Anak kampung
dibawah pohon mangga
Di Jakarta
Jangan Lupa Asal

Laut Disana
Begitu luas..
Jangan Lupa Asal



   

<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, March 07, 2013
andin kecilku

Namaku Idan. Umurku 33 tahun. Sementara isteriku, Santi, 26 tahun.

Sejak menikah 2 tahun lalu, pernikahan kami terasa bahagia. Demikian juga dengan kehidupan seks. Isteriku yang cantik selalu memuaskan. Sampai saat ini setidaknya kami bercinta 2-3 kali dalam seminggu.

Namun sebagai laki laki, kadang aku memiliki fantasi seks. Dan fantasiku makin menjadi jadi saat pembantuku Marni membawa anaknya dari kampung yang baru berumur 12 tahun, Andin.

Andi baru lulus SD dan Marni membawanya ke Bandung untuk meneruskan SMP. Aku dan isteriku setuju saja. Hitung hitung membantu Marni agar anaknya mendapat pendidikan yg lebih baik. Dan aku udah menjanjikan seluruh biaya pendidikannya kutanggung.

Saat pertama melihat Andi aku memang udah tertarik. Anak ini cantik sekali. Kulitnya putih, hidungnya mancung, matanya sipit tapi rada belo mirip Agnes Monica. Lalu aku suka membayangkan susunya yang baru tumbuh dengan putingnya yang kecil, atau memek anak anaknya yang pasti masih imut imut.

Aku mencoba menekan fantasi itu, terlebih Andin masih anak anak. Tapi makin kutekan fantasiku makin menjadi jadi. Aku tak kuat membayangkan saat kontolku yang gede menerabas memeknya yang mungil itu. Tak terbayang betapa enaknya. Dan setiap membayangkan kontolku langsung tegak mengeras.

Lama lama aku tak tahan juga. Akhirnya sore itu sehabis pulang kerja dan kebetulan isteriku lagi ga ada di rumah, karena dinas luar kota selama 3 hari, aku datangi Marni dan ngobrol dengannya. Pertama aku mengucapan terima kasih karena aku nilai pekerjaan Marni bagus dan rajin. Berikutnya tak lupa aku memuji kecantikan Marni dan Andin. Walaupun ga dipoles apa apa tapi ibu dan anak itu memang cantik. Dan akhirnya aku mengutarakan niatku ingin bercinta dengan Andin.

Seketika Marni terlihat kaget. Mukanya memerah. "Yang bener Pak? Andin kan masih kecil banget. Belum tau apa apa... Baru lulus SD..." Ujar Marni gemetar.

"Iya Marni aku tau. Maafkan aku Marni. Ini memang fantasiku dan aku tidak memaksa. Tapi tolong pertimbangkan kasian kontolku yang selalu tegang melihat anakmu yang cantik itu," ujarku dengan bahasa vulgar biar Marni tau bagaimana gairahku.

Marni terdiam lama. "Baiklah Pak, kasih kesempatan Marni untuk berpikir ya. Besok Marni bilang sama Bapak." Aku pun tersenyum dan mengangguk.

***

Besoknya Marni menepati janji menemuiku. "Pak, Marni udah pikirkan. Bapak dan ibu itu baik banget ama Marni. Segalanya dikasih, Andi pun mau disekolahkan, jadi Marni tak kuasa untuk menolak. Tapi kalau boleh Marni menawar, bolehkan ama Marni aja Pak jangan ama Andi... Dia kan masih kecil..."

Aku berpikir sejenak. "Mar, bukannya aku tak ingin dengan kamu. Tapi... Aku terobesi bercinta ama Andin...."

Kali ini Marni yang berpikir. "Baiklah Pak kalau begitu. Marni coba panggil Andinnya. Tapi saat Bapak mencoba bercinta Marni ikut lihat ya dan kalau Andin kesakitan jangan diteruskan...."

"Asiiikkkkk...." Ujarku girang. "Kamu memang baik Mar. Iya oke, ga apa apa sambil dilihat..." Aku pun memeluk Marni sakit girangnya. Saat memeluk terasa gumpalan susu marni menekan di dadaku, masih terasa kenyal juga dadanya.

Tak lama kemudian Marni datang lagi bersama anaknya, Andin ke kamarku. Anak itu memang cantik sekali dan ngegemesin. Apalagi sekarang dia pake rok mini warna kuning di atas lutut. Sementara atasannya kaos ketat warna putih.

Habis kututup pintu, aku duduk berdua dengan Andin di atas kasur, sementara marni duduk di kursi rias isteriku. Lalu Andin ku ajak ngobrol, soal belajar yang harus rajin dll. Sampai kemudian pertanyaan mulai menjurus.

"Andin cantik banget ya..."
"Om juga ganteng..."
"Hehe bisa aja kamu..."
"Eh din.. Boleh bantu om ngga?"
"Bantu apa om?"
"Kamu tau tau kan kontol Din? Kamu boleh bantu kontol om dielus elus ga? Soalnya pegel..." Ucapku sekenanya.
"Iya tau om.. Tapi itu kan ga boleh..."
"Ga apa apa Din coba aja..."

Tanpa menunggu jawaban Andin, aku segera memelorotkan celana panjangku hingga kini tinggal celana dalam dan atasan. Lalu kupelorotkan celana dalam. Tampak kontolku yang masih tertidur dengan bulu bulunya yang ga terlalu panjang karna sudah dipotong.

Lalu kupapah tangan kanan Andin yang masih mungil itu untuk menyentuh kontolku. Kulihat Andi ragu ragu. Tapi akhirnya tangan mungil itu menyentuh juga. Hanya hitungan beberapa detik aja kontolku berdiri tegak.

"Tuh kan sekarang jadi gede... Coba ya Din dielus elus.." Ujarku dengan mata mulai merem melek keenakan. Fantasi kontolku dielus elus tangan mungil kini jadi kenyataan. Kontolku semakin tegang dan keras. Birahiku pun makin meninggi. Lalu aku pun menanggalkan seluruh pakaianku. Bugil. Sementara Andi terus mengelus ngelus kontolku.

"Din buka dong bajunya kaya om.." Pintaku. Andin kelihatan ragu ragu, lalu melihat ibunya. Marni tersenyum sambil menanggung lalu mendekati Andin. Tanpa kuduga Marni sendiri yang membuka kaosnya Andi sentra bra kecilnya.

Dan luar biasa. Bener bener pemandangan langka. Susu yang baru tumbuh dengan puting kecilnya berwarna coklat memerah. Kontolku dibuat kencang aja dibuatnya. Aku pun tak sabar untuk merabanya.

"Om..." Bisi Andin saat kusentuh putihnya. Sepertinya anak sekecil Andi merasakan pula sensasi geli yang dibuatnya. Aku semakin gemas aja memainkan putingnya. Tak sabar aku pun berlutut di depan Andi yang duduk di pinggir ranjang dan mulai ngemut putingnya yang kecil itu. "Om....L bisiknya lagi. Sementara itu, Marni dengan serus memperhatikan permainan kami dari pinggir.

Rasanya birahiku makin menggebu gebu. "Din.. Boleh ga Andin ngemut kontol Om kaya om ngemut puting kamu tadi?" Pintaku.

Tanpa menunggu lama Andin setengah berlutut didepanku dan meraih kontolku untuk dimasukan ke mulutnya. Kepala kontolku mulai masuk ke mulut Andin yang mungil. "Ahh Andinn... Mainin lidahmu di kontol Om..."

"Ahhh terus Dinn..." Andin mulai memainkan lindahnya. Aku pun makin kegelian. Kontolku yang gede hanya seperempatnya aja masuk mulut Andin. Hampir 10 menit kontolku dimanjakan pilinan lidah Andin. Aku makin nafsu saja.

Kuangkat badan Andi sampai berdiri. Tanpa ku berkata lagi kulucuti roknya. Nampak kini CD mungilnya berwarna merah. "Kubuka ya CDnya Mar?" Tanyaku pada ibunya untuk meyakinkan dia sudah rela atau belum. Dan Marni pun mengangguk sambil tersenyum.

Segera saja kubuka CD itu. Kini di depan mukaku terlihat jelas memek mungil yang indah itu. Masih putih bersih dengan lubangnya yang kecil. Kuangkat Andi dan kurebahkan di kasur. Lalu ku berbaring di sampingnya. Aku kembali menjilati putingnya sambil tanganku mulai meraba memeknya. Sedikit demi sedikit jariku kumasukkan ke dalam memeknya dan kumainkan. Kucari cari kelentitnya dan terus kugerakkan. "Ommmm...." Bisikan Andin semakin jelas. Dan jariku pun mulai terasa basah. Ternyata anak sekecil Andin sudah bisa merasakan rangsangan seksual dan kini dia sedang merasakan enaknya. Aku pun semakin tak kuat untuk segera memasukkan kontolku ke memeknya.

Aku pun segera bangkit dan kini sudah di atas tubuh Andin. Lalu mulai kuarahkan kontolku ke memeknya. Dari pinggir Marni mulai menggam tangan anaknya sambil berujar kepadaku, "pelan pelan ya Pak..."

Kini kepala kontolku sudah berada di bibir memeknya Andi lalu kutekan perlahan lahan. "Ommmm...." Erangnya. Tangannya mulai mencengkram tangan ibunya. Lalu kutekan lagi kontolu hingga kepalanya kini seluruhnya sudah terbenam. "Ommmmm....." Andin semakin mengerang. Tangannya pun semakin mencengkram. Ibunya nampak mulai khawatir.

Sementara kontolku mendapat sensasi yang luar biasa. Lubang memek Andi memang masih sangat kecil. Kontolku dihimpit luar biasa. Ingin rasanya aku segera memasukkan seluruhnya. Tapi aku masih sadar ini pertama kali memek kecil itu dimasuki kontol dan aku harus hati hati.

Lalu kumasukkan lagi lebih ke dalam kontolku. "Ibuuuuuuuuu...." Jerit Andin.

"Pak Pak udah Pak..." Marni kaget. "Din kamu sakit sayang? Mau udahan?" Tanya Marni.

"Ga apa apa Bu, Om nya lebih pelan aja..." Ujar Andin lirih.

Hatiku lega. Kini kumasukkan lagi kontolku dan tiga per empat kontolku sudah terbenam. Kontolku yang besar dan panjang rasanya tak akan bisa masuk seluruhnya. Makanya setelah tiga per empat aku tak memaksakan lagi kini aku hanya tinggal memaju mundurkan.

"Ooommmm......" Desah Andin. Aku tahu Andin mulai merasakan nikmatnya. Aku pun semakin terbakar birahiku. Kumaju mundurkan kontolku.

"Oommmmmmmmmmm....." Andin makin meracau. Tubuhku pun semakin dijalari kenikmatan. Air pejuh rasanya makin terdesak ke ujung kepala kontolku.

"Dinnn enakkk bangetttt....." Erangku.
"Iya omm andin geliiii... Ooommm..." Rupanya Andin mau mencapai puncaknya. Dannn.... Crot crot crotttttttt.... Air pejuhku pun membanjiri memek Andin. Aku memeluk Andin erat begitupun Andin memelukku erat. Nikmat sekali rasanya.

Setelah beberapa lama kontolku kucabut. Nampak sedikit bercak merah di kontolku. Itu sepertinya darah perawannya Andin. "Biar Marni bersihin ya Pak.." Tiba tiba Marni berujar. Lalu dia mengambil handuk kecil basah dan mulai mengelap kontolku dan membersihkannya.

"Makasih ya Din.. Makasih ya Marni... Jangan pernah bilang ke siapapun kejadian ini..." Pintaku. Pasangan ibu dan anak itu pun tersenyum dan mengangguk. ***

Posted at 04:23 pm by pohonmangga
Make a comment  

pembantu tetangga

Malam itu aku menginap di rumah Mbak Kristin, karena saking ngantuknya aku tertidur di atas sofa. Sekitar jam 4 pagi aku terbangun, aku masih dalam keadaan telanjang bulat tapi tertutup selimut, tapi Mbak Kristin sudah tidak ada di sofa ah mungkin, dia pindah ke kamarnya dan tidur bareng anaknya. Aku berdiri dan mencari celanaku karena suasana gelap aku menghidupkan lampu. Saat lampu menyala ada suara seorang wanita menjerit, ternyata seorang perempuan masih remaja umurnya sekitar 15 tahun, dia kaget mungkin karena melihatku telanjang bulat, aku menutup mulutku dengan jariku, maksudnya menyuruhnya diam. Kudekati dia, kujelaskan bahwa aku temannya Mbak Kristin, semalam aku menginap disini, diapun memahami dan memberitahuku bahwa dia spontan kaget karena belum pernah melihat pria dewasa telanjang, katanya dia adalah pembantunya Mbak Kristin, namanya Ulfa. Ulfa tidak sekolah semenjak lulus SMP, dia ikut Mbak Kristin baru sekitar 3 bulan. Aku Tanya dia kenapa kaget melihat aku telanjang memangnya belum pernah punya pacar. Dia mengaku sudah punya pacar tapi belum pernah melihatnya telanjang. Kutanya lagi, terus kalau pacaran ngapain, jawabnya jujur katanya pernah ciuman dan diraba-raba susunya oleh pacarnya, tapi belum pernah sampai telanjang bulat. Ah berarti masih perawan? Dia menganggukkan kepala dengan malu-malu. Kuperhatikan matanya sedikit melirik ke arah kontolku tapi masih malu-malu. Aku pura-pura tidak tahu dan cuek saja serta sengaja tidak segera mengenakan celanaku. Aku masih telanjang bulat dan memintanya untuk mengambilkan celanaku, aku duduk di ruang makan yang hanya berbatas sebuah bifet dari ruang tamu. Dia membawakan pakaianku dan perlahan aku ambil celana dalamku aku sengaja memakainya di depan Ulfa. Dia melewatiku menuju ke dapur sambil melirik ke arah kontolku lagi. Dia tidak melihat di depannya ada baju dan celanaku, dia tersandung gesperku dan tertanting ingin jatuh, aku langsung menangkap tangannya, dan menarik tubuhnya hingga aku sendiri hampir saja ikut jatuh. Dengan kondisi itu tak sengaja kami sedikit berpelukan, wajahnya dan wajahku dekat sekali, aku ingin menciumnya tapi masih takut. Kulepaskan pelan tubuhnya dia menyempurnakan berdirinya aku juga, tapi tak sengaja tangannya menyentuh kontolku, dia minta maaf, aku tersenyum dan malah menyuruhnya menyentuh lagi, dia tersipu malu, aku mengambil tangannya dan kuarahkan ke kontolku, ayolah Ulfa, ga papa, ga usah malu, katanya kamu belum pernah lihat kontol kan? Sekarang kamu boleh pegang sepuasnya, dia malu dan menutup matanya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya dengan malu memegang kontolku. Akupun merasa nikmat disentuh oleh tangan seorang ABG, kuarahkan tangannya maju mundur mengurut kontolku, kuajari dia cara mengocok kontolku. Dia kemudian terus mengurut-urut kontolku perlahan tapi malu untuk melihatnya, tapi biarlah yang penting aku merasakan nikmatnya diurut sama tangan yang masih halus, meski pembantu tapi dia lumayan cantik, mungkin kalau dia anak orang kaya dan terawat rajin ke salon, wajahnya tak kalah cantik dibanding asmirandah. Kulitnya kuning langsat, bersih, dadanya besar untuk ukuran anak remaja, pantatnya juga seksi dan montok.

Kulihat dia sepertinya menikmati untuk terus mengurut-urut penisku, sekarang dia mulai tidak malu melihat kontolku, tangan kiri yang tadinya buat menutup matanya, kini kutarik ke leherku. Sehingga kamipun semakin berdekatan, kutarik pinggulnya kudekatkan tubuhnya ke tubuhku, dadanya menyentuh dadaku, jantungnya berdebar, dia sepertinya agak takut. Kubisikkan ke telinganya, ke kamarmu yuk, ga enak kalau disini entar Mbak Kristin bangun, entar aku ajarin yang lebih enak. Tanpa banyak protes, dia berjalan menuju kamarnya aku mengikutinya dari belakang, kuperhatikan bokongnya yang begitu sintal, pahanya yang begitu mulus nampak terlihat karena dia mengenakan baju tidur terusan dan panjang roknya di atas lutut. Warnanya juga transaparan dan tipis sehingga tali BHnya dan juga celana dalamnya samar-samar terlihat. Sesampai di kamarnya kututup pintu dan aku kunci dari dalam. Aku menyandarkan tubuhku di depan pintu kutarik tubuhnya dan kembali kuambil tangannya untuk terus mengocok-ngocok kontolku, kini tubuhnya bersandar di tubuhku, sambil terus mengocok kontolku, tapi gerakan mengocoknya masih sangat pelan dan lembut, mungkin karena baru pertama tapi aku malah menikmatinya. Tolong diemut dong kontolku, dia menggelengkan kepala, kupegang kepalanya dan kududukkan di depanku, kuarahkan kontolku ke mulutnya, kutekan pipinya agar mulutnya terbuka dan perlahan kumasukkan kontolku ke dalam mulutnya, dia masih terlihat risih dan malu, tapi beberapa saat kontolku sempat masuk juga dalam mulutnya meski sebentar, tapi aku gak mau memaksa karena ini pengalaman pertama baginya. Kutarik tubuhnya dan kupeluk erat, kemudian perlahan kucium bibirnya, dia cantik juga meski pembantu aku tidak risih mencium bibirnya, karena menurutku Ulfa cantik juga dan aku beruntung seandainya Ulfa mau aku entot, soalnya dia masih perawan. Kupeluk tubuhnya erat, dan kuciumi bibirnya sementara tanganku mulai aktif menggerayang ke pantatnya, dari belakang kuangkat dasternya, sehingga aku menemukan lipatan celana dalamnya, kuselipkan tanganku dan kuremas-remas pantatnya, tangannya menahan tanganku, tapi aku cuek saja sambil terus meremas-remas pantatnya, perlahan kuturunkan celana dalamnya sambil terus kuremas dan kutarik pantatnya ke depan, sehingga kontolku sekarang bersentuhan dengan memeknya, tangannya berhenti mengocok kontolku kemudian memegang pinggulku, kutarik tangannya ke atas leherku agar tidak mengganggu kontolku yang sedang menyentuhnya memeknya yang mulai terasa hangat, kuangkat tubuhnya dengan sedikit kugendong, sehingga kontolku tepat berada di depan lubang memeknya, kugesek-gesekkan kontolku ke memeknya, kudorong dia hingga sebelah tempat tidur, dan kurebahkan dia di atas kasur sekalian aku menindihnya, kugesek-gesekkan semakin cepat kontolku, dia terpejam, kunaikkan dasternya ke atas hingga terbuka kedua belah dadanya, kulepas BHnya, dan kulum-kulum putingnya, Ulfa diam dan terus memejamkan matanya. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu, takut terlalu lama pemanasan malah nanti Ulfa sadar dan berhenti melayani nafsu bejatku, aku langsung membuka pahanya lebar-lebar, kulihat vaginanya yang mungil terlihat hanya seperti daging dengan garis tipis di bagian tengah, tidak ada rambut sama sekali, itilnya juga belum nampak keluar, kuarahkan kontolku ke pintu memeknya, kugesek-gesek dengan bantuan tanganku sambil mencari lubang senggamanya, setelah ketemu kudorong kontolku masuk ke dalam, tapi susah kutarik lagi dan kudorong pelan lagi, kini kepala kontolku sudah mulai masuk ke memek Ulfa, kukeluarkan pelan dan coba kudorong lebih ke dalam lagi, Ulfa memelukku erat dan minta kepadaku untuk pelan-pelan, sakit katanya. Kukeluarkan lagi perlahan dan coba kumasukkan lagi, tapi memang memeknya kecil dan sempit, tapi kontolku sudah merasakan sedikit kehangatan, kugoyangkan pantatkan naik kemudian turun sehingga kontolku sudah agak lebih ke dalam lagi, sepertinya kontolku menyentuh sesuatu, mungkin ini selaput dara, aku semakin hati-hati menggoyangkan pantatku, kasihan kalau Ulfa kesakitan, kemudian aku mengeluarkan kontolku. Aku ambil bantal di samping Ulfa kuletakkan di bawah pantat Ulfa, dengan posisi seperti ini perut dan memek Ulfa terangkat naik, ini akan membantuku memasukkan penisku jauh lebih dalam di dinding memek Ulfa, kembali kuarahkan batang penisku ke memek Ulfa, kumasukkan setengah dan menyentuh lagi selaput dara yang tadi belum berhasil kutembus, kudorong lebih dalam dengan hati-hati, tubuh Ulfa menegang kedua tangannya menggenggam erat ujung bantal, matanya terpejam seperti menahan sakit. Ku beri tenaga sedikit dibantu dorongan pantatku, dan slep… aku berhasil menembus selaput dara Ulfa, dan kontolku merasakan sensasi dari kehangatan yang luar biasa, aku berhasil menembus benteng pertahanan dari dinding vagina Ulfa. ah… benar-benar nikmat, aku kemudian mengocok-ngocok kontolku keluar masuk vagina Ulfa, dinding vagina yang begitu sempit membuat kontolku mendapatkan kenikmatan yang begitu hebat, kulihat Ulfa mengeluarkan air mata, mungkin karena tadi merasakan sakit, tapi sekarang dia mulai ikut sedikit menggoyangkan pantatnya, oh dia sudah menikmati permainanku. Tiba-tiba ohhhh…. Ternyata memek perawan ini membuat benteng pertahananku tidak terbendung, hanya beberapa menit berada di dalam memek Ulfa spermaku sudah mau keluar, secepatnya kutarik kontolku dan kugesek-gesekkan di paha Ulfa yang mulus, kugesek-gesek terus dan ohhhh spermaku muncrat juga…. Croootttt….. ohhhhh nikmat sekali, aku puas sekali malam ini, aku telah berhasil merenggut keperawanan Ulfa, memek nya nikmat sekali, ahhhh terima kasih Ulfa. aku kembali mengenakan pakaianku, kulihat Ulfa masih terdiam terkapar lemas tak berdaya, perlahan aku keluar dari kamar, dan melanjutkan tidur lagi di atas sofa, takut mbak Kristin besok pagi terbangun, kalau aku masih di kamar Ulfa, wah apa kata dunia? Kutarik selimutku dan kembali tidur, tapi aku membayangkan betapa nikmatnya memek perawan, oh terima kasih Ulfa.

Posted at 04:26 pm by pohonmangga
Make a comment  

gejolak abg

Pertemuan dan perkenalanku dengan Putri berawal ketika aku berkunjung kerumah kontrakkannya Ine, ditempat itu aku melihat Putri yg tak lain adalah sahabat Ine. Putri gadis manis berusia sekitar 19 tahunan dan berkulit sawo matang. Tatapan matanya nampak tajam dan penuh selidik, seakan ia penuh curiga terhadap orang yg baru dikenalnya. Dan sikapnya sedikit judes serta teramat pendiam. Namun kejudesannya itulah yg membuat aku tertarik ditambah lagi dngn wajahnya yg memang manis. Sehingga aku berusaha untuk dekat dan mencari tahu tentang Putri lewat Ine. Ternyata Putri tak ada bedanya dngn Ine, ia pun tinggal mengontrak atau kost dikota Garut ini. Ia ngekost tak jauh dari kontrakkan Ine. Hal inilah yg membuat aku sering datang ketempatnya Ine, selain itu jika tak bertemu dngn Putri aku bisa bermesraan dan memcumbu Ine jika Ine sedang butuh.
Seperti hari ini, pagi pagi sekali aku sudah tiba dirumah kontrakkannya Ine. Ternyata dirumah ini telah ada Putri lebih dulu yg tengah asyik menikmati semangkuk mie rebus sambil memperhatikan acara televisi. Ia mengenakan kaos hangat berwarna coklat bergaris hitam dan celana pendek blue jeans yg dipotong. "Ech, ada Putri..!"sapaku sambil masuk kedalam rumah . Putri hanya menoleh lalu melanjutkan makannya kembali.
"Nah, kebetulan si A'a datang!?"seru Ine yg baru keluar dari kamarnya sambil merapikan rambut dan pakaiannya. "A, temanin Putri dirumah ya A, aku mau keluar dulu....!!"lanjut Ine setengah memerintah terhadapku. Aku hanya menganggukkan kepala dan duduk dikursi tamu yg ada. "Put, kamu ditemanin si A'a ya, aku pergi dulu!!"ujar Ine kepada Putri sambil melangkah keluar rumah dan berlalu pergi dngn sepeda motornya. Meninggalkan aku dan Putri yg saling terdiam membisu. "A, kalo mau minum bikin sendiri aja ya!?" tiba tiba Putri berkata memecahkan kebisuan kami berdua, sambil merapikan mangkuk bekas mie yg telah habis dimakannya. "Och iya Put!!"jawabku spontan seraya memperhatikannya yg tengah melangkah menuju kedapur. "Hm, gede juga bokongnya......"gumamku dalam hati sambil kedua mataku memperhatikan bokong Putri yg bergeal geol mengikuti langkahnya. Bokong Putri memang cukup besar dngn tubuh setinggi 155cm dan berat badan 49kg. Toketnya pun lumayah besar dngn ukuran bra sekitar 36b. "Ach, kenapa aku berfikiran yg tidak tidak tengtang si Putri?"aku berusaha menepis fikiran kotorku terhadap Putri. Lalu beranjak bangkit untuk menutup pintu yg tak sempat ditutup oleh Ine tadi.
Selang beberapa lama kemudian, Putri kembali keruang tamu dngn membawa secangkir teh manis ditangannya. "Neh aku buatin, aku ga tega.., he he he"ujarnya dngn selera humor, membuat aku tak percaya menyaksikannya. Rupanya Putri memiliki rasa humor juga, meskipun hal itu jarang terjadi. "Ech, makasih Put.....?"jawabku masih diliputi dngn perasaan heran terhadapnya. "Gerah banget ya A, A tolong kipasnya dinyalain dong....!"pinta Putri kepadaku yg memang lebih dekat posisinya dngn kipas angin disudut ruangan. Sambil membuka kaos hangatnya Putri duduk kembali dikursi yg tadi ditinggalkannya. Kini ia mengenakan t-shirt putih tipis yg telah dipotong lengannya, hingga menyerupai tank-top. Saking tipisnya bahan kaos yg dikenakannya, membuat warna branya yg berwarna hitam terlihat jelas dan tak luput dari tatapan kedua mataku.
Saat aku tengah menikmati teh manis buatannya. Tiba tiba Putri beranjak dari duduknya dan merebah tubuhnya dilantai beralas karpet halus didepan televisi. Sekaligus dekat dngn kipas angin.
"Aahh, enak.., dingin euy!"ujarnya dngn tubuh terlentang membuat kedua toketnya membusung naik. Seiring dngn pendulumku yg juga tengah turun naik memperhatikan pemandangan didepanku. Kembali fikiran kotor menjalari isi benakku dan kontolku pun mulai bangun secara perlahan lahan. Sementara Putri se akan akan terus menggoda dngn gaya dan posisinya. Terkadang ia menggeliat membuat toketnya semakin membusung besar atau ia miring membelakangiku se akan akan ingin memamerkan bokongnya. Belum lagi saat ia membelakangiku tampak celana dalamnya yg berwarna hitam terlihat, karena celana jeansna sedikit melorot.
Namun aku tak mampu berbuat apa apa, hanya dapat menyaksikan dan melamun menahan nafsu birahiku yg kian membara. Kontol yg telah bangun terasa berontak ingin memcuat keluar. "A, tolong garukkin punggungku dong....!?"tiba tiba Putri membuyarkan semua lamunanku. Membuat aku sedikit kaget, namun aku cepat cepat berusaha mengusai diriku kembali. "Garuk dimana Put!?"tanyaku pelan sambil bangkit dari dudukku dan merangkak menghampirinya. "Disini ni A, gatel banget dech!!"ujar Putri sambil menunjukan bagian bahunya yg gatel dngn posisi menelungkup. Aku pun mulai menggaruk garuk, tepatnya mengusap ngusap bagian yg ditunjuknya. "Ketengah lagi A..."pinta Putri dngn nada manja. "Ada BHnnya Put!?"ucapku dngn perasaan hati yg mulai tak karuan, karena memang tempat yg diinginkan Putri terhalang dngn branya. "Dibuka aja A talinya..."ujarnya lagi. Maka dngn perlahan aku pun menaikkan t-shirts yg dipakainya sehingga tampak kulit pinggulnya yg sangat mulus berwarna sawo matang.
Dengan perlahan ku buka pengait tali branya dan mulai mengusap ngusap punggungnya. "Aduhhh.., enak A..."ujar Putri dngn kedua belah matanya terpejam. Membuat aku bebas untuk memperhatikan raut wajahnya yg manis dngn hidung mancung dan bibir tipisnya. "A..."ucapnya pelan sambil salah satu telapak tangannya merayap meraba raba ke arah selangkanganku. Membuat dadaku ...
...berdetak kencang dngn irama yg tak beraturan. Akhirnya telapak tangan Putri berhasil menyentuh kontolku yg menegang keras dibalik celanaku.
"A.., aku mau liat A!?"ujarnya lirih seraya membalikkan tubuhnya hingga terlentang. Kemudian Putri beranjak duduk bersimpung menghadap ke arah selangkanganku. Dengan rasa tak sabar, ditariknya retsleting celanaku kebawah. Akupun bangkit berdiri dan membantunya dngn membuka kancing celanaku supaya lebih mudah dan leluasa. Lalu telapak tangannya menyusup kedalam celana dalamku dan langsung menggenggam batang kontolku yg telah tegak berdiri. Tak puas hanya menggenggamnya, Putri melorotkan celana dan celana dalamku hingga melorot kelantai semuanya. "Oohh.., gede banget A...!?"ucapnya sambil melirik kearah ku. Kemudian kedua telapak tangannya mulai mempermainkan batang kontolku. Telapak yg satunya menggenggam batangnya sementara yg lainnya membelai serta mengusap ngusap kepalanya yg licin dan mengkilat. Membuatku kedua lututku terasa sangat lemas dan tak mampu lagi untuk menopang berat tubuhku.
Lidah Putri mulai menjilati kepala kontolku terus kebatangnya berulang ulang, sesekali ia memasukkan kedalam mulutnya dan mengemut emutnya. Membuat diriku tanpa sadar meremas serta membelai belai rambut dikepala Putri dngn kedua telapak tanganku. Sementara Putri terus dngn penuh nafsu memainkan serta mengulum kontolku, se akan akan kontolku ingin dilahapnya habis.
Akhirnya aku benar benar tak mampu lagi untuk berdiri. Tubuhku melorot mendekati tubuh Putri yg masih tersimpuh sambil terus berusaha memegang batang kontolku. Kutindihi tubuh Putri yg telah setengah bugil, karena bra serta t-shirtnya sudah tak lagi menempel tubuhnya dan menghampar dilantai. Dengan penuh nafsu ku lumat mulutnya hingga mulut kami saling berpagutan rapat satu sama lainnya. Lidahku menerobos berusaha memasuki mulut dan membelit lidahnya. Apa lagi aroma mulut Putri tercium sangat harum sekali. Tak puas hanya dngn melumat mulut dan bibir Putri, lidahku pun menjalar menjilati bagian wajahnya. Mulai dari hidungnya yg mancung, daun hingga lobang telinganya, hingga seluruh lehernya. Sehingga membuat tubuh Putri menggeliat geliat karena kegelian.
"Aaaaacchhhhh......, A'aa...."rintih Putri sambil menggeliat serta mengangkat bokongnya. Dari bagian leher lidahku terus melorot kebawah, kebagian dadanya. Dengan rakus segera ku lumat dan remas kedua toket Putri yg cukup besar berukuran bra 36b. "Aaaoowhhhh...."jerit kecil Putri sambil meremas remas rambut dikepalaku saat lidahku mengenyot salah satu pentil toketnya.
Sementara mulut dan lidahku terus menjilat serta mengenyot ngenyot pentil toketnya. Aku juga tak lupa membuat tanda cupangan disekitar daging toket Putri sebanyak banyaknya, membuat kedua buah toket Putri penuh dngn tanda merah bekas cupanganku. Salah satu telapak tanganku merosot menuju selangkangan Putri. Putripun seakan akan mengerti niatku, ia segera melorotkan celana pendek serta celana dalamnya. Maka jari jari tanganku tak mendapat halangan untuk mencapai lembah hitam yg lebat ditengah tengah selangkangannya. Kami berdua seolah olah tengah berpancu dalam buaian nafsu yg terkadang membuat nafas kami terputus putus dan mendesah tak menentu.
Putri membuka lebar lebar kedua pahanya saat jari telunjukku mulai masuk menerobos lobang memeknya. Membuat jari telunjukku leluasa untuk keluar masuk menyolok nyolok lobang memeknya. Sesekali tersentuh oleh telunjukku itilnya, membuat Putri sedikit mengejang dan menggeser geserkan bokongnya. Bahkan tak puas hanya dngn satu jari saja, aku berusaha mengikut sertakan jari tengahku juga. Untuk menyolok kedalam lobang memek Putri yg mulai basah dan lembab. "Aaaggghhhh...., szzssaaakiitt..., Aaaa...,."rintih Putri sambil memegangi tanganku berusaha untuk menahannya dan merapatkan kedua pahanya.
Aku pun mengurungkan niatku tersebut dan menarik kembali jari jari tanganku dari selangkangannya.
"Kamu duduk dikursi ya Put...."bisikku ditelinga Putri. "Mau diapain?"tanya Putri sambil menatap wajahku. "Udah kamu duduk aja......"pintaku lagi. Putri pun bangkit dan duduk pada kursi yg tak jauh dari tempat kami. Aku pun segera menghampiri Putri yg tengah duduk dikursi dan berjongkok didepan selangkangannya. Tanpa dipinta Putri segera mengangkang membuka lebar lebar selangkangannya. Kini aku benar benar dapat menyaksikan bulu jembut memel Putri yg sangat lebat. Ditengah hutan jembutnya nampak lobang memeknya yg berwarna merah semu dngn daging mungil diatasnya yg tak lain itilnya. Mulut dan lidahku segera melumat seluruh hutan jembut dan lobang memek tersebut. Ujung lidahku menyusuri setiap inci daging lobang memek yg telah basah dan lembab.
"Aaaahhhhh,..., ttteeerusss..., A..., eennaaakkk....., ouchhhh...., aaacchhh...."rintih Putri tak kala ujung lidahku menjilati lobang memeknya dngn kedua belah matanya terpejam. "Aaoowwhhhh......"jeritnya Putri lagi saat aku menyedot keluar itilnya seraya tangannya menekan kepalaku pada selangkanganya. Sehingga mulutku menempel rapat pada bibir memeknya. "Ooohhhh..., A'a sudddaaahhh Aaa..., oowhhhhhh....., uuddaahhhh,.., aaagghhhhh......,."rengek Putri dngn suara sedikit tersedah seraya merapatkan kedua pahanya menghimpit kepalaku.
Aku pun menyudahi permainanku terhadap memek Putri, Putri pun melonggarkan himpitan kedua pahanya pada kepalaku. Setelah terbebas aku beranjak bangkit berdiri dan melepaskan kaosku yg belum sempat aku buka tadi. Kini aku dalam keadaan bugil sama halnya dngm Putri yg tengah terlentang kembali dilantai beralas karpet. Dengan bantuan sebuah bantal milik kursi, aku mengganjal bokong Putri, supaya sedikit tinggi dan batang kontolku dapat masuk lebih dalam.
Kemudian kuhimpit tubuh terlentang Putri dngn tubuhku dan ku arahkan kontolku pada lobang memek Putri yg telah menganga lebar. Sedikit terasa sangat sukar, beberapa kali kontolku melejit dan ...
...keluar lagi. Dengan bersusah payah akhirnya batang kontolku berhasil amblas dan bisa melakukan penestrasi pada memek Putri.
"Aaawbbhhhh........., ssaaakkit..., A,....."rintih Putri seraya menggigit bibirnya dan telapak tangannya menahan perutku, saat batang kontolku amblas kedalam lobang memeknya. Namun lama kelamaan lobang memek Putri mulai licin dan kontolku semakin lancar keluar masuk kedalamnya. "Ooochhhhhh....,., tteerrruuusss...., A...., ooochhhh..., yesss....."desah Putri tak lagi merintih. "Iyaaa....., ooch yesss......, aaaacchhhhh..,"desah Putri lagi seperti orang xg tengah kesurupan. Membuat aku semakin bernafsu dan terus memacu gerakkan bokongku. Sampai akhirnya aku tak mampu lagi bertahan dan mencapai klimaxku.
"Aaaagghhhh...., Put aku ga ta tahaann Put..."erangku sambil memeluk erat tubuh Putri. "Iyaaa...., A...., tteeerruusss...., aku jugaaa...."jawab Putri seraya menggoyang goyangkan bokongnya. Akhirnya kami saling mengejang dan berpelukan erat erat, serasa tak ingin terlepaskan.
Beberapa saat kemudian kamipun saling bergulingan dan tergolek lemas dilantai. Kami saling bertatapan dan tersenyum penuh kepuasan. "Kamu nakal si A...."goda Putri sambil mencolek kontolku yg telah lembek dan loyo. Kemudian ia bergegas menuju kamar mandi. Aku pun segera bangkit dan merapikan pakaianku kembali, lalu merapikan karpet serta kursi yg baru aku dan Putri gunakan.
Jam 17.00. Ine baru pulang dngn membawa oleh oleh martabak telor. "Ga ada apa apa ne dirumah, Put!?"tanya Ine kepada Putri sambil menatap kearah kami berdua. "Ga ko In...!"jawab Ine sambil mengunyah martabak dimulutnya. "Ya udah, kalo gitu aku mandi dulu ya...."ujar Ine sambil ngeloyor pergi meninggalkan kami. Aku dan Putri yg tersenyum mengiringi kepergiannya, seolah olah kami berdua bangga telah membodohi Ine. Dan berharaf Ine takkan pernah tahu terhadap apa yg telah kami lakukan selama ia pergi meninggalkan rumah.

Posted at 04:30 pm by pohonmangga
Make a comment  

Previous Page Next Page