. Bau yang khas dari bagian ini merangsang nafsuku semakin berkobar. Timbul keberanian untuk menarik tubuh molek yang sedari tadi diam dan pasif itu. Kutarik pahanya, ke arahku sehingga tubuh molek itu kini terlentang, Lubang kenikmatan itu merah merekah dengan daging merah jambu yang mungil menonjol di atasnya. Kusentuh lembut daging aneh itu dengan lembut. Dia menggeliat. Kusentuh kagi, menggeliat lagi. Kulihat mukanya mendongak disertai desisan halus “ Sssshhhhh….”
Ketika itu aku belum punya pikiran untuk menjilat benda itu. Belum pernah kulihat film BF atau gambar porno. Aku terlalu lugu saat itu. Jadi melihat tempik wanita dewasa, merupakan sesuatu yang baru, sangat mengasyikkan. Aku “bermain-main” dengan klitoris nya yang semakin membesar itu.
Begitu dekatnya mukaku ke lubang itu sehingga napasku yang panas terasa oleh Mbak Narsih. Tiba-tiba tangan Mbak Narsih menekan kepalaku. Hasilnya mulutku dan bibirku bersentuhan dengan “bibir”nya. “Kuuuunnnn………..pakai lidahmu saja……oohhhh”
Kujilat tempik Mbak Narsih. Sama sekali aku lupa bahwa lubang itu biasanya untuk kencing. Rasanya asin, tapi membikin ketagihan. Semakin dalam lidahku menjilat, geliat tubuhnya semakin menghebat. Aku jadi bersemangat.
“Kuunnn…. Itilku……itilku…..jilat terus…..” kujilat daging merah itu dengan rakus. Seprei jadi kusut carut marut karena diacak-acak oleh gliatan tubuh nya yang semakin liar. sampai tiba-tiba badan Mbak Narsih menegang, pantatnya diangkat dan….. cairan hangat menyemprot dari lubang itu. Seperti susu cair yang hangat. Hidung dan mulutku basah. “Aaaaahhhh……..Kuuunn………” suara itu begitu merdu terdengar di telingaku.
Kini Mbak Narsih duduk matanya sayu memandangku. Aku yang biasanya takut bertatapan mata, kini kutatap juga matanya. Kukagumi matanya yang lebar dengan bulu mata yang melengkung indah. Tak ada kesan galak sama sekali. Mata indah itu, mata Mbak Narsih yang sbekumnya menakutkan. Aku merasa diajak berdamai. Aku bahagia sekali.
“Kenapa kamu panggil namaku, Kun?” dia bertanya lembut. “Kamu kangen….ya Kun?”
“Maafkan aku ya Mbak….aku sering buat Mbak marah…” wajahku ditariknya mendekat. Aku dicium.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Bibir Mbak Narsih mengulum bibirku. Lidahnya terjulur menerobos bibirku. Kusedot dan kurasakan basahnya mulutnya. Aku berciuman dengan cara yang belum kukenal. Anehnya aku merasa bahagiaaaa… sekali. Tanpa kupikirkan sebelumnya, tanganku sudah meremas bukit-bukit empuk yang menempel hangat di dadaku. Kucari ujungnya yang mulai mengeras itu. Kuremas lembut . Setelah bibir kami lepas, bibirku mendapat sasaran baru. Ku sedot putting itu seperti bayi netek. Tangan Mbak Narsih membelai rambutku. Matanya tak lepas dari susunya yang sedang kuhisap itu. Bila susu kiri aku hisap, maka yang kanan kuremas-remas. “Terusss….oohhh…”
Sambil menikmati sedotanku, tangan mbak Narsih melepaskan celanaku dan memegang batangku.
“Keras sekali…Kun….” Dia berbisik mesra.” Iiiiih.. panjang banget.”
Kulihat ke bawah, jari-jarinya yang putih itu mengelus-elus batangku yang hitam. Ujung “helm” itu disentuh-sentuh lembut membuat aku belingsatan.
“Aduuuuu ….Mbak…..aku nggak kuat” gelombang dahsyat bergulung-gulung datang. Seperti tak mendengar rintihanku, gerakan tangannya malah semakin cepat. Saat pertahananku hampiir jebol, dia berhenti. Ada rasa kecewa tertahan. Kenapa berhenti. Kulihat Mbak Narsih mengamati batangku dengan gemas. “Ditempelkannya ke wajahnya yang ayu dan putih. “O, seperti ini, hmmmmahhh.
Kamu memang nakal, Huuuhh…..” dipukul-pukulkannya kemaluanku ke hidungnya, ke pipinya. “Ooohhh besar sekali.!” Aku sendiri heran, kenapa tongkolku bisa sebesar dan sepanjang itu. Wajahnya memerah dikuasai nafsu birahi yang tinggi. Tak kukira sebelumnya, beliau mau menjilati “kepala” helm yg kini memerah itu. Urat-urat di sepanjang batangku menjadi bertonjolan dan berkedut-jedut. Mata beliau semakin liar dan…… hap….dimasukkannya seluruh batang itu ke mulut beliau yang terlalu indah buat tongkolku yg hitam itu. Dikulum keluar masuk sampai batangku basah. Air liur bening membasahi “helm” ku. Beliau mendorong lembut tubuhku hingga aku terjerembab ke kasur.Mataku tak lepas memandang kagum dan heran dari aktifitas mulut wanita cantik ini. Tak terlukiskan nikmatnya…… Puas “makan” lontong hitamku, kini beliau jongkok dan memegang batangku diarahkan ke lubang kenikmatan yang sudah amat basah itu. Cairan putih memenuhi bibir tempiknya yang putih itu. Begitu gagah batangan ku memasuki lubang sugawi. Tangan beliau mengarahkan dan menggosok-gosokkan “helm” itu ke “kacang” ajaib disertai desisan kenikmatan…Ssssshhhh……mata beliau konsentrasi penuh ke sana dan……. blessss ……….aaahhhh…….hampir bersamaan aku dan beliau mengerang, meraskan “penderitaan” yang sama. Badanku tampak kecil dibandingkan pantatnya yang super lebar. Bibir tempiknya merekah lebar diterjang benda panjang hitamku. Mbak Narsih aktif menarik maju mundur semakin lama semakin cepat. Kadang-kadang beliau mendongak menahan rasa nikmat yang melanda syaraf-syarafnya. Kadang diputar-putar pantatnya, menimbulkan denyutan-denyutan yang luar biasa nikmat. Oh…Mbak……terus Mbak……enak sekalii….ooohhh……
“Enak….Kun…….adddduuuh……Kun……punyamu kok bisa begini…..ssshhhh……sssss……” terus menerus kata-katanya tak berhenti…..seperti bicara tanpa kesadaran…..
Gerakannya semakin liar dan semakin cepat. “Aahhhh…..oohhh…..uuuuu……” beliau menangis sambil menambah kecepatan gerakannya. tongkolku jadi sakit karena terlau tegang dan panas. Tiba-tiba semua gerakannya berhenti dan……serrrrr…. Cairan hangat membanjiri kemaluan dan perutku……Beliau melepas batangku dan terguling ke sampingku. “Aku….le….mes…..ba….nget….Kun….”
Meskipun kecewa karena aku belum puas, melihat wajahnya yg kuyu dan lemas, aku iba.
“Kesel…Mbak……” kuelus wajahnya dengan penuh perasaan. Saat itu aku merasa sayaaaaaang sekali pada wanita yang galak itu. Kucium pipinya, dan…..kuberanikan mencium bibirnya. Kami berciuman mesra sekali. Direngkuhnya badanku, kini aku rebah di atas badannya yang licin bermandi peluh. Cukup lama kami berciuman sampai tangan beliau mencari-cari batangku dan diarahkan ke lubang itu lagi. “Masukkan…..saja, Kun…..aku mau lagi…..”
Dalam posisi bersimpuh kumasuki lubang kenikmatan itu. Kulitnya yang basah oleh peluhm menjadi berkilat dan keliatan indah sekali. Kamar yang agak gelap itu menjadi terang oleh pantulan cerahnya kulit putihnya. Aku terangsang sekali. Pelan-pelan aku gerakkan maju dan mundur. Lubang itu agak kering sekarang. Merasa tidak nyaman. Aku cabut keluar dari lubangnya. Aku bermaksud berdiri di samping kasur. “Kuuuun…..kok dilepas…….ayo…….” beliau merintih memohon. Biasanya dia main perintah dan harus dipatuhi, sekarang singa betina itu merintih memohon. Aku tidak menjawab, langsung turun sambil menyeret kedua kakinya ke tepi pembaringan. Kubentangkan lebar kedua pahanya. Pangkal pahanya tampak merekah menantang. Aku sengaja tidak segera memasukkan tongkolku, aku ingin dengar rintihannya, jriku mempermainkan daging itilnya saja.
“Kuuuun….. ayo…..jangan main-main itu….. cepet masuk…masuk…ooohhh….” Puas aku mendengar rintihan beliau. Kuarahkan batangku ke lubang iu dan……blessss….Ternyata lubang itu kini sudah basah lagi. Beliau mengangkat tinggi-tinggi kakinya sehingga tanganku terbebas tidak menyangga lagi. Kini aku raih kedua bukit kembarnya yang terpantul-pantul karena goyongan tubuhnya yang kusodok-sodok.
“Enaaak….Kun…..Enak…ya…..Kun……?” mulutnya terus nyerocos tapi matanya terpejam.
Aku bergerk maju mundur dengan irama pelan. Kunikmati setiap gerakan. Kurasakan makin pelan aku menggerakkan, tongkolku terasa digigit atau dijepit oleh “bibir” beliau.
“Kun cepet… sing jeruuuuu……oooh…..oohhh……sing jeru…..”
“Iya…Mbaaaaakk……..ini….Mbak…. aaaahhh…..”
Udara kamar terasa semakin panas. Keringat sudah membanjir…..nafsu sudah sampai kepala.
Kupercepat gerakan, makin lama makin cepat dan tusukan semakin dalam.
Plak plak plak….kreet….kreeet…..suara daging beradu dan kerenyit tempat tidur mengiringi tarian birahi aku dan beliau. Jepitannya semakin kenceng dan denyut-denyut diujung kemaluanku semakin terasa….”Mbaaaaakkkk….iki….piyeeeee…… addduuuh…..” Aku sudah sampai di ujung perjuangan.
“Tungguuuu……akuuu….ke….lu….ar……Kunnnnn.” Pantatnya berputar liar dan tangannya mendorong pantatku sampai mepet . Crooottttzz……Seeerrrr. Kami mencapai klimax bersama.
Kupeluk Mbak Narsih. Kurebahkan kepalaku di atas susunya yang empuk.
“mBaaak….. aku sayaaaang sama Mbak Narsih.”
Mbak Narsih tidak menjawab, tetapi ganti memeluk erat tubuhku. Aku berharap semoga beliau tetap seperti ini. Tidak marah-marah lagi. Tetapi aku menyadari kenyataan seperti orang Semarang bilang….watuk iso mari, nek watak….kapan marine? Watak adalah kodrat manusia yang tidak mampu manusia mengubahnya.
Dalam serial sebelumnya, kita sudah tau bagaimana watak Mbak Narsih. Mudah marah, perfeksionis dalam urusan kebersihan rumah tangga, dan sekarang baru aku tau, kalo beliau itu juga eksibisionist, suka menggoda dengan memamerkan tubuhnya yang seksi. Meskipun sifatnya itu hanya di dalam rumah saja.
Sudah sebelas hari Mas Pras belum pulang. Selama itu pula aku bersikap sangat hati-hati, tidak ingin kena marah lagi. Aku ingin memelihara suasana damai dengan Mbak Narsih. Setelah kejadian “santap siang” itu sikap beliau baik. Tapi aku tetap hormat dan takut. Beliau juga tak pernah bicara soal itu. Seolah-olah tak pernah terjadi. Aku tidak berani lagi mengintip-ngintip. Aku tau diri dan berusaha menghormati Mas Pras. Aku juga sudah kepengin ketemu Mas Pras. Beliau janji mau mencarikan aku sekolah, sudah 3 bulan aku tidak bersekolah.
“Masmu kok belum pulang ya Kun?” matanya memandang ke pintu. Keliatan kalo beliau sudah kangen sekali kepada suaminya. Lampu Petromax semakin redup, butuh dipompa lagi. Aku menurunkan lampu itu dan memompanya. “Sudah sebelas hari, Mbak.” Jawabku sambil memompa lampu menjadi semakin terang lagi.
“Kamu hitung, to Kun?” Mbak Narsih heran. Ternyata aku peduli dg Mas Pras. Sekarang dia melihat aku yang masih memompa lampu.
“Aku kasih tanda tuh di kalender.” Alasan sebenarnya aku memberi tanda karena ingin mendapat kepastian, kapan aku bisa masuk sekolah lagi. Aku menunjuk kalender di dinding kamar tamu. Mbak Narsih berdiri mendekat dan memperhatikan dengan cermat kalender itu.
“Kok kamu tulis DM. DM, DM, apa sih artinya” Mbak Narsih menatapku heran.
Aku terkejut, addduuh! Itu artinya kan “damai”. Tapi aku harus ngomong apa??? Kemungkinan ini tak kuduga sebelumnya. Sambil mencantelkan lampu aku berpikir keras mau jawab apa. Sialnya karena silau dan gugup, tak juga mau nyantel-nyanthel kolong lampu ini ke tempatya.
“Ayooo, apa Kun?” Mbak Narsih tak sabar menunggu jawabanku.
Daripada aku bohong kena marah lagi, yaaa lebih baik….
“Artinya damai, Mbak.” Aku menjawab lirih sambil melepaskan pelan-pelan lampu yang sudah nyantel itu. Karena aku melihat ke atas Mbak Narsih tidak tahu pucatnya wajahku.
“Daa….mai?” Mbak Narsih mengerenyitkan dahinya. “ Damai gimana maksudmu, Kun?”
“Mmm….” Sambil memijit-mijit tengkukku yang tidak pegal aku memandang Mbak Narsih malu-malu.
“Ayo, awas kalau bohong!” beliau berdiri berkacak pinggang. Wah, gawat!
“Maaakk….sud saaaayaa, ya damai dengan Mbak Narsih.” Akhirnya aku memilih jalan lurus.
“Lho, aku kan selalu damai sama kamu?” sekarang beliau duduk di dekatku dan memandang lurus mataku. “Apa aku kamu anggap musuhmu?”
“Bukan begitu, Mbak.” Aku beringsut mundur, secara reflek aku takut. “Justru aku senang selama sebelas hari ini Mbak Narsih tidak marah sama aku. Aku merasa bahagia, kok Mbak.”
“Kenapa mundur-mundur, takut ya? Kalau tidak salah kenapa takut?” nada uaranya tidak galak lagi.
“Siapa takut, Mbak. Ini, aku berani maju.” Aku mendekat lagi bahkan lebih mepet.
Mbak Narsih tersenyum geli melihat sikapku. “Uuuu….cah nakal. “ dipijitnya hidungku dengan gemes.”Aduuuu Mbak, sakit” malam itu suasana terasa mesra dan menyenangkan. Sampai jam sebelas malam kami berdua ngobrol akrab. Sepertinya Mbak Narsih menunggu Mas Pras, tapi beliau tidak bilang apa-apa. Mbak Narsih sudah menguap dan masuk ke kamar tidurnya. Petromax saya matikan kuganti lampu tempel. Aku pun masuk kamar, segera tidur nyenyak dengan mimpi indah. Aku tidak tahu bahwa jam dua belas malam Mas Pras datang. Dalam mimpiku aku bertemu cewek cantik. Cewek yg belum kukenal itu tanpa malu-malu mendekati aku dan menciumi aku. Bajuku dibuka lalu celana ku diturunkan. Aku sekarang tinggal memakai celana dalam. Dalam alunan musik dangdut cewek itu meluk-liuk kan tubuhnya mengikuti irama sambil melepas pakaiannya satu persatu. Kemaluanku menjadi tegang. Apalagi saat dia mendekat dan mengelus-elus penisku dengan lembut, rasanya nikmat sekali Tiba-tiba aku merasa sesuatu yang berat menimpa badanku dan kemaluanku terasa basah dan hangat. Kurasakan nafas hangat dan berat menyapu wajahku. Aku terbangun!
Mataku menatap kabur pada bayangan di atas wajahku di kamar ku yang gelap itu. Beberapa saat pandanganku menjadi jelas bahwa itu wajah Mbak Narsih. Aku bermaksud membuka mulut dan bertanya tetapi mulutku dibekap. “Ssssst……..!” beliau menyuruh aku diam. Badanku yang kecil itu merasakan beban yang lumayan berat dari tubuh wanita dewasa itu. Beliau jongkok dan bergerak naik turun. Penisku merasakan kehangatan di dalam lubang Mbak Narsih. Ternyata apa yang terasa dalam mimpiku itu adalah kenyataan. Kini dengan sadar kurasakan kenikmatan itu. Nafas nya yang memburu menandakan beliau sedang dilanda nafsu birahi yang hebat.
“Kuuuun……puasi akuuuu……. “ beliau merebahkan diri di atas tubuhku dan berbisik di telingaku. Aku berusaha menahan berat tubuhnya. Badannya panas sekali. Bau keringatnya yang khas menyeruak membangkitkan nafsuku. Kudorong tubuhnya ke samping, kini aku berhadap-hadapan dengan beliau dalam posisi miring. Susunya yang bulat putih itu kuremas-remas, terasa hangat dan kenyal. Telapak tanganku terlalu kecil untuk memegang payudaranya yang padat bulat itu. sambil kusodok lubangnya dengan penuh semangat. Setelah beberapa saat posisi seperti itu kurang nyaman rasanya.
“Kamu……ssshhh. …kamu… di….ooouuh…di … atasssss….Kun…..” segera kuturuti perrmintaan beliau. Aku merasa lebih leluasa melancarkan gerakanku. Kini aku mendengar music dangdut yang kudengar dalam mimpi tadi. Mbak Narsih menyalakan radio kecilku, yang gelombangnya tak pernah pindah dari radio swasta spesial dangdut. Kapan pula beliau masuk kamarku? Pertanyaan yang tak perlu dijawab, karena situasinya dalam keadaan “perang”. Di kamarku yang remang-remang, kulihat di bawahku sesosok wanita cantik, yang berhari-hari aku rindukan kehangatan tubuhnya. Mbak Narsih merindukan kehangatan suaminya, dan aku ketagihan merasakan kehangatan tubuhnya. Meskipun keinginan itu menggebu, tapi aku tak berani meminta. Aku anak kecil. Aku hanya numpang hidup. Pokoknya aku di posisi yang lemah. Kini tiba-tiba saja kesempatan itu datang. Setelah memperoleh kesadaran penuh, timbullah dorongan hasrat yang sangat kuat. Aliran darahku terasa semakin cepat. O, Mbak Narsih, …… kamu adalah mimpi terindahku setiap malam. tusukanku semakin mantap. Kurasakan sudut-sudut liang rahimnya yang hangat. Memperoleh serangan balik yang dahsyat, Mbak Narsih memutar-mutar pantatnya. Pandangan matanya liar, mulutnya menganga, kadang-kadang menyeringai menahan kenikmatan yang merambati ujung-ujung syarafnya. Wajah cantiknya berubah ganas dan buas. tetapi wajah itu tidak membuat aku takut, malah semakin terangsang. Aku sudah lupa, bahwa wanita cantik yang menggeliat-geliat di bawahku adalah wanita yang seharusnya kuhormati. Karena begitu bersemangat sampai tempat tidurku yang sempit itu berkereyotan menimbulkan suara berisik.
“Sssshh…. Jangan berisik….Kkkuuunnnh….hhffff….nan…ti…Mas Prassss…..bang…bang…ngun..” tersengal-sengal Mbak Narsih memberitahu aku. Hah? Ada Mas Pras? Edan tenan. Aku kaget sekali. Tak terasa gerakanku melambat dan berhenti.
“Ayooo….. kenapa….terusss…keburu bangun dia….” Diangkat-angkatnya pantatnya. Kembali kulancarkan seranganku semakin cepat. Kurebahkan tubuhku di dada nya yang putih dan empuk itu. Kini jelas kulihat wajahnya. Rambutnya awut-awutan. Napasnya yang panas menerpa wajahku. “Mas Pras sudah pulang Mbak?” tanpa menghentikan gerakan aku bertanya
“Sudah, Kun….. ah Masmu payah.” Kuhisap-hisap putingnya sambil kuremas bukit empuk yang putih itu. Tak tahan diisap dipeluknya tubuhku erat, sambil mencurahkan keluhan hatinya
“Aku belum apa-apa……Masmu sudah keluar…..langsung loyo dan tidur”
“Aku nggak bisa tidur, lalu nyetel radiomu. “ beliau berhenti ngomong lalu mencium bibirku. Kami berciuman dalam kesunyian malam dan iringan irama dangdut. Suara radio ini dimaksudkan untuk menutupi “kegaduhan” di kamarku ini.

Setelah bibir kami lepas. Aku turun dari tempat tidur diikuti Mbak Narsih. Beliau langsung berdiri membelakangiku, pantatnya yang besar itu disodorkannya. Sudut kemaluannya yang gelap itu kontras dengan bokongnya yang putih.

Kuarahkan penisku ke sana. Karena terlalu naik, tangan beliau membantu menuntun ujung tongkolku ke arah yang tepat. Lagi-lagi kurasakan kehangatan yang nikmat itu. Kubenamkan semakin dalam. Lubang itu terasa lebih sesak sekarang. Belum pernah aku dalam posisi begini. Batangku yang panjang terasa bisa masuk lebih dalam. Mbak Narsih merintih keenakan. “Terusssss…….,Kun…..cepet ke…..aahhh ….cepet….ayo kamu juga keuarkan…..” Aku pun sampai di ujung perjalanan, makin lama makin cepat. Lubang Mbak Narsih kali ini sudah becek sekali dan……”Kuuun…..aaaahhhhhhh……..” dipeluknya aku dengan sangat erat dan penisku terasa dijepit oleh benda lembut dan hangat yg berkedut-kedut. Kubenamkan dalam-dalam kemaluanku dan memancarkan cairan hangat ke liang senggama Mbak Narsih. Serrr….serrr…..ser…. Mbaaaakkkk……. Aduuuu…..aku keluar.” Beberapa saat kemudian beliau menghentikan semua gerakan , terduduk lemas di tepi tempat tidur. Setelah memperoleh kekuatan kembali, beliau beranjak keluar, menuju ke kamar mandi. Aku duduk di sofa kamar tamu menunggu beliau keluar dari kamar mandi.

Masih bertelanjang, Mbak Narsih kembali ke kamarnya.
Aku segera mencuci “peralatanku” dan kembali ke kamarku.
Aku duduk di tepi tempat tidur dan merenung. Ada apa ini? Kucoba untuk merangkai-rangkai berbagai kemungkinan.

Mas Pras tengah malam pulang. Pasti beliau sangat lelah. Mbak Narsih yang lama menunggu kedatangan sang suami, mungkin minta “oleh-oleh”. Karena factor kelelahan atau sebab lain, tugas Mas Pras belum tuntas. Wanita yang haus ini sudah lama berpuasa, tentu nafsunya berkobar-kobar. Ibaratnya bertepuk sebelah tangan, Mas Pras masih lelah. Lalu tidak mampu memberi kepuasan. Kira-kira begitu. Akibatnya, karena tidak puas, ibaratnya makan belum kenyang, lalu nambah. Mungkin, beliau ke kamarku, mempermainkan burungku, sehingga tegang. Begitu bisa dipakai, segera dimasukkan dan dipompa. Saat itulah aku terbangun. Aku juga tidak tahu penyebab sebenarnya. Aku tidak berani bertanya. Hanya saja badanku terasa pegal-pegal sekarang. Aku jatuh tertidur dan….. bangun kesiangan.

Aku takut keduluan Mbak Narsih. Segera aku bangun dan km dapur menyalakan kompor. Merebus air dan mencuci beras. Untung, beliau masih tidur. Kalau kedapatan aku bangun kesiangan, semua pekerjaan pasti beliau selesaikan dengan cepat dan rapi. Aku bisa mati langkah dan siap didiamkan berhari-hari. Lega rasanya. Sampai aku selesai mencuci pakaian dan nasi sudah masak mereka belum bangun. Aku ambil uang belanja di lemari dapur dan beli sayur ke warung. Pulang dari warung Mbak Narsih dan Mas Pras sudah bangun. Aku menyapa dengan sopan, “Mas,tadi malam ya pulangnya?”

“Heeh, gawekna kopi, le !” Mas Pras minta aku buatkan kopi. Kuseduh kopi kental tanpa gula. Itu minuman favorit nya. Kutaruh beberapa bongkah gula jawa di mangkuk kecil.
“Wah, pinter kamu Kun. Uenake.. kopi pait karo ngemut gula jawa.” Katanya sambil menyeruput kopi hitam itu. “O, iyaa… kamu jadi sekolah nggak?”

Aku tersenyum gembira, “ Jadi, Mas. Besok Senin Mas Pras masih di rumah?”
“Pokoknya sudah kuberikan dananya dibawa mbakyumu. Minta saja. “ maksudku kuminta Mas Pras antar aku cari sekolahan, tapi mungkin beliau sudah harus kerja lagi. Ya, sudah nggak apa-apa Yang penting aku pasti sekolah.
“Kenapa harus sama Mas-mu, malu ya dianter mbakyumu” tanya Mbak Narsih, biasa nadanya galak, aku sudah terbiasa dengan sifatnya itu.
“Mboten, Mbak “ aku menjawab sopan dan menyatakan bahwa diantar Mbak Narsih aku juga mau
Karena semua pekerjaaan pai itu sudah kelar. Aku kembali ke kamar, untuk…..tidur. Lelah sekali badanku setelah “berjuang keras” semalam. Dari kamar kudengar mereka terus berbincang-bincang.
“Dik, keliatannya berat badanmu tambah ya?” kudengar suara Mas Pras yang nge-bas.
“Kok tau?”
“Itu rokmu pada kesempitan.”
“Mas Pras, sekarang harus percaya. Harus yakin.” Sepertinya Mbak Narsih serius.
“Maksudmu kamu bener-bener bisa hamil?” masih datar suara Masku.
“Biar aja apa kata dokter, apa kata tabib, sinshe boleh berteori, Aku sudah berhenti 2 bulan lho Mas. Lihat, nih perutku. Lho, …tambah lebar. Wudelku…tambah monyong.” Kubayangkan, pasti Mbak Narsih, membuka roknya dan memamerkan perutnya yang putih mulus itu.
“Dik Narsih,……. Sungguh bahagia aku hari ini…..akhirnya aku bisa….oh…” tak ada lagi suara mereka bicara. Pasti mereka……kalau nggak berciuman ya berpelukan.

“Makanya, jangan lama-lama perginya, Mas” itu suara Mbak Narsih. Lalu sepi lagi. Peristiwa selanjutnya aku tak tahu, karena aku tidur sampai siang.

Tiga gari Mas Pras di rumah. Pagi itu dia harus berangkat. Jam lima pagi, kernetnya datang memberi tahu kalau muatan sudah dinaikkan. Sudah ditutup deklit ,tinggal berangkat.

“Kun, kamu cari sekolah yang deket-deket saja. Ngirit . Kalau bisa ar yang masuk siang, Biar ada yang membantu mBakyumu. Dia hamil, Kun. Aga Mbakyumu jangan sampai kelelahan.” Mas Pras berpesan sambil mengacak-acak rambutku dengan mesra.

“Inggih, Mas.” Saya antar sambil membawakan koper berisi pakaian Mas Pras ke truk yang sudah diparkir di ujung gang.

Lik Tarjo, kernet setia, memarkir truk itu di situ.

Pagi itu juga aku diajak Mbak Narsih mencari sekolah buat aku. Aku pakai seragam SMP Negeri Dua Jogja, dan Mbak

Narsih …….. ya ampun….. cantik banget. Pakaiannya sederhana, tapi cocok sekali dengan kulitnya dan tubuhnya yang tinggi semampai. Rambutnya yang agak kemerahan, menambah cantik wajahnya yang oval dihiasi biabir tipis, hidung bangir dan bulu mata yang lentk. Aku malu pada diriku sendiri, yang kecil dan hitam. Biar orang pada bilang aku hitam manis, tetap saja aku ini hitam.

Ada sebuah SMP Swasta di jalan Raden Patah. Masuk siang. Tidak jauh dari rumahku. Di kantor SMP itu Mbak Narsih menjadi pusat perhatian para guru, terutama bapak-bapak guru. Kalau kepergok Mbak Narsih mereka sedang memandangi dengan kagum, mereka terenyum ramah. Yang tidak enak kalau mareka melihat aku, pasti dengan pandangan curiga. Kalau adiknya kok tidak mirip. Kakaknya cantik, adiknya jelek, gelap lagi. Tetapi kalau pembantunya kok selalu digandeng . Mungkin begitu yang mereka pikirkan. Saat wawancara kulihat Bapak Gur yang berkaca mata minus itu berkali-kali melirik ke belahan dada, Mbak Narsih yang terlihat , karena bajunya berkerah lebar dan rendah.

Kalau Mbak Narsih tertawa, dadanya terguncang-guncang, Bapak Guru itu ikut-ikutan tertawa. Tetapi matanya selalu ke dada itu lagi. Dasar lelaki. (Eh, aku laki-laki juga, ya) Aku tidak peduli. Yang penting aku sekarang sekolah lagi.

Bulan Juli, aku sekolah lagi. Sementara itu perut Mbak Narsih sudah semakin besar. Banyak pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan lagi. Satu-satunya yang wajib dikerjakan adalah mengepel lantai. Menurut Bulik Saodah tetangga depanku, itu baik untuk proses persalinan nanti. Jam sebelas pagi, semua pekerjaan harus sudah selesai. Karena jam setengah dua belas harus berangkat sekolah. Jalan kaki lewat Pengapon, lewat Pasar Kobong, sampai sekolah sekitar setengah jam.

Praktis tenagaku sudah terkuras habis paginya. Di sekolah tinggal sisa-sisa tenaga. Erring aku berjuang keras melawan rasa mengantuk yang tak tertahan saat jam pelajaran. Sisi baiknya mengulang di kelas yang sama terasa amat mudah.

Apalagi SMP swasta itu menurut penilaianku levelnya jauh di bawah SMP ku di Jogja. Senang sekali bisa bersekolah lagi.

Karena aku dikira anak pandai, banyak yang suka bertanya peer. Kalo ulangan pada minta contekan. Pokoknya seru, deh.

Pulang sekolah sampai di rumah hampir maghrib. Melihat rumah gelap, yang pertama kulakukan adalah menyalakan lampu pompa. Aku kasihan sama Mbak Narsih. Beliau nggak bisa menyalakan lampu Petromax. Masih berpakain seragam, kutengok keadaan dapur, jemuran dan


Posted at 04:11 pm by pohonmangga
Make a comment  

Wednesday, February 13, 2013
dibalik ilalang

Pertama melihatnya, hatiku seperti hilang setengah. Energiku down sampai 25 persen hingga harus bertumpu di kursi. Tatapanku menghujam tepat di matanya yang menatapku. Lalu tatapanku berpendar ke seluruh permukaan wajahnya. Tak terkata betapa memikatnya Tuhan menciptakan gadis kecil ini. Ibarat hasil maha karya sempurna yang tak ternilai. Mungkin yang dapat kugambarkan hanya warna pipinya yang putih dengan semburat rona ungu dan bibirnya yang merah bak jambu air yang menantang untuk digigit.



Aku dibebani tugas menjadi ketua panitia penyambutan siswa baru. Padahal aku baru juga naik ke kelas dua. Seandainya dapat memilih, aku memilih tidak ingin jadi panitia apapun. Aku lebih suka memanfaatkan waktu luang untuk mengurus kebun coklat peninggalan ayah yang tidak seberapa. Lumayan untuk tabungan dan keseharianku dengan Mama. Tapi tugas adalah tanggung jawab, apalagi ini dengan restu Kepala Sekolah. Repotlah aku mengurusi dua ratusan anak-anak yang baru melepas seragam putih biru itu. Dan saat itulah dia datang!

Melihatnya, aku seperti melihat sesuatu yang seperti 'milikku'. Seandainya dia sebuah mainan, maka aku sangat ingin memilikinya. Andai dia permen, maka aku ingin mengemutnya. Atau misalnya dia boneka, maka aku ingin memeluknya. Atau mungkin dia aroma udara, maka aku ingin menghirupnya dalam-dalam hingga dia tinggal sepenuhnya dalam diriku.

Tapi keinginan itu tinggal keinginan. Dia seperti bulan yang mustahil kuraih. Teman-teman mengakui aku menarik. Tapi semua itu hampir tidak ada artinya dibanding dia. Dia cantik lahir bathin, kaya dan putri tunggal Bupati, serta cerdas. Kecerdasannya dapat dilihat saat setahun kemudian kami sama-sama masuk final Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional wilayah timur.

Masuk final berarti kami akan melakukan perjalanan dan harus menginap sedikitnya dua malam untuk masing-masing dua kali persentase. Di hotel, kami mengambil dua kamar. Satu untukku dan Pak Yamin, satunya lagi untuk ibu Hana dan dia. Lucunya, ternyata dua official kami, Pak Yamin dan Bu Hana sementara dalam proses 'saling mendekat'.

Melewati dua hari yang melelahkan, kami memutuskan menambah waktu dua hari untuk menunggu pengumuman hasil. Mungkin juga menjaga jangan sampai ada pemberitahuan berikut. Tapi menambah waktu berarti ada waktu jalan-jalan. Lalu siang jam satu, official kami mengajak nonton di Twenty One. Tapi kurasa itu hanya basa-basi. Aku menolak dan lebih memilih jalan dengan Ika (nama gadis itu) lihat-lihat buku di Gramedia. Ika sepakat, tapi setelah mereka berangkat, Ika malah menerobos ke kamarku.

"Aku mau tidur di sini," ucapnya ringan.
"Cewek masuk kamar cowok nggak baik dilihat orang," celetukku asal.
Ia tidak menjawab. Malah mengunci pintu dan memasukkan anak kunci ke sakunya. Tubuhnya dihempaskan ke kasur. Nampaknya dia betul-betul ingin tidur.

Tidak lama dia pulas dengan irama napas yang teratur. Wah, tidur kok di sini, pikirku. Dia juga kan punya kamar. Kalau begini, aku tidak bisa keluar. Aku tidak mungkin mengambil anak kunci di sakunya. Apalagi di saku depan. Memikirkannya saja sudah tidak mungkin.

Menunggu setengah jam lebih, aku ikut mengantuk. Mungkin kami memang butuh istirahat setelah dua hari memforsir tenaga dan pikiran. Hati-hati aku berbaring di sebelahnya setelah sebelumnya memasang guling sebagai pembatas. Rasanya deg-degan juga tidur di sebelah gadis yang telah lama memikat hatiku ini. Tapi perasaan ingin 'memilikinya' telah lama kukubur. Mungkin itu yang membuatku cepat terlelap.

Aku terbangun setelah merasa pipiku hangat dan pinggangku terbebani sesuatu. Aku kaget bukan kepalang menyadari pipi Ika yang menghangatkan pipiku. Seperti mimpi, tapi ini nyata. Terasa betul napasnya hangat. Di bawah, betisnya melingkari pinggangku. Pangkal pahanya bersandar tepat di pinggang sebelah kiri. Hangat.

Aku grogi bukan main. Seumur-umur, baru ini pipiku berdekatan dengan pipi cewek. Badanku rasanya bergetar. Mungkin kalau cewek lain, aku masih bisa tenang. Tapi ini, Ika! Gadis yang telah mencuri setengah dari hatiku. Tak bisa berbuat lain, aku diam saja. Tapi menghayati ke-'diam'-an dalam suasana begitu, menimbulkan perasaan intim di hatiku. Tidak mampu kutahan, tanganku bergerak membelai rambutnya yang hitam lebat dan beraroma.

Aromanya! Ah, ini menyebabkan aliran darahku mengalir deras dan berpusat di tengah tubuhku. Ada yang tegang di antara degup jantung yang cepat. Aku mulai mengerti diriku saat lengan Ika tiba-tiba mendekap lebih erat. Ia menyeruakkan kepalanya di leherku. Kulirik matanya, kelopaknya tertutup. Ia tetap tidur.

Lamat-lamat kupikir, boneka yang kudamba itu kini dapat kupeluk dan aroma udara itu kini dapat kuhirup! Sekilas peringatan bahwa ini bukan sewajarnya, aku langsung menarik tangan. Saat itu juga kelopak mata Ika berkerjap-kerjap membuka. Ekspresi pertamanya adalah bingung. Serta merta dia menarik diri. Mungkin sadar kalau dia yang mendekapku, dia mendesah lirih dengan wajah memerah.

"Maaf Kak. Ika kira Mama."
Tadinya aku ingin minta maaf. Tapi melihat ekspresinya, aku jadi ingin mencubitnya. Tapi aku tidak berani. Aku malah tertawa sampai badanku terguncang-guncang.
"Puas ya, bikin orang kayak guling," candaku.
"Ih, Kakak!" teriaknya tertahan.

Lalu tanpa kuduga dia kembali mendekapku dan menyembunyikan wajah di leherku, sementara kakinya disusupkan di antara kakiku yang miring. Aku kegelian. Tapi satu yang tidak kuperhatikan dari tadi adalah sesuatu yang empuk menyentuh dadaku. Dua bukit kembar itu terasa betul. Kedekatan yang hampir menyatu ini betul-betul membolak-balikkan pikiranku. Darahku yang tadi mengalir deras, kini tambah deras. Aku diam menikmati sensasi baru itu.

Ekor mataku menangkap gerak jam dinding. Jam dua lewat empat puluh menit. Hmm, mereka pasti pulang sore atau malah malam, pikirku mengingat dua official kami. Tidak mungkin dua orang yang lagi kasmaran itu hanya nonton saja. Paling disambung JJS (Jalan-Jalan Sore) atau camilan entah di mana.

Sementara berpikir, tanpa kusadari tanganku bergerak memeluk pinggang Ika. Tubuhnya seperti mau hilang dan menyatu dengan tubuhku. Aku memang lebih tinggi. Dikeloni begitu, Ika malah tambah merapatkan tubuhnya.
"Hihihi, ah," aku kegelian merasa hembusan napasnya di leherku. Bulu romaku merinding.
"Geli, ah..." ringisku sambil mengubah letak kepalanya. Tapi jariku tidak sengaja malah menyentuh bibirnya.
Spontan dia menengadah dengan mata berkerjap-kerjap indah. Sungguh, caranya menatap dari jarak sepuluh senti itu membuatku ingin menyentuh bibirnya lagi. Tapi tatapan jernihnya sangat polos dan mengundang perasaan sayang.

Perlahan gelora dalam tubuhku berkurang. Tinggal degup jantungku yang malah bertambah. Rasanya aku seperti sedang memandang seorang 'adik' yang hanya untuk disayang. Sedikit beda barangkali, karena ada juga perasaan ingin 'menyentuhnya lebih dalam'.

Ika masih menatapku saat jariku bergerak menyentuh bibir mungilnya. Kubelai pelan kelopak yang mengatup itu penuh perasaan. Lembut, kenyal dan agak lembab. Bibir yang sempurna, bisikku dalam hati. Tiga kali kuusap-usap ke kiri dan kanan hingga sesekali tersibak, Ika menggeser naik badannya hingga wajah kami hampir sejajar. Lagi-lagi kurasakan dadanya menekan erat di dadaku. Kembali getaran aneh menyelimutiku. Kulirik dadanya, ia ikut melirik dan mendapati kancing kemeja atasnya terlepas.

"Eh..?" dia tersentak.
Ternyata kancingnya tanggal. Kembali aku terguncang oleh tawaku sendiri. Wajahnya memberenggut kesal. Dia membalik badan membelakangiku.
"Peluk Ika dong Kak," pintanya sambil meraih lenganku melingkari lehernya.
"Ika enak tidur kalau dipeluk begini," sambungnya.
Wah! Dipeluk? Aku gregetan bukan main. Tadi saja sudah bikin gemetar, padahal tidak sengaja. Lha, ini?

"Kamu sering dipeluk begini?" tanyaku, terlepas begitu saja.
Diam-diam ada perasaan lain di hatiku. Seperti tidak rela dia dipeluk orang lain. Hmm, rasa cemburukah ini?

"Iya, tapi sama Mama aja. Papa ngomel-ngomel kalau Ika minta dikelonin ama dia. Heran, Papa kok gitu ya?"
"Ya, tentu aja," ringisku, tapi hanya dalam hati.
Ini anak polos amat, sih? gerutuku. Hampir 16 tahun masih 'bloon'. Mungkin dia belum banyak tahu seperti aku yang juga masih hijau.

"Kakak belum pernah dengar kamu pacaran, Ik?" tanyaku mengikuti caranya menyebut diriku 'kakak'. Tanganku menyentuh pipinya. Uh, halus dan nyaman sekali!
"Bakal ada perang dunia kalau Papa dengar Ika pacaran. Makanya Ika nggak mau pacaran. Lagian, perasaan, Ika belum butuh tuh. Kalau... Uffhhh..." Ika meniup tanganku yang turun ke bibirnya.
Tanganku disorong ke bawah, tapi justru menyentuh bukit kembarnya yang empuk.

"Eh?!" spontan ia memekik pelan. Tubuhnya dihadapkan ke badanku.
"Kak." bisiknya dengan tatapan menghujam mataku. "Kok Ika merinding ya?"
"Merinding?"
"Iya. Tuh, lihat..!" dia menyodorkan lengannya.
"Waktu dada Ika kesentuh tadi, badan Ika seperti kena stroom. Kenapa ya?"
"Masak sih?"
"Iya. Coba, satu kali lagi."

Wah! Menyentuh dadanya? Ini sih bahaya! Tapi aku tidak dapat berpikir lagi. Tangan kananku bergerak menyentuh gundukan padat berukuran standar yang masih terbungkus itu. Tapi yang kurasa tidak seberapa kecuali bukit berlekuk. Coba kutekan sedikit. Hm, kenyal sekali.

"Tuh, lihat. Merinding kan?" Ika menatapku. "Tapi menyenangkan, hihihi."
Dia mengetatkan pelukannya hingga pipi kami bersentuhan lagi. Sepertinya dia merasakan getar kewanitaannya dan ingin menikmatinya. Bukit dadanya ditekan kuat ke dadaku. Terdengar suara napasnya agak memburu. Tapi itu bukan hanya napasnya. Napasku juga menjadi pendek-pendek seperti kekurangan oksigen. Baru kusadari kalau sesuatu di bawah perutku menegang dan terasa sakit karena terkungkung celana. Aku menarik badan sedikit dan memperbaiki posisi. Ika memperhatikan wajahku yang meringis.

"Kenapa Kak?""Nggak. Cuma bikin nyaman aja," elakku.
Aku tidak mau dia tahu kalau aku sedang tegang.
"Kamu pernah dicium, Ik?"
"Udah. Sering, malah. Di pipi. Eh, Ika pernah lihat orang ciuman di bibir. Hani juga ama Mila pernah begitu. Enak, kali ya?"
"Nggak tau. Nggak pernah, sih." Aku tersenyum kecut. "Mau coba?" tanyaku, asal.
Entah dari mana ide konyol itu.

Ika berpikir sesaat lalu mengangguk. Wah, busyet! Kulirik matanya menutup. Aku coba mengingat-ingat bagaimana cara orang berciuman. Bayangan film dan novel-novel yang pernah kubaca tidak dapat tergambar jelas. Akhirnya aku berimprovisasi membayangkan seandainya posisiku berada di posisinya, kira-kira apa yang menyenangkan?

Mungkin merasa kelamaan, mata Ika membuka lagi. Saat menutup kembali, kelopak matanya itu yang kukecup pertama baru kemudian mencari bibirnya. Terasa napasnya menghantam leherku. Lengannya menekan erat lenganku. Asyik juga, pengalaman mendebarkan nih, pikirku sesaat.

Dua kelopak bibirnya ingin kuemut sekaligus. Tapi tidak. Pertama menelusuri kelopak atas dan kelopak bawah dengan lidahku, sekedar membasahi. Setelah menempel hangat dengan bibirku, baru aku menyibaknya. Lidahku sedikit masuk dan menggigit-gigit pelan sambil sesekali menghisapnya. Bibir Ika yang tipis penuh dan lembut itu terasa segar dan manis. Ika sepertinya cepat paham. Ia melakukan apa yang kulakukan. Tapi posisi miring membuatku kram. Setelah melepas lenganku dari bawah tengkuknya, aku menggerakkan badan ke atasnya, tapi tetap masih miring. Bukannya membantu, dia malah mendorong tubuhku dan menarik diri agak jauh. Ia bangkit tersenyum sambil berkerjap-kerjap indah.

"Ternyata rasanya seperti itu ya..?" ucapnya tanpa memandangku.
Tatapannya menerawang seperti kembali menghayati apa yang baru dirasakannya. Suasana itu membuatku diam. Aku merasa bagai dalam mimpi. Sungguh, ini pengalaman pertama yang takkan pernah kulupa, sampai kapan pun.

"Apa yang kamu pikirkan, Kak?" suara Ika terdengar normal.
Melihat caranya menatapku, aku sadar kalau seluruh hatiku sudah menjadi miliknya. Aku mencintaimu Ika, batinku.
"Kamu cantik," elakku, bernada canda.
"Mhuummm..."

Tok! Tok! Tok!

Eh?! Refleks kami menoleh ke pintu. Jangan-jangan... mereka, wah! Dengan anggukan, Ika mengerti aku menyuruhnya membuka pintu sementara aku merapikan bantal dan sprei yang kusut.

Syukur! Ternyata resepsionis hotel. Laki-laki setengah baya itu tersenyum melihat baju kami yang kusut. Tapi dia tidak perlu curiga berlebihan. Aku yakin dia pasti tidak akan berprasangka kami berbuat yang aneh-aneh.

"Ada telepon dari official kalian," ucapnya santai. "Mereka akan pulang malam. Sekitar jam sembilan atau jam sepuluh lah."
Aku mengangguk sebelum ia menarik daun pintu. Ika hanya menggerendelnya. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Hampir setengah empat, sekarang. Di pinggir jendela aku menemukan kesadaranku kembali dengan utuh, merasa apa yang baru saja terjadi adalah sebuah kesalahan.

"Tidak baik kita berduaan di kamar begini." ucapku tanpa berani memandangnya.
Tapi aku merasa yakin Ika memperhatikanku. Dia mendekat dan menatap persis di depan mataku. Kulihat ada kabut di pandangannya, tapi dalam waktu singkat berubah penuh bintang. Lenganku ditarik dan kami duduk di tepi tempat tidur. Apa lagi nih, tanyaku dalam hati. Tapi dia hanya tersenyum-senyum dalam sekian detik.

"Ika merasa punya seorang Kakak, sekarang. Mmm... Kakak kandung, maksud Ika," ucapnya bergetar.
Aku ingat dia anak tunggal. Tapi jadi kakak kandung? Tunggu dulu!
"Mau kan, Kak?"
"Apa kewajibannya?"
"Kewajiban? Yeee..." Ika menggelitikku.
Tidak tahan, aku balik menggelitiknya. Jadinya tempat tidur berantakan.

Kami bermain seperti anak kecil. Sekali waktu dia menindihku, sekali waktu aku yang menindihnya. Kecapekan, Ika merebahkan tubuhnya di dadaku. Wajah kami sedemikian dekat hingga hembusan napas kami bertabrakan. Seperti menghadapi kaca kristal yang rapuh, jemariku bergerak hati-hati merapikan anak-anakan rambut di keningnya yang berkeringat kecil.

"Kewajiban kakak yaa... keloni Ika begini." ucapnya tiba-tiba.
Senyum tipisnya seperti penuh harap. Aku jadi ingat sesuatu.
"Munurutmu kita bisa menang di LKTI ini?"
Ika mengerutkan kening. "Nggak tau. Ika nggak yakin sih. Tapi Ika nggak nyesel ikut ini. Kan malah dapat Kakak, hihi..."
"Rival kita berat-berat. Kakak juga nggak yakin." Aku ikut pesimis.
Sebuah pikiran konyol melintas. Dua tanganku turun ke bawah sikunya hingga menyentuh bukit kembarnya dari sisi luar. Ika menatapku tajam.

"Ik.., Kakak juga gemetar menyentuh ini," bisikku hampir tidak kedengaran.
Aku ingat dia tadi bilang merinding, entah kalau kali ini. Dia menggeser tubuhnya, berbaring di sebelahku. Lengan kiriku terhimpit tepat di dada kanannya. Khawatir dia tidak nyaman, kutarik lenganku. Tatapannya kali ini tidak terfokus. Masih penasaran, tangan kananku menyentuh dada kirinya yang membusung. Agak grogi, tapi aku menguatkan hati. Ika diam saja. Aku coba mengelus bukit kecil yang masih terbungkus itu. Tapi dia bangkit duduk.

"Ika lepas kemeja ya? Ika pengen tau bagaimana rasanya."
Tanpa tahu harus menjawab apa, kubiarkan dia melepas kancing kemejanya satu persatu. Jantungku berdegup kencang melihat pemandangan indah kulit putih Ika yang terbuka perlahan. Dadanya masih terbalut bra putih, tapi itu cukup membuat 'adek kecil'-ku terbangun. Ia melempar kemejanya ke kursi lalu kembali rebah di sampingku. Matanya berbinar-binar. Karena rasa penasaran? Ah, aku tidak punya waktu memikirkan perasaannya. Aku sendiri sibuk menata perasaannku yang bergolak.

Tanganku bergerak tanpa terencana mengelus lehernya. Ika membalas dengan menekan punggungku. Mungkin itu tanda dia terpengaruh. Ada urat kecil yang berdenyut cepat di lehernya. Matanya menutup membuka dengan ritme tidak teratur begitu tanganku mulai turun. Aku memperhatikan dada putihnya yang seperti membesar dan keras. Daerah itu kubelai sekelilingnya. Gerakan ini membuat tekanan di punggungku makin kuat. Perlahan tapi pasti, jariku menelusup ke balik bra-nya. Dia melenguh tertahan. Tangannya pindah memeluk leherku. Kakinya juga bergerak menyilang saling himpit. Tidak dapat menahan diri, bra-nya kugeser naik. Ah, bukit kembar putih seperti salak terkupas kulitnya itu amat memikat. Seperti inikah dada seorang gadis? desahku dalam hati.

Tiba-tiba Ika bergerak. Tangannya menutup dua bukit kembarnya.
"Risih dilihat-lihat," ringisnya, tapi lebih mirip senyum.
Kususupkan tanganku ke belakang tubuhnya dan melepas pengait bra. Kulepas hati-hati, berharap dia tidak melarang. Ika menatap tajam begitu kuraih tangannya ke leherku. Kini dari pinggang ke atas, tubuhnya terbuka. Dalam keadaan begitu, Ika lebih mirip bayi cantik yang menggemaskan. Dia memperhatikanku melepas kaosku sendiri. Kami sudah sama-sama tidak berpenutup dada saat aku setengah telungkup di atas tubuhnya.

Kembali kukecup dua kelopak matanya yang segera menutup. Turun ke hidung hingga akhirnya menempel di bibirnya. Dalam posisi begitu, dadanya yang berukuran standar itu menempel lekat di dadaku. Sambil menyibak dan menggigit-gigit kecil bibirnnya, kugoyang pelan dadaku hingga bukit kembarnya juga ikut terbawa.

Kecupanku turun ke leher. Turun lagi dan akhirnya bibirku bermain-main di sekeliling gundukan dadanya. Belahan dada Ika memiliki aroma yang khas. Di situ kubenamkan wajahku dan menghirupnya dalam-dalam seolah ingin memindahkan seluruh aroma itu ke dadaku. Pipiku jadi terhimpit dua gundukan halus itu. Begitu lidahku bermain-main di puting susunya yang berwarna ungu kecoklatan dan tegang, dua tangan Ika menekan kepalaku seperti melarangku berhenti. Lenguhannya terdengar lagi, panjang pendek. Dua puting itu basah oleh lidahku.

Saat puting susunya kuemut sambil sesekali mengisap dan menggigitnya pelan, tanganku memilin, mengusap dan menarik-narik pelan puting yang satunya. Kali ini lenguhan Ika agak keras dan tekanan tangannya juga menguat.

Semenit kemudian, tanganku bergerak ke bawah sementara lidahku tetap di atas. Jari kananku berputar-putar dan mencucuk-cucuk pusarnya. Di situ Ika menggeliat-geliat dan merintih. Tanganku terus ke bawah, menarik reslueting turun. Sesaat ia tegang, tapi akhirnya pahanya membuka memudahkanku menurunkan resluiting. Ikat pinggangnya gampang dilepas hingga dengan cepat telapak tanganku kemudian mendarat penuh di antara pahanya yang membusung. Daerah yang terbungkus CD itu terasa hangat. Aneh, pikirku. Kok, panas?

Aku tidak berniat melepas celana panjang dan CD-nya. Telapak tanganku menempel lama di situ, merasakan kehangatan yang empuk dan ajaib itu. Tubuh Ika meliuk-liuk kusentuh di dua tempat begitu. Dia berusaha menahan rintihannya, tapi sesekali terlepas juga. Ekor mataku melihat dia berusaha membasahi bibir dengan lidahnya. Seperti kehausan.

Tidak cukup, telapak tanganku kutekan ke dalam hingga daerah yang gemuk itu seperti melebar, lalu jari tengahku membuat gerakan menggaris, ke atas ke bawah. Aku tahu, tepat di tengah gundukan hangat itu ada lekuk belahan memanjang. Lama-lama CD di lekukan itu basah dan agak lengket. Rintihan Ika mulai bergelombang. Daerah pusarnya juga turun naik seperti ombak. Napasnya mulai megap-megap.

Sambil tanganku terus melakukan gerakan turun naik dan sesekali mengilik bagian atas yang ada klentitnya. Pilinan, gigitan dan sedotanku pada puting susunya juga kuperkuat. Rasanya aku tidak habis pikir kenapa semua itu kulakukan. Mungkin pengaruh bacaan dan film yang pernah kutonton.

Sedikit kesadaran menghampiriku. Tapi itu sudah cukup untuk membuatku berhenti. Tubuhku kutarik ke atas dan mengecup keningnya tulus. Geliatnya juga berhenti dan kelopak matanya membuka. Aku merasa dia penasaran. Tapi aku jadi kasihan. Rasa sayangku melebihi gairahku saat itu. Kulihat di keningnya ada bintik-bintik keringat. Ah Ika, desahku dalam hati. Aku mencintaimu, tapi kenapa aku melakukan ini padamu? Penuh rasa penyesalan, aku membaringkan tubuh di sampingnya. Lama kami terdiam dengan tatapan ke langit-langit kamar.

"Ika gemetaran Kak." bisiknya parau.
Tanganku bergerak ke bawah menaikkan celana dan CD-nya.
"Maafkan aku, Ik." bisikku pelan di telinganya.
Ia menengadah dan kudapati matanya berlinang.
"Ika berharap jadi adikmu Kak," jawabnya, juga pelan. "Mestinya Ika tadi tidak buka baju. Jadinya begini deh." dia meringis kecut.
"Kakak juga nggak bisa tahan diri. Penasaran, sih."

"Kakak pernah begini?"
Aku menggeleng keras. "Cuma pernah lihat di film aja. Pernah juga baca novelnya. Jadinya ya, pengen rasa betulan, hihi."
"Sama seperti tadi?" dia mendelik nakal.
Cepat-cepat kuraih bra dan kemeja lalu mengancingnya. Geloraku naik lagi begitu menyentuh dadanya kembali. Tapi aku menguatkan diri untuk tidak terpengaruh. Ika tersenyum-senyum menatapku.

"Ika tadi cuma pengen buka baju aja. Kalau Kakak terus ke bawah, Ika akan larang. Tapi kok Ika nggak mampu larang ya? Rasanya Ika keenakan. Pengen terus."
"Itu bahaya banget, Ik."
"Kok, Kakak bisa nahan diri ya?"
Aku tertegun. Iya ya? ulangku dalam hati.
"Mungkin aku ingat kamu akan jadi adikku."
Aku mencium keningnya, lagi.

"Kalau Papamu tau, bukan cuma perang dunia yang terjadi. Armageddon, malah."
Ika meringis. Dia meraih kaosku dan memakaikan ke tubuhku. Tangannya sempat mencubit putingku yang dilingkari bulu-bulu halus. Aku memekik kecil lalu mendorongnya. Kulumat sekali lagi bibirnya sebelum akhirnya melompat turun.
"Jam empat, Ik. Mandi yuk..!"
"Kakak duluan gih. Ika nyusul. Beresin sprei dulu."

Kamar mandi kututup tapi tidak kukunci. Aku yakin Ika menyusul. Aku juga yakin dapat menahan diri menghadapinya. Kubuka pakaian dan menyisakan CD. Tidak biasanya aku mandi begitu. Tapi aku risih kalau polos di depannya. Ika menyusul dengan lipatan handuk dan beberapa potong pakaian. Cepat-cepat aku masuk bathtub. Ika juga menyisakan CD-nya dan masuk. Aku menelan ludah melihatnya.

"Tubuhmu indah Ik," sambutku meraih pinggang dan menuntunnya duduk membelakangiku.
"Kamu juga atletis, Kak."
Aku menyiram dan mulai menyabuninya. Menyentuh daerah dadanya, Ika rebah di dadaku.
"Ihhh..!" tiba-tiba ia memekik.
Tangannya mencari-cari bagian bawah tubuhku. Sebelum kusadari, ia sudah memegang daerah rahasiaku dan menggenggamnya.

"Jangan..!" sentakku panik. "Bahaya Ik."
"Hihihi. Besar, ya..." ia terkikik dengan wajah merah melepas genggamannya. "Tegang, ya..?"
Aku tahu dia penasaran. Tapi ia tidak boleh kubiarkan. Bisa-bisa aku tidak mampu menahan diri.

Melampiaskan rasa penasarannya, dia berbalik menunduk di dadaku dan mengecup kuat hingga membekaskan tanda merah. Sesaat aku tergetar. Kususupkan kepalaku ke dadanya dan balas mengecup satu setengah senti dari putingnya. Ika menggeliat-geliat. Ditekannya kepalaku kuat-kuat ke dadanya. Kutau dia terangsang hebat. Timbul pikiran untuk menyusupkan tanganku ke balik CD-nya. Tapi aku khawatir tidak dapat menahan diri. Akhirnya kubalikkan lagi tubuhnya. Kusabuni seluruh tubuhnya pelan. Tanganku gemetar di pangkal paha. Cepat-cepat kupindahkan ke dadanya. Daerah lembut kenyal itu kubelai sambil sesekali menekan. Ika tersenyum memeluk leherku. Kulihat dia keenakan tapi dapat bersikap wajar.

Tidak puas-puasnya aku memandang dan membelai dada indahnya. Ia menyadari itu dan mengatupkan mata.
"Gadis yanng sempurna," ucapku dalam hati tidak bosan-bosannya.
"Ika seperti mau pipis, Kak." bisiknya tiba-tiba.
Pinggul dan betisnya bergerak-gerak, sementara lengannya erat menekan lenganku.
"Eh?!" Aku tertegun kaget. Mau pipis? Jangan-jangan dia mau orgasme. Menurut yang kubaca, orgasme adalah puncak kenikmatan seks.

Weeh, kulihat gerakan Ika semakin tidak terkendali, sementara tanganku tanpa sadar menekan dan menggoyang buah dadanya agak cepat. Dua jari telunjukku menjepit putingnya.
"Aaah... Emmh... Kak," dia merintih membuat tanganku bergerak turun ke bawah. Di segitiga pengamannya, telapakku menekan kuat. Itu membuatnya makin menggelinjang. Aku tambah yakin dia mau orgasme.

Tangan kanannya pindah ke tepi, mencengkeram bathtub, sementara yang kiri turun menempel di tanganku yang masih menekan CD-nya. Ditempeli begitu, jari tengahku kugerakkan membentuk garis ke atas dan ke bawah. Tangannya juga ikut terbawa. Ah, rintihan dan geliat tubuhnya mempengaruhi 'adek kecil'-ku yang terbawa gerakan pinggulnya. Rasanya seperti mau pipis juga. Hey, seperti inikah rasanya kalau mau orgasme? Saya sudah berulang-ulang orgasme lewat mimpi. Tapi nyata-nyata seperti ini adalah hal baru. Jadi ini adalah pengalaman pertama.

Kulihat kening Ika berkerut dengan kepala yang bergoyang gelisah ke kiri dan kanan. Tangannya yang menempeli tanganku kunaikkan ke dada yang satunya, lalu kembali ke bawah. Dengan kebebasan begitu, jari tengahku kugerakkan makin cepat dengan tekanan yang lebih kuat. Tangan yang di dada juga bergerak meremas memilin makin gemas.

Gerakan Ika tambah liar di antara rintihannya yang tertahan-tahan. Aku juga merasa di tengah tubuhku seperti ingin melepas sesuatu yang mendesak-desak. Tubuhku terasa bergetar, entah karena getaran tubuhku atau getaran tubuh Ika.

"Emh... Mhhh... Mhhh... Kaak..!"
"Yaa... Emhh... Emhhh.." rintihan Ika menulariku.
Keringat keluar deras di keningnya dan keningku. Matanya tertutup rapat dengan hidung kembang kempis dan napas megap-megap. Aku merasa tidak jauh beda dengannya.

Tiba-tiba di tengah gerak tanganku yang turun naik, Ika mencengkeram kuat tanganku di bagian atas CD-nya. Kupikir itu daerah klit-nya, sebab terasa ada tonjolan kecil seperti butir jagung, tapi lebih kecil lagi. Kupaksakan turun agak ke bawah dan menekan kuat di situ. Gerakan tubuh Ika membuatku terangsang hebat. Tiba-tiba tangan kiriku mencengkeram dan meremas kuat bukit dadanya, sementara jari tengahku tertekan kuat di belahan paling bawah CD-nya. Aku menggeletar hebat dipengaruhi sesuatu yang menderu deras di 'adek kecil'-ku.

Aliran deras itu mendesak kuat dan... jebol! Aku megap-megap ingin berontak. Gerakan itu menyebabkan jariku tegang dan menusuk kuat hingga masuk hampir setengahnya bersama CD Ika. Saat itu juga Ika memekik gemetar dan menggelepar-gelepar. Rupanya dia tiba di puncak menyusulku.
"I.. Ik.. Ika... pipis Kaak..! Ah... ah... aahh..!"
Tanganku seperti mau patah dicengkeramnya. Di antara sisa-sisa orgasmeku, aku merasa jari tengahku panas dijepit kuat oleh belahan agak bawah di antara pahanya. Ada kedutan yang keras. Sungguh kuat dan menjepit. Lama-lama kian melemah.

Ika dan aku sama-sama terkulai lemas. Kami menentramkan perasaan dan mengatur napas yang masih memburu. Tiga menit kemudian, Ika berbalik memelukku, menelusupkan kepalanya di leherku.
"Ika lemas, Kak." bisiknya lemah.
Aku menggigit-gigit bahunya pelan. Coba me-replay perasaan yang kurasakan. Ajaib nan nikmat.

"Ika seperti terbang," bisiknya lagi. "Enak banget."
Aku terdiam. Ika mungkin tidak tahu kalau aku juga mencapai klimaks. Mungkin karena pengaruh geliat tubuh dan rintihannya. Atau mungkin karena sudah tegang sejak beberapa jam lalu. Atau karena yang kuhadapi adalah Ika, gadis yang telah lama memikatku ini. Atau mungkin karena ketiga-tiganya.

Ika menggeliat linglung, melepaskan diri dari dekapanku. Aku ikut bangkit. Kuraih dan mendekap tubuhnya di bawah shower yang mengguyur kami.

Jam lima sore di teras, kulihat mata Ika yang malu-malu seperti dipenuhi bintang. Dengan rambut masih agak basah begini dia kelihatan lebih cantik. Duduk bersisian begitu, membuat beberapa tamu hotel mencuri-curi pandang ke arah kami. Aku senyum-senyum bingung, tidak tahu persis apa yang ada di benakku. Di sisi lain aku bahagia, di sisi lain aku merasa malu dengan perasaan berdosa. Ah, sepertinya rasa malu lebih mendominasi perasaanku.

"Kita telah melakukan kesalahan, Ik."
"Jangan disebut-sebut lagi Kak. Ika malu."
"Iya, tapi mengenai ini Kakak nggak bakal lupa."
Ika tidak menjawab, hanya mencubit pahaku pelan.

Kami kembali pulang hanya dengan satu trophy. Ika meraih nomor tiga dalam LKTI itu. Aku hanya dinilai berbakat. Aku memang gagal, tapi yang kualami dengan Ika lebih bernilai daripada sebuah trophy. Kuakui itu membuatku merasa dikejar-kejar perasaan malu dan berdosa, tapi di sisi lain itu adalah hal terindah sejak aku mengenal dunia.

Di sekolah, kami memang akrab. Tapi tidak beda jauh dibanding hari-hari sekolah sebelumnya. Malah terkesan seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal aku ingin sekali dapat mendekapnya lagi, walaupun hanya menghirup aromanya.

Suatu hari ia datang ke rumahku. Aku senang sekaligus bingung melihat wajahnya disaput kabut.
"Papa dapat promosi Kak. Terpaksa pindah dan Ika harus ikut."
Berita itu seperti memaku tubuhku ke kursi. Aku hanya terdiam dan tertegun menatapnya. Air matanya turun dan membasahi pipi mungilnya. Khawatir kepergok Mama, aku hanya mengecup dan memeluknya singkat.

Itu hari terakhir aku bertemu dia. Sampai lima bulan kami masih berkirim surat. Tapi setelah itu, setelah dia mengatakan akan dipindahkan lagi, aku dan Mama juga pindah. Pamanku di Manado yang panggil. Beliau pengusaha sukses. Sampai aku selesai SMU, menyelesaikan diploma teknik sipilku, kerja di kontraktor tiga tahun dan kini sedang cari S1 di teknik arsitektur sebuah Universitas swasta di Ujung Pandang, aku tidak dengar lagi beritanya. Dimanakah kau Ika?

Ika, cerita ini khusus untuk kamu. Tahukah kamu bahwa aku tidak mau menjadi kakakmu? Aku ingin kamu jadi istriku! Tahukah kamu bahwa tidak ada nama gadis lain selain kamu di hatiku? Di lebaran kemarin ini, aku ingin minta maafmu atas kesalahanku waktu itu. Andai kamu sekarang sudah jadi milik orang lain, masih bolehkah kita bertemu walau hanya sekedar menatap dan mencium aroma harum rambutmu? Ah, dimanakah kau Ika sayang..?

Posted at 04:57 pm by pohonmangga
Make a comment  

Saturday, February 23, 2013
supriyanto namaku

Namaku Supriyanto, umurku 18 tahun, baru saja lulus SMU tahun ini. Aku anak dengan orangtua tunggal. Ibuku meninggal pada saat aku berusia 11 tahun karena sakit, sedangkan bapak sejak ibu meninggal, kerja sebagai TKI di Korsel. Jadi hanya tinggal aku sendiri yang menempati rumah orangtuaku di desa ini. Aku tidak perlu kuatir kekurangan uang saku, karena setiap bulan bapak mengirimkan uang lebih dari cukup untuk hidup sebulan. Jadi sedikit demi sedikit aku dapat menabung.

Walaupun aku sudah berumur 18 tahun, dan wajahku termasuk ganteng untuk ukuran di desaku, tetapi aku sama sekali belum pernah merasakan apa yang dinamakan berpacaran. Aku memang minder terhadap teman-teman gadisku di sekolah, aku lebih berkonsentrasi pada pelajaranku disekolah daripada berusaha mendekati seorang gadis, lagipula, memang pada saat ini belum ada seorang gadispun yang membuatku tertarik, paling-paling aku hanya berusaha berteman seperti biasanya.

Sebenarnya tepat di depan rumahku tinggal Bulik(bibi,adik ibu/ayah) Tin, waktu aku masih kecil aku dititipkan dengan Bulik Tin, ketika menginjak SMU lah baru aku boleh tinggal sendiri di rumahku. Nama Bulik Tin sebenarnya adalah Prihatin, lengkapnya aku sendiri tidak pernah tau. Bulik Tin adalah adik dari bapak, umurnya sekitar 27 tahunan. Wajah Bulik Tin menurutku cukup ayu, walaupun gak seperti bintang film yang sering muncul di TV, atau penyanyi dangdut yang sering manggung di lapangan pojok sana. Bulik Tin sudah menyandang status janda ketika baru 1 bulan perkawinannya, suaminya, Mas Wito (begitu aku manggilnya) meninggal kecelakaan ketika hendak mengantarkan Bulik ke sekolah SD tempat Bulik mengajar. Bulik Tin sendiri kehilangan pergelangan kaki bagian bawah, diamputasi katanya. Yang aku ngerti kaki Bulik Tin sebatas pergelangan kaki sebelah kanan, diganti dengan kaki palsu. Jadi Bulik Tin kalau jalan, agak pincang karena kaki palsunya itu. Kini sudah hampir 4 tahun sejak kematian suaminya, walaupun begitu Bulik sayang sekali sama aku, aku juga sayang sama Bulikku itu. Bahkan sekarang aku juga lebih sering tidur di rumah Bulikku, menemani di rumahnya. Kadangkala aku membantu Bulik memeriksa pekerjaan rumah atau ulangan murid-muridnya, Bulik senang sekali kalo aku sering begitu. Kadang aku dihadiahi ciuman sayang kalau aku sudah selesai membantu Bulik mengerjakan tugas-tugas ringan di rumahnya.

Suatu hari temanku waktu SMU, Manto, mengajakku dolan(bermain) ke rumahnya, dia anak seorang juragan sapi, paling kaya sedesaku. Aku manut aja ketika dibilangi kalo mau ditunjukan sesuatu yang bagus. Ketika sampai dirumahnya aku di ajak ke kamarnya, lalu nonton film yang menurutku saru. Katanya itu namanya film BF, alias Blue Film. Pemainnya orang barat semua, di film itu mereka kok mau-maunya kentu (kentu=bersetubuh)di rekam sama orang lain. Aku bener-bener baru kali ini liat film macam gituan. Manukku (manuk=burung/penis) pas nonton film itu jadi ngaceng.(ngaceng=ereksi) Sejak aku pertama kali liat film bf, aku makin sering dolan ke rumahnya Manto, dia punya koleksi kaset bf hampir 1 lemari penuh. Biasanya aku disuruh liat sendiri, kata Manto dia sudah liat semuanya, lalu dia mainan game Playstation di ruang tamu. Di kamar Manto aku bener-bener memperhatikan seluruh adegan yang dimainkan di dalam film itu. Kadang-kadang manukku keluar cairan bening, agak-agak lengket. Kata Manto itu wajar, soalnya aku terangsang liat begituan. Aku ga berani tanya lebih jauh lagi, aku cuman manggut-manggut pura-pura ngerti apa yang dijelaskan ama Manto.

Sebenarnya aku mau tanya Bulik Tin mengenai hal tersebut, karena dia seorang guru, jadi aku anggap lebih ngerti masalah gitu. Tapi aku juga ga berani tanya, soalnya takut dimarahin karena sudah nonton film yang saru. Nanti pasti aku ga boleh dolan kerumahnya Manto lagi. Jadi aku diam aja sementara ini. Kalo aku ditanya Bulik, napa kok setiap hari sekarang dolan kerumahnya Manto, paling-paling aku berbohong kalu cuman mainan Playstation. Hingga suatu ketika aku nonton film bf yang pemainnya dari asia (tidak tau dari negara mana itu), salah satu pemainnya wajahnya mirip sekali dengan Bulik Tin, ayu. Waktu aku pulang kerumah Bulik Tin malam harinya aku teringat terus film yang barusan aku lihat tadi. Waktu aku makan, aku melirik Bulik Tin sembunyi-sembunyi. Bulik Tin sedang menyulam (katanya buat taplak meja) di kursi panjang, dia memakai daster seperti biasanya. Tapi aku membayangkan film yang tadi, membayangkan seandainya Bulik Tin telanjang. Manukku ngaceng. Aku jadi ga enak makan sendiri, akhirnya aku bawa piringku ke belakang dan nyuci. Sehabis nyuci piring dan gelasku aku duduk di dekat Bulik Tin, memandangi Bulik.

“Ada apa to Tok? (Bulik Tin manggil aku Totok) kok ngeliatin Bulik terus kaya gitu?” Tiba-tiba Bulik melontarkan pertanyaan. Aku jadi gelagepan.

“Ga pa pa kok Bulik.” Aku menjawab sekenanya lalu pamit hendak tidur. Aku kemudian masuk kamarku sendiri. Malam itu aku benar-benar ga bisa tidur.

***

Sejak itu aku makin jarang kerumahnya Manto, aku jadi makin betah di rumah Bulik Tin. Tiap malam aku selalu curi-curi liat wajahnya Bulik Tin. Kadang waktu dia pakai daster kembang-kembang kesukaannya aku berusaha curi-curi liat susunya Bulik. Tapi ga pernah berhasil, karena Bulik selalu pakai BH. Akhirnya muncul ide gilaku, ngintip Bulik Tin waktu mandi. Suatu sore aku sengaja belum mandi dulu, aku membolak-balik halaman majalah lama di kursi panjang, sengaja menunggu Bulik Tin. Ketika Bulik Tin bangun dari tidur, hatiku makin gelisah saja, majalah itu sudah lama tak ku perhatikan. Aku melirik Bulik yang barusan keluar dari kamarnya, seperti biasanya dia minum air putih di meja makan, aku terus merlirik diam-diam setiap aktivitas yang dilakukan oleh Bulik Tin. Bulik sekarang sudah mengambil handuk, dia menuju ke tempatku duduk.

“Lho kamu belum mandi to Tok? Kok yo dengaren.” (dengaren=ga biasanya)Tanya Bulik. Bluefame.com

“Belum Bulik, ini Totok mau masukkan si Jalu dulu (ayam jantan piaraanku) ke kandang, tadi soalnya Jalu kabur ke depan. Bulik mandi aja duluan.” Jawabku memberi alasan.

“O ya wis kalo gitu Bulik tak mandi dulu.” Bulik lalu dengan langkah agak diseret menuju ke kamar mandi di belakang. Kamar mandi di rumah Bulik Tin memang hanya bertembok sedikit tinggi di atas kepalaku, selain itu pintunya hanya seng yang sudah lubang sana-sini. Jadi besar kesempatanku untuk melakukan ide gila itu.

Jantungku berdegup kencang ketika dengan pelan-pelan aku menuju ke belakang rumah. Suara Bulik Tin terdengar jelas, bersenandung kecil, aku menunggu didekat kandang ayam sebelah kamar mandi. Tedengar suara cebur air, itu merupakan tanda bahwa Bulik sudah mandi, perlahan-lahan aku menaiki kursi tua di pojokan. Langit yang sudah mulai menghitam membantuku supaya rencana ini berhasil. Aku mulai menaikkan kepalaku perlahan-lahan, lampu kamar mandi sebesar 5 watt sudah dinyalakan, jadi aku harus hati-hati. Aku mulai melongokan kepalaku melewati tembok kamar mandi. Dari sudut ini aku mulai melihat kepala Bulik sedikit demi sedikit, aku berusaha terus dengan pelan-pelan mengangkat kepalaku. Akhirnya seluruh tubuh Bulik Tin yang telanjang terlihat jelas di bawah penerangan lampu 5 watt. Lama aku memandangi tubuh mulusnya Bulik, susunya membulat kencang, sementara aku melihat di bagian bawahnya, jembutnya terlihat gak begitu lebat. Kaki palsunya di taruh di atas rak kayu, jadi yang terlihat kaki kanannya yang buntung. Bulik kini menyabuni seluruh badannya dengan berpegangan pada palang alumunium yang sengaja di taruh di situ sejak dulu untuk memudahkan Bulik mandi. Lama aku menikmati tubuh Bulik yang telanjang, hingga tiba-tiba keseimbanganku jadi goyah, reflek aku meloncat dari kursi tua itu, waktu aku mendarat di tanah berbunyi agak keras

GEDEBUK!

Suara senandung Bulik seketika berhenti, jantungku seakan hendak meledak, tanpa banyak menunggu aku lari menuju ke ruang depan. Sesampainya di kursi panjang aku menenangkan diri, apakah Bulik tahu aku sedang mengintipnya? Jantungku berdetak seakan-akan hendak meloncat dari tempatnya. Dengan gelisah aku duduk menunggu sambil memikirkan alasan-alasan yang masuk akal.
Bluefame.com
Tak berapa lama tampaknya Bulik sudah menyelesaikan mandinya, terdengar suara pintu kamar mandi dibuka. Keringatku makin deras saja mengucur, membayangkan apa yang bakalan terjadi sebentar lagi. Langkah-langkah kaki terdengar mendekat.

“Tok, sana mandi, dah hampir mahgrib lho.” Suara Bulik terdengar seperti biasanya. Plong sudah hatiku, Bulik sama sekali tidak curiga.

“Ya Bulik, ini Totok mau mandi.” Jawabku, lalu aku segera ngacir ke belakang menghindari pertanyaan-pertanyaan Bulik selanjutnya.

Dikamar mandi pikiranku terus membayangkan tubuh mulus Bulik Tin yang basah, payudaranya yang kencang dan membulat sempurna. Burungku mulai berdiri lagi. Aku cepat-cepat menyelesaikan mandiku.

Malam harinya aku membantu Bulik Tin memeriksa pekerjaan ulangan bahasa Indonesia murid-muridnya. Makin senang aku membantunya ketika Bulik Tin hanya memakai daster pendek. Kelihatannya BH nya ga dipakai, karena aku sudah tau kebiasaan Bulik Tin kalau ga kemana-kemana malam harinya.

“Bulik, kalau tidak ada titik nya perlu dicoret tidak?” tanyaku pada Bulik Tin yang masih serius mengerjakan bagian lainnya.

“Lha iya tok, pokoknya kalau tanda baca tidak lengkap ya langsung dicoret aja.” Jawab Bulik Tin tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas dihadapannya. Posisi dudukku ini memungkinkan mencuri-curi pandang ke arah buah dada Bulik Tin. Aku duduk di lantai dengan bersila sementara Bulik Tin duduk di kursi depanku. Otomatis kalau lagi menulis di mejaku Bulik Tin agak membungkuk, sehingga leher dasternya menggantung, dan buah dadanya terlihat olehku. Selama membantu Bulik Tin, aku tidak bisa konsentrasi, dudukku gelisah karena burungku berdiri terus dari tadi. Walaupun cuman kelihatan susu bagian atasnya saja, rasanya sudah ndak karuan, ndredeg(berdebar – debar). Kadang-kadang waktu Bulik meluruskan punggungnya bersandar ke kursi, aku masih sempat-sempatnya berusaha ngintip bagian gelap diantara tengah pahanya. Walaupun tertutup daster dan tidak keliatan sama sekali, tetapi bayang-bayang hitam yang tercetak di mataku menimbulkan rasa penasaran dan fantasi yang lain. Jadi makin ngaceng dah manukku.Bluefame.com

Kertas ulangan murid-murid Bulik Tin ditanganku sudah selesai semua kukoreksi, tetapi aku sengaja berlama-lama berada di posisi ini. Selain masih senang dengan ‘hobi’ baruku (ngintip), manukku masih berdiri tegak. Lha kalo aku berdiri, lak ya kelihatan jelas kalo aku ngaceng.

“Piye (gimana) tok? Dah selesai apa belum ngoreksinya?” tiba-tiba Bulik menegur.
Setengah kaget aku agak terlonjak, dah alhasil manukku yang lagi ngaceng itu terbentur kaki meja (waduh rasanya ampun dah!).

“Dah bulik, barusan juga sudah tak koreksi. Nih Bulik” Sambil menahan sakit aku menyerahkan hasil koreksianku ke Bulik, lalu cepat-cepat berdiri dan ngacir ke kamar.

“Loh tok, kena apa kok mringis-mringis gitu?” Tanya bulik Tin melihat aku ngibrit ke kamar sambil menahan sakit di selangkanganku.

“Ndak pa pa kok lik, cuman kebentur meja aja” sahutku dari dalam kamar sambil mengganti celana kolorku dengan sarung. Biar aga lega dikit tuh selangkangan.

“Apane yang sakit tok? Manukmu yo?” Tanya bulik sambil menahan senyum.

Aku langsung mualu berat ketauan bulik kalo yang sakit memang manukku.Bluefame.com

“Iya lik, makanya ini sek ganti sarungan” jawabku dari bilik kamar.

“Ati-ati toh, ndak ada gantine lo kalo ampe patah” Bulik Tin ketawa lepas sehabis ngomong gitu. Aku akhirnya keluar kamar sambil tersenyum-senyum sendiri, asli isin tenan (malu sekali).

Aku duduk bersebelahan dengan Bulik Tin di kursi, sementara dia mulai sibuk mempelajari buku pedoman pengajaran untuk besok pagi. Tapi memang dasar aku baru tau ‘hobi’ baru, jadi keterusan melanjutkan apa yang tadi terputus. Aku sengaja memposisikan tubuhku bersandar ke tembok, sehingga aku langsung berhadapan dengan Bulik Tin. Sambil pura-pura baca buku-buku paket pelajaran anak SD, mataku sesekali berusaha mengintip belahan ketiak Bulik Tin (dasternya memang tanpa lengan) yang lagi berkonsentrasi membaca bukunya di meja (posisinya agak membungkuk karena mejanya lebih rendah). Ketiak Bulik Tin bersih dari bulu, bahkan nampak terawat, sesekali aku masih bisa menikmati ‘sedikit’ dari kulit susu Bulik Tin yang masih terbungkus daster itu.

Setelah lama puas ‘memandangi’ belahan ketiak dan sekitarnya, aku berpamitan menuju kamarku sendiri, sebelum Bulik Tin tau kalo manukku dah mulai ngaceng lagi. Tetapi di dalam kamar aku juga tidak bisa tidur membayangkan tubuh Bulik Tin, aku mulai berandai-andai dan menghayalkan yang tidak-tidak. Manukku rasanya makin linu karena sejak tadi berdiri terus. Aku mulai memikirkan bagaimana caranya supaya bisa mengintip Bulik lagi. Tiba-tiba terlintas lagi ide gilaku. Aku bertekad untuk mencobanya malam ini.

Tak berapa lama kemudian aku mendengar Bulik bersiap-siap untuk tidur di kamarnya. Lampu depan sudah dimatikan, dan kemudian terdengar langkah-langkah terseret Bulik Tin menuju ke kamarnya. Aku masih menunggu beberapa saat, sesekali masih terdengar derit ranjang di kamar sebelah, yang berarti Bulik Tin belum tertidur nyenyak. Akhirnya setelah menunggu beberapa lama (rasanya seabad), dengkur halus Bulik terdengar.

Aku perlahan-lahan mulai berjingkat keluar dari kamarku sendiri (semua kamar di rumah ini kebetulan tidak berpintu, hanya kain kelambu saja sebagai penutupnya), lalu perlahan-lahan menuju ke kamar Bulik di sebelah. Aku perlahan-lahan mengintip lewat kelambu ke dalam kamar Bulik. Ternyata benar dugaanku, Bulik sudah tertidur nyenyak dengan posisi miring menghadap ke tembok, sinar lampu kamar yang temaram membantuku untuk menuju ke tepian ranjang Bulik Tin. Sesampainya di tepi ranjang, keringat dinginku sudah mengucur deras tidak karu-karuan, aku berusaha berpikir untuk membatalkan saja rencana gila ini. Tetapi melihat tubuh Bulik Tin yang hanya sejangkauan tanganku saja, aku mengeraskan tekad untuk melanjutkan.

Perlahan lahan aku mulai mengetes kenyenyakan tidur bulik, tanganku sengaja mencolek-colek tubuhnya yang membelakangi aku, tidak ada reaksi. Berarti Bulik sudah tidur nyenyak sekali. Kini tanganku beralih ke tepian bawah dasternya, perlahan-lahan berusaha menyingkapkan daster itu ke atas, aku berusaha meminimalkan segala gerakanku. Perlahan-lahan nampaklah kedua paha mulus Bulik, hingga kedua pantatnya yang masih terbungkus oleh celana dalamnya tepampang jelas dihadapanku.
Bluefame.com
Aku menghela nafas perlahan, jantung berdegup kencang. Sedikit lega karena langkah pertama berjalan tanpa hambatan. Lalu aku memberanikan diri menuju ke tahap selanjutnya. Dengan menahan nafas, tanganku meraih tepian karet celana dalam Bulik, dengan sangat perlahan dan hati-hati, kutarik celana dalam itu ke arah bawah. 1 cm, 2cm, 3cm.....10cm, dan akhirnya tersangkut dan makin berat. Aku bingung bagaimana caranya celana dalam dibagian bawah (yang tertindih tubuh bulik) bisa ikut melorot?

Ditengah tengahnya aku mencari akal, tiba-tiba Bulik membalikkan badan, dengan panik aku menundukkan tubuh, lalu bergeser masuk kolong ranjang. Agak lama aku menunggu, setelah dirasa aman, pelahan-lahan aku kembali berdiri di tepian ranjang bulik. Kini posisinya tidur terlentang. Hampir saja aku bersorak kegirangan, bulu-bulu vaginanya sudah terpampang di jelas dihadapanku, dengan sedikit sentuhan yang sangat hati-hati, akhirnya terpampanglah pemandangan indah dihadapanku, gundukan vaginanya yang membukit dengan sedikit bulu-bulu halus diatasnya. Celana dalam nya sudah kupelorotkan hingga ke paha. Dengan perlahan-lahan kudekatkan kepalaku persis di hadapan vagina Bulik. Aku berusaha memperhatikan vaginanya, ternyata lain dari yang pernah aku lihat di film-film BF nya si Manto. Punya Bulik ini terlihat lebih mulus dan lebih indah bentuknya, dengan gundukan mungil dan belahan diatasnya, membuatku semakin penasaran.

Perlahan-lahan aku memberanikan diri untuk menyentuhnya, mulai dengan bulu-bulunya hingga semua permukaannya bisa kuelus sempurna. Manukku ngaceng lagi!

Dengan sesekali memperhatikan wajah bulik yang tertidur, jari telunjuk dan jempolku berusaha ‘membuka’ belahan itu. Tercium aroma khas yang aku sendiri belum tau, pokoknya dibilang harum juga tidak, dibilang bau juga tidak, baru kali ini aku mencium aroma yang tak bisa kugambarkan ini. Terlihat sedikit tonjolan daging di atas belahan vagina yang kubuka ini, lalu agak kebawah sedikit, dengan bantuan lampu temaram aku melihat lipatan-lipatan kecil membentuk lubang kecil diantara pahanya. Rasa senang bercampur debar-debar ketakutan bercampur aduk jadi satu. Inilah pertama kalinya aku menyentuh dan melihat bentuk vagina dari jarak sedekat ini.Bluefame.com

Setelah puas aku memandanginya, kini aku beralih ke tubuh Bulik Tin bagian atas, kesenangan belum terhenti! Dengan perlahan-lahan juga aku mulai menyibakkan daster bulik keatas (entah darimana aku mendapat keahlian dan kesabaran seperti ini), hingga susu bulik Tin yang tak terbungkus BH terlihat seutuhnya. Darahku berdesir kencang melihat kemontokan susu Bulik Tin dari jarak sedekat ini.

Aku meneguk ludah memandang kemontokan susu Bulik Tin. Bentuknya membulat sempurna, kulitnya bersih dan mulus serta kenyal. Aku memberanikan diri menyentuh susu Bulik yang sebelah kanan, rasanya benar-benar seperti di awang-awang. Belum pernah aku merasakan kegirangan seperti saat ini. Maklum saja seumur-umur ya baru kali ini aku menyentuh susu seorang wanita.

Setelah puas menggerayangi kedua susu Bulik Tin, aku memberanikan diri mendekatkan mulutku pada puting susunya. Seperti yang pernah aku tau di film-film BF nya si Manto, aku jadi kepengen menjilati puting susu beneran. Perlahan-lahan aku menjulurkan lidah menyapu seluruh permukaan puting susunya Bulik. Saking enaknya tanpa sadar aku juga mengemuti puting itu seperti bayi menyusu pada ibunya.

“Ehm...mmmm..” Tiba-tiba Bulik mengerang pelan. Hampir copot jantungku! Secepat kilat aku bersembunyi di kolong ranjang.

Dengan cemas aku menunggu reaksi selanjutnya dari Bulik Tin. Terdengar derit ranjang diatasku.

‘Mati sekarang aku! Bulik pasti marah besar!’ aku membatin dalam hati, sambil berharap itu tidak akan terjadi.

Beberapa lama kemudian, ternyata tidak ada reaksi apa-apa, ternyata Bulik masih tertidur dengan nyenyaknya. Aku memberanikan diri keluar dari kolong tempat tidur. Di ranjang ternyata bulik sudah berpindah posisi menghadap ke tepian ranjang, dasternya masih tersingkap diatas perut (sehingga susunya tidak terlihat lagi sekarang). Rasa lega menyelimuti aku, tetapi aku sudah tidak berani mengambil resiko lagi. Dengan perlahan-lahan aku berusaha merapikan celana dalam bulik keatas, sehingga vaginannya kembali tertutup, walaupun tidak sempurna, tetapi aku rasa sudah cukup. Lalu aku juga membenahi dasternya hingga menutup tubuh Bulik seutuhnya.

Setelah kembali ke ranjangku sendiri aku baru merasa aman dan lega. Manukku dari tadi terasa ngilu karena ngaceng terus sedari tadi. Aku berusaha memejamkan mata untuk tidur, tetapi bayang-bayang mulusnya tubuh Bulik Tin, aroma vaginanya yang khas, dan susunya yang montok terus berada di otakku. Setelah lama kemudian, akhirnya aku malam itu tertidur dengan mimpi-mimpi yang dipenuhi oleh tubuh mulus Bulik Tin.

***

Ketika aku terbangun pada pagi harinya, rasa kuatir itu kembali muncul. Bayangan akan kemarahan Bulik Tin sungguh membuatku menciut. Takut kalau Bulik tahu perbuatanku tadi malam. Aku terdiam lama di ranjang tanpa berani keluar kamar, walaupun sebenarnya aku sudah terbangun dari tadi.

“Tok, bangun gih, udah siang tuh” tiba-tiba Bulik Tin masuk ke kamarku, dia sudah berpakian rapi hendak berangkat mengajar. Aku menggeliat, berpura-pura baru bangun tidur.

“Iya Bulik, ini udah bangun kok” sahutku malas.

Bulik Tin tersenyum kecil, lalu duduk disamping ranjangku.

“Bulik berangkat dulu yah, tuh si Jalu sudah Bulik keluarin di belakang rumah. Dasar kamu molor terus sih!” kata Bulik Tin sambil mencium kedua pipiku. Dengan langkah agak pincang Bulik keluar dari kamarku. Aku bernafas lega, ternyata Bulik tidak tahu sama sekali tentang kejadian tadi malam.Bluefame.com

Aku meloncat dari ranjang dan keluar kamar, Bulik Tin sudah berjalan di halaman depan rumah.

“Ati-Ati di jalan Bulik!” Seruku. Bulik Tin hanya melambaikan tangan sambil tersenyum padaku.

Sejak saat itu, ketika Bulik sudah tertidur nyenyak, aku hampir tiap malam menjalankan ‘hobi’ baruku. Menjamah-jamah tubuh Bulik Tin yang mulus. Sesekali aku mendapat ‘rejeki’, ketika Bulik Tin hanya memakai daster saja tanpa memakai celana dalamnya, jadi aku tidak perlu-repot-repot untuk berjuang membuka celana dalamnya. Bahkan mulai melangkah lebih jauh lagi, terkadang apabila posisi Bulik Tin memungkinkan, manukku aku gesek-gesekkan dengan pelan di vaginanya, rasanya enak banget. Kadang-kadang dengan berani aku tempelkan manukku di bibir Bulik Tin. Rasa takut beserta nikmat menjadikanku ketagihan melakukannya. Bahkan aku tergoda sekali untuk merasakan bagaimana rasanya kalau manukku nancep (menancap) di vaginanya Bulik. Tapi tentu saja aku tidak mungkin punya keberanian sampai begitu, bagaimana nanti kalau Bulik tiba-tiba terbangun, bisa mati konyol aku!

Suatu malam aku merasakan lagi terangsang berat, tadi siang sampai 2 kali aku memutar film BF yang artisnya mirip ama wajah Bulik Tin di rumah Manto. Di luar hujan deras sekali sejak habis mahgrib tadi, padahal ini baru jam 8 malam, tetapi Bulik Tin sudah tidur di kamarnya, capek katanya. Aku duduk dengan gelisah di ruang tamu, majalah dan koran dari tadi sudah kubaca semua, bahkan kebanyakan aku tidak berkonsentrasi membacanya. Bayangan wajah dan tubuh artis BF yang mirip Bulik bergantian dengan tubuh mulus Bulik Tin terus berkelebat di otakku. Manukku makin ngaceng berat! Aku sudah tidak tahan lagi!

Segera aku membereskan koran dan majalah yang berserakan di ruang tamu, lalu aku pelan-pelan berjingkat menuju kamar Bulik Tin. Seperti biasa aku mengintip dulu ke dalam, memastikan Bulik tidur dengan nyenyak. Ternyata memang Bulik Tin sudah tertidur terlentang. Bahkan lampu kamarnya lupa dia matikan. Sengaja malam ini aku hanya memakai sarung tanpa celana dalam.Bluefame.com

Setelah aku berada di tepian ranjang, seperti biasa aku menyingkapkan bagian dasternya ke atas, karena mungkin sudah terlatih, kini dasternya aku singkapkan hingga ke leher Bulik. Ternyata malam ini aku beruntung sekali, Bulik Tin tidak memakai apa-apa dibalik dasternya. Tubuhnya yang telanjang, putih mulus, terpampang jelas dihadapanku.

Setelah itu aku pelan-pelan menaiki ranjangnya, lalu tanganku mengatur posisi kedua kaki bulik hingga membuka lebar dengan kaki menekuk (seperti posisi orang mau melahirkan). Dengan agak menunduk, kini aku bisa melihat jelas secara keseluruhan bentuk vagina Bulik Tin. Seperti kue apem, agak montok dengan belahan di tengahnya. Aku mendekatkan wajahku disana, lalu seperti biasa, aku mulai menjilati seluruh permukaan vaginanya, bahkan kini aku memberanikan diri untuk membuka sedikit belahan vagina, dan menyapukan lidahku di dalam situ. Cairan yang aku tidak tau apa namanya, dan bau khas vagina Bulik memenuhi mulut dan hidungku, belepotan. Kini aku sudah tidak tahan lagi melihat belahan vagina yang merekah indah berkilauan karena ludah dan cairan vagina Bulik Tin. Aku mengangkat sarungku keatas, hingga manukku yang sudah ngaceng dari tadi terbebas sempurna.

Perlahan-lahan aku mengarahkan manukku di belahan vagina Bulik Tin yang sudah basah itu. Posisiku setengah berlutut dengan rendah sekali, kedua lutut kakiku melebar ke samping kanan dan kiri. Hingga posisi manukku kini persis di belahan vagina bulik. Lalu aku mulai menggesek-gesekkan manukku di belahan vagina Bulik Tin itu. Rasanya enak sekali, licin dan seperti dicucup oleh bibir vaginanya. Lama lelamaan belahan vagina itu makin melebar, kini aku bisa melihat sebuah lubang di bagian bawah belahan vagina Bulik.

Hilang sudah akal sehatku, aku benar-benar terangsang hebat! Manukku rasanya sudah ngilu menahan birahi sedari tadi. Perlahan-lahan aku berusaha menempatkan manukku di depan liang vagina Bulik Tin. Lalu kutekan pelan-pelan hingga setengah dari ‘helm baja’ku masuk di dalam liang vagina itu. Walaupun vagina Bulik sudah basah, tetapi rasanya sangat sempit, dan manukku serasa dipilin. Baru saja aku hendak meneruskan aksiku....Bluefame.com

“Mmmm...emmm...” Tiba-tiba Bulik Tin mengecap-ngecapkan bibir di dalam tidurnya. Jatungku sempat berhenti sesaat, keringat dinginku semakin deras mengalir. Posisiku terdiam kaku dengan ‘helm’ku masih menancap separuh di lubang vaginanya. Dalam posisi seperti ini, tidak mungkin aku bisa sembunyi, secepat apapun aku bergerak, pasti Bulik memergoki aku.

Untungnya hanya sebatas itu. Bulik tidurnya benar-benar seperti orang mati, nyenyak sekali, mungkin karena kecapekan kali. Setelah beberapa saat aku kembali bernafas lega, dadaku terasa sesak, karena tanpa sadar aku menahan nafas lama. Kembali aku berkonsentrasi pada bagian bawah tubuhku. Pelan-pelan aku menekankan manukku ke liang vagina bulik, ‘helm’ku sudah masuk seluruhnya. Aku mengedip-ngedipkan mata merasakan manukku seperti dijepit dan dipilin, secara naluriah aku menarik kembali keluar manukku, gesekan antara bibir vagina dan dinding ‘helm’ku menimbulkan sensasi kenikmatan tiada terkira! Lalu dengan pelan aku kembali menekankan manukku ke lubang vagina, hanya sampai sebatas ‘helm’ yang bisa masuk, lalu kembali aku menarik keluar, suara ‘pop’ keluar dari situ. Aku kegirangan, benar-benar enak nih!

Semakin lama aku semakin tidak waspada, rasa enak disekeliling manukku mengalahkan segala-galanya! Setelah beberapa kali aku mencoba memasuk-keluarkan ‘helm’ ku di liang vagina Bulik Tin yang basah, aku merasakan kedutan-kedutan di buah zakarku, rasa ingin kencing melanda hebat seluruh selangkanganku. Aku berusaha menahan rasa ingin kencing itu, karena aku tidak mau meninggalkan ‘permainan baru’ ini walau barang sejenak.Bluefame.com

Tetapi sekuat-kuatnya aku menahan, akhirnya bobol juga pertahananku, aku menggeram pelan, disertai denyut-denyut di manukku, lalu muncratlah sperma di sekeliling vagina Bulik Tin, agak banyak, bahkan sebagian spermaku tumpah di belahan vaginanya. Aku terengah-engah menikmati sisa-sisa kenikmatan yang melandaku barusan. Hampir saja aku jatuh ketika berusaha turun dari ranjang Bulik Tin, kakiku masih terasa lemas dan gemetaran. Cepat-cepat aku membenahi daster Bulik tanpa sempat membersihkan tumpahan spermaku, lalu aku langsung ngibrit ke kamarku sendiri.

Hujan masih sangat deras ketika aku tertidur dengan memimpikan kentu dengan Bulik Tin.

***

Besok paginya, ketika bulik sudah berangkat ke sekolah, aku berusaha mencari akal, bagaimana biar aku bisa kentu dengan Bulik. Pengalaman pertama, walaupun tidak bisa disebut kentu, tetapi sangat membuatku kepingin mencoba lebih jauh lagi.

Sampai Bulik Tin pulang, aku masih belum bisa menemukan caranya. Rasanya jadi jengkel sendiri. Tapi aku berpikir positif aja, bahwa masih banyak waktu untuk menemukan caranya.

Bulik Tin sudah memakai daster kesayangannya, dia berada di dapur menyiapkan lauk yang tadi dibelinya untuk makan siang untuk kita berdua. Aku hanya memandangi tubuh Bulik Tin dari belakang, sinar matahari yang menerobos genting kaca dapur, menimbulkan bayangan eksotis di tubuh Bulik Tin, daster tipisnya seakan-akan menjadi tembus pandang oleh karena sinar matahari tadi. Manukku ngaceng lagi.Bluefame.com

“Tadi bapakmu telepon Bulik di sekolahan. Dia menanyakan kabar kita disini. Bulik jawab kalo bapakmu itu tidak usah kuatir, karena bulik masih bisa ngopeni(memelihara) kamu.” Bulik berkata sambil menyiapkan lauk-pauk di meja makan. Aku menghampirinya lalu memeluk Bulik Tin dari belakang. Manukku yang sedang ngaceng menempel erat di pinggulnya.

“Terima kasih ya lik, Lalu bapak ngomong apa lagi?” tanyaku sekedar lalu, tetapi konsentrasiku ada di bagian bawah tubuhku, dengan hanya dibatasi celana kolor, manukku terasa menempel di bagian belahan pinggul Bulik Tin. Sengaja aku agak menekan dan menggesek-gesekkan sedikit di bagian itu.
“Cuman berpesan, kalo kamu harus segera cari gawe(kerja), biar ndak ndomblong(melamun) terus ndek rumah.” Jawab Bulik Tin sambil memiringkan kepalanya menghadap ke belakang. Manukku tetap menggesek di belahan pinggulnya.

“Ndak ngomong pulangnya kapan lik?” tanyaku lagi, tanganku memeluk perutnya yang rata, lalu perlahan-lahan menggeser ke atas tepat dibagian bawah susunya.

“Lha ya ndak perlu toh tok, wong bapakmu itu kontraknya masih 3 tahun lagi lho! Napa? Emange kangen ama bapak yah?” tanya Bulik sambil tersenyum kecil, dia mengambil gelas dan ceret di meja. Kedua jempol jari tanganku sudah mengelus bagian bawah susunya.

“Iya sih lik. Walaupun gitu totok masih senang disini ama Bulik” Manukku sudah menempel tepat di bagian belahan selangkangannya.Bluefame.com

“O ya, bapakmu juga ngomong kalo minggu depan sudah isa ngirim uang. Pesen ama Bulik kalo uange ndak boleh dibuat jajan ama kamu.” Bulik Tin cekikikan, menggodaku. Tanganku beralih ke samping susunya. Kanan dan kiri.

“Yah, kok gitu? Lagian aku apa ya pernah macem-macem kalo Bulik kasi uang? Jajan aja juga jarang kan?” sahutku pura-pura cemberut. Kedua telapak tanganku menangkup kedua sisi susu Bulik Tin.

“Iya iya, kamu emang ndak pernah jajan dan neko-neko (macam-macam). Bulik percaya kok.” Bulik Tin mungkin menyadari keganjilan pelukanku sehingga dengan halus dia melepaskan diri dan mulai duduk di kursi makan. “Dah, cepet makan tuh, bulik belikan jangan terung (sayur terung), ama tongkol goreng kesukaanmu” perintah Bulik sambil mengambil nasi untuk dirinya.

Aku juga segera duduk disebelahnya, lalu mulai mengambil nasi dan lauk-pauk, dan kami bersantap siang bersama. Manukku masih ngaceng.

****

Malam harinya hujan turun deras sekali, padahal ini malam minggu, hawanya pun dingin menggigit. Sesudah makan, Bulik Tin sekarang lagi asyik-asyiknya setengah tiduran (punggungnya bersandar di bantal yang disenderkan ke tembok) di matras sambil nonton sinetron di TV, aku juga ikutan tiduran di sebelahnya, pura-pura ikut nonton sinetron, padahal ndak mudeng sama sekali, karena memang dari dulu aku tidak suka sama sekali ama yang namanya sinetron. Tujuan utamaku hanyalah ingin sedekat mungkin dengan tubuh Bulik yang wangi itu. Malam itu sengaja aku telanjang dada dan hanya memakai sarung tanpa celana dalam. Kadang-kadang jika TV lagi menayangkan iklan, Bulik bercerita tentang kegiatannya di sekolah tempat dia mengajar, tentang murid-muridnya, pokoknya macem-macem deh. Tapi kalo sinetronnya sudah mulai lagi, maka dapat dipastikan Bulik Tin bakalan terpaku dan begitu menghayati isi ceritanya.

“Tadi ada salah satu rekan guru Bulik bercerita kejadian yang lucu” Bulik mulai bercerita ketika jeda iklan. Aku sengaja makin merapat dan setengah memeluk tubuh Bulik Tin.

“Nah, dia itu punya tetangga, juragan sapi di desanya, suatu hari ada bule ke rumahnya dia, ternyata tanpa sengaja tahu kalau di pojok halaman belakangnya dia tumbuh tanaman hias, itu loh...apa ya namanya... “(bulik mengerutkan kening tanda berusaha mengingat-ingat). Aku makin merapatkan tubuhku ke tubuh Bulik dengan lagak serius mendengar ceritanyaBluefame.com

“...o ya, jenmani atau jemani gitu loh, pokoknya tanaman hias yg lagi ngetren sekarang itu loh.” Akhirnya Bulik bisa juga mengingatnya. Aku menyandarkan kepalaku di atas dada Bulik, tanganku yang sebelah kanan memeluk perutnya. Kain dasternya yang halus serasa membelai pipiku.

“Nah ceritanya, si bule ini menawarkan harga sekitar 300 jutaan buat tanaman itu, ternyata secara tidak sengaja tanaman hias tadi tumbuh dengan indahnya dan dengan bentuk daun yang sempurna, makanya si bule berani beli dengan harga segitu.” Secara alamiah (karena tertindih tubuhku) tangan Bulik Tin merangkulku dan membelai-belai lengan kananku. Tanganku sendiri mengelus-elus lembut perut Bulik.

“Si juragan sapi ini girang, tetapi dia masih belum mau melepaskan tanaman itu, dia sengaja minta waktu untuk berpikir lagi, dan si bule pun juga setuju.” Bulik Tin meneruskan ceritanya sambil sekali-kali menciumi rambutku yang tebal. Mungkin suka bau shampoo yang aku buat keramas tadi sore. Sebetulnya itu biasa saja, karena Bulik dari dulu memang begitu, tetapi aku semakin hanyut dan jantungku makin berdegup kencang. Aku teringat lagi pemain BF yang wajahnya mirip ama Bulik Tin.

“Setelah banyak bertanya dan mendapatkan informasi, maka tahulah nilai tanaman si juragan sapi ini ternyata harganya bisa mencapai 400 jutaan. Lalu juragan sapi ini menghubungi segera kenalan bulenya tadi. Ganti bule itu yang minta waktu berpikir kira-kira 2 harian.” Ga biasanya Bulik terus bercerita, padahal jeda iklan sudah selesai, dan sinetron sudah mulai lagi. Aku menurunkan kepalaku sedikit, hingga posisinya kini diatas susu Bulik Tin yang sebelah kanan, dalam hati aku bersorak girang karena dibalik dasternya seperti biasa, Bulik memang tidak memakai BHnya. Rasa kenyal susu Bulik Tin menmanjakan pipiku sekarang.

“Tahu ga tok? Si bule sudah sepakat setuju membayar dengan harga segitu, malam hari sebelum besoknya si bule bakal melakukan transaksi, ternyata beberapa sapi di kandang si juragan itu ternyata lepas, pagi harinya si juragan sapi baru tahu, kalo sapi-sapinya itu telah makan daun tanaman hiasnya hingga habis!” Bulik Tin berhenti sebentar sambil terkikik geli, aku juga mau tidak mau tertawa kecil.Bluefame.com

“ Bayangkan! 400 juta habis dalam semalam karena dimakan sapi!” Bulik Tin kini tertawa lepas, dadanya berguncang, membuatku makin terangsang.

“Lah terus juragan sapi ama bulenya gimana dong lik?” Tanyaku. Aku menoleh ke atas, memandang wajah Bulik. Tanganku bergeser kebawah, hampir diatas vaginanya.

“Nah itu dia tok! Si juragan sapi ini akhirnya jadi stress dan gila, sapi-sapinya bahkan dia bunuhi dengan cangkul!” Bulik berkata sambil begidik ngeri.

“Benar-benar lucu sekaligus kasihan yah” kataku lagi. Bulik mengecup keningku dengan sayang.

“Makanya tok, uang bisa bikin kita terlena bahkan sampai bisa gila gitu juga karena uang!” Bulik Tin melanjutkan sambil menarik nafas panjang. Kini perhatiannya tercurah lagi pada layar televisi. Perhatianku kembali teralih pada tubuh Bulik. Tanganku berhati-hati mengelus-elus dengan pelan bagian atas vaginanya, sedangkan kepalaku juga sedikit bergerak-gerak untuk mendapatkan kekenyalan dari susunya. Sungguh sensasi erotis tersendiri.

Bulik Tin menggeser posisinya agak menyamping, mungkin karena agak pegal karena bagian tubuh kanannya tertindih oleh tubuhku. Tapi ini semakin menggembirakan diriku, karena kini posisi Bulik Tin agak menyamping berhadapan denganku. Walaupun kini kepalaku menyandar di bantal, tetapi tepat dihadapan wajahku adalah kedua susu Bulik Tin. Sedangkan tanganku kini berada di pinggulnya. Pelahan-lahan, aku menggeserkan kepalaku hingga sebagian mukaku menempel ke susunya Bulik. Bahkan tonjolan putingnya juga dapat kurasakan menyentuh kulit mukaku.

Hampir saja aku tergoda untuk menjilati puting susunya yang masih berada di balik daster. Untung saja aku dapat menahan diri untuk tidak mencobanya. Padahal tinggal aku menjulurkan lidah, maka puting susunya pasti dapat kusentuh dengan lidahku.

Tanganku yang sebelah kanan beralih ke atas dengan posisi menekuk hingga menyentuh susu bulik yang sebelah kiri. Dengan begini Bulik tidak curiga kalo aku sengaja menempatkan tanganku di susunya, karena dalam posisi seperti ini bulik mungkin berpikir kalau aku hanya memeluk manja saja. Tapi dengan sangat hati-hati aku melebarkan telapak tanganku hingga menangkup susu bulik yang sebelah kiri. Dengan sengaja aku menguap tanda mengantuk, supaya nanti Bulik mengira kalau aku memang tertidur.Bluefame.com

Walaupun tidak direncanakan, karena gerakan tadi ternyata tali daster Bulik Tin yang sebelah kanan agak melorot, sehingga bagian atas susu sebelah kanannya kini terbuka dan bersentuhan dengan pipiku langsung. Dalam hati aku benar-benar senang sekali! Rasa hangat dan halusnya kulit susu Bulik Tin membuat birahiku makin naik.

Kini perlahan-lahan dengan daguku aku menggeser tepian daster bagian atas sebelah kanan kebawah, cukup pelan hingga Bulik tidak curiga dengan gerakanku. Kini puting susunya yang kecoklatan sudah terlihat , dan menyentuh daguku langsung. Mungkin karena hawa dingin, puting susu Bulik Tin tampak mengacung indah. Aku meneguk ludah ketika melirik ke bawah, sungguh pemandangan yang indah bagiku!

Sengaja aku mengeluarkan dengkur halus, supaya Bulik benar-benar mengira aku sudah tertidur. Aku menggeserkan kepalaku kebawah dengan pelan hingga kini puting susu sebalah kanan tepat di permukaan bibirku. Sejenak aku merasakan degup jantungku semakin berdebar kencang. Kurasakan gerakan pelan dada Bulik yang menarik nafas, sinetron di TV terus berlanjut.
Kugerakkan bibirku perlahan hingga puting susu Bulik yang mungil itu terletak diantara kedua belahan bibirku. Sampai disini aku terdiam, bingung untuk melakukan langkah selanjutnya, bukan tidak mungkin lama-kelamaan Bulik curiga dengan semua tingkahku. Lama aku dalam keadaan seperti ini hingga akhirnya akal sehatku sudah kalah oleh nafsu birahiku yang sudah memuncak. Perlahan-lahan aku membuka mulutku dan memasukkan puting mungil itu kedalam mulutku.

Benar saja, kelihatannya Bulik agak kaget, sehingga agak menggeser tubuhnya. Aku diam, sambil memjamkan mata, berpura-pura tertidur. Tidak ada reaksi selanjutnya dari Bulik Tin. Aku menebak-nebak, mungkin dia kembali mengikuti sinetron yang ada di TV.

Hampir saja aku meloncat kaget (untung saja aku menyadari kalau aku sedang berpura-pura tertidur). Tangan Bulik menyentuh pelan manukku yang memang sudah ngaceng dari tadi. Aku berusaha membuka mata sedikit untuk melihat kebawah. Waduh! Pantes saja, dengan hanya memakai sarung dan tidak memakai celana dalam, otomatis manukku yang ngaceng itu menyembul tegak dibalik sarungku itu. Pasti Bulik juga mengetahui hal itu.

Samar-samar aku melihat tangan bulik yang kelihatan ragu-ragu menyentuh tonjolan di sarungku. Lalu kemudian dengan pelan sekali aku melihat Bulik menggenggam manukku yang masih terbungkus sarung, mungkin dia masih mengira aku tertidur. Tidak sekedar menggenggam saja kelihatanya, dia mulai mengelus-elus pelan manukku! Perasaanku saat itu tidak karuan. Ini baru pertama kalinya manukku disentuh oleh seorang wanita. Walaupun masih dibatasi dengan kain sarung, tetapi aku sudah membayangkan halusnya tangan Bulik Tin itu.Bluefame.com

Aku kembali kecewa lagi, ternyata hanya sekejab saja Bulik menyentuh manukku itu. Tetapi aku tahu, lewat desahan nafasnya, dan gerakan di dadanya, kalau Bulik sebenarnya tergoda untuk melakukan lebih jauh. Aku kini sengaja menempelkan lagi bibirku di puting susunya. Tidak ada reaksi penolakan, aku kembali membuka bibirku dan memasukkan puting susunya di mulutku. Bulik diam saja. Tanganku kini makin berani, agak meremas lembut di susunya sebelah kiri. Kurasakan putingnya di telapak tanganku, hanya dibatasi oleh kain daster. Sinetron di TV masih memainkan perannya, demikian juga aku.

“Tok...tok?” Kudengar suara Bulik pelan memanggil namaku. Aku diam saja, biar dia mengira kalau aku memang benar-benar sudah tertidur. Tak lama kemudian kembali Bulik Tin memanggil namaku.

“Tok...tok?” sambil menyentuh pelan lenganku. “Wes turu tenan koyok’e”(dah tidur kayanya), kudengar Bulik bergumam sendiri.

Tak lama kemudian Bulik menggeserkan badannya, kini dia dalam posisi duduk, dari tempatku aku hanya bisa melihat punggungnya. Agak gelisah kelihatannya, terlihat dari menggeser-geser pantat di posisi duduknya. Walaupun mataku setengah terpejam, samar-samar aku masih bisa melihat seluruh gerakannya. Dia melihatku sebentar, mungkin untuk memastikan kalau aku memang benar-benar sudah tertidur. Posisiku kini terlentang, sehingga tonjolan di sarungku terlihat jelas oleh Bulik Tin.

Tangannya perlahan-lahan menyentuh tepian bawah sarungku. Ada keragu-raguan sebentar disana, Bulik kembali menoleh kearahku. Lalu perlahan dia menyibakkan sarungku keatas. Hawa dingin langsung membelai paha dan selangkanganku. Kini manukku terbuka seluruhnya. Bulik Tin terlihat agak kaget dengan ukuran manukku yang sedang ngaceng. Dia menoleh lagi ke arahku. Setelah dirasanya aman, aku melihat Bulik Tin dengan ragu-ragu memandangi seluruh bentuk dari manukku. Tanpa disangka-sangka dia pun mulai menggenggam dengan lembut. Aku menggelinjang pelan, rasa dingin dan kehalusan telapak tangan Bulik Tin menyentuh kulit manukku.

Tak dapat dilukiskan bagaimana perasaanku ketika tangan bulik pelan-pelan melakukan gerakan mengocok manukku. Kini tangan Bulik yang satunya juga membelai-belai buah zakarku. Sungguh mati, apabila tidak dalam keadaan berpura-pura begini, aku sudah berteriak keenakan.Bluefame.com

Tanpa sadar aku menggerak-gerakkan pinggulku mengikuti irama kocokan Bulik. Agak lama Bulik akhirnya sadar kalau gerakanku tidak wajar. Secepat kilat dia melepaskan genggamannya dan menutup sarungku kembali. Lalu dia mengalihkan perhatiannya di sinetron TV lagi. Bulik kembali merebahkan diri di sampingku.

Aku merasakan nafas Bulik Tin yang tidak teratur di rambutku, dadanya naik turun siiring dengan tarikan nafasnya, cepat. Aku kembali berpura-pura menggeliat dan kembali memeluk tubuh Bulik Tin. Kini Bulik Tin sengaja memiringkan badannya berhadapan denganku, seperti posisi pertama tadi, kedua susu Bulik tepat dihadapan wajahku. Manukku tepat diantara kedua belahan pahanya.

Aku merapatkan kepalaku di susu Bulik, entah sengaja atau tidak, kini belahan daster yang bagian atas makin melorot sehingga hampir separuh kedua susunya terlihat olehku. Aku kembali menempelkan pipiku di permukaan kulit susu Bulik yang sebelah kanan, rasanya halus dan hangat. Aku juga menyadari nafasku juga semakin memburu. Tetapi aku berusaha untuk bersabar. Belum waktunya.

Dengan gerakan kecil bibirku kembali mendaptkan puting susu Bulik Tin. Kali ini Tidak ada reaksi dari Bulik Tin. Dia diam saja membiarkan bibirku kembali mengemut puting susunya. Aku merasakan tangan Bulik meremasi rambutku, nafasnya makin tidak teratur ketika aku pelan-pelan mulai mencucup puting susunya.

“Tok....tok...? Kembali Bulik memanggil namaku, suaranya terdengar agak serak. Aku diam saja, kini aku sudah berani menggunakan lidahku menari-nari disekeliling puting susunya Bulik yang ada didalam mulutku. Tangan Bulik yang sebelah kanan meremas-remas lenganku dengan gelisah. Bahasa tubuhnya mengisyaratkan dia sudah terangsang.

Aku menggeser sedikit pinggulku sehingga manukku berada tepat disebelah bawah daerah selangkangannya. Kurapatkan sedikit di belahan pahanya, tidak kusangka Bulik Tin malah menumpangkan pahanya diatas pahaku. Tanganku sendiri juga tidak tinggal diam , dengan gerakan pelan aku memilin-milin puting susu sebelah kiri dibalik dasternya. Bulik bereaksi, tubuhnya sesaat menegang, lalu bergerak-gerak dengan gelisah.

Tangan kiri Bulik meluncur kebawah, dengan agak ragu-ragu dia menggenggam tonjolan di sarungku, setengah mengelus. Kini aku sudah tidak bisa berpura-pura lagi, sitasi semacam ini membuat birahiku makin naik tinggi. Aku mengerang pelan, merasakan kenikmatan elusan tangan Bulik. Entah apa yang sudah merasuki pikiran Bulik Tin, dengan berani dia menyibakkan sarungku keatas sehingga dia leluasa untuk menggenggam langsung manukku. Aku semakin berani, kini mulutku tidak berpura-pura lagi, aku sudah menjilati dan menyedot puting susu mungil Bulik, sementara tanganku kini meremas-remas lembut susu Bulik yang satunya. Sinetron di TV sudah tidak menarik lagi.

Bulik tanpa sadar mengerang lembut, dia mungkin juga sudah menyadari kalau aku tidak tertidur lagi. Tetapi Bulik Tin juga diam saja, seakan-akan menyetujui semua perlakuanku. Kini mataku sudah terbuka seutuhnya, gerakan tanganku sudah tidak pura-pura lagi, tetapi sudah mulai berani menarik turun tali daster Bulik Tin, hingga kedua susunya terlihat seutuhnya. Bulik Tin sudah sepenuhnya merebahkan diri di matras, sedangkan aku berusaha mengikuti gerakannya agar puting susunya tidak terlepas dari mulutku.

Mata Bulik terpejam, sedangkan mulutnya setengah terbuka, aku beralih ke puting susu sebelah kiri. Sedangkan tanganku kini berusaha menyibakkan dasternya dari bawah.

“Ehmm...mmm....tok....mmm...” erang Bulik. Bunyi kecupan dan kecipak ludahku di puting susunya seakan menyatu dengan irama nafas kami berdua.

Tanganku sudah berhasil menyibakkan dasternya hingga ke perut, lalu segera beralih ke celana dalamnya. Barus saja kupelorotkan hingga ke paha, tiba-tiba tubuh Bulik menegang.

“Tok! Ojok le(jangan nak)...!! Aku Bulikmu....!!!” Bulik akhirnya menyadarinya. Dengan tergesa dia membenahi pakaiannya, belum sempat dia membetulkan celana dalam tanganku menahannya.

“Bulik, kenapa? Totok sayang sama Bulik” ceracauku bingung mau ngomong apa. Bulik menggeleng lemah.

“Ojok le...ini salah! Aku masih Bulikmu!” matanya sayu, entah menyesal atau masih dalam keadaan terangsang.

“Memangnya kenapa lik? Bulik ndak sayang sama Totok ya?” jawabku gemetar. Tangan kananku masih mmegang celana dalamnya yang sudah melorot.

“Bukan begitu tok! Bulik sayang banget sama kamu, tapi bukan begini caranya!” suaranya bergetar ketika menjawab. Tanpa membetulkan celananya Bulik memelukku erat.

“Tapi Bulik juga ingin kan?” Tanyaku masih bingung. “Aku sayang sama Bulik!” tanganku kembali menurunkan tali dasternya.

Bulik menepis tangan kiriku yang sudah menurunkan tali dasternya hingga kedua susunya kembali terlihat. Tangan kananku beralih ke vaginanya, jariku langsung mengelus-elus klitorisnya (ini aku juga tau dari Manto). Bulik sekejap terhenyak kaget, seluruh tubuhnya gemetar, mungkin karena lama dia tidak merasakan sentuhan seorang lelaki, dengan mudah birahinya kembali naik. Tapi hanya sesaat, tangan Bulik memegang tanganku menahan jariku untuk bermain lebih lanjut di klitorisnya, reflek aku kembali mengemut puting susunya.Bluefame.com

“Sudah Tok....jangan.....” Bulik mengerang, tetapi tidak berusaha menahan kepalaku. Bulik kembali kurabahkan tubuhnya di matras, jari tangan kananku kembali mengelus-elus klitorisnya. Tubuh Bulik semakin gemetaran, mengejang hebat. Merasa mendapat lampu hijau aku berusaha melepaskan celana dalam Bulik. Kali ini tidak ada perlawanan.

Aku kembali lagi menikmati kedua puting susu Bulik Tin, sementara tanganku terus mengobok-obok vaginanya yang sudah mulai basah.

“Tok....bulik....ehm......mmmmm” Bulik memejamkan matanya, mulutnya tanpa sadar mengeluarkan desahan. Hujan deras dan hawa dingin tidak mampu menghilangkan hawa panas diantara kami.

Suara kecipak di vaginanya menandakan kalau Bulik benar-benar terangsang hebat, degup jantung dan nafasnya sudah tidak teratur. Hal yang sama juga terjadi padaku, birahiku melayang tinggi. Pelahan-lahan aku menurunkan keplaku sambil terus menjilati seluruh permukan perut Bulik, hingga akhirnya kepalaku berhadapan dengan vaginanya.

“Tok...mau apa...aaahhhhhh....sssssshhhh...” Bulik tidak sanggup meneruskan kalimatnya, karena lidahku sudah menjilati klitorisnya. Aku berusaha mempraktekkan apa saja yang aku lihat waktu aku sering nonton BF di rumahnya si Manto. Tidak sekedar menjilati saja, kini klitorisnya aku sedot juga, lalu bergantian dengan lidahku yang keluar masuk di liang vaginanya yang masih tertutup. Lidahku berusaha menyibakkan liang kenikmatan milik Bulik Tin.

Bulik Tin makin menggelinjang ketika lidahku menguak liang vaginanya, sengaja aku permainkan lidahku di daerah situ, kutekuk lidahku keatas sambil sesekali kuputar dengan gerakan kepalaku. Vagina Bulik semakin membanjir. Tanpa sadar kedua tangan Bulik meremas-remas rambutku dengan gemas, aku tidak memperdulikan hal tersebut, kedua tanganku juga melakukan gerakan-gerakan mengelus halus di paha bawah, lalu menuju keatas dengan memutar hingga ke paha bagian dalam

Setelah puas bermain di vaginanya, aku segera memposisikan diri, sarungku kulepas dengan tergesa sehingga kini aku telanjang bulat. Aku mengambil posisi setengah berlutut, dengan kakiku terbentang lebar, dan kedua kaki Bulik Tin aku posisikan menekuk (seperti orang mau melahirkan) Manukku sudah tepat di depan vaginanya, aku menekan lembut di liang vagina Bulik.Bluefame.com

“Tok...jangan tok...!! Sudah cukup...!!” Dengan panik Bulik hendak bangkit dari tidurnya, tetapi terlambat, manukku sudah mulai menyeruak liang vaginanya, kini tidak hanya sebatas ‘helm’nya saja, tetapi aku pelahan-lahan menekan masuk ke dalam liang vaginanya.

“Errrghhh....mmmmm...pelan-pelan...tok......” Bulik Tin kembali pasrah, tubuhnya kembali berbaring di matras. Tidak kupedulikan rasa terpilin, dan agak perih di kulit manukku. Sempit! Dengan hati-hati aku kembali menekan masuk di liang vaginanya. Sudah setengahnya masuk. Vagina Bulik semakin basah, tetapi aku merasakan liangnya terlalu sempit untuk kumasuki. Aku kembali menarik keluar dan berusaha menekan kembali ke dalam liang. Erangan Bulik Tin terdengar erotis di telingaku, kedua tangannya meremasi matras dibawah sedangkan kepalanya sesekali menggeleng-geleng pasrah.

Setelah beberapa kali berusaha mencoba, akhirnya manukku berhasil terbenam seluruhnya di dalam vagina Bulik Tin, bahkan masih ada bagian di pangkalnya yang masih ada di luar. Tidak bisa masuk lagi alias mentok. Aku berdiam sejenak setelah perjuanganku barusan, keringatku bercucuran, kuresapi kedutan-kedutan di seluruh dinding vagina Bulik. Setelah menyesuaikan diri sejenak, dengan alamiah aku mulai memaju mundurkan pinggulku, sehingga dinding-dinding alat kelamin kami saling bergesekan. Akhirnya aku kentu dengan Bulik Tin!

Bunyi kecipak alat kelamin kami yang saling beradu seirama dengan kedua nafas kami yang memburu. Kedua tanganku menekan paha Bulik sehingga menempel di perutnya, dengan begini vaginanya bisa leluasa menerima sodokanku. Ya tuhan! Aku terasa melayang-layang, manukku terasa diremas-remas dan dipilin dengan lembut. Seperti minyak urut, cairan vaginanya membasahi, dan dinding vaginanya mengurut-urut manukku. Rasanya benar-benar seperti terbang ke langit!

Keadaan Bulik Tin juga tidak jauh beda denganku, matanya merem melek dan bibirnya tak henti-hentinya mengeluarkan desahan berganti dengan erangan-erangan seperti sebuah simfoni yang berpadu dengan gerakan dan bunyi kecipak di vaginanya.Bluefame.com

Aku tidak bisa menahan diri lagi, makin kupercepat gerakanku, semakin bertambah nikmat yang kurasakan. Sekeliling daerah selangkangku terasa geli-geli enak dan itu menjalari seluruh tubuhku! Aku seakan-akan tidak mau menghentikan rasa senikmat ini! Terlalu nikmat malah! Syaraf-syarafku yang lain serasa mati rasa, dan otakku hanya berkonsentrasi dengan rasa nikmat yang baru pertama kali ini kurasakan!

Aku memandang Bulik dengan penuh rasa sayang. Mata kami bertatapan penuh arti, sinar hangat dari matanya yang sendu seakan berbicara ‘aku sayang kamu!’ Bibirnya setengah terbuka, mengeluarkan erangan-erangan yang menggairahkan. Kupercepat gerakanku, kami terus bertatapan, perasaanku sudah tidak dapat dilukiskan lagi! Rasa nikmat, rasa sayang bercampur baur jadi satu. Baru kali ini tatapan mata Bulik Tin seakan menembus seluruh jantungku!

“Sssshhh.....aaaaaaahhh.....rrrrr....” Bulik Tin menggeram hebat.
Tubuh Bulik Tin mengejang, sesaat vaginanya berkontraksi meremas manukku. Orgasme pertamanya.

Bagaimanapun juga aku mempertahankan desakan di buah zakarku, tetap saja aku tidak kuasa menahan gelombang orgasme yang juga melanda ku. Tidak sampai semenit setelah Bulik Tin mengalami orgasmenya, ganti aku yang mengalami sensasi terindah itu!

Tubuhku mengejang hebat, mataku seakan terbalik keatas, aku kehilangan kendali atas syaraf-syarafku. Manukku berkedut-kedut menyemprotkan sperma di liang vagina Bulik Tin! Cukup banyak hingga sebagian tumpah di bibir vaginanya.

Tubuhku melemas sesaat setelah mengalami kejadian yang menakjubkan ini! Aku merebahkan diri disamping Bulik Tin. Beberapa saat lamanya tidak ada suara yang keluar. Hanya desahan nafas kami yang tersengal-sengal. Kami masih meresapi puncak kenikmatan yang baru diraih. Walaupun udara cukup dingin dan hujan diluar tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti, tubuh kami terasa panas dan berpeluh.Bluefame.com

Aku memeluk Bulik Tin sambil mengecup pipinya dengan sayang. Bulik Tin hanya memejamkan matanya dan mengelus-elus dadaku. Sesaat kemudian dia kembali tersenyum

“Kamu bener-bener nakal tok!” Suaranya masih terdengar serak.

“Tapi Bulik suka kan?” kataku membela diri. Bulik Tin hanya tersenyum, tanpa menjawab, dia melumat bibirku, tangannya pelan mencubit manukku.

“Aku sayang sama Bulik! Sayang sekali!” aku berkata sambil memeluk tubuhnya.

“Bulik juga sayang sama kamu...” Jawab Bulik Tin, tangannya tetap mengelus-elus manukku yang sudah melemas.

Malam itu hujan tidak mau berhenti, semakin larut semakin deras saja, demikian juga aku dan Bulik Tin, serasa tidak ada hari esok, kami melakukan berkali-kali hingga fajar menyingsing.

****

Entah berapa lama aku tertidur, ketika bangun sendi-sendiku terasa mau copot. Masih di matras di muka TV. Bulik sudah tidak ada. Aku menengok ke jam dinding, sudah hampir jam 12 siang! Aku kembali tersenyum-senyum sendiri mengingat pengalaman hebat semalam. Aku bisa kentu sama Bulik Tin!

Segera aku bangkit berdiri, mencari Bulikku tercinta. Setelah beberapa saat lamanya, ternyata aku menyadari kalau Bulik sudah keluar rumah. Aku segera membersihkan diri di kamar mandi, perutkupun terasa lapar.

Sehabis mandi, aku menengok meja makan, hanya ada separuh telur dadar dan 1 tempe goreng. Karena lapar, aku segera mengambil nasi dan menyantap dengan lauk seadanya.

Barus saja aku selesai makan, terdengar suar pintu depan dibuka kuncinya dan kembali menutup. Segera aku bangkit berdiri lalu menyambut Bulik Tin yang sudah masuk ke dalam rumah.

“Nah, pasti baru bangun ya!” Bulik Tin menyambut ciumanku di bibirnya. Dengan langkah terpincang dia meletakkan tas belanjaannya.

“Dari mana lik?” Tanyaku sambil membantu membawakan tas belanjaannya ke dapur.Bluefame.com

“Belanja sekalian beli Bulik beli pil KB di kota tadi. Dasar tidak nyadar apa yang barusan kemaren malam kamu lakukan ama Bulik? Untung bukan pas masa suburnya Bulik.” jawab Bulik Tin sambil menaruh tasnya di meja.

Aku tersenyum, memang kemarin tanpa perencanaan apapun, aku tanpa sadar menyemprotkan spermaku di rahimnya. Untung Bulik segera menyadari dan membeli alat kontrasepsi.

“Sudah makan apa belum kamu tok?” Bulik berjalan tertatih menuju ke dapur.

“Sudah Bulik, tadi sama sisa telur dadar dan tempe” Jawabku. Bulik terkekeh, sambil mengeluarkan barang-barang belanjaannya.

“Bisa kenyang kamu?” Bulik bertanya sambil tertawa kecil. Karena Bulik tau kalau porsi makanku termasuk banyak.

“Kenyang ndak kenyang, wong adanya ya itu.” Kupeluk tubuh Bulik Tin dari belakang, kucium lebut bagian belakang lehernya. Bulik Tin sedikit menggelinjang. Tanganku meremas kedua susunya yang masih terbungkus kaus.

“Shh....Tok...sudah, Bulik kan juga capek...” Bulik menggeliat menghindari ciuman-ciumanku. Aku tidak menyerah, kususupkan satu tanganku dibalik kausnya, satunya lagi merogoh lewat bawah roknya. Dengan sekali sentak, celana dalamnya sudah melorot kebawah. Bulik menggeliat, menghindari, tetapi aku tau Bulik tidak berniat menghindar beneran. Agak tertatih Bulik menuju meja makan, dengan cepat kusibakkan roknya, celanaku sudah kupelorotkan hingga manukku sudah terbebas,

Kutekan punggung Bulik kedepan sehingga mau tidak mau dia menunduk, dadanya menekan meja makan. Kini pinggulnya yang telanjang terbuka bebas. Vaginanya merah merekah mengundang. Kugesek-gesekan manukku di belahan vaginanya, hingga tegang sempurna.Bluefame.com

“Ehmmm....mmm....” Bulik mendesah ketika ‘helm’ ku sengaja menggesek-gesekan belahan vagina dan klitorisnya. Walaupun liang vagina Bulik Tin sebenarnya sudah basah, sengaja aku tidak segera melakukan penetrasi, kumasukkan sedikit ‘helm’ ku lalu kukeluarkan lagi. ‘Plop!’ begitu bunyinya ketika kutarik dari liang vaginanya. Berkali-kali kuulangi gerakan itu, rasanya enak!

“Shh...udah tok.....ayo...toh...” erang Bulik Tin. Aku juga tidak bisa menahan birahi lebih lama lagi. Kulesakkan manukku ke dalam liang vaginanya, tidak berubah, masih sempit dan nikmat! Aku mulai memaju mundurkan pinggulku membentuk irama diiringi kecipak cairan vagina Bulik. Sinar matahari siang yang menembus genting kaca dapur menambah eksotisnya suasana.

Tubuh Bulik Tin berguncang-guncang ketika aku mempercepat gerakanku, Aku mengejap-kejapkan mata karena vagina Bulik seakan-akan mengurut-urut lembut seluruh batangku, rasa nikmat mengalir terus di dalam darahku.

Bulik mengerang panjang tanda dia sudah mencapai orgasme pertamanya. Aku tidak memperlambat tempo kocokanku, kontraksi orgasme di vagina Bulik Tin semakin menambah nikmat ketika aku menyodokkan manukku. Seluruh konsentrasiku tercurah pada daerah selakanganku ini. Rasanya sungguh tak terkira....!!! Manukku seakan-akan memenuhi seluruh liang vagina Bulik Tin, sementara dinding-dinding vaginanya memberikan respon dengan memijat seluruh urat-urat syaraf di batangnya.Bluefame.com

Beberapa saat kemudian, tanpa dapat dibendung lagi, akhirnya jebolah pertahanaku. Aku menggeram keras sambil menyemprotkan berjuta-juta sel sperma ke rahim Bulikku. Manukku berkedut-kedut seakan tidak henti memutahkan cairan kenikmatan itu. Kudiamkan manukku tetap didalam liang vagina Bulik, pelan-pelan cairan sperma yang tidak muat di dalam liang vagina, menetes keluar. Aku menghela nafas panjang menikmati sisa-sisa orgasmeku. Akhirnya kucabut juga manukku dari vagina Bulik. ‘PLOP’ begitu bunyinya ketika akhirnya ‘helm’ku berhasil keluar dari liang kenikmatan itu. Bulik Tin tetap tengkurap di meja makan, nafasnya masih tersengal-sengal, kakinya juga masih gemetaran sisa-sisa dari orgasme hebat yang baru dia peroleh.

“Bulik, aku sayang banget sama bulik!” kupeluk tubuhnya dari belakang, kukecup tengkuknya yang mengkilat karena berkeringat. Bulik hanya memejamkan mata sambil tersenyum, tangannya meraih rambutku yang diacak-acak dengan perasaan sayang.

“Bulik juga sayang sama kamu!” Jawabnya singkat.

****

Sejak saat itu, aku dan Bulik Tin selalu kentu, hampir setiap saat. Apalagi sejak Bulik memasang alat kontrasepsi yang bernama spiral (aku sendiri kurang tau modelnya kaya gimana), maka semakin seringlah aku dan Bulik Tin kentu. Bulik sekarang juga mau ngemuti manukku (oral seks kata si Manto), Kadang-kadang pada waktu pagi hari sebelum Bulik berangkat kesekolah, masih lengkap dengan memakai baju safarinya, hanya kupelorot celana dalamnya saja, kami melakukannya secara cepat, Bulik seringkali bersandar di pintu rumah yang tertutup, kadang-kadang aku juga kuatir kalau-kalau ada tetangga yang lewat dan tahu pintunya bergetar.
Pernah juga kami melakukannya di ruangan kelas di sekolah tempat bulik mengajar ketika semuanya sudah pulang dan susasana sepi.

Aku makin sayang sama bulik Tin

Posted at 07:31 am by pohonmangga
Make a comment  

supriyanto 2 rival

Namaku Supriyanto 2 : Rival!

“Ugh...” Aku melenguh ketika manukku untuk yang kesekian kalinya masuk ke vagina Bulik Tin.

Wajah Bulik tampak kemerahan ketika kami sama-sama mulai menggerakkan tubuh, berusaha mencapai puncak kepuasan.
Ditengah asiknya aku menggerakkan pinggulku, tiba-tiba terdengar dering telepon di ruang tengah.

“Bentar tok...uh.....ada telepon tuh...” Bulik mendorong tubuhku yang sedang berada diatas tubuhnya untuk bangkit berdiri. Aku setengah protes, karena sedikit lagi aku sudah akan keluar..

Tapi dasar Bulik Tin, sambil tersenyum nakal dia sengaja menggoyangkan pinggulnya sebentar sebelum melepaskan manukku dari vaginanya. Sambil bangkit berdiri dia juga sempat ngedumel “Siapa telp jam setengah satu malam seperti ini”

Aku pun hampir menggerutu, tapi sebelum sempat keluar kata-kata dari mulutku bulik Tin menempelkan jarinya di bibirku sambil tersenyum manis “Nanti ya dilanjut lagi, sopo ngerti ki telepon penting” Dia lalu bangkit berdiri terpincang menuju ke ruang tengah dengan tubuh masih telanjang bulat.

Aku menghembuskan nafas panjang, kalah dah kalo bulik sudah memberikan senyumnya yang manis itu. Dengan terseok aku mengambil sandal jepitku dan menyusul bulik di ruang tengah.

Di ruang tengah tampak bulik bediri di dekat kursi sambil menerima telepon. Dan memang tampaknya telepon tersebut penting, terlihat dari wajah bulik yang serius.
Jawaban-jawaban singkat keluar dari bibir bulik, ketika menjawab telepon tersebut. Dia melirik ke arahku sebentar, lalu mengisyaratkan agar aku jangan bertanya dulu. Aku terdiam saja sambil memperhatikan tubuh bulik yang telanjang dan berkilau karena keringat. Timbul niat isengku, perlahan aku menuju belakang tubuh bulik Tin yang memang agak setengah menungging karena posisi telepon yang lebih rendah dari tubuhnya.

Aku tersenyum nakal ketika kuarahkan manukku menuju lubang vagina bulik yang masih basah bekas persetubuhan kami barusan. Baru saja ‘helm’ manukku yang masuk ke dalam liang hangat vagina bulik, tangan bulik menepis halus sambil mendelik mengisyaratkan supaya aku diam.

Rodok mangkel(agak jengkel) karena hasrat yang belum tuntas aku menghempaskan diri di sofa di sebelah meja telepon. Bulik melirik ke arahku, lalu tatapannya beralih ke manukku yang masih ngaceng sekeras baja. Dia setengah menahan senyum, sambil masih meneruskan percakapannya di telepon, tubuhnya bergeser sedikit lalu, menghempaskan pinggulnya duduk disebelahku. Tangan kanannya mengelus-elus dan mengocok perlahan manukku sementara tangan kirinya masih memegang gagang telepon.

Aku meposisikan diri agar lebih rileks dan agar bulik lebih mudah mengocok manukku, tanganku mengelus-elus susunya, dan mempermainkan putingnya

“....nggih, lah opo ngomong mbek Totok dewe?” Kata bulik di telepon, lalu mengangsurkan gagang teleponnya ke arahku sambil mulutnya berbisik “bapakmu”

Aku jadi bertanya-tanya sambil menerima gagang telepon yang diangsurkan bulik padaku

“Ya pak?”

Suara bapakku diseberang sana langsung menyambung dengan cerita, bahwa besok sore akan datang adik bapak, bulik Lasmi dengan kedua putri kembarnya. Bapak minta agar aku ikut menjaga mereka sementara mereka akan tinggal sementara disini.
Aku terdiam berusaha megingat–ingat, bulik Lasmi adalah adik bapak yang tinggal di Jakarta, menikah dengan orang Amerika, dan mempunyai kedua putri kembar yang kira-kira seumuran denganku. Bulik Lasmi mungkin berumur sekitar 36 tahun dan putri kembarnya seumuran denganku. Mereka bernama Sinta dan Yasmin

Sudah lama bulik Lasmi sekeluarga berada di Jakarta, dan jarang sekali berhubungan dengan keluarga lainnya dikarenakan kesibukan suaminya yang sering ke luar negeri untuk berbisnis. Maka dari itu aku juga sudah lama sekali tidak pernah ketemu dengannya dan kedua anaknya.

Bapak meneruskan ceritanya jika sebenarnya bulik Lasmi sudah bercerai beberapa bulan yang lalu dikarenakan suaminya yang kawin lagi dengan wanita lain dan kembali ke Amerika, hanya saja bulik Lasmi baru berani bercerita kepada bapak kemarin karena dia sudah tidak bekerja dan tabungannya sudah menipis. Kedua anak kembarnya pun batal untuk masuk universitas karena perceraian kedua orang tuanya.
Akhirnya dengan terpaksa bulik Lasmi memohon kepada bapak untuk bias diperbolehkan tinggal bersama bulik Tin untuk sementara waktu sementara dia mencari kerja di tempat ini. Karena dia berpikir akan lebih mudah hidup di desa daripada di Jakarta tanpa pekerjaan.
Sebab itulah bapak akhirnya menelepon bulik Tin tengah malam seperti ini, untuk menceritakan keadaan yang sebenarnya.

“Iya pak....pasti...” aku menjawab sambil mengangguk-angguk (percuma kan? Orang yang ditelpon juga ga isa liat kalo kita mengangguk-angguk atau menggeleng-geleng )

Aku mengangsurkan telepon kepada bulik Tin lagi. Mereka bercakap-cakap sebentar lalu bulik Tin meletakkan gagang telepon menandakan percakapan sudah selesai.
Sesaat kami berdua merenung di keremangan ruang tengah memikirkan percakapan bapak tadi lalu merasa ikut prihatin dengan keadaan bulik Lasmi, serta perasaanku juga berganti dengan rasa ingin tahu dan berusaha mengingat keras bagaimana sekarang wajah bulik Lasmi dan kedua putri kembarnya.

Lamunanku buyar ketika merasakan sentuhan halus di manukku. Jemari lentik bulik Tin membelai dan kembali mengocok halus batang manukku. Serasa diingatkan, manukku dengan ‘riang gembira’ tegak berdiri!
Bulik tersenyum sambil mengedipkan mata mengisyaratkan agar kita berdua kembali lagi ke kamar. Dengan senang hati aku bangkit berdiri lalu mengikuti tubuh telanjang bulik Tin masuk ke dalam kamarnya.

***


Besoknya, minggu pagi, kita berdua mulai sibuk membereskan barang-barang dan kamar yang nantinya akan ditempati bulik Lasmi dan kedua putrinya. Apa boleh buat, kamarku akhirnya dirombak dan diatur sedemikian rupa supaya muat ditempati 3 orang, dan aku sendiri pindah ke kamar bulik Tin

Menjelang pukul 2 siang baru semuanya beres dan siap. Mereka akan datang kira-kira pukul 5 sore, jadi masih ada waktu bagi kami berdua untuk mandi dan berbenah diri.

“Bulik mandi bareng yo” Aku menarik tangan bulik lalu mengecup bibirnya yang merekah. Rasa capek tiba-tiba lenyap ketika bibir kami berdua mulai saling membelit, tanganku menelusup ke balik daster bulik Tin, mencari bongkahan susunya. Sementara tangan bulik Tin juga berusaha melolosi celana kolorku untuk meraih batang manukku.

Rencana mandi bersama buyar sudah ketika tubuh kami sama-sama telanjang di kamar bulik. Aku menjilati putting-puting kedua susu bulik Tin yang kecoklatan dan berdiri tegak menantang. Lidahku menari-nari, berputar di putingnya lalu berganti dengan hisapan-hisapan halus dan gigitan kecil di kedua puting susu bulik.

Bulik menggeliat menahan rasa geli yang menjalar di seluruh tubuhnya, tangannya menggenggam manukku dan mengocok dengan tidak beraturan, jemari jempolnya mengusap-usap ‘helm’ku serta lubang kencingnya sementara keempat jarinya yang lain menggenggam batangnya dan meremas serta mengocoknya perlahan.

Aku mengerang merasakan nikmat tidak terkira karena kocokan tangan bulik terasa lebih ahli dari kocokan tanganku sendiri!
Tidak mau kalah tangan kananku mulai bermain di vaginanya, jariku tengahku menelusup di lubang kehangatan bulik Tin, dengan gerakan teratur aku memaju mundurkan dan sesekali memutar jariku di dalam liang vaginanya, terkadang sengaja kutekuk ruas jariku dan seakan melakukan gerakan menggaruk halus dinding vagina bulik.

Bulik Tin menjerit kecil dan tubuhnya menggeliat liar ketika gerakan tersebut bersamaan kulakukan dengan jempolku mengelus-elus klitorisnya. Wajahnya tampak merah dan berpeluh menahan nikmat tiada tara. Kusambut bibirnya yang setengah terbuka, dengan bibirku nafasnya terasa panas di wajahku.

Ternyata tidak sia-sia aku ‘belajar’ dari film-film BF yang kulihat di rumah Manto. Bibi akhirnya menjerit kecil mencapai orgasmenya yang pertama! Dengan tersenyum nakal aku memposiskan manukku di atas lubang vagina bulik yang sudah membanjir, kugesek-gesekkan sebentar di klitorisnya sebelum aku perlahan mulai mendorongb masuk ke dalam liang hangatnya.
Bulik mengejang sesaat merasakan batang manukku memenuhi liang vaginanya, tangannya reflek memeluk leherku dan kakunya melingkar di pinggulku.

“Ohh....tok......ssssshhh.....enakkkkkkkhh........uhmmm....” Bulik menceracau kecil ketika aku mulai menggerakkan pinggulku dengan teratur.

Sesekali kulahap kedua puting susunya, lalu kujilati leher dan telinga bulik Tin. Kepala bulik tin menggeleng-geleng kencang menahan kenikmatan tiada tara.

Jangan ditanya lagi, aku sendiri juga sudah seperti kesetanan, berusaha mencapai puncak. Kugerakkan pinggulku sesekali cepat dan sesekali melambat diiringi dengan gerakan memutar untuk menimbulkan sensasi yang tiada tara dan tak terlukiskan, dinding-dinding vagina bulik seakan akan memeras dan mencengkeram dengan gerakan menyedot seluruh permukaan batang manukku!
Sekuatnya aku bertahan akhirnya datang juga gelombang kenikmatan itu. Tubuhku menengang sesaat sementara manukku memuncratkan sperma berkali-kali ke dalam liang vagina bulik Tin, sedang bulik Tin sendiri juga mencapai puncak orgasmenya bersamaan dengan semprotan pertamaku!

Sungguh keajaiban dan keindahan yang sulit dilukiskan ketika kami berdua sama-sama mencapai kenikmatan dari persetubuhan ini.
Beberapa saat kemudian , akhirnya kami berdua bangkit berdiri dan mandi bersama bersiap-siap menyambut kedatangan bulik Lasmi dan kedua putri kembarnya.

***


Jam menunjukkan 17.25 ketika sebuah taksi berhenti di depan rumah bulik Tin. Aku bulik Tin bergegas menuju ke depan rumah untuk melihat siapakah yang datang.
Seorang wanita keluar disusul dengan kedua gadis kembar yang jelas-jelas menunjukan pasti ini bulik Lasmi dan kedua anaknya. Bulik Lasmi tampak cantik dengan setelan blazer coklat mudanya, dan kedua putri kembarnya ....astaga! Mereka bagaikan pemain-pemain sinetron blasteran yang sering kulihat di TV! Kedua putrinya sangat cantik dan seksi perpaduan antara indo-bule! Mereka sama-sama berambut panjang kecoklatan, berhidung mancung dan berkulit putih bersih dan juga bertubuh seksi. Sesaat aku terpana seperti melihat 2 bidadari turun dari langit!

Aku dan bulik Tin buru-buru menghampiri mereka lalu tampaklah adegan peluk cium antara kedua bulik Tin, bulik Lasmi serta kedua putrinya. Aku membantu sopir taksi menurunkan tas-tas dan barang-barang bawaan mereka.

“Wah Supri sudah besar ya sekarang “ Bulik Lasmi ganti memelukku dalam perjalanan masuk kedalam rumah. Aku tersenyum kaku terdiam karena kedua tanganku sedang membawa 2 tas besar, bau wangi dari tubuhnya menerpa hidungku, sementara kulihat kedua putrinya, yang satu tampak tersenyum manis, tapi hei, satu lagi tersenyum sinis padaku?

Setelah semuanya berada di dalam rumah dan sopir taksi beranjak pergi setelah menerima ongkos + tips yang diberikan oleh bulik Lasmi, barulah aku bisa bersalaman dengan kedua putrinya

“Yasmin” salah satu putrinya mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis. Aku menyambutnya dengan gemetar “Supriyanto, tapi panggil aja Totok” jawabku.

“Sudah lama ya kita tida pernah ketemu” kataku mengingat-ingat kapan terakhir kali aku bertemu kedua putri bulik Lasmi.
Aku mengulurkan tanganku ke Sinta, tapi gadis itu hanya melirikku sebentar lalu mendengus, mengambil tempat duduk di ruang tamu.
Aku bertanya-tanya apa ada yang salah ma aku nih?

Tidak salah tebakanku, kedua putri bulik Lasmi memang seumuran denganku, baru juga lulus SMU, dan hendak mesuk ke salah satu universitas terkenal di Jakarta ketika musibah menimpa keluarga mereka.
Sementara kedua bulikku saling berbagi cerita di ruang tamu, aku menuju ke belakang untuk membikinkan teh buat mereka semuanya.

Ditengah aku mengaduk-aduk minuman yang akan kusiapkan, salah satu gadis masuk ke dapur sambil melihat-lihat sekeliling ruangan ini dengan berkerenyit jijik

“ Bisa juga lo idup di rumah kaya gini?” celetuknya tanpa melihatku.

Kaget aku dia berkomentar seperti itu ‘maksudnya apa ni cewe?’

“Ya bagaimana lagi, memang adanya ya kaya gini” jawabku.

“Kalo ga mama yg maksa gue, gue kaga bakal mau idup di gubuk kaya gini! Udah reot, ga ada apa-apa lagi!” sahutnya santai.

Gigiku gemeletuk menahan marah. Kalo tidak ingat pesan bapak, sudah aku usir makhluk sombong ini!

“Kamu pasti Sinta ya?” Tanyaku

“Heh! Elo jangan sok akrab ye! Gue tu cuman sementara aja disini, dan elo kaga pantes sok akrab ma gue! “ sahutnya ketus

Aku melongo, lah siapa yang sok akrab, orang tadi saja dia tidak mau memperkenalkan diri.

Dia menjulurkan lidahnya lalu kembali ke ruang depan, sementara aku terdiam. Wah, ini cewe geblek apa gendeng? Udah numpang, lha kok malah bikin gara-gara.

Kesal bercampur marah aku mengantarkan minuman ke ruang depan. Kulirik gadis yang sedang berdiri di dekat pintu. Sinta! Dia tersenyum sinis sambil diam-diam menunjukkan jari tengahnya kepadaku. Aku memalingkan mukaku yang merah padam, kubagikan teh di meja, lalu aku beranjak kembali ke dapur. Tiba-tiba sebuah tangan mencekal tanganku, hampir saja kudamprat karena aku pikir Sinta yang sengaja hendak menggodaku

“Eh, supri mau kemana? Bulik Lasmi belum selesai kangennya!”

Bulik Lasmi menarik tubuhku lalu menciumi seluruh wajahku. Aku terperangah diam karena kaget. Tidak tiap hari kan kamu diciumin cewe cantik kaya bulik Lasmi

“Duh, sekarang kamu sudah benar-benar menjadi cowo ganteng dan gagah ya!” Bulik lasmi masih memegang tanganku dan memandang wajahku yang bersemu merah.

“Tampang kaya kacung gitu kok bisa-bisanya mama bilang dia ganteng” Suatu suara menyahuti.

“Eh Sinta, jaga mulutmu. Bagaimanapun juga dia itu kakakmu, dan kita harusnya berterima kasih karena Bulik Tin dan kakakmu ini mau menerima kita dirumahnya” Bulik Lasmi menjawab tegas.

Sinta hanya tersenyum sinis lalu beranjak pergi masuk ke dalam

“Mana nih kamar gue? Gue mau tidur! Eneg liat dia”

“Sebelah dapur itu dik Sinta” bulik Tin menjawab pertanyaan yang kurang ajar tadi

Bulik Lasmi mendesah kesal

“Maaf ya dik, anakku yang satu tu memang agak susah diatur”

“Ga papa kok mbak, namanya aja masih remaja” kata bulik Tin menetralkan suasana yang sempat tidak enak ini.
Aku duduk di tengah-tengah antara bulik Lasmi dan Yasmin, tangannya merangkulku sambil bercerita mengenai kehidupannya di Jakarta. Sementara aku mencuri-curi lihat kepada Yasmin yang banyak diam dan hanya memainkan jari-jari tangannya saja. Aku hanya berharap semoga Yasmin tidak seperti kakaknya yang egois itu.

Diam-diam aku memperhatikan bulik Lasmi yang memang terlihat ramping dan seksi. Wajahnya tampak anggun, hidungnya mancung dan bibirnya merekah indah seperti milik bulik Tin. Payudaranya masih tampak kecang mendongak keatas dibalik bajunya, sementara secara keseluruhan tidak menampakkan dia sudah mempunyai anak yang sudah beranjak dewasa.

Aku jadi malu sendiri.

Manukku ngaceng tanpa bisa kucegah!

***


Beberapa hari kemudian aku sudah bisa membedakan yang mana Yasmin dan yang mana Sinta. Jelas saja, walaupun mereka kembar, tetapi sifat mereka bagaikan bumi dan langit.
Sinta, agak tomboy, egois, malas, dan seambrek sifat jelek lainnya, sedangkan Yasmin, anaknya diam, rajin, pembawaannya halus dan tidak banyak omong.

Beberapa kali aku beradu mulut dengan Sinta, dan Yasminlah yang menengahi, bahkan lebih sering membelaku daripada saudarinya. Kedua gadis cantik ini memang benar-benar membuatku gemas! Yang satu membuatku gemas ingin menampar mulutnya yang tidak tahu aturan itu, yang satu membuatku gemas mencium bibirnya yang indah.

Dan beberapa hari ini hanya kami bertigalah yang lebih sering berada di rumah, karena Bulik Tin pergi mengajar, dan bulik Lasmi berusaha melamar pekerjaan.
Sedang aku makin frustasi! Karena sudah beberapa hari ini, aku dan bulik Tin tidak pernah melakukan hubungan intim lagi. Bulik Tin tidak mau ambil resiko mereka bertiga ada yang memergoki hubungan tabu ini. Aku mengerti, karena tahu resiko yang akan ditanggung, tetapi manukku iki lho, opo yo gelem ngerti (apa ya mau ngerti)? Bagaimana bisa, jika setiap hari berada di rumah dipenuhi bidadari-bidadari yang cantik ini.

Dan yang paling membuatku makin sebal tingkah laku Sinta yang sengaja menggodaku, sering kali dia memakai pakaian yang sangat minim dan bahkan terbuka di setiap lekuk tubuhnya. Walaupun tiap hari tiada absen bertengkar dengan dia, namanya aja lelaki normal disuguhi pemandangan seperti itu jelas aja manukku ngaceng terus. Dan dia tersenyum puas ketika dia berhasil membuatku ngaceng dibalik celana kolorku. Sialan!

***


Suatu siang,

“Eh lo, bikinin gue minum donk, haus nih”

Mulai lagi nih anak!

“Bikin sendiri saja non, ga ada tangan ya?” Sahutku cuek sambil membaca majalah duduk berseberangan dengan dia di ruang tengah.

“Elo kan yang punya rumah! Apalagi elo tu tampangnya udah kaya kacung, ya semestinya elo bikinin gue tu minuman, syukur-syukur deh kalo sama cemilannya sekalian” cerocosnya.

“Justru aku yang sebagai punya rumah tanya ama kamu, sudah pantas kamu ngomong gitu? Apa kamu tidak pernah diberikan pendidikan dulunya? Kaga sekolah ya lo?” Balasku cuek juga.

“Gila ya lo? Sekolah gue tu sekolah mahal tau! Ama sekolah lo yg di kampung gini bedanya jauh man! Lo bayar disini ampe lulus SMA, baru lo isa sekolah di tempat gue, itupun baru bisa cicil bayaran sebulan!” Sentaknya sambil berdiri menunjuk ke wajahku.

“Lalu kenapa kamu seperti tidak punya aturan? Susah punya anak kaya kamu.” Sahutku sambil berdiri mau menghindari pertengkaran lebih lanjut.

“Anak? Bapak ibumu tu yang harusnya kasihan, punya anak tampang kacung kaya elo, Goblok lage! Ibumu matipun tidak tenang disana mikirin tampang elo yang...”

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya tanganku mencekal mulutnya yang sedang terbuka. Amarahku meluap.

“JANGAN SEKALIPUN kamu MENYEBUT nama IBUKU!” gemeletuk aku menahan emosi.

Sesaat Sinta tampak terkejut, tetapi dengan cepat dia memutar tangannya lalu membelitkan ke ketiakku sambil berteriak.
Tiba-tiba aku merasakan tubuhku jadi seringan kapas dan pandanganku sepeerti terbalik, lalu sedetik kemudian punggungku menghantam lantai dengan keras. Aku terbengong-bengong belum menyadari apa yang terjadi.

“ Jangan main-main lo ma gue!” Sinta membuang muka dengan ketus lalu beranjak pergi ke belakang. Pantatnya yang bergoyang menghiasi pandanganku yang masih meringis kesakitan.

Ternyata baru aku tau kalo keduanya adalah jago judo. Bahkan pernah menjuarai kejuaraan antar daerah. Dan barusan aku terbanting oleh jurus Ippon-Seio-Nage. Sialan (lagi)!

Makin pongahlah Sinta setelah kejadian siang itu. Sedang aku makin mengkeret. Bener2 menakutkan cewe yang satu ini. Yasmin pun mendengar kejadian siang itu, dan dia menghiburku agar lebih mengalah aja sama kakaknya, Sinta (memang hitungannya Sinta adalah kakak dari Yasmin walaupun mereka kembar)

“Memang susah dirubah kalo bawaan orok” sahutku suatu ketika. Sebal!

***


Malam ini aku gelisah banget sudah hampir 1 bulan aku menahan birahi. Kepalaku sudah pusing menahan nafsu yang bertumpuk hingga ubun-ubun.

Kulihat bulik Tin yang berbaring tidur disebelahku. Dia memakai daster tipis tanpa dalaman. Aku meneguk ludah melihat gundukan vaginanya yang tercetak jelas di balik kain daster itu.

Kuberanikan diri, tanganku menyibakkan dasternya keatas hingga terbuka sampai batas leher. Mulutku mulai menjilati susu bulik yang sebelah kiri, tanganku meraih gundukan halus vaginanya. Membuka dan mengorek liangnya yang hangat. Basah.

Aku melirik memandang wajah bulik Tin. Ternyata dia sudah terbangun sambil tersenyum.

“Bulik tau Tok, tapi piye maneh? Bulikmu Lasmi mbek anak-anaknya tidur disebelah. Nanti kalo mereka mendengar dan menangkap basah kita. Kita juga sing susah.” Bisiknya perlahan ditelingaku.

“Tapi bulik, Totok bener2 wes ra kuat neh...” suaraku terdengar memelas.

“Bulik juga Tok.....” bisik bulik pelan.

Aku hampir melompat gembira, berarti bulik Tin juga merasakan hal yang sama! Tersiksa oleh birahi.

“Tapi alon2 ae yo...ojok banter2(pelan-pelan aja ya, jangan keras2) suaramu” Bulik Tin berbisik pelan lalu mengajak kami berdua pindah ke lantai, supaya ranjang tidak berderit ketika kami berpacu dalam birahi nanti.

Aku setengah tersenyum geli. Karena biasanya yang berisik itu bulik Tin. Tapi aku tidak ambil pusing, kuturuti syaratnya. Kami berdua tergesa melolosi pakaian yang melekat di tubuh kami masing2 hingga telanjang bulat
.
Tanpa membuang waktu lagi aku menyerbu kedua susu bulik Tin yang memang selalu menggodaku. Indah dan menantang! Bergantian kujilati dan kupermainkan dengan lidahku puting-putingnya sementara tanganku mengobok-obok liang vagina bulik Tin yang sudah sangat basah.

Bulik Tin menahan rintihan yang keluar dengan mendekapkan tangan ke mulutnya.

Karena sudah tidak bisa menahan birahiku aku membaringkan diri lalu kuangkat tubuh bulik Tin supaya dia berada diatas tubuhku. Perlahan lahan bulik Tin menurunkan pinggulnya, manukku memasuki liang vaginanya yang hangat hingga mentok ke pangkalnya.
Tanpa dikomando, bulik Tin menggoyangkan pinggulnya dengan ritme teratur membuat manukku seakan akan dipilin-pilin dan diremas oleh dinding vaginanya. Aku memejamkan mata merasakan sensasi kenikmatan tiada tara ini. Bulit Tin semakin mempercepat gerakan menaik turunkan pinggulnya dan sesekali melakukan gerakan memutar serta maju mundur. Aku berusaha mengimbangi gerakan-gerakan bulik. Jika dia menurunkan tubuhnya aku menaikkan pinggulku ke atas hingga aku merasakan manukku mentok hingga mulut rahimnya!

Tanganku meremasi dan memainkan puting-puting susunya yang bergoyang mengikuti irama gerakan persetubuhan kami ini. Sambil sesekali berpindah ke pinggulnya membantu bulik mempercepat gerakannya.
Beberapa saat kemudian tubuhnya mengejang pelan lalu hampir ambruk menindih tubuhku. Bulik Tin sudah mendapatkan puncaknya. Tanganku mencengkeram kedua bokong bulik Tin lalu aku menggenjot dengan cepat dari bawah.
Suara kecipak beradunya alat kelamin kami adalah satu-satunya yang bisa kudengar, karena bulik menahan erangan kenikmatannya dengan mengunci mulutnya rapat2.

“Mmmmh....hhhhh..mmm”

Kugenjot dengan liar liang vaginanya hingga seperti piston yang naik turun masuk ke dalam liang surgawi. Tak kuperdulikan lagi bulik Tin yang sudah mencapai klimaks keduanya. Aku hampir...hampir ......!!!!

Akhirnya!

Semprotan demi semprotan spermaku mengantarku mencapai awang-awang kenimatan tiada tara!! Serta merta Bulik Tin menghempaskan tubuhnya ambruk di tubuhku.
Aku mengejap-ngejapkan mataku! Kepalaku seakan berputar dan pandanganku berkunang-kunang meresapi keindahan ejakulasi dan orgasme kami berdua.

Sekilas aku melirik ke pintu kamar, kain tirai kamar bergerak menutup. Atau hanya perasaanku saja?

“Tok....makasih...” bisik bulik Tin mengecupku mesra di bibirku

“Totok juga lik....” balasku sambil mengulum bibirnya.

***


Keesokan paginya
Sambil bersiul-siul aku member makan si Jalu, ayam kesayanganku, sehabis mandi dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana kolor saja memang ini acara wajibku, mengelus-elus ayam peliharaanku.
Hatiku memang lagi senang, karena semalam tuntas sudah birahi yang terpendam selama 1 bulan ini. Lagi pula aku juga senang bulik Lasmi sudah mendapatkan pekerjaan di toko kelontong babah Acong pojok jalan, lalu Yasmin pun juga ikut berusaha mendapatkan pekerjaan dengan pergi kesana kesini untuk melamar pekerjaan. Beberapa kali dia mendapatkan panggilan, tetapi masih belum ada yang menerimanya bekerja.

Sinta keluar dari rumah menuju kamar mandi sambil berbalut handuk saja. Aku melirik sekilas. Lalu membuang muka. Aku tidak mau hari yang indah ini dirusak oleh setan betina itu!

Pletuk!

Sebuah kerikil mengenai si Jalu yang berkaok kesakitan dan lari entah kemana.

Setan betina itu! Geramku.

Suara tawanyanya yang renyah mengiringi Sinta masuk ke kamar mandi.

Beberapa saat kemudian terdengar suara air menandakan dia sudah mandi, dengan perasaan masih kesal, aku mencari Jalu sambil memanggil namanya berulangkali.

Kasihan si Jalu.

Ketika aku kembali ke belakang rumah terdengar suara nyanyian di kamar mandi. Sinta menyanyi. Tak kupedulikan walaupun mau tidak mau kuakui suaranya memang bagus. Aku membersihkan kandang si Jalu lalu setelah itu menjemur pakaianku yang sudah kucuci tadi pagi.

Pintu kamar mandi terbuka, munculah Sinta dengan rambut basah dan tubuh berbalut handuk saja.

“I know what you did last night” nyanyinya dengan suara merdu

Pertama kali aku tidak memperhatikan apa yang dia katakan, kuteruskan pekerjaanku menjemur baju. Lalu Sinta menghampiri aku dan berbisik dekat di telingaku

“I SAID, I know what you did LAST NIGHT!” sambil tersenyum misterius.

Baru sadarlah otakku. Kupalingkan tubuhku menghadap setan betina ini. Terjawab sudah pertanyaanku semalam kenapa tirai pintu kamar bulik Tin bergerak. Sintalah yang memergoki kami berdua.

Setengah gemetar aku bertanya

“Opo seng kowe ngerti(Apa yang kamu ketahui)?” tanyaku saking terkejutnya

“English please” Sinta memonyongkan bibirnya mengejekku

“What the hell you talking about, BITCH!” Sahutku keras menahan rasa ingin tahuku

Sinta berbalik berjalan menuju ke rumah sambil bersiul. Tubuhnya melakukan gerakan bersetubuh sebagai isyarat jika dia sudah mengetahui apa yang aku perbuat semalam dengan bulik Tin.

Segera aku berlari kecil hendak menyusulnya, tetapi Sinta malah berlari masuk ke rumah, kukejar dia.
Sesampainya di kamarnya aku menahan bahunya, aku lupa sesaat kalau ini bakal terjadi lagi.

BUK!

2 detik kemudian aku sudah terkapar berada dilantai, terbanting oleh jurus Seoi-Otoshi nya

Lalu tanpa membuang waktu lagi Sinta menindihku dan mengunci leher serta lenganku. Aku meronta, tetapi gila! Kunciannya benar2 membuatku tidak bisa berontak, apalagi melepaskan diri.

Sangat memalukan. Ini aku terlentang dilantai dengan hanya memakai kolor ditindih oleh gadis cantik yang mengunci lengan dan leherku dengan jurus judonya, dan gadis itu hanya memakai handuk saja sebagai penutup tubuhnya!

“O..o..kamu ketahuan...” nyanyinya dengan nafas memburu. Senyumnya seakan mengejekku.

Aku diam...bibirku bergetar menahan marah...dan malu! Tak ada yang bisa kukatakan. Hancur sudah! Setan betina ini sudah mengetahui segalanya. Bayangan akan kemarahan bapak dan aib yang menodai keluargaku ini sudah tercetak jelas!

“F*ck me...” Bisiknya perlahan ditelingaku

Aku mendelik antara percaya dan tidak percaya!

“Apa..?” Hanya kata itu yang melompat dari bibirku yang gemetar. Tidak mempercayai apa yang barusan kudengar.

Sebagai jawaban dengan tangan kirinya Sinta memelorotkan celanaku sebatas paha hingga manukku terbebas. Dasar lelaki, reaksiku benar2 cepat. Manukku kini sudah setengah ngaceng.

Sinta menggeserkan pinggulnya sedikit. Aku mendelik! Kurasakan kini manukku bersentuhan langsung dengan bibir vaginanya yang basah.

Aku meronta, tetapi gerakan itu membuat kuncian di lenganku makin sakit. Aku meringis kesakitan.

“Sin, wes guyone(udahan becandanya)...!!” aku kehabisan kata-kata.

“...please...” Sinta berbisik lagi. “Gue tau gue memang jahat...” dia meneguk ludahnya. Matanya meredup. Setan betina ini kok jadi semakin cantik aja ya?

Dia menundukkan kepalanya, rambutnya yang basah tergerai di mukaku.

“...tapi sekarang gue butuh ini...” bisiknya sambil menggerakkan sedikit pinggulnya. Basah. Dan manukku makin mengeras.

“...ngggg...tapi lepasin ini dulu...” kataku lemah, tanganku mulai kesemutan.

“OK, gue lepasin...tapi...” Sinta mengedipkan matanya

Sesaat dia mengendorkan kunciannya. Aku segera melihat kesempatan, kuputar tubuhku dan kuangkat punggungku dari lantai. Lenganku bebas, aku menggeliat melepaskan diri. Sinta yang terkejut karena gerakanku yang tiba-tiba tidak menguasai keadaan, dia jatuh terguling di lantai.

Aku bangkit berdiri lalu berusaha keluar dari kamar ini. Dasar goblok, aku lupa kalo celana kolorku sudah melorot, Sesaat aku kehilangan keseimbangan.

Sinta tidak membuang waktu dia segera bangkit dan kembali mendorong dadaku, tangannya melakukan gerakan aneh memutar mengunci kedua tanganku. Kini Aku terjepit di dinding berhadapan dengan Setan ini.

“Jangan main-main mas!” nafasnya tersengal kedua tanganku terkunci dibelakang tubuhku.

Apa? Ga salah dengar nih? ‘mas?’ Dia memanggilku mas?

Aku terkejut ketika merasakan sentuhan halus di manukku....jemarinya yang lentik mulai menggenggam batangnya. Mengocoknya perlahan. Sesaat aku melenguh.

Sinta tersenyum, merasakan kemenangan sudah berada ditangannya. Perlahan dia menundukkan tubuhnya, bibirnya yang merekah itu membuka. Aku merasakan sensasi yang hebat ketika kulihat perlahan-lahan manukku masuk di mulutnya yang basah. Matanya menatap mataku langsung.

Sinta menggerakkan kepalanya maju mundur dengan ritme teratur, sesekali dia menjilati seluruh batang dan kantung telurku. Lidahnya juga menari-nari di helm serta lubang kencingku.

Aku melenguh. Sensasinya sungguh luar biasa!

Perlahan dia melepaskan tangannya dari tanganku yang terkunci. Sesaat aku berpikir akan lari keluar. Tetapi ...duh....rasa ini....sangat menggelitik. Aku malah memejamkan mata mendongak meresapi setiap aliran kenikmatan yang berasal dari manukku.
Tangannya kini mempermainkan kantong telurku. Menggelitik hingga merasuk setiap tulang sumsumku. Setengah menjerit ketika aku merasakan jemarinya memasuki anusku. Hampir saja aku berontak, tetapi matanya mengisyaratkan keyakinan. Aku terdiam, membiarkan jemarinya perlahan makin dalam masuk ke dalam anusku.

Edan! Tak bisa kulukiskan betapa hebatnya gelombang kenikmatan yang kuperoleh ketika dia secara bersamaan menekuk jarinya dan menggerakkannya secara berputar di dalam anusku sementara mulutnya maju mundur melahap seluruh batang manukku!
Tak dapat kutahan lagi!

“ Sin...aku..mau.....ughh...” hanya itu yang sempat keluar dari mulutku.

Sinta malah mengencangkan bibirnya di batang manukku. Matanya menatapku penuh nafsu. Semprotan demi semprotan spermaku memasuki tenggorokannya. Setelah kedutan terakhir dia menyedot-nyedot dengan kuat seluruh manukku seakan tidak mau adanya sperma yang tersisa. Sedikit lelehan sperma dijung bibirnya menetes ke lantai.

Aku mengelosor di lantai. Lemas.

Setelah melap sisa sperma di bibirnya dengan tisu, Sinta merangkak menghampiriku. Dia tersenyum, tetapi kali ini tidak kulihat senyum sinisnya. Benar-benar senyum yang tulus.

“Mas...” bibirnya mencari bibirku. Aku menyambutnya, bibir kami membelit untuk beberapa saat.
Sinta melepaskan ciumannya. Nafasnya tersengal.

“Gencatan senjata? Deal?” dia mengulurkan tangannya dengan jari yang ditekuk menunjukkan perdamaian.

“Deal” kusambut tangannya.

Posted at 07:32 am by pohonmangga
Make a comment  

supriyanto 3 witing trisno..

Namaku Supriyanto 3 : Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Witing tresno jalaran soko kulino = Cinta tumbuh karena terbiasa (bersama)

Malam itu kami makan bersama.

Aku melirik Yasmin yang sedang menyuap makanannya pelan-pelan. Rambutnya dikucir kuda dengan poni kecil tergerai di dahinya. Duh! Betapa cantiknya dia...sedang buah da...

Aku terkejut ketika merasakan sebuah kaki merayap di pahaku. Perlahan aku melihat ke arah bulik Tin. Bukan dia. Bulik Tin sedang asik bercakap-cakap dengan bulik Lasmi. Kupalingkan wajahku kearah Sinta.

Wajahnya terlihat menahan senyum. Aku mendelik marah. Bisa-bisanya di saat seperti ini dia bermain-main dengan bahaya. Belum sempat aku mengucapkan sesuatu, sudut mataku menangkap gerakan kepala Yasmin. Dia sedang menatapku.

Seperti maling kepergok, aku menunduk malu. Kusuap nasiku dengan tergesa. Aku tesedak! Terbatuk.

Sinta terkikik senang. Yasmin tersenyum sambil menyodorkan segelas air minum kepadaku.

Kuterima dengan pandangan terima kasih yang tulus.

“Makan itu jangan tergesa-gesa Tok” Suara bulik Lasmi mengingatkan

Setelah beberapa teguk air membasahi tenggorkanku baru aku bisa menjawab dengan suara serak.

“Iya bulik. Maaf”

Kedua bulikku melanjutkan percakapan yang sempat terputus tadi. Aku melirik Yasmin. Dia masih menyuapkan suapan terakhirnya, menaruh sendok lalu minum (dasar geblek! Itu kan gerakan wajar buat orang makan)

Hampir saja aku meloncat, kurasakan telapak kaki di selakanganku. Aku melirik geram ke arah Sinta yang tersenyum mengejek, melihat ke arahku, lalu ke arah Yasmin. Aku menggigit bibir menahan agar tidak keluar sumpah serapahku. Aku kepergok si setan ini ketika sedang mencuri pandang ke arah adiknya.

Segera kuselesaikan makanku lalu berdiri. Kubawa piringku ke tempat cuci piring

“Tok, aku ikut. Aku juga mau cuci piringku” Sinta bangkit berdiri sambil menyusulku ke belakang membawa piringnya.

Yasmin melongo heran. ‘Kenapa kakaknya hari ini?’

“Nyapo melok-melok?(ngapain ikut-ikut segala?)” desisku ketika kami sudah berada di belakang rumah. Ku ambil sabun dan kunyalakan keran air untuk mencuci piringku.

“Hei, gue kan juga mau cuci piring” sahutnya …lagian gue juga kangen sama ini”

Aku meloncat kaget ketika tangan Sinta masuk ke dalam celana kolorku langsung menggenggam manukku!

“Sin!” Desisku “Awas … nanti ketahuan bulik!” Setengah panik aku melongok melihat ke arah pintu yang menuju ruang makan.

“Biarin!” tangannya mengocok pelan manukku.

Gila ni cewe benar-benar pintar membangkitkan gairah seorang laki-laki. Tangannya memuntir dan meremas halus ujung manukku. Sesaat aku menggelinjang. Sinta tersenyum penuh kemenangan.

“Gue tau, saat tangan gue berada di peler lo ini, otak lo bayangin sapa? Yasmin kan?”

Mukaku merah padam. Aku hendak menjawab ketika Sinta mempercepat kocokanku

“Forget it, I just want this! Your big cock, bro” Bibirnya mendesis, mencium bibirku meredam segala amarahku yang akan meletup. Kusambut bibirnya. Sesaat kami berciuman. Tubuhku gemetar.

Aku tersadar ketika terdengar langkah kaki menuju kearah kami. Cepat-cepat kutarik tangan Sinta keluar dari dalam celanaku

Yasmin! Aku menarik nafas lega bertepatan dengan Yasmin yang menuju ke arah kami.

“Hei, ada yang aneh nih. Ga biasanya kalian akur malam mini.” tegur Yasmin sambil mengedipkan matanya dengan jenaka

“Kaga, gue masi eneg liat dia!” sahut Sinta ketus, dia menyodorkan piring kotornya ke Yasmin “ Cuciin sekalian punya gue ye. Gue mau kedalem sebelum muntah” Yasmin menerimanya, memandangku sebentar dengan penuh rasa simpati, lalu berbalik ke tempat cucian piring

Mukaku merah menahan malu dan geram. Bisa-bisanya setan betina itu bicara kaya gitu setelah tadi...

Belum sempat aku berpikir lebih lanjut Sinta menoleh kearahku, dengan isyarat mulutnya dia berkata tanpa suara “F*ck me bro!”

“Sialan!” desisku pelan

“Apa?” Yasmin menoleh kearahku. Sinta terkikik melihat aku belingsatan salah tingkah. Dia kabur.

“Oh…eh..ga papa..” cetusku. “Sini aku bantu kamu” aku berdiri disebelahnya membantu mencuci piring. Bau tubuhnya yang harum membuaiku, kulirik dia, lehernya yang jenjang dan putih, kausnya tidak dapat menyembunyikan betapa seksi lekuk-lekuk tubuhnya…

“Tok?” Yasmin menegurku. Aku hampir mati kaget! “ Ada apa? Ada yang aneh ama aku ya?” dia bertanya. Makin aku kehilangan kata-kata.

“Nggg…ndak kok Yas,” kami berdua kembali melanjutkan cuci piring dengan terdiam.

Setelah piring terakhir sudah aku lap, Yasmin menghadap ke arahku, memutar tubuhku. Aku terdiam seribu bahas ketika tangannya meraih tanganku.

“Sudahlah mas. Mbak Sinta memang sifatnya begitu. Semakin mas Totok meladeni dia, semakin senang dia menggoda mas.” Suaranya meluncur keluar.

Tangannya meremas jemariku. Aku terbang ke langit!

Dia tersenyum lalu melepaskan tangannya. “Ok, saya masuk ke dalam dulu, masih banyak surat yang belum dibuat” Sesaat wajahnya menampakkan keputus asaan.

Aku terdiam seribu bahasa sampai Yasmin lenyap dari pandanganku. Goblok! Aku memaki diriku sendiri.


**


Sampai lewat tengah malam, di tempat tidur aku berbaring dengan mata terbuka. Merenungi kejadian hari ini.
Sinta, setan betina itu, mau-maunya mengemut manukku, bahkan menelan habis seluruh spermaku yang keluar. Padahal, sebelumnya dia adalah musuh besarku! Aku menggeleng tak mengerti, aku membencinya, sungguh! Tetapi kenapa ketika dia mulai mencium bibirku tadi, rasa benci dan marah terasa lenyap tak berbekas. Ciuman yang kurasakan memang berbeda dari ketika aku mencium bulik Tin. Binal dan liar. Tapi ada sensasi sendiri ketika bibirnya bertemu dengan milikku. Hangat, basah dan ciumannya benar2 menaklukanku!

Mungkinkah benar apa yang dikatakannya tadi? Apakah aku memikirkan Yasmin ketika aku dilanda birahi, sedang fisikku berada di dalam genggamannya? Ah tidak! Aku tidak bisa membandingkan Yasmin dengan setan betina itu! Tidak pantas! Yasmin berbeda. Dia sangat lembut, selalu baik padaku dan penuh perhatian. Dia adalah malaikat. Dia adalah…

Tunggu dulu! Wow..wow…kenapa aku sampai memikirkan begitu? Kenapa aku tidak mampu berkata-kata ketika aku berhadapan dengannya? Inikah cinta? Jatuh cintakah aku padanya? Mana mungkin? Dia adalah sepupuku, anak dari bulik Lasmi!! Lagi pula, aku tidak pantas bersanding dengannya. Dia bagaikan bidadari sedang aku adalah manusia hina. Perbedaan bagaikan bumi dan langit, aku bagaikan pungguk merindukan bulan!

Semakin lama aku memikirkannya, semakin hatiku berkecamuk!

“Sssstt…”

Aku memalingkan mukaku. Bingung. Kukejap-kejapkan mata untuk melihat kearah pintu kamar.

Dalam keremangan tampak sebuah kepala muncul diantara tirai kamar. Setan betina itu! Aku langsung mengenalinya dari senyumnya.
Tangannya memberi isyarat agar aku diam dan menghampirinya. Ada apa lagi? Apa maunya dia?

Perlahan aku bangkit dari tempat tidur supaya tidak membangunkan bulik Tin. Aku terseok sebentar ketika mengambil sandal jepitku. Kupalingkan mukaku ke arah pintu. Makin jelas wajah cantik yang berambut panjang itu sedang menyeringai. Kuhampiri dia dengan setengah kesal.

“Ada apa lagi?” bisikku penuh tanda tanya.

Tanpa berkata apapun Sinta meraih tanganku untuk mengikutinya.

“Hei! Tunggu, kita mau kemana?” desisku. Kutahan tubuhku. Apa maunya setan ini?

Sinta mendelik tajam di keremangan

“Lo mau semua bangun? Diam dan ikutin gue!”

Dia menarik tanganku lagi, menuju ke belakang. Perlahan sekali dia membuka kunci pintu belakang, lalu menuju ke luar. Angin dingin langsung menerpa kami berdua. Cahaya bulan purnama bersinar dengan indahnya.

Astaganaga! Baru aku memperhatikan, Sinta hanya memakai kaus longgar tanpa bawahan! Hanya bercelana dalam saja.

Sesampainya dekat gudang sebelah kamar mandi. Sinta membalikkan badannya. Sejenak aku terbuai. Wajahnya yang cantik diterangi sinar rembulan. Bibirnya….

“Ada apa kita kesini? Apa sih maumu?” tanyaku berbisik.

Sinta tak menjawab, perlahan dia merangkul leherku dan menempelkan bibirnya kebibirku.

“Hei…kamu..” protesku. Tapi aku tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi ketika lidahnya menyeruak diantara bibirku, menari didalam mulutku. Matanya terpejam

Kami berciuman beberapa saat, liar dan panas! Aku terbuai….

Tangannya menelusup dibalik kausku, merabai dadaku, mempermainkan puting susuku. Merinding dan geli aku dibuatnya.

“C’mon bro…I just want this! I need you big cock! Lets f*ck!” kata-katanya meluncur cepat diantara nafasnya yang tersengal, tangannya sudah berada dibalik celana kolorku. Aku melenguh ketika dia mulai mengocokku perlahan.

“Tapi Sin! Kamu adalah sepupuku, kita tidak bisa…lagi pula…”

“F*ck that! Apa bedanya? Elo juga ngentot ama bulik Tin kan? “ desisnya.
Aku terdiam. Apa yang dikatakannya benar, apa bedanya jika aku juga sudah bersetubuh dengan bulik Tin. Sama saja bejatnya kan?

“Ada apa? Lo mikirin adek gue lage? Apa sih kelebihan dia? Sampe lo tergila…”

“STOP!” geramku. “Jangan terusin. Jangan kamu bicara begitu tentang Yasmin! Atau…”

“Atau apa? Hah? Apa bedanya dia ama gue? Kita kembar, apa lo buta?” serunya gusar.

“Beda! Jelas beda! Kamu bukan dia! Walaupun kembar kamu…”

Aku terdiam melongo. Sinta melepas kausnya, lalu celana dalamnya. Bugil. Tubuhnya yang indah tertimpa sinar bulan. Payudaranya yang membulat dengan puting-putingnya yang tegak berdiri. Lalu aku sempat melirik bagian vaginanya yang tak berambut.

Gundukannya jelas sangat indah dengan bibir vaginanya yang mungil…

“Shut up! Can you….just f*ck me now?” matanya mendelik tajam. Tangannya menarik celana kolorku kebawah. Membuat manukku yang sudah ngaceng terbebas dari kukungannya.

“Tapi Sin, aku tidak bisa…uhm….bagaimana jika ada yang memergoki kita disini? Bagai..”

Aku tak sanggup meneruskan kata-kataku. Bibirku disumpal dengan bibirnya. Sekali lagi kami berciuman dengan ganas. Kini tanganku mulai berani menjamah susunya. Wow! Rasanya berbeda dengan bulik Tin, punya Sinta ini sangat kencang, kenyal dan bentuknya pun sempurna. Puting-putingnya mungil merindukan jamahan jari-jariku.

Tangan Sinta dengan terampil mengocok manukku, sesekali dia meremasi kantung telurku dengan lembut. Jemarinya bagaikan ular membelit, mengocok, memutar seluruh permukaan manukku. Aku merintih diantara bibirnya.

“Yes baby…yes…I need your big dicky inside me!” dia menceracau dengan nafas memburu. “F*ck me!” tangannya makin terampil membuat manukku semakin mengeras bagai baja!

Aku menundukkan kepalaku, mencicipi kedua buah susunya. Kujilati puting-putingnya, kupijat dengan perlahan dengan tanganku, kuremasi dengan lembut. Sinta merintih.

Tanganku akhirnya sampai juga di belahan vaginanya. Basah. Kurasakan gundukan vaginanya, lalu belahannya yang mungil. Dan liangnya yang hangat. Kupermainkan jariku disana. Kutemukan kelentit mungilnya, kupijat dengan lembut sementara jari tengahku berada di dalam liang vaginanya mengocok lembut.

Sinta mendongak, mendelik mulutnya merintih dan mengerang.

“Yes…yes!! Oh god! …..yes….”

Matanya memandangku dengan penuh birahi. Dia menjilati bibirnya lalu membukanya separuh mengundang bibirku bersatu kembali dengannya. Bibir kami kembali membelit. Lidah kami saling menari.

“ Oh god! Yes..!! yes!!!....i’m cumingggggg…!!!” Sinta berteriak seperti kesetanan. Aku terkejut. Kusumpal mulutnya dengan tanganku.

“Gila Sin! Kamu ingin membangunkan seluruh kampung sini?” desisku

Sinta memandangku malu lalu dia kembali menciumiku. “Now just f*ck me” dia memposisikan dirinya, punggungnya menghadapku.

Sejenak aku ragu-ragu. Tapi persetan! Kuposisikan manukku di depan liang vaginanya. Kudorong perlahan. Meleset. Kucoba lagi, kepalanya sudah mulai membelah bibir vagina Sinta. Lalu masuk lagi senti demi senti hingga masuk seluruhnya. Hangat dan basah!

‘Dia sudah tidak perawan lagi’ pikirku. Tak heran kalo melihat kelakuannya seperti setan. Siapakah ya yang beruntung mendapatkan keperawanannya? Sialan! Kenapa aku jadi mangkel gini? Cemburukah ini?

Kualihkan perhatianku, konsentrasi pada tempat beradunya kelamin kami berdua. Dengan ritme yang teratur aku mulai menggerakkan pinggulku, aku mengerang, terasa sempit dan enak sekali! Seluruh batang manukku seakan dipilin-pilin oleh dinding vaginanya yang basah.

Sintapun bergerak dengan agresif, menggoyangkan pinggulnya sambil sesekali membalas sodokan-sodokanku. Tangannya bekerja di klitorisnya sendiri.

“Ugh…yeah….mas….enakkkk…hhh….oh god! Yesss….!!” Rintihnya. Wow, sudah 2 kali ini aku mendengar dia memanggilku ‘Mas’. Aku tersenyum.

Walaupun udara pada malam itu terasa dingin, tubuh kami berdua berpeluh, berkilau tertimpa sinar rembulan. Bayangan kami yang bergerak seakan menjadi saksi betapa indahnya persetubuhan kami sekarang.

“Sin, sssttt…jangan keras-keras” desisku diantara nafasku yang memburu.

“Sori. Abis enak ban…nget…nihh….!!” Jawabnya hampir berbisik.

Kini tangan satunya menahan mulutnya, sedang tangan kirinya tetap bermain di klitorisnya. Aku hampir tertawa melihat gayanya yang lucu seperti ini.

Kupercepat gerakanku, dilema, antara ingin berejakulasi dan tidak, karena rasa ini benar-benar membuatku terbang sampai awing-awang. Dinding-dinding vaginanya seakan punya mata memijat syaraf-syaraf kenikmatan di seluruh permukaan batang manukku. Ohh..benar-benar seperti melayang!

“Auuuhh!!” tanpa sadar Sinta setengah menjerit ketika mencapai orgasme keduanya.

Kutepuk pantatnya agak keras “Sin! Mau kita berdua mati ya?”

“Gila…matipun gue rela kalo kaya gini! “ Sinta terkikik geli

“Aku yang ga mau! Nasi pecel aja masih enak” balasku berbisik di telinganya. Kujilati daun telinganya. Sinta merintih, mendongakan kepalanya.

“Sin…a…ku mau…. keluar….” Bisikku terputus-putus.

Secepat kilat Sinta mencabut manukku lalu berbalik sambil berjongkok dihadapan manukku. Dikulum seluruh batangnya dengan bernafsu, sambil tangannya membantu mengocok dan meremas lembut kantong telurku. Matanya lurus menatapku dengan penuh nafsu. Bagaimana bisa aku menahannya jika melihat pemandangan seperti ini?

Manukku berkedut-kedut menyemprotkan sperma ke dalam mulut Sinta. Mata kami saling menatap tidak berkedip ditengah gelombang orgasme yang melandaku.

Sinta menyelesaikannya dengan menghisap habis seluruh sperma yang tersisa dan menelannya. Lalu tanpa dikomandopun dia menjilati seluruh batang manukku membersihkan sisa-sisa sperma yang menempel

Aku menarik nafas kelegaan. Kepuasan!

Sinta bangkit berdiri lalu merangkulku dengan mesra. Bibirnya menyentuh bibirku. Aroma tajam spermaku masih terasa. Aku tidak peduli. Kusambut bibirnya….

“Thanks bro! I love you!” bisiknya ditengah-tengah ciuman kami

Sesaat aku tidak mempercayai pendengaranku. I love you? Aku masih terbengong. Sinta masih mencium wajahku. Tangannya erat memeluk tubuhku.

Sinar rembulan makin bercahaya

**

Yasmin berteriak!

Sedetik kemudian aku merasakan tubuhku melayang, terkena bantingan harai-goshi nya (sapuan pinggang). Secepat kilat aku berdiri lalu menyerbunya.

Dengan tenang Yasmin menggeserkan tubuhnya sedikit lalu mengeluarkan jurus morote-seoi-nage (bantingan lewat bahu dengan 2 tangan)

Pagi ini kami berdua berada di halaman belakang, aku dan Yasmin. Dia mempraktekkan beberapa jurus-jurus judonya sekaligus berlatih denganku. Kedua bulikku berangkat bekerja, Sinta keluar entah kemana. Jadi tinggalah aku berdua dengan Yasmin dirumah.
Beberapa matras usang kupasang di dekat gudang, supaya tubuhku tidak remuk oleh karena bantingannya. Demi Yasmin aku pun rela jadi teman berlatihnya, atau lebih tepat sansak hidupnya.

Kini aku bangkit berdiri lagi. Tak habis pikir bagaimana tubuh Yasmin yang lebih kecil dariku bisa melemparkan tubuhku berulangkali tanpa kehabisan nafas. Aku kini mengambil kuda-kuda, perlahan-lahan mendekatinya. Yasmin tersenyum kecil.

Tiba-tiba dia mendekat maju secepat kilat, tubuhnya sedikit menunduk dan menyerbu pinggangku. Belum sempat aku bereaksi, kedua tangannya mengambil pahaku dengan gerakan morote-gari. Sekali lagi aku terlentang.

“Wow!!” Aku terkejap-kejap. Nafasku tersengal. “Kalian berdua benar-benar menakutkan “

Yasmin tertawa geli. Dia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Kusambut tangannya.

Kami berdua duduk di matras. Nafasku masih terengah-engah. Sedang Yasmin sendiri tidak tampak kelelahan. Nafasnya teratur.

“Tidak. Hanya mas Totok saja yang memang tidak mengerti Judo. Jadi tampak seakan-akan aku lebih ahli dan lebih pandai. Padahal masih banyak yang lebih baik dari kami berdua” jawab Yasmin.

“Justru itu aku ingin belajar. Biar tidak jadi sansak hidup kakakmu, Sinta” kataku.

“Hihihi…mas Totok kalau mau belajar, pertama-tama harus mengerti dulu apa Judo itu. Sejarah judo itu.”

“Oya? Boleh donk aku tahu gimana sejarahnya”

“Yakin nih? Nanti bosen denger aku cerita” Yasmin tampak sumringah. Bagaimana tega aku menolaknya.

“Yakin!” sahutku mantap. Yasmin tersenyum senang

“Judo adalah seni bela diri, olahraga, dan filosofi yang berakar dari Jepang. Judo dikembangkan dari seni bela diri kuno Jepang yang disebut Jujutsu. Jujutsu yang merupakan seni bertahan dan menyerang menggunakan tangan kosong maupun senjata pendek, dikembangkan menjadi Judo oleh Jigoro Kano pada 1882. “ Yasmin berhenti sebentar untuk melihat mataku. Dia tersenyum, lalu melanjutkan lagi

“ Nah, Olahraga ini menjadi model dari seni bela diri Jepang, gendai budo, dikembangkan dari sekolah (koryu) tua. Pemain judo disebut judoka atau pejudo”

“Sapa dia? Yang menemukan judo? Jigoro?” tanyaku

“Yup. Jigoro Kano. Tapi pada awalnya dari waktu pegulat sumo zaman dahulu kala yang menjatuhkan lawannya tanpa senjata. Hal ini menginspirasikan teknik-teknik bela diri jujutsu. Sumo pada awalnya hanya dinikmati kaum aristokrat sebagai ritual atau upacara keagamaan pada zaman Heian.” Yasmin berhenti sebentar lalu memandangku.

“Jaman Heian itu sekitar abad 8 – 12” sambungnya seakan mengerti wajahku yang bertanya-tanya.

“Nah, lalu pada perkembangannya, Jepang memasuki masa-masa perang di mana kaum aristokrat digeser kedudukannya oleh kaum militer. Demikian pula olahraga yang sebelumnya hanya dijadikan hiburan, oleh kaum militer dijadikan untuk latihan para tentara. “ Yasmin menerawang sebentar.

“Justru pada masa inilah teknik jujutsu dikembangkan di medan pertempuran. Para prajurit bertempur tanpa senjata atau dengan senjata pendek. Teknik menjatuhkan lawan atau melumpuhkan lawan inilah yang dikenal dengan nama jujutsu.” Dia memandangku lagi. “Bosen ga nih dengerinnya?”

“Ga. Justru aku tertarik. Hitung-hitung kan jadi tambah pengetahuan” sahutku antusias.

Yasmin tertawa geli lalu melanjutkan lagi

“Pada zaman Edo yaitu abad ke-17 hingga abad ke-19 di mana keadaan Jepang relatif aman, jujutsu dikembangkan menjadi seni bela diri untuk melatih tubuh bagi masyarakat kelas ksatria.”

“Gaya-gaya jujutsu yang berbeda-beda mulai muncul, antara lain Takenouchi, Susumihozan, Araki, Sekiguchi, Kito, dan Tenjinshin'yo.”

“Sedangkan Jigoro Kano menambahkan gayanya sendiri pada banyak cabang jujutsu yang ia pelajari pada masa itu, termasuk Tenjinshiyo dan Kito. Kalo ga salah pada tahun 1882 ia mendirikan sebuah dojo di Tokyo yang ia sebut Kodokan Judo. Dojo pertama ini didirikan di kuil Eisho ji, dengan jumlah murid sembilan orang.” Yasmin berhenti sebentar untuk menarik nafas dan mengingat-ingat lagi.

“Lalu tujuan utama jujutsu adalah penguasaan teknik menyerang dan bertahan. Kano mengadaptasi tujuan ini, tapi lebih mengutamakan sistem pengajaran dan pembelajaran. Ia mengembangkan tiga target spesifik untuk judo: latihan fisik, pengembangan mental / roh, dan kompetisi di pertandingan-pertandingan. Makanya sekarang Judo juga ada kan dalam olimpiade” Yasmin tersenyum menyelesaikan ceritanya.

Aku benar-benar terpukau oleh pengetahuannya. Dia benar-benar mendalami Judo bukan kulitnya saja, tetapi benar-benar memahami sampai intinya.

“Bagaimana kamu bisa sampai tahu begitu detilnya?” tanyaku

“Hahaha…yah, gini. Gimana kita bisa mengerti suatu hal atau suatu masalah jika kita tidak mencari tahu sendiri inti dari hal tersebut. Dalam hal ini bela diri yang dinamakan Judo. Otomatis aku juga ingin tahu gimana sih awal mulanya, lalu siapa sih penemunya, gimana sih tehniknya? Gitu, mas.”

“Nah, berawal dari keingintahuanku itu, aku jadi bisa belajar hingga memahami tehnik-tehniknya.” Jawabnya.

Sekali lagi aku terpukau. Bukan saja oleh pengetahuannya, bahkan terlihat dari niat dan hatinya. Begitu dia mencintai Judo.

“Pengen tau lebih lanjut ga nih? Atau sudah bosen?” Tanya Yasmin antusias. Aku mengangguk cepat

“Tentu saja, kenapa tidak?” jawabku.

Yasmin memandangku sebentar lalu meneruskan ceritanya.

“Sebenernya tingkatan Judo itu bermacam-macam. Dimulai dari kelas pemula disebut shoshinsha, seorang judoka mulai menggunakan ikat pinggang dan disebut berada di tingkatan kyu kelima. Dari sana, seorang judoka naik tingkat menjadi kyu keempat, ketiga, kedua, dan akhirnya kyu pertama.”

Yasmin menarik nafas sebentar lalu melanjutkan

“Nah, setelah itu sistem penomoran dibalik menjadi dan pertama (shodan), kedua, dan seterusnya hingga dan kesepuluh, yang merupakan tingkatan tertinggi di judo. Meskipun demikian, sang pendiri, Jigoro Kano, mengatakan bahwa tingkatan judo tidak dibatasi hingga dan kesepuluh.”

“Dan tau ga mas, hingga saat ini hanya ada 15 orang yang pernah sampai ke tingkat dan kesepuluh, maka tidak ada yang pernah melampaui tingkat tersebut. Gila ya” Yasmin tampak sumringah.

“Mungkin kamu nanti yang bakal melampaui tingkatan itu” godaku

Yasmin tertawa geli sambil memukul lenganku pelan.

“Mana bisaaaaaa....??”

“Loh siapa tau kan? Yasmin bisa bikin sejarah baru “ Sambungku lagi.

“Hihihihi...udah ah..jangan godain Yasmin gitu.” Dia tertawa geli. Lalu wajahnya kembali serius.

“Salah satu yang masih kuingat adalah pesan dari sensei. Dia berkata : Judo wa kakutougi dawa nai. Sikasi kokoro to karada to tamasii ga hitotu desu. Mosi kimi ga dekirunonara kimi wa motto tuyokunaru.” Yasmin mengucapkannya dengan sempurna.

Aku terbengong.

“Artinya, Judo tidak hanya sekedar bela diri, tetapi adalah kesatuan dari hati, tubuh dan jiwa. Jika kita bisa melakukannya, maka kita akan semakin menjadi lebih kuat.” Jelasnya. Dia tersenyum.

Aku makin kagum kepadanya.

Dia bangkit berdiri “Aku mau mandi dulu ya. Makasih ya mas Totok mau menemani Yasmin latihan.” katanya, lalu berjalan masuk menuju rumah.

“Apapun demi kamu, Yas...” gumamku setelah Yasmin masuk ke rumah. Entah apa yang kurasakan ini. Berdekatan dengan Yasmin membuatku nyaman dan merasa bahagia. Bahkan rasanya aku ingin setiap saat bersamanya salalu. Jatuh cintakah aku? Tapi dia adalah sepupuku. ‘Apa bedanya? Semalam kamupun bersetubuh dengan Sinta, sepupumu’ ada suatu suara di dalam hatiku berkata.
Akupun merasa bersalah terhadap Yasmin, seakan aku berkhianat darinya.

Aku mendesah panjang lalu bangkit berdiri mulai membenahi matras-matras yg barusan kita pakai berlatih tadi. Setelah itu barulah aku membersihkan kandang si Jalu.


**


Demikian pula keesokan paginya, seperti jadi kegiatan rutin saja. Aku dengan suka rela menjadi patner berlatihnya. Sedikit-sedikit aku mulai memperlajari teknik-teknik dasar. Mulai dari Te-Waza (bantingan dengan tangan), lalu Koshi-waza (bantingan pinggang), dan Ashi-waza (bantingan dengan jegalan).

Yasmin dengan senang hati menunjukkan beberapa teknik counter dan pitingan di tanah. Counter mulai dari Nidan-Ko Soto Gari, lalu Ushiro –Goshi dsb. Kemudian dia juga mengajarkan beberapa teknik Osae-waza atau pitingan dibawah, mulai dengan Yoko-shiho-gatame (kuncian dari samping)lalu dilanjutkan dengan Tate-shiho-gatame (kuncian dari atas) dan lain-lain.
Sama sekali aku tidak berpikir yang tidak-tidak ketika dia beberapa kali menunjukkan jurus kuncian dan pitingan. Walaupun beberapa kali jelas-jelas payudara dan seluruh tubuhnya menempel erat padaku. Sungguh mengherankan. Sungguh aku tidak mau berpikiran kotor tentang Yasmin. Membayangkan wajahnya yang menatapku saja aku sudah berdebar. Matanya yang biru terasa hangat ketika menatapku langsung tanpa keraguan.

Plok...plok...plok

Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan. Berdua kami menoleh keaarah suara tadi. Setan itu!

“Bagus...bagus. Sebentar lagi gue bakal ada lawan nih” Sinta tertawa.

“Sin, kenapa sih kalau kamu ga menggodanya barang sebentar?” seru Yasmin ditengah nafasnya yang memburu. Saat ini dia berada diatas tubuhku melakukan gerakan Tate-Shiho-Gatame. Susunya menempel erat pada mukaku. Sesaat dia tersadar lalu melepaskan pitingannya.

“Kenapa kok elo yang jadi marah?” sahut Sinta gusar. “Lagian ngapain lo ngajarin teknik-teknik judo ama monyet kaya dia?” lanjutnya lagi.

“Sin, kenapa sih kamu ga isa diam sebentar. Kenapa selalu cari gara-gara denganku?” Akhirnya aku angkat suara.

“Haha...gue kaga cari gara-gara. Gue cari kesenangan saja” Dia bersiul. “Lagipula, masih perlu seratus tahun lagi lo bisa belajar judo, ...you know....” sambungnya sambil memberikan isyarat menunjukkan jari telunjuk pada kepalanya.

“Sialan. Emang Cuma kamu aja yang pinter? Ingat diatas langit masih ada langit!” Aku berdiri dengan gusar. Menghampirinya.

“Apa? Mau praktek latihan lo? Sini, dengan senang hati gue ladenin” Sinta menantang sambil memasang kuda-kuda.

“Sudah...sudah...kalian berdua berhenti bertengkar kenapa?” Yasmin menghampiri kami sebelum terjadi ‘pertumpahan darah’

“Dia kan yang mulai duluan” kataku membela diri

“Sebodo amat” desis Sinta.

“Sudah mas, tolong beresin aja matrasnya. Aku juga sudah ga ada niat lagi ngelanjutin latihan.” Yasmin memandangku. Lalu menarik tangan Sinta masuk ke dalam rumah.

“Ga usah Yas. Aku mau disini aja. Kaga gue apa-apain kok monyet lo itu”

Aku membuka mulut hendak menanggapinya.

“Mas?” Yasmin memandangku memohonku untuk mengalah. Aku terdiam. Sinta tersenyum senang.

Yasmin masuk ke dalam rumah. Sedangkan aku berbalik untuk memberesi matras-matras buat latihan tadi. Tak kuhiraukan Sinta yang menatap punggungku.

Baru saja aku memasukkan matras terakhir kedalam gudang, Sinta menghampiriku di dalam gudang.

“Kemana lo semalam? Gue cari ga ada?” tanyanya

“Emang apa urusanmu goleki(cari) aku?” aku menyeka keringat di dahiku. Memandangnya. Heran, kemana wajah sinis tadi?

“Goblok! Kemaren kan ada kesempatan. Bulik Tin ma mama lagi pergi, Yasmin lagi tidur. Lah malah elo ngilang” desisnya gusar.

“Ya ampun Sin, yang kita lakuin kemarin lusa tu udah salah. Aku ga mau mengulanginya lagi!”

“Oya? Bagaimana dengan ini?” jawabnya. Secepat kilat tangannya masuk kedalam celana kolorku tanpa sempat kucegah. Mengocok lembut manukku. Aku terkesiap kaget.

“Sin! Yasmin ada di dalam!” seruku gusar sambil memegang tangannya untuk keluar dari celana kolorku.

“Emang kenapa kalo dia tau? “ sahutnya dengan penuh arti. Tangannya makin kencang memegang manukku.

“Edan kowe(Gila kamu!). Yasmin adikmu! Aku iso dipateni(bisa dibunuh) mamamu kalo dia juga tau!” Desisku.

Sinta tidak menjawab. Senyumnya penuh arti. “Mama tau pun ga masalah” tantangnya. Tangannya bergerak melolosi celanaku. Asal gue bisa bersama pelermu, matipun aku rela” bisiknya. Bibirnya mulai menyentuh bibirku. Aku mengelak.

“Jangan sekarang.” Tolakku. Goblok. Pilihan kata yang salah. Dia pasti berharap ada lain kali.

“Oya? Lalu kenapa peler lo minta sekarang?” godanya sambil terus mengocok manukku yang sudah tegang.

Kuakui tangannya memang benar-benar terampil. Aku melenguh.

Hampir saja aku kalah dengan nafsu. Kukuatkan diriku lalu menarik tangan Sinta

“Sudah Sin. Mikir kenapa? Sek enek wektu ngko wae(masih ada waktu, nanti saja). Jangan mainan bahaya gini.” Bisikku di telinganya.

Heran. Sinta terdiam sejenak lalu menarik tangannya keluar dari celanaku. Dia menurut.

“OK. We’ll see later” jawabnya, mengecup bibirku lalu beranjak keluar dari gudang.

Aku menarik nafas lega. Hampir saja. Fiuuuhhh...

**

Malam itu untuk menghindari Sinta, aku mengajak Yasmin berjalan-jalan keluar, menikmati indahnya bulan purnama. Kami berjalan melewati persawahan yang ramai dengan suara binatang malam.

“Wonderful!” bisiknya pelan sambil berjalan disampingku.

“Apa?” tanyaku tak mengerti.

“Ga. Ini sangat indah. Berjalan di bawah bulan purnama, mendengarkan alunan musik dari binatang-binatang malam di tengah sawah. Sangat indah bukan?” katanya sambil tersenyum memandangku.

“Yup. Memang. Aku kadang kala juga senang berjalan sendiri untuk menikmati keindahan malam seperti ini.” Aku menerawang ke atas. Bintang-bintang bertaburan.

“Aku senang karena aku pindah kesini mas. Di Jakarta mana bisa kita menikmati malam seperti ini. Yang ada malah stress dan pusing di jalanan. Stress pekerjaan. Bahkan seandainya papa.....” Yasmin tertunduk diam.

Aku memandangnya. Pasti dia ingat mengenai papanya.

“Sudahlah Yas. Itu sudah berlalu. Sekarang kehidupan harus terus berjalan. Semakin lama kamu mengingatnya, semakin sakit kamu rasakan” Kataku.

Yasmin mengangkat kepalanya. Dia memaksakan diri tersenyum. Kami kembali berjalan

“Yah, tidak seharusnya aku begini. Mas Totok bahkan lebih tegar dariku. Padahal mas Cuma hidup berdua dengan bulik Tin.” Dia mendesah panjang, meraih tanganku, digandeng dan dipeluk di dadanya.

Darahku berdesir kencang. Jantungku berdebar makin cepat.

Sesaat kami berjalan bergandengan dengan diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Mas...eh...maaf. Selama ini Yasmin lihat mas Totok kok belum punya pacar? Kenapa?” Tanya Yasmin tiba-tiba.

Sesaat aku gelagapan. Pacaran? Aku belum pernah berpikir sejauh itu. Lagi pula belum pernah ada gadis yang singgah dihatiku, kecuali...sekarang.

“Belum. Ya mana ada yang mau sama laki-laki jelek kaya aku gini yas.” Jawabku kecut.

Yasmin tertawa geli.

“Kok ketawa?”

“Abis lucu sih mas. Cewek bodoh kalo ga mau sama mas Totok. Mas tuh baek, gagah, ganteng, juga..”

“Sudah..sudah...jangan bikin aku besar kepala” potongku. Wajahku memerah malu.

Yasmin tersenyum, tangannya makin erat memeluk lenganku

“Bahkan walaupun Sinta sering kali memaki dan menggoda, dia pun sebenarnya suka sama mas” bisiknya tepat ditelingaku.

“Hah? Hahahaha..Ga mungkin! Sinta tu jelas benci banget sama aku” jawabku gugup.

“Yasmin tau kok.” Matanya mengerling penuh arti.

Jantungku seakan berhenti berdetak. Apa yang dia tau?

“Never mine, don’t think about that” Yasmin tertawa geli melihat mukaku yang makin gugup. Kami berjalan lagi. Hatiku dipenuhi tanda tanya.

Yasmin merapatkan tubuhnya kepadaku. Aku terdiam, kuberanikan diri merangkul bahunya. Tidak ada penolakan.

Kami berjalan berangkulan.

“Mas?” Yasmin membuka suaranya di tengah keheningan suara kami.

“Ya?” kupandang wajahnya.

Sesaat dia ragu-ragu untuk melanjutkan.

“Apa mas pernah menyukai seseorang?” bisiknya ragu.

‘Iya, aku suka kamu’ Tapi suaraku tidak keluar

“Ga tau Yas. Aku juga belum pernah berpacaran” jawabku tercekat.

Yasmin terdiam sejenak lalu melanjutkan

“Mas suka sama Yasmin ga?” bisiknya lagi

Pertanyaannya bagaikan geledek di kupingku. Sejenak aku terdiam membisu.

“Ya. Aku suka sama kamu. Kamu selalu baik sama aku, kamu..”

“Hanya suka?” potongnya.

Mati aku! Skak Mat! Bibirku bergetar, tidak tau apa yang harus kukatakan. Opo iki jenenge tresno jalaran soko kulino?(Apa ini yang dinamakan cinta karena terbiasa bersama?)

Yasmin menghembuskan nafas panjang. “Nanti mas kecewa kalau mas cinta sama Yasmin” lanjutnya.

“Tidak!” sahutku cepat. Sesaat aku tersadar apa yang kukatakan itu sama saja mengakui kalau aku cinta dia. O Tuhan!

Yasmin memandangku lurus tepat ke mataku. Bagiku seakan-akan ada ribuan jarum menusuk jantungku. Dia tersenyum.

“Terima kasih mas. Mas sudah jujur sama Yasmin.” Dia memajukan kepalanya lalu mengecup pipiku lembut. Bibirnya basah. Aku merasa terbang di langit.

“Kenapa aku mesti kecewa? Yas, kamu tu berbeda dari semua gadis yang pernah aku kenal. Kamu itu anugerah!” Bodohnya! Gombal banget yang aku ucapin.

Yasmin menaruh jari telunjuknya di bibirku

“Shhh...sudah mas. Yasmin sudah mengerti kok. Hanya Yasmin takut saja kalo mas kecewa dengan Yasmin” jawabnya.

Aku terdiam. Kecewa kenapa? Ada apa? Selama ini gadis inilah yang menurutku terbaik diantara semuanya!

Aku menghentikan langkahku. Yasmin terdiam memandangku. Kuberanikan diri mengecup dahinya. Bibirku gemetar. Dia tersenyum, tersipu.

“Aku sayang ama kamu Yas, apapun yang terjadi!” kataku dengan suara serak. Kupandangi wajahnya lalu kutaruh kedua tanganku di pipinya. Bibirnya setengah terbuka. Kucium lembut sekali. Tubuhnya menegang sesaat. Dia menyambutku.

Malam semakin larut, hanya cahaya rembulan dan musik dari binatang malam di sekitar kami. Tubuh kami saling merapat.


Umi no mottomo-hukaitokoro made sora kara watasi wa mae ni okasii towa kanjimasendesita.
Anata ga watasi-no jinsei ni haitta node, anata wa kurayami-no-yoru-no-nakade watasi-wa
Hosi-no-youni kagayakuyouni-simasu.
Douka-watsi-no-ai wo uketekudasai.
Watasi-no kokoro-no nakade- tiisana-tenside arimasuyouni***


**


Aku bersiul-siul menuju halaman belakang. Pagi ini sungguh indah. Aku tersenyum mengingat kejadian semalam. Yasmin...oh Yasmin....aku bersenandung dalam hati.

Brak!

Tubuhku tergencet di dinding gudang. Sinta! Tubuhnya menggencetku, sekejap tangannya sudah memiting tanganku kebelakang.

“Kali ini lo ga isa menghindar dari gue.” Bisiknya ditelingaku. “Kemana aja lo semalam? Dengan Yasmin ya?” semburnya.

“Bukan urusanmu” Jawabku singkat. Aku meringis ketika Sinta mengencangkan pitingannya.

Anehnya dia tak menjawab apa-apa. Sinta malah melepasku. Dia membalikkan tubuhku berhadapan dengannya.

“Ok lets finish this! Gue dah capek kaya gini.” Nafasnya memburu. Tangannya menarikku masuk ke dalam rumah.

“Mau apaan sih kamu?” kataku gusar. Mau tak mau aku mengikutinya.

Dia berjalan menuju ke kamarnya. Menarikku masuk.

“Sin, sudah kubilang. Kita ga bakal ngelakuin itu lagi. Cukup kesalahan yang aku buat, jadi...” aku tidak sempat meneruskan kata-kataku bibirnya menyumpal mulutku. Aku hendak menghindar, ketika kurasakan ada rasa asin diujung bibirku. Air mata!

Sinta menangis!

Bibirnya erat menempel di bibirku, lidahnya menari mencari jalan masuk ke mulutku. Aku terdiam kaku.

“Apa elo segitu bencinya sama gue sih?” Suaranya serak di telingaku. Tangannya memeluk erat leherku. Aku terdiam.

“Gue tu cuman ingin elo care dikit ama gue. Segitu sulitkah?” bisiknya. Matanya yang basah manatapku. Sungguh aku terpana. Inikah Sinta? Gadis tomboy yang kukenal liar dan kasar?

“Dan elo tau ga? Cuman elo yang pertama kali menyentuh gue! Laki-laki pertama yang pernah gue ijinkan menyentuh gue!” lanjutnya serak. Aku makin terpaku.

“Sin..” Aku bingung mau berkata apa. Tanganku membelai pipinya yang basah, menghapus air mata disana. Aku tidak mempersiapkan kejadian kaya gini.


Dari langit diatas, sampai dalamnya lautan, Aku tidak pernah merasakan segila ini.
Sejak engkau datang di hidupku, kamu membuatku bersinar seperti bintang-bintang menerangi kegelapan malam.
Please jadilah cintaku....jadilah malaikat kecil di hatiku.

Posted at 07:37 am by pohonmangga
Make a comment  

supriyanto 4 cinta ilusi

Namaku Supriyanto 4 : Cinta Itu Hanya Ilusi?
“Gue tau elo benci ama gue, elo tu cuman care ama Yasmin kan? Bulik Tin? Mama? Apa gue ga pantas untuk lo cintai?” bisiknya serak.

“Bukan begitu...” aku terdiam, tidak sanggup meneruskan kata-kataku. Segala bentuk kebencianku terhadapnya tiba-tiba lenyap tak berbekas.

“Gue tu cinta elo. Gue sayang elo!” Sinta berbisik .

“Tapi Sin, aku...”

“Mas, cintailah mbak Sinta seperti mas Totok mencintaiku” Tiba-tiba suatu suara memotong perkataanku. Yasmin! ‘Waduh, iso perang ki’

Kami berdua menengok kearah suara, tampak Yasmin berjalan kearah kami dengan berurai air mata.

“Yas...” suaraku tercekat. Sinta melepas pelukanku, memandang adiknya dengan pandangan tidak percaya.

“Ssshh....sudah...ga usah bicara lagi. Yasmin ga marah” Yasmin memeluk kami berdua, wajahnya tersenyum dibalik air matanya yang mengalir. “Justru Yasmin bahagia....”

“Yas, bukan maksud gue untuk...” Sinta tidak meneruskan kata-katanya, Yasmin mencium lembut bibirnya. Aku bengong melihat melihat bibir si kembar bertaut.

“Sudahlah kak, Yasmin ikhlas, Yasmin cinta kalian berdua, sayang dengan kalian berdua”

Aku tak tahu harus berbicara apa, tenggorokanku terasa kering, mukaku terasa panas. Perasaan apakah ini? Dia memandangku dan Sinta bergantian. Matanya yang sebening telaga tampak basah oleh air mata. Tetapi wajahnya tak menampakkan sedikitpun kekecewaan atau kemarahan. Sungguh aku tak mengerti.

“Mas, Yasmin mohon, biarkan mbak Sinta bisa mencintai mas seperti Yasmin mencintai mas. Dan sebaliknya, cintailah mbak Sinta seperti mas mencintai Yasmin....” bisiknya lirih.

“Tapi Yas...aku tidak bisa pindah dari hatimu” kata-kataku terdengar serak

“Hei...siapa bilang begitu? Mas memiliki kami berdua!” katanya sambil tersenyum

Aku hampir tidak percaya apa yang barusan kudengar.

“Apa yas?”

“Iya, mas Totok boleh memiliki kami berdua, mencintai kami berdua. Artinya Yasmin dan mbak Sinta mau berbagi kasih dengan mas. Bukan begitu mbak?”

Sinta mencium Yasmin, lalu berpaling kepadaku. “Denger ga lo say? Kita sekarang menjadi sepasang...eh..rrr..bingung gimana nyebutnya. Intinya gue dan Yasmin jadi pacar elo!”

Sehabis berkata begitu Sinta mencium bibirku. Aku mengelak, bagaimanapun juga aku masih bingung dengan kejadian yang tiba-tiba ini.

“Mas?” bisik Yasmin “Please”

Sinta kembali mencari bibirku. Kali ini aku menyambutnya. Lidah kami saling membelit. Ujung mataku melirik Yasmin, dia memandangku dengan penuh cinta.

Kulepas ciumanku dengan Sinta, aku berpaling kepada Yasmin. Dia menyambutku, hangat dan basah. Rasa asin bekas air mata diujung bibirnya membuatku sempat ragu-ragu, tetapi, sekali lagi aku terkejut, lidah Yasmin menari di dalam rongga mulutku. Tangannya merangkul erat leherku.

Kurasakan tangan Sinta mulai menarik celana kolorku turun. Sesaat aku meronta, tetapi Yasmin kembali menahanku. Kini Sinta dengan leluasa menarik kolorku hingga sampai mata kaki. Manukku terpampang bebas. Tanpa membuang waktu, seperti biasa, Sinta kembali mengurut-urut dan mengocok lembut batang manukku. Aku mengeluh pelan ditengah-tengah ciumanku dengan Yasmin.
Sungguh tak pernah kubayangkan kejadian seperti ini! Dimana aku kini berada-ditengah-tengah saudara kembar yang rela berbagi kasih denganku. Laki-laki mana yang lebih beruntung dari aku?

Sesaat aku dan Yasmin melepaskan ciuman kami, aku mengambil nafas, terengah-engah aku memandang mata Yasmin yang kini sudah setengah terpejam. Aku menciumi lehernya yang jenjang, kukeluarkan lidahku, menari di permukaan kulit putihnya. Yasmin mengerang. Kepalanya terdongak sesaat seakan memberiku akses lebih leluasa.

Kuturunkan kepalaku, melewati lehernya yang jenjang. Lidahku tetap menari.

Seakan paham, tangan Yasmin mulai melepas kancing kemejanya satu persatu. Aku terdiam, kini tubuh Yasmin terpampang jelas dihadapanku. Susunya masih dibungkus dengan branya yang berenda. Dia tersenyum, sambil membuka kancing branya. Aku terpukau ketika melihat kedua susunya yang benar-benar sempurna. Tidak terlalu besar, tapi kencang dan membulat sempurna, puting-putingnya berdiri menantang.

Sesaat aku mengejang. Sinta mengoralku! Mulutnya bekerja dengan konstan maju mundur di seluruh batang manukku. Aku melenguh pendek...mulutku sudah tersumpal kembali oleh ciuman Yasmin

Perlahan, tubuhku dibaringkan ke ranjang oleh Yasmin, seakan tidak mau ingin lepas dari ‘buruan’nya, Sinta tetap memainkan lidah dan mulutnya di manukku. Dengan tergesa dia juga melolosi seluruh pakaian yang dikenakannya hingga telanjang bulat.
Tanpa dikomando lagi Sinta menaiki tubuhku, lalu menurunkan pinggulnya perlahan-lahan. Yasmin menggengam manukku untuk membantunya masuk ke dalam liang vagina kakaknya. Perlahan manukku mulai membelah liang vagina Sinta hingga masuk seluruhnya. Ugh! Benar-benar membuatku terbang ke surga!

Sinta mulai menggoyangkan pinggulnya naik, sesekali dia memutar-mutarkan pinggulnya. Kembali mulutku mencari payudara Yasmin. Menjilati puting-puting susunya. Yasmin merintih pelan.

“Auh....hmm...”

Seperti biasa, Sinta bergerak liar, mulutnya tak henti-hentinya mengerang hebat.

“Yesssss.....f*ck me!!...f*ck me!....Oh...god..soo......good.....”

Aku melayang! Bagaimana tidak? Aku bercinta dengan kedua gadis kembar yang mirip bidadari turun dari langit ke tujuh.
Sesaat aku menghentikan ciuman dan jilatanku pada puting susu Yasmin. Aku mendongakkan kepala mencari bibirnya. Dia tersenyum, matanya penuh cinta menatapku. Disambutnya bibirku dengan perlahan.

Sinta menggabungkan diri ditengah ciuman kami, aku sempat kelabakan meladeni ciuman ganasnya. Lidah kami saling membelit. Sementara itu Yasmin menjilati daun telingaku dan leherku.

Aku terengah-engah menghirup udara ketika Sinta melepaskan ciumannya. Dia terkikik geli melihatku hampir mati kehabisan nafas. Aku membalasnya dengan meremas-remas lembut kedua susunya, sambil kunaik turunkan pinggulku dengan tempo cepat.

“Aaaaa.......yesss!!! Terus!!!....oooohhh....Yeaaaaaaaaahhhh...i’m cumiiiinggg!” Sinta berteriak kesetanan ketika dia mendapatkan orgasme pertamanya. Tanpa mengurangi tempo kugenjot tubuhnya dari bawah. Membuat dia terlonjak-lonjak ditengah gelombang orgasmenya.

Yasmin mengedipkan mata kepadaku lalu bangkit lalu dia ‘menyerang’ kedua susu kakaknya.

“O my god...o my....Oh Sh*t...!!! Aw....i’m cuuuming again!” Sekali lagi Sinta menggelinjang. Dia meraih kepala Yasmin lalu menariknya. Mereka berciuman. Wow!

Sesaat kemudian Sinta bangkit dari tubuhku, lalu terkapar disebelahku.

“Awesome...!! O...my god...” Dia tertawa ditengah nafasnya yang memburu. Mencium pipiku dengan sayang “ Thanks bro!”

Aku beralih kepada Yasmin. Seakan mengerti, dia membaringkan tubuhnya disebelah kakanya menggantikan tempatku. Aku memandangnya dengan penuh cinta sambil menurunkan pinggulku perlahan-lahan.

Pelan tapi pasti manukku mulai memasuki liang vaginanya. Yasmin terpejam, dia menggigit bibir bawahnya.

Ya Tuhan! Aku sudah bersatu raga dengan Yasmin! Gadisku yang kucinta! Sungguh menakjubkan!

“Mas...” suaranya terdengar serak, bibirnya terbuka tanpa ada kata-kata. Matanya meredup. Tangannya merangkul erat leherku.
Perlahan kugerakkan pinggulku. Yasmin mengejang, dia terengah.

Sungguh, dengan memandang wajahnya saja, bagaikan berada di surga! Pipinya kemerahan, bibirnya yang sensual setengah terbuka mengeluarkan rintihan-rintihan halus, matanya setengah terpejam meresapi kenikmatan persetubuhan kami.

Kugerakkan pinggulku dengan perlahan-lahan, dinding-dinding vaginanya mencengkeram erat manukku, mengurut seluruh batang manukku. Hangat dan nikmat luar biasa. Aku mengerang.

Tanpa kusadari Sinta bangkit, lalu menuju kebawah. Sesaat aku terkesiap, ketika kurasakan lidahnya menyapu kantong telurku, menjilati dan menghisap-hisap lembut kedua telurku.

Oh Tuhan! Betapa nikmatnya! Betapa menakjubkannya!

Sambil menghisap dan menjilatinya, Sinta memasukkan jarinya ke dalam lubang anusku perlahan-lahan. Lalu memainkannya, memaju mundurkan dan memutar-mutarkannya di lubang anusku. Aku semakin meradang! Menggigil oleh nikmat yang mengalir di seluruh pembuluh darahku!

Dengan berirama aku menggoyangkan pinggulku. Bibir kami bertaut. Saling membelit. Suasana jadi hening, hanya suara kecipak alat kelamin kami dan nafas-nafas kami bertiga yang memburu.

Sinta meraih manukku dan melepaskan sesaat dari vagina Yasmin. Aku hendak protes ketika mulutnya membungkus kembali manukku. Dikocok-kocoknya perlahan sambil disedotinya seluruh batang manukku. Lalu dengan tangkas dia mengembalikan kembali ke liang vagina adiknya. Beberapa kali dia melakukan hal tersebut.

“Oh...mas....oooooohh....” Yasmin meraih orgasme pertamanya. Tubuhnya sesaat menggelinjang, dinding-dinding vaginanya mencengkeram erat!

Aku tak dapat menhannya lebih lama!

Seluruh syaraf kenikmatanku beralih, berpusat pada daerah selakanganku! Aku mengejang!

“Jangan dikeluarin di dalem!” Sinta berkata melihat gelagatku yang hendak berejakulasi.

Aku tersadar, kucabut penisku, belum sempat aku bangkit, Sinta menyambut penisku di mulutnya. Tanpa dapat kutahan lagi, muncratlah spermaku kedalam mulutnya. Aku serasa terbang ke angkasa! Yasmin mengulum bibirku, membuat gelombang orgasmeku semakin menghebat!

Aku rebah terlentang bersebelahan dengan Yasmin, nafas kami masih memburu, mataku terpejam meresapi sisa-sisa kenimatan yang baru saja kami dapat. Sementara Sinta masih sibuk menjilati seluruh batang manukku, membersihkannya.

“Thx ya mas...” bisik Yasmin lirih, perlahan dia mengecup pipiku. Aku masih belum bisa berkata apa-apa. Ini terlalu menakjubkan!
Kemudian Sinta mengangkat tubuhnya, dengan manja dia mengecupku.

“Wow...that f*cking awesome! O my god! We did it!”

Yasmin tertawa geli melihat Sinta yang begitu bersemangat.

Aku menarik tangan Sinta, kupeluk tubuhnya dan kucium lembut bibirnya.

“Kamu benar-benar menakutkan Sin!” kataku tertawa geli. Dia menanggapinya dengan mencibirkan bibirnya. Yasmin mengangkat tubuhnya lalu memeluk kami berdua.

“Aku sayang ma kalian berdua” Bisiknya lirih. Pertama dia mengecup bibirku lalu beralih ke bibir Sinta.

Kami bertiga tergeletak kelelahan


**

Aku terbangun oleh nada dering handphone. Kurasakan gerakan di sebelahku. Dengan malas-malasan Sinta meraih HP nya di sebelah bantal. Melihat sekilas di layarnya kemudian menerimanya. Yasmin merapatkan tubuhnya yang telanjang ke tubuhku. Tangannya memelukku. Mengecupku sekilas.

“Hallo! Wie geht es dir?” (Hi, gimana kabarmu?) Sinta berkata riang

“Nein, ich lebe jetzt mit meinem Cousin. Mit meiner Schwester und meiner Mutter.”(Ga. Sekarang saya tinggal dengan sepupuku. Dengan adik dan mamaku juga)

“Yeah..”

Aku bengong. Ngomong bahasa apa neh? Mataku betanya-tanya pada Yasmin.

“Temen Sinta dari Jakarta tu, ngomong pake bahasa jerman” bisik Yasmin

“Lah? Apa temennya dari jerman?” tanyaku. Yasmin mengangguk. Set dah, aku lupa kalo mereka berdua bersekolah di sekolah internasional Jakarta.

“Toll!” (bagus!) tedengar sinta melanjutkan percakapannya lewat telp. Dia mengerling padaku, tangannya berulah, mengelus-elus manukku.

“C’mon du kannst mich immer besuchen kommen”(Ayolah, kamu bisa berkunjung kapan saja kok)

“Ich denke es ist ok.” (Saya pikir juga ga papa)

“Ok Ich warte...”(Ok, tak tunggu ya)

“Man sieht sich. Schoenen Gruss an deine Familie. Tschuess!” (Sampai jumpa. Sampaikan salamku ke keluargamu ya. Bye) Sinta menyelesaikan percakapannya, lalu menutup HP nya

Dia berpaling ke Yasmin. “Itu Julia. Kangen ma kita” memberitahu Yasmin siapa yang barusan meneleponnya. “Ya gue suruh dia mampir kesini kapan-kapan”

“Ga papa kan?” Sinta memandangku minta persetujuan.

Aku mengangguk. “Kenapa gak? Ga papa lah” Aku menjawab.

Yasmin melirik ke jam dinding.

“Mas, sebentar lagi bulik Tin datang, beresin yuk kamarnya.”

Kami bertiga sesaat tersadar. Lalu bangkit berdiri sambil mengenakan pakaian kami masing-masing dan membereskan sprei serta kamar yang berantakan sehabis pertempuran tadi.

**

Pertama kali aku masih bingung dengan situasi ini. Yah, bagaimana tidak aku berbagi cinta dengan kedua sepupu kembarku ini, yang anehnya mereka jelas-jelas ikhlas dan rela aku membagi cinta dengan mereka.

Aku belajar mencintai Sinta seperti dia dan Yasmin mencintaiku dengan tulus, walaupun kadang kala kami masih sering adu argument dan bertengkar, tetapi selalu berakhir dengan peluk dan cium maaf.

Bulik Lasmi dan bulik Tin juga menyadari perubahan ini. Mereka juga heran dengan perubahan sikap dan sifat Sinta yang mendadak.
Kadang kala aku merasa berdosa kepada kedua bulikku ini. Aku sayang kepada mereka berdua, bulik Tin, yang telah membuatku menjadi dewasa untuk pertama kalinya, dan bulik Lasmi, yang jelas-jelas dia menunjukkan rasa cinta dan sayangnya kepadaku, seakan aku anaknya sendiri.

Apakah bulik Lasmi tau jika kedua gadis kembarnya dan aku sudah saling jatuh cinta? Bagaimana nantinya jika bulik Lasmi marah atau tidak setuju dengan hubungan kami bertiga?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar terus di dalam otakku.

Dan satu hal lagi, ada 1 pertanyaan yang sangat mengganjal pikiranku. Dan aku berusaha mencari cara yang tepat untuk menyampaikannya.

Pada suatu siang ditengah hujan gerimis, kesempatan itu datang juga. Bulik Tin sepulang dari kerja dia pergi lagi karena ada rapat dan acara hingga malam nanti, sedangkan Bulik Lasmi jelas tidak akan pulang sebelum nanti malam.

Kini tinggalah kami bertiga di rumah ini.

Aku duduk di sofa kamar tamu sambil memeluk Yasmin yang sedang asik membaca majalah. Sinta sedang tidur siang di kamarnya. Aku berpikir keras darimana aku harus memulai pertanyaan yang selama ini mengganjal di benakku.

“Yas...” Suaraku terdengar lirih

“Hmm?” Yasmin menjawab tanpa mengalihkan matanya dari majalah yang dia baca.

“Uhm...Aku mau tanya sesuatu...boleh?”

Yasmin mendongakkan kepalanya memandangku, dia tersenyum.

“Ya boleh lah mas, nanya kok ndak boleh”

“Tapi Yasmin jangan marah ya..mungkin ini agak pribadi nih pertanyaannya.” Aku was-was

“Kenapa Yasmin harus marah mas? Yasmin cinta dan sayang ma mas Totok.” Yasmin mengecup bibirku untuk meyakinkanku. Aku menghela nafas panjang.

“Uhm...mas cuman bingung waktu pertama kali kita melakukan itu dengan Sinta...” Aku ragu-ragu meneruskan.

“Bingung kenapa mas?” Yasmin mengangkat alisnya. Dia menutup majalahnya, menatap lurus ke mataku.

“Eh...ga, cuman aku heran saja, Yasmin ma Sinta ...uhm.....berciuman, dan saling...uhmm...kaya itu loh yas...cewe dengan cewe” Aku tercekat ketika mengucapkannya.

Yasmin menatapku lurus.

“Kenapa mas? Mas ga suka?” dia bertanya lirih

“Bukan begitu...Cuma heran saja...dan..”

“itulah mas yang Yasmin sampaikan kemarin. Yasmin takut mas kecewa dengan keadaan Yasmin. Yasmin takut mas tidak cinta lagi dengan Yasmin..” bibirnya gemetar.

“Kita sudah lama ngelakuin itu bro! Bukan gue ma Yasmin saja, Mama pun juga. Kadang kita bertiga melakukan bersamaan.” Sinta tiba-tiba muncul dari belakang lalu menghempaskan tubuhnya di pangkuanku.

“Maksudmu?” Aku masih tak mengerti.

Yasmin hendak angkat bicara, tetapi Sinta memberinya isyarat untuk diam. Yasmin terdiam, tubuhnya makin merapat ke tubuhku.

“Gue, Yasmin, dan mama, sudah sering melakukan hubungan seks, walaupun tanpa laki-laki. Kami menggunakan dildo dan alat-alat bantu seks lainnya. “ Sinta menerangkan dengan lancar.

Aku melongo

“Lo kira sapa yang ambil virgin gue ama Yasmin? Dildo!” Sinta menatapku tajam.

“Kok..?” Aku bingung apa yang harus aku katakan. Shock!

“Sejak papa gue ninggalin mama, lo gue ma Yasmin ga tau bagaimana tersiksanya mama? Apakah hanya materi saja sudah cukup? Mama juga butuh seks! Dan kami berdua sukarela membantu menyalurkan hasratnya. Walaupun untuk itu kami harus kehilangan mahkota kami yang paling berharga. Gue kaga peduli! Gue ma Yasmin cinta ma mama, jelas itu bukan apa-apa dibandingkan dengan penderitaan mama. Lalu, apakah kami Lesbian? Tidak! Gue ama Yasmin jelas cinta banget ma elo.” Sinta mengambil nafas.

“Dan kami bertiga masih tetap melakukannya sampai sekarang” Yasmin menyambung kakaknya.

Aku terdiam. Terlalu banyak kejutan ini!

“Jadi? Bulik Lasmi...?” Aku bingung mau meneruskan pertanyaanku.

“Emang gue tahan pa? Tiap malam dengerin dan liatin mama bermain dengan vibrator dan dildo, lalu sehabisnya dia menangis? Gue ama Yasmin sudah berpikir lama, dan keputusan kami sudah bulat. Kami sayang dengan mama, kenapa kami tidak membantunya? So, kalo lo anggap itu aneh terserah! Gue sudah terus terang ama lo bro. Ini kenyataannya. Makanya ketika gue tau kalo lo berhubungan seks dengan bulik Tin, gue juga tidak heran lagi.” Sinta melanjutkan.

Aku terperangah mendelikkan mataku. Bagaimana jika Yasmin...

“Yasmin sudah tau lama kok mas, its ok mas” Yasmin berkata seakan mengerti jalan pikiranku. Dia mengelus lembut pipiku.

Aku terdiam tidak mampu berkata-kata lagi. Jadi selama ini Sinta dan Yasmin itu bermain seks dengan mamanya sendiri? Aku hampir tidak mempercayainya. Bulik Lasmi yang elegant dan cantik itu sedemikian rapuhnya sehingga dia bercinta dengan kedua gadis kembarnya sendiri? Aku sungguh tak mengerti.

Tunggu! Betapa munafik dan naifnya aku....Apa bedanya? Aku juga bercinta dengan bulik Tin, lalu kemudian dengan kedua sepupu kembarku....ya Tuhan...makin rumit aja kayanya..

“Mas...” Yasmin memanggilku pelan, membuatku kembali dari alam pikiranku.

Aku menoleh ke arah wajahnya. Matanya sembab. Ada air mata disitu.

“Sekarang mas tau kebenarannya. Sekarang mas tau kenapa Yasmin bilang betapa takutnya Yasmin mencintai mas. Betapa Yasmin selalu dihantui ketakutan akan kehilangan mas Totok.” Dia mengejapkan matanya. Sebulir air matanya bergulir menuju ke dagunya.

“Yasmin bukan gadis yang mas sangka, Yasmin sudah ternoda mas....bahkan sebelum mas Totok menyentuh tubuh Yasmin.” Dia kembali terisak.

“Sudahlah Yas, sejak dulu kita sudah tau resikonya akan begini. Kenapa harus menyesal? Mama adalah segalanya bagi kita, gue ikhlas! Dan sekarang mas totok sudah tau kebenerannya, sudah terlanjur basah. Gue ga mau boongin Totok” Sinta berkata lirih
Aku membisu. Aku mempererat pelukanku kepada kedua gadis ini. Apa aku tega? Apa aku bisa? Aku mencintai mereka, sungguh menyayangi mereka, tak peduli apapun keadaannya. Aku sudah siap! Dan aku sungguh tak ingin berpisah dengan mereka.

Kuhapus air mata Yasmin dengan punggung jariku, kuangkat dagunya, lalu kucium lembut bibirnya. Dia bergetar. Kini aku beralih ke Sinta, kucium lembut juga bibirnya. Mataku memandang kedua kekasihku ini seakan berkata, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Pandangan mata kami bertiga sudah cukup untuk mengungkapkan ribuan kata....mengungkapkan seluruh perasaan di dalam hati kami masing-masih. Keheningan ini justru sangat berarti bagi kami bertiga.

Hanya suara gerimis diluar yang terdengar.

Mereka memelukku erat seakan memahami bahwa aku tidak akan meninggalkan mereka, bahwa kita akan selalu bersama....

“No one ever saw me like you do
All the things that I could up to
I never knew just what a smile was worth
But your eyes say everything without a single word
'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows you're the missing piece
You made me believe that there's nothing in this world I can't be
If i could freeze some moment in my mind
Be the second that you touch your lips to mine
I'd like to stop the clock, make time stand still
'Cause baby, this is just the way I always wanna feel”


**

Aku terdiam di keheningan malam. Seluruh rumah sudah tidur. Tinggal aku sendiri yang masih memikirkan dan mencerna semua yang Sinta dan Yasmin katakan tadi siang. Berusaha mencerna dan menerimanya dengan akal sehat.

Yang aku yakin adalah aku tetap mencintai mereka setelah apa yang terjadi pada kedua kekasihku, aku berusaha memahami posisi mereka berdua. Walaupun terkadang kejadian yang mereka alami tidak bisa diterima dengan akal sehat. Tetapi aku sedikit-demi sedikit mulai memahami apa yang mereka pikirkan. Apa yang membuat mereka mengambil keputusan seperti itu, apa yang membuat bulik Lasmi berbuat seperti itu

Mendadak aku menjadi geram dan marah. Ini gara-gara papa mereka! Ini semuanya terjadi karena laki-laki itu! Tidak bertanggung jawab dan meninggalkan mereka semua dalam keadaan frustasi, hancur dan marah.
Bagaimana bisa dia meninggalkan bulik Lasmi yang begitu baik, begitu cantik dan seksi. Bagaimana dia bisa meninggalkan kedua putri kembarnya yang cantik dan berprestasi? Apakah sedemikian berharganya wanita lain itu baginya? Bisakah dibandingkan dengan keluarga yang bahagia?

Tanpa sadar aku mengepalkan tanganku. Marah!

“Totok?”

Suatu suara mengagetkanku. Hampir aku terlonjak dari kursi. Bulik Lasmi!

“Ya bulik? Ada apa?”

Bulik Lasmi menghampiriku lalu duduk di sebelahku dalam keremangan malam.

“Kenapa tok? Ga bisa tidur ya? Atau ada yang dipikirkan nih?”

Aku memandangnya. Bulik Lasmi memakai daster tipis tanpa lengan. Semakin menonjolkan bentuk tubuhnya yang terawat dan masih seksi. Wajahnya sungguh membuatku tergetar. Cantik dan elegant.

“Ya lik, Totok ga isa tidur.” Aku menjawabnya pelan. Masih terpukau dengan bulikku yang satu ini. Betapa gobloknya laki-laki yang meninggalkannya!

“Mau berbagi sama bulik? Mungkin ada masalah?” Bulik Lasmi tersenyum, dia merangkulku.

“Eh...ga kok lik...bener, Totok ga ada masalah apa-apa” Aku tersipu.

Bulik Lasmi mendesah panjang lalu melepaskan rangkulannya. “Ya udah kalo ndak mau ngomong. Bulik ya ndak maksa. Totok sudah besar, jadi bisa tau yang mana yang terbaik bagi Totok kan?” dia tersenyum dalam keremangan.

“Ya lik, suwun lik” Jawabku kaku.

“Ga usah berterima kasih gitu. Kamu tu sudah bulik anggap sebagai anak sendiri.” Bulik mengelus kepalaku. “Dan bulik juga senang Totok sudah bisa rukun dengan kedua anak bulik.”

Aku menelan ludah. Apa kata-katanya merupakan sindiran? Jangan-jangan bulik sudah tau jika kedua anak gadisnya sudah aku tiduri semuanya?

“Ya lik” jawabku tercekat.

Bulik Lasmi mengangkat alisnya.

“Ada apa tok? Kok kayanya ada yang mengganjal?” tanya bulik pelan, tetapi hampir seperti geledek bagiku.

“Eh...ga lik, Totok ga kenapa-kenapa kok” Ingin sebenarnya aku menanyakan kebenaran cerita dari kedua kekasihku. Tetapi apa dayaku. Lidahku terasa kaku. Aku tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkannya.

Bulik Lasmi kembali menghela nafas panjang

“Tau ga tok, sejak pernikahan bulik berantakan, hidup bulik juga menjadi seperti tidak berarti lagi. Rasanya semua sudah hilang tak bersisa. Hanya Sinta dan Yasmin saja yang merupakan harta paling berharga buat bulik. Kasihan mereka....” bulik Lasmi terdiam, pandangannya menerawang jauh.

“Jalan mereka masih panjang...tanpa sengaja, bulik juga menghancurkan harapan-harapan mereka...bulik merasa bersalah sekali tok. Tetapi bulik bisa apa? Sekan-akan ini nasib yang sudah digariskan di hidup bulik sekeluarga.” Bulik terdiam beberapa saat.

“Kenapa dia kok tega-teganya begitu ya sama bulik...” suaraku terdengar geram

“Ga tau lah tok, bulik sendiri selalu bertanya-tanya, apa salah bulik, apa yang kurang dari diri bulik. Sehingga dia tega meninggalkan bulik dan kedua anaknya, hanya demi wanita lain?” bulik Lasmi menggelengkan kepalanya pelan.

‘Sungguh goblok mantan suami bulik Lasmi.....benar-benar bodoh!’ pikirku

Aku memandangi wajahnya, terlihat letih dan kecewa. Tanganku meraih tangan bulik Lasmi, meremasnya perlahan. Dia memandangku.

“Totok ngerti kok lik, dan Totok ga mau bulik Lasmi putus asa. Kita semua disini pasti mendukung bulik Lasmi dengan sekuat tenaga, Totok, Bulik Tin, Sinta dan Yasmin. Jadi bulik jangan kuatir. Yang sudah berlalu, biarlah itu jadi kenangan bulik. Masa depan Bulik, Sinta dan Yasmin pasti akan indah pada waktunya” hiburku.

Mata bulik Lasmi berkaca-kaca.

“Thanks Tok...” ujarnya serak. Dia meraih kepalaku lalu mengecup bibirku! Basah. Aku mengejang. Tanpa sadar aku menjilat bibir hangatnya.

Bulik Lasmi terdiam sesaat ketika merasakan lidahku di bibirnya. Tanpa berkata apa-apa dia mengecup lidahku. Setelah itu dia menarik kepalanya kembali. Matanya memandangku penuh arti sambil tersenyum.

“Maaf lik...Totok...ga...”

“Sssshhhh...sudah ga papa” Bulik Lasmi menempelkan jari telunjuknya ke bibirku.

Aku terdiam. Memalukan! Apa yang ada diotakku sehingga berani lancing dengan bulik Lasmi?

Perlahan, Bulik Lasmi mengangkat daguku lalu bibirnya mengulum bibirku. Hanya sebentar, tetapi aku merasa seperti kesetrum ribuan watt!

Perlahan dia melepaskan ciumannya, bibirku mengejar bibirnya. Lidahku menari di permukaan bibirnya. Sesaat kami tenggelam dalam alunan indahnya tarian bibir kami. Tanganku memeluk tubuhnya erat-erat.

Agak tersengal bulik Lasmi melepaskan ciumannya, dia memandangku, mengelus rambutku. Aku masih menggigil, bibirku masih gemetar.

“Sudah Tok. Bulik tidur dulu” Bulik Lasmi bangkit dari tempat duduknya. Aku mengangguk masih terdiam. Nafasku masih memburu.

Setelah bulik Lasmi masuk ke dalam kamarnya, tinggalah aku sendiri masih tidak mempercayai ‘insiden kecil’ barusan.

‘Ya Tuhan, aku ini memang anak durhaka! Sudah kedua anak gadisnya aku setubuhi, kini akupun bernafsu juga dengan mamanya yang sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri’

Aku meraba selakanganku. Manukku ngaceng!

Tanpa membuang waktu lagi aku masuk ke kamar bulik Tin, aku menunggu beberapa saat ketika dirasa aman, barulah aku membangunkan bulik Tin, menyalurkan hasratku yang sudah sampai ubun-ubun.

Baru aku berhenti, ketika bulik Tin ‘meminta ampun’ padaku, karena sudah tidak kuat lagi.


**


Lasmi terdiam di kamarnya, dia meraba bibirnya sendiri.

‘Ya Tuhan, Apa yang baru kulakukan?’ Lasmi menggelengkan kepalanya. Tubuhnya menggigil.

‘Supriyanto, anak itu sekarang sudah tumbuh besar demikan gagahnya, padahal dulu aku yang menggendongnya waktu dia masih bayi, sekarang? Barusan saja aku berciuman dengannya, Oh...apa yang kulakukan ini?’ Lasmi meraba selakangannya. Basah. ‘Ya ampun, sekarang akupun terangsang hanya memikirkan anak itu.’ Dia memejamkan matanya.

Tak seberapa lama dia mendengar dari kamar sebelah, suara-suara yang tak asing lagi ditelinganya. Sejenak dia menegakkan kepalanya. Dia melirik ke dua gadis kembarnya yang sudah terlelap membelakanginya.

‘Oh Tin, betapa beruntungnya dirimu....oooh..’ tanpa sadar Lasmi merabai vaginanya dari luar permukaan celana dalamnya. Lama kelamaan, tangan Lasmi masuk kedalam celana dalamnya, dan mulai mengelus vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Basah dan hangat.

Jari-jarinya bekerja di seputar bibir vaginanya, perlahan dia menemukan klitorisnya sendiri. Dia meggosoknya. Secara perlahan dan makin lama makin cepat.

Bibirnya mendesis. Lasmi menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Dia masih jelas mendengar suara-suara persetubuhan Supriyanto dan buliknya di kamar sebelah.

Lasmi memasukkan satu jari ke dalam liang vaginanya, mancari-cari sebuah titik yang membuatnya terbang kelangit. Syaraf-syaraf kenikmatannya bekerja dengan cepat seakan merespon keinginan tubuhnya.

Gerakannya makin liar, makin tak terkendali, mengguncang seluruh aliran darah dan degup jantungnya. Membuatnya makin terlena dan tergelepar dalam nikmat yang tiada terkira.

Nafasnya sesaat masih memburu, puncak kenikmatan yang baru diraihnya dengan jari-jarinya sendiri membuat matanya berkunang-kunang.

Lasmi memejamkan matanya, menghembuskan nafas panjang. Dia tau, dia mencapai orgasme dengan cepat karena keponakannya sendiri, hanya dengan membayangkan Supriyanto, tubuhnya yang gagah, wajahnya, bibir dan lidahnya yang tadi menari dimulutnya, lalu.... Lasmi bergetar, mulai menangis sesenggukan.....

‘Betapa bodohnya aku....’ Lasmi tak henti-hentinya mengutukui dirinya sendiri


**


Yasmin menggigit bibirnya sendiri menahan agar suaranya tidak keluar. Matanya basah. Dia sudah mendengar mulai awal mamanya bermasturbasi, hingga kini menangis disampingnya.

“Mama.....”

Yasmin menangis dalam keheningan malam itu..

**

Posted at 07:38 am by pohonmangga
Make a comment  

ketika tsunami terjadi

Ketika Tsunami Terjadi

Semua hiruk pikuk. Tak ada yang tau bagaimana keadaan demikian cepet bisa memorakporandakan kampung. Linda dan Maskun terhenpas olehombak. Kedua ibui bapa mereka tak tau kemana. Saudara-saudara mereka juga tak tau kemana. Yang diketahui LInda, saat matanya terbuka dengan tubuh lemas, dia berada di sebuah hutan dan lama dia baru bisa sadar, kalau terjadi bahaya. Suara gemuruh, kemudian kayu

berderak-derak dan orang-orang berteriak, kemudian rumahmereka dibantai ai4r dari luar dan hancur. Ketika itu mereka sekeluarga sedang makan pagi dengan cerita.
Linda menangis karena tak ada orang di sekelilingnya. Maaaakkkk…. demikian Linda berteriak. Tak ada jawaban. Di sisi lain, Maskun juga tersadar. Lamat-lamat dia bangkit dan mendengar suara teriakan. Dia yakin sekali itu suara Linda adiknya dan dia pun memanggil nama adiknya. Mereka bersahut-sahutan. Dengan tubuh lunglah Maskun mendekati suara dan dalam jarak 20 meter dia melihat adiknya Linda 15 tahun dengan pakaian compang camping. Baru Maskun melihat tubuhnya sendii, yang tinggal celana jeans yang kuat dan bajunya juga compang samping.
“Kina dimana, Uda…” tanya Linda. Mereka berangkulan. Linda hanya memakai rok yang compang camping dengan tubuhnya ada bercak-bercak darah yang sudah mengering, tinggal terasa perihnya. Maskun juga tubvuhnya penuh bercak darah. Maskun tak menjawab pertanyaan adiknya. Dibimbingnya adiknya ke tepian sungai. Alir sungai yang kecil, namun jernih. Maskun pergi ke sebatang pohon, dia menemui masih ada jalaran daun sirih. Maskun ingat kalau mereka berada di suatu tempat yang biasanya dia berburu di sana. Dibersihkannya luka tubuh adiknya, mulai dari bagian kaki, paha, perut dan di bawah buah dada. Kemudian luka-luka itu ditempelinya dengan kunyahan daun sirih. Mulanya terasa perih, namun kelamaan luka akan menyatu. Demikian juga padanya.
Mereka pun ditolong oleh orang-orang pada keesokan harinya. Sebelum mereka bertemu dengan orang, Maskun tak mamu membawa adiknya kemana-mana. Maskun mengmpulkan apa yang ada. Banyak [pakaian sobek tersangkut di pepohonan, kemudian dijalin dengan baik. Maskun membuat sebuah tempat tidur dari kain. Kedua ujung kain diikatkan pada pohon kayu agak ketinggian. Linda yang didudukkan di pohon tinggi karena pergelangan kakinya terkilir, terpaksa digendong oleh Maskun (21 tahun).
Maskun berjalan menyusuri hutan yang tersapu Tsuami. DIa mendapatkan dua kotak mie instan, ada beberapa bungkus sudah rusak tapi masih banyak yang masih utuh. Dia terus mencari dan mencari apa saja yang dibawa oleh gelombang ke sebalik gunung itu. Untung Maskun mendapatkan beberapa buah mancis, ada rantang dan sebagainya. Semua dia bawa ke tempat adiknya yang didudukkan.
Maskun pun mencari ranting-ranting kayu yang mudah kering. Mengisi rantang dengan air anak sungai yang termasuk jernih. Ranting kayu yang banyak itu di bakar dan ranting kayu yang masih lembab diletakan di tepian api agar cepat kering. Dengan lahap, Masmkun makan bersama LIna adiknya itu. Ketika Maskun mau pergi mencari pertolongan., Linda si manja tak mau ditinggalkan.
Maskun yang pernah mendapat latihan Pramuka selama 7 tahun dari siapa sam;pai penegak, mampu hidup survive. Malamnya mereka pun tidur dalam sayu ayunan di antara dua pohon. Kain-kain yang mereka cuci tadi siang masih lembab, hingga tak bisa dipakai jadi selimut.
Linda si imut memang sangat penakut. Sedikit saja ada suara aneh baginya, dia langsyung memeluk Maskun abangnya. Mereka pun berpelukan sepanjang malam. Saat Linda tertidur nenyak dalam pelukan abangnya, saat itu Maskun terbangun. Saat itu juga iblis merasukinya. Dia lupa pada ibo-bapa adik adik-adiknya dan lupa kepada siapa saja, apakah mereka masih hidup atau belum. Maskun sedang memeluk adiknya, yang hanya memakai rok robek-robek dan tingall celana dalam serta bra juga sudah dilepas, karena untuk mengobati luka di bawah payudaranya
Maskun terangsang. Teyek adeknya yang demikian mengkal, menyatu dengan dadanya. Kontolnya bangkit berdiri. Perlahan, Maskun menjilati pentil tetek adiknya yang masih mungil itu.
“Kenapa Bang?” tanya LInda tiba-tiba terbangun.
“Sudah tidur saja…” Mskun setengah membentak.
“Hmmm…” adiknya merengek dan memeluk Maskun. Maskun tyerus menjilati dan mengisa-isap pentil tetek adeknya. Sebelah tanganya mengelus-elus memek Linda yang belum berbulu.
“Hhmmmm….” Linda kembali dengan manjanya.
Kemanjaan Linda itu, membuat Maskun semakin bernafsu. Dia terus menjilati tetek adiknya dan mengelus-elusnya samopai akhirnya Maskun dapat menjilati memek adiknya.
“Hhhmmmm…..” Linda kembali mendehem manja dan menjepit kepala Maskun dengan kedua kakiknya. Maskun terus menjilatinya.
“Bang… aku mau pipis….” kata Linda manja. Maskun diam saja tak menghentikan jilatannya pada memek Linda, sampai akhirnya menjepit lebih kuat lagi kepala Maskun
Setelah jepitan melemas, Maskun mengangkangkan kedua kaki adinya dan menekankan penisnya ke memek Linda. Saat ditekan, Linda menjerit di tengah malam di tengah hutan itu.
“:sakiiiiiiitttt,” katanya. Maskun yang kesetenan tidak perduli dan terus menekan sampai semuanya masuk ke dalam. Menahannya sejenak dan Linda masih terus menangis. Perlahan Maskun mengocok penisnya dan Linda pun mereda tangsisnya sampai Maskun juga melepaskan spwermanya.
Mereka pun tertudr pulas malam itu, sampai matahari meninggi menusuk mata, baru mereka terbangun. Cepat Maskun mandi dan bersih diri lalu memasak makanan untuk mereka. Di bopongnya adiknya turun dan mereka duduk berdua.
“Percayalah besok atau lusa, pasti datang bantuan, karena inibencana,” kata Maskun. Dia pun beru[paya membuat tenda darurat untuk mereka berdua. Setelah Maskun meneliti sampai 300 meter, Maskun mendapatpi banyak barang-barang yang isa dimanfaatkanya. Dia mengerti, kalau bencana ini sangat besar. Diambilnya sebuah radio kecil dan beberapa buah battery. Di bersihkannya radio itu, sampai diperiksa sedetil mungkin, karena dia adalah mahasiswa D3 elektronika. Akhirnya radio itu bisa dipakai dan mereka mendengar berbagai berita, tahulagh mereka, kalau mereka korban Tsuanmi.

Maskun mendapatkan Bethadine bebeapa botol dan verban serta obat-obatan yang biasa dijual tanpa resep atau obat yang bisa dijual bebas. Ada sabun dan berbagai keperluan. Mancis dan korek api dia jemur dan beberapa mantel hujan dia temuka juga. Mereka pun bertahan di tepian anak sungai itu. Sudah dua hari, belum juga ada bantuan. Tapi pakaian mereka sudah kering dan sudah bersih dicucui, terutama pakaian dalam.

“Apakah kita akan mati disini?” tanya Linda.
“Tidak. Pasti tidak. Makanan kita cukup. Bila dua hari ini kamu sudah bisa aku tuntun, kita akan mencari jalan keluar dari hutan ini,” kata Maskun. Linda merasa sedikit nyaman. Dia berpoikir, andaikan saja dia terdampar sendiri, siapa yang bisa menolongnya. Andaikan dia terdampar dengan orang lain, dia juga akan…

Linda mengingat apa yang mereka lakukan tadi malam. Maskun menjilati teteknya dan mengelus-elusnya serta memeluknya dengan kasih sayang. Tapi LInda sebaliknya justru merasakan kehangatan. Mereka memang saudara yang sangat akrab. Mereka lebih akrab dibandingkan dengan empat saudara mereka yang lain. Beda usia mereka walau terpaut enam tahun, namun mereka seperti demikian bisa saling mengerti.

Untuk pertama kali Linda berciuman dengan lembut. Tidak seperti pacvar Linda yang bernama Johan yang selalu menciumnya dengan tergesa-gesa, kemudian jika sudah puas, Johan seperti tidak perduli padanya. Beda dengan Maskun, dia sabar mengelus dan membelai Linda. Sabar menciumi leher dan menjilati sekujur tubuhnya. Mereka sudah mendapatkan banyak kain yang sudah bersih dicuci dari barang-barang yang dibawa ombak. Mereka sudah dapat bahkan tiga buah selimut tebal. Semuanya sudah komplit, walau disana sini banyak yang robek.

Yang membuat Linda tak mampu membantah ucapan Maskun agar mereka bertahan dua atrau tiga hari lagi dengan perbekalan mereka yang cukup, saat Linda masih mengingat bagaimana ujung lidah Maskun menjilat-jilat vaginanya. Vagina yang berbulu tipis itu dijilati dengan lembut, membuat Linda terangkat-angkat tubuhnya.
“Udaaaaa…..” kata Linda mendesah-desah dan meremas-remas kepala Maskun.
“Uda apain memekku?” tanya Linda. Maskun justru tak menjawab, karena dia yakin itu adalah pertanyaan basa-basi saja, toh jilatannya tetap dinikmati oleh Linda.
“Enak?” tanya Maskun.
“Iyooooo…..” jawab Linda melemas dan menghentikan jepitan di kepala Maskun. Saat itu, Maskun justru menguakkan kedua pahak adiknya itu lebar-lebar dan menempelkan ujung kontolnya ke antara dua bibir memek Linda adiknya itu.
Perlahan Maskun menekannya. Linda mengigit bibirnya menahan sakit.
“Sakit Uda….” kata Linda merintih.
“Tahan sebentar sayang. Aku menyayangimu. Tak mungkin aku mencelakakanmu, sebentar lagi pasti enak.” kata Maskun.
“Tapi kita saudara. Kita tak boleh melakukan ini,” kata Linda.
“Kita sudah terlanjur…” kata Maskun. “KIta teruskan sama tidak kita teruskan, dosanya sudah sama,” jawab Maskun.
Sreeeg.. terasa seperti ada suara yang robek di dalam memek Linda. Linda menjerit. Cepat Maskun mengecup bibir adiknya dan kembali menekan kontolnya ke dalam dan Linda kembali menjerit. Maskun menahan kontolnya di dalam memek adiknya itu. Linda pun menanngis menahankan rasa perih dan sakit.

“Sabarlah, sebentar lagi tak sakit,” katanya. Maskun pun menarik perlahan kontolnya dan perlahan kembali menusuknya, demikian seterusnya, sampai satu hentakan kontolbnya dia tahan sepenuhnya ke dalam memek adiknya itu.

Maskun terus membelai rambut adiknya dan mengecup pipinya, serta mengecup bibrinya.
“Aku menyayangimu,” katanya lembut.
“Kalau aku disayangi, mkenapa harus begini?” kata LInda.
“Ini bagian dari rasa sayang yang teramat dalam,” kata Maskun merayu.
“BIla aku hamil?”
“Kita akan pindah dari pulau ini dan kita minta surat keterangan pindah. Aku dari desa sebelah dan kamu dari desa kita dan kita akan menikah di tempat lain, kata Maskun. Sambil berbicara merqyu adiknya, maskun perlahan terus mencucuk tarik kontolnya dan Linda sudah mulai menikmatinya. Mereka sudah berpelukan dan maskun terus menjilati leher Linda dengan kasih sayangnya.

“Sudah lama aku mencintaimu, bukan sepwerti adikku, tapi aku ingin kau menjadi pacarku,” kata Maskun sembari terus memeluk adiknya dan menekan jauh kontolnya. Linda juga memeluknya dan kehangatan sperma dalam memek Linda demikian nikmatnya. Setelah kontol Maskun keluar dari memek Linda, Maskun mencium pipi adiknya dn mengucapkan tyerima kasih dan mengucapkan rasa cinta. Linda membalasnya dengan kecupan pula.

Setelah dua hari, mereka mendengar suara heli kopter menderu-denru. Linda berteriak minta tolong. Heli terlalu jauh di atas sana, hingga tak mendengar suara teriakannya. Maskun mengikat kain merah pada sebuah tongkat kayu dan emminta kepda Linda untuk melambai-lambaikannya. Sementara Maskun mengumpulkan ranting dan daun kering. Begitu heli kembali terdengan meraung, dimintanya LInda melambaikan bendera itu, dan Maskun membakar tumpukan ilalang dan daun kering serta rantint-ranting kayu, hingga asap menggepul.

Heli mulai mendekati mereka dan semakin merendah. Linda tersenyum bahagia demikian juga Maskun. Dari atas heli turun seorang tentara dan setelah sampai di bawah, dia mendekati Maskun dan Maskun menjelaskan, mereka adik-beradik yang terdampar dan selamat. Tentara itu mengikatkan tali ke tubuh LInda dan Maskun yang sudah tersedia, kemudian dengan alat radio tentara itu meminta agar metreka ditarik. Bertiga mereka ditarik oleh tali dan dua orang tentara yang ada dalam heli menarik mereka masuk. Salah seorang di antara tentara itu langsung memeriksa luka Linda sembari terbang, kemudian memberikan suntikan dabn pengobatan.

“Kanmu hebat bisa bertahan,” kata tentara itu. Mereka terbang dan dari ketinggian Linda Maskun melihat desa mereka nun di bawah sana sudah porak poranda. Linda dan Maskun melelehkan air mata, memikirkan bagaimama ibu-bapa dan saudara mereka. Pada sebuah lapangan Maskun dan Linda diturunkan dengan penumpang yang lain, kemudian mereka di bawa ke pengungsian yang dilayani oleh sukarelawan. Saatr Linda istirahat, Maskun mencari tahu keadaan orangtua mereka. Tak ada keluarga mereka yang selamat. Maskun tercenung dn kembali ke kamp pengungsian serta menceritakan kepda Linda yang sudagh diganti pakaiannya dan mendapat jatah pakaian lain. Berdua mereka berpelukan.

“Apakah ini istri saudara?” kata salah seorang petugas.
“Ya Pak. Kami pengantin baru. Tapi mai tidak punya identitas apa-apa lagi,” jawab Maskun.
“Nanti kita akan keluarka identitas pengganti berupa duplikat,” kata sang petugas. Maskun tersenyum. Untung ketika dia pulang ke kampung halamannya, di tempatnya bekerja dia juga pamit dan mengatakan, mungkin saja dia akan dinikahkan di kampung halamannya. Bagaimana perjalana selanjutunya….

Kenapa Uda mengatakan, kita ini suami isteri? Tanya Linda kepada Maskun. Maskun diam saja. Dia berupaya untuk mendapatkan ibu dan ayah mereka. Linda puin mempertanyakan kembali kenapa Maskun mengatakan kepada petugas, mereka adalah suami isteri?
“Supaya kita tidak dipisahkan. Nanti kalau kita ketemu dengan orangtua kita, baru kita bersama dengan

mereka dan kita kembali seperti biasa, kakak dan adik,” kata Maskun. Mereka menemui petugas dan meminta daftar nama-nama yang selamat dan tidak selamat. Dalam daftar yang selamat tak ada nama ibu, bapak dan saudara mereka. Dalam daftar nama yang meninggal dunia, ada nama ibu dan bapak mereka, tapi tak diketahui nama adik atau saudara mereka. Mereka berupaya terus mencari dan mencari. Kemudian mereka menukan ayah dan ibu mereka persis ketika masu dimakamkan. Jenazah yang sudah membusuk dan bau. Linda dan Maskun hanya bisa menangis dan ikhlas.

“Aku gak mau berpisah,” kata Linda pada Maskun.
“Aku juga tak ingin kita berpisah,” kata Maskun,. Mereka menemukan beberapa teman-teman mereka sekampung yang mendaftarkan diri untuk direlokasi ke daerah lain. Hanya ada beberapa orang yang mau. Seperti Sanusi dan Yati, mereka juga mengakui sebagai suami isteri, agar tidak dipisahkan dalam relokasi tempat. Akhirnya mereka mendapat surat keterangan dan duplikat surat nikah.

Setelah semuanya siap dan dianggap kesehatan fisik dan mental mereka sudah baik, ke dua pasang bersaudara itu pun naik ke kapal untuk ikut relokasi ke daerah transmifrasi yang baru dibuka kembali, karena banyak peserta transmigrasi terdahulu melarikan diri dari tempat mereka.
“Kita tidak akan berpisah, kan?” tanya LInda sangat manja. Maklumlah, dia tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Maskun juga sangat memanjakannya. Demikian juga dengan Sanusi dan Yati. Bersama mereka mengharungi lautan selama tujuh hari dan singah sebentar di pelabuhan tertentu. Sanuni adalagh adik Yati. Beda usia mereka berkisar empat tahun. Mereka juga sudah tidak punya siapa-siapa sama seperti Maskun dan Linda.

Sesampainya di daerah baru itu, mereka mendapatkan rumah yang berdekatan yang isinya sudah dilengkapi dengan sederhana. Ada kantongan beras berisu 20 Kg dan peralatan dapur setrta peralatan pertanian. Mereka samapa-sama memasuki rumah baru. Sorenya Yati mendatangi Maskun mempertanyakan status mereka. Maskun menjelaskan, daripada mereka dipisahkan, lebih baik mereka menikah saja, walau saudara sekandung. Toh tidak ada yang tau.
“Jadi kamu akan memperisteri Linda?” tanya Yati. Sejanak Maskun menatap Yati. Lalu menganguk, agar mereka tidak berpisah.
“Bagaimana dengan aku?” tanya Yati. Maskun diam saja. Tak lama Sanusi pun datang bergabung di halaman rumah Maskun dan berdiskusi.
“Semua karena terpaksa, semoga kita bisa hidup dengan baik dan kita beranak pinak. Rahasia ini, kita jaga sebaik mungkin,” kata Maskun. Sanusi setuju. Lalu Linda pun datang dengan kemanjaannya, memeluk Maskun.
“Nih.. masih sangat muda usia, sudah siap,” kata Maskun. Sanusi pun memeluk kakaknya itu dengan mesra dan membimbingnya ke rumah mereka.

Baru pukul 21.00 kampung transmigrasi itu sudah sepi. Bantyak lampu sudah padam dan siaran radio tak terdengar lagi. Maskun dan Linda pun memasuki kamar mereka dan memasang kelambu agar terhiondar dari nyamuk. Mereka tidur berpelukan pada udara dingin dengan seng sebagai atapo rumah tanpa asbes, membuat udaranya semakin dingin. Dalam berpelukan itu, mereka berciuman dan mereka slaing memagut. Dalam kegelapan, Maskun menelanjangi Linda dan mereka berbugil bersama.

“Udaaaa…. ” Linda merengek menikmati jilatan Maskun. Pentil tetek yang dijilat-jilat da dielus-elus, membuat Linda benar-benar terangsang.
“Ayolah uda, dimasuki saja. Tolonglaaaahhhh…” Lionda sudah merengek minta dimasuki. Perlahan Maskun menaiki tubuh LInda dan menekan penisnya memasuki lubang Linda yang tentu saja masih sempit. Mereka berdua suami isteri, baik dalam surat maupun dalam kenyataannya.

Esok paginya, Maskun keluar rumah membawa alat pertaniannya didampingi oleh Linda. Tak berapa lama Sanusi ikut pula dari belakang. Saat Maskun melirik ke belakang, dia melihat rambut Sanusi dan Yati benar-benar basah, sama sepertyi rambutnya dan adiknya Linda. Mskun sengaja menunggu mereka dan dengan senyum Maskun mengatakan:”AKu yakin, tapi malam kelian tidur dengan nyanyak,” sindir Maskun.
“Aku juga yakin, kalau kamu dan Linda juga tidur dengan pulas,” kata Yati yang mengerti kemana arah percakapan Maskun. Mereka pun tertama sembari menuju perladangan yang diberikan kepada mereka seluas dua hektar.

Maskun sesampainya di ladang, langsung membangun dangau-dangau yang agak tinggi, agar terhindar dari binatang melata. Tiangnya berkiar setinggi 1,7 meter dari permukaan tanah. Selain itu, dia bisa melihat juga ke sekeliling tanah mereka. Selesai membuat dangau, Maskun mulai mengarap dan mencangkoli tanah yang dekat dengan dangau atau gubuk tingginya itu. Mereka harus bisa hidup dari perladangan itu, karena hanya selama dua tahun mereka mendapat jatah dari pemerintah.

Katika daun jagung menghijau di tanah yang subur, dari gubuk Maskun mulai mendengar suara mual dan muntah-muntah Linda. Dia mendatangi Linda. Kejadiannya sama sepeti yang dialami Yati. Linda hamil, sama seperti Yati. Maskun pun semakin menyayangi Linda, demikian juga sebaliknya.
Habis…

Posted at 07:39 am by pohonmangga
Make a comment  

Next Page