Anak kampung
dibawah pohon mangga
Di Jakarta
Jangan Lupa Asal

Laut Disana
Begitu luas..
Jangan Lupa Asal



   

<< November 2011 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, February 23, 2013
supriyanto namaku

Namaku Supriyanto, umurku 18 tahun, baru saja lulus SMU tahun ini. Aku anak dengan orangtua tunggal. Ibuku meninggal pada saat aku berusia 11 tahun karena sakit, sedangkan bapak sejak ibu meninggal, kerja sebagai TKI di Korsel. Jadi hanya tinggal aku sendiri yang menempati rumah orangtuaku di desa ini. Aku tidak perlu kuatir kekurangan uang saku, karena setiap bulan bapak mengirimkan uang lebih dari cukup untuk hidup sebulan. Jadi sedikit demi sedikit aku dapat menabung.

Walaupun aku sudah berumur 18 tahun, dan wajahku termasuk ganteng untuk ukuran di desaku, tetapi aku sama sekali belum pernah merasakan apa yang dinamakan berpacaran. Aku memang minder terhadap teman-teman gadisku di sekolah, aku lebih berkonsentrasi pada pelajaranku disekolah daripada berusaha mendekati seorang gadis, lagipula, memang pada saat ini belum ada seorang gadispun yang membuatku tertarik, paling-paling aku hanya berusaha berteman seperti biasanya.

Sebenarnya tepat di depan rumahku tinggal Bulik(bibi,adik ibu/ayah) Tin, waktu aku masih kecil aku dititipkan dengan Bulik Tin, ketika menginjak SMU lah baru aku boleh tinggal sendiri di rumahku. Nama Bulik Tin sebenarnya adalah Prihatin, lengkapnya aku sendiri tidak pernah tau. Bulik Tin adalah adik dari bapak, umurnya sekitar 27 tahunan. Wajah Bulik Tin menurutku cukup ayu, walaupun gak seperti bintang film yang sering muncul di TV, atau penyanyi dangdut yang sering manggung di lapangan pojok sana. Bulik Tin sudah menyandang status janda ketika baru 1 bulan perkawinannya, suaminya, Mas Wito (begitu aku manggilnya) meninggal kecelakaan ketika hendak mengantarkan Bulik ke sekolah SD tempat Bulik mengajar. Bulik Tin sendiri kehilangan pergelangan kaki bagian bawah, diamputasi katanya. Yang aku ngerti kaki Bulik Tin sebatas pergelangan kaki sebelah kanan, diganti dengan kaki palsu. Jadi Bulik Tin kalau jalan, agak pincang karena kaki palsunya itu. Kini sudah hampir 4 tahun sejak kematian suaminya, walaupun begitu Bulik sayang sekali sama aku, aku juga sayang sama Bulikku itu. Bahkan sekarang aku juga lebih sering tidur di rumah Bulikku, menemani di rumahnya. Kadangkala aku membantu Bulik memeriksa pekerjaan rumah atau ulangan murid-muridnya, Bulik senang sekali kalo aku sering begitu. Kadang aku dihadiahi ciuman sayang kalau aku sudah selesai membantu Bulik mengerjakan tugas-tugas ringan di rumahnya.

Suatu hari temanku waktu SMU, Manto, mengajakku dolan(bermain) ke rumahnya, dia anak seorang juragan sapi, paling kaya sedesaku. Aku manut aja ketika dibilangi kalo mau ditunjukan sesuatu yang bagus. Ketika sampai dirumahnya aku di ajak ke kamarnya, lalu nonton film yang menurutku saru. Katanya itu namanya film BF, alias Blue Film. Pemainnya orang barat semua, di film itu mereka kok mau-maunya kentu (kentu=bersetubuh)di rekam sama orang lain. Aku bener-bener baru kali ini liat film macam gituan. Manukku (manuk=burung/penis) pas nonton film itu jadi ngaceng.(ngaceng=ereksi) Sejak aku pertama kali liat film bf, aku makin sering dolan ke rumahnya Manto, dia punya koleksi kaset bf hampir 1 lemari penuh. Biasanya aku disuruh liat sendiri, kata Manto dia sudah liat semuanya, lalu dia mainan game Playstation di ruang tamu. Di kamar Manto aku bener-bener memperhatikan seluruh adegan yang dimainkan di dalam film itu. Kadang-kadang manukku keluar cairan bening, agak-agak lengket. Kata Manto itu wajar, soalnya aku terangsang liat begituan. Aku ga berani tanya lebih jauh lagi, aku cuman manggut-manggut pura-pura ngerti apa yang dijelaskan ama Manto.

Sebenarnya aku mau tanya Bulik Tin mengenai hal tersebut, karena dia seorang guru, jadi aku anggap lebih ngerti masalah gitu. Tapi aku juga ga berani tanya, soalnya takut dimarahin karena sudah nonton film yang saru. Nanti pasti aku ga boleh dolan kerumahnya Manto lagi. Jadi aku diam aja sementara ini. Kalo aku ditanya Bulik, napa kok setiap hari sekarang dolan kerumahnya Manto, paling-paling aku berbohong kalu cuman mainan Playstation. Hingga suatu ketika aku nonton film bf yang pemainnya dari asia (tidak tau dari negara mana itu), salah satu pemainnya wajahnya mirip sekali dengan Bulik Tin, ayu. Waktu aku pulang kerumah Bulik Tin malam harinya aku teringat terus film yang barusan aku lihat tadi. Waktu aku makan, aku melirik Bulik Tin sembunyi-sembunyi. Bulik Tin sedang menyulam (katanya buat taplak meja) di kursi panjang, dia memakai daster seperti biasanya. Tapi aku membayangkan film yang tadi, membayangkan seandainya Bulik Tin telanjang. Manukku ngaceng. Aku jadi ga enak makan sendiri, akhirnya aku bawa piringku ke belakang dan nyuci. Sehabis nyuci piring dan gelasku aku duduk di dekat Bulik Tin, memandangi Bulik.

“Ada apa to Tok? (Bulik Tin manggil aku Totok) kok ngeliatin Bulik terus kaya gitu?” Tiba-tiba Bulik melontarkan pertanyaan. Aku jadi gelagepan.

“Ga pa pa kok Bulik.” Aku menjawab sekenanya lalu pamit hendak tidur. Aku kemudian masuk kamarku sendiri. Malam itu aku benar-benar ga bisa tidur.

***

Sejak itu aku makin jarang kerumahnya Manto, aku jadi makin betah di rumah Bulik Tin. Tiap malam aku selalu curi-curi liat wajahnya Bulik Tin. Kadang waktu dia pakai daster kembang-kembang kesukaannya aku berusaha curi-curi liat susunya Bulik. Tapi ga pernah berhasil, karena Bulik selalu pakai BH. Akhirnya muncul ide gilaku, ngintip Bulik Tin waktu mandi. Suatu sore aku sengaja belum mandi dulu, aku membolak-balik halaman majalah lama di kursi panjang, sengaja menunggu Bulik Tin. Ketika Bulik Tin bangun dari tidur, hatiku makin gelisah saja, majalah itu sudah lama tak ku perhatikan. Aku melirik Bulik yang barusan keluar dari kamarnya, seperti biasanya dia minum air putih di meja makan, aku terus merlirik diam-diam setiap aktivitas yang dilakukan oleh Bulik Tin. Bulik sekarang sudah mengambil handuk, dia menuju ke tempatku duduk.

“Lho kamu belum mandi to Tok? Kok yo dengaren.” (dengaren=ga biasanya)Tanya Bulik. Bluefame.com

“Belum Bulik, ini Totok mau masukkan si Jalu dulu (ayam jantan piaraanku) ke kandang, tadi soalnya Jalu kabur ke depan. Bulik mandi aja duluan.” Jawabku memberi alasan.

“O ya wis kalo gitu Bulik tak mandi dulu.” Bulik lalu dengan langkah agak diseret menuju ke kamar mandi di belakang. Kamar mandi di rumah Bulik Tin memang hanya bertembok sedikit tinggi di atas kepalaku, selain itu pintunya hanya seng yang sudah lubang sana-sini. Jadi besar kesempatanku untuk melakukan ide gila itu.

Jantungku berdegup kencang ketika dengan pelan-pelan aku menuju ke belakang rumah. Suara Bulik Tin terdengar jelas, bersenandung kecil, aku menunggu didekat kandang ayam sebelah kamar mandi. Tedengar suara cebur air, itu merupakan tanda bahwa Bulik sudah mandi, perlahan-lahan aku menaiki kursi tua di pojokan. Langit yang sudah mulai menghitam membantuku supaya rencana ini berhasil. Aku mulai menaikkan kepalaku perlahan-lahan, lampu kamar mandi sebesar 5 watt sudah dinyalakan, jadi aku harus hati-hati. Aku mulai melongokan kepalaku melewati tembok kamar mandi. Dari sudut ini aku mulai melihat kepala Bulik sedikit demi sedikit, aku berusaha terus dengan pelan-pelan mengangkat kepalaku. Akhirnya seluruh tubuh Bulik Tin yang telanjang terlihat jelas di bawah penerangan lampu 5 watt. Lama aku memandangi tubuh mulusnya Bulik, susunya membulat kencang, sementara aku melihat di bagian bawahnya, jembutnya terlihat gak begitu lebat. Kaki palsunya di taruh di atas rak kayu, jadi yang terlihat kaki kanannya yang buntung. Bulik kini menyabuni seluruh badannya dengan berpegangan pada palang alumunium yang sengaja di taruh di situ sejak dulu untuk memudahkan Bulik mandi. Lama aku menikmati tubuh Bulik yang telanjang, hingga tiba-tiba keseimbanganku jadi goyah, reflek aku meloncat dari kursi tua itu, waktu aku mendarat di tanah berbunyi agak keras

GEDEBUK!

Suara senandung Bulik seketika berhenti, jantungku seakan hendak meledak, tanpa banyak menunggu aku lari menuju ke ruang depan. Sesampainya di kursi panjang aku menenangkan diri, apakah Bulik tahu aku sedang mengintipnya? Jantungku berdetak seakan-akan hendak meloncat dari tempatnya. Dengan gelisah aku duduk menunggu sambil memikirkan alasan-alasan yang masuk akal.
Bluefame.com
Tak berapa lama tampaknya Bulik sudah menyelesaikan mandinya, terdengar suara pintu kamar mandi dibuka. Keringatku makin deras saja mengucur, membayangkan apa yang bakalan terjadi sebentar lagi. Langkah-langkah kaki terdengar mendekat.

“Tok, sana mandi, dah hampir mahgrib lho.” Suara Bulik terdengar seperti biasanya. Plong sudah hatiku, Bulik sama sekali tidak curiga.

“Ya Bulik, ini Totok mau mandi.” Jawabku, lalu aku segera ngacir ke belakang menghindari pertanyaan-pertanyaan Bulik selanjutnya.

Dikamar mandi pikiranku terus membayangkan tubuh mulus Bulik Tin yang basah, payudaranya yang kencang dan membulat sempurna. Burungku mulai berdiri lagi. Aku cepat-cepat menyelesaikan mandiku.

Malam harinya aku membantu Bulik Tin memeriksa pekerjaan ulangan bahasa Indonesia murid-muridnya. Makin senang aku membantunya ketika Bulik Tin hanya memakai daster pendek. Kelihatannya BH nya ga dipakai, karena aku sudah tau kebiasaan Bulik Tin kalau ga kemana-kemana malam harinya.

“Bulik, kalau tidak ada titik nya perlu dicoret tidak?” tanyaku pada Bulik Tin yang masih serius mengerjakan bagian lainnya.

“Lha iya tok, pokoknya kalau tanda baca tidak lengkap ya langsung dicoret aja.” Jawab Bulik Tin tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas dihadapannya. Posisi dudukku ini memungkinkan mencuri-curi pandang ke arah buah dada Bulik Tin. Aku duduk di lantai dengan bersila sementara Bulik Tin duduk di kursi depanku. Otomatis kalau lagi menulis di mejaku Bulik Tin agak membungkuk, sehingga leher dasternya menggantung, dan buah dadanya terlihat olehku. Selama membantu Bulik Tin, aku tidak bisa konsentrasi, dudukku gelisah karena burungku berdiri terus dari tadi. Walaupun cuman kelihatan susu bagian atasnya saja, rasanya sudah ndak karuan, ndredeg(berdebar – debar). Kadang-kadang waktu Bulik meluruskan punggungnya bersandar ke kursi, aku masih sempat-sempatnya berusaha ngintip bagian gelap diantara tengah pahanya. Walaupun tertutup daster dan tidak keliatan sama sekali, tetapi bayang-bayang hitam yang tercetak di mataku menimbulkan rasa penasaran dan fantasi yang lain. Jadi makin ngaceng dah manukku.Bluefame.com

Kertas ulangan murid-murid Bulik Tin ditanganku sudah selesai semua kukoreksi, tetapi aku sengaja berlama-lama berada di posisi ini. Selain masih senang dengan ‘hobi’ baruku (ngintip), manukku masih berdiri tegak. Lha kalo aku berdiri, lak ya kelihatan jelas kalo aku ngaceng.

“Piye (gimana) tok? Dah selesai apa belum ngoreksinya?” tiba-tiba Bulik menegur.
Setengah kaget aku agak terlonjak, dah alhasil manukku yang lagi ngaceng itu terbentur kaki meja (waduh rasanya ampun dah!).

“Dah bulik, barusan juga sudah tak koreksi. Nih Bulik” Sambil menahan sakit aku menyerahkan hasil koreksianku ke Bulik, lalu cepat-cepat berdiri dan ngacir ke kamar.

“Loh tok, kena apa kok mringis-mringis gitu?” Tanya bulik Tin melihat aku ngibrit ke kamar sambil menahan sakit di selangkanganku.

“Ndak pa pa kok lik, cuman kebentur meja aja” sahutku dari dalam kamar sambil mengganti celana kolorku dengan sarung. Biar aga lega dikit tuh selangkangan.

“Apane yang sakit tok? Manukmu yo?” Tanya bulik sambil menahan senyum.

Aku langsung mualu berat ketauan bulik kalo yang sakit memang manukku.Bluefame.com

“Iya lik, makanya ini sek ganti sarungan” jawabku dari bilik kamar.

“Ati-ati toh, ndak ada gantine lo kalo ampe patah” Bulik Tin ketawa lepas sehabis ngomong gitu. Aku akhirnya keluar kamar sambil tersenyum-senyum sendiri, asli isin tenan (malu sekali).

Aku duduk bersebelahan dengan Bulik Tin di kursi, sementara dia mulai sibuk mempelajari buku pedoman pengajaran untuk besok pagi. Tapi memang dasar aku baru tau ‘hobi’ baru, jadi keterusan melanjutkan apa yang tadi terputus. Aku sengaja memposisikan tubuhku bersandar ke tembok, sehingga aku langsung berhadapan dengan Bulik Tin. Sambil pura-pura baca buku-buku paket pelajaran anak SD, mataku sesekali berusaha mengintip belahan ketiak Bulik Tin (dasternya memang tanpa lengan) yang lagi berkonsentrasi membaca bukunya di meja (posisinya agak membungkuk karena mejanya lebih rendah). Ketiak Bulik Tin bersih dari bulu, bahkan nampak terawat, sesekali aku masih bisa menikmati ‘sedikit’ dari kulit susu Bulik Tin yang masih terbungkus daster itu.

Setelah lama puas ‘memandangi’ belahan ketiak dan sekitarnya, aku berpamitan menuju kamarku sendiri, sebelum Bulik Tin tau kalo manukku dah mulai ngaceng lagi. Tetapi di dalam kamar aku juga tidak bisa tidur membayangkan tubuh Bulik Tin, aku mulai berandai-andai dan menghayalkan yang tidak-tidak. Manukku rasanya makin linu karena sejak tadi berdiri terus. Aku mulai memikirkan bagaimana caranya supaya bisa mengintip Bulik lagi. Tiba-tiba terlintas lagi ide gilaku. Aku bertekad untuk mencobanya malam ini.

Tak berapa lama kemudian aku mendengar Bulik bersiap-siap untuk tidur di kamarnya. Lampu depan sudah dimatikan, dan kemudian terdengar langkah-langkah terseret Bulik Tin menuju ke kamarnya. Aku masih menunggu beberapa saat, sesekali masih terdengar derit ranjang di kamar sebelah, yang berarti Bulik Tin belum tertidur nyenyak. Akhirnya setelah menunggu beberapa lama (rasanya seabad), dengkur halus Bulik terdengar.

Aku perlahan-lahan mulai berjingkat keluar dari kamarku sendiri (semua kamar di rumah ini kebetulan tidak berpintu, hanya kain kelambu saja sebagai penutupnya), lalu perlahan-lahan menuju ke kamar Bulik di sebelah. Aku perlahan-lahan mengintip lewat kelambu ke dalam kamar Bulik. Ternyata benar dugaanku, Bulik sudah tertidur nyenyak dengan posisi miring menghadap ke tembok, sinar lampu kamar yang temaram membantuku untuk menuju ke tepian ranjang Bulik Tin. Sesampainya di tepi ranjang, keringat dinginku sudah mengucur deras tidak karu-karuan, aku berusaha berpikir untuk membatalkan saja rencana gila ini. Tetapi melihat tubuh Bulik Tin yang hanya sejangkauan tanganku saja, aku mengeraskan tekad untuk melanjutkan.

Perlahan lahan aku mulai mengetes kenyenyakan tidur bulik, tanganku sengaja mencolek-colek tubuhnya yang membelakangi aku, tidak ada reaksi. Berarti Bulik sudah tidur nyenyak sekali. Kini tanganku beralih ke tepian bawah dasternya, perlahan-lahan berusaha menyingkapkan daster itu ke atas, aku berusaha meminimalkan segala gerakanku. Perlahan-lahan nampaklah kedua paha mulus Bulik, hingga kedua pantatnya yang masih terbungkus oleh celana dalamnya tepampang jelas dihadapanku.
Bluefame.com
Aku menghela nafas perlahan, jantung berdegup kencang. Sedikit lega karena langkah pertama berjalan tanpa hambatan. Lalu aku memberanikan diri menuju ke tahap selanjutnya. Dengan menahan nafas, tanganku meraih tepian karet celana dalam Bulik, dengan sangat perlahan dan hati-hati, kutarik celana dalam itu ke arah bawah. 1 cm, 2cm, 3cm.....10cm, dan akhirnya tersangkut dan makin berat. Aku bingung bagaimana caranya celana dalam dibagian bawah (yang tertindih tubuh bulik) bisa ikut melorot?

Ditengah tengahnya aku mencari akal, tiba-tiba Bulik membalikkan badan, dengan panik aku menundukkan tubuh, lalu bergeser masuk kolong ranjang. Agak lama aku menunggu, setelah dirasa aman, pelahan-lahan aku kembali berdiri di tepian ranjang bulik. Kini posisinya tidur terlentang. Hampir saja aku bersorak kegirangan, bulu-bulu vaginanya sudah terpampang di jelas dihadapanku, dengan sedikit sentuhan yang sangat hati-hati, akhirnya terpampanglah pemandangan indah dihadapanku, gundukan vaginanya yang membukit dengan sedikit bulu-bulu halus diatasnya. Celana dalam nya sudah kupelorotkan hingga ke paha. Dengan perlahan-lahan kudekatkan kepalaku persis di hadapan vagina Bulik. Aku berusaha memperhatikan vaginanya, ternyata lain dari yang pernah aku lihat di film-film BF nya si Manto. Punya Bulik ini terlihat lebih mulus dan lebih indah bentuknya, dengan gundukan mungil dan belahan diatasnya, membuatku semakin penasaran.

Perlahan-lahan aku memberanikan diri untuk menyentuhnya, mulai dengan bulu-bulunya hingga semua permukaannya bisa kuelus sempurna. Manukku ngaceng lagi!

Dengan sesekali memperhatikan wajah bulik yang tertidur, jari telunjuk dan jempolku berusaha ‘membuka’ belahan itu. Tercium aroma khas yang aku sendiri belum tau, pokoknya dibilang harum juga tidak, dibilang bau juga tidak, baru kali ini aku mencium aroma yang tak bisa kugambarkan ini. Terlihat sedikit tonjolan daging di atas belahan vagina yang kubuka ini, lalu agak kebawah sedikit, dengan bantuan lampu temaram aku melihat lipatan-lipatan kecil membentuk lubang kecil diantara pahanya. Rasa senang bercampur debar-debar ketakutan bercampur aduk jadi satu. Inilah pertama kalinya aku menyentuh dan melihat bentuk vagina dari jarak sedekat ini.Bluefame.com

Setelah puas aku memandanginya, kini aku beralih ke tubuh Bulik Tin bagian atas, kesenangan belum terhenti! Dengan perlahan-lahan juga aku mulai menyibakkan daster bulik keatas (entah darimana aku mendapat keahlian dan kesabaran seperti ini), hingga susu bulik Tin yang tak terbungkus BH terlihat seutuhnya. Darahku berdesir kencang melihat kemontokan susu Bulik Tin dari jarak sedekat ini.

Aku meneguk ludah memandang kemontokan susu Bulik Tin. Bentuknya membulat sempurna, kulitnya bersih dan mulus serta kenyal. Aku memberanikan diri menyentuh susu Bulik yang sebelah kanan, rasanya benar-benar seperti di awang-awang. Belum pernah aku merasakan kegirangan seperti saat ini. Maklum saja seumur-umur ya baru kali ini aku menyentuh susu seorang wanita.

Setelah puas menggerayangi kedua susu Bulik Tin, aku memberanikan diri mendekatkan mulutku pada puting susunya. Seperti yang pernah aku tau di film-film BF nya si Manto, aku jadi kepengen menjilati puting susu beneran. Perlahan-lahan aku menjulurkan lidah menyapu seluruh permukaan puting susunya Bulik. Saking enaknya tanpa sadar aku juga mengemuti puting itu seperti bayi menyusu pada ibunya.

“Ehm...mmmm..” Tiba-tiba Bulik mengerang pelan. Hampir copot jantungku! Secepat kilat aku bersembunyi di kolong ranjang.

Dengan cemas aku menunggu reaksi selanjutnya dari Bulik Tin. Terdengar derit ranjang diatasku.

‘Mati sekarang aku! Bulik pasti marah besar!’ aku membatin dalam hati, sambil berharap itu tidak akan terjadi.

Beberapa lama kemudian, ternyata tidak ada reaksi apa-apa, ternyata Bulik masih tertidur dengan nyenyaknya. Aku memberanikan diri keluar dari kolong tempat tidur. Di ranjang ternyata bulik sudah berpindah posisi menghadap ke tepian ranjang, dasternya masih tersingkap diatas perut (sehingga susunya tidak terlihat lagi sekarang). Rasa lega menyelimuti aku, tetapi aku sudah tidak berani mengambil resiko lagi. Dengan perlahan-lahan aku berusaha merapikan celana dalam bulik keatas, sehingga vaginannya kembali tertutup, walaupun tidak sempurna, tetapi aku rasa sudah cukup. Lalu aku juga membenahi dasternya hingga menutup tubuh Bulik seutuhnya.

Setelah kembali ke ranjangku sendiri aku baru merasa aman dan lega. Manukku dari tadi terasa ngilu karena ngaceng terus sedari tadi. Aku berusaha memejamkan mata untuk tidur, tetapi bayang-bayang mulusnya tubuh Bulik Tin, aroma vaginanya yang khas, dan susunya yang montok terus berada di otakku. Setelah lama kemudian, akhirnya aku malam itu tertidur dengan mimpi-mimpi yang dipenuhi oleh tubuh mulus Bulik Tin.

***

Ketika aku terbangun pada pagi harinya, rasa kuatir itu kembali muncul. Bayangan akan kemarahan Bulik Tin sungguh membuatku menciut. Takut kalau Bulik tahu perbuatanku tadi malam. Aku terdiam lama di ranjang tanpa berani keluar kamar, walaupun sebenarnya aku sudah terbangun dari tadi.

“Tok, bangun gih, udah siang tuh” tiba-tiba Bulik Tin masuk ke kamarku, dia sudah berpakian rapi hendak berangkat mengajar. Aku menggeliat, berpura-pura baru bangun tidur.

“Iya Bulik, ini udah bangun kok” sahutku malas.

Bulik Tin tersenyum kecil, lalu duduk disamping ranjangku.

“Bulik berangkat dulu yah, tuh si Jalu sudah Bulik keluarin di belakang rumah. Dasar kamu molor terus sih!” kata Bulik Tin sambil mencium kedua pipiku. Dengan langkah agak pincang Bulik keluar dari kamarku. Aku bernafas lega, ternyata Bulik tidak tahu sama sekali tentang kejadian tadi malam.Bluefame.com

Aku meloncat dari ranjang dan keluar kamar, Bulik Tin sudah berjalan di halaman depan rumah.

“Ati-Ati di jalan Bulik!” Seruku. Bulik Tin hanya melambaikan tangan sambil tersenyum padaku.

Sejak saat itu, ketika Bulik sudah tertidur nyenyak, aku hampir tiap malam menjalankan ‘hobi’ baruku. Menjamah-jamah tubuh Bulik Tin yang mulus. Sesekali aku mendapat ‘rejeki’, ketika Bulik Tin hanya memakai daster saja tanpa memakai celana dalamnya, jadi aku tidak perlu-repot-repot untuk berjuang membuka celana dalamnya. Bahkan mulai melangkah lebih jauh lagi, terkadang apabila posisi Bulik Tin memungkinkan, manukku aku gesek-gesekkan dengan pelan di vaginanya, rasanya enak banget. Kadang-kadang dengan berani aku tempelkan manukku di bibir Bulik Tin. Rasa takut beserta nikmat menjadikanku ketagihan melakukannya. Bahkan aku tergoda sekali untuk merasakan bagaimana rasanya kalau manukku nancep (menancap) di vaginanya Bulik. Tapi tentu saja aku tidak mungkin punya keberanian sampai begitu, bagaimana nanti kalau Bulik tiba-tiba terbangun, bisa mati konyol aku!

Suatu malam aku merasakan lagi terangsang berat, tadi siang sampai 2 kali aku memutar film BF yang artisnya mirip ama wajah Bulik Tin di rumah Manto. Di luar hujan deras sekali sejak habis mahgrib tadi, padahal ini baru jam 8 malam, tetapi Bulik Tin sudah tidur di kamarnya, capek katanya. Aku duduk dengan gelisah di ruang tamu, majalah dan koran dari tadi sudah kubaca semua, bahkan kebanyakan aku tidak berkonsentrasi membacanya. Bayangan wajah dan tubuh artis BF yang mirip Bulik bergantian dengan tubuh mulus Bulik Tin terus berkelebat di otakku. Manukku makin ngaceng berat! Aku sudah tidak tahan lagi!

Segera aku membereskan koran dan majalah yang berserakan di ruang tamu, lalu aku pelan-pelan berjingkat menuju kamar Bulik Tin. Seperti biasa aku mengintip dulu ke dalam, memastikan Bulik tidur dengan nyenyak. Ternyata memang Bulik Tin sudah tertidur terlentang. Bahkan lampu kamarnya lupa dia matikan. Sengaja malam ini aku hanya memakai sarung tanpa celana dalam.Bluefame.com

Setelah aku berada di tepian ranjang, seperti biasa aku menyingkapkan bagian dasternya ke atas, karena mungkin sudah terlatih, kini dasternya aku singkapkan hingga ke leher Bulik. Ternyata malam ini aku beruntung sekali, Bulik Tin tidak memakai apa-apa dibalik dasternya. Tubuhnya yang telanjang, putih mulus, terpampang jelas dihadapanku.

Setelah itu aku pelan-pelan menaiki ranjangnya, lalu tanganku mengatur posisi kedua kaki bulik hingga membuka lebar dengan kaki menekuk (seperti posisi orang mau melahirkan). Dengan agak menunduk, kini aku bisa melihat jelas secara keseluruhan bentuk vagina Bulik Tin. Seperti kue apem, agak montok dengan belahan di tengahnya. Aku mendekatkan wajahku disana, lalu seperti biasa, aku mulai menjilati seluruh permukaan vaginanya, bahkan kini aku memberanikan diri untuk membuka sedikit belahan vagina, dan menyapukan lidahku di dalam situ. Cairan yang aku tidak tau apa namanya, dan bau khas vagina Bulik memenuhi mulut dan hidungku, belepotan. Kini aku sudah tidak tahan lagi melihat belahan vagina yang merekah indah berkilauan karena ludah dan cairan vagina Bulik Tin. Aku mengangkat sarungku keatas, hingga manukku yang sudah ngaceng dari tadi terbebas sempurna.

Perlahan-lahan aku mengarahkan manukku di belahan vagina Bulik Tin yang sudah basah itu. Posisiku setengah berlutut dengan rendah sekali, kedua lutut kakiku melebar ke samping kanan dan kiri. Hingga posisi manukku kini persis di belahan vagina bulik. Lalu aku mulai menggesek-gesekkan manukku di belahan vagina Bulik Tin itu. Rasanya enak sekali, licin dan seperti dicucup oleh bibir vaginanya. Lama lelamaan belahan vagina itu makin melebar, kini aku bisa melihat sebuah lubang di bagian bawah belahan vagina Bulik.

Hilang sudah akal sehatku, aku benar-benar terangsang hebat! Manukku rasanya sudah ngilu menahan birahi sedari tadi. Perlahan-lahan aku berusaha menempatkan manukku di depan liang vagina Bulik Tin. Lalu kutekan pelan-pelan hingga setengah dari ‘helm baja’ku masuk di dalam liang vagina itu. Walaupun vagina Bulik sudah basah, tetapi rasanya sangat sempit, dan manukku serasa dipilin. Baru saja aku hendak meneruskan aksiku....Bluefame.com

“Mmmm...emmm...” Tiba-tiba Bulik Tin mengecap-ngecapkan bibir di dalam tidurnya. Jatungku sempat berhenti sesaat, keringat dinginku semakin deras mengalir. Posisiku terdiam kaku dengan ‘helm’ku masih menancap separuh di lubang vaginanya. Dalam posisi seperti ini, tidak mungkin aku bisa sembunyi, secepat apapun aku bergerak, pasti Bulik memergoki aku.

Untungnya hanya sebatas itu. Bulik tidurnya benar-benar seperti orang mati, nyenyak sekali, mungkin karena kecapekan kali. Setelah beberapa saat aku kembali bernafas lega, dadaku terasa sesak, karena tanpa sadar aku menahan nafas lama. Kembali aku berkonsentrasi pada bagian bawah tubuhku. Pelan-pelan aku menekankan manukku ke liang vagina bulik, ‘helm’ku sudah masuk seluruhnya. Aku mengedip-ngedipkan mata merasakan manukku seperti dijepit dan dipilin, secara naluriah aku menarik kembali keluar manukku, gesekan antara bibir vagina dan dinding ‘helm’ku menimbulkan sensasi kenikmatan tiada terkira! Lalu dengan pelan aku kembali menekankan manukku ke lubang vagina, hanya sampai sebatas ‘helm’ yang bisa masuk, lalu kembali aku menarik keluar, suara ‘pop’ keluar dari situ. Aku kegirangan, benar-benar enak nih!

Semakin lama aku semakin tidak waspada, rasa enak disekeliling manukku mengalahkan segala-galanya! Setelah beberapa kali aku mencoba memasuk-keluarkan ‘helm’ ku di liang vagina Bulik Tin yang basah, aku merasakan kedutan-kedutan di buah zakarku, rasa ingin kencing melanda hebat seluruh selangkanganku. Aku berusaha menahan rasa ingin kencing itu, karena aku tidak mau meninggalkan ‘permainan baru’ ini walau barang sejenak.Bluefame.com

Tetapi sekuat-kuatnya aku menahan, akhirnya bobol juga pertahananku, aku menggeram pelan, disertai denyut-denyut di manukku, lalu muncratlah sperma di sekeliling vagina Bulik Tin, agak banyak, bahkan sebagian spermaku tumpah di belahan vaginanya. Aku terengah-engah menikmati sisa-sisa kenikmatan yang melandaku barusan. Hampir saja aku jatuh ketika berusaha turun dari ranjang Bulik Tin, kakiku masih terasa lemas dan gemetaran. Cepat-cepat aku membenahi daster Bulik tanpa sempat membersihkan tumpahan spermaku, lalu aku langsung ngibrit ke kamarku sendiri.

Hujan masih sangat deras ketika aku tertidur dengan memimpikan kentu dengan Bulik Tin.

***

Besok paginya, ketika bulik sudah berangkat ke sekolah, aku berusaha mencari akal, bagaimana biar aku bisa kentu dengan Bulik. Pengalaman pertama, walaupun tidak bisa disebut kentu, tetapi sangat membuatku kepingin mencoba lebih jauh lagi.

Sampai Bulik Tin pulang, aku masih belum bisa menemukan caranya. Rasanya jadi jengkel sendiri. Tapi aku berpikir positif aja, bahwa masih banyak waktu untuk menemukan caranya.

Bulik Tin sudah memakai daster kesayangannya, dia berada di dapur menyiapkan lauk yang tadi dibelinya untuk makan siang untuk kita berdua. Aku hanya memandangi tubuh Bulik Tin dari belakang, sinar matahari yang menerobos genting kaca dapur, menimbulkan bayangan eksotis di tubuh Bulik Tin, daster tipisnya seakan-akan menjadi tembus pandang oleh karena sinar matahari tadi. Manukku ngaceng lagi.Bluefame.com

“Tadi bapakmu telepon Bulik di sekolahan. Dia menanyakan kabar kita disini. Bulik jawab kalo bapakmu itu tidak usah kuatir, karena bulik masih bisa ngopeni(memelihara) kamu.” Bulik berkata sambil menyiapkan lauk-pauk di meja makan. Aku menghampirinya lalu memeluk Bulik Tin dari belakang. Manukku yang sedang ngaceng menempel erat di pinggulnya.

“Terima kasih ya lik, Lalu bapak ngomong apa lagi?” tanyaku sekedar lalu, tetapi konsentrasiku ada di bagian bawah tubuhku, dengan hanya dibatasi celana kolor, manukku terasa menempel di bagian belahan pinggul Bulik Tin. Sengaja aku agak menekan dan menggesek-gesekkan sedikit di bagian itu.
“Cuman berpesan, kalo kamu harus segera cari gawe(kerja), biar ndak ndomblong(melamun) terus ndek rumah.” Jawab Bulik Tin sambil memiringkan kepalanya menghadap ke belakang. Manukku tetap menggesek di belahan pinggulnya.

“Ndak ngomong pulangnya kapan lik?” tanyaku lagi, tanganku memeluk perutnya yang rata, lalu perlahan-lahan menggeser ke atas tepat dibagian bawah susunya.

“Lha ya ndak perlu toh tok, wong bapakmu itu kontraknya masih 3 tahun lagi lho! Napa? Emange kangen ama bapak yah?” tanya Bulik sambil tersenyum kecil, dia mengambil gelas dan ceret di meja. Kedua jempol jari tanganku sudah mengelus bagian bawah susunya.

“Iya sih lik. Walaupun gitu totok masih senang disini ama Bulik” Manukku sudah menempel tepat di bagian belahan selangkangannya.Bluefame.com

“O ya, bapakmu juga ngomong kalo minggu depan sudah isa ngirim uang. Pesen ama Bulik kalo uange ndak boleh dibuat jajan ama kamu.” Bulik Tin cekikikan, menggodaku. Tanganku beralih ke samping susunya. Kanan dan kiri.

“Yah, kok gitu? Lagian aku apa ya pernah macem-macem kalo Bulik kasi uang? Jajan aja juga jarang kan?” sahutku pura-pura cemberut. Kedua telapak tanganku menangkup kedua sisi susu Bulik Tin.

“Iya iya, kamu emang ndak pernah jajan dan neko-neko (macam-macam). Bulik percaya kok.” Bulik Tin mungkin menyadari keganjilan pelukanku sehingga dengan halus dia melepaskan diri dan mulai duduk di kursi makan. “Dah, cepet makan tuh, bulik belikan jangan terung (sayur terung), ama tongkol goreng kesukaanmu” perintah Bulik sambil mengambil nasi untuk dirinya.

Aku juga segera duduk disebelahnya, lalu mulai mengambil nasi dan lauk-pauk, dan kami bersantap siang bersama. Manukku masih ngaceng.

****

Malam harinya hujan turun deras sekali, padahal ini malam minggu, hawanya pun dingin menggigit. Sesudah makan, Bulik Tin sekarang lagi asyik-asyiknya setengah tiduran (punggungnya bersandar di bantal yang disenderkan ke tembok) di matras sambil nonton sinetron di TV, aku juga ikutan tiduran di sebelahnya, pura-pura ikut nonton sinetron, padahal ndak mudeng sama sekali, karena memang dari dulu aku tidak suka sama sekali ama yang namanya sinetron. Tujuan utamaku hanyalah ingin sedekat mungkin dengan tubuh Bulik yang wangi itu. Malam itu sengaja aku telanjang dada dan hanya memakai sarung tanpa celana dalam. Kadang-kadang jika TV lagi menayangkan iklan, Bulik bercerita tentang kegiatannya di sekolah tempat dia mengajar, tentang murid-muridnya, pokoknya macem-macem deh. Tapi kalo sinetronnya sudah mulai lagi, maka dapat dipastikan Bulik Tin bakalan terpaku dan begitu menghayati isi ceritanya.

“Tadi ada salah satu rekan guru Bulik bercerita kejadian yang lucu” Bulik mulai bercerita ketika jeda iklan. Aku sengaja makin merapat dan setengah memeluk tubuh Bulik Tin.

“Nah, dia itu punya tetangga, juragan sapi di desanya, suatu hari ada bule ke rumahnya dia, ternyata tanpa sengaja tahu kalau di pojok halaman belakangnya dia tumbuh tanaman hias, itu loh...apa ya namanya... “(bulik mengerutkan kening tanda berusaha mengingat-ingat). Aku makin merapatkan tubuhku ke tubuh Bulik dengan lagak serius mendengar ceritanyaBluefame.com

“...o ya, jenmani atau jemani gitu loh, pokoknya tanaman hias yg lagi ngetren sekarang itu loh.” Akhirnya Bulik bisa juga mengingatnya. Aku menyandarkan kepalaku di atas dada Bulik, tanganku yang sebelah kanan memeluk perutnya. Kain dasternya yang halus serasa membelai pipiku.

“Nah ceritanya, si bule ini menawarkan harga sekitar 300 jutaan buat tanaman itu, ternyata secara tidak sengaja tanaman hias tadi tumbuh dengan indahnya dan dengan bentuk daun yang sempurna, makanya si bule berani beli dengan harga segitu.” Secara alamiah (karena tertindih tubuhku) tangan Bulik Tin merangkulku dan membelai-belai lengan kananku. Tanganku sendiri mengelus-elus lembut perut Bulik.

“Si juragan sapi ini girang, tetapi dia masih belum mau melepaskan tanaman itu, dia sengaja minta waktu untuk berpikir lagi, dan si bule pun juga setuju.” Bulik Tin meneruskan ceritanya sambil sekali-kali menciumi rambutku yang tebal. Mungkin suka bau shampoo yang aku buat keramas tadi sore. Sebetulnya itu biasa saja, karena Bulik dari dulu memang begitu, tetapi aku semakin hanyut dan jantungku makin berdegup kencang. Aku teringat lagi pemain BF yang wajahnya mirip ama Bulik Tin.

“Setelah banyak bertanya dan mendapatkan informasi, maka tahulah nilai tanaman si juragan sapi ini ternyata harganya bisa mencapai 400 jutaan. Lalu juragan sapi ini menghubungi segera kenalan bulenya tadi. Ganti bule itu yang minta waktu berpikir kira-kira 2 harian.” Ga biasanya Bulik terus bercerita, padahal jeda iklan sudah selesai, dan sinetron sudah mulai lagi. Aku menurunkan kepalaku sedikit, hingga posisinya kini diatas susu Bulik Tin yang sebelah kanan, dalam hati aku bersorak girang karena dibalik dasternya seperti biasa, Bulik memang tidak memakai BHnya. Rasa kenyal susu Bulik Tin menmanjakan pipiku sekarang.

“Tahu ga tok? Si bule sudah sepakat setuju membayar dengan harga segitu, malam hari sebelum besoknya si bule bakal melakukan transaksi, ternyata beberapa sapi di kandang si juragan itu ternyata lepas, pagi harinya si juragan sapi baru tahu, kalo sapi-sapinya itu telah makan daun tanaman hiasnya hingga habis!” Bulik Tin berhenti sebentar sambil terkikik geli, aku juga mau tidak mau tertawa kecil.Bluefame.com

“ Bayangkan! 400 juta habis dalam semalam karena dimakan sapi!” Bulik Tin kini tertawa lepas, dadanya berguncang, membuatku makin terangsang.

“Lah terus juragan sapi ama bulenya gimana dong lik?” Tanyaku. Aku menoleh ke atas, memandang wajah Bulik. Tanganku bergeser kebawah, hampir diatas vaginanya.

“Nah itu dia tok! Si juragan sapi ini akhirnya jadi stress dan gila, sapi-sapinya bahkan dia bunuhi dengan cangkul!” Bulik berkata sambil begidik ngeri.

“Benar-benar lucu sekaligus kasihan yah” kataku lagi. Bulik mengecup keningku dengan sayang.

“Makanya tok, uang bisa bikin kita terlena bahkan sampai bisa gila gitu juga karena uang!” Bulik Tin melanjutkan sambil menarik nafas panjang. Kini perhatiannya tercurah lagi pada layar televisi. Perhatianku kembali teralih pada tubuh Bulik. Tanganku berhati-hati mengelus-elus dengan pelan bagian atas vaginanya, sedangkan kepalaku juga sedikit bergerak-gerak untuk mendapatkan kekenyalan dari susunya. Sungguh sensasi erotis tersendiri.

Bulik Tin menggeser posisinya agak menyamping, mungkin karena agak pegal karena bagian tubuh kanannya tertindih oleh tubuhku. Tapi ini semakin menggembirakan diriku, karena kini posisi Bulik Tin agak menyamping berhadapan denganku. Walaupun kini kepalaku menyandar di bantal, tetapi tepat dihadapan wajahku adalah kedua susu Bulik Tin. Sedangkan tanganku kini berada di pinggulnya. Pelahan-lahan, aku menggeserkan kepalaku hingga sebagian mukaku menempel ke susunya Bulik. Bahkan tonjolan putingnya juga dapat kurasakan menyentuh kulit mukaku.

Hampir saja aku tergoda untuk menjilati puting susunya yang masih berada di balik daster. Untung saja aku dapat menahan diri untuk tidak mencobanya. Padahal tinggal aku menjulurkan lidah, maka puting susunya pasti dapat kusentuh dengan lidahku.

Tanganku yang sebelah kanan beralih ke atas dengan posisi menekuk hingga menyentuh susu bulik yang sebelah kiri. Dengan begini Bulik tidak curiga kalo aku sengaja menempatkan tanganku di susunya, karena dalam posisi seperti ini bulik mungkin berpikir kalau aku hanya memeluk manja saja. Tapi dengan sangat hati-hati aku melebarkan telapak tanganku hingga menangkup susu bulik yang sebelah kiri. Dengan sengaja aku menguap tanda mengantuk, supaya nanti Bulik mengira kalau aku memang tertidur.Bluefame.com

Walaupun tidak direncanakan, karena gerakan tadi ternyata tali daster Bulik Tin yang sebelah kanan agak melorot, sehingga bagian atas susu sebelah kanannya kini terbuka dan bersentuhan dengan pipiku langsung. Dalam hati aku benar-benar senang sekali! Rasa hangat dan halusnya kulit susu Bulik Tin membuat birahiku makin naik.

Kini perlahan-lahan dengan daguku aku menggeser tepian daster bagian atas sebelah kanan kebawah, cukup pelan hingga Bulik tidak curiga dengan gerakanku. Kini puting susunya yang kecoklatan sudah terlihat , dan menyentuh daguku langsung. Mungkin karena hawa dingin, puting susu Bulik Tin tampak mengacung indah. Aku meneguk ludah ketika melirik ke bawah, sungguh pemandangan yang indah bagiku!

Sengaja aku mengeluarkan dengkur halus, supaya Bulik benar-benar mengira aku sudah tertidur. Aku menggeserkan kepalaku kebawah dengan pelan hingga kini puting susu sebalah kanan tepat di permukaan bibirku. Sejenak aku merasakan degup jantungku semakin berdebar kencang. Kurasakan gerakan pelan dada Bulik yang menarik nafas, sinetron di TV terus berlanjut.
Kugerakkan bibirku perlahan hingga puting susu Bulik yang mungil itu terletak diantara kedua belahan bibirku. Sampai disini aku terdiam, bingung untuk melakukan langkah selanjutnya, bukan tidak mungkin lama-kelamaan Bulik curiga dengan semua tingkahku. Lama aku dalam keadaan seperti ini hingga akhirnya akal sehatku sudah kalah oleh nafsu birahiku yang sudah memuncak. Perlahan-lahan aku membuka mulutku dan memasukkan puting mungil itu kedalam mulutku.

Benar saja, kelihatannya Bulik agak kaget, sehingga agak menggeser tubuhnya. Aku diam, sambil memjamkan mata, berpura-pura tertidur. Tidak ada reaksi selanjutnya dari Bulik Tin. Aku menebak-nebak, mungkin dia kembali mengikuti sinetron yang ada di TV.

Hampir saja aku meloncat kaget (untung saja aku menyadari kalau aku sedang berpura-pura tertidur). Tangan Bulik menyentuh pelan manukku yang memang sudah ngaceng dari tadi. Aku berusaha membuka mata sedikit untuk melihat kebawah. Waduh! Pantes saja, dengan hanya memakai sarung dan tidak memakai celana dalam, otomatis manukku yang ngaceng itu menyembul tegak dibalik sarungku itu. Pasti Bulik juga mengetahui hal itu.

Samar-samar aku melihat tangan bulik yang kelihatan ragu-ragu menyentuh tonjolan di sarungku. Lalu kemudian dengan pelan sekali aku melihat Bulik menggenggam manukku yang masih terbungkus sarung, mungkin dia masih mengira aku tertidur. Tidak sekedar menggenggam saja kelihatanya, dia mulai mengelus-elus pelan manukku! Perasaanku saat itu tidak karuan. Ini baru pertama kalinya manukku disentuh oleh seorang wanita. Walaupun masih dibatasi dengan kain sarung, tetapi aku sudah membayangkan halusnya tangan Bulik Tin itu.Bluefame.com

Aku kembali kecewa lagi, ternyata hanya sekejab saja Bulik menyentuh manukku itu. Tetapi aku tahu, lewat desahan nafasnya, dan gerakan di dadanya, kalau Bulik sebenarnya tergoda untuk melakukan lebih jauh. Aku kini sengaja menempelkan lagi bibirku di puting susunya. Tidak ada reaksi penolakan, aku kembali membuka bibirku dan memasukkan puting susunya di mulutku. Bulik diam saja. Tanganku kini makin berani, agak meremas lembut di susunya sebelah kiri. Kurasakan putingnya di telapak tanganku, hanya dibatasi oleh kain daster. Sinetron di TV masih memainkan perannya, demikian juga aku.

“Tok...tok?” Kudengar suara Bulik pelan memanggil namaku. Aku diam saja, biar dia mengira kalau aku memang benar-benar sudah tertidur. Tak lama kemudian kembali Bulik Tin memanggil namaku.

“Tok...tok?” sambil menyentuh pelan lenganku. “Wes turu tenan koyok’e”(dah tidur kayanya), kudengar Bulik bergumam sendiri.

Tak lama kemudian Bulik menggeserkan badannya, kini dia dalam posisi duduk, dari tempatku aku hanya bisa melihat punggungnya. Agak gelisah kelihatannya, terlihat dari menggeser-geser pantat di posisi duduknya. Walaupun mataku setengah terpejam, samar-samar aku masih bisa melihat seluruh gerakannya. Dia melihatku sebentar, mungkin untuk memastikan kalau aku memang benar-benar sudah tertidur. Posisiku kini terlentang, sehingga tonjolan di sarungku terlihat jelas oleh Bulik Tin.

Tangannya perlahan-lahan menyentuh tepian bawah sarungku. Ada keragu-raguan sebentar disana, Bulik kembali menoleh kearahku. Lalu perlahan dia menyibakkan sarungku keatas. Hawa dingin langsung membelai paha dan selangkanganku. Kini manukku terbuka seluruhnya. Bulik Tin terlihat agak kaget dengan ukuran manukku yang sedang ngaceng. Dia menoleh lagi ke arahku. Setelah dirasanya aman, aku melihat Bulik Tin dengan ragu-ragu memandangi seluruh bentuk dari manukku. Tanpa disangka-sangka dia pun mulai menggenggam dengan lembut. Aku menggelinjang pelan, rasa dingin dan kehalusan telapak tangan Bulik Tin menyentuh kulit manukku.

Tak dapat dilukiskan bagaimana perasaanku ketika tangan bulik pelan-pelan melakukan gerakan mengocok manukku. Kini tangan Bulik yang satunya juga membelai-belai buah zakarku. Sungguh mati, apabila tidak dalam keadaan berpura-pura begini, aku sudah berteriak keenakan.Bluefame.com

Tanpa sadar aku menggerak-gerakkan pinggulku mengikuti irama kocokan Bulik. Agak lama Bulik akhirnya sadar kalau gerakanku tidak wajar. Secepat kilat dia melepaskan genggamannya dan menutup sarungku kembali. Lalu dia mengalihkan perhatiannya di sinetron TV lagi. Bulik kembali merebahkan diri di sampingku.

Aku merasakan nafas Bulik Tin yang tidak teratur di rambutku, dadanya naik turun siiring dengan tarikan nafasnya, cepat. Aku kembali berpura-pura menggeliat dan kembali memeluk tubuh Bulik Tin. Kini Bulik Tin sengaja memiringkan badannya berhadapan denganku, seperti posisi pertama tadi, kedua susu Bulik tepat dihadapan wajahku. Manukku tepat diantara kedua belahan pahanya.

Aku merapatkan kepalaku di susu Bulik, entah sengaja atau tidak, kini belahan daster yang bagian atas makin melorot sehingga hampir separuh kedua susunya terlihat olehku. Aku kembali menempelkan pipiku di permukaan kulit susu Bulik yang sebelah kanan, rasanya halus dan hangat. Aku juga menyadari nafasku juga semakin memburu. Tetapi aku berusaha untuk bersabar. Belum waktunya.

Dengan gerakan kecil bibirku kembali mendaptkan puting susu Bulik Tin. Kali ini Tidak ada reaksi dari Bulik Tin. Dia diam saja membiarkan bibirku kembali mengemut puting susunya. Aku merasakan tangan Bulik meremasi rambutku, nafasnya makin tidak teratur ketika aku pelan-pelan mulai mencucup puting susunya.

“Tok....tok...? Kembali Bulik memanggil namaku, suaranya terdengar agak serak. Aku diam saja, kini aku sudah berani menggunakan lidahku menari-nari disekeliling puting susunya Bulik yang ada didalam mulutku. Tangan Bulik yang sebelah kanan meremas-remas lenganku dengan gelisah. Bahasa tubuhnya mengisyaratkan dia sudah terangsang.

Aku menggeser sedikit pinggulku sehingga manukku berada tepat disebelah bawah daerah selangkangannya. Kurapatkan sedikit di belahan pahanya, tidak kusangka Bulik Tin malah menumpangkan pahanya diatas pahaku. Tanganku sendiri juga tidak tinggal diam , dengan gerakan pelan aku memilin-milin puting susu sebelah kiri dibalik dasternya. Bulik bereaksi, tubuhnya sesaat menegang, lalu bergerak-gerak dengan gelisah.

Tangan kiri Bulik meluncur kebawah, dengan agak ragu-ragu dia menggenggam tonjolan di sarungku, setengah mengelus. Kini aku sudah tidak bisa berpura-pura lagi, sitasi semacam ini membuat birahiku makin naik tinggi. Aku mengerang pelan, merasakan kenikmatan elusan tangan Bulik. Entah apa yang sudah merasuki pikiran Bulik Tin, dengan berani dia menyibakkan sarungku keatas sehingga dia leluasa untuk menggenggam langsung manukku. Aku semakin berani, kini mulutku tidak berpura-pura lagi, aku sudah menjilati dan menyedot puting susu mungil Bulik, sementara tanganku kini meremas-remas lembut susu Bulik yang satunya. Sinetron di TV sudah tidak menarik lagi.

Bulik tanpa sadar mengerang lembut, dia mungkin juga sudah menyadari kalau aku tidak tertidur lagi. Tetapi Bulik Tin juga diam saja, seakan-akan menyetujui semua perlakuanku. Kini mataku sudah terbuka seutuhnya, gerakan tanganku sudah tidak pura-pura lagi, tetapi sudah mulai berani menarik turun tali daster Bulik Tin, hingga kedua susunya terlihat seutuhnya. Bulik Tin sudah sepenuhnya merebahkan diri di matras, sedangkan aku berusaha mengikuti gerakannya agar puting susunya tidak terlepas dari mulutku.

Mata Bulik terpejam, sedangkan mulutnya setengah terbuka, aku beralih ke puting susu sebelah kiri. Sedangkan tanganku kini berusaha menyibakkan dasternya dari bawah.

“Ehmm...mmm....tok....mmm...” erang Bulik. Bunyi kecupan dan kecipak ludahku di puting susunya seakan menyatu dengan irama nafas kami berdua.

Tanganku sudah berhasil menyibakkan dasternya hingga ke perut, lalu segera beralih ke celana dalamnya. Barus saja kupelorotkan hingga ke paha, tiba-tiba tubuh Bulik menegang.

“Tok! Ojok le(jangan nak)...!! Aku Bulikmu....!!!” Bulik akhirnya menyadarinya. Dengan tergesa dia membenahi pakaiannya, belum sempat dia membetulkan celana dalam tanganku menahannya.

“Bulik, kenapa? Totok sayang sama Bulik” ceracauku bingung mau ngomong apa. Bulik menggeleng lemah.

“Ojok le...ini salah! Aku masih Bulikmu!” matanya sayu, entah menyesal atau masih dalam keadaan terangsang.

“Memangnya kenapa lik? Bulik ndak sayang sama Totok ya?” jawabku gemetar. Tangan kananku masih mmegang celana dalamnya yang sudah melorot.

“Bukan begitu tok! Bulik sayang banget sama kamu, tapi bukan begini caranya!” suaranya bergetar ketika menjawab. Tanpa membetulkan celananya Bulik memelukku erat.

“Tapi Bulik juga ingin kan?” Tanyaku masih bingung. “Aku sayang sama Bulik!” tanganku kembali menurunkan tali dasternya.

Bulik menepis tangan kiriku yang sudah menurunkan tali dasternya hingga kedua susunya kembali terlihat. Tangan kananku beralih ke vaginanya, jariku langsung mengelus-elus klitorisnya (ini aku juga tau dari Manto). Bulik sekejap terhenyak kaget, seluruh tubuhnya gemetar, mungkin karena lama dia tidak merasakan sentuhan seorang lelaki, dengan mudah birahinya kembali naik. Tapi hanya sesaat, tangan Bulik memegang tanganku menahan jariku untuk bermain lebih lanjut di klitorisnya, reflek aku kembali mengemut puting susunya.Bluefame.com

“Sudah Tok....jangan.....” Bulik mengerang, tetapi tidak berusaha menahan kepalaku. Bulik kembali kurabahkan tubuhnya di matras, jari tangan kananku kembali mengelus-elus klitorisnya. Tubuh Bulik semakin gemetaran, mengejang hebat. Merasa mendapat lampu hijau aku berusaha melepaskan celana dalam Bulik. Kali ini tidak ada perlawanan.

Aku kembali lagi menikmati kedua puting susu Bulik Tin, sementara tanganku terus mengobok-obok vaginanya yang sudah mulai basah.

“Tok....bulik....ehm......mmmmm” Bulik memejamkan matanya, mulutnya tanpa sadar mengeluarkan desahan. Hujan deras dan hawa dingin tidak mampu menghilangkan hawa panas diantara kami.

Suara kecipak di vaginanya menandakan kalau Bulik benar-benar terangsang hebat, degup jantung dan nafasnya sudah tidak teratur. Hal yang sama juga terjadi padaku, birahiku melayang tinggi. Pelahan-lahan aku menurunkan keplaku sambil terus menjilati seluruh permukan perut Bulik, hingga akhirnya kepalaku berhadapan dengan vaginanya.

“Tok...mau apa...aaahhhhhh....sssssshhhh...” Bulik tidak sanggup meneruskan kalimatnya, karena lidahku sudah menjilati klitorisnya. Aku berusaha mempraktekkan apa saja yang aku lihat waktu aku sering nonton BF di rumahnya si Manto. Tidak sekedar menjilati saja, kini klitorisnya aku sedot juga, lalu bergantian dengan lidahku yang keluar masuk di liang vaginanya yang masih tertutup. Lidahku berusaha menyibakkan liang kenikmatan milik Bulik Tin.

Bulik Tin makin menggelinjang ketika lidahku menguak liang vaginanya, sengaja aku permainkan lidahku di daerah situ, kutekuk lidahku keatas sambil sesekali kuputar dengan gerakan kepalaku. Vagina Bulik semakin membanjir. Tanpa sadar kedua tangan Bulik meremas-remas rambutku dengan gemas, aku tidak memperdulikan hal tersebut, kedua tanganku juga melakukan gerakan-gerakan mengelus halus di paha bawah, lalu menuju keatas dengan memutar hingga ke paha bagian dalam

Setelah puas bermain di vaginanya, aku segera memposisikan diri, sarungku kulepas dengan tergesa sehingga kini aku telanjang bulat. Aku mengambil posisi setengah berlutut, dengan kakiku terbentang lebar, dan kedua kaki Bulik Tin aku posisikan menekuk (seperti orang mau melahirkan) Manukku sudah tepat di depan vaginanya, aku menekan lembut di liang vagina Bulik.Bluefame.com

“Tok...jangan tok...!! Sudah cukup...!!” Dengan panik Bulik hendak bangkit dari tidurnya, tetapi terlambat, manukku sudah mulai menyeruak liang vaginanya, kini tidak hanya sebatas ‘helm’nya saja, tetapi aku pelahan-lahan menekan masuk ke dalam liang vaginanya.

“Errrghhh....mmmmm...pelan-pelan...tok......” Bulik Tin kembali pasrah, tubuhnya kembali berbaring di matras. Tidak kupedulikan rasa terpilin, dan agak perih di kulit manukku. Sempit! Dengan hati-hati aku kembali menekan masuk di liang vaginanya. Sudah setengahnya masuk. Vagina Bulik semakin basah, tetapi aku merasakan liangnya terlalu sempit untuk kumasuki. Aku kembali menarik keluar dan berusaha menekan kembali ke dalam liang. Erangan Bulik Tin terdengar erotis di telingaku, kedua tangannya meremasi matras dibawah sedangkan kepalanya sesekali menggeleng-geleng pasrah.

Setelah beberapa kali berusaha mencoba, akhirnya manukku berhasil terbenam seluruhnya di dalam vagina Bulik Tin, bahkan masih ada bagian di pangkalnya yang masih ada di luar. Tidak bisa masuk lagi alias mentok. Aku berdiam sejenak setelah perjuanganku barusan, keringatku bercucuran, kuresapi kedutan-kedutan di seluruh dinding vagina Bulik. Setelah menyesuaikan diri sejenak, dengan alamiah aku mulai memaju mundurkan pinggulku, sehingga dinding-dinding alat kelamin kami saling bergesekan. Akhirnya aku kentu dengan Bulik Tin!

Bunyi kecipak alat kelamin kami yang saling beradu seirama dengan kedua nafas kami yang memburu. Kedua tanganku menekan paha Bulik sehingga menempel di perutnya, dengan begini vaginanya bisa leluasa menerima sodokanku. Ya tuhan! Aku terasa melayang-layang, manukku terasa diremas-remas dan dipilin dengan lembut. Seperti minyak urut, cairan vaginanya membasahi, dan dinding vaginanya mengurut-urut manukku. Rasanya benar-benar seperti terbang ke langit!

Keadaan Bulik Tin juga tidak jauh beda denganku, matanya merem melek dan bibirnya tak henti-hentinya mengeluarkan desahan berganti dengan erangan-erangan seperti sebuah simfoni yang berpadu dengan gerakan dan bunyi kecipak di vaginanya.Bluefame.com

Aku tidak bisa menahan diri lagi, makin kupercepat gerakanku, semakin bertambah nikmat yang kurasakan. Sekeliling daerah selangkangku terasa geli-geli enak dan itu menjalari seluruh tubuhku! Aku seakan-akan tidak mau menghentikan rasa senikmat ini! Terlalu nikmat malah! Syaraf-syarafku yang lain serasa mati rasa, dan otakku hanya berkonsentrasi dengan rasa nikmat yang baru pertama kali ini kurasakan!

Aku memandang Bulik dengan penuh rasa sayang. Mata kami bertatapan penuh arti, sinar hangat dari matanya yang sendu seakan berbicara ‘aku sayang kamu!’ Bibirnya setengah terbuka, mengeluarkan erangan-erangan yang menggairahkan. Kupercepat gerakanku, kami terus bertatapan, perasaanku sudah tidak dapat dilukiskan lagi! Rasa nikmat, rasa sayang bercampur baur jadi satu. Baru kali ini tatapan mata Bulik Tin seakan menembus seluruh jantungku!

“Sssshhh.....aaaaaaahhh.....rrrrr....” Bulik Tin menggeram hebat.
Tubuh Bulik Tin mengejang, sesaat vaginanya berkontraksi meremas manukku. Orgasme pertamanya.

Bagaimanapun juga aku mempertahankan desakan di buah zakarku, tetap saja aku tidak kuasa menahan gelombang orgasme yang juga melanda ku. Tidak sampai semenit setelah Bulik Tin mengalami orgasmenya, ganti aku yang mengalami sensasi terindah itu!

Tubuhku mengejang hebat, mataku seakan terbalik keatas, aku kehilangan kendali atas syaraf-syarafku. Manukku berkedut-kedut menyemprotkan sperma di liang vagina Bulik Tin! Cukup banyak hingga sebagian tumpah di bibir vaginanya.

Tubuhku melemas sesaat setelah mengalami kejadian yang menakjubkan ini! Aku merebahkan diri disamping Bulik Tin. Beberapa saat lamanya tidak ada suara yang keluar. Hanya desahan nafas kami yang tersengal-sengal. Kami masih meresapi puncak kenikmatan yang baru diraih. Walaupun udara cukup dingin dan hujan diluar tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti, tubuh kami terasa panas dan berpeluh.Bluefame.com

Aku memeluk Bulik Tin sambil mengecup pipinya dengan sayang. Bulik Tin hanya memejamkan matanya dan mengelus-elus dadaku. Sesaat kemudian dia kembali tersenyum

“Kamu bener-bener nakal tok!” Suaranya masih terdengar serak.

“Tapi Bulik suka kan?” kataku membela diri. Bulik Tin hanya tersenyum, tanpa menjawab, dia melumat bibirku, tangannya pelan mencubit manukku.

“Aku sayang sama Bulik! Sayang sekali!” aku berkata sambil memeluk tubuhnya.

“Bulik juga sayang sama kamu...” Jawab Bulik Tin, tangannya tetap mengelus-elus manukku yang sudah melemas.

Malam itu hujan tidak mau berhenti, semakin larut semakin deras saja, demikian juga aku dan Bulik Tin, serasa tidak ada hari esok, kami melakukan berkali-kali hingga fajar menyingsing.

****

Entah berapa lama aku tertidur, ketika bangun sendi-sendiku terasa mau copot. Masih di matras di muka TV. Bulik sudah tidak ada. Aku menengok ke jam dinding, sudah hampir jam 12 siang! Aku kembali tersenyum-senyum sendiri mengingat pengalaman hebat semalam. Aku bisa kentu sama Bulik Tin!

Segera aku bangkit berdiri, mencari Bulikku tercinta. Setelah beberapa saat lamanya, ternyata aku menyadari kalau Bulik sudah keluar rumah. Aku segera membersihkan diri di kamar mandi, perutkupun terasa lapar.

Sehabis mandi, aku menengok meja makan, hanya ada separuh telur dadar dan 1 tempe goreng. Karena lapar, aku segera mengambil nasi dan menyantap dengan lauk seadanya.

Barus saja aku selesai makan, terdengar suar pintu depan dibuka kuncinya dan kembali menutup. Segera aku bangkit berdiri lalu menyambut Bulik Tin yang sudah masuk ke dalam rumah.

“Nah, pasti baru bangun ya!” Bulik Tin menyambut ciumanku di bibirnya. Dengan langkah terpincang dia meletakkan tas belanjaannya.

“Dari mana lik?” Tanyaku sambil membantu membawakan tas belanjaannya ke dapur.Bluefame.com

“Belanja sekalian beli Bulik beli pil KB di kota tadi. Dasar tidak nyadar apa yang barusan kemaren malam kamu lakukan ama Bulik? Untung bukan pas masa suburnya Bulik.” jawab Bulik Tin sambil menaruh tasnya di meja.

Aku tersenyum, memang kemarin tanpa perencanaan apapun, aku tanpa sadar menyemprotkan spermaku di rahimnya. Untung Bulik segera menyadari dan membeli alat kontrasepsi.

“Sudah makan apa belum kamu tok?” Bulik berjalan tertatih menuju ke dapur.

“Sudah Bulik, tadi sama sisa telur dadar dan tempe” Jawabku. Bulik terkekeh, sambil mengeluarkan barang-barang belanjaannya.

“Bisa kenyang kamu?” Bulik bertanya sambil tertawa kecil. Karena Bulik tau kalau porsi makanku termasuk banyak.

“Kenyang ndak kenyang, wong adanya ya itu.” Kupeluk tubuh Bulik Tin dari belakang, kucium lebut bagian belakang lehernya. Bulik Tin sedikit menggelinjang. Tanganku meremas kedua susunya yang masih terbungkus kaus.

“Shh....Tok...sudah, Bulik kan juga capek...” Bulik menggeliat menghindari ciuman-ciumanku. Aku tidak menyerah, kususupkan satu tanganku dibalik kausnya, satunya lagi merogoh lewat bawah roknya. Dengan sekali sentak, celana dalamnya sudah melorot kebawah. Bulik menggeliat, menghindari, tetapi aku tau Bulik tidak berniat menghindar beneran. Agak tertatih Bulik menuju meja makan, dengan cepat kusibakkan roknya, celanaku sudah kupelorotkan hingga manukku sudah terbebas,

Kutekan punggung Bulik kedepan sehingga mau tidak mau dia menunduk, dadanya menekan meja makan. Kini pinggulnya yang telanjang terbuka bebas. Vaginanya merah merekah mengundang. Kugesek-gesekan manukku di belahan vaginanya, hingga tegang sempurna.Bluefame.com

“Ehmmm....mmm....” Bulik mendesah ketika ‘helm’ ku sengaja menggesek-gesekan belahan vagina dan klitorisnya. Walaupun liang vagina Bulik Tin sebenarnya sudah basah, sengaja aku tidak segera melakukan penetrasi, kumasukkan sedikit ‘helm’ ku lalu kukeluarkan lagi. ‘Plop!’ begitu bunyinya ketika kutarik dari liang vaginanya. Berkali-kali kuulangi gerakan itu, rasanya enak!

“Shh...udah tok.....ayo...toh...” erang Bulik Tin. Aku juga tidak bisa menahan birahi lebih lama lagi. Kulesakkan manukku ke dalam liang vaginanya, tidak berubah, masih sempit dan nikmat! Aku mulai memaju mundurkan pinggulku membentuk irama diiringi kecipak cairan vagina Bulik. Sinar matahari siang yang menembus genting kaca dapur menambah eksotisnya suasana.

Tubuh Bulik Tin berguncang-guncang ketika aku mempercepat gerakanku, Aku mengejap-kejapkan mata karena vagina Bulik seakan-akan mengurut-urut lembut seluruh batangku, rasa nikmat mengalir terus di dalam darahku.

Bulik mengerang panjang tanda dia sudah mencapai orgasme pertamanya. Aku tidak memperlambat tempo kocokanku, kontraksi orgasme di vagina Bulik Tin semakin menambah nikmat ketika aku menyodokkan manukku. Seluruh konsentrasiku tercurah pada daerah selakanganku ini. Rasanya sungguh tak terkira....!!! Manukku seakan-akan memenuhi seluruh liang vagina Bulik Tin, sementara dinding-dinding vaginanya memberikan respon dengan memijat seluruh urat-urat syaraf di batangnya.Bluefame.com

Beberapa saat kemudian, tanpa dapat dibendung lagi, akhirnya jebolah pertahanaku. Aku menggeram keras sambil menyemprotkan berjuta-juta sel sperma ke rahim Bulikku. Manukku berkedut-kedut seakan tidak henti memutahkan cairan kenikmatan itu. Kudiamkan manukku tetap didalam liang vagina Bulik, pelan-pelan cairan sperma yang tidak muat di dalam liang vagina, menetes keluar. Aku menghela nafas panjang menikmati sisa-sisa orgasmeku. Akhirnya kucabut juga manukku dari vagina Bulik. ‘PLOP’ begitu bunyinya ketika akhirnya ‘helm’ku berhasil keluar dari liang kenikmatan itu. Bulik Tin tetap tengkurap di meja makan, nafasnya masih tersengal-sengal, kakinya juga masih gemetaran sisa-sisa dari orgasme hebat yang baru dia peroleh.

“Bulik, aku sayang banget sama bulik!” kupeluk tubuhnya dari belakang, kukecup tengkuknya yang mengkilat karena berkeringat. Bulik hanya memejamkan mata sambil tersenyum, tangannya meraih rambutku yang diacak-acak dengan perasaan sayang.

“Bulik juga sayang sama kamu!” Jawabnya singkat.

****

Sejak saat itu, aku dan Bulik Tin selalu kentu, hampir setiap saat. Apalagi sejak Bulik memasang alat kontrasepsi yang bernama spiral (aku sendiri kurang tau modelnya kaya gimana), maka semakin seringlah aku dan Bulik Tin kentu. Bulik sekarang juga mau ngemuti manukku (oral seks kata si Manto), Kadang-kadang pada waktu pagi hari sebelum Bulik berangkat kesekolah, masih lengkap dengan memakai baju safarinya, hanya kupelorot celana dalamnya saja, kami melakukannya secara cepat, Bulik seringkali bersandar di pintu rumah yang tertutup, kadang-kadang aku juga kuatir kalau-kalau ada tetangga yang lewat dan tahu pintunya bergetar.
Pernah juga kami melakukannya di ruangan kelas di sekolah tempat bulik mengajar ketika semuanya sudah pulang dan susasana sepi.

Aku makin sayang sama bulik Tin

Posted at 07:31 am by pohonmangga
Make a comment  

supriyanto 2 rival

Namaku Supriyanto 2 : Rival!

“Ugh...” Aku melenguh ketika manukku untuk yang kesekian kalinya masuk ke vagina Bulik Tin.

Wajah Bulik tampak kemerahan ketika kami sama-sama mulai menggerakkan tubuh, berusaha mencapai puncak kepuasan.
Ditengah asiknya aku menggerakkan pinggulku, tiba-tiba terdengar dering telepon di ruang tengah.

“Bentar tok...uh.....ada telepon tuh...” Bulik mendorong tubuhku yang sedang berada diatas tubuhnya untuk bangkit berdiri. Aku setengah protes, karena sedikit lagi aku sudah akan keluar..

Tapi dasar Bulik Tin, sambil tersenyum nakal dia sengaja menggoyangkan pinggulnya sebentar sebelum melepaskan manukku dari vaginanya. Sambil bangkit berdiri dia juga sempat ngedumel “Siapa telp jam setengah satu malam seperti ini”

Aku pun hampir menggerutu, tapi sebelum sempat keluar kata-kata dari mulutku bulik Tin menempelkan jarinya di bibirku sambil tersenyum manis “Nanti ya dilanjut lagi, sopo ngerti ki telepon penting” Dia lalu bangkit berdiri terpincang menuju ke ruang tengah dengan tubuh masih telanjang bulat.

Aku menghembuskan nafas panjang, kalah dah kalo bulik sudah memberikan senyumnya yang manis itu. Dengan terseok aku mengambil sandal jepitku dan menyusul bulik di ruang tengah.

Di ruang tengah tampak bulik bediri di dekat kursi sambil menerima telepon. Dan memang tampaknya telepon tersebut penting, terlihat dari wajah bulik yang serius.
Jawaban-jawaban singkat keluar dari bibir bulik, ketika menjawab telepon tersebut. Dia melirik ke arahku sebentar, lalu mengisyaratkan agar aku jangan bertanya dulu. Aku terdiam saja sambil memperhatikan tubuh bulik yang telanjang dan berkilau karena keringat. Timbul niat isengku, perlahan aku menuju belakang tubuh bulik Tin yang memang agak setengah menungging karena posisi telepon yang lebih rendah dari tubuhnya.

Aku tersenyum nakal ketika kuarahkan manukku menuju lubang vagina bulik yang masih basah bekas persetubuhan kami barusan. Baru saja ‘helm’ manukku yang masuk ke dalam liang hangat vagina bulik, tangan bulik menepis halus sambil mendelik mengisyaratkan supaya aku diam.

Rodok mangkel(agak jengkel) karena hasrat yang belum tuntas aku menghempaskan diri di sofa di sebelah meja telepon. Bulik melirik ke arahku, lalu tatapannya beralih ke manukku yang masih ngaceng sekeras baja. Dia setengah menahan senyum, sambil masih meneruskan percakapannya di telepon, tubuhnya bergeser sedikit lalu, menghempaskan pinggulnya duduk disebelahku. Tangan kanannya mengelus-elus dan mengocok perlahan manukku sementara tangan kirinya masih memegang gagang telepon.

Aku meposisikan diri agar lebih rileks dan agar bulik lebih mudah mengocok manukku, tanganku mengelus-elus susunya, dan mempermainkan putingnya

“....nggih, lah opo ngomong mbek Totok dewe?” Kata bulik di telepon, lalu mengangsurkan gagang teleponnya ke arahku sambil mulutnya berbisik “bapakmu”

Aku jadi bertanya-tanya sambil menerima gagang telepon yang diangsurkan bulik padaku

“Ya pak?”

Suara bapakku diseberang sana langsung menyambung dengan cerita, bahwa besok sore akan datang adik bapak, bulik Lasmi dengan kedua putri kembarnya. Bapak minta agar aku ikut menjaga mereka sementara mereka akan tinggal sementara disini.
Aku terdiam berusaha megingat–ingat, bulik Lasmi adalah adik bapak yang tinggal di Jakarta, menikah dengan orang Amerika, dan mempunyai kedua putri kembar yang kira-kira seumuran denganku. Bulik Lasmi mungkin berumur sekitar 36 tahun dan putri kembarnya seumuran denganku. Mereka bernama Sinta dan Yasmin

Sudah lama bulik Lasmi sekeluarga berada di Jakarta, dan jarang sekali berhubungan dengan keluarga lainnya dikarenakan kesibukan suaminya yang sering ke luar negeri untuk berbisnis. Maka dari itu aku juga sudah lama sekali tidak pernah ketemu dengannya dan kedua anaknya.

Bapak meneruskan ceritanya jika sebenarnya bulik Lasmi sudah bercerai beberapa bulan yang lalu dikarenakan suaminya yang kawin lagi dengan wanita lain dan kembali ke Amerika, hanya saja bulik Lasmi baru berani bercerita kepada bapak kemarin karena dia sudah tidak bekerja dan tabungannya sudah menipis. Kedua anak kembarnya pun batal untuk masuk universitas karena perceraian kedua orang tuanya.
Akhirnya dengan terpaksa bulik Lasmi memohon kepada bapak untuk bias diperbolehkan tinggal bersama bulik Tin untuk sementara waktu sementara dia mencari kerja di tempat ini. Karena dia berpikir akan lebih mudah hidup di desa daripada di Jakarta tanpa pekerjaan.
Sebab itulah bapak akhirnya menelepon bulik Tin tengah malam seperti ini, untuk menceritakan keadaan yang sebenarnya.

“Iya pak....pasti...” aku menjawab sambil mengangguk-angguk (percuma kan? Orang yang ditelpon juga ga isa liat kalo kita mengangguk-angguk atau menggeleng-geleng )

Aku mengangsurkan telepon kepada bulik Tin lagi. Mereka bercakap-cakap sebentar lalu bulik Tin meletakkan gagang telepon menandakan percakapan sudah selesai.
Sesaat kami berdua merenung di keremangan ruang tengah memikirkan percakapan bapak tadi lalu merasa ikut prihatin dengan keadaan bulik Lasmi, serta perasaanku juga berganti dengan rasa ingin tahu dan berusaha mengingat keras bagaimana sekarang wajah bulik Lasmi dan kedua putri kembarnya.

Lamunanku buyar ketika merasakan sentuhan halus di manukku. Jemari lentik bulik Tin membelai dan kembali mengocok halus batang manukku. Serasa diingatkan, manukku dengan ‘riang gembira’ tegak berdiri!
Bulik tersenyum sambil mengedipkan mata mengisyaratkan agar kita berdua kembali lagi ke kamar. Dengan senang hati aku bangkit berdiri lalu mengikuti tubuh telanjang bulik Tin masuk ke dalam kamarnya.

***


Besoknya, minggu pagi, kita berdua mulai sibuk membereskan barang-barang dan kamar yang nantinya akan ditempati bulik Lasmi dan kedua putrinya. Apa boleh buat, kamarku akhirnya dirombak dan diatur sedemikian rupa supaya muat ditempati 3 orang, dan aku sendiri pindah ke kamar bulik Tin

Menjelang pukul 2 siang baru semuanya beres dan siap. Mereka akan datang kira-kira pukul 5 sore, jadi masih ada waktu bagi kami berdua untuk mandi dan berbenah diri.

“Bulik mandi bareng yo” Aku menarik tangan bulik lalu mengecup bibirnya yang merekah. Rasa capek tiba-tiba lenyap ketika bibir kami berdua mulai saling membelit, tanganku menelusup ke balik daster bulik Tin, mencari bongkahan susunya. Sementara tangan bulik Tin juga berusaha melolosi celana kolorku untuk meraih batang manukku.

Rencana mandi bersama buyar sudah ketika tubuh kami sama-sama telanjang di kamar bulik. Aku menjilati putting-puting kedua susu bulik Tin yang kecoklatan dan berdiri tegak menantang. Lidahku menari-nari, berputar di putingnya lalu berganti dengan hisapan-hisapan halus dan gigitan kecil di kedua puting susu bulik.

Bulik menggeliat menahan rasa geli yang menjalar di seluruh tubuhnya, tangannya menggenggam manukku dan mengocok dengan tidak beraturan, jemari jempolnya mengusap-usap ‘helm’ku serta lubang kencingnya sementara keempat jarinya yang lain menggenggam batangnya dan meremas serta mengocoknya perlahan.

Aku mengerang merasakan nikmat tidak terkira karena kocokan tangan bulik terasa lebih ahli dari kocokan tanganku sendiri!
Tidak mau kalah tangan kananku mulai bermain di vaginanya, jariku tengahku menelusup di lubang kehangatan bulik Tin, dengan gerakan teratur aku memaju mundurkan dan sesekali memutar jariku di dalam liang vaginanya, terkadang sengaja kutekuk ruas jariku dan seakan melakukan gerakan menggaruk halus dinding vagina bulik.

Bulik Tin menjerit kecil dan tubuhnya menggeliat liar ketika gerakan tersebut bersamaan kulakukan dengan jempolku mengelus-elus klitorisnya. Wajahnya tampak merah dan berpeluh menahan nikmat tiada tara. Kusambut bibirnya yang setengah terbuka, dengan bibirku nafasnya terasa panas di wajahku.

Ternyata tidak sia-sia aku ‘belajar’ dari film-film BF yang kulihat di rumah Manto. Bibi akhirnya menjerit kecil mencapai orgasmenya yang pertama! Dengan tersenyum nakal aku memposiskan manukku di atas lubang vagina bulik yang sudah membanjir, kugesek-gesekkan sebentar di klitorisnya sebelum aku perlahan mulai mendorongb masuk ke dalam liang hangatnya.
Bulik mengejang sesaat merasakan batang manukku memenuhi liang vaginanya, tangannya reflek memeluk leherku dan kakunya melingkar di pinggulku.

“Ohh....tok......ssssshhh.....enakkkkkkkhh........uhmmm....” Bulik menceracau kecil ketika aku mulai menggerakkan pinggulku dengan teratur.

Sesekali kulahap kedua puting susunya, lalu kujilati leher dan telinga bulik Tin. Kepala bulik tin menggeleng-geleng kencang menahan kenikmatan tiada tara.

Jangan ditanya lagi, aku sendiri juga sudah seperti kesetanan, berusaha mencapai puncak. Kugerakkan pinggulku sesekali cepat dan sesekali melambat diiringi dengan gerakan memutar untuk menimbulkan sensasi yang tiada tara dan tak terlukiskan, dinding-dinding vagina bulik seakan akan memeras dan mencengkeram dengan gerakan menyedot seluruh permukaan batang manukku!
Sekuatnya aku bertahan akhirnya datang juga gelombang kenikmatan itu. Tubuhku menengang sesaat sementara manukku memuncratkan sperma berkali-kali ke dalam liang vagina bulik Tin, sedang bulik Tin sendiri juga mencapai puncak orgasmenya bersamaan dengan semprotan pertamaku!

Sungguh keajaiban dan keindahan yang sulit dilukiskan ketika kami berdua sama-sama mencapai kenikmatan dari persetubuhan ini.
Beberapa saat kemudian , akhirnya kami berdua bangkit berdiri dan mandi bersama bersiap-siap menyambut kedatangan bulik Lasmi dan kedua putri kembarnya.

***


Jam menunjukkan 17.25 ketika sebuah taksi berhenti di depan rumah bulik Tin. Aku bulik Tin bergegas menuju ke depan rumah untuk melihat siapakah yang datang.
Seorang wanita keluar disusul dengan kedua gadis kembar yang jelas-jelas menunjukan pasti ini bulik Lasmi dan kedua anaknya. Bulik Lasmi tampak cantik dengan setelan blazer coklat mudanya, dan kedua putri kembarnya ....astaga! Mereka bagaikan pemain-pemain sinetron blasteran yang sering kulihat di TV! Kedua putrinya sangat cantik dan seksi perpaduan antara indo-bule! Mereka sama-sama berambut panjang kecoklatan, berhidung mancung dan berkulit putih bersih dan juga bertubuh seksi. Sesaat aku terpana seperti melihat 2 bidadari turun dari langit!

Aku dan bulik Tin buru-buru menghampiri mereka lalu tampaklah adegan peluk cium antara kedua bulik Tin, bulik Lasmi serta kedua putrinya. Aku membantu sopir taksi menurunkan tas-tas dan barang-barang bawaan mereka.

“Wah Supri sudah besar ya sekarang “ Bulik Lasmi ganti memelukku dalam perjalanan masuk kedalam rumah. Aku tersenyum kaku terdiam karena kedua tanganku sedang membawa 2 tas besar, bau wangi dari tubuhnya menerpa hidungku, sementara kulihat kedua putrinya, yang satu tampak tersenyum manis, tapi hei, satu lagi tersenyum sinis padaku?

Setelah semuanya berada di dalam rumah dan sopir taksi beranjak pergi setelah menerima ongkos + tips yang diberikan oleh bulik Lasmi, barulah aku bisa bersalaman dengan kedua putrinya

“Yasmin” salah satu putrinya mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis. Aku menyambutnya dengan gemetar “Supriyanto, tapi panggil aja Totok” jawabku.

“Sudah lama ya kita tida pernah ketemu” kataku mengingat-ingat kapan terakhir kali aku bertemu kedua putri bulik Lasmi.
Aku mengulurkan tanganku ke Sinta, tapi gadis itu hanya melirikku sebentar lalu mendengus, mengambil tempat duduk di ruang tamu.
Aku bertanya-tanya apa ada yang salah ma aku nih?

Tidak salah tebakanku, kedua putri bulik Lasmi memang seumuran denganku, baru juga lulus SMU, dan hendak mesuk ke salah satu universitas terkenal di Jakarta ketika musibah menimpa keluarga mereka.
Sementara kedua bulikku saling berbagi cerita di ruang tamu, aku menuju ke belakang untuk membikinkan teh buat mereka semuanya.

Ditengah aku mengaduk-aduk minuman yang akan kusiapkan, salah satu gadis masuk ke dapur sambil melihat-lihat sekeliling ruangan ini dengan berkerenyit jijik

“ Bisa juga lo idup di rumah kaya gini?” celetuknya tanpa melihatku.

Kaget aku dia berkomentar seperti itu ‘maksudnya apa ni cewe?’

“Ya bagaimana lagi, memang adanya ya kaya gini” jawabku.

“Kalo ga mama yg maksa gue, gue kaga bakal mau idup di gubuk kaya gini! Udah reot, ga ada apa-apa lagi!” sahutnya santai.

Gigiku gemeletuk menahan marah. Kalo tidak ingat pesan bapak, sudah aku usir makhluk sombong ini!

“Kamu pasti Sinta ya?” Tanyaku

“Heh! Elo jangan sok akrab ye! Gue tu cuman sementara aja disini, dan elo kaga pantes sok akrab ma gue! “ sahutnya ketus

Aku melongo, lah siapa yang sok akrab, orang tadi saja dia tidak mau memperkenalkan diri.

Dia menjulurkan lidahnya lalu kembali ke ruang depan, sementara aku terdiam. Wah, ini cewe geblek apa gendeng? Udah numpang, lha kok malah bikin gara-gara.

Kesal bercampur marah aku mengantarkan minuman ke ruang depan. Kulirik gadis yang sedang berdiri di dekat pintu. Sinta! Dia tersenyum sinis sambil diam-diam menunjukkan jari tengahnya kepadaku. Aku memalingkan mukaku yang merah padam, kubagikan teh di meja, lalu aku beranjak kembali ke dapur. Tiba-tiba sebuah tangan mencekal tanganku, hampir saja kudamprat karena aku pikir Sinta yang sengaja hendak menggodaku

“Eh, supri mau kemana? Bulik Lasmi belum selesai kangennya!”

Bulik Lasmi menarik tubuhku lalu menciumi seluruh wajahku. Aku terperangah diam karena kaget. Tidak tiap hari kan kamu diciumin cewe cantik kaya bulik Lasmi

“Duh, sekarang kamu sudah benar-benar menjadi cowo ganteng dan gagah ya!” Bulik lasmi masih memegang tanganku dan memandang wajahku yang bersemu merah.

“Tampang kaya kacung gitu kok bisa-bisanya mama bilang dia ganteng” Suatu suara menyahuti.

“Eh Sinta, jaga mulutmu. Bagaimanapun juga dia itu kakakmu, dan kita harusnya berterima kasih karena Bulik Tin dan kakakmu ini mau menerima kita dirumahnya” Bulik Lasmi menjawab tegas.

Sinta hanya tersenyum sinis lalu beranjak pergi masuk ke dalam

“Mana nih kamar gue? Gue mau tidur! Eneg liat dia”

“Sebelah dapur itu dik Sinta” bulik Tin menjawab pertanyaan yang kurang ajar tadi

Bulik Lasmi mendesah kesal

“Maaf ya dik, anakku yang satu tu memang agak susah diatur”

“Ga papa kok mbak, namanya aja masih remaja” kata bulik Tin menetralkan suasana yang sempat tidak enak ini.
Aku duduk di tengah-tengah antara bulik Lasmi dan Yasmin, tangannya merangkulku sambil bercerita mengenai kehidupannya di Jakarta. Sementara aku mencuri-curi lihat kepada Yasmin yang banyak diam dan hanya memainkan jari-jari tangannya saja. Aku hanya berharap semoga Yasmin tidak seperti kakaknya yang egois itu.

Diam-diam aku memperhatikan bulik Lasmi yang memang terlihat ramping dan seksi. Wajahnya tampak anggun, hidungnya mancung dan bibirnya merekah indah seperti milik bulik Tin. Payudaranya masih tampak kecang mendongak keatas dibalik bajunya, sementara secara keseluruhan tidak menampakkan dia sudah mempunyai anak yang sudah beranjak dewasa.

Aku jadi malu sendiri.

Manukku ngaceng tanpa bisa kucegah!

***


Beberapa hari kemudian aku sudah bisa membedakan yang mana Yasmin dan yang mana Sinta. Jelas saja, walaupun mereka kembar, tetapi sifat mereka bagaikan bumi dan langit.
Sinta, agak tomboy, egois, malas, dan seambrek sifat jelek lainnya, sedangkan Yasmin, anaknya diam, rajin, pembawaannya halus dan tidak banyak omong.

Beberapa kali aku beradu mulut dengan Sinta, dan Yasminlah yang menengahi, bahkan lebih sering membelaku daripada saudarinya. Kedua gadis cantik ini memang benar-benar membuatku gemas! Yang satu membuatku gemas ingin menampar mulutnya yang tidak tahu aturan itu, yang satu membuatku gemas mencium bibirnya yang indah.

Dan beberapa hari ini hanya kami bertigalah yang lebih sering berada di rumah, karena Bulik Tin pergi mengajar, dan bulik Lasmi berusaha melamar pekerjaan.
Sedang aku makin frustasi! Karena sudah beberapa hari ini, aku dan bulik Tin tidak pernah melakukan hubungan intim lagi. Bulik Tin tidak mau ambil resiko mereka bertiga ada yang memergoki hubungan tabu ini. Aku mengerti, karena tahu resiko yang akan ditanggung, tetapi manukku iki lho, opo yo gelem ngerti (apa ya mau ngerti)? Bagaimana bisa, jika setiap hari berada di rumah dipenuhi bidadari-bidadari yang cantik ini.

Dan yang paling membuatku makin sebal tingkah laku Sinta yang sengaja menggodaku, sering kali dia memakai pakaian yang sangat minim dan bahkan terbuka di setiap lekuk tubuhnya. Walaupun tiap hari tiada absen bertengkar dengan dia, namanya aja lelaki normal disuguhi pemandangan seperti itu jelas aja manukku ngaceng terus. Dan dia tersenyum puas ketika dia berhasil membuatku ngaceng dibalik celana kolorku. Sialan!

***


Suatu siang,

“Eh lo, bikinin gue minum donk, haus nih”

Mulai lagi nih anak!

“Bikin sendiri saja non, ga ada tangan ya?” Sahutku cuek sambil membaca majalah duduk berseberangan dengan dia di ruang tengah.

“Elo kan yang punya rumah! Apalagi elo tu tampangnya udah kaya kacung, ya semestinya elo bikinin gue tu minuman, syukur-syukur deh kalo sama cemilannya sekalian” cerocosnya.

“Justru aku yang sebagai punya rumah tanya ama kamu, sudah pantas kamu ngomong gitu? Apa kamu tidak pernah diberikan pendidikan dulunya? Kaga sekolah ya lo?” Balasku cuek juga.

“Gila ya lo? Sekolah gue tu sekolah mahal tau! Ama sekolah lo yg di kampung gini bedanya jauh man! Lo bayar disini ampe lulus SMA, baru lo isa sekolah di tempat gue, itupun baru bisa cicil bayaran sebulan!” Sentaknya sambil berdiri menunjuk ke wajahku.

“Lalu kenapa kamu seperti tidak punya aturan? Susah punya anak kaya kamu.” Sahutku sambil berdiri mau menghindari pertengkaran lebih lanjut.

“Anak? Bapak ibumu tu yang harusnya kasihan, punya anak tampang kacung kaya elo, Goblok lage! Ibumu matipun tidak tenang disana mikirin tampang elo yang...”

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya tanganku mencekal mulutnya yang sedang terbuka. Amarahku meluap.

“JANGAN SEKALIPUN kamu MENYEBUT nama IBUKU!” gemeletuk aku menahan emosi.

Sesaat Sinta tampak terkejut, tetapi dengan cepat dia memutar tangannya lalu membelitkan ke ketiakku sambil berteriak.
Tiba-tiba aku merasakan tubuhku jadi seringan kapas dan pandanganku sepeerti terbalik, lalu sedetik kemudian punggungku menghantam lantai dengan keras. Aku terbengong-bengong belum menyadari apa yang terjadi.

“ Jangan main-main lo ma gue!” Sinta membuang muka dengan ketus lalu beranjak pergi ke belakang. Pantatnya yang bergoyang menghiasi pandanganku yang masih meringis kesakitan.

Ternyata baru aku tau kalo keduanya adalah jago judo. Bahkan pernah menjuarai kejuaraan antar daerah. Dan barusan aku terbanting oleh jurus Ippon-Seio-Nage. Sialan (lagi)!

Makin pongahlah Sinta setelah kejadian siang itu. Sedang aku makin mengkeret. Bener2 menakutkan cewe yang satu ini. Yasmin pun mendengar kejadian siang itu, dan dia menghiburku agar lebih mengalah aja sama kakaknya, Sinta (memang hitungannya Sinta adalah kakak dari Yasmin walaupun mereka kembar)

“Memang susah dirubah kalo bawaan orok” sahutku suatu ketika. Sebal!

***


Malam ini aku gelisah banget sudah hampir 1 bulan aku menahan birahi. Kepalaku sudah pusing menahan nafsu yang bertumpuk hingga ubun-ubun.

Kulihat bulik Tin yang berbaring tidur disebelahku. Dia memakai daster tipis tanpa dalaman. Aku meneguk ludah melihat gundukan vaginanya yang tercetak jelas di balik kain daster itu.

Kuberanikan diri, tanganku menyibakkan dasternya keatas hingga terbuka sampai batas leher. Mulutku mulai menjilati susu bulik yang sebelah kiri, tanganku meraih gundukan halus vaginanya. Membuka dan mengorek liangnya yang hangat. Basah.

Aku melirik memandang wajah bulik Tin. Ternyata dia sudah terbangun sambil tersenyum.

“Bulik tau Tok, tapi piye maneh? Bulikmu Lasmi mbek anak-anaknya tidur disebelah. Nanti kalo mereka mendengar dan menangkap basah kita. Kita juga sing susah.” Bisiknya perlahan ditelingaku.

“Tapi bulik, Totok bener2 wes ra kuat neh...” suaraku terdengar memelas.

“Bulik juga Tok.....” bisik bulik pelan.

Aku hampir melompat gembira, berarti bulik Tin juga merasakan hal yang sama! Tersiksa oleh birahi.

“Tapi alon2 ae yo...ojok banter2(pelan-pelan aja ya, jangan keras2) suaramu” Bulik Tin berbisik pelan lalu mengajak kami berdua pindah ke lantai, supaya ranjang tidak berderit ketika kami berpacu dalam birahi nanti.

Aku setengah tersenyum geli. Karena biasanya yang berisik itu bulik Tin. Tapi aku tidak ambil pusing, kuturuti syaratnya. Kami berdua tergesa melolosi pakaian yang melekat di tubuh kami masing2 hingga telanjang bulat
.
Tanpa membuang waktu lagi aku menyerbu kedua susu bulik Tin yang memang selalu menggodaku. Indah dan menantang! Bergantian kujilati dan kupermainkan dengan lidahku puting-putingnya sementara tanganku mengobok-obok liang vagina bulik Tin yang sudah sangat basah.

Bulik Tin menahan rintihan yang keluar dengan mendekapkan tangan ke mulutnya.

Karena sudah tidak bisa menahan birahiku aku membaringkan diri lalu kuangkat tubuh bulik Tin supaya dia berada diatas tubuhku. Perlahan lahan bulik Tin menurunkan pinggulnya, manukku memasuki liang vaginanya yang hangat hingga mentok ke pangkalnya.
Tanpa dikomando, bulik Tin menggoyangkan pinggulnya dengan ritme teratur membuat manukku seakan akan dipilin-pilin dan diremas oleh dinding vaginanya. Aku memejamkan mata merasakan sensasi kenikmatan tiada tara ini. Bulit Tin semakin mempercepat gerakan menaik turunkan pinggulnya dan sesekali melakukan gerakan memutar serta maju mundur. Aku berusaha mengimbangi gerakan-gerakan bulik. Jika dia menurunkan tubuhnya aku menaikkan pinggulku ke atas hingga aku merasakan manukku mentok hingga mulut rahimnya!

Tanganku meremasi dan memainkan puting-puting susunya yang bergoyang mengikuti irama gerakan persetubuhan kami ini. Sambil sesekali berpindah ke pinggulnya membantu bulik mempercepat gerakannya.
Beberapa saat kemudian tubuhnya mengejang pelan lalu hampir ambruk menindih tubuhku. Bulik Tin sudah mendapatkan puncaknya. Tanganku mencengkeram kedua bokong bulik Tin lalu aku menggenjot dengan cepat dari bawah.
Suara kecipak beradunya alat kelamin kami adalah satu-satunya yang bisa kudengar, karena bulik menahan erangan kenikmatannya dengan mengunci mulutnya rapat2.

“Mmmmh....hhhhh..mmm”

Kugenjot dengan liar liang vaginanya hingga seperti piston yang naik turun masuk ke dalam liang surgawi. Tak kuperdulikan lagi bulik Tin yang sudah mencapai klimaks keduanya. Aku hampir...hampir ......!!!!

Akhirnya!

Semprotan demi semprotan spermaku mengantarku mencapai awang-awang kenimatan tiada tara!! Serta merta Bulik Tin menghempaskan tubuhnya ambruk di tubuhku.
Aku mengejap-ngejapkan mataku! Kepalaku seakan berputar dan pandanganku berkunang-kunang meresapi keindahan ejakulasi dan orgasme kami berdua.

Sekilas aku melirik ke pintu kamar, kain tirai kamar bergerak menutup. Atau hanya perasaanku saja?

“Tok....makasih...” bisik bulik Tin mengecupku mesra di bibirku

“Totok juga lik....” balasku sambil mengulum bibirnya.

***


Keesokan paginya
Sambil bersiul-siul aku member makan si Jalu, ayam kesayanganku, sehabis mandi dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana kolor saja memang ini acara wajibku, mengelus-elus ayam peliharaanku.
Hatiku memang lagi senang, karena semalam tuntas sudah birahi yang terpendam selama 1 bulan ini. Lagi pula aku juga senang bulik Lasmi sudah mendapatkan pekerjaan di toko kelontong babah Acong pojok jalan, lalu Yasmin pun juga ikut berusaha mendapatkan pekerjaan dengan pergi kesana kesini untuk melamar pekerjaan. Beberapa kali dia mendapatkan panggilan, tetapi masih belum ada yang menerimanya bekerja.

Sinta keluar dari rumah menuju kamar mandi sambil berbalut handuk saja. Aku melirik sekilas. Lalu membuang muka. Aku tidak mau hari yang indah ini dirusak oleh setan betina itu!

Pletuk!

Sebuah kerikil mengenai si Jalu yang berkaok kesakitan dan lari entah kemana.

Setan betina itu! Geramku.

Suara tawanyanya yang renyah mengiringi Sinta masuk ke kamar mandi.

Beberapa saat kemudian terdengar suara air menandakan dia sudah mandi, dengan perasaan masih kesal, aku mencari Jalu sambil memanggil namanya berulangkali.

Kasihan si Jalu.

Ketika aku kembali ke belakang rumah terdengar suara nyanyian di kamar mandi. Sinta menyanyi. Tak kupedulikan walaupun mau tidak mau kuakui suaranya memang bagus. Aku membersihkan kandang si Jalu lalu setelah itu menjemur pakaianku yang sudah kucuci tadi pagi.

Pintu kamar mandi terbuka, munculah Sinta dengan rambut basah dan tubuh berbalut handuk saja.

“I know what you did last night” nyanyinya dengan suara merdu

Pertama kali aku tidak memperhatikan apa yang dia katakan, kuteruskan pekerjaanku menjemur baju. Lalu Sinta menghampiri aku dan berbisik dekat di telingaku

“I SAID, I know what you did LAST NIGHT!” sambil tersenyum misterius.

Baru sadarlah otakku. Kupalingkan tubuhku menghadap setan betina ini. Terjawab sudah pertanyaanku semalam kenapa tirai pintu kamar bulik Tin bergerak. Sintalah yang memergoki kami berdua.

Setengah gemetar aku bertanya

“Opo seng kowe ngerti(Apa yang kamu ketahui)?” tanyaku saking terkejutnya

“English please” Sinta memonyongkan bibirnya mengejekku

“What the hell you talking about, BITCH!” Sahutku keras menahan rasa ingin tahuku

Sinta berbalik berjalan menuju ke rumah sambil bersiul. Tubuhnya melakukan gerakan bersetubuh sebagai isyarat jika dia sudah mengetahui apa yang aku perbuat semalam dengan bulik Tin.

Segera aku berlari kecil hendak menyusulnya, tetapi Sinta malah berlari masuk ke rumah, kukejar dia.
Sesampainya di kamarnya aku menahan bahunya, aku lupa sesaat kalau ini bakal terjadi lagi.

BUK!

2 detik kemudian aku sudah terkapar berada dilantai, terbanting oleh jurus Seoi-Otoshi nya

Lalu tanpa membuang waktu lagi Sinta menindihku dan mengunci leher serta lenganku. Aku meronta, tetapi gila! Kunciannya benar2 membuatku tidak bisa berontak, apalagi melepaskan diri.

Sangat memalukan. Ini aku terlentang dilantai dengan hanya memakai kolor ditindih oleh gadis cantik yang mengunci lengan dan leherku dengan jurus judonya, dan gadis itu hanya memakai handuk saja sebagai penutup tubuhnya!

“O..o..kamu ketahuan...” nyanyinya dengan nafas memburu. Senyumnya seakan mengejekku.

Aku diam...bibirku bergetar menahan marah...dan malu! Tak ada yang bisa kukatakan. Hancur sudah! Setan betina ini sudah mengetahui segalanya. Bayangan akan kemarahan bapak dan aib yang menodai keluargaku ini sudah tercetak jelas!

“F*ck me...” Bisiknya perlahan ditelingaku

Aku mendelik antara percaya dan tidak percaya!

“Apa..?” Hanya kata itu yang melompat dari bibirku yang gemetar. Tidak mempercayai apa yang barusan kudengar.

Sebagai jawaban dengan tangan kirinya Sinta memelorotkan celanaku sebatas paha hingga manukku terbebas. Dasar lelaki, reaksiku benar2 cepat. Manukku kini sudah setengah ngaceng.

Sinta menggeserkan pinggulnya sedikit. Aku mendelik! Kurasakan kini manukku bersentuhan langsung dengan bibir vaginanya yang basah.

Aku meronta, tetapi gerakan itu membuat kuncian di lenganku makin sakit. Aku meringis kesakitan.

“Sin, wes guyone(udahan becandanya)...!!” aku kehabisan kata-kata.

“...please...” Sinta berbisik lagi. “Gue tau gue memang jahat...” dia meneguk ludahnya. Matanya meredup. Setan betina ini kok jadi semakin cantik aja ya?

Dia menundukkan kepalanya, rambutnya yang basah tergerai di mukaku.

“...tapi sekarang gue butuh ini...” bisiknya sambil menggerakkan sedikit pinggulnya. Basah. Dan manukku makin mengeras.

“...ngggg...tapi lepasin ini dulu...” kataku lemah, tanganku mulai kesemutan.

“OK, gue lepasin...tapi...” Sinta mengedipkan matanya

Sesaat dia mengendorkan kunciannya. Aku segera melihat kesempatan, kuputar tubuhku dan kuangkat punggungku dari lantai. Lenganku bebas, aku menggeliat melepaskan diri. Sinta yang terkejut karena gerakanku yang tiba-tiba tidak menguasai keadaan, dia jatuh terguling di lantai.

Aku bangkit berdiri lalu berusaha keluar dari kamar ini. Dasar goblok, aku lupa kalo celana kolorku sudah melorot, Sesaat aku kehilangan keseimbangan.

Sinta tidak membuang waktu dia segera bangkit dan kembali mendorong dadaku, tangannya melakukan gerakan aneh memutar mengunci kedua tanganku. Kini Aku terjepit di dinding berhadapan dengan Setan ini.

“Jangan main-main mas!” nafasnya tersengal kedua tanganku terkunci dibelakang tubuhku.

Apa? Ga salah dengar nih? ‘mas?’ Dia memanggilku mas?

Aku terkejut ketika merasakan sentuhan halus di manukku....jemarinya yang lentik mulai menggenggam batangnya. Mengocoknya perlahan. Sesaat aku melenguh.

Sinta tersenyum, merasakan kemenangan sudah berada ditangannya. Perlahan dia menundukkan tubuhnya, bibirnya yang merekah itu membuka. Aku merasakan sensasi yang hebat ketika kulihat perlahan-lahan manukku masuk di mulutnya yang basah. Matanya menatap mataku langsung.

Sinta menggerakkan kepalanya maju mundur dengan ritme teratur, sesekali dia menjilati seluruh batang dan kantung telurku. Lidahnya juga menari-nari di helm serta lubang kencingku.

Aku melenguh. Sensasinya sungguh luar biasa!

Perlahan dia melepaskan tangannya dari tanganku yang terkunci. Sesaat aku berpikir akan lari keluar. Tetapi ...duh....rasa ini....sangat menggelitik. Aku malah memejamkan mata mendongak meresapi setiap aliran kenikmatan yang berasal dari manukku.
Tangannya kini mempermainkan kantong telurku. Menggelitik hingga merasuk setiap tulang sumsumku. Setengah menjerit ketika aku merasakan jemarinya memasuki anusku. Hampir saja aku berontak, tetapi matanya mengisyaratkan keyakinan. Aku terdiam, membiarkan jemarinya perlahan makin dalam masuk ke dalam anusku.

Edan! Tak bisa kulukiskan betapa hebatnya gelombang kenikmatan yang kuperoleh ketika dia secara bersamaan menekuk jarinya dan menggerakkannya secara berputar di dalam anusku sementara mulutnya maju mundur melahap seluruh batang manukku!
Tak dapat kutahan lagi!

“ Sin...aku..mau.....ughh...” hanya itu yang sempat keluar dari mulutku.

Sinta malah mengencangkan bibirnya di batang manukku. Matanya menatapku penuh nafsu. Semprotan demi semprotan spermaku memasuki tenggorokannya. Setelah kedutan terakhir dia menyedot-nyedot dengan kuat seluruh manukku seakan tidak mau adanya sperma yang tersisa. Sedikit lelehan sperma dijung bibirnya menetes ke lantai.

Aku mengelosor di lantai. Lemas.

Setelah melap sisa sperma di bibirnya dengan tisu, Sinta merangkak menghampiriku. Dia tersenyum, tetapi kali ini tidak kulihat senyum sinisnya. Benar-benar senyum yang tulus.

“Mas...” bibirnya mencari bibirku. Aku menyambutnya, bibir kami membelit untuk beberapa saat.
Sinta melepaskan ciumannya. Nafasnya tersengal.

“Gencatan senjata? Deal?” dia mengulurkan tangannya dengan jari yang ditekuk menunjukkan perdamaian.

“Deal” kusambut tangannya.

Posted at 07:32 am by pohonmangga
Make a comment  

supriyanto 3 witing trisno..

Namaku Supriyanto 3 : Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Witing tresno jalaran soko kulino = Cinta tumbuh karena terbiasa (bersama)

Malam itu kami makan bersama.

Aku melirik Yasmin yang sedang menyuap makanannya pelan-pelan. Rambutnya dikucir kuda dengan poni kecil tergerai di dahinya. Duh! Betapa cantiknya dia...sedang buah da...

Aku terkejut ketika merasakan sebuah kaki merayap di pahaku. Perlahan aku melihat ke arah bulik Tin. Bukan dia. Bulik Tin sedang asik bercakap-cakap dengan bulik Lasmi. Kupalingkan wajahku kearah Sinta.

Wajahnya terlihat menahan senyum. Aku mendelik marah. Bisa-bisanya di saat seperti ini dia bermain-main dengan bahaya. Belum sempat aku mengucapkan sesuatu, sudut mataku menangkap gerakan kepala Yasmin. Dia sedang menatapku.

Seperti maling kepergok, aku menunduk malu. Kusuap nasiku dengan tergesa. Aku tesedak! Terbatuk.

Sinta terkikik senang. Yasmin tersenyum sambil menyodorkan segelas air minum kepadaku.

Kuterima dengan pandangan terima kasih yang tulus.

“Makan itu jangan tergesa-gesa Tok” Suara bulik Lasmi mengingatkan

Setelah beberapa teguk air membasahi tenggorkanku baru aku bisa menjawab dengan suara serak.

“Iya bulik. Maaf”

Kedua bulikku melanjutkan percakapan yang sempat terputus tadi. Aku melirik Yasmin. Dia masih menyuapkan suapan terakhirnya, menaruh sendok lalu minum (dasar geblek! Itu kan gerakan wajar buat orang makan)

Hampir saja aku meloncat, kurasakan telapak kaki di selakanganku. Aku melirik geram ke arah Sinta yang tersenyum mengejek, melihat ke arahku, lalu ke arah Yasmin. Aku menggigit bibir menahan agar tidak keluar sumpah serapahku. Aku kepergok si setan ini ketika sedang mencuri pandang ke arah adiknya.

Segera kuselesaikan makanku lalu berdiri. Kubawa piringku ke tempat cuci piring

“Tok, aku ikut. Aku juga mau cuci piringku” Sinta bangkit berdiri sambil menyusulku ke belakang membawa piringnya.

Yasmin melongo heran. ‘Kenapa kakaknya hari ini?’

“Nyapo melok-melok?(ngapain ikut-ikut segala?)” desisku ketika kami sudah berada di belakang rumah. Ku ambil sabun dan kunyalakan keran air untuk mencuci piringku.

“Hei, gue kan juga mau cuci piring” sahutnya …lagian gue juga kangen sama ini”

Aku meloncat kaget ketika tangan Sinta masuk ke dalam celana kolorku langsung menggenggam manukku!

“Sin!” Desisku “Awas … nanti ketahuan bulik!” Setengah panik aku melongok melihat ke arah pintu yang menuju ruang makan.

“Biarin!” tangannya mengocok pelan manukku.

Gila ni cewe benar-benar pintar membangkitkan gairah seorang laki-laki. Tangannya memuntir dan meremas halus ujung manukku. Sesaat aku menggelinjang. Sinta tersenyum penuh kemenangan.

“Gue tau, saat tangan gue berada di peler lo ini, otak lo bayangin sapa? Yasmin kan?”

Mukaku merah padam. Aku hendak menjawab ketika Sinta mempercepat kocokanku

“Forget it, I just want this! Your big cock, bro” Bibirnya mendesis, mencium bibirku meredam segala amarahku yang akan meletup. Kusambut bibirnya. Sesaat kami berciuman. Tubuhku gemetar.

Aku tersadar ketika terdengar langkah kaki menuju kearah kami. Cepat-cepat kutarik tangan Sinta keluar dari dalam celanaku

Yasmin! Aku menarik nafas lega bertepatan dengan Yasmin yang menuju ke arah kami.

“Hei, ada yang aneh nih. Ga biasanya kalian akur malam mini.” tegur Yasmin sambil mengedipkan matanya dengan jenaka

“Kaga, gue masi eneg liat dia!” sahut Sinta ketus, dia menyodorkan piring kotornya ke Yasmin “ Cuciin sekalian punya gue ye. Gue mau kedalem sebelum muntah” Yasmin menerimanya, memandangku sebentar dengan penuh rasa simpati, lalu berbalik ke tempat cucian piring

Mukaku merah menahan malu dan geram. Bisa-bisanya setan betina itu bicara kaya gitu setelah tadi...

Belum sempat aku berpikir lebih lanjut Sinta menoleh kearahku, dengan isyarat mulutnya dia berkata tanpa suara “F*ck me bro!”

“Sialan!” desisku pelan

“Apa?” Yasmin menoleh kearahku. Sinta terkikik melihat aku belingsatan salah tingkah. Dia kabur.

“Oh…eh..ga papa..” cetusku. “Sini aku bantu kamu” aku berdiri disebelahnya membantu mencuci piring. Bau tubuhnya yang harum membuaiku, kulirik dia, lehernya yang jenjang dan putih, kausnya tidak dapat menyembunyikan betapa seksi lekuk-lekuk tubuhnya…

“Tok?” Yasmin menegurku. Aku hampir mati kaget! “ Ada apa? Ada yang aneh ama aku ya?” dia bertanya. Makin aku kehilangan kata-kata.

“Nggg…ndak kok Yas,” kami berdua kembali melanjutkan cuci piring dengan terdiam.

Setelah piring terakhir sudah aku lap, Yasmin menghadap ke arahku, memutar tubuhku. Aku terdiam seribu bahas ketika tangannya meraih tanganku.

“Sudahlah mas. Mbak Sinta memang sifatnya begitu. Semakin mas Totok meladeni dia, semakin senang dia menggoda mas.” Suaranya meluncur keluar.

Tangannya meremas jemariku. Aku terbang ke langit!

Dia tersenyum lalu melepaskan tangannya. “Ok, saya masuk ke dalam dulu, masih banyak surat yang belum dibuat” Sesaat wajahnya menampakkan keputus asaan.

Aku terdiam seribu bahasa sampai Yasmin lenyap dari pandanganku. Goblok! Aku memaki diriku sendiri.


**


Sampai lewat tengah malam, di tempat tidur aku berbaring dengan mata terbuka. Merenungi kejadian hari ini.
Sinta, setan betina itu, mau-maunya mengemut manukku, bahkan menelan habis seluruh spermaku yang keluar. Padahal, sebelumnya dia adalah musuh besarku! Aku menggeleng tak mengerti, aku membencinya, sungguh! Tetapi kenapa ketika dia mulai mencium bibirku tadi, rasa benci dan marah terasa lenyap tak berbekas. Ciuman yang kurasakan memang berbeda dari ketika aku mencium bulik Tin. Binal dan liar. Tapi ada sensasi sendiri ketika bibirnya bertemu dengan milikku. Hangat, basah dan ciumannya benar2 menaklukanku!

Mungkinkah benar apa yang dikatakannya tadi? Apakah aku memikirkan Yasmin ketika aku dilanda birahi, sedang fisikku berada di dalam genggamannya? Ah tidak! Aku tidak bisa membandingkan Yasmin dengan setan betina itu! Tidak pantas! Yasmin berbeda. Dia sangat lembut, selalu baik padaku dan penuh perhatian. Dia adalah malaikat. Dia adalah…

Tunggu dulu! Wow..wow…kenapa aku sampai memikirkan begitu? Kenapa aku tidak mampu berkata-kata ketika aku berhadapan dengannya? Inikah cinta? Jatuh cintakah aku padanya? Mana mungkin? Dia adalah sepupuku, anak dari bulik Lasmi!! Lagi pula, aku tidak pantas bersanding dengannya. Dia bagaikan bidadari sedang aku adalah manusia hina. Perbedaan bagaikan bumi dan langit, aku bagaikan pungguk merindukan bulan!

Semakin lama aku memikirkannya, semakin hatiku berkecamuk!

“Sssstt…”

Aku memalingkan mukaku. Bingung. Kukejap-kejapkan mata untuk melihat kearah pintu kamar.

Dalam keremangan tampak sebuah kepala muncul diantara tirai kamar. Setan betina itu! Aku langsung mengenalinya dari senyumnya.
Tangannya memberi isyarat agar aku diam dan menghampirinya. Ada apa lagi? Apa maunya dia?

Perlahan aku bangkit dari tempat tidur supaya tidak membangunkan bulik Tin. Aku terseok sebentar ketika mengambil sandal jepitku. Kupalingkan mukaku ke arah pintu. Makin jelas wajah cantik yang berambut panjang itu sedang menyeringai. Kuhampiri dia dengan setengah kesal.

“Ada apa lagi?” bisikku penuh tanda tanya.

Tanpa berkata apapun Sinta meraih tanganku untuk mengikutinya.

“Hei! Tunggu, kita mau kemana?” desisku. Kutahan tubuhku. Apa maunya setan ini?

Sinta mendelik tajam di keremangan

“Lo mau semua bangun? Diam dan ikutin gue!”

Dia menarik tanganku lagi, menuju ke belakang. Perlahan sekali dia membuka kunci pintu belakang, lalu menuju ke luar. Angin dingin langsung menerpa kami berdua. Cahaya bulan purnama bersinar dengan indahnya.

Astaganaga! Baru aku memperhatikan, Sinta hanya memakai kaus longgar tanpa bawahan! Hanya bercelana dalam saja.

Sesampainya dekat gudang sebelah kamar mandi. Sinta membalikkan badannya. Sejenak aku terbuai. Wajahnya yang cantik diterangi sinar rembulan. Bibirnya….

“Ada apa kita kesini? Apa sih maumu?” tanyaku berbisik.

Sinta tak menjawab, perlahan dia merangkul leherku dan menempelkan bibirnya kebibirku.

“Hei…kamu..” protesku. Tapi aku tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi ketika lidahnya menyeruak diantara bibirku, menari didalam mulutku. Matanya terpejam

Kami berciuman beberapa saat, liar dan panas! Aku terbuai….

Tangannya menelusup dibalik kausku, merabai dadaku, mempermainkan puting susuku. Merinding dan geli aku dibuatnya.

“C’mon bro…I just want this! I need you big cock! Lets f*ck!” kata-katanya meluncur cepat diantara nafasnya yang tersengal, tangannya sudah berada dibalik celana kolorku. Aku melenguh ketika dia mulai mengocokku perlahan.

“Tapi Sin! Kamu adalah sepupuku, kita tidak bisa…lagi pula…”

“F*ck that! Apa bedanya? Elo juga ngentot ama bulik Tin kan? “ desisnya.
Aku terdiam. Apa yang dikatakannya benar, apa bedanya jika aku juga sudah bersetubuh dengan bulik Tin. Sama saja bejatnya kan?

“Ada apa? Lo mikirin adek gue lage? Apa sih kelebihan dia? Sampe lo tergila…”

“STOP!” geramku. “Jangan terusin. Jangan kamu bicara begitu tentang Yasmin! Atau…”

“Atau apa? Hah? Apa bedanya dia ama gue? Kita kembar, apa lo buta?” serunya gusar.

“Beda! Jelas beda! Kamu bukan dia! Walaupun kembar kamu…”

Aku terdiam melongo. Sinta melepas kausnya, lalu celana dalamnya. Bugil. Tubuhnya yang indah tertimpa sinar bulan. Payudaranya yang membulat dengan puting-putingnya yang tegak berdiri. Lalu aku sempat melirik bagian vaginanya yang tak berambut.

Gundukannya jelas sangat indah dengan bibir vaginanya yang mungil…

“Shut up! Can you….just f*ck me now?” matanya mendelik tajam. Tangannya menarik celana kolorku kebawah. Membuat manukku yang sudah ngaceng terbebas dari kukungannya.

“Tapi Sin, aku tidak bisa…uhm….bagaimana jika ada yang memergoki kita disini? Bagai..”

Aku tak sanggup meneruskan kata-kataku. Bibirku disumpal dengan bibirnya. Sekali lagi kami berciuman dengan ganas. Kini tanganku mulai berani menjamah susunya. Wow! Rasanya berbeda dengan bulik Tin, punya Sinta ini sangat kencang, kenyal dan bentuknya pun sempurna. Puting-putingnya mungil merindukan jamahan jari-jariku.

Tangan Sinta dengan terampil mengocok manukku, sesekali dia meremasi kantung telurku dengan lembut. Jemarinya bagaikan ular membelit, mengocok, memutar seluruh permukaan manukku. Aku merintih diantara bibirnya.

“Yes baby…yes…I need your big dicky inside me!” dia menceracau dengan nafas memburu. “F*ck me!” tangannya makin terampil membuat manukku semakin mengeras bagai baja!

Aku menundukkan kepalaku, mencicipi kedua buah susunya. Kujilati puting-putingnya, kupijat dengan perlahan dengan tanganku, kuremasi dengan lembut. Sinta merintih.

Tanganku akhirnya sampai juga di belahan vaginanya. Basah. Kurasakan gundukan vaginanya, lalu belahannya yang mungil. Dan liangnya yang hangat. Kupermainkan jariku disana. Kutemukan kelentit mungilnya, kupijat dengan lembut sementara jari tengahku berada di dalam liang vaginanya mengocok lembut.

Sinta mendongak, mendelik mulutnya merintih dan mengerang.

“Yes…yes!! Oh god! …..yes….”

Matanya memandangku dengan penuh birahi. Dia menjilati bibirnya lalu membukanya separuh mengundang bibirku bersatu kembali dengannya. Bibir kami kembali membelit. Lidah kami saling menari.

“ Oh god! Yes..!! yes!!!....i’m cumingggggg…!!!” Sinta berteriak seperti kesetanan. Aku terkejut. Kusumpal mulutnya dengan tanganku.

“Gila Sin! Kamu ingin membangunkan seluruh kampung sini?” desisku

Sinta memandangku malu lalu dia kembali menciumiku. “Now just f*ck me” dia memposisikan dirinya, punggungnya menghadapku.

Sejenak aku ragu-ragu. Tapi persetan! Kuposisikan manukku di depan liang vaginanya. Kudorong perlahan. Meleset. Kucoba lagi, kepalanya sudah mulai membelah bibir vagina Sinta. Lalu masuk lagi senti demi senti hingga masuk seluruhnya. Hangat dan basah!

‘Dia sudah tidak perawan lagi’ pikirku. Tak heran kalo melihat kelakuannya seperti setan. Siapakah ya yang beruntung mendapatkan keperawanannya? Sialan! Kenapa aku jadi mangkel gini? Cemburukah ini?

Kualihkan perhatianku, konsentrasi pada tempat beradunya kelamin kami berdua. Dengan ritme yang teratur aku mulai menggerakkan pinggulku, aku mengerang, terasa sempit dan enak sekali! Seluruh batang manukku seakan dipilin-pilin oleh dinding vaginanya yang basah.

Sintapun bergerak dengan agresif, menggoyangkan pinggulnya sambil sesekali membalas sodokan-sodokanku. Tangannya bekerja di klitorisnya sendiri.

“Ugh…yeah….mas….enakkkk…hhh….oh god! Yesss….!!” Rintihnya. Wow, sudah 2 kali ini aku mendengar dia memanggilku ‘Mas’. Aku tersenyum.

Walaupun udara pada malam itu terasa dingin, tubuh kami berdua berpeluh, berkilau tertimpa sinar rembulan. Bayangan kami yang bergerak seakan menjadi saksi betapa indahnya persetubuhan kami sekarang.

“Sin, sssttt…jangan keras-keras” desisku diantara nafasku yang memburu.

“Sori. Abis enak ban…nget…nihh….!!” Jawabnya hampir berbisik.

Kini tangan satunya menahan mulutnya, sedang tangan kirinya tetap bermain di klitorisnya. Aku hampir tertawa melihat gayanya yang lucu seperti ini.

Kupercepat gerakanku, dilema, antara ingin berejakulasi dan tidak, karena rasa ini benar-benar membuatku terbang sampai awing-awang. Dinding-dinding vaginanya seakan punya mata memijat syaraf-syaraf kenikmatan di seluruh permukaan batang manukku. Ohh..benar-benar seperti melayang!

“Auuuhh!!” tanpa sadar Sinta setengah menjerit ketika mencapai orgasme keduanya.

Kutepuk pantatnya agak keras “Sin! Mau kita berdua mati ya?”

“Gila…matipun gue rela kalo kaya gini! “ Sinta terkikik geli

“Aku yang ga mau! Nasi pecel aja masih enak” balasku berbisik di telinganya. Kujilati daun telinganya. Sinta merintih, mendongakan kepalanya.

“Sin…a…ku mau…. keluar….” Bisikku terputus-putus.

Secepat kilat Sinta mencabut manukku lalu berbalik sambil berjongkok dihadapan manukku. Dikulum seluruh batangnya dengan bernafsu, sambil tangannya membantu mengocok dan meremas lembut kantong telurku. Matanya lurus menatapku dengan penuh nafsu. Bagaimana bisa aku menahannya jika melihat pemandangan seperti ini?

Manukku berkedut-kedut menyemprotkan sperma ke dalam mulut Sinta. Mata kami saling menatap tidak berkedip ditengah gelombang orgasme yang melandaku.

Sinta menyelesaikannya dengan menghisap habis seluruh sperma yang tersisa dan menelannya. Lalu tanpa dikomandopun dia menjilati seluruh batang manukku membersihkan sisa-sisa sperma yang menempel

Aku menarik nafas kelegaan. Kepuasan!

Sinta bangkit berdiri lalu merangkulku dengan mesra. Bibirnya menyentuh bibirku. Aroma tajam spermaku masih terasa. Aku tidak peduli. Kusambut bibirnya….

“Thanks bro! I love you!” bisiknya ditengah-tengah ciuman kami

Sesaat aku tidak mempercayai pendengaranku. I love you? Aku masih terbengong. Sinta masih mencium wajahku. Tangannya erat memeluk tubuhku.

Sinar rembulan makin bercahaya

**

Yasmin berteriak!

Sedetik kemudian aku merasakan tubuhku melayang, terkena bantingan harai-goshi nya (sapuan pinggang). Secepat kilat aku berdiri lalu menyerbunya.

Dengan tenang Yasmin menggeserkan tubuhnya sedikit lalu mengeluarkan jurus morote-seoi-nage (bantingan lewat bahu dengan 2 tangan)

Pagi ini kami berdua berada di halaman belakang, aku dan Yasmin. Dia mempraktekkan beberapa jurus-jurus judonya sekaligus berlatih denganku. Kedua bulikku berangkat bekerja, Sinta keluar entah kemana. Jadi tinggalah aku berdua dengan Yasmin dirumah.
Beberapa matras usang kupasang di dekat gudang, supaya tubuhku tidak remuk oleh karena bantingannya. Demi Yasmin aku pun rela jadi teman berlatihnya, atau lebih tepat sansak hidupnya.

Kini aku bangkit berdiri lagi. Tak habis pikir bagaimana tubuh Yasmin yang lebih kecil dariku bisa melemparkan tubuhku berulangkali tanpa kehabisan nafas. Aku kini mengambil kuda-kuda, perlahan-lahan mendekatinya. Yasmin tersenyum kecil.

Tiba-tiba dia mendekat maju secepat kilat, tubuhnya sedikit menunduk dan menyerbu pinggangku. Belum sempat aku bereaksi, kedua tangannya mengambil pahaku dengan gerakan morote-gari. Sekali lagi aku terlentang.

“Wow!!” Aku terkejap-kejap. Nafasku tersengal. “Kalian berdua benar-benar menakutkan “

Yasmin tertawa geli. Dia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Kusambut tangannya.

Kami berdua duduk di matras. Nafasku masih terengah-engah. Sedang Yasmin sendiri tidak tampak kelelahan. Nafasnya teratur.

“Tidak. Hanya mas Totok saja yang memang tidak mengerti Judo. Jadi tampak seakan-akan aku lebih ahli dan lebih pandai. Padahal masih banyak yang lebih baik dari kami berdua” jawab Yasmin.

“Justru itu aku ingin belajar. Biar tidak jadi sansak hidup kakakmu, Sinta” kataku.

“Hihihi…mas Totok kalau mau belajar, pertama-tama harus mengerti dulu apa Judo itu. Sejarah judo itu.”

“Oya? Boleh donk aku tahu gimana sejarahnya”

“Yakin nih? Nanti bosen denger aku cerita” Yasmin tampak sumringah. Bagaimana tega aku menolaknya.

“Yakin!” sahutku mantap. Yasmin tersenyum senang

“Judo adalah seni bela diri, olahraga, dan filosofi yang berakar dari Jepang. Judo dikembangkan dari seni bela diri kuno Jepang yang disebut Jujutsu. Jujutsu yang merupakan seni bertahan dan menyerang menggunakan tangan kosong maupun senjata pendek, dikembangkan menjadi Judo oleh Jigoro Kano pada 1882. “ Yasmin berhenti sebentar untuk melihat mataku. Dia tersenyum, lalu melanjutkan lagi

“ Nah, Olahraga ini menjadi model dari seni bela diri Jepang, gendai budo, dikembangkan dari sekolah (koryu) tua. Pemain judo disebut judoka atau pejudo”

“Sapa dia? Yang menemukan judo? Jigoro?” tanyaku

“Yup. Jigoro Kano. Tapi pada awalnya dari waktu pegulat sumo zaman dahulu kala yang menjatuhkan lawannya tanpa senjata. Hal ini menginspirasikan teknik-teknik bela diri jujutsu. Sumo pada awalnya hanya dinikmati kaum aristokrat sebagai ritual atau upacara keagamaan pada zaman Heian.” Yasmin berhenti sebentar lalu memandangku.

“Jaman Heian itu sekitar abad 8 – 12” sambungnya seakan mengerti wajahku yang bertanya-tanya.

“Nah, lalu pada perkembangannya, Jepang memasuki masa-masa perang di mana kaum aristokrat digeser kedudukannya oleh kaum militer. Demikian pula olahraga yang sebelumnya hanya dijadikan hiburan, oleh kaum militer dijadikan untuk latihan para tentara. “ Yasmin menerawang sebentar.

“Justru pada masa inilah teknik jujutsu dikembangkan di medan pertempuran. Para prajurit bertempur tanpa senjata atau dengan senjata pendek. Teknik menjatuhkan lawan atau melumpuhkan lawan inilah yang dikenal dengan nama jujutsu.” Dia memandangku lagi. “Bosen ga nih dengerinnya?”

“Ga. Justru aku tertarik. Hitung-hitung kan jadi tambah pengetahuan” sahutku antusias.

Yasmin tertawa geli lalu melanjutkan lagi

“Pada zaman Edo yaitu abad ke-17 hingga abad ke-19 di mana keadaan Jepang relatif aman, jujutsu dikembangkan menjadi seni bela diri untuk melatih tubuh bagi masyarakat kelas ksatria.”

“Gaya-gaya jujutsu yang berbeda-beda mulai muncul, antara lain Takenouchi, Susumihozan, Araki, Sekiguchi, Kito, dan Tenjinshin'yo.”

“Sedangkan Jigoro Kano menambahkan gayanya sendiri pada banyak cabang jujutsu yang ia pelajari pada masa itu, termasuk Tenjinshiyo dan Kito. Kalo ga salah pada tahun 1882 ia mendirikan sebuah dojo di Tokyo yang ia sebut Kodokan Judo. Dojo pertama ini didirikan di kuil Eisho ji, dengan jumlah murid sembilan orang.” Yasmin berhenti sebentar untuk menarik nafas dan mengingat-ingat lagi.

“Lalu tujuan utama jujutsu adalah penguasaan teknik menyerang dan bertahan. Kano mengadaptasi tujuan ini, tapi lebih mengutamakan sistem pengajaran dan pembelajaran. Ia mengembangkan tiga target spesifik untuk judo: latihan fisik, pengembangan mental / roh, dan kompetisi di pertandingan-pertandingan. Makanya sekarang Judo juga ada kan dalam olimpiade” Yasmin tersenyum menyelesaikan ceritanya.

Aku benar-benar terpukau oleh pengetahuannya. Dia benar-benar mendalami Judo bukan kulitnya saja, tetapi benar-benar memahami sampai intinya.

“Bagaimana kamu bisa sampai tahu begitu detilnya?” tanyaku

“Hahaha…yah, gini. Gimana kita bisa mengerti suatu hal atau suatu masalah jika kita tidak mencari tahu sendiri inti dari hal tersebut. Dalam hal ini bela diri yang dinamakan Judo. Otomatis aku juga ingin tahu gimana sih awal mulanya, lalu siapa sih penemunya, gimana sih tehniknya? Gitu, mas.”

“Nah, berawal dari keingintahuanku itu, aku jadi bisa belajar hingga memahami tehnik-tehniknya.” Jawabnya.

Sekali lagi aku terpukau. Bukan saja oleh pengetahuannya, bahkan terlihat dari niat dan hatinya. Begitu dia mencintai Judo.

“Pengen tau lebih lanjut ga nih? Atau sudah bosen?” Tanya Yasmin antusias. Aku mengangguk cepat

“Tentu saja, kenapa tidak?” jawabku.

Yasmin memandangku sebentar lalu meneruskan ceritanya.

“Sebenernya tingkatan Judo itu bermacam-macam. Dimulai dari kelas pemula disebut shoshinsha, seorang judoka mulai menggunakan ikat pinggang dan disebut berada di tingkatan kyu kelima. Dari sana, seorang judoka naik tingkat menjadi kyu keempat, ketiga, kedua, dan akhirnya kyu pertama.”

Yasmin menarik nafas sebentar lalu melanjutkan

“Nah, setelah itu sistem penomoran dibalik menjadi dan pertama (shodan), kedua, dan seterusnya hingga dan kesepuluh, yang merupakan tingkatan tertinggi di judo. Meskipun demikian, sang pendiri, Jigoro Kano, mengatakan bahwa tingkatan judo tidak dibatasi hingga dan kesepuluh.”

“Dan tau ga mas, hingga saat ini hanya ada 15 orang yang pernah sampai ke tingkat dan kesepuluh, maka tidak ada yang pernah melampaui tingkat tersebut. Gila ya” Yasmin tampak sumringah.

“Mungkin kamu nanti yang bakal melampaui tingkatan itu” godaku

Yasmin tertawa geli sambil memukul lenganku pelan.

“Mana bisaaaaaa....??”

“Loh siapa tau kan? Yasmin bisa bikin sejarah baru “ Sambungku lagi.

“Hihihihi...udah ah..jangan godain Yasmin gitu.” Dia tertawa geli. Lalu wajahnya kembali serius.

“Salah satu yang masih kuingat adalah pesan dari sensei. Dia berkata : Judo wa kakutougi dawa nai. Sikasi kokoro to karada to tamasii ga hitotu desu. Mosi kimi ga dekirunonara kimi wa motto tuyokunaru.” Yasmin mengucapkannya dengan sempurna.

Aku terbengong.

“Artinya, Judo tidak hanya sekedar bela diri, tetapi adalah kesatuan dari hati, tubuh dan jiwa. Jika kita bisa melakukannya, maka kita akan semakin menjadi lebih kuat.” Jelasnya. Dia tersenyum.

Aku makin kagum kepadanya.

Dia bangkit berdiri “Aku mau mandi dulu ya. Makasih ya mas Totok mau menemani Yasmin latihan.” katanya, lalu berjalan masuk menuju rumah.

“Apapun demi kamu, Yas...” gumamku setelah Yasmin masuk ke rumah. Entah apa yang kurasakan ini. Berdekatan dengan Yasmin membuatku nyaman dan merasa bahagia. Bahkan rasanya aku ingin setiap saat bersamanya salalu. Jatuh cintakah aku? Tapi dia adalah sepupuku. ‘Apa bedanya? Semalam kamupun bersetubuh dengan Sinta, sepupumu’ ada suatu suara di dalam hatiku berkata.
Akupun merasa bersalah terhadap Yasmin, seakan aku berkhianat darinya.

Aku mendesah panjang lalu bangkit berdiri mulai membenahi matras-matras yg barusan kita pakai berlatih tadi. Setelah itu barulah aku membersihkan kandang si Jalu.


**


Demikian pula keesokan paginya, seperti jadi kegiatan rutin saja. Aku dengan suka rela menjadi patner berlatihnya. Sedikit-sedikit aku mulai memperlajari teknik-teknik dasar. Mulai dari Te-Waza (bantingan dengan tangan), lalu Koshi-waza (bantingan pinggang), dan Ashi-waza (bantingan dengan jegalan).

Yasmin dengan senang hati menunjukkan beberapa teknik counter dan pitingan di tanah. Counter mulai dari Nidan-Ko Soto Gari, lalu Ushiro –Goshi dsb. Kemudian dia juga mengajarkan beberapa teknik Osae-waza atau pitingan dibawah, mulai dengan Yoko-shiho-gatame (kuncian dari samping)lalu dilanjutkan dengan Tate-shiho-gatame (kuncian dari atas) dan lain-lain.
Sama sekali aku tidak berpikir yang tidak-tidak ketika dia beberapa kali menunjukkan jurus kuncian dan pitingan. Walaupun beberapa kali jelas-jelas payudara dan seluruh tubuhnya menempel erat padaku. Sungguh mengherankan. Sungguh aku tidak mau berpikiran kotor tentang Yasmin. Membayangkan wajahnya yang menatapku saja aku sudah berdebar. Matanya yang biru terasa hangat ketika menatapku langsung tanpa keraguan.

Plok...plok...plok

Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan. Berdua kami menoleh keaarah suara tadi. Setan itu!

“Bagus...bagus. Sebentar lagi gue bakal ada lawan nih” Sinta tertawa.

“Sin, kenapa sih kalau kamu ga menggodanya barang sebentar?” seru Yasmin ditengah nafasnya yang memburu. Saat ini dia berada diatas tubuhku melakukan gerakan Tate-Shiho-Gatame. Susunya menempel erat pada mukaku. Sesaat dia tersadar lalu melepaskan pitingannya.

“Kenapa kok elo yang jadi marah?” sahut Sinta gusar. “Lagian ngapain lo ngajarin teknik-teknik judo ama monyet kaya dia?” lanjutnya lagi.

“Sin, kenapa sih kamu ga isa diam sebentar. Kenapa selalu cari gara-gara denganku?” Akhirnya aku angkat suara.

“Haha...gue kaga cari gara-gara. Gue cari kesenangan saja” Dia bersiul. “Lagipula, masih perlu seratus tahun lagi lo bisa belajar judo, ...you know....” sambungnya sambil memberikan isyarat menunjukkan jari telunjuk pada kepalanya.

“Sialan. Emang Cuma kamu aja yang pinter? Ingat diatas langit masih ada langit!” Aku berdiri dengan gusar. Menghampirinya.

“Apa? Mau praktek latihan lo? Sini, dengan senang hati gue ladenin” Sinta menantang sambil memasang kuda-kuda.

“Sudah...sudah...kalian berdua berhenti bertengkar kenapa?” Yasmin menghampiri kami sebelum terjadi ‘pertumpahan darah’

“Dia kan yang mulai duluan” kataku membela diri

“Sebodo amat” desis Sinta.

“Sudah mas, tolong beresin aja matrasnya. Aku juga sudah ga ada niat lagi ngelanjutin latihan.” Yasmin memandangku. Lalu menarik tangan Sinta masuk ke dalam rumah.

“Ga usah Yas. Aku mau disini aja. Kaga gue apa-apain kok monyet lo itu”

Aku membuka mulut hendak menanggapinya.

“Mas?” Yasmin memandangku memohonku untuk mengalah. Aku terdiam. Sinta tersenyum senang.

Yasmin masuk ke dalam rumah. Sedangkan aku berbalik untuk memberesi matras-matras buat latihan tadi. Tak kuhiraukan Sinta yang menatap punggungku.

Baru saja aku memasukkan matras terakhir kedalam gudang, Sinta menghampiriku di dalam gudang.

“Kemana lo semalam? Gue cari ga ada?” tanyanya

“Emang apa urusanmu goleki(cari) aku?” aku menyeka keringat di dahiku. Memandangnya. Heran, kemana wajah sinis tadi?

“Goblok! Kemaren kan ada kesempatan. Bulik Tin ma mama lagi pergi, Yasmin lagi tidur. Lah malah elo ngilang” desisnya gusar.

“Ya ampun Sin, yang kita lakuin kemarin lusa tu udah salah. Aku ga mau mengulanginya lagi!”

“Oya? Bagaimana dengan ini?” jawabnya. Secepat kilat tangannya masuk kedalam celana kolorku tanpa sempat kucegah. Mengocok lembut manukku. Aku terkesiap kaget.

“Sin! Yasmin ada di dalam!” seruku gusar sambil memegang tangannya untuk keluar dari celana kolorku.

“Emang kenapa kalo dia tau? “ sahutnya dengan penuh arti. Tangannya makin kencang memegang manukku.

“Edan kowe(Gila kamu!). Yasmin adikmu! Aku iso dipateni(bisa dibunuh) mamamu kalo dia juga tau!” Desisku.

Sinta tidak menjawab. Senyumnya penuh arti. “Mama tau pun ga masalah” tantangnya. Tangannya bergerak melolosi celanaku. Asal gue bisa bersama pelermu, matipun aku rela” bisiknya. Bibirnya mulai menyentuh bibirku. Aku mengelak.

“Jangan sekarang.” Tolakku. Goblok. Pilihan kata yang salah. Dia pasti berharap ada lain kali.

“Oya? Lalu kenapa peler lo minta sekarang?” godanya sambil terus mengocok manukku yang sudah tegang.

Kuakui tangannya memang benar-benar terampil. Aku melenguh.

Hampir saja aku kalah dengan nafsu. Kukuatkan diriku lalu menarik tangan Sinta

“Sudah Sin. Mikir kenapa? Sek enek wektu ngko wae(masih ada waktu, nanti saja). Jangan mainan bahaya gini.” Bisikku di telinganya.

Heran. Sinta terdiam sejenak lalu menarik tangannya keluar dari celanaku. Dia menurut.

“OK. We’ll see later” jawabnya, mengecup bibirku lalu beranjak keluar dari gudang.

Aku menarik nafas lega. Hampir saja. Fiuuuhhh...

**

Malam itu untuk menghindari Sinta, aku mengajak Yasmin berjalan-jalan keluar, menikmati indahnya bulan purnama. Kami berjalan melewati persawahan yang ramai dengan suara binatang malam.

“Wonderful!” bisiknya pelan sambil berjalan disampingku.

“Apa?” tanyaku tak mengerti.

“Ga. Ini sangat indah. Berjalan di bawah bulan purnama, mendengarkan alunan musik dari binatang-binatang malam di tengah sawah. Sangat indah bukan?” katanya sambil tersenyum memandangku.

“Yup. Memang. Aku kadang kala juga senang berjalan sendiri untuk menikmati keindahan malam seperti ini.” Aku menerawang ke atas. Bintang-bintang bertaburan.

“Aku senang karena aku pindah kesini mas. Di Jakarta mana bisa kita menikmati malam seperti ini. Yang ada malah stress dan pusing di jalanan. Stress pekerjaan. Bahkan seandainya papa.....” Yasmin tertunduk diam.

Aku memandangnya. Pasti dia ingat mengenai papanya.

“Sudahlah Yas. Itu sudah berlalu. Sekarang kehidupan harus terus berjalan. Semakin lama kamu mengingatnya, semakin sakit kamu rasakan” Kataku.

Yasmin mengangkat kepalanya. Dia memaksakan diri tersenyum. Kami kembali berjalan

“Yah, tidak seharusnya aku begini. Mas Totok bahkan lebih tegar dariku. Padahal mas Cuma hidup berdua dengan bulik Tin.” Dia mendesah panjang, meraih tanganku, digandeng dan dipeluk di dadanya.

Darahku berdesir kencang. Jantungku berdebar makin cepat.

Sesaat kami berjalan bergandengan dengan diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Mas...eh...maaf. Selama ini Yasmin lihat mas Totok kok belum punya pacar? Kenapa?” Tanya Yasmin tiba-tiba.

Sesaat aku gelagapan. Pacaran? Aku belum pernah berpikir sejauh itu. Lagi pula belum pernah ada gadis yang singgah dihatiku, kecuali...sekarang.

“Belum. Ya mana ada yang mau sama laki-laki jelek kaya aku gini yas.” Jawabku kecut.

Yasmin tertawa geli.

“Kok ketawa?”

“Abis lucu sih mas. Cewek bodoh kalo ga mau sama mas Totok. Mas tuh baek, gagah, ganteng, juga..”

“Sudah..sudah...jangan bikin aku besar kepala” potongku. Wajahku memerah malu.

Yasmin tersenyum, tangannya makin erat memeluk lenganku

“Bahkan walaupun Sinta sering kali memaki dan menggoda, dia pun sebenarnya suka sama mas” bisiknya tepat ditelingaku.

“Hah? Hahahaha..Ga mungkin! Sinta tu jelas benci banget sama aku” jawabku gugup.

“Yasmin tau kok.” Matanya mengerling penuh arti.

Jantungku seakan berhenti berdetak. Apa yang dia tau?

“Never mine, don’t think about that” Yasmin tertawa geli melihat mukaku yang makin gugup. Kami berjalan lagi. Hatiku dipenuhi tanda tanya.

Yasmin merapatkan tubuhnya kepadaku. Aku terdiam, kuberanikan diri merangkul bahunya. Tidak ada penolakan.

Kami berjalan berangkulan.

“Mas?” Yasmin membuka suaranya di tengah keheningan suara kami.

“Ya?” kupandang wajahnya.

Sesaat dia ragu-ragu untuk melanjutkan.

“Apa mas pernah menyukai seseorang?” bisiknya ragu.

‘Iya, aku suka kamu’ Tapi suaraku tidak keluar

“Ga tau Yas. Aku juga belum pernah berpacaran” jawabku tercekat.

Yasmin terdiam sejenak lalu melanjutkan

“Mas suka sama Yasmin ga?” bisiknya lagi

Pertanyaannya bagaikan geledek di kupingku. Sejenak aku terdiam membisu.

“Ya. Aku suka sama kamu. Kamu selalu baik sama aku, kamu..”

“Hanya suka?” potongnya.

Mati aku! Skak Mat! Bibirku bergetar, tidak tau apa yang harus kukatakan. Opo iki jenenge tresno jalaran soko kulino?(Apa ini yang dinamakan cinta karena terbiasa bersama?)

Yasmin menghembuskan nafas panjang. “Nanti mas kecewa kalau mas cinta sama Yasmin” lanjutnya.

“Tidak!” sahutku cepat. Sesaat aku tersadar apa yang kukatakan itu sama saja mengakui kalau aku cinta dia. O Tuhan!

Yasmin memandangku lurus tepat ke mataku. Bagiku seakan-akan ada ribuan jarum menusuk jantungku. Dia tersenyum.

“Terima kasih mas. Mas sudah jujur sama Yasmin.” Dia memajukan kepalanya lalu mengecup pipiku lembut. Bibirnya basah. Aku merasa terbang di langit.

“Kenapa aku mesti kecewa? Yas, kamu tu berbeda dari semua gadis yang pernah aku kenal. Kamu itu anugerah!” Bodohnya! Gombal banget yang aku ucapin.

Yasmin menaruh jari telunjuknya di bibirku

“Shhh...sudah mas. Yasmin sudah mengerti kok. Hanya Yasmin takut saja kalo mas kecewa dengan Yasmin” jawabnya.

Aku terdiam. Kecewa kenapa? Ada apa? Selama ini gadis inilah yang menurutku terbaik diantara semuanya!

Aku menghentikan langkahku. Yasmin terdiam memandangku. Kuberanikan diri mengecup dahinya. Bibirku gemetar. Dia tersenyum, tersipu.

“Aku sayang ama kamu Yas, apapun yang terjadi!” kataku dengan suara serak. Kupandangi wajahnya lalu kutaruh kedua tanganku di pipinya. Bibirnya setengah terbuka. Kucium lembut sekali. Tubuhnya menegang sesaat. Dia menyambutku.

Malam semakin larut, hanya cahaya rembulan dan musik dari binatang malam di sekitar kami. Tubuh kami saling merapat.


Umi no mottomo-hukaitokoro made sora kara watasi wa mae ni okasii towa kanjimasendesita.
Anata ga watasi-no jinsei ni haitta node, anata wa kurayami-no-yoru-no-nakade watasi-wa
Hosi-no-youni kagayakuyouni-simasu.
Douka-watsi-no-ai wo uketekudasai.
Watasi-no kokoro-no nakade- tiisana-tenside arimasuyouni***


**


Aku bersiul-siul menuju halaman belakang. Pagi ini sungguh indah. Aku tersenyum mengingat kejadian semalam. Yasmin...oh Yasmin....aku bersenandung dalam hati.

Brak!

Tubuhku tergencet di dinding gudang. Sinta! Tubuhnya menggencetku, sekejap tangannya sudah memiting tanganku kebelakang.

“Kali ini lo ga isa menghindar dari gue.” Bisiknya ditelingaku. “Kemana aja lo semalam? Dengan Yasmin ya?” semburnya.

“Bukan urusanmu” Jawabku singkat. Aku meringis ketika Sinta mengencangkan pitingannya.

Anehnya dia tak menjawab apa-apa. Sinta malah melepasku. Dia membalikkan tubuhku berhadapan dengannya.

“Ok lets finish this! Gue dah capek kaya gini.” Nafasnya memburu. Tangannya menarikku masuk ke dalam rumah.

“Mau apaan sih kamu?” kataku gusar. Mau tak mau aku mengikutinya.

Dia berjalan menuju ke kamarnya. Menarikku masuk.

“Sin, sudah kubilang. Kita ga bakal ngelakuin itu lagi. Cukup kesalahan yang aku buat, jadi...” aku tidak sempat meneruskan kata-kataku bibirnya menyumpal mulutku. Aku hendak menghindar, ketika kurasakan ada rasa asin diujung bibirku. Air mata!

Sinta menangis!

Bibirnya erat menempel di bibirku, lidahnya menari mencari jalan masuk ke mulutku. Aku terdiam kaku.

“Apa elo segitu bencinya sama gue sih?” Suaranya serak di telingaku. Tangannya memeluk erat leherku. Aku terdiam.

“Gue tu cuman ingin elo care dikit ama gue. Segitu sulitkah?” bisiknya. Matanya yang basah manatapku. Sungguh aku terpana. Inikah Sinta? Gadis tomboy yang kukenal liar dan kasar?

“Dan elo tau ga? Cuman elo yang pertama kali menyentuh gue! Laki-laki pertama yang pernah gue ijinkan menyentuh gue!” lanjutnya serak. Aku makin terpaku.

“Sin..” Aku bingung mau berkata apa. Tanganku membelai pipinya yang basah, menghapus air mata disana. Aku tidak mempersiapkan kejadian kaya gini.


Dari langit diatas, sampai dalamnya lautan, Aku tidak pernah merasakan segila ini.
Sejak engkau datang di hidupku, kamu membuatku bersinar seperti bintang-bintang menerangi kegelapan malam.
Please jadilah cintaku....jadilah malaikat kecil di hatiku.

Posted at 07:37 am by pohonmangga
Make a comment  

supriyanto 4 cinta ilusi

Namaku Supriyanto 4 : Cinta Itu Hanya Ilusi?
“Gue tau elo benci ama gue, elo tu cuman care ama Yasmin kan? Bulik Tin? Mama? Apa gue ga pantas untuk lo cintai?” bisiknya serak.

“Bukan begitu...” aku terdiam, tidak sanggup meneruskan kata-kataku. Segala bentuk kebencianku terhadapnya tiba-tiba lenyap tak berbekas.

“Gue tu cinta elo. Gue sayang elo!” Sinta berbisik .

“Tapi Sin, aku...”

“Mas, cintailah mbak Sinta seperti mas Totok mencintaiku” Tiba-tiba suatu suara memotong perkataanku. Yasmin! ‘Waduh, iso perang ki’

Kami berdua menengok kearah suara, tampak Yasmin berjalan kearah kami dengan berurai air mata.

“Yas...” suaraku tercekat. Sinta melepas pelukanku, memandang adiknya dengan pandangan tidak percaya.

“Ssshh....sudah...ga usah bicara lagi. Yasmin ga marah” Yasmin memeluk kami berdua, wajahnya tersenyum dibalik air matanya yang mengalir. “Justru Yasmin bahagia....”

“Yas, bukan maksud gue untuk...” Sinta tidak meneruskan kata-katanya, Yasmin mencium lembut bibirnya. Aku bengong melihat melihat bibir si kembar bertaut.

“Sudahlah kak, Yasmin ikhlas, Yasmin cinta kalian berdua, sayang dengan kalian berdua”

Aku tak tahu harus berbicara apa, tenggorokanku terasa kering, mukaku terasa panas. Perasaan apakah ini? Dia memandangku dan Sinta bergantian. Matanya yang sebening telaga tampak basah oleh air mata. Tetapi wajahnya tak menampakkan sedikitpun kekecewaan atau kemarahan. Sungguh aku tak mengerti.

“Mas, Yasmin mohon, biarkan mbak Sinta bisa mencintai mas seperti Yasmin mencintai mas. Dan sebaliknya, cintailah mbak Sinta seperti mas mencintai Yasmin....” bisiknya lirih.

“Tapi Yas...aku tidak bisa pindah dari hatimu” kata-kataku terdengar serak

“Hei...siapa bilang begitu? Mas memiliki kami berdua!” katanya sambil tersenyum

Aku hampir tidak percaya apa yang barusan kudengar.

“Apa yas?”

“Iya, mas Totok boleh memiliki kami berdua, mencintai kami berdua. Artinya Yasmin dan mbak Sinta mau berbagi kasih dengan mas. Bukan begitu mbak?”

Sinta mencium Yasmin, lalu berpaling kepadaku. “Denger ga lo say? Kita sekarang menjadi sepasang...eh..rrr..bingung gimana nyebutnya. Intinya gue dan Yasmin jadi pacar elo!”

Sehabis berkata begitu Sinta mencium bibirku. Aku mengelak, bagaimanapun juga aku masih bingung dengan kejadian yang tiba-tiba ini.

“Mas?” bisik Yasmin “Please”

Sinta kembali mencari bibirku. Kali ini aku menyambutnya. Lidah kami saling membelit. Ujung mataku melirik Yasmin, dia memandangku dengan penuh cinta.

Kulepas ciumanku dengan Sinta, aku berpaling kepada Yasmin. Dia menyambutku, hangat dan basah. Rasa asin bekas air mata diujung bibirnya membuatku sempat ragu-ragu, tetapi, sekali lagi aku terkejut, lidah Yasmin menari di dalam rongga mulutku. Tangannya merangkul erat leherku.

Kurasakan tangan Sinta mulai menarik celana kolorku turun. Sesaat aku meronta, tetapi Yasmin kembali menahanku. Kini Sinta dengan leluasa menarik kolorku hingga sampai mata kaki. Manukku terpampang bebas. Tanpa membuang waktu, seperti biasa, Sinta kembali mengurut-urut dan mengocok lembut batang manukku. Aku mengeluh pelan ditengah-tengah ciumanku dengan Yasmin.
Sungguh tak pernah kubayangkan kejadian seperti ini! Dimana aku kini berada-ditengah-tengah saudara kembar yang rela berbagi kasih denganku. Laki-laki mana yang lebih beruntung dari aku?

Sesaat aku dan Yasmin melepaskan ciuman kami, aku mengambil nafas, terengah-engah aku memandang mata Yasmin yang kini sudah setengah terpejam. Aku menciumi lehernya yang jenjang, kukeluarkan lidahku, menari di permukaan kulit putihnya. Yasmin mengerang. Kepalanya terdongak sesaat seakan memberiku akses lebih leluasa.

Kuturunkan kepalaku, melewati lehernya yang jenjang. Lidahku tetap menari.

Seakan paham, tangan Yasmin mulai melepas kancing kemejanya satu persatu. Aku terdiam, kini tubuh Yasmin terpampang jelas dihadapanku. Susunya masih dibungkus dengan branya yang berenda. Dia tersenyum, sambil membuka kancing branya. Aku terpukau ketika melihat kedua susunya yang benar-benar sempurna. Tidak terlalu besar, tapi kencang dan membulat sempurna, puting-putingnya berdiri menantang.

Sesaat aku mengejang. Sinta mengoralku! Mulutnya bekerja dengan konstan maju mundur di seluruh batang manukku. Aku melenguh pendek...mulutku sudah tersumpal kembali oleh ciuman Yasmin

Perlahan, tubuhku dibaringkan ke ranjang oleh Yasmin, seakan tidak mau ingin lepas dari ‘buruan’nya, Sinta tetap memainkan lidah dan mulutnya di manukku. Dengan tergesa dia juga melolosi seluruh pakaian yang dikenakannya hingga telanjang bulat.
Tanpa dikomando lagi Sinta menaiki tubuhku, lalu menurunkan pinggulnya perlahan-lahan. Yasmin menggengam manukku untuk membantunya masuk ke dalam liang vagina kakaknya. Perlahan manukku mulai membelah liang vagina Sinta hingga masuk seluruhnya. Ugh! Benar-benar membuatku terbang ke surga!

Sinta mulai menggoyangkan pinggulnya naik, sesekali dia memutar-mutarkan pinggulnya. Kembali mulutku mencari payudara Yasmin. Menjilati puting-puting susunya. Yasmin merintih pelan.

“Auh....hmm...”

Seperti biasa, Sinta bergerak liar, mulutnya tak henti-hentinya mengerang hebat.

“Yesssss.....f*ck me!!...f*ck me!....Oh...god..soo......good.....”

Aku melayang! Bagaimana tidak? Aku bercinta dengan kedua gadis kembar yang mirip bidadari turun dari langit ke tujuh.
Sesaat aku menghentikan ciuman dan jilatanku pada puting susu Yasmin. Aku mendongakkan kepala mencari bibirnya. Dia tersenyum, matanya penuh cinta menatapku. Disambutnya bibirku dengan perlahan.

Sinta menggabungkan diri ditengah ciuman kami, aku sempat kelabakan meladeni ciuman ganasnya. Lidah kami saling membelit. Sementara itu Yasmin menjilati daun telingaku dan leherku.

Aku terengah-engah menghirup udara ketika Sinta melepaskan ciumannya. Dia terkikik geli melihatku hampir mati kehabisan nafas. Aku membalasnya dengan meremas-remas lembut kedua susunya, sambil kunaik turunkan pinggulku dengan tempo cepat.

“Aaaaa.......yesss!!! Terus!!!....oooohhh....Yeaaaaaaaaahhhh...i’m cumiiiinggg!” Sinta berteriak kesetanan ketika dia mendapatkan orgasme pertamanya. Tanpa mengurangi tempo kugenjot tubuhnya dari bawah. Membuat dia terlonjak-lonjak ditengah gelombang orgasmenya.

Yasmin mengedipkan mata kepadaku lalu bangkit lalu dia ‘menyerang’ kedua susu kakaknya.

“O my god...o my....Oh Sh*t...!!! Aw....i’m cuuuming again!” Sekali lagi Sinta menggelinjang. Dia meraih kepala Yasmin lalu menariknya. Mereka berciuman. Wow!

Sesaat kemudian Sinta bangkit dari tubuhku, lalu terkapar disebelahku.

“Awesome...!! O...my god...” Dia tertawa ditengah nafasnya yang memburu. Mencium pipiku dengan sayang “ Thanks bro!”

Aku beralih kepada Yasmin. Seakan mengerti, dia membaringkan tubuhnya disebelah kakanya menggantikan tempatku. Aku memandangnya dengan penuh cinta sambil menurunkan pinggulku perlahan-lahan.

Pelan tapi pasti manukku mulai memasuki liang vaginanya. Yasmin terpejam, dia menggigit bibir bawahnya.

Ya Tuhan! Aku sudah bersatu raga dengan Yasmin! Gadisku yang kucinta! Sungguh menakjubkan!

“Mas...” suaranya terdengar serak, bibirnya terbuka tanpa ada kata-kata. Matanya meredup. Tangannya merangkul erat leherku.
Perlahan kugerakkan pinggulku. Yasmin mengejang, dia terengah.

Sungguh, dengan memandang wajahnya saja, bagaikan berada di surga! Pipinya kemerahan, bibirnya yang sensual setengah terbuka mengeluarkan rintihan-rintihan halus, matanya setengah terpejam meresapi kenikmatan persetubuhan kami.

Kugerakkan pinggulku dengan perlahan-lahan, dinding-dinding vaginanya mencengkeram erat manukku, mengurut seluruh batang manukku. Hangat dan nikmat luar biasa. Aku mengerang.

Tanpa kusadari Sinta bangkit, lalu menuju kebawah. Sesaat aku terkesiap, ketika kurasakan lidahnya menyapu kantong telurku, menjilati dan menghisap-hisap lembut kedua telurku.

Oh Tuhan! Betapa nikmatnya! Betapa menakjubkannya!

Sambil menghisap dan menjilatinya, Sinta memasukkan jarinya ke dalam lubang anusku perlahan-lahan. Lalu memainkannya, memaju mundurkan dan memutar-mutarkannya di lubang anusku. Aku semakin meradang! Menggigil oleh nikmat yang mengalir di seluruh pembuluh darahku!

Dengan berirama aku menggoyangkan pinggulku. Bibir kami bertaut. Saling membelit. Suasana jadi hening, hanya suara kecipak alat kelamin kami dan nafas-nafas kami bertiga yang memburu.

Sinta meraih manukku dan melepaskan sesaat dari vagina Yasmin. Aku hendak protes ketika mulutnya membungkus kembali manukku. Dikocok-kocoknya perlahan sambil disedotinya seluruh batang manukku. Lalu dengan tangkas dia mengembalikan kembali ke liang vagina adiknya. Beberapa kali dia melakukan hal tersebut.

“Oh...mas....oooooohh....” Yasmin meraih orgasme pertamanya. Tubuhnya sesaat menggelinjang, dinding-dinding vaginanya mencengkeram erat!

Aku tak dapat menhannya lebih lama!

Seluruh syaraf kenikmatanku beralih, berpusat pada daerah selakanganku! Aku mengejang!

“Jangan dikeluarin di dalem!” Sinta berkata melihat gelagatku yang hendak berejakulasi.

Aku tersadar, kucabut penisku, belum sempat aku bangkit, Sinta menyambut penisku di mulutnya. Tanpa dapat kutahan lagi, muncratlah spermaku kedalam mulutnya. Aku serasa terbang ke angkasa! Yasmin mengulum bibirku, membuat gelombang orgasmeku semakin menghebat!

Aku rebah terlentang bersebelahan dengan Yasmin, nafas kami masih memburu, mataku terpejam meresapi sisa-sisa kenimatan yang baru saja kami dapat. Sementara Sinta masih sibuk menjilati seluruh batang manukku, membersihkannya.

“Thx ya mas...” bisik Yasmin lirih, perlahan dia mengecup pipiku. Aku masih belum bisa berkata apa-apa. Ini terlalu menakjubkan!
Kemudian Sinta mengangkat tubuhnya, dengan manja dia mengecupku.

“Wow...that f*cking awesome! O my god! We did it!”

Yasmin tertawa geli melihat Sinta yang begitu bersemangat.

Aku menarik tangan Sinta, kupeluk tubuhnya dan kucium lembut bibirnya.

“Kamu benar-benar menakutkan Sin!” kataku tertawa geli. Dia menanggapinya dengan mencibirkan bibirnya. Yasmin mengangkat tubuhnya lalu memeluk kami berdua.

“Aku sayang ma kalian berdua” Bisiknya lirih. Pertama dia mengecup bibirku lalu beralih ke bibir Sinta.

Kami bertiga tergeletak kelelahan


**

Aku terbangun oleh nada dering handphone. Kurasakan gerakan di sebelahku. Dengan malas-malasan Sinta meraih HP nya di sebelah bantal. Melihat sekilas di layarnya kemudian menerimanya. Yasmin merapatkan tubuhnya yang telanjang ke tubuhku. Tangannya memelukku. Mengecupku sekilas.

“Hallo! Wie geht es dir?” (Hi, gimana kabarmu?) Sinta berkata riang

“Nein, ich lebe jetzt mit meinem Cousin. Mit meiner Schwester und meiner Mutter.”(Ga. Sekarang saya tinggal dengan sepupuku. Dengan adik dan mamaku juga)

“Yeah..”

Aku bengong. Ngomong bahasa apa neh? Mataku betanya-tanya pada Yasmin.

“Temen Sinta dari Jakarta tu, ngomong pake bahasa jerman” bisik Yasmin

“Lah? Apa temennya dari jerman?” tanyaku. Yasmin mengangguk. Set dah, aku lupa kalo mereka berdua bersekolah di sekolah internasional Jakarta.

“Toll!” (bagus!) tedengar sinta melanjutkan percakapannya lewat telp. Dia mengerling padaku, tangannya berulah, mengelus-elus manukku.

“C’mon du kannst mich immer besuchen kommen”(Ayolah, kamu bisa berkunjung kapan saja kok)

“Ich denke es ist ok.” (Saya pikir juga ga papa)

“Ok Ich warte...”(Ok, tak tunggu ya)

“Man sieht sich. Schoenen Gruss an deine Familie. Tschuess!” (Sampai jumpa. Sampaikan salamku ke keluargamu ya. Bye) Sinta menyelesaikan percakapannya, lalu menutup HP nya

Dia berpaling ke Yasmin. “Itu Julia. Kangen ma kita” memberitahu Yasmin siapa yang barusan meneleponnya. “Ya gue suruh dia mampir kesini kapan-kapan”

“Ga papa kan?” Sinta memandangku minta persetujuan.

Aku mengangguk. “Kenapa gak? Ga papa lah” Aku menjawab.

Yasmin melirik ke jam dinding.

“Mas, sebentar lagi bulik Tin datang, beresin yuk kamarnya.”

Kami bertiga sesaat tersadar. Lalu bangkit berdiri sambil mengenakan pakaian kami masing-masing dan membereskan sprei serta kamar yang berantakan sehabis pertempuran tadi.

**

Pertama kali aku masih bingung dengan situasi ini. Yah, bagaimana tidak aku berbagi cinta dengan kedua sepupu kembarku ini, yang anehnya mereka jelas-jelas ikhlas dan rela aku membagi cinta dengan mereka.

Aku belajar mencintai Sinta seperti dia dan Yasmin mencintaiku dengan tulus, walaupun kadang kala kami masih sering adu argument dan bertengkar, tetapi selalu berakhir dengan peluk dan cium maaf.

Bulik Lasmi dan bulik Tin juga menyadari perubahan ini. Mereka juga heran dengan perubahan sikap dan sifat Sinta yang mendadak.
Kadang kala aku merasa berdosa kepada kedua bulikku ini. Aku sayang kepada mereka berdua, bulik Tin, yang telah membuatku menjadi dewasa untuk pertama kalinya, dan bulik Lasmi, yang jelas-jelas dia menunjukkan rasa cinta dan sayangnya kepadaku, seakan aku anaknya sendiri.

Apakah bulik Lasmi tau jika kedua gadis kembarnya dan aku sudah saling jatuh cinta? Bagaimana nantinya jika bulik Lasmi marah atau tidak setuju dengan hubungan kami bertiga?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar terus di dalam otakku.

Dan satu hal lagi, ada 1 pertanyaan yang sangat mengganjal pikiranku. Dan aku berusaha mencari cara yang tepat untuk menyampaikannya.

Pada suatu siang ditengah hujan gerimis, kesempatan itu datang juga. Bulik Tin sepulang dari kerja dia pergi lagi karena ada rapat dan acara hingga malam nanti, sedangkan Bulik Lasmi jelas tidak akan pulang sebelum nanti malam.

Kini tinggalah kami bertiga di rumah ini.

Aku duduk di sofa kamar tamu sambil memeluk Yasmin yang sedang asik membaca majalah. Sinta sedang tidur siang di kamarnya. Aku berpikir keras darimana aku harus memulai pertanyaan yang selama ini mengganjal di benakku.

“Yas...” Suaraku terdengar lirih

“Hmm?” Yasmin menjawab tanpa mengalihkan matanya dari majalah yang dia baca.

“Uhm...Aku mau tanya sesuatu...boleh?”

Yasmin mendongakkan kepalanya memandangku, dia tersenyum.

“Ya boleh lah mas, nanya kok ndak boleh”

“Tapi Yasmin jangan marah ya..mungkin ini agak pribadi nih pertanyaannya.” Aku was-was

“Kenapa Yasmin harus marah mas? Yasmin cinta dan sayang ma mas Totok.” Yasmin mengecup bibirku untuk meyakinkanku. Aku menghela nafas panjang.

“Uhm...mas cuman bingung waktu pertama kali kita melakukan itu dengan Sinta...” Aku ragu-ragu meneruskan.

“Bingung kenapa mas?” Yasmin mengangkat alisnya. Dia menutup majalahnya, menatap lurus ke mataku.

“Eh...ga, cuman aku heran saja, Yasmin ma Sinta ...uhm.....berciuman, dan saling...uhmm...kaya itu loh yas...cewe dengan cewe” Aku tercekat ketika mengucapkannya.

Yasmin menatapku lurus.

“Kenapa mas? Mas ga suka?” dia bertanya lirih

“Bukan begitu...Cuma heran saja...dan..”

“itulah mas yang Yasmin sampaikan kemarin. Yasmin takut mas kecewa dengan keadaan Yasmin. Yasmin takut mas tidak cinta lagi dengan Yasmin..” bibirnya gemetar.

“Kita sudah lama ngelakuin itu bro! Bukan gue ma Yasmin saja, Mama pun juga. Kadang kita bertiga melakukan bersamaan.” Sinta tiba-tiba muncul dari belakang lalu menghempaskan tubuhnya di pangkuanku.

“Maksudmu?” Aku masih tak mengerti.

Yasmin hendak angkat bicara, tetapi Sinta memberinya isyarat untuk diam. Yasmin terdiam, tubuhnya makin merapat ke tubuhku.

“Gue, Yasmin, dan mama, sudah sering melakukan hubungan seks, walaupun tanpa laki-laki. Kami menggunakan dildo dan alat-alat bantu seks lainnya. “ Sinta menerangkan dengan lancar.

Aku melongo

“Lo kira sapa yang ambil virgin gue ama Yasmin? Dildo!” Sinta menatapku tajam.

“Kok..?” Aku bingung apa yang harus aku katakan. Shock!

“Sejak papa gue ninggalin mama, lo gue ma Yasmin ga tau bagaimana tersiksanya mama? Apakah hanya materi saja sudah cukup? Mama juga butuh seks! Dan kami berdua sukarela membantu menyalurkan hasratnya. Walaupun untuk itu kami harus kehilangan mahkota kami yang paling berharga. Gue kaga peduli! Gue ma Yasmin cinta ma mama, jelas itu bukan apa-apa dibandingkan dengan penderitaan mama. Lalu, apakah kami Lesbian? Tidak! Gue ama Yasmin jelas cinta banget ma elo.” Sinta mengambil nafas.

“Dan kami bertiga masih tetap melakukannya sampai sekarang” Yasmin menyambung kakaknya.

Aku terdiam. Terlalu banyak kejutan ini!

“Jadi? Bulik Lasmi...?” Aku bingung mau meneruskan pertanyaanku.

“Emang gue tahan pa? Tiap malam dengerin dan liatin mama bermain dengan vibrator dan dildo, lalu sehabisnya dia menangis? Gue ama Yasmin sudah berpikir lama, dan keputusan kami sudah bulat. Kami sayang dengan mama, kenapa kami tidak membantunya? So, kalo lo anggap itu aneh terserah! Gue sudah terus terang ama lo bro. Ini kenyataannya. Makanya ketika gue tau kalo lo berhubungan seks dengan bulik Tin, gue juga tidak heran lagi.” Sinta melanjutkan.

Aku terperangah mendelikkan mataku. Bagaimana jika Yasmin...

“Yasmin sudah tau lama kok mas, its ok mas” Yasmin berkata seakan mengerti jalan pikiranku. Dia mengelus lembut pipiku.

Aku terdiam tidak mampu berkata-kata lagi. Jadi selama ini Sinta dan Yasmin itu bermain seks dengan mamanya sendiri? Aku hampir tidak mempercayainya. Bulik Lasmi yang elegant dan cantik itu sedemikian rapuhnya sehingga dia bercinta dengan kedua gadis kembarnya sendiri? Aku sungguh tak mengerti.

Tunggu! Betapa munafik dan naifnya aku....Apa bedanya? Aku juga bercinta dengan bulik Tin, lalu kemudian dengan kedua sepupu kembarku....ya Tuhan...makin rumit aja kayanya..

“Mas...” Yasmin memanggilku pelan, membuatku kembali dari alam pikiranku.

Aku menoleh ke arah wajahnya. Matanya sembab. Ada air mata disitu.

“Sekarang mas tau kebenarannya. Sekarang mas tau kenapa Yasmin bilang betapa takutnya Yasmin mencintai mas. Betapa Yasmin selalu dihantui ketakutan akan kehilangan mas Totok.” Dia mengejapkan matanya. Sebulir air matanya bergulir menuju ke dagunya.

“Yasmin bukan gadis yang mas sangka, Yasmin sudah ternoda mas....bahkan sebelum mas Totok menyentuh tubuh Yasmin.” Dia kembali terisak.

“Sudahlah Yas, sejak dulu kita sudah tau resikonya akan begini. Kenapa harus menyesal? Mama adalah segalanya bagi kita, gue ikhlas! Dan sekarang mas totok sudah tau kebenerannya, sudah terlanjur basah. Gue ga mau boongin Totok” Sinta berkata lirih
Aku membisu. Aku mempererat pelukanku kepada kedua gadis ini. Apa aku tega? Apa aku bisa? Aku mencintai mereka, sungguh menyayangi mereka, tak peduli apapun keadaannya. Aku sudah siap! Dan aku sungguh tak ingin berpisah dengan mereka.

Kuhapus air mata Yasmin dengan punggung jariku, kuangkat dagunya, lalu kucium lembut bibirnya. Dia bergetar. Kini aku beralih ke Sinta, kucium lembut juga bibirnya. Mataku memandang kedua kekasihku ini seakan berkata, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Pandangan mata kami bertiga sudah cukup untuk mengungkapkan ribuan kata....mengungkapkan seluruh perasaan di dalam hati kami masing-masih. Keheningan ini justru sangat berarti bagi kami bertiga.

Hanya suara gerimis diluar yang terdengar.

Mereka memelukku erat seakan memahami bahwa aku tidak akan meninggalkan mereka, bahwa kita akan selalu bersama....

“No one ever saw me like you do
All the things that I could up to
I never knew just what a smile was worth
But your eyes say everything without a single word
'Cause there's somethin' in the way you look at me
It's as if my heart knows you're the missing piece
You made me believe that there's nothing in this world I can't be
If i could freeze some moment in my mind
Be the second that you touch your lips to mine
I'd like to stop the clock, make time stand still
'Cause baby, this is just the way I always wanna feel”


**

Aku terdiam di keheningan malam. Seluruh rumah sudah tidur. Tinggal aku sendiri yang masih memikirkan dan mencerna semua yang Sinta dan Yasmin katakan tadi siang. Berusaha mencerna dan menerimanya dengan akal sehat.

Yang aku yakin adalah aku tetap mencintai mereka setelah apa yang terjadi pada kedua kekasihku, aku berusaha memahami posisi mereka berdua. Walaupun terkadang kejadian yang mereka alami tidak bisa diterima dengan akal sehat. Tetapi aku sedikit-demi sedikit mulai memahami apa yang mereka pikirkan. Apa yang membuat mereka mengambil keputusan seperti itu, apa yang membuat bulik Lasmi berbuat seperti itu

Mendadak aku menjadi geram dan marah. Ini gara-gara papa mereka! Ini semuanya terjadi karena laki-laki itu! Tidak bertanggung jawab dan meninggalkan mereka semua dalam keadaan frustasi, hancur dan marah.
Bagaimana bisa dia meninggalkan bulik Lasmi yang begitu baik, begitu cantik dan seksi. Bagaimana dia bisa meninggalkan kedua putri kembarnya yang cantik dan berprestasi? Apakah sedemikian berharganya wanita lain itu baginya? Bisakah dibandingkan dengan keluarga yang bahagia?

Tanpa sadar aku mengepalkan tanganku. Marah!

“Totok?”

Suatu suara mengagetkanku. Hampir aku terlonjak dari kursi. Bulik Lasmi!

“Ya bulik? Ada apa?”

Bulik Lasmi menghampiriku lalu duduk di sebelahku dalam keremangan malam.

“Kenapa tok? Ga bisa tidur ya? Atau ada yang dipikirkan nih?”

Aku memandangnya. Bulik Lasmi memakai daster tipis tanpa lengan. Semakin menonjolkan bentuk tubuhnya yang terawat dan masih seksi. Wajahnya sungguh membuatku tergetar. Cantik dan elegant.

“Ya lik, Totok ga isa tidur.” Aku menjawabnya pelan. Masih terpukau dengan bulikku yang satu ini. Betapa gobloknya laki-laki yang meninggalkannya!

“Mau berbagi sama bulik? Mungkin ada masalah?” Bulik Lasmi tersenyum, dia merangkulku.

“Eh...ga kok lik...bener, Totok ga ada masalah apa-apa” Aku tersipu.

Bulik Lasmi mendesah panjang lalu melepaskan rangkulannya. “Ya udah kalo ndak mau ngomong. Bulik ya ndak maksa. Totok sudah besar, jadi bisa tau yang mana yang terbaik bagi Totok kan?” dia tersenyum dalam keremangan.

“Ya lik, suwun lik” Jawabku kaku.

“Ga usah berterima kasih gitu. Kamu tu sudah bulik anggap sebagai anak sendiri.” Bulik mengelus kepalaku. “Dan bulik juga senang Totok sudah bisa rukun dengan kedua anak bulik.”

Aku menelan ludah. Apa kata-katanya merupakan sindiran? Jangan-jangan bulik sudah tau jika kedua anak gadisnya sudah aku tiduri semuanya?

“Ya lik” jawabku tercekat.

Bulik Lasmi mengangkat alisnya.

“Ada apa tok? Kok kayanya ada yang mengganjal?” tanya bulik pelan, tetapi hampir seperti geledek bagiku.

“Eh...ga lik, Totok ga kenapa-kenapa kok” Ingin sebenarnya aku menanyakan kebenaran cerita dari kedua kekasihku. Tetapi apa dayaku. Lidahku terasa kaku. Aku tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkannya.

Bulik Lasmi kembali menghela nafas panjang

“Tau ga tok, sejak pernikahan bulik berantakan, hidup bulik juga menjadi seperti tidak berarti lagi. Rasanya semua sudah hilang tak bersisa. Hanya Sinta dan Yasmin saja yang merupakan harta paling berharga buat bulik. Kasihan mereka....” bulik Lasmi terdiam, pandangannya menerawang jauh.

“Jalan mereka masih panjang...tanpa sengaja, bulik juga menghancurkan harapan-harapan mereka...bulik merasa bersalah sekali tok. Tetapi bulik bisa apa? Sekan-akan ini nasib yang sudah digariskan di hidup bulik sekeluarga.” Bulik terdiam beberapa saat.

“Kenapa dia kok tega-teganya begitu ya sama bulik...” suaraku terdengar geram

“Ga tau lah tok, bulik sendiri selalu bertanya-tanya, apa salah bulik, apa yang kurang dari diri bulik. Sehingga dia tega meninggalkan bulik dan kedua anaknya, hanya demi wanita lain?” bulik Lasmi menggelengkan kepalanya pelan.

‘Sungguh goblok mantan suami bulik Lasmi.....benar-benar bodoh!’ pikirku

Aku memandangi wajahnya, terlihat letih dan kecewa. Tanganku meraih tangan bulik Lasmi, meremasnya perlahan. Dia memandangku.

“Totok ngerti kok lik, dan Totok ga mau bulik Lasmi putus asa. Kita semua disini pasti mendukung bulik Lasmi dengan sekuat tenaga, Totok, Bulik Tin, Sinta dan Yasmin. Jadi bulik jangan kuatir. Yang sudah berlalu, biarlah itu jadi kenangan bulik. Masa depan Bulik, Sinta dan Yasmin pasti akan indah pada waktunya” hiburku.

Mata bulik Lasmi berkaca-kaca.

“Thanks Tok...” ujarnya serak. Dia meraih kepalaku lalu mengecup bibirku! Basah. Aku mengejang. Tanpa sadar aku menjilat bibir hangatnya.

Bulik Lasmi terdiam sesaat ketika merasakan lidahku di bibirnya. Tanpa berkata apa-apa dia mengecup lidahku. Setelah itu dia menarik kepalanya kembali. Matanya memandangku penuh arti sambil tersenyum.

“Maaf lik...Totok...ga...”

“Sssshhhh...sudah ga papa” Bulik Lasmi menempelkan jari telunjuknya ke bibirku.

Aku terdiam. Memalukan! Apa yang ada diotakku sehingga berani lancing dengan bulik Lasmi?

Perlahan, Bulik Lasmi mengangkat daguku lalu bibirnya mengulum bibirku. Hanya sebentar, tetapi aku merasa seperti kesetrum ribuan watt!

Perlahan dia melepaskan ciumannya, bibirku mengejar bibirnya. Lidahku menari di permukaan bibirnya. Sesaat kami tenggelam dalam alunan indahnya tarian bibir kami. Tanganku memeluk tubuhnya erat-erat.

Agak tersengal bulik Lasmi melepaskan ciumannya, dia memandangku, mengelus rambutku. Aku masih menggigil, bibirku masih gemetar.

“Sudah Tok. Bulik tidur dulu” Bulik Lasmi bangkit dari tempat duduknya. Aku mengangguk masih terdiam. Nafasku masih memburu.

Setelah bulik Lasmi masuk ke dalam kamarnya, tinggalah aku sendiri masih tidak mempercayai ‘insiden kecil’ barusan.

‘Ya Tuhan, aku ini memang anak durhaka! Sudah kedua anak gadisnya aku setubuhi, kini akupun bernafsu juga dengan mamanya yang sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri’

Aku meraba selakanganku. Manukku ngaceng!

Tanpa membuang waktu lagi aku masuk ke kamar bulik Tin, aku menunggu beberapa saat ketika dirasa aman, barulah aku membangunkan bulik Tin, menyalurkan hasratku yang sudah sampai ubun-ubun.

Baru aku berhenti, ketika bulik Tin ‘meminta ampun’ padaku, karena sudah tidak kuat lagi.


**


Lasmi terdiam di kamarnya, dia meraba bibirnya sendiri.

‘Ya Tuhan, Apa yang baru kulakukan?’ Lasmi menggelengkan kepalanya. Tubuhnya menggigil.

‘Supriyanto, anak itu sekarang sudah tumbuh besar demikan gagahnya, padahal dulu aku yang menggendongnya waktu dia masih bayi, sekarang? Barusan saja aku berciuman dengannya, Oh...apa yang kulakukan ini?’ Lasmi meraba selakangannya. Basah. ‘Ya ampun, sekarang akupun terangsang hanya memikirkan anak itu.’ Dia memejamkan matanya.

Tak seberapa lama dia mendengar dari kamar sebelah, suara-suara yang tak asing lagi ditelinganya. Sejenak dia menegakkan kepalanya. Dia melirik ke dua gadis kembarnya yang sudah terlelap membelakanginya.

‘Oh Tin, betapa beruntungnya dirimu....oooh..’ tanpa sadar Lasmi merabai vaginanya dari luar permukaan celana dalamnya. Lama kelamaan, tangan Lasmi masuk kedalam celana dalamnya, dan mulai mengelus vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Basah dan hangat.

Jari-jarinya bekerja di seputar bibir vaginanya, perlahan dia menemukan klitorisnya sendiri. Dia meggosoknya. Secara perlahan dan makin lama makin cepat.

Bibirnya mendesis. Lasmi menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Dia masih jelas mendengar suara-suara persetubuhan Supriyanto dan buliknya di kamar sebelah.

Lasmi memasukkan satu jari ke dalam liang vaginanya, mancari-cari sebuah titik yang membuatnya terbang kelangit. Syaraf-syaraf kenikmatannya bekerja dengan cepat seakan merespon keinginan tubuhnya.

Gerakannya makin liar, makin tak terkendali, mengguncang seluruh aliran darah dan degup jantungnya. Membuatnya makin terlena dan tergelepar dalam nikmat yang tiada terkira.

Nafasnya sesaat masih memburu, puncak kenikmatan yang baru diraihnya dengan jari-jarinya sendiri membuat matanya berkunang-kunang.

Lasmi memejamkan matanya, menghembuskan nafas panjang. Dia tau, dia mencapai orgasme dengan cepat karena keponakannya sendiri, hanya dengan membayangkan Supriyanto, tubuhnya yang gagah, wajahnya, bibir dan lidahnya yang tadi menari dimulutnya, lalu.... Lasmi bergetar, mulai menangis sesenggukan.....

‘Betapa bodohnya aku....’ Lasmi tak henti-hentinya mengutukui dirinya sendiri


**


Yasmin menggigit bibirnya sendiri menahan agar suaranya tidak keluar. Matanya basah. Dia sudah mendengar mulai awal mamanya bermasturbasi, hingga kini menangis disampingnya.

“Mama.....”

Yasmin menangis dalam keheningan malam itu..

**

Posted at 07:38 am by pohonmangga
Make a comment  

ketika tsunami terjadi

Ketika Tsunami Terjadi

Semua hiruk pikuk. Tak ada yang tau bagaimana keadaan demikian cepet bisa memorakporandakan kampung. Linda dan Maskun terhenpas olehombak. Kedua ibui bapa mereka tak tau kemana. Saudara-saudara mereka juga tak tau kemana. Yang diketahui LInda, saat matanya terbuka dengan tubuh lemas, dia berada di sebuah hutan dan lama dia baru bisa sadar, kalau terjadi bahaya. Suara gemuruh, kemudian kayu

berderak-derak dan orang-orang berteriak, kemudian rumahmereka dibantai ai4r dari luar dan hancur. Ketika itu mereka sekeluarga sedang makan pagi dengan cerita.
Linda menangis karena tak ada orang di sekelilingnya. Maaaakkkk…. demikian Linda berteriak. Tak ada jawaban. Di sisi lain, Maskun juga tersadar. Lamat-lamat dia bangkit dan mendengar suara teriakan. Dia yakin sekali itu suara Linda adiknya dan dia pun memanggil nama adiknya. Mereka bersahut-sahutan. Dengan tubuh lunglah Maskun mendekati suara dan dalam jarak 20 meter dia melihat adiknya Linda 15 tahun dengan pakaian compang camping. Baru Maskun melihat tubuhnya sendii, yang tinggal celana jeans yang kuat dan bajunya juga compang samping.
“Kina dimana, Uda…” tanya Linda. Mereka berangkulan. Linda hanya memakai rok yang compang camping dengan tubuhnya ada bercak-bercak darah yang sudah mengering, tinggal terasa perihnya. Maskun juga tubvuhnya penuh bercak darah. Maskun tak menjawab pertanyaan adiknya. Dibimbingnya adiknya ke tepian sungai. Alir sungai yang kecil, namun jernih. Maskun pergi ke sebatang pohon, dia menemui masih ada jalaran daun sirih. Maskun ingat kalau mereka berada di suatu tempat yang biasanya dia berburu di sana. Dibersihkannya luka tubuh adiknya, mulai dari bagian kaki, paha, perut dan di bawah buah dada. Kemudian luka-luka itu ditempelinya dengan kunyahan daun sirih. Mulanya terasa perih, namun kelamaan luka akan menyatu. Demikian juga padanya.
Mereka pun ditolong oleh orang-orang pada keesokan harinya. Sebelum mereka bertemu dengan orang, Maskun tak mamu membawa adiknya kemana-mana. Maskun mengmpulkan apa yang ada. Banyak [pakaian sobek tersangkut di pepohonan, kemudian dijalin dengan baik. Maskun membuat sebuah tempat tidur dari kain. Kedua ujung kain diikatkan pada pohon kayu agak ketinggian. Linda yang didudukkan di pohon tinggi karena pergelangan kakinya terkilir, terpaksa digendong oleh Maskun (21 tahun).
Maskun berjalan menyusuri hutan yang tersapu Tsuami. DIa mendapatkan dua kotak mie instan, ada beberapa bungkus sudah rusak tapi masih banyak yang masih utuh. Dia terus mencari dan mencari apa saja yang dibawa oleh gelombang ke sebalik gunung itu. Untung Maskun mendapatkan beberapa buah mancis, ada rantang dan sebagainya. Semua dia bawa ke tempat adiknya yang didudukkan.
Maskun pun mencari ranting-ranting kayu yang mudah kering. Mengisi rantang dengan air anak sungai yang termasuk jernih. Ranting kayu yang banyak itu di bakar dan ranting kayu yang masih lembab diletakan di tepian api agar cepat kering. Dengan lahap, Masmkun makan bersama LIna adiknya itu. Ketika Maskun mau pergi mencari pertolongan., Linda si manja tak mau ditinggalkan.
Maskun yang pernah mendapat latihan Pramuka selama 7 tahun dari siapa sam;pai penegak, mampu hidup survive. Malamnya mereka pun tidur dalam sayu ayunan di antara dua pohon. Kain-kain yang mereka cuci tadi siang masih lembab, hingga tak bisa dipakai jadi selimut.
Linda si imut memang sangat penakut. Sedikit saja ada suara aneh baginya, dia langsyung memeluk Maskun abangnya. Mereka pun berpelukan sepanjang malam. Saat Linda tertidur nenyak dalam pelukan abangnya, saat itu Maskun terbangun. Saat itu juga iblis merasukinya. Dia lupa pada ibo-bapa adik adik-adiknya dan lupa kepada siapa saja, apakah mereka masih hidup atau belum. Maskun sedang memeluk adiknya, yang hanya memakai rok robek-robek dan tingall celana dalam serta bra juga sudah dilepas, karena untuk mengobati luka di bawah payudaranya
Maskun terangsang. Teyek adeknya yang demikian mengkal, menyatu dengan dadanya. Kontolnya bangkit berdiri. Perlahan, Maskun menjilati pentil tetek adiknya yang masih mungil itu.
“Kenapa Bang?” tanya LInda tiba-tiba terbangun.
“Sudah tidur saja…” Mskun setengah membentak.
“Hmmm…” adiknya merengek dan memeluk Maskun. Maskun tyerus menjilati dan mengisa-isap pentil tetek adeknya. Sebelah tanganya mengelus-elus memek Linda yang belum berbulu.
“Hhmmmm….” Linda kembali dengan manjanya.
Kemanjaan Linda itu, membuat Maskun semakin bernafsu. Dia terus menjilati tetek adiknya dan mengelus-elusnya samopai akhirnya Maskun dapat menjilati memek adiknya.
“Hhhmmmm…..” Linda kembali mendehem manja dan menjepit kepala Maskun dengan kedua kakiknya. Maskun terus menjilatinya.
“Bang… aku mau pipis….” kata Linda manja. Maskun diam saja tak menghentikan jilatannya pada memek Linda, sampai akhirnya menjepit lebih kuat lagi kepala Maskun
Setelah jepitan melemas, Maskun mengangkangkan kedua kaki adinya dan menekankan penisnya ke memek Linda. Saat ditekan, Linda menjerit di tengah malam di tengah hutan itu.
“:sakiiiiiiitttt,” katanya. Maskun yang kesetenan tidak perduli dan terus menekan sampai semuanya masuk ke dalam. Menahannya sejenak dan Linda masih terus menangis. Perlahan Maskun mengocok penisnya dan Linda pun mereda tangsisnya sampai Maskun juga melepaskan spwermanya.
Mereka pun tertudr pulas malam itu, sampai matahari meninggi menusuk mata, baru mereka terbangun. Cepat Maskun mandi dan bersih diri lalu memasak makanan untuk mereka. Di bopongnya adiknya turun dan mereka duduk berdua.
“Percayalah besok atau lusa, pasti datang bantuan, karena inibencana,” kata Maskun. Dia pun beru[paya membuat tenda darurat untuk mereka berdua. Setelah Maskun meneliti sampai 300 meter, Maskun mendapatpi banyak barang-barang yang isa dimanfaatkanya. Dia mengerti, kalau bencana ini sangat besar. Diambilnya sebuah radio kecil dan beberapa buah battery. Di bersihkannya radio itu, sampai diperiksa sedetil mungkin, karena dia adalah mahasiswa D3 elektronika. Akhirnya radio itu bisa dipakai dan mereka mendengar berbagai berita, tahulagh mereka, kalau mereka korban Tsuanmi.

Maskun mendapatkan Bethadine bebeapa botol dan verban serta obat-obatan yang biasa dijual tanpa resep atau obat yang bisa dijual bebas. Ada sabun dan berbagai keperluan. Mancis dan korek api dia jemur dan beberapa mantel hujan dia temuka juga. Mereka pun bertahan di tepian anak sungai itu. Sudah dua hari, belum juga ada bantuan. Tapi pakaian mereka sudah kering dan sudah bersih dicucui, terutama pakaian dalam.

“Apakah kita akan mati disini?” tanya Linda.
“Tidak. Pasti tidak. Makanan kita cukup. Bila dua hari ini kamu sudah bisa aku tuntun, kita akan mencari jalan keluar dari hutan ini,” kata Maskun. Linda merasa sedikit nyaman. Dia berpoikir, andaikan saja dia terdampar sendiri, siapa yang bisa menolongnya. Andaikan dia terdampar dengan orang lain, dia juga akan…

Linda mengingat apa yang mereka lakukan tadi malam. Maskun menjilati teteknya dan mengelus-elusnya serta memeluknya dengan kasih sayang. Tapi LInda sebaliknya justru merasakan kehangatan. Mereka memang saudara yang sangat akrab. Mereka lebih akrab dibandingkan dengan empat saudara mereka yang lain. Beda usia mereka walau terpaut enam tahun, namun mereka seperti demikian bisa saling mengerti.

Untuk pertama kali Linda berciuman dengan lembut. Tidak seperti pacvar Linda yang bernama Johan yang selalu menciumnya dengan tergesa-gesa, kemudian jika sudah puas, Johan seperti tidak perduli padanya. Beda dengan Maskun, dia sabar mengelus dan membelai Linda. Sabar menciumi leher dan menjilati sekujur tubuhnya. Mereka sudah mendapatkan banyak kain yang sudah bersih dicuci dari barang-barang yang dibawa ombak. Mereka sudah dapat bahkan tiga buah selimut tebal. Semuanya sudah komplit, walau disana sini banyak yang robek.

Yang membuat Linda tak mampu membantah ucapan Maskun agar mereka bertahan dua atrau tiga hari lagi dengan perbekalan mereka yang cukup, saat Linda masih mengingat bagaimana ujung lidah Maskun menjilat-jilat vaginanya. Vagina yang berbulu tipis itu dijilati dengan lembut, membuat Linda terangkat-angkat tubuhnya.
“Udaaaaa…..” kata Linda mendesah-desah dan meremas-remas kepala Maskun.
“Uda apain memekku?” tanya Linda. Maskun justru tak menjawab, karena dia yakin itu adalah pertanyaan basa-basi saja, toh jilatannya tetap dinikmati oleh Linda.
“Enak?” tanya Maskun.
“Iyooooo…..” jawab Linda melemas dan menghentikan jepitan di kepala Maskun. Saat itu, Maskun justru menguakkan kedua pahak adiknya itu lebar-lebar dan menempelkan ujung kontolnya ke antara dua bibir memek Linda adiknya itu.
Perlahan Maskun menekannya. Linda mengigit bibirnya menahan sakit.
“Sakit Uda….” kata Linda merintih.
“Tahan sebentar sayang. Aku menyayangimu. Tak mungkin aku mencelakakanmu, sebentar lagi pasti enak.” kata Maskun.
“Tapi kita saudara. Kita tak boleh melakukan ini,” kata Linda.
“Kita sudah terlanjur…” kata Maskun. “KIta teruskan sama tidak kita teruskan, dosanya sudah sama,” jawab Maskun.
Sreeeg.. terasa seperti ada suara yang robek di dalam memek Linda. Linda menjerit. Cepat Maskun mengecup bibir adiknya dan kembali menekan kontolnya ke dalam dan Linda kembali menjerit. Maskun menahan kontolnya di dalam memek adiknya itu. Linda pun menanngis menahankan rasa perih dan sakit.

“Sabarlah, sebentar lagi tak sakit,” katanya. Maskun pun menarik perlahan kontolnya dan perlahan kembali menusuknya, demikian seterusnya, sampai satu hentakan kontolbnya dia tahan sepenuhnya ke dalam memek adiknya itu.

Maskun terus membelai rambut adiknya dan mengecup pipinya, serta mengecup bibrinya.
“Aku menyayangimu,” katanya lembut.
“Kalau aku disayangi, mkenapa harus begini?” kata LInda.
“Ini bagian dari rasa sayang yang teramat dalam,” kata Maskun merayu.
“BIla aku hamil?”
“Kita akan pindah dari pulau ini dan kita minta surat keterangan pindah. Aku dari desa sebelah dan kamu dari desa kita dan kita akan menikah di tempat lain, kata Maskun. Sambil berbicara merqyu adiknya, maskun perlahan terus mencucuk tarik kontolnya dan Linda sudah mulai menikmatinya. Mereka sudah berpelukan dan maskun terus menjilati leher Linda dengan kasih sayangnya.

“Sudah lama aku mencintaimu, bukan sepwerti adikku, tapi aku ingin kau menjadi pacarku,” kata Maskun sembari terus memeluk adiknya dan menekan jauh kontolnya. Linda juga memeluknya dan kehangatan sperma dalam memek Linda demikian nikmatnya. Setelah kontol Maskun keluar dari memek Linda, Maskun mencium pipi adiknya dn mengucapkan tyerima kasih dan mengucapkan rasa cinta. Linda membalasnya dengan kecupan pula.

Setelah dua hari, mereka mendengar suara heli kopter menderu-denru. Linda berteriak minta tolong. Heli terlalu jauh di atas sana, hingga tak mendengar suara teriakannya. Maskun mengikat kain merah pada sebuah tongkat kayu dan emminta kepda Linda untuk melambai-lambaikannya. Sementara Maskun mengumpulkan ranting dan daun kering. Begitu heli kembali terdengan meraung, dimintanya LInda melambaikan bendera itu, dan Maskun membakar tumpukan ilalang dan daun kering serta rantint-ranting kayu, hingga asap menggepul.

Heli mulai mendekati mereka dan semakin merendah. Linda tersenyum bahagia demikian juga Maskun. Dari atas heli turun seorang tentara dan setelah sampai di bawah, dia mendekati Maskun dan Maskun menjelaskan, mereka adik-beradik yang terdampar dan selamat. Tentara itu mengikatkan tali ke tubuh LInda dan Maskun yang sudah tersedia, kemudian dengan alat radio tentara itu meminta agar metreka ditarik. Bertiga mereka ditarik oleh tali dan dua orang tentara yang ada dalam heli menarik mereka masuk. Salah seorang di antara tentara itu langsung memeriksa luka Linda sembari terbang, kemudian memberikan suntikan dabn pengobatan.

“Kanmu hebat bisa bertahan,” kata tentara itu. Mereka terbang dan dari ketinggian Linda Maskun melihat desa mereka nun di bawah sana sudah porak poranda. Linda dan Maskun melelehkan air mata, memikirkan bagaimama ibu-bapa dan saudara mereka. Pada sebuah lapangan Maskun dan Linda diturunkan dengan penumpang yang lain, kemudian mereka di bawa ke pengungsian yang dilayani oleh sukarelawan. Saatr Linda istirahat, Maskun mencari tahu keadaan orangtua mereka. Tak ada keluarga mereka yang selamat. Maskun tercenung dn kembali ke kamp pengungsian serta menceritakan kepda Linda yang sudagh diganti pakaiannya dan mendapat jatah pakaian lain. Berdua mereka berpelukan.

“Apakah ini istri saudara?” kata salah seorang petugas.
“Ya Pak. Kami pengantin baru. Tapi mai tidak punya identitas apa-apa lagi,” jawab Maskun.
“Nanti kita akan keluarka identitas pengganti berupa duplikat,” kata sang petugas. Maskun tersenyum. Untung ketika dia pulang ke kampung halamannya, di tempatnya bekerja dia juga pamit dan mengatakan, mungkin saja dia akan dinikahkan di kampung halamannya. Bagaimana perjalana selanjutunya….

Kenapa Uda mengatakan, kita ini suami isteri? Tanya Linda kepada Maskun. Maskun diam saja. Dia berupaya untuk mendapatkan ibu dan ayah mereka. Linda puin mempertanyakan kembali kenapa Maskun mengatakan kepada petugas, mereka adalah suami isteri?
“Supaya kita tidak dipisahkan. Nanti kalau kita ketemu dengan orangtua kita, baru kita bersama dengan

mereka dan kita kembali seperti biasa, kakak dan adik,” kata Maskun. Mereka menemui petugas dan meminta daftar nama-nama yang selamat dan tidak selamat. Dalam daftar yang selamat tak ada nama ibu, bapak dan saudara mereka. Dalam daftar nama yang meninggal dunia, ada nama ibu dan bapak mereka, tapi tak diketahui nama adik atau saudara mereka. Mereka berupaya terus mencari dan mencari. Kemudian mereka menukan ayah dan ibu mereka persis ketika masu dimakamkan. Jenazah yang sudah membusuk dan bau. Linda dan Maskun hanya bisa menangis dan ikhlas.

“Aku gak mau berpisah,” kata Linda pada Maskun.
“Aku juga tak ingin kita berpisah,” kata Maskun,. Mereka menemukan beberapa teman-teman mereka sekampung yang mendaftarkan diri untuk direlokasi ke daerah lain. Hanya ada beberapa orang yang mau. Seperti Sanusi dan Yati, mereka juga mengakui sebagai suami isteri, agar tidak dipisahkan dalam relokasi tempat. Akhirnya mereka mendapat surat keterangan dan duplikat surat nikah.

Setelah semuanya siap dan dianggap kesehatan fisik dan mental mereka sudah baik, ke dua pasang bersaudara itu pun naik ke kapal untuk ikut relokasi ke daerah transmifrasi yang baru dibuka kembali, karena banyak peserta transmigrasi terdahulu melarikan diri dari tempat mereka.
“Kita tidak akan berpisah, kan?” tanya LInda sangat manja. Maklumlah, dia tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Maskun juga sangat memanjakannya. Demikian juga dengan Sanusi dan Yati. Bersama mereka mengharungi lautan selama tujuh hari dan singah sebentar di pelabuhan tertentu. Sanuni adalagh adik Yati. Beda usia mereka berkisar empat tahun. Mereka juga sudah tidak punya siapa-siapa sama seperti Maskun dan Linda.

Sesampainya di daerah baru itu, mereka mendapatkan rumah yang berdekatan yang isinya sudah dilengkapi dengan sederhana. Ada kantongan beras berisu 20 Kg dan peralatan dapur setrta peralatan pertanian. Mereka samapa-sama memasuki rumah baru. Sorenya Yati mendatangi Maskun mempertanyakan status mereka. Maskun menjelaskan, daripada mereka dipisahkan, lebih baik mereka menikah saja, walau saudara sekandung. Toh tidak ada yang tau.
“Jadi kamu akan memperisteri Linda?” tanya Yati. Sejanak Maskun menatap Yati. Lalu menganguk, agar mereka tidak berpisah.
“Bagaimana dengan aku?” tanya Yati. Maskun diam saja. Tak lama Sanusi pun datang bergabung di halaman rumah Maskun dan berdiskusi.
“Semua karena terpaksa, semoga kita bisa hidup dengan baik dan kita beranak pinak. Rahasia ini, kita jaga sebaik mungkin,” kata Maskun. Sanusi setuju. Lalu Linda pun datang dengan kemanjaannya, memeluk Maskun.
“Nih.. masih sangat muda usia, sudah siap,” kata Maskun. Sanusi pun memeluk kakaknya itu dengan mesra dan membimbingnya ke rumah mereka.

Baru pukul 21.00 kampung transmigrasi itu sudah sepi. Bantyak lampu sudah padam dan siaran radio tak terdengar lagi. Maskun dan Linda pun memasuki kamar mereka dan memasang kelambu agar terhiondar dari nyamuk. Mereka tidur berpelukan pada udara dingin dengan seng sebagai atapo rumah tanpa asbes, membuat udaranya semakin dingin. Dalam berpelukan itu, mereka berciuman dan mereka slaing memagut. Dalam kegelapan, Maskun menelanjangi Linda dan mereka berbugil bersama.

“Udaaaa…. ” Linda merengek menikmati jilatan Maskun. Pentil tetek yang dijilat-jilat da dielus-elus, membuat Linda benar-benar terangsang.
“Ayolah uda, dimasuki saja. Tolonglaaaahhhh…” Lionda sudah merengek minta dimasuki. Perlahan Maskun menaiki tubuh LInda dan menekan penisnya memasuki lubang Linda yang tentu saja masih sempit. Mereka berdua suami isteri, baik dalam surat maupun dalam kenyataannya.

Esok paginya, Maskun keluar rumah membawa alat pertaniannya didampingi oleh Linda. Tak berapa lama Sanusi ikut pula dari belakang. Saat Maskun melirik ke belakang, dia melihat rambut Sanusi dan Yati benar-benar basah, sama sepertyi rambutnya dan adiknya Linda. Mskun sengaja menunggu mereka dan dengan senyum Maskun mengatakan:”AKu yakin, tapi malam kelian tidur dengan nyanyak,” sindir Maskun.
“Aku juga yakin, kalau kamu dan Linda juga tidur dengan pulas,” kata Yati yang mengerti kemana arah percakapan Maskun. Mereka pun tertama sembari menuju perladangan yang diberikan kepada mereka seluas dua hektar.

Maskun sesampainya di ladang, langsung membangun dangau-dangau yang agak tinggi, agar terhindar dari binatang melata. Tiangnya berkiar setinggi 1,7 meter dari permukaan tanah. Selain itu, dia bisa melihat juga ke sekeliling tanah mereka. Selesai membuat dangau, Maskun mulai mengarap dan mencangkoli tanah yang dekat dengan dangau atau gubuk tingginya itu. Mereka harus bisa hidup dari perladangan itu, karena hanya selama dua tahun mereka mendapat jatah dari pemerintah.

Katika daun jagung menghijau di tanah yang subur, dari gubuk Maskun mulai mendengar suara mual dan muntah-muntah Linda. Dia mendatangi Linda. Kejadiannya sama sepeti yang dialami Yati. Linda hamil, sama seperti Yati. Maskun pun semakin menyayangi Linda, demikian juga sebaliknya.
Habis…

Posted at 07:39 am by pohonmangga
Make a comment  

indri gelora gadis muda

Indri, gelora gadis muda

Kembali ini adalah kisah true storyku, yang terjadi pada masa-masa kuliahku. Nama pelaku dalam kisah ini disamarkan, guna menghindari kesalahpahaman. Komentar dan saran pembaca silakan email

Kisah ini terjadi saat Dino berumur kira-kira 22 tahun. Pada masa-masanya dimana keinginan mencoba segala hal baru selalu mendorong setiap perbuatan manusia. Hanya logika dan iman yang kuat yang dapat mengalahkan setiap keinginan itu. Dan Dino tidaklah termasuk pada golongan yang disebutkan diatas.

Pada masa - masa itu sepertinya kehadiran seorang teman sangatlah penting. (..masa sich..?) Begitu juga Dino yang memiliki banyak teman itu tak pernah merasa sepi. Ada saja teman yang mendampinginya, baik saat – saat mereka bepergian ataupun kumpul-kumpul bersama. Biasanya yang selalu menjadi obrolan mereka apabila telah suntuk adalah para gadis – gadis. Ada saja cerita mengenai gadis- gadis yang kadang membuat mereka penasaran, melongo dengan takjub atau tertawa terpingkal – pingkal.

Suatu sore Dino mendapat telepon dari temannya Dudi, yang tinggal di seputaran wilayah Buahbatu. Dudi memintanya datang sore itu juga.

‘ Ada apa ya dengan Dudi ini……..?’tanya Dino dalam hati. Tetapi biasanya Dudi ini selalu membuat kejutan. Ada saja hal yang tidak di duga Dino dan teman – temannya yang dilakukan Dudi. Tapi sejauh ini hal-hal tersebut adalah hal – hal positif (…dari sudut pandang siapa ?…he..he..). Tak berpikir panjang Dino menyanggupinya.

Sore Sabtu itu Dino meluncur di jalanan, menggunakan mobil carry putih yang dipinjamnya kepada orangtuanya dengan berbagai alasan. Mengenakan jeans dan kaos berkrah setelah mandi sebelumnya ( ..rapi sekali…..!!). Sambil menyetir mulutnya bersiul mengikuti irama lagu riang yang terdengar mengalun dari Clarion, tape mobil masa itu. Jalanan belumlah seramai sekarang, sehingga tidak harus berkonsentrasi penuh menjalankan kendaraan.

Berbelok ke kanan pada lampu traffic, terus melaju dengan lancar. Kurang lebih 15 menit melaju di jalan Buahbatu itu kemudian berbelok ke kiri, masuk pada jalan kecil. Daerah itu merupakan tempat kediaman yang cukup strategis. Karena terletak dekat kota dan hamper semua penduduknya merupakan penduduk asli. Bangunan yang berdiri di daerah itupun sebagian besar adalah bangunan lama gaya tahun 60-70an. Meskipun tidak sebagus bangunan- bangunan di daerah jalan dago. Katanya daerah ini merupakan daerah pemukiman pekerja-pekerja administrasi pada jaman tersebut.

Setelah berbelok ke kanan pada ujung jalannya, mobil yang di kendarai Dino berhenti 200 meter dari belokan terakhir. Terlihat Dudi yang sebelumnya duduk di sebuah warung mendatanginya. Menyapanya dengan hangat.

“ Nah,…datang juga………………” ujar Dudi setelah berada di samping mobil.
“Santai kan……………………….?”tanyanya.
“Ayo ke rumah dulu……………...”ajakn Dudi melangkah menuju arah rumahnya yan masuk ke dalam dari jalan tersebut. Setelah mengunci mobil, Dino berjalan mengikuti langkahnya dari belakang. Berbelok ke kanan, terus samapai pada sebuah belokan jalan kecil yang juga merupakan jalan masuk ke rumah Dudi temannya itu.Begitu memasuki pintu,….

“ Duduk ‘No,……… oh ya kenalin ini, Neng Indri, satunya Dian….” Ujar Dudi menyilakan.
“Dian itu cewekku.., jangan di ganggu…”kelakar Dudi menambahkan
“Dino………………”
“Dian………………”
“Indri……………...” sahut gadis muda yang tengah duduk di kursi di ruang tamu tersebut.
“Ini lho neng…., Aa Dino yang Aa’ ceritakan kemarin itu” terang Dudi sambil mengocok sendok pada gelas minum yang tengah ia bikinkan.
‘Gadis yang mungil’ bisikku dalam hati menatap Indri. Manis wajahnya yang masih polos, tapi leluk-lekuk tubuhnya telah membentuk.

“ Sebentar ya……., Aa’ Dudi salin dulu……………………”teriak Dudi dari kamarnya setelah menghidangkan 3 cangkir teh hangat. Dino menyeruputnya, hmm begitu nikmat rasanya di sore ini. Tak lupa sebatang rokok menyelip di bibirnya menemani pembicaraan mengalir diantara mereka. Indri ternyata tidaklah sepolos wajahnya, pembicaraan yang Dino lontarkan dapat di imbanginya dengan baik. Berbeda dengan Dian yang lebih banyak diam.

‘ Hmm anak ini cukup bagus juga wawasannya……..”batinku kembali berbisik.
”Yok kita berangkat……….”ajak Dudi yang telah rapih keluar dari kamarnya. Berempat kami melangkah ke luar dari rumah itu setelah pamit pada orang tuanya Dudi.
“Neng di depan ya…………….?”perintah pada Indri.
“Aa’ mo pacaran di belakang, jangan liat-liat ya……”kelakar Dudi sambil memeluk pinggang Dian. Dian tersenyum kecil mencubit pinggang Dudi. Mobilpun melaju.
“Kemana kita ni Dud…………..”Tanya Dino melihat dari spion.
“Oh…ya bisa antar ke teteh dulu kan….” Jawab Dudi sambil memberitahu alamat kakaknya itu. Mobil pun mengarah ke selatan menuju rumah kakaknya Dudi. Dan sepanjang perjalanan itu Indri berbicara, mengajak ngobrol Dino. Ada-ada saja bahan pembicaraannya sehingga kekakuan mulai tersa mencair.

30 menit kemudian mobilpun menepi pada sebuah rumah di sebuah komplek. Dudi keluar sambil menggamit Dian.

“ Sebentar ya ‘No…………………”ujarnya melangkah memasuki halaman rumah tersebut. Entah ada apa keperluannya Dino tak mengerti. ‘Biar sajalah……..toh ada Indri yang menemaniku ngobrol’batinnya.

Dan pembicaran mereka berdua di mobilpun semakin hangat. Dino sangat respek pada gadis mungil itu. Kadang-kadang mereka berdua tertawa bersama. Celotehannya itu tak ada henti-hentinya. Tak lama Dudi pun datang kembali diiring Dian dan tetehnya Dudi. Setelah basa basi sesaat merekapun berangkat. Menuju selatan lagi ke sebuah tempat pariwisata seperti usul Dudi. Dino mengilkuti saja, pengen tau apa kelanjutan rencana Dudi teman baikknya itu.

Adzan magrib berkumandang saat mereka sampai di tepian sebuah danau. Embun sudah mulai turun. Dudi melangkah di ikuti Dian menuju sebuah warung. Langsung duduk bersila.

“No, Indri……… mo pesan apa……..”teriak Dudi melongokkan wajahnya di jendela warung. Dino menatap pada gadis muda di sampingnya….
“Aa’ mau pesan kopi dengan jagung bakar, Indri pesan apa……”Tanya Dino.
“Hmm…….teh manis dengan itu..tu, gorengan…………………..” jawabnya tersenyum. ‘Manis sekali senyumannya……..’
“Dud, kopi satu, teh manis satu, jagung bakar dan gorengan……”teriak Dino.
“Ga pakai lama ya………………………..”tambah Dino.

Kembali mereka berdua tenggelam dalam percakapan yang hangat. Saling berkelakar, ataupun berbincang serius. Pesanan pun datang, yang langsung di terima Dino. Meletakkan minuman mereka di dashboard, dan memberikan sepiring gorengan kepada Indri. Dan sambil memgunyah makanan mereka masing-masing obrolan pun mengalir kembali. Embun makin turun, sehingga jarak pandang menjadi semakin pendek. Cahaya lampu di warungpun tak cukup menerangi mereka berdua yang berada di dalam mobil.

“ Ayo kita pulang………………………….”. terdengar suara Dudi mendekat. Dino dan Indri serempak terperanjat.
“Bikin kaget aja kamu Dud………………”ujar Dino, mengemasi remah – remah sisa makanan mereka yang tak habis.
“Ini kembalikan dulu piring dan gelasnya…..”ujar Dino menyerahkan piring dan gelas yang telah kosong. Berlari kecil Dudi menuju warung, menyerahkan benda tersebut ke tangan seprang ibu tua pedagang warung tersebut, lalu kembali menuju mobil di tengah gerimis yang turun.

“ Uh……..dingin………………….”ujarnya menutupkan pintu mobil. Tak kecuali Dian yang telah berada di dalam mobil menggemeletukkan bibirnya. Langsung saja mobil berangkat, merayap pelan, karena pandangan yang terbatas akibat gerimis dan kabut. Setelah sampai di jalan utama mobil langsung Dino arahkan menuju kost-annya Dian sebagaimana petunjuknya.
“Aku nginap disini…….”ujar Dudi mengedipkan mata.
Dino melongo, tak bisa berkata-kata.
‘Trus bagaimana aku dengan Indri gadis muda ini?’ pik1r Dino. Sambil menjalankan mobil perlahan. Bingung tak tau harus bagaimana.
“Indri Aa’ anterin pulang jam segini ga pa-pa?” Tanya Dino harap-harap cemas.
“Jangan A’ jangan kerumah, sudah terlalu malam..”sahutnya denganmata bingung.
“Teruss………”
“ Pokoknya jangan ke rumah aja…..”ujarnya manja.

Terus terang, Dino bingung sekali saat itu, uang yang ada di dompetnya saat itu tak mencukupi untuk menginap di hotel. Pikirannya terus berputar ….
Akhirnya teringat ia pada Nunu, temannya sekomplek yang rumahnya biasa menjadi tempat berkumpul teman-temannya. Rumahnya hanya di isi oleh Nunu seorang sebab orangtuanya selalu berada di luar kota. Kesanalah mobil Dino mengarahkan mobilnya. Tepat jam 11 malam itu mobil putih dan isinya tiba di halaman rumah kecil tersebut. Kecil tapi cukup resik.Melongok dari celah pintu sebuah wajah lugu temannya itu.

“ Ada apa Din…, malam-malam gini….?”tanyanya sambil menyilakan masuk. Dino segera mendekat dan mengatakan hal yang membuatnya bingung. Nunu manggut-manggut dan mengerti keadaannya. Lalu ia bergerak ke sebuah kamar yang kosong yang diperuntukkan untuk tamu. Setelah mencuci muka dan bersih-bersih, mereka bertiga pun ngobrol di ruang tamu dengan hangat. Cukup akrab memang. Tak terasa waktu berlalu hingga Nunu yang tadi telah mengantuk kembali menguap.

“ Kalian teruskan saja ngobrol, aku tidur dulu sudah ga kuat…….”Ujarnya beranjak menuju kamarnya.
“Ok bos…….”sahut Dino dan Indri berbarengan.Kembali mereka tengeelam dalam percakapan hangat, cukup intim malah. Indri bersandar di bahu di dada Dino. Menonton acara TV yang membosankan. Dino mengelus-elus bahu Indri memberikan kenyamanan perlindungan. Mengharumi rambut gadis muda tersebut. Rasa hangat mengalir dari tubuh yang berdempetan tersebut, menyebar ke seluruh relung tubuh. Kadang mulut Dino mencium ubun-ubun gadia muda itu, tak ingin kehilangan rasa wangi yang terbersit disana.

“ A’………”bisik Indri hamper tak terdengar.
“Hmm…..”gumam Dino menanggapi.
“Indri ngantuk………….”ucapnya perlahan.
“Ya sudah kamu ke kamar saja….., Aa’ biar disini saja , ga enak sama Nunu”jelas Dino. Indri bangkit dan tiba-tiba. Sebuah kecupan kecil dijatuhkannya pada pipi Dino dan langsung melangkah mnuju kamar..

Dino terpana, terdiam, kembali tenggelam pada cara Tv yang membosankan itu. Menunggu kantuknya yang tak datang-datang juga. Akhirnya tak menunggu Dino pun bersiap-siap merebahkan dirinya di sofa di ruangan tengah tersebut Menatiksarung yang diberikan oleh Nunu. Baru saja matanya hendak terpejam.

“ A…………..”sebuah bisikan terdengar didepannya.
“Ng…………, ada apalgi………..?tanya Dino . Terpaut pandangannya pada wajah Inri yang telah berada di depannya.
“Indri takut……ga mo tidur sendiri……..”ujarnya dengan ekspesi meyakinkan.
“Temanin Indri di kamar….ya A’………..”tambahnya lagi sambil menyeret lengan Dino. Mau tak mau Dino terpaksa bangkit, mengikuti gadis muda yang menarik tangannya memasuki kamar. Indri menutupkan pintu kamar tersebut perlahan. Gadis itupun berbaring di sebelah kiri Dino memunggunginya. Gelisah ia rupanya. Terasakan dari gerakannya yang menjalar di kasur di ruangan itu.

“ Kenapa…., ga bisa tidur..?”Tanya Dino berbisik.
“Aa’ belum tidur……………? Tanyanya.
“Ga tau nih mata ga mo terpejam……..”tambahnya lagi seraya membalikkan badan, menatap ke arah Dino. Dino menundukkan wajahnya menatap mata gadis muda tersebut. Menarik dan mendekapnya hangat.

“ Ya, kesini deh lebih mendekat ke Aa’………………”pinta Dino lembut. Gadis muda itu menggeser tubuhnya, merebahkan kepalanya di dada Dino. Mendengarkan debur jantung lelaki itu berdegup bergemuruh. Dino mengecup kepala gadis muda itu dengan lembut, mengirimkan berjuta kedamaian. Indri mengangkat wajahnya, memandang ke arah Dino. Kembali kecupan di jatuhkan Dino, kini pada kening yang di hiasi rambut-rambut halus. Perlahan sekali, sangat perlahan…..

Setelah kecupan itu berlalu, Indri membuka matanya dan sambil menatap Dino bergerak keatas mewnjajari wajah lelaki itu. Diiringi kedua bola matanya meredup bibirnya mengecup lembut bibir Dino. ‘Lembut dan segar sekali bibir Indri ini’ batin Dino.

Dino bergerak mengambil inisiatif atas kesamaan hasrat yang terbaca sudah. Mengait bibir lembut yang bergerak menjauh. Segera melumatnya dengan hangat. Kedua bola mata Indri terbelalak lalu meredup pelan, ikut larut dalam irama alunan gelora hasrat yang mulai terbersit dalam dirinya. Kini kedua bibir mereka bertautan erat, saling melumat dan mengulum, membangkitkan hangatnya bara asmara dalam kebersamaan.

“ Mmmfhh……………………..”desah Indri perlahan.

Lidah Dino kini mencoba lebih intens, menyelusup melalui ke dua bibir lembut milik gadis muda itu, mencoba menemukan pasangannya. Kemudan mengait lidah lancip sang gadis mengajaknya bercengkrama dalam kelembutan basah mulutnya. Indri pun tak kalah hangatnya membalas. Lidah mereka saling berpalun, saling membelit dengan panasnya.

Tangan kiri Dino menjalar turun. Menyelusur di sepanjang punggung sang gadis, mengirimkan kehangatan di sepanjang perjalanannya. Bibir mereka masih bertaut makin erat, saling melumat tak henti-hentinya. Tangan Dino terus turun, meluncur di sepanjang kaos ketatnya Indri, terus ke bawah, menaik pada pinggang yang ramping menemukan bongkahan yang masih dilapisi rok tersebut. Meremasnya lembut……!!!

Indri membuka matanya, bergerak perlahan menaiki tubuh Dino. Dan kembali melumat dan menngulum seperti sebelumnya. Tangan kanan Dino bergerak, Menyusuri bagian samping tubuh gadis muda itu , mengelusnya perlahan, terus naik turun , kadang bergerak agak kedepan menyentuh pangkal bulatan dadanya , mengelus denganibu jarinya.

“ Uhhhhh…………………….”Rintih gadis muda itu perlahan. Tubuhnya sedikit mengangkat memberikan ruang gerak keleluasaan pada jari Dino. Sementara tangan yang sebelah lagi tak henti-hentinya meremas dan mengelus di belakang.

Tak cukup begitu jari Kino menyelusup ke balik kaos yang dikenakan Indri, meraba kehalusan kulit tubuh sang gadis, mengelusnya sambil bergerak naik, menemukan bongkahan dadanya yang masih terbalut bra tersebut. Tangan Dino bergerak terus menyelinap ke balik pembungkus dada tersebut…!!!

Menemukan bulatan padat kenyal berlapiskan kulit halus yang hangat. Merabanya dan mengelusnya dengan lembut, jarinya tak berhenti menaiki bulatan padat tersebut, menemukan putik mungil di puncaknya. Memilinnya perlahan….!!!

“ Ouhhhh……………..”Desis Indri menggeliatkan tubuhnya. Rasa geli gatal melanda syaraf-syaraf kewanitaannya.
‘Terus….A’…………..’batinnya menyetujui tindakan Dino. Bibir Indri turun mengecup bola mata Dino, bergerak kesamping melumat cuping telinga Dino dengan ganas…

Dino merasa kegelian atas perlakuan Indri pada telinganya. Langsung di peluknya tubuh mungil tersebut, Ia bangkit hingga terdudukdengan Indri dalam pangkuannya. Menarik lepas kaos gadis muda tersebut hingga lepas. Tak ketinggalan dengan bra dan roknya. Indri p[un berbuat sama, melepaskan pakaian Dino… Dan kini mereka hanya di lapisi oleh secarik kain tipis yang menutupi selangkangan mereka masing-masing.

Sambil dalam posisi demikian mereka kembali saling melumat dan mengulum. Lidah Dino menjalari leher gadis muda itu. Menjilati permukaannya di sepanjang perjalannannya, terus menaik menjumpai pangkal telinganya. Menjilati bagian belakang telinga tersebut berkali-kali. Terus mengulum cuping teringa tersebut dengan rakusnya.

“ Ahhh……………….”erang Indri. Tubuhnya mulai berkelejat-kelejat di pangkuan Dino. Pinggulnya secara demonstratif bergoyang, mengekspresikan kegeliab dan kegatalan yang melandanya. Akibat goyangan tersebut kewanitaannya yang terlapis oleh kain tipis itu menggerus batang kejantanan Dino yang telah tegak , malah kegelian dan kegatalannya makin memuncak.

Wajah dan bibir Dino kini beralih pada bulatan padat di dada sang gadis. Mengecup di sekeliling bungkahan kenyal itu, menjilat di sepanjang lingkaran lerengnya. Berputar terus ke atas menuju puncaknya. Mengulum dengan kuat pada putik yang berada di puncak dada tersebut.

“ Ouhhhhhh………….Aa’….”erang gadis muda itu. Matanya terbeliak sesaat dan kembali meredup. Terdengar napasnya telah memburu. Desah dan rintih tak henti-hentinya terdengar meluncur dari bibir munginya. Kadang bibirnya menganga melepaskan keluhan nikmatnya. Dino tak berhenti, bergantian dada kiri dan kanan Indri menerima lumatan dan kuluman yang tak kenal lelah,makin bersemangat dan makin ganas….!!!

Indri tak tahan. Gelombang demi gelombang yang menderanya menaikkan tingkat birahinya pada titik yang lebih tinggi. Tak cukup hanya begitu,tangan mungilnya menjamah ke bawah. Terasa oleh Dino betapa pinggul gadis muda itu terangkat. Tak tau apa yang dilakukannya, hanya tiba-tiba tangan lentik itu telah berada kemabali diatas dengan menggenggam secarik segitiga satin, yang langsung di lontarkannya di atas kasur. Tak lama kembali terasa kedua tangan tersebut telah berada di pinggang Dino, menarik karet pakaian terakhirnya. Dino mengangkat tubuhnya memberikan keleluasaan pada sang gadis. Mereka kini telah telanjang….!!!

Langsung tangan mungil itu kembali bergerak, terasa menggenggam batang berototnya yang telah tegak. Menempatkannya pada lepitan basah yang hangat. Pinggulnya bergerak intuitif bergoyang, mengurut dan membelai batang kenyal tersebut naik turun.

Dino bergerak. Merangkul tubuh mungil gadis muda tersebut. Mendekapnya erat di tengah goyangan dan gerakan erotisnya. Menempelkan tubuh mereka yang telah berkeringat erat ke tubuhnya. Merasakan gosokan putik bulatan padat dada Indri pada dadanya. Merasakan api yang mkembakar mereka bergejolak makain membara, siap menghanguskan mereka.

Kedua tangan Indri berpegangan pada bahu Dino. Pinggulnya tak henti bergerak, menggali semua kenikmatan yang ada di sepanjang batang kenyal lelaki yang ia duduki. Mata indahnya terpejam.

Tiba-tiba tangan mungil Indri bergerak kembali ke bawah, menemukan batang berotot Dino yang telah tegak maksimal, menggengamnya dan menuntunya pada muara lepitan kewanitaannya, menggosok kepala membolanya dengan lepitan basahnya. Melumasinya berkali-kali. Lengannya kembali pada pundak Dino seiring dengan kakinya yang kini berubah tumpuan. Lututnya kini menjadi tumpuan tubuhnya yang berada di pangkuan Dino. Perlahan tumpuan lututnya bergerak, melebar…..!!!

“ Ahhhh……..”pekik lirih Indri. Kedua lututnya yang melebar mengakibatkan tubuhnya turun. Lepitan basah kewanitaannya ikut turun…menyebabkan lepitan itu terkuak oleh batang tegar Dino. Menelan kepala membola itu dalam jepitan halus basah tetapi liat mencekal. Tubuh sang gadis mengejang sesaat. Kembali pinggulnya bergerak memutar.
“Ohhh…. Aa’………………………”rintihnya lirih di sela gerakan tubuhnya di bawah.


Dino merasakan kedua tangan Indri mencengkram erat pundaknya. Liang hangat di bawah terasa mencekal erat kepala batang tegarnya. Ditambah lagi dengan gerakan memutar pinggul sang gadis membuatnya tak bisa lagi menahan diri. Dipeluknya ketat tubuh Indri dengan kedua lengannya, hingga tubuh mungil tak dapat bergerak lagi. Lalu menggerakkan tubuhnya naik. Meneruskan pembukaan yang telah dilakukan sang gadis. Membenamkan batang tegarnya dalam kelembutan liat kewanitaan sang gadis. Mili demi mili batang berotot itu tenggelam,terbenam.

‘ Sungguh erat cekalannya…….’batin Dino.
‘Bukan main punya Aa’ ini…….’batin Indri. Tak tahan oleh geli dan gatal yang melanda, Indri membenamkan giginya pada pundak Dino. Menggigitnya dengan gemas.

“ Ahhhhhhh………………………” pekik Indri. Napasnya terengah-engah seolah-olah tengah berlari jauh. Akhirnya amblas sudah batang berotot Dino, terbenam utuh dalam kekenyalan liang kewanitaan Indri diringi pekikan kecilnya. Mereka terdiam sesaat, saling berpandangan lekat. Perlahan tubuh mungil Indri bergerak, naik turun dengan pelan. Mulai menggali semua kenikmatan yang akan memenuhinya, Makin lama temponya menaik. Terkadang bergerak maju mundur mengayunkan pinggulnya dengan konstan.

Dino tak tinggal diam, mencoba menambah pasokan birahi dengan kembali melumat dan mengulum putik bongkahan dadanya yang telah mengeras, mengkilat oleh butir-butir keringat di timpa temaram cahaya. Bergerak seirama mengayunkan pimggulnya naik turun bak piston mesin mengebor.

Gerakan mereka makin cepat. Dengus dan erangan tak hentinya terdengar dari kedua insane yang tengah mendayung perahu birahinya, di selingi kecipak-kecipak pertemuan tubuh mereka di bawah. Tubuh mereka telah basah mengkilat dimana-mana. Melicinkan gerakan merekan yang makin liar. Puncak makin mendekat….

Lalu gerakan Indri mengayun pinggulnya berubah manjadi sangat cepat. Melentingkan tubuhnya ke belakang, memejamkan matanya.

“ Ahhhh……………………..”pekiknya saat keputusan puncak di capainya. Kembali bergerak cepat memacu pinggulnya, Kembali sambil melentingkan tubuhnya menjerit terputus-putus…
“Ahhh, …….ahhhhhh, ………ahhhh….”gelombang yang lebih dahsyat menggulungnya,membolak-balikkan emosinya bercampur aduk. Melontarkannya ke langit berwarna warni. Tak kuat menahankannya, memeluk ketat bahu Dino seraya giginya telah membenam di pundak Dino. Rengekannya pecah sepanjang gelombang demi gelombang yang melandanya.

“ Nggghh…………………….”rengek Indri dengan nafas tersengal-sengal. Terasakan oleh Dino betapa liang tersebut bergerak peristaltik, mengurut dan memijat batang berototnya dalam tempo cepat. Dino tak tertahankan, makin cepat, selain menyempurnakan pencapaian sang gadis juga letupan-letupan syarafnya hampir meledak. Memompa batangnya terus menerus tak henti. Mengenggam pinggul sang gadis denga kedua tangannya seolah- olah tengah memaku sang gadis dengan batang berototnya pada liang yang telah basah di bawah.

“ Arghhh……………………..”sambil menggeram Dino membenamkan batang berototnya sedalam-dalamnya pada liang basah tersebut. Ototnya berdenyut sesaat. Bendungan laharnya meledak, berkejaran di sepanjang pembuluh darah batang berototnya menemukan pelepasannya. Menyembur dalam kehangatan liang yang mencekal erat, membasahi dan membanjirinya hingga tak tertampungkan dan mengalir perlahan ke muara liang tersebut.

Hening sejenak. Mereka tenggelam dalam keletihan yang sangat. Meresapi sisa deburan gelombang yang masih terasa. Diam tak berkata-kata…

“ Makasih…..A’”ujar Indri lirih mengecup bibir Dino.
“Hmmm……..”gumam Dino tak menjawab, hanya dekapan lengannya makin erat pada tubuh mungil yang berkeringat tersebut. Tak dapat ia wujudkan kebanggan perasaannya. mengantarkan gadis muda itu menggapai puncak kenikmatan yang beruntun dalam persetubuhan ini.

Posted at 07:42 am by pohonmangga
Make a comment  

gelora gadis desa

Cerita Gadis Desa Memohon Untuk Di Setubuhi

Cerita indehoi gadis desa bervagina sempit – Pada awalnya aku memandang gadis itu Lilis namanya, biasa-biasa saja, maklum aku walaupun sudah cukup dibilang dewasa (27) tetapi sekalipun belum pernah mengenal wanita secara khusus apalagi namanya pacaran, maklum orang tuaku menekankan menuntut ilmu lebih utama untuk masa depan. Apalagi setelah aku selesai kuliah dan langsung bekerja, aku merasa berhasil menikmati hasilku selama ini. Itu sekedar background kenapa gadis itu aku pandang biasa saja, karena dia hanya lulus SD sehingga aku kurang peduli bila aku menyadari tingkat pendidikanku sendiri. Namun dari hari kehari Lilis si gadis itu selalu melayaniku menyediakan makan, menjaga kebersihan kamarku, dan bahkan mencuci bajuku yang terkadang tanpa aku minta walaupun aku sebenarnya biasa mencuci sendiri, namun adakalanya aku cukup sibuk kerja, sehingga waktuku terkadang serasa di buru-buru.

Rupanya gadis itu sedikit menaruh hati, tapi aku tidak tanggap sekali. Terlihat dari cara memandangku, sehingga aku terkadang pura-pura memperhatikan ke arah lain. Sampai pada suatu saat, dimana temanku beserta anak istrinya pulang kampung untuk suatu keperluan selama seminggu, sedangkan adik perempuannya karena harus menyediakan makan setiap kali untukku, tidak diikutkan pulang, sehingga tinggal aku dan si gadis Lilis itu di rumah.

Rupanya kesendirian kami berdua menimbulkan suasana lain di rumah, dan hingga pada suatu pagi ketika gadis itu sedang menyapu kamarku yang kebetulan aku sedang bersiap berangkat kerja, masuklah gadis itu untuk menyapu lantai. Sebagai mana posisi orang menyapu, maka saat gadis itu membungkuk, aduhh.., rupanya perh yang sedang bercermin tersapu juga oleh pemandangan yang menakjubkanku. Dua buah melon yang subur segar terhidang di depanku oleh gadis itu, dengan sedikit basa basi gadis itu menyapaku entah sadar atau tidak dia telah menarik perhatianku karena payudaranya yang tidak terbungkus BH, kecuali dibalut baju yang berpotongan dada rendah. Dengan tidak membuang kesempatan aku nikmati keindahan payudara itu dengan leluasa melalui cermin selama menyapu dikamarku.

Menjelang dia selesai menyapu kamarku, tiba-tiba dia dekap perutnya sambil merintih kesakitan dan muka yang menampakkan rasa sakit yang melilit. Dengan gerak refleks, aku pegang lengannya sambil aku tanya apa yang dia rasakan. Sambil tetap merintih dia jawab bahwa rasa mules perut tiba-tiba, maka aku bimbing dia ke kamarnya dengan tetap merintih memegangi perutnya sampai ditempat tidurnya. Kusuruh dia rebahan dan memintaku untuk diberikan obat gosok untuk perutnya. Segera aku ambilkan dan sambil berjaga dia gosok perutnya dari balik blousenya.

Tetapi tiba-tiba saat menggosok lagi-lagi dia mengerang dan mengaduh, sehingga membuatku sedikit panik dan membuatku segera ikut memegangi perutnya dan sambil ikut mengurut juga. Dan nampak sedikit agak berkurang rintihannya, sambil masih tetap kuurut perutnya. Kepanikanku mulai hilang dan aku mulai sadar lagi akan keindahan payudara gadis itu bersamaan dengan bangkitnya perasaan gadis itu selama aku urut tadi mulai menelusuk ke tubuhnya merasakan kenikmatannya juga dan dengan tiba-tiba tanganku dipegangnya dan dibimbingnya tanganku ke taman berhiaskan buah melonnya yang subur segar dan aku turuti saja kenikmatan bersama ini untuk mengusap buah melon yang tidak terbungkus itu, dan tanganku terus menelusup diantara buah-buah itu sambil memetik-metik putingnya.

Gadis itu mulai merintih nikmat, dan erangan halus dan memberi isyarat tanganku untuk terus dan terus memilin puting buahnya yang semakin menegang. Baru aku sadari bahwa untuk kali pertama aku merasakan puting gadis yang menegang bila sedang terangsang dengan erangannya yang membuat penisku yang dari tadi ikut mengeras tambah menekan di dalam celanaku yang sebenarnya sudah siap untuk berangkat kerja, namun untuk sementara tertunda. “Eehh.. Mas.. gelii.. tapi nikmat, aahh.. eehmm aduuhh nikmat mass..” Posisi dia saat itu sambil duduk membelakangiku, dan tiba-tiba dia menyandar ke dadaku sambil menengadahkan mukanya dan mulutnya mengendus-endus leherku.

Tanpa buang waktu, mulutku pun kuenduskan ke lehernya dan selanjutnya mulut kami saling berpautan, saling mengulum dan saling menjulurkan lidah dengan penuh nafsu, sementara tanganku terus menyusuri buah-buah yang subur itu untuk meningkatkan kegairahannya, sedang tangan gadis itu mulai hilang kesadarannya oleh kenikmatan itu dengan ditandai kegairahannya untuk melepas kaitan rok bawahannya dan dilanjutkan ke kancing-kancing blousenya.

Kembali kesadaranku tertegun untuk pertama kali aku menikmati keutuhan tubuh seorang gadis yang hanya mengenakan CD-nya. Namun untuk saat itu juga aku terperanjat, “Eiitt, Lilis ini sudah jam delapan, aku harus berangkat kerja wahh, aku terlambat”, kataku. Kami saling tertegun pandang dan saling senyum tertahan dan kemudian kami berpeluk cium, sambil aku berkata, “Entar aku berangkat dan aku segera kembali, hanya untuk minta ijin kalau aku ada keperluan yahh, gimana?”.
“He.. eh, Mas entar kita terusin lagi ya Mas, tapi janji lho, ehh tapi Mas?”.
“Kenapa Nan..” tanyaku.
“Mas kemot dulu dong buah dadaku, ntar baru boleh berangkat”.
Achh lagi-lagi kenikmatan yang tak bisa ditunda pikirku, dengan “terpaksa” aku kemot putingnya dan dengan penuh gairah aku kemot buah dadanya sampai hampir merata bekas kemotan di kedua buah dadanya, sampai-sampai si Lilis tak percaya keganasanku. Kami saling melepas pelukan yang seolah adalah kerinduan yang selama ini lama terpendam.

Kebetulan kantorku hanya beberapa ratus meter dari rumah kost yang aku tempati. Selesai aku menyampaikan alasan yang dapat diterima atasanku, segera aku bergegas pulang lagi. Ketika aku sampai dirumah, yang memang setiap harinya sepi pada jam-jam kerja, maka menambah kegairahanku waktu aku membuka pintu depan yang tidak terkunci, dan langsung kukunci saat aku masuk. Tetapi pintu-pintu kamar tertutup. Maka yang pertama aku tuju adalah kamarku. Aku buka kamarku untuk ganti baju kerjaku dengan maksud akan ganti baju kaos dengan celana pendek saja.

Aku buka baju dan celanaku satu persatu, dan saat aku hanya kenakan celana dalamku, tiba-tiba dari belakang, Lilis si gadis itu sudah di belakang mendekapku dan ohh, menakjubkan.., rupanya sedari tadi dia aku tinggalkan, dia tidak lagi kenakan bajunya sambil terus menunggu di kamarku. Maka kembali kenikmatan pagi itu aku teruskan lagi, dengan saling meraba dan dengan ciuman yang penuh nafsu dan kami masing hanya mengenakan celana dalam saja, sehingga kulit kami bisa saling bergesekan merasakan dekapan secara penuh, sementara kami berpelukan dan mulut berciuman, penisku merasakan keempukan tonjolan daging di selangkangan Lilis yang seolah terbelah dua memberikan sarang ke batang penisku. Sedangkan dadaku merasakan tonjolan buah dadanya yang lembut dan torehan puting susunya di dadaku. Tanganku bergerak dari punggungnya beralih ke pantatnya yang bulat untuk aku remas-remas, sedang tangannya tetap memegang leher dan kepalaku dengan mulut, bibir dan lidah saling mengulum. Lama kami pada posisi berdiri “Eeehh.. mmaas eehh eegh enaak sayang ngg.., teruss, teruss.. gelii.. egghh eenaak” erangnya yang setiap saat keluar dari mulutnya.

Kegairahan pagi itu kami lanjutkan di lantai kamarku untuk saling berguling dan tetap saling peluk menaikkan gairah petting kami yang pertama kali di lantai kamarku. Maklum kamar indekost dengan tempat tidurku yang seadanya dan pas-pasan yang pasti kurang pas untuk kegairahan petting yang memuncak di pagi itu.

Dengan leluasa tangan kami saling bergerak ke buah dada, penis, puting dan satu hal selama ini yang jadi obsesiku adalah keinginan yang terpendam untuk mengemot puting bila melihat buah dada wanita yang sedemikian montok dan menggairahkan, maka aku tumpahkan obsesiku pada kenikmatan pagi itu untuk pertama kalinya. “Mass sayang terruss kemot pentilku.. mmaass gelii, geelii,.. eehm Mas nikmat.. terus jilatin pentilku teruss aku peengin di jilatin terus pentilku..”. Dengan penuh gairah pertama aku puaskan menjilati putingnya yang aku rasakan semakin menegang dan demikian juga dengan penisku, sambil aku gesek-gesekkan ke tonjolan daging di selangkangannya.

Aku kembali agak kaget ketika batang penisku merasa basah saat aku gesekkan di tonjolan daging selangkangan Lilis yang masih memakai CD, yang bahkan penisku sendiri belum mengeluarkan cairan sperma. Maka sambil mulutku mengemot dan menjilati puting susunya, tanganku mencoba meraba selangkangan Lilis diantara belahan daging, namun tiba-tiba dia memekik “A’aa ehh jangan dulu Mas nggak tahan gelinya”.

Maka sementara aku lepaskan kembali dan tangan ku kembali meremas buah dadanya sambil memilin-milin putingnya “Mass.. he’eh begitu kemotin pentilku teruss.., susuku diremass-re’eemas.. e’eenak eeh.. ehghhm.. yangg geli..”. Penisku terus aku gesek-gesekkan dicelah selangkangan Lilis, “eeh, eehh.. eehh.. eehh.. eeheh.. eh”. Demikian lenguhannya setiap aku gesek selangkangannya. “Mas.. tarik CD-ku dan lepaskan celanamu..”, sampai pada ucapan Lilis tersebut maka sementara kami lepas pergumulan itu sambil aku dengan ragu dan deg-degan menarik pelan-pelan CD-nya yang masih dalam keadaan telentang sementara aku duduk dan dia mulai angkat kakinya ke atas saat CD-nya mulai bergeser meninggalkan pantatnya, sambil terus kutarik perlahan-lahan dengan saling berpandangan mata serta senyum-senyumnya yang nakal, maka aku dihadapkan dengan sembulan apa yang disebut clitoris yang ditumbuhi rambut-rambut halus sedikit keriting dan bllaass, lepas sudah CD-nya tinggalah celah rapat-rapat menganga semu pink dan semu basah dengan sedikit leleran lendir dari lubang kenikmatan itu.

“Nin.. kenapa sih” tanyaku nakal, “Apanya.. Mas” sahutnya sambil senyum, “Kalau dikemot-kemot payudaranya sama pentilnya tadi”. “Aduh rasanya geli banget, rasanya kaya mau mati saja tapi nikmat iih geli”. “Enggak sakit dikemot dipentilnya tadi” tanyaku, “Enak.. Mas, rasanya pingin terus, kalau sudah yang kiri, terus pingin yang kanan, rasanya pingin dikemot bareng-bareng sama mulut Mas. Terus di liang kewanitaanku jadi ikut-ikutan geli nyut-nyutan sampai aku eeghh.. hemm gimana yach bergidik. hhmm” akunya. “Terus pingin lagi nggak dikemot-kemot?” tanyaku penasaran. “Iiih.. Mas nakal, ya.. Pingin lagi dong”, sambil tangannya merayap ke selangkanganku yang masih pakai CD, memencet penisku yang menonjol dan juga meremas. “Kalau adik Mas rasanya gimana tuh kalau kupegang-pegang gini?, geli nggak?” keingin-tahuannya besar juga. “Sama nikmat rasanya, pengin terus dielus-elus sama Lilis terus, geli eh-eh.. eh” dengan penasaran dia mengesek-gesek pas lubang penisku, jadi geli rasanya.

“Kalau ininya dipegang-pegang gini gimana Mas?” sambil dia pegang dan raba-raba buah pelirku.” Yah nikmat juga” tegasku sambil aku elus-elus pahanya yang tidak begitu putih tapi mulus. “Eh.., Mas tadi kutipu, pura-pura sakit, habis Mas kelihatannya cuek saja”, sambil dia senyum nakal menggoda. Brengsek juga nih anak batinku, nekat juga ngerjain aku. “Mas.. selama seminggu ini kita hanya berdua saja dirumah, terus gimana enaknya Mas?” tanyanya sambil iseng meremas-remas penisku yang tetap tegak sedang aku memilin-milin puting susunya yang juga tetap tegang, “Kita kelonan terus saja seminggu ini siang ataupun malam”.

Kebetulan kerjaku selama ini hanya sampai jam 14.00 sudah pulang. Dia menggoda “Terus nanti kalau kelonan terus Mas nanti nggak ada yang nyediain makan gimana dong”. “Yah nggak usah makan asal kelonan terus sama Lilis entar kenyang”. Dia bangkit dan memelukku erat-erat dan diciuminya bibirku sambil lidahnya dijulurkan ke kerongkonganku. Sambil melepas dia berkata “Mas kita kelonan lagi yuk sampai sore, terus nanti mandi bareng”. Tanganku mulai mengelus clitorisnya dan mulutku terus mengulum bibirnya dan kembali dia telentang di lantai dan aku mulai menindihnya “Mas.. kalau gini terus aku rasanya mau pingsan kenikmatan eehh.. M eghhmm.. aduuh.. nikmat Mas di memekku.. geli rasanya teruuss eeghh.. eghh”. Dan aku rasakan clitorisnya semakin basah, dan dengan lahapnya jari tengahku aku cabut dari clitnya untuk kujilati jariku dan aku rasakan nikmat gurihnya lendir seorang perempuan pertama kalinya. “Eeehh.. eennak.. aahh.. aahh uuhhgg uughhg uuhh.. ehhehh” saat jariku kembali menelusup kedalam lubang clitorisnya.

Lenguhan mulutnya dan dengus napasnya menaikkan gairahku yang kian meningkat tapi aku ragu untuk menuruti naluriku mencoba memasukkan penisku ke lubang senggamanya. Maka sementara aku tahan walupun penisku pun juga sudah semakin basah oleh lendirku juga. Aku mulai merayap kebawah selangkangannya dan mulutku berhadapan dengan clitorisnya tanpa dia sadari karena matanya terpejam menikmati gairah yang dirasakan, saat lidahku mulai menjilatlubang clitorisnya, kembali dia terpekik “aahhuughh huu.. hu.. egghh aduh.. eggh nikmat, aduhh aku gimana nih Mass aahh aku nggak kuat, Mass.. Mas.. eghh.. egh hhgeehh.. Mas.” sambil dia aku perhatikan pantat, paha, perut dan kakinya seolah kejang seperti kesakitan tetapi aku sangsi kalau dia sakit, dan malahan kepalaku dia tekan kuat ke selangkangannya sambil terus berteriak “hehehggheh ahh.. ehhehh.. huhh.. mass.. aku.. akuu rasanya.. eghh” dan dia bangkit sambil menarik CD-ku yang masih aku kenakan, dan blarr, penisku menantang tegak “Mas masukkan Mas.. eeghheghh” dan dia angkat kakinya sambil telentang dia bentangkan lebar selangkangannya sambil tangannya membimbing penisku memasuki clitorisnya. “Mas.. kocok Mas eghh Mas yang dalam.. kocok terus selangkanganku aduhh eghh Mas enakk”.

Sambil menekuk kaki, sementara tanganku sebagai tumpuan dan dengan berat tubuhku aku tindihkan dan kuamblaskan penisku ke lubang yang sedari tadi sudah menunggu, dan aku rasakan sedotan lubang yang sangat kuat pada batang penisku yang rasanya dikemot-kemot. “Eehhgehhg.. teruss. teruss Mas.. maass nikmat kocok terus aduuh rasanya aku nggak kuat mass ada yang keluar eghh.. eeghh. eehhgg aduuhh.. mass..” “ahhgg-agh.. Lilis aku aduh egghh, Lilis rasanya memekmu ngemot eghh eehhmm.. nikmat.. terus sedot” “Mass nikmat.. sekali nikmat.. dalam sekali. Aahh aduh.. hhaghhah Mass.., aku mau keluarr”. “Aku juga Nan.. ahhgh aku sudah mau keluar.. ahgghhah”. Dan aku cabut penisku saat dia demikian bergetar dan menyedot sedot penisku sehingga aku tak tahan lagi untuk menyemburkan spermaku dan saat itu aku merasa dia terlepas dari penisku, dia bangkit dan menyongsong batang penisku dengan mulutnya menyambut semburan spermaku sambil tangannya menggosok lubang clitorisnya, ditimpali dengan lenguhannya yang tidak beraturan dimulutnya “Cppokklep.. plekk.. clepk.. clkek.. cslckek” bunyi mulutnya mengemot dan menyedot penisku sementara aku terasa bergetar dan tenagaku berangsur-angsur lemas, sampai dia menjilati sisa sperma pada penisku dengan bersih.

Sesaat kemudian aku tidur ditempat tidurku siang itu kelonan berdua yang tidak terasa telah jam 3 sore, dan baru kemudian bangun dengan badan terasa agak pegal. Kami kembali berpagut lama dengan saling rabaan dan remasan masih dalam keadaan tanpa busana. Akhirnya kami mandi bersama dengan air yang sebelumnya kami. Itulah pengalaman pertama kaliku menikmati hubungan seks dengan seorang gadis kampung bernama Lilis bukan ayu ting ting.

Posted at 07:44 am by pohonmangga
Make a comment  

nikmat sekolahan

Nikmat Sekolah

“Ya…Masukkkk….!! ” Pak Dion tersenyum – senyum ketika pintu kantornya diketuk pada siang hari dimana para murid sudah berhamburan pulang, senyumannya tambah lebar mirip senyuman srigala buas yang kelaparan.
Dua orang muridnya yang cantik datang menyerahkan diri, cukup lama Pak Dion mengintai mangsanya dan akhirnya kerja kerasnya berhasil dengan gemilang, bayangkan betapa berat ia mencurahkan seluruh pikiran dan tenaganya siang dan malam demi dapat menikmati santapannya yang lezat dan nikmat.

Pak Dion tidak pernah merasa memaksa mereka, ia memberikan dua pilihan sebagai bentuk “demokrasi” ciptaannya, serahkan keperawanan kalian atau rekaman kalian akan segera beredar luas. Pak Dion mengunci pintu kantornya, kemudian segera menarik pergelangan tangan kedua gadis itu, dengan santai ia menyuruh keduanya agar duduk di atas meja, sedangkan ia sendiri duduk di atas kursi empuknya tepat di hadapan mereka. Anita dan Veily saling memandang kemudian tertunduk lesu tanpa daya.

“Kalian kenapa sichhh….??? Koq lemas gitu, padahalkan kalian ini biasanya hot banget……, sampe ngecrot barengan..He he he” Pak Dion terkekeh-kekeh, tangannya menyibakkan rok seragam Veily.
“Ehhhh….!! ” Pak Dion merasa tersinggung ketika Veily menepiskan tangannya, senyuman mesum mendadak hilang dari wajahnya, sambil menggeram ia bangkit dari kursinya dan
”Plakkkkkk!!! “
“Dengar baik-baik, bapak bisa melakukannya dengan kasar kalau kalian terus seperti ini, dasar murid tidak tahu diuntung, disuruh belajar yang enak-enak malah ngak mau, jarang bapak memberikan kesempatan seperti ini…!!”
“Jangan pakkk, jangan, tolong….jangan” Anita menahan tangan pak Dion yang melayang hendak kembali menampar wajah Veily.
“Hmmmmmhhh…….” Pak Dion mencoba meredakan emosinya.
“Baiklah, nama kamu Anita ya ??” Pak Dion membelai kepala gadis itu, Anita mengangguk kecil.

“Sekarang coba kamu ciuman dengan Veily, Bapak pengen lihat langsung, pengen nonton lesbian live show, hehehe….”

Anita menekan perasaannya, kemudian bibirnya mengejar bibir Veily, nafas Veily memburu antara marah dan nafsu yang perlahan-lahan mulai menggoyahkan, menghancurkan rasa marah dan kebencian dihatinya. Sang nafsu mengupas kemudian membasuh rasa marah di hati Veily, perlahan-lahan sang nafsu melemparkan jauh-jauh rasa risih yang mengganjal di dalam hati kedua pasangan lesbi itu, Pak Dion tersenyum kemudian duduk kembali di atas kursinya, berkali-kali kepala sekolah bejat itu menelan ludah ketika menyaksikan Anita dan Veily saling melumat dengan mesra

“Ckkk Ckkkk.. Ckkkkk…..” suara bibir kedua muridnya yang cantik terdengar saling berdecakan ketika mereka saling melumat dan mengulum.
Veily merapatkan kedua kakinya ketika merasakan rok seragamnya disibakkan ke atas oleh Pak Dion, pria itu tersenyum sambil menyibakkan rok seragam Anita.

“Ha Ha Ha.., wahh,!!, Ck ck Ck ” Pak Dion berdecak kagum sambil menatap tajam dua pasang paha kedua muridnya yang putih dan mulus, tangan kirinya bermain dipermukaan paha Anita sedangkan tangan kanannya bermain di permukaan paha Veily. Posisi kedua kaki yang merapat itulah yang sengaja dimanfaatkan oleh Pak Dion untuk meloloskan celana dalam kedua muridnya.
Tangan Pak Dion memaksa kedua paha Veily untuk mengangkang, ia menatap wajah Veily dengan tatapan sinisnya, kepala sekolah bejat itu merasa di atas angin karena Veily hanya terdiam pasrah tanpa daya, menatapnya dengan tatapan putus asa.

“Awwww…..!! ” Veily memiawik kaget ketika jari tangan Pak Dion mengusap selangkangannya yang mengangkang, tubuhnya tersentak seperti tersengat listrik merasakan usapan kurang ajar itu.
Wajah Veily merah padam, baru pertama kali ini selangkangannya dielus oleh jari tangan laki-laki, bahkan kini jari-jari itu mulai menghampiri selangkangannya kembali, nafas Veily semakin berat, berkali-kali Veily merasakan tubuhnya menggigil , dan merinding hebat.

“Nah Veily, coba sekarang kamu buka bajunya Anita…” Pak Dion memerintahkan Veily, perlahan-lahan ia melaksanakan perintah Pak Dion, tangannya mulai melepaskan kancing baju seragam Anita kemudian menarik lepas baju seragam temannya.

“Sekarang buka BH-nya….” Pak Dion memberikan instruksi lebih lanjut dan Veily melaksanakan instruksi Pak Dion, Anita merapatkan kedua kakinya sambil menyilangkan tangankirinya di depan dada berusaha menyembunyikan buah dadanya yang terekspose dengan bebas, sedangkan telapak tangannya yang satunya lagi berusaha menutupi wilayah intimnya.”bagus.., bagus.. Ha Ha Ha” Pak Dion tertawa senang.

“Nah, Sekarang giliran Anita….., Buka baju ama BH-nya Veily…” Pak Dion meleletkan lidahnya ketika Anita mulai melaksanakan instruksinya.
“Luar biasa….!!” mata Pak Dion berbinar-binar menatap keindahan tubuh Veily dan Anita.

Tangan Pak Dion mencekal pergelangan tangan Veily dan Anita kemudian menyuruh mereka untuk berlutut di sisi kanan dan kirinya.

“Oke.., sekarang biar bapak ajarkan, mata pelajaran pertama yang sangat penting bagi kalian berdua, yaitu belajar menservice penis laki-laki, ” Pak Dion cengengesan dengan wajahnya yang menyebalkan.

“Seperti biasa dan pada umumnya sebelum belajar kita harus membuka buku terlebih dahulu, sebab bagaimana kita mau belajar kalau bukunya tidak kita buka, iya tohh…, nah, karena ini tentang penis, maka bapak sarankan kalian mulai membuka celana bapak… ayooo tunggu apa lagi sih!!! “Pak Dion membentak karena Anita dan Veily tidak menyimak pelajaran darinya.

Mereka saling berpandangan kemudian perlahan-lahan mereka mulai membagi tugas, Veily membuka ikat pinggang Pak Dion sedangkan Anita menarik resleting celananya “Srerrtttt…..!! ” , bersamaan mereka menarik celana panjang Pak Dion sampai terlepas, kini hanya celana dalam itu sajalah yang menutupi selangkangan Pak Dion.

Veily dan Anita memalingkan wajah mereka ketika Pak Dion meraih sesuatu dari balik celana dalamnya. “Sekarang kita mulai pelajaran kedua dengan topik, tanpa keberanian maka semuanya sia-sia, oleh karena itu dalam pelajaran kedua ini kalian harus berani mempergunakan mata kalian, coba lihat benda Bapak yang hebat ini HE HE HE”

“Ayo Anita jangan malu gitu dong ahh, harus berani kaya Veily…” Pak Dion membujuk Anita agar mau menatap batang kemaluannya.

“Ihhhh…gede amat….” Anita tanpa sadar mengungkapkan isihatinya.

“Nah sekarang , selain sebagai alat perasa lidah juga mempunyai fungsi lain, demikian pula dengan fungsi mulut kalian selain untuk makan tentu ada gunanya….juga dalam pelajaran yang satu ini,, julurkan lidah kalian…” Pak Dion tersenyum sambil menekankan kepala Veily dan Anita kearah batang kemaluannya.
“Nahhh…, Ayo belajar baik-baik, dijilat, dihisap…, diciumin….” Pak Dion menyandarkan punggunya bersandar pada kursi empuknya. Sesekali terdengar suara Anita dan Veily yang terbatuk-batuk, mereka belum terbiasa menghirup aroma kemaluan pria yang menyengat.

“Bagus, cukup pandai.., ” Pak Dion mengelus-ngelus kepala Veily dan Anita, bergantian mereka mengecup-ngecupi buah zakar Pak Dion, lidah mereka terjulur-julur keluar menjilati permukaan batang kemaluan Pak Dion yang berwarna hitam kecoklatan.

“Nahh, ini juga dicobain.., kamu pasti suka…” Pak Dion menekan kepala Anita sambil menjejalkan kepala kemaluannya, sementara Veily menatap Anita yang sedang menghisap-hisap kepala kemaluan Pak Dion, mulut Anita bedecakan ketika melumat-lumat puncak kepala kemaluan Pak Dion, sementara kedua tangan Anita menggenggam penis Pak Dion yang besar.
“Anitaaaaa, jangan serakah gitu dong, ayo biar sekarang Veily yang nyicipin ****** Bapak…..”

Anita melepaskan kemaluan Pak dion kemudian menyodorkannya pada Veily, sebentar Veily menatap kepala kemaluan Pak Dion sebentar kemudian menolehkan wajahnya menatap Anita seolah-olah bertanya seperti apa rasanya. Anita menganggukkan kepalanya seolah meyakinkan Veily kalau mainan baru yang satu ini ternyata sangat mengasikkan. Perlahan lidah Veily terjulur keluar dan memijati kepala kemaluan Pak Dion sebelum memasukkannya ke mulut, Hmmmmm ternyata seperti inilah rasanya kepala penis laki-laki, asin, kenyal,dan gurih. Bergantian Anita dan Veily menservice kemaluan Pak Dion, mulai dari buah zakar, batang kemaluan dan juga kepala kemaluan Pak Dion.

Pak Dion menarik tubuh Anita kemudian membaringkannya kembali di atas meja, tangannya mendekap pinggul Anita dan menggusup pinggul gadis itu sampai posisi vagina gadis itu pas untuk disodok oleh batang kemaluannya, kepala sekolah bejat itu kemudian sibuk berusaha melakukan penetrasi pada lubang vagina Anita yang masih rapat.

“Aaaakkhhh……!! ” Anita membeliakkan matanya ketika merasakan batang kemaluan Pak Dion mulai terbenam, membelah jepitan vaginanya dengan perlahan-lahan.

“Arhhhhh………, Owwwww….. Hkk Hkkkk” Anita menolehkan kepalanya kesamping ketika merasakan seseorang menggenggam lembut tangannya.
“Veilyyyyy….,Ahhhh.., “Anita memiawik sambil menggenggam erat tangan Veily ketika merasakan kepala kemaluan Pak Dion merobek-robek selaput perawannya, Veily membelai-belai kepala Anita, berusaha menenangkan Anita yang sedang diperawani oleh Pak Dion.

Pak Dion terkekeh-kekeh sambil semakin dalam membenamkan batang kemaluannya sampai mentok kemudian ditariknya perlahan-lahan kemudian disodokkannya masuk sekaligus kedalam jepitan vagina Anita.
“Pelan-pelan Pakkk, ” Veily memohon memelas pada Pak Dion, agar Pak Dion menyetubuhi Anita dengan lebih lembut.

“Boleh, tentu boleh…!! Tapi… syaratnya kamu juga harus ikut ngegarap Anita…., kalo nggak Bapak sodok dia kayak gini !! Hihhhhh…..!! ” Pak Dion menggenjot vagina Anita dengan kasar sampai Anita memiawik – mekik kesakitan.
“Jangan…!!, Jangannnn Pakkkk!!, Saya lakukan…..” Tangan Veily menahan gerakan pinggul Pak Dion yang sedang menggenjot-genjot vagina Anita.
Pak Dion tersenyum-senyum ketika Veily mulai duduk di pinggiran meja menghadap ke Anita yang terlentang pasrah, tangan Veily mengelus-ngelus payudara Anita, diusapnya payudara Anita sampai gadis itu menggeliatkan tubuhnya karena kegelian.

“Veil…” gadis itu merintih lirih ketika merasakan remasan-remasan lembut pada gundukan buah dadanya,

”Ahhhh…………… ” Anita mendesah ketika merasakan tangan Veily mencubit putting susunya kemudian mulai menarik-nariknya dengan lembut, sementara Pak Dion mulai mengayunkan batang kemaluannya dengan lembut. Ditekankannya batang kemaluannya yang besar dan panjang itu dalam dalam kemudian perlahan-lahan kembali ditariknya sampai sebatas leher penis kemudian ia kembali menekankan batang kemaluannya dalam-dalam sampai mentok.

“Ahhh…, Ahhhhhhh, Veily” Anita merintih sambil mendekap kepala Veily yang sedang mencumbui puncak payudaranya.

Mulut Veily mengecupi buntalan payudara Anita yang padat dan kenyal, lidahnya terjulur keluar menjalari permukaan payudaranya kemudian menjilati puttingnya sebelum melumat dan mengenyot-ngenyot puncak payudara Anita dengan kuat. Serangan Veily di buah dadanya dan juga genjotan-genjotan lembut Pak Dion akhirnya meruntuhkan dinding pertahanan Anita, dinding itu jebol ketika denyutan-denyutan kenikmatan menerjang tanpa ampun.

“Ahhh… Crrr Crrrrr.. Crrrr…..” Anita memejamkan matanya, Veily agak tercekat ketika menatap Anita, bibirnya agak terbuka sambil mendesis pelan “Ohhhhhhh, nikmatnya……….”

Anita tidak lagi merintih kesakitan ketika Pak Dion mulai melakukan genjotan-genjotan yang agak kuat dan kencang, “Crepppp… Crepppp… Creppppp…” Benda besar dan panjang itu keluar masuk membelah vagina Anita
“Ahhhh Ahhhh Ahhhhh Awwwww….” Anita memiawik – mekik kecil keenakan, tusukan-tusukan pak Dion terasa semakin nikmat, terkadang ia menjerit keras dengan liarnya.

“Anitaa ??!! ” Veily tercengang , Anita yang ia kenal tidak seperti ini, Ohh, kenapa ? apakah tusukan-tusukan batang kemaluan Pak Dion yang membuat Anita berubah menjadi liar seperti ini ???

“Ennnhh Ennnnh Ennnhh… Aaaaaaa” Anita semakin keras merengek ketika Pak Dion semakin kuat menggenjot-genjotkan penisnya.

“Arhhhhh….!! “Anita mengerang keras ketika penis Pak Dion mengaduk-ngaduk vaginanya, pria itu tampak semakin bernafsu menyodok-nyodokkan batang kemaluannya.

“Oahhhhhhh…., Hshhhhhhhh……Hshhhhhh” Anita mendesis-desis, sungguh sulit menahan nikmatnya sodokan-sodokan penis Pak Dion yang membuat Anita berkali-kali terperanjat seperti terkena sengatan listrik tegangan tinggi, dan pada sentakan terakhir ia memiawik kecil

“Ahhhhh…, Pak Dionnnn, Crrr Crrrrr…….” tubuh Anita mengejang beberapa detik sebelum akhirnya terkulai dengan lemas, Pak Dion menghela nafas panjang sambil meremas-remas buah dadanya, kepala sekolah bejat itu menarik batang kemaluannya dari dalam jepitan vagina Anita. “Plophhhh”
“Veily.., sekarang giliran kamu he he he” Pak Dion memerintahkan Veily agar duduk di atas kursi empuknya.

“Ayooo…, ngak apa-apa koqq…” Pak Dion membimbing Veily dengan paksaan, dibukanya kedua lutut Veily agar mengangkang ke samping, gadis itu berusaha mengumpulkan keberaniannya ketika kepala Pak Dion menunduk dan mendekati wilayah intimnya, Veily merasa risih ketika merasakan hembusan-hembusan nafas pak Dion yang memburu menerpa permukaan vaginanya.
“AHHHHH…!! ” Veily tersentak ketika merasakan sebuah jilatan dibibir vaginanya, tubuhnya menggigil hebat ketika merasakan ulasan-ulasan lidah Pak Dion menjilati dan mengorek-ngorek belahan vaginanya.

“Slllcckkkk….Sllllcccckkkkk… Slllccckkkkk!! “
“Ennnhhhhhh……” Tubuh Veily kelojotan ketika mulut Pak Dion tiba-tiba mengenyot-ngenyot bibir vaginanya “Uhhhhh!! Crrrr Crrrr Crrrrr” Cairan kenikmatan itu berdenyut berkali-kali dan semuanya habis dikenyot dan ditelan oleh Pak Dion.

“He he he…, Nyamm, Gurih…, Ehmmm” Pak Dion mengangkat kepalanya ,
Veily terdiam dengan wajah merah padam, ketika si kepala sekolah bejat itu berhasil membuatnya mencapai puncak klimaks.

Veily menolehkan kepalanya ke kiri ketika Pak Dion mulai mengarahkan batang kemaluannya pada bibir vaginanya, Veily merintih ketika merasakan gesekan-gesekan kepala kemaluan Pak Dion yang menggeseki belahan vaginanya.

“AHHHHH………!! ” gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat ketika merasakan belahan vaginanya dipaksa melar pada saat kepala kemaluan Pak Dion mulai melakukan penetrasi, tubuhnya melenting kemudian terhempas begitu saja.

“Hsssshhhhh…… Awwww…..!! “Veily menatap Wajah Pak Dion sambil berusaha menahan gerakan pinggul Pak Dion, Pak Dion tertawa senang sambil menikmati jepitan vagina Veily pada leher penisnya.

“Uuuuhhhh……” bibir Veily meruncing ketika merasakan penis Pak Dion mulai menekan untuk masuk lebih dalam, Veily menggeliat-geliat resah, bibirnya terus mendesis-desis tanpa henti.
“Awwww…., Aduhhhhh……” Veily mengernyit kesakitan ketika kepala kemaluan Pak Dion bersuka ria merobek-robek selaput daranya,

Sambil meremas induk payudara Veily, Pak Dion menyentakkan batang kemaluan kuat-kuat.”Owwwww……!! “Veily terkulai lemas di atas kursi empuk dengan sebatang penis Pak Dion yang besar dan panjang tertancap dalam-dalam di lubang vaginanya. Air mata meleleh dari sudut matanya, gadis itu terisak menangis sambil menatap wajah Pak Dion, betapa menyebalkannya wajah pria itu, dasar bajingan!! keparat!!

Veily mengumpat dalam hati.
Pak Dion menarik penisnya perlahan-lahan kemudian kembali disodokkannya sekaligus, bibir vagina Veily sampai terlipat kedalam ketika batang kemaluan yang besar dan panjang itu menyodok masuk dengan paksa.
“Hemmmppphhh…..” Veily bertahan agar dirinya tidak berteriak, ia tidak ingin si keparat ini terkekeh senang mendengarnya memiawik-mekik tanpa daya dalam genjotan-genjotan batang kemaluannya.

Pak Dion menggeram kemudian semakin kasar dan liar menarik dan membenamkan batang kemaluannya, begitu kasar, liar dan brutal,
“Clepp.. Cleppp Cleppp….”

“Oawwwww….!! Ampunnn… Pakkkk!! Ampunnnn Ohhhhh” Veily tidak sanggup lagi menahan genjotan-genjotan kasar Pak Dion, Pak Dion malah semakin mempercepat genjotannya, sambil sesekali tertawa senang mendengarkan jeritan-jeritan kecil Veily.

“HHhhsshhh…..” Veily berusaha mengambil nafas sebanyak mungkin ketika Pak Dion membenamkan batang kemaluannya dalam-dalam dan berhenti bergerak, kedua tangan Pak Dion meremasi induk payudara Veily yang sudah basah oleh lelehan cairan keringat, dijepitnya putting susu gadis itu kemudian dipilin-pilinnya putingnya yang sudah meruncing keras. Pak Dion mencekal tungkai lutut Veily sebelah bawah dan mendorong sambil mengangkangkan kedua kaki gadis itu. Posisi kaki Veily mirip huruf “M” yang sangat indah. Veily meringis ketika Pak Dion menarik kembali batang kemaluannya, gadis itu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Ahhh, AHHHH, Owwww…! Owwwww!” Tubuh Veily tersentak-sentak dengan kuat ketika Pak Dion kembali menggenjot-genjot kasar lubang vagina Veily yang seret dan sempit.

“Ahhhh, kenapa ini ??, Ohh, Ampun, enak bangetttt…..” Veily membatin ketika merasakan genjotan-genjotan Pak Dion yang kasar dan brutal terasa semakin enak. Apa ini yang dirasakan oleh Anita, Hmm, pantesan Anita malah mendesah-desah keenakan ketika digenjot-genjot oleh batang kemaluan Pak Dion.

“Ahhhh… Pak Dionnnn, Ahhhhhh….” Veily menatap sayu wajah Pak Dion, menatap laki-laki gemuk itu mengayunkan batang kemaluannya yang besar dan panjang.

“He He He, Gimana pelajaran khusus dari bapak ?? rasanya enak bukan ?? Kamu harus bersyukur dan berterimakasih sama Bapak, nggak semua murid perempuan mendapatkan kesempatan emas ini !!!, Cuma yang cantik-cantik aja, HA HA HA HA” Pak Dion mencekal pinggang Veily kuat-kuat kemudian menghentak-hentakkan batang kemaluannya dengan liar dan brutal sampai Veily melolong panjang “Owwwwww…………hhhhhh”

“Hemmmmmffffff… Ucchhhhh….?” Veily mendesah-desah ketika tiba-tiba lubang vaginanya berkedut-kedut dengan nikmat, ada sesuatu yang keluar tanpa dapat ditahan atau dicegah, semuanya terjadi begitu saja, begitu lega, nyaman, kenikmatan itu membuat Veily merinding.”OHHH…, nikmat banget sichhh……” tanpa sadar Veily mendesis lirih.

Pak Dion meraih pundak Veily kemudian menarik tubuh gadis itu ke arahnya sambil melakukan kocokan-kocokan lembut. Kepala sekolah bejat itu menciumi bibir Veily yang terus mendesah-desah, sesekali dilumatnya bibir gadis itu.

“ckkkk… Ckkkk… Cllllkkkkk, Ohhh,, Hsshhh Ahhh Ckkkk..”

Suara decakan-decakan itu bercampur dengan desahan dan rintihan Veily yang semakin manja dan menggairahkan.Pak Dion menolehkan kepalanya pada Anita yang sedang duduk di pinggiran meja sambil menonton perbuatan mesum antara Pak Dion dan Veily.

“Anita sini…” Pak Dion memanggil Anita, perlahan-lahan Anita mendekati pak Dion.

Kepala sekolah bejat itu menarik pergelangan tangan Anita agar gadis itu ikut berlutut disamping tubuhnya yang gembrot, dengan santai lengan Pak Dion melingkari pinggang Anita, setelah mengecup pipi Anita, Pak Dion kembali menggenjotkan batang kemaluannya menerjang lubang vagina Veily. Veily menatap Anita dengan tatapan matanya yang sayu, berkali-kali bibirnya mendesah-desah lembut, terkadang mengerang lirih, nafas Anita semakin memburu, gadis itu menundukkan tubuhnya dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Veily. Dengan lembut Anita melumat bibir Veily.

“Ha Ha HA…, Bagus, Bagus….! ” Pak Dion tertawa senang, sambil menatap kedua muridnya yang lesbi saling berpelukan dan berciuman dengan mesra, kepala sekolah bejat itu menatap pantat Anita yang agak menungging di sisinya, sambil mengocok vagina Veily Pak Dion mencari cari kelentit Anita.

“Offffffhhh…, Ahhhh, Ahhhh Ckk Ckkk….” Anita mendesah-desah ketika merasakan kelentitnya diurut-urut oleh Pak Dion, sementara Veily mendesah resah karena lubang vaginanya terus digenjoti oleh si keparat Dion.

“Ahhhh Ahhhhh… Pak Dionnn…..”
“Aduhhh… duhhhh Ahhhhhh… Awwww”

Rintihan-rintihan kedua murid yang cantik itu terkadang disela oleh suara tawa pak Dion yang terkekeh-kekeh keenakan, erangan dan desahan-desahan manja semakin sering terdengar dari bibir mereka.

“Aaaaa…. Hemmmm CRRTTT CRRRRTTT”
“Aduhhhh… AAAAAAA…. Crrr Crrrrr…….”

Pak Dion semakin pede ketika berhasil merobohkan kedua muridnya yang cantik sekaligus. Ia lalu mencabut batang kemaluannya.

“Ehmmm, He he he…..kalian haus??” Pak Dion bertanya pada kedua muridnya, Anita dan Veily menganggukkan kepala sambil menatap dengan pandangan memohon.

“Ayo kalian bersujud di depan ****** Bapak….” tangan kanan Pak Dion berkacak pinggang sedang kan tangan kirinya memegang sebotol teh botol yang sudah dibuka, perlahan-lahan Anita dan Veily berlutut di hadapan penis Pak Dion.

“Kalian boleh minum tapi harus lewat ****** Bapak, ya itung-itung ngerasain teh botol rasa baru,” Pak Dion memiringkan teh botol ditangannya tepat pada Batang Penisnya yang sengaja diarahkan pada wajah kedua muridnya yang cantik.

Anita dan Veily terdiam sambil menatap sedikit air teh yang mengucur di ujung kemaluan Pak Dion, antara rasa haus dan harga diri, itulah yang harus dipilih oleh mereka.

“Gluk… Ceglukk…” berkali-kali Veily dan Anita menelan ludah berusaha membasahi kerongkongan mereka yang terasa kering dan panas sedangkan sedikit air teh yang mengucur di ujung penis Pak Dion begitu menggoda mereka.
“Slccckkk… Slllccckkkk,, Glekkk,,, Srrrrrrpppp… Srrrpppp” Veily langsung menyeruput air teh yang mengucur di ujung penis Pak Dion, untuk mengghilangkan rasa dahaga yang menyiksanya.

“HA HA HA HA HA HA…..” Pak Dion tertawa senang, suara tawanya semakin keras ketika Anita mengikuti jejak Veily.

“Buka mulut kalian lebar-lebar….” Pak Dion memerintahkan agar Veily dan Anita membuka mulut mereka, ia mengarahkan kepala kemaluannya pada mulut Anita yang ternganga, kemudian menuangkan air teh melalui batang kemaluannya

“Cerrrrrrr………” terdengar suara air teh yang sedang mengisi rongga mulut Anita, selesai mengisi mulut Anita, Pak Dion mengarah kepala kemaluannya untuk mengisi rongga mulut Veily.

“Glukkk… Glukk”
“Ceglukk…. Gluk”

Anita dan Veily yang kehausan menelan air teh di rongga mulut mereka, pak Dion berulang kali mengisi mulut kedua muridnya yang terus menganga kehausan.

“Nahhh, gimana rasanya ?? teh botol rasa ****** , HA HA HA” Pak Dion tertawa terbahak-bahak, ada sensasi tersendiri ketika melecehkan kedua muridnya yang cantik.

Pak Dion mencekal pergelangan tangan kedua muridnya dan menarik mereka berdua berdiri, “Nahhhh , kalian sudah belajar dient*t dan terus terang, Bapak sangat salut pada kalian berdua, memiaw kalian rasanya enakk banget…, seret, peret pisannn…, top abis dahhhh….!! TWO THUMB UP BUAT memiaw KALIAN !! ” (Hemmmmm??? Waduh….kayaknya istilahnya familiar amat ^^ )

“Setelah pelajaran dient*t, kurang sreg rasanya jika kalian tidak belajar untuk melakukan pembalasan…., nah ini dia pelajaran selanjutnya, kalianlah yang harus belajar ngent*tin Bapak…. He he he…..” Pak Dion menarik Veily dan Anita ke arah kursi sofa panjang di ruangan kepala sekolah yang biasanya dipakai untuk menjamu tamu.

Tubuh Pak Dion duduk santai di atas kursi sofa, Veily dan Anita saling berpandangan. Harap-harap cemas, berharap untuk kembali menggapai puncak kenikmatan namun cemas menghadapi sodokan-sodokan maut pak Dion.

“Nah, Anita…, Coba kamu naik kemari,”
Anita menaiki tubuh Pak Dion, kedua tangannya berpegangan pada bahu pak Dion untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, Posisi Anita Mirip seperti Orang yang sedang berjongkok untuk buang air kecil.

“Oke, sekarang kamu dudukin kepala ****** Bapak Pakai memiaw Kamu…, Ayooo…, jangan ragu-ragu….”Pak Dion membantu dengan menarik pinggang Anita untuk turun.

“Sllllleeeeeppppphhhhh ” Perlahan-lahan kepala kemaluan Pak Dion kembali membelah vagina Anita. “Aaakkhhh….” kepala Anita terangkat keatas sambil mendesah panjang merasakan batang kemaluan Pak Dion kembali tertancap di lubang vaginanya, Anita berusaha menekankan vaginanya ke bawah, lelehan keringat kembali bercucuran membasahi tubuh gadis itu.

“Sekarang kamu ayun-ayunkan pinggul kamu… Ayoo…” Pak Dion menanti aksi Anita selanjutnya, sambil menggigit bibir Anita mulai bergerak mengayun-ngayunkan pinggulnya.

“Lebih cepat !!.. Lebihhh kuatttt….!! ” Pak Dion menyemangati Anita agar lebih aktif lagi melakukan Pr-nya.

“Ayoo,,, terusss,,!! perkosa Bapak, Anita…,!!” Pak Dion membantu Anita dengan menarik-narik pinggulnya untuk turun dengan lebih cepat dan kuat.
“Pakkk… Dionnnn!! Enakkkk…, Pakkkkkk….” Anita menjerit liar, sambil menghempas-hempaskan pinggulnya dengan lebih cepat.

Payudara Anita yang membuntal padat bergerak-gerak dengan indah di dadanya, Pak Dion Langsung mencaplokinya bergantian dari yang kiri dan yang kanan.

“Utsssss….!! Crr Crrr Crrrr…..” gerakan Anita tiba-tiba terhenti, tubuhnya mengejang , Anita merintih lirih dan terkulai lemas dalam dekapan Pak Dion.
Pak Dion mendorong tubuh Anita kesamping kanan, gadis itu bersandar lemas dengan posisi kedua kakinya sedikit mengangkang.

“Ayo.., Veily sekarang kamu yang berlatih….”

Pak Dion terkekeh-kekeh sambil membantu memegangi pinggang Veily yang berusaha menaiki tubuh Pak Dion yang gembrot.

Nafas Veily memburu kencang ketika merasakan kepala kemaluan Pak Dion yang tidak tahu malu itu kembali menerobos Belahan Vagina gadis itu.

“Ahhhh…. Hsssshhhhhhh…..” Veily mendesis, tubuhnya melenting ke belakang sehingga buah dadanya semakin menonjol, sebuah kesalahan fatal karena Pak Dion justru memanfaatkan moment tersebut untuk mencaploknya, rakus sekali pria itu melumat-lumat payudara Veily yang segar sampai itu sepuas-puasnya.
“Nahhh, ayoo, mulai berlatih…!! ” Pak Dion sudah tidak sabaran ingin mewariskan pelajaran penting untuk Veily.

“Susah Pakkk, susahhhhh…..” Veily tampak kesulitan

“Makanya jangan terlalu tegang begitu santai saja…. Ayo coba lagi…Bapak yakin kamu bisa melakukannya !! “
“Hsssshhh… Ahhhhh Haaaaasssshhhh….” Veily mulai dapat melakukan tugasnya dengan baik, bahkan lebih pandai dari Anita karena Veily tampak lihai menggoyang-goyangkan pinggulnya seperti orang main hulahop.
“Wahhhhh…, rupanya kamu punya bakat terpendam!! ” Pak Dion tersenyum sambil meremas buah dada Veily.

“Ahh Ahhh Ahhh….” Veily mulai belajar untuk menghempas-hempaskan pinggulnya, gadis itu menjerit-jerit liar sambil merengek-rengek manja
“Wahhh…, kamu nangtang Bapak rupanya..,,, Baik bapak layani…!!” Pak Dion menyodokkan batang kemaluannya ke atas ketika Veily menghempas-hempaskan vaginanya kebawah.

“Ohhhh…., Pakkkk!!, Lebih kerassss….!! Ahhhhh terusss Pakkk…” Veily sudah kehilangan jati dirinya, yang ada hanyalah kenikmatan demi kenikmatan yang terasa ketika vaginanya disodok-sodok oleh batang kemaluan Pak Dion.
“AHHHHH……!! Crrr Crrrr” Veily mengalungkan kedua tangannya pada leher Pak Dion sambil menghempaskan vaginanya kebawah kuat-kuat, nafasnya tersendat-sendat ketika cairan-cairan kenikmatan itu berdenyut keluar.

Veily menolehkan kepalanya ke belakang ketika merasakan pinggulnya di dorong ke samping oleh seseorang, rupanya Anita ingin melanjutkan permainan barunya. Veily sedang asik-asiknya menonton Anita yang sedang menghempas-hempaskan pinggulnya dengan liar ketika terdengar bunyi

“Cklekkk…..!!”
“Owww….!! ” Veily dan Anita berseru terkejut ketika seseorang menerobos masuk diikuti beberapa orang guru di sekolah itu.
“Ohhhh…, Pak Agunggg….!! Silahkan….” Pak Dion mempersilahkan Pak Agung untuk masuk.

“Wahhhh…, lagi asik rupanya, Maaf nih saya jadi menggangu Pak Dion ” Pak Agung menutup kembali pintu ruangan itu.

“Ohhh, Tidak apa…, saya justru senang Pak Agung mau ikut bergabung, dan memberikan informasi penting tentang korban kita berikutnya… he he he” Pak Dion terkekeh-kekeh sambil meremas-remas buah pantat Anita.

Tampaknya akan segera terjadi pertempuran tidak seimbang, antara Anita dan Veily melawan Pak Dion cs. Setelah mengunci pintu Pak Dede, Pak Ahmad, Pak Djono dan Pak Agung mulai melepaskan pakaian mereka masing-masing, Empat batang kemaluan teracung-acung mendekati mangsa mereka.

Pak Djono menggesek-gesekkan kepala penisnya pada belahan pantat Anita yang halus lembut. Pak Dion terkekeh – kekeh sambil mendekap punggung Anita kuat-kuat agar posisi Anita lebih menungging. Pak Djono menekankan kepala kemaluannya kuat-kuat pada lubang anus Anita. Gadis itu mengerang, lubang anusnya mengkerut ketakutan sehingga kepala kemaluan Pak Djono sulit melakukan penetrasi.

“Hemmmm,masih susah…He he” ujung jempol kanan Pak Djono menekan kuat-kuat pinggiran anus Anita berusaha agar lingkaran anus gadis itu sedikit melar dan merekah, kemudian tangan kiri Pak Dion mengarahkan ujung kemaluannya pada lubang anus Anita dan menekan lubang yang sedikit merekah itu kuat-kuat.

“AWWWWWW….!” Anita menjerit keras kesakitan ketika dengan satu sentakan yang kuat kepala kemaluan Pak Djono menjebol lubang duburnya,
“Arrrhhhhh… Arhhhhhhh…. Errrrhhhhhh” Anita berulangkali ketika Pak Djono menekankan batang kemaluannya lebih dalam menyodomi lubang anus Anita.
“Hegghhhhh…..” Mata Anita membeliak kemudian terpejam rapat disertai rintihan-rintihan kecil ketika merasakan batang kemaluan Pak Djono memasuki lubang anusnya lebih dalam dan lebih dalam lagi, sampai akhirnya pantat Anita bergesekan dengan perut Pak Djono.

“Ahhh Ahhh Ahhhh Ahhhh….” Terdengar suara-suara menggairahkan dari bibir Anita ketika dua batang kemaluan itu berlomba menyodok-nyodok lubang vagina dan lubang anusnya.

“Creppp Creppp Crepppp….”
“Plokkk… plokkkk… Plokkkk” Suara lubang vagina dan lubang anus Anita yang sedang dikocok habis-habisan oleh batang kemaluan Pak Dion dan Pak Djono.
Pak Agung mencekal pergelangan tangan Veily dan menarik gadis itu untuk berdiri, kedua tangan Pak Agung membelit pinggangnya kemudian dengan nafsu yang menggelegak bibir Pak Agung mencaplok bibir gadis itu, tubuh Veily melenting-lenting ke belakang ketika Pak Agung melumat dan mengulum-ngulum bibirnya, Veily mendorongkan kedua tangannya pada bahu Pak Agung, murid cantik itu berusaha melepaskan lumatan Pak Agung dari bibirnya, setelah berusaha beberapa saat…..

“Auhhhh… Ohhhh… Hmmmm Hmmmmm” bibir Veily akhirnya terlepas dari lumatan Pak Agung yang ganas dan liar, namun hanya sesaat sebelum akhirnya bibir Veily kembali menjadi bulan-bulanan Pak Agung.

“Hemmm… Mhhh… Mmmmmhhhhh” kali ini Veily lebih sulit untuk melepaskan bibirnya karena tangan kiri Pak Agung menekan belakang kepala gadis itu kuat-kuat, Pak Agung yang atletis, berotot, dengan kulitnya yang kecoklatan mendekap erat-erat tubuh Veily, sambil terus melakukan lumatan-lumatan dan kuluman kuluman mautnya, sampai hati Pak Agung puas.

“Uhhhh….” Veily pasrah ketika tangan Pak Agung yang kekar mendekap pinggulnya kemudian mengangkatnya keatas, Pak Agung yang berotot mirip Ade Rai mendesakkan tubuh Veily kesudut ruangan. Tubuh Veily tergantung di udara, posisi buah dada Veily pas banget di hadapan wajahnya.

Perlahan-lahan Pak Agung menjulurkan lidahnya dan menjilat lembut putting susu Veily yang berwarna pink kecoklatan. Nafas Veily semakin tidak beraturan ketika merasakan jilatan-jilatan Pak Agung yang lembut bergantian di kedua puncak payudaranya, mengulas-ngulas putting susunya dan sesekali memutarinya

“Ohhh, Pakkk… Ahhhh!!” Veily mendesah ketika merasakan mulut Pak Agung mencaplok kemudian menghisap lembut puncak payudaranya sebelah kanan mulut, gerakan mulut Pak Agung tampak seperti sedang mengunyah payudara Veily bergantian dari yang kanan ke yang kiri.

Sambil tersenyum pak Agung merebahkan tubuh Veily di meja, disibakkannya kedua kaki gadis itu agar mengangkang.

“OHHHHH…!!!….” Veily bergidik ngeri menatap kemaluan Pak Agung, kalau soal panjang sih kurang lebih sama dengan panjang kemaluan Pak Dion namun yang mebuat Veily bergidik ngeri adalah bulatan batang kemaluan Pak Agung yang hampir dua kali lipat bulatan kemaluan Pak Dion,

“Ahhhh….” punggung Veily sampai terangkat kemudian terhempas kembali ketika merasakan kepala penis Pak Agung mulai menekan berusaha membongkar jepitan vaginanya, agak lama juga Pak Agung berusaha
“EENNNNHHHHH… AWWWWW….!! ” nafas Veily tertahan-tahan ketika kepala kemaluan Pak Agung tiba-tiba mencelat masuk.

“Ha HA Ha, Akhirnya masuk juga, hajar langsung..!! “
“Ayo Pak Agung sodok yang kuat…!!”

Pak Dede dan Pak Ahmad menyemangati Pak Agung. Pak Agung menatap Veily yang tergolek tanpa daya sambil menatap padanya dengan pandangan mata yang memelas.

“Aduhh….Awwwww, Essshhhhhhhh, Owwwww.” Veily mengaduh ketika Pak Dede dan Pak Ahmad meremas-remas buah dadanya dengan kasar, kemudian mencubit kuat-kuat putting Veily sampai ia merintih-rintih kesakitan.
“Hmmmmm… ” kening pak Agung berkerut setelah mencabut batang kemaluannya, Pak Agung meraih tubuh gadis itu kemudian diangkatnya tubuh Veily dengan hati-hati sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.

“Yahhh, koq dibawa sihh…!!”
“Lohhh mau ke mana Pak Agung…!!”

“Mau keluar” Pak Agung menjawab singkat kemudian melangkahkan kakinya menjauhi ruangan kantor Pak Dion,

“Nahhh…” Pak Agung mendudukkan Veily disalah satu bangku panjang yang terbuat dari kayu, gadis itu menundukkan kepalanya ketika Pak Agung duduk di sebelahnya.

“Cuphhhh….” dengan lembut Pak Agung mengecup pipi Veily, tangannya merayap ke arah selangkangan Veily kemudian berbisik di telinga gadis itu “Masih sakit ya ??”

“Atau kamu cape?? ” dengan mesra Pak Agung memeluk tubuh Veily, entah kenapa Veily merasa mendapat perlindungan dari Pak Agung, kalau tidak dirinya pasti sudah dikerjai habis-habisan oleh Pak Dede dan Pak Ahmad, Veily terisak menangis dalam pelukan Pak Agung.

“Sudah.. , sudahh, cupphh, cuphhh…” Pak Agung menciumi kening Veily sambil membelai-belai punggung gadis itu dengan penuh perasaan, Veily memasrahkan dirinya dalam pelukan Pak Agung, ada rasa aman ketika Pak Agung yang tinggi dan berotot seperti Ade Rai itu memeluk mesra dirinya, tanpa terasa Veily tertidur dalam pelukan mesra Pak Agung, dengan lembut Pak Agung mengusap-ngusap rambut gadis itu.

Berbeda dengan Veily nasib Anita lebih mengenaskan, dua batang penis berkali-kali ditancapkan dengan kasar oleh pemiliknya ke dalam lubang vagina dan lubang anus gadis itu, sementara buah dadanya menjadi mainan Pak Dede dan Pak Ahmad.

“Ahhhh…, Ohhhhh, ampun Pak Aduhh Awwww…., jangan…!!” Anita meringis-ringis sambil berusaha menepiskan tangan Pak Dede dan Pak Ahmad yang menggerayangi payudaranya.

“Ennnngghhh… Aduhhh…!! Crrrtt.. Crrrttttt….!! ” Anita merintih lirih.
Tubuh gadis itu berkelojotan beberapa saat.

“HA HA HA, Aduh !!! enak katanya …..” Pak Dede mengolok-olok Anita.
“Iya…, pengen terus dirojok…!! “Pak Ahmad ikut meledek sambil meremas induk payudara Anita kuat-kuat.

“Ooo, begitu ya…, kayak gini? Hihhh….!! ” Pak Dion berkali-kali menyodokkan batang kemaluannya ke atas.
“Bukan seperti itu Pak Dion, kayak gini baru benar…!! ” Pak Djono tidak mau kalah menggenjot kuat-kuat lubang anus Anita.

Dua batang kemaluan milik Pak Dion dan Pak Djono berlomba-lomba menusuk, menyodok dan menghajar lubang anus dan vagina gadis itu tanpa mempedulikan Anita yang mengerang-ngerang kesakitan, kedua lubangnya terasa panas akibat dikocok-kocok dengan kasar.

“Aowwwhhhh… Hekkkk….!!” kepala Anita terangkat ke atas ketika Pak Dion dan Pak Dede bersama-sama membenamkan batang kemaluannya,

“Croooorrrrrttt….!! “
“Kecroooottttt……”
Gerakan-gerakan brutal itu mendadak berhenti,

“Wahhh, sepertinya giliran kita nih…! ” Pak Dede menarik Anita, Pak Ahmad cuma tersenyum kemudian langsung bergabung dengan Pak Dede.
Anita dipaksa menungging di atas lantai,

“Emmmmm, Hemmmmhhh….” mulut Anita terisi penuh oleh batang kemaluan Pak Ahmad sementara Pak Dede tersenyum sambil menimbang-nimbang, lubang manakah yang sebaiknya disodok, anus atau vagina.

“Lohhh, Pak Dede koq malah diam?? hemmp, Ahhhh, sedappnya…!!” tangan Pak Ahmad mendekap kepala Anita sambil memaju mundurkan batang penisnya keluar masuk kedalam mulut gadis itu.

“Ha Ha Ha, habis saya bingung mau yang mana?? soalnya dua-duanya tampak menggiurkan….tapi ya sudah saya pilih yang ini aja dechhh buat pemanasan” Pak Dede menggesekkan kepala kemaluannya pada belahan lubang vagina Anita kemudian dengan gerakan-gerakan menyentak ia membenamkan batang kemaluannya, kedua tangannya mencekal kedua pergelangan tangan Anita kemudian menarik tangan Anita kebelakang “Ayo, Pak Ahmad, biar saya bantu… biar Pak Ahmad lebih enak…”
“Hemmmppphh Hemmmmhhh, Emmmmmm” Anita mendelikkan matanya ketika lubang vaginanya disodok kuat-kuat oleh batang kemaluan Pak Dede, sedangkan kerongkongannya dirojok oleh batang kemaluan Pak Ahmad.
Wajah Anita mengernyit-ngernyit, tampaknya ia sangat menderita, sementara kedua guru bejat itu malah terkekeh-kekeh keenakan.

“Anjinggg…!! Whuaduhhhhh….!! ” Pak Ahmad memaki sambil menarik batang kemaluannya darid alam mulut Anita, kemudian
“Plakkkkkk…..” Pak Ahmad menampar wajah Anita kemudian menjambak rambutnya, Anita hanya mengerang tak berdaya,

“Lohhh ?? ada Apa Pak Ahmad ?? ” Pak Dede bertanya keheranan.
“Dia ngigit ****** saya…!! Sialan.. Plakkkk…!!!” Pak Ahmad kembali menampar wajah gadis itu kemudian menjambak-jambak rambut Anita.

“Kurang ajar..!! Berdiri..!! ” Pak Dede mencabut batang kemaluannya kemudian memaksa Anita untuk berdiri.

Pak Ahmad mencekal dan mengangkat tungkai lutut kanan Anita sebelah bawah, kemudian “Jrebbbb Jrebbbb.. Jrebbbbbb…, berani kamu ya, Hihhh!! “
Disodok-sodoknya lubang vagina Anita sekuat tenaga..

“AWWWW….. AWWWWW…..” Anita menjerit panjang ketika merasakan lubang anusnya dipaksa menerima kehadiran batang kemaluan Pak Dede. Setelah membantu menopang tungkai lutut kanan Anita, pak Dede dan Pak Ahmad berlomba marathon merojok-rojokkan batang kemaluan mereka dengan kasar.

“Murid seperti ini yang harus diajar adat, tidak menuruti nasehat gurunya !!”
Sesekali Pak Dede menjambak rambut Anita sambil menggecakkan batang kemaluannya kuat-kuat.

“Betul Pak Dede.., Ayo kita kasih pelajaran murid sialan ini !! “Pak Ahmad menghantamkan batang kemaluannya kuat-kuat.

“Ayo Pak Ahmad kita kocok yang kuat…” Pak Dede tambah liar.

“Aduhhh… Ahhhhh… Awwwww, ampun Pakkk ampunnnnn….” Anita mejerit-jerit kewalahan, tubuhnya terjepit tanpa daya di antara tubuh Pak Dede dan Pak Ahmad, Anita mengerang panjang kemudian terkulai jatuh tidak sadarkan diri.
Sementara di sebuah bangku kayu panjang, Veily membuka matanya ketika merasakan rasa geli di bibir vaginanya,

“Emmmm…….” Tubuh gadis itu menggeliat lemah, setelah terbangun dari tidurnya tubuhnya terasa segar. Tangan Veily terjulur membelai lembut kepala Pak Agung yang sedang menjilati bibir vaginanya

“Ehhh…, Maaf .., tidur kamu jadi terganggu ya ?? ” Pak Agung menengadahkan kepalanya ketika merasakan belaian Veily.

Veily menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum sambil membuka kedua kakinya lebar-lebar
“Ceglukk..! “Pak Agung menelan ludah, matanya menatap tajam pada belahan vagina Veily yang sedikit merekah, perlahan-lahan Pak Agung kembali menundukkan kepalanya dan mengencup belahan vagina Veily yang merekah.
“Ahhhhhh……… Pakkk, “Veily mendesah panjang ketika merasakan bibir vaginanya diemut oleh Pak Agung, berkali-kali tubuhnya menggelepar ketika mulut Pak Agung mencaploki vaginanya dengan lembut.

Tangan Pak Agung menarik bibir vagina Veily kemudian melumat isinya. Cairan kewanitaan Veily semakin banyak meleleh membasahi lubang vaginanya, pak Agung mulai mengambil posisi sambil mengarahkan batang kemaluannya dan menggesek – gesek lubang vagina Veily yang sudah basah.

Veily menahan nafas ketika merasakan kepala kemaluan Pak Agung mulai menekan dan berusaha membelah jepitan lubang vaginanya. Kepala Veily terangkat keatas, matanya mengerjap-ngerjap, bibir gadis itu sedikit terbuka merekah ketika perlahan-lahan kepala kemaluan Pak Agung mulai membelah dan menancap di vaginanya. “Haa, Emmmfffhhhh….

” Tiba-tiba tubuh Veily mengejang dan terkulai dengan nafasnya yang tersendat-sendat.

“Sakit ?? ” Pak Agung bertanya, ia membelai rambut Veily
Sambil tersenyum Veily menggelengkan kepalanya, walaupun vaginanya terasa seperti kram dan ngilu menerima kehadiran batang kemaluan Pak Agung, Veily ingin memberikan yang terbaik untuk Pak Agung.

Tubuhnya menggeliat-geliat ketika Pak Agung membenamkan batang kemaluannya, sesekali Pak Agung menahan batang kemaluannya ketika Veily meringis, kemudian pelan-pelan ia kembali melanjutkan membenamkan batang kemaluannya sampai mentok, perlahan-lahan Pak Agung mengaduk-ngaduk vagina Veily dan menggecakkan batang kemaluannya mendesak-desak lubang vagina Veily yang sempit.

Perlahan-lahan Pak Agung mulai menarik dan membenamkan batang kemaluannya, berkali-kali Veily terperangah dan terperanjat keenakan ketika Pak Agung mulai menaikkan tempo genjotannya.

“Aaaahhhh….!! ” Veily menjerit keras kemudian
“Crrr.. Crrrrrr.. Crrrrrr, Ennhhh Pakkk…!!”

Pak Agung menghentikan gerakannya membiarkan Veily meresapi kenikmatan puncak klimaks yang baru saja diraihnya, setelah itu barulah Pak Agung kembali menarik dan membenamkan penisnya berulang kali.

“Cleppp.., Clepppp, Clepppp, Clepppp ” suara vagina Veily berdecakan menikmati sodokan-sodokan batang kemaluan Pak Agung yang semakin kuat menggenjot-genjot vaginanya.

“Auhhhhh….!! Aaaaa…..Ennnakkkkk, Ahhhhhhhh, terus Pakkk” Veily kehilangan kendali dibawah genjotan-genjotan batang kemaluan Pak Agung.

“AHHHH, AHHHHHHHHHHH…!! Pak Agunggggg….. Ohhhhhh” Veily menggoyangkan pinggulnya menyambut datangnya klimaks.

“Wahh…!? Veilyyyyyy, Ya Ampunnnn,!! enak banget….!! Aohhhhh!!” Pak Agung memanas-manasi Veily agar gadis itu lebih rajin menggoyangkan pinggulnya.
Pak Agung mendekap pinggul Veily sambil menjatuhkan tubuhnya ke belakang, kini Veilylah yang memegang peranan penting dalam persetubuhan itu. Nafas Pak Agung terasa sesak ketika Veily mengibaskan rambutnya ke belakang, cantik sekali ketika gadis itu menatapnya sambil tersenyum malu.

Pak Agung tambah sesak nafas ketika Veily menundukkan wajahnya, tangan Pak Agung mengelus-ngelus pinggang dan pinggul Veily sambil membalas lumatan Veily dengan lembut. Veily menumpukan tangannya pada dada Pak Agung yang berotot kemudian sambil tersenyum ia menghempas-hempaskan vaginanya.

“Ahhhh.. Ahhhhh…. AHHHHH” desahan-desahan Veily terkadang terdengar keras ketika Pak Agung sesekali menghentakkan batang penisnya ke atas kuat-kuat menyambut hempasan vaginanya.

Mata Pak Agung menatap payudara Veily yang melompat-lompat dengan indah, kedua tangannya meremas payudara itu, kemudian mengelusi putingnya.
“Hssshhh Hsssssshhh Ahhhh Pakkk, Ohhhh enak sekali!! pakkk…Awwww… Awwwwwkkkssshh.” tangan Veily kini berpegangan pada tangan Pak Agung yang sedang meremasi induk payudaranya, hempasan vaginanya semakin lama semakin kuat dan cepat, berkali-kali Veily menjerit liar melampiaskan nafsu birahi yang meledak-ledak dengan hebat.

“Unnnnhhhh….!! Blukkkkkk…..” tubuh Veily tiba-tiba roboh sambil menggeliat-geliat “Crrrr Crrr….” Veily tersenyum puas, kedua matanya terpejam-pejam, vaginanya terasa berkedut-kedut memuntahkan cairan klimaksnya.
Pak Agung berbisik lembut “Kita coba sambil berdiri ya….”
Veily mengangguk, gadis itu bangkit dari atas tubuh Pak Agung. Pak Agung memeluknya dari belakang, gadis itu kegelian ketika Pak Agung mencumbui tengkuknya, kemudian melakukan hisapan-hisapan lembut di lehernya. Veily membusungkan susunya ke depan sambil mengalungkan kedua tangannya ke belakang leher Pak Agung ketika merasakan telapak tangan pria itu mengusapi bulatan susunya sebelah bawah.

“Lembut sekali…indah, Hemmmmm…” Pak Agung menggerayangi buah dada Veily sambil berkali-kali memuji keindahan dan kemulusan payudaranya yang sedang kenyal-kenyalnya akibat dirangsang oleh Pak Agung. Dijepitnya putting Veily kemudian dipilin-pilinnya dengan lembut, terkadang tangannya menggoyang-goyangkan bongkahan dada Veily.

“Veily, Bapak pengen nyodomi kamu ya..” Pak Agung meminta dengan sopan
Veily terdiam agaknya ia ragu-ragu, namun kemudian mengangguk pasrah.
“Nungging sayang, nahhhh….” Pak Agung meminta agar Veily bersedia menunggingkan bokongnya, tangan Pak Agung menekan buah pantat Veily sampai anus gadis itu terekspose dengan jelas.

“Haaaaaaaa…..” Veily menarik nafas panjang merasakan desakan kuat di lubang anusnya, kening gadis itu berkerut sedangkan mulutnya membentuk huruf “O”, tubuhnya berkali-kali terdorong ketika Pak Agung menghentakkan kepala kemaluannya berusaha melakukan penetrasi.

“ARRRRRWWWHHHHH……!! “gadis itu menjerit keras ketika satu tusukan yang kuat tiba-tiba memaksa lubang anusnya untuk merekah, kemudian kemaluan Pak Agung menyodok pintu duburnya dengan sentakan-sentakan yang kuat.

Pak Agung menahan pinggul Veily yang hendak melarikan diri, leher penisnya tertancap mengait lubang anus Veily yang merekah dan berkedut-kedut kuat mencengkram leher kemaluan Pak Agung. Lutut Veily goyah, perlahan-lahan, tubuh gadis itu melorot turun dan bersujud dengan posisi kedua lututnya yang sedikit mengangkang, Pak Agung ikut turun bersujud di belakang tubuhnya. Tangan Pak Agung yang kekar dan berotot membelit tubuh Veily dan memeluk erat-erat tubuh gadis itu, Pak Agung mendesakkan batang kemaluannya,

sampai selangkangannya menyatu erat dengan buah pantat Veily yang bulat padat dan terasa halus ketika bergesekan dengan selangkangan dan perut Pak Agung yang berotot. Veily menolehkan kepalanya menyambut datangnya bibir Pak Agung yang melumat bibirnya.

“Hmmmfffhhhh… Mmmmmmhhhh…., Mmmm” bibir Pak Agung melumat-lumat bibirnya sementara kedua tangan Pak Agung merayap ke depan mengelus lembut puncak payudaranya kemudian meremas-remas gundukan buah dadanya. Pada saat yang bersamaan Pak Agung memompakan batang kemaluannya keluar masuk menyodok-nyodok lubang anusnya.

“Unngghh, Unnnggghhh, Unnnnnnnhhhh….!! ”

berulang kali Veily mengeluh ketika merasakan sodokan-sodokan Pak Agung yang semakin lama semakin keras dan kencang merojok-rojok lubang anusnya.

“Plokkk.. Plokkkk… Plokkkkk.. Plokkkk……”

Suara hantaman selangkangan Pak Agung ketika membentur pantat gadis itu, Entah kenapa Veily malah rela biarpun lubang anusnya terasa sakit ketika disodok-sodok kuat oleh Pak Agung, sambil menggeliat-geliat perlahan-lahan Veily mengalungkan kedua tangannya ke belakang.

“Hemmmm, He he he he….” Pak Agung semakin betah meremas-remas buah dada yang sengaja dibusungkan oleh pemiliknya, begitu kenyal, halus, putih dan lembut. Sesekali Pak Agung mencium gemas pipi Veily kemudian mengecupi dan mencumbui lehernya.
“Enn Ngaaahhhhhhhhhhh…..!! Crrr Crrrr Crrrrr”
“WHOWWW… Kecroootttt… Crooootttttt…..”

Gadis itu menyandarkan kepalanya ke belakang, entah kenapa Veily tidak merasa seperti sedang diperkosa oleh Pak Agung. Mungkin karena Pak Agung begitu baik dan perhatian??? Tubuh Pak Agung yang tinggi besar dan berotot seperti Ade Rai tidak dapat menyembunyikan hati Pak Agung yang lembut.
Pak Dion mengangkat Hpnya

“Haloo, Oohhh kamu ?? gimana ??”

“Ha Ha Ha…bagus-bagus…., rencana yang bagus ” Pak Dion terkekeh sambil membayangkan santapan lezat selanjutnya.
Tamat

Posted at 07:47 am by pohonmangga
Make a comment  

kalung keramat

Kalung Keramat

Kalung keramat adalah kalung yang di wariskan turun temurun oleh nenek moyang, dan orang yang di wariskan kalung keramat tidak semuanya dapat menggunakan kalung tersebut, karena hanya orang-orang terpilih saja yang dapat menggunakannya, dan siapapun yang menggunakan kalung keramat maka dia akan mewariskan ilmu yang ada di dalam kalung tersebut. Ilmu yang di wariskan bukanlah Ilmu silat ataupun semecamnya tetapi ilmu yang di wariskan adalah Ilmu bagaimana cara menjinakan seorang perempuan di atas ranjang, dan siapapun yang perna di tiduri oleh pewaris kalung keramat maka wanita itu akan menajadi wanita LIAR yang haus dengan SEX, dan sebaliknya siapapun yang memandang wanita yang perna di setubuhi oleh sang pewaris kalung keramat maka orang tersebut akan sangat menginginkan tubuh wanita tersebut

************


Suara tanpa hening hembusan angin terasa begitu kencang, seorang pemuda tanpa terduduk termenung sambil memperhatikan langit yang di hiasi bintang-bintang, di tangannya terdapat sebuah surat yang tak lain adalah surat balasan cintanya yang telah di tolak menta-menta oleh pujaan hatinya, dari raut wajahnya tanpa dia sedang merenungi nasibnya yang selalu tertimpa sial,
“Kejam !!! ” Pekik Alay sambil meremas kertas yang tadi dia pegang dan sedetik kemudian kertas tersebut di lempar sejauh mungkin dari hadapannya, “Dari dulu sampai sekarang penderitaan cinta tidak perna berakhir, naaaasib ya… nasib… !!!” ujarnya yang kemudian kembali menatap langit,

Sugianto Cahyo adalah nama asli Alay, tetapi karena gayanya yang norak dan selalu terlihat kampungan sehingga membuat teman-temannya memanggil dirinya dengan sebutan Alay yang berarti (Norak, kampungan, sok ganteng dll ), hampir setiap wanita yang melihat dirinya pasti langsung membuang mukanya jauh-jauh, di sekolahnya Alay juga menjadi bahan olokkan teman-temannya di sekolah baik teman cewek maupun cowok sehingga membuat dirinya merasa sangat kesepian.

Angelina Valena, adalah sesosok wanita yang akhir-akhir ini sangat di puja-puja oleh para siswa di sekolahnya, karena kecantikan dan kebaikannya membuat setiap laki-laki jatuh hati kepada dirinya tidak hanya para murid, tetapi guru-guru di sekolahnyapun sangat menyukai dirinya walaupun dia adalah anak pindahan yang baru 3 bulan bersekolah di sana. Semenjak kehadiran Lena kehidupan Alay sedikit berubah yang dulu pendiam kini terlihat kembali bersemangat, maklum saja karena baru pertama kalinya ada anak perempuan yang mau mengajak dirinya mengobrol walaupun itu hanya sapaan biasa, tetapi itu sudah sangat membuat Alay merasa sangat senang sekali. Sedetik, semenit, sejam, perlahan mata Alay mulai terasa berat dan sampai akhirnya dia tertidur dengan posisi duduk dan kepalahnya bersender di dinding rumah. Dalam tidurnya Alay bermimpi bertemu dengan sesosok pria paruh baya yang kira-kira berusia 70 an ke atas,

“Kenapa kamu bersedih cucuku !!!” Kata pria tersebut sambil memainkan janggutnya yang panjang,
“Si-siapa kamu, sekarang aku ada di mana ???” Tanya Alay yang tanpa kebingungan ketika dia menyadari di sekililing dirinya terdapat hutan belantara,
“Kamu sudah tidak lagi mengenali kakekmu !!!” Ujarnya lagi sambil memandang Alay,
Untuk sesaat Alay tertegun sambil memperhatikan sesosok pria paruh baya yang mengaku sebagai Kakeknya, beberapa kali dia sempat menggelengkan kepalanya karena seingat dia Kakeknya telah lama meninggal tepatnya ketika dia masih duduk di bangku SD,
“Tidak mungkin Kakekku sudah lama meninggal !!!” Ujar Alay,
“Percayalah cucuku aku adalah Kekekmu, kamu masih ingat kalung yang dulu pernah Kakek berikan kepadamu ???”
“Kalung !!!” Kata Alay yang kemudian berusaha kembali mengingat memory masa kecilnya, “Oh… iya aku masih ingat tentang kalung tersebut, emangnya ada apa dengan kalung itu ???” Tanya Alay yang tanpa mulai percaya kalau orang yang ada di hadapannya sekarang ini adalah Kakeknya, tetapi masih saja Alay merasa bingung dengan kehadiran Kakeknya tersebut,
“Kenapa kalung itu tidak ada di lehermu, bukannya Kakek perna bilang kalau kalung itu tidak boleh kamu lepaskan ???”
“Ennggmm… emang ada apa dengan kalung itu ???”
“Dasar anak bodoh, itu kalung adalah kalung warisan dari nenek moyang kita !!!”
“Ohh… ” Jawabnya singkat yang tanpa masih kebingungan,
Sang Kakek tanpa menggelengkan kepalahnya karena dia tau kalau cucunya tidak terlalu tertarik dengan kalung yang dulu sempat dia wariskan kepada cucunya, dan dengan kesabarannya sang Kakek mulai menceritakan asal-usul kalung tersebut, dan kegunaan kalung tersebut, setelah mendengar penjelasannya Alay masih tanpa tidak percaya kalau sebenarnya kalung tersebut adalah kalung keramat yang selama ini hidup di dalam diri setiap pemiliknya,

********


“Anto bangun !!! ” Sayup-sayup suara seorang wanita membangunkan Alay dari tidurnya,
Perlahan Alay membuka matanya, dan ketika matanya terbuka sesosok wanita cantik berdiri di depannya, wanita itu tak lain adalah Kakak iparnya sendiri yang bernama Melissa, entah kenapa malam itu Melissa di mata Alay terlihat begitu cantik dan sangat menggoda padahal saat ini Melissa hanya mengenakan pakaian tidur seperti biasanya,
“Eheemmm… bangun !!!” Kali ini Melissa menggoyangkan tubuh Alay dengan keras,
“Eh… iya kak !!” Ujar Alay ketika tersadar dari mimpinya,
“Kenapa kamu tidur di sini, pake mengigau lagi nyebutin nama kekek !!! ” Kata Melissa yang kemudian duduk di samping Alay yang tampak masih ke bingungan,
“Ternyata tadi hanya mimpi !!!” Gumam Alay di dalam hatinya,
“Ko’ bengong si, sudah sana masuk tidur di dalam kamar… ” Ajaknya yang kemudian meninggalkan Alay sendiri yang tanpa sedang memandangnya,
Di dalam kamarnya yang kecil Alay tidak dapat memejamkan matanya, entah kenapa dia masih teringat dengan mimpi yang barusan mengusik dirinya, semakin dirinya berusaha melupakan mimpinya barusan maka mimpi itu semakin menghantui dirinya sampai-sampai membuat diri Alay tanpa tidak tenang dan terlihat sangat gelisah,
“Apa benar yang di katakan kakek barusan ??? Ehmm… !!!”
Karena tidak dapat tertidur akhirnya Alay memutuskan untuk mencari kalung tersebut yang dulunya perna dia simpan di suatu tempat di dalam kamarnya, hampir 1 jam lebih Alay mencarinya tetapi belum juga ketemu, hampir saja Alay putus asa kalau saja dia tidak teringat kata Kakeknya yang mengatakan kalau kalung tersebut sangat penting bagi dirinya,
“Na… ini dia kalungnya !!! ha… ha… akhirnya aku menemukanmu kalung keramat !!!” Dari raut wajahnya terdapat seyuman,
Tanpa berpikir lagi Alay memakai kalung tersebut di lehernya, ketika kalung itu di pakai Alay merasa ada sesuatu yang membuat tubuhnya merasa bergetar seperti di aliri listrik, dan kemudian geteran itupun berhenti, sebenarnya tidak ada perubahan apapun terhadap fisiknya tetap saja wajahnya ancur dan menyebalkan,
******
Keesokan harinya Alay bangun kesiangan maklum saja karena hari ini adalah hari libur sehingga dia tidak perlu bangun pagi-pagi seperti biasanya, masih dengan mata yang terpejam Alay berjalan keluar kamar dan bermaksud untuk ke kamar mandi, ketika dirinya sampai ke depan pintu kamar mandi tiba-tiba saja dari pintu kamar mandi keluar sesosok wanita yang tak lain adalah Melissa yang baru saja selesai mandi, saat itu tubuh Melissa hanya di balutkan handuk yang menutup sebagian payduaranya dan sebagiannya lagi hanya menutup vaginanya,
“Baru bangun To !!!” Sapa Melissa ramah,
“Gleeekk !!! ini beneran kakak ipar gue ” Gumamnya di dalam hati sambil memperhatikan lekuk-lekuk tubuh Kakak iparnya yang berdiri di hadapan dirinya, “Eh iya Kak, ehhmmm… Kakak habis mandi ya ??” Tanya Alay,
“Iya, emangnya kenapa ? kamu mau pakai kamar mandi !!!”
“I-iya Kak, kebelet pipis ” Jawab Alay gugup,
“Ya sudah sana ke kamar mandi, jangan di tahan-tahan “
“Eh iya kak !!!” Kata Alay tetapi dirinya masih tetap diam mematung memandangi Kakaknya, “Kapan ya, gue bisa liat Kakak gue telanjang di depan gue !!!” Ucapnya di dalam hati sambil memandang ke arah belahan dada Kakak iparnya,
Dalam hitungan detik tiba-tiba handuk yang di kenakan Kakaknya terlepas, dan dengan begitu tubuh indah Kakaknya terpampang di depan hadapannya, kulit Kakaknya yang putih mulus dan payudara Kakaknya yang mengancung ke depan dengan putting susunya yang kecoklatan tanpa begitu sangat menggoda apa lagi ketika mata Yuda mengarah kebagian vagina Kakaknya yang di tumbuhi rambut yang sangat lebat tetapi tertatarapi,
“Glleeekkk…. ” Mata Alay menatap tajam tubuh Kakak iparnya,
Selama 1 menit Melissa terpaku layaknya seorang patung yang tidak bergerak sedikitpun, sehingga membuat Alay benar-benar menikmati tubuh indahnya, dan sedetik kemudian Melissa tersadar yang kemudian mengambil handuk yang tergeletak di lantai dan berlari menuju ke dalam kamarnya,

******

Kejadian barusan benar-benar membuat Melissa merasa malu, entah apa yang harus dia katakan kepada Alay kalau nanti dia bertemu dengan Adik iparnya tersebut, memang harus di akui di sisi lain dirinya juga tanpa menikmati saat-saat di mana Alay memandang dirinya dengan tatapan yang seolah-olah ingin langsung memakannya bulat-bulat,
“Ehheemm… !!!” Tegeur Alay yang tiba-tiba saja sudah berada di depannya,
Saat ini Melissa sedang sibuk mencuci pakaian kotornya, sehingga dia tidak memperhatikan kedatangan Alay yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya, saat itu Melissa mengenakan kain yang terlilit di tubuhnya,
“Aku bantuin ya Kak !!!”
“Tumben mau bantuin !! biasanya juga kamu main keluar rumah. “
“Bosen Kak main terus… sekali-kali diam di rumah,”
“Ya… baguslah kalau begitu ” Jawab singkat Melissa,
Beberapa saat kemudian mereka berdua tanpa telah di sibukan dengan pekerjaan mereka berdua, sesekali Alay memperhatikan selangkangan Kakak iparnya yang sedikit terbuka, sebenarnya Melissa telah menyadari kalau Alay sering melirik kearah selangkangannya, tetapi anehnya di dalam dirinya tidak ada penolakan terhadap tingkah Adiknya yang dengan sengaja melihat ke arah selangkangannya, dan hal itu pula yang membuat Melissa diam-diam dengan sengaja memberi ruang buat Alay untuk melihat celana dalamnya yang berwarna merah hati,
“Soal tadi Kakak minta maaf ya ??” Ujar Melissa memecah suasana,
“Soal apa Kak ???”
“Ya,,, itu masalah tadi pagi !!!, Ehhmm…. ” Kata Melissa yang tidak sanggup melanjutkan kata-katanya,
“Ayo Kak !!! katakan hal-hal yang vulgar…. ” Katanya di dalam hati penuh harap,
“Ehmm… Ehhmm…T-ta-tadi dengan sengaja handuk Kakak terlepassss…. Ooopppsss !!!! ” Secepat mungkin Melissa menutup mulutnya dengan telapak tangannya,


Suatu pernyataan yang benar-benar memalukan bagi seorang wanita sebaik Melissa, perkataan tersebut benar-benar membuat dirinya merasa malu dan tak urung membuat wajahnya yang putih tanpa memerah karena malu yang di tanggungnya, sedangkan Alay tanpa berusaha menahan tawanya yang hampir saja meledak kalau saja dia tidak dapat menahan diri,
“Ga’ bukan gitu maksudnya !!!” Kata Melissa membela dirinya tetapi semua itu telah terlambat,
“Ternyata Kakak nakal juga ya ” Ledek Alay sambil menatap curiga kearah Melissa,
“Kamu apaan si !!!” Dengan gesit Melissa mencubit kaki Alay.
Tanpa di sadari Melissa kini dirinya benar-benar telah di kuasai oleh nafsu yang terasa semakin membakar dirinya, dan itu dapat terlihat dari dia menyikapi pertanyaan-pertanyaan nakal yang di lontarakan oleh Alay,
“Ngent*t itu enak ga’ si Kak ??” Tanya Alay tanpa melepas pandangannya,
“Husss… ngaco kamu, ” Jawabnya yang kemudian terdiam beberapa saat, “Ehhmm… enaklah, kalau ga’ enak mana mungkin orang suka begituan, ” Sambungnya lagi,
“Enak gi mana Kak ?
“Ya… enak, nanti juga kamu tau gimana rasanya ngent*t !!!”
Alay terseyum licik, kini dia benar-benar percaya dengan kehebatan kalung yang di wariskan Kakeknya untuk dirinya, dan kepercayaan itu membuat dirinya semakin berani menggoda Kakaknya, perlahan Alay mendekati Kakaknya yang kemudian duduk di samping Kakaknya,
“Aku boleh liat memiaw Kakak lagi ga’ ?” Tanya Alay tiba-tiba yang membuat wajah Kakaknya tanpa kembali memerah,
“Enak aja !!! emang kamu pikir Kakak apaan ??? pelacur !!!”
“Iya… ” Jawab Alay singkat yang kemudian menatap mata Kakaknya dengan tajam, “Ga’ ko kak cuman bercanda !!! abis Kakak ngegemesin, ” Ujar Alay sambil mengelus paha Kakaknya yang terbuka karena sebagian kainnya tersingkap,

“Ihkk… ini apa ngelus-ngelus ???” Kata Melissa tanpa berusaha menyingkirkan tangan Adiknya,
“Habis… Paha Kakak putih banget… ga’ kayak kakiku he…he… !!!”
Semakin lama tangan Alay semakin masuk kedalam menyentuh bagian dalam paha Kakaknya, hanya beberapa senti dari vagina Kakak iparnya, Melissa yang sudah sangat gatal membiarkan begitu saja tangan Adiknya menguasai dirinya, karena tidak ada penolakan dari sang Kakak, Alay semakin berani menyingkap kain Kakaknya sampai kepangkal pahanya, tidak hanya itu saja Alaypun mulai berani mencium pipi Kakaknya yang memerah,
“Apaan si !!!” Dengan amat keras Melissa mendorong kepalah Adiknya yang bermaksud mencium bibirnya, “Jangan macem-macem kamu, awas ya…. !!!” Ancam Melissa sambil menatap mata Adiknya, tetapi tatapan tersebut sedikit aneh karena dari bibirnya terukir sebuah seyuman manis,
Tanpa berkata lagi Melisa pergi meninggalkan Adik iparnya dan berlari kecil menuju kamarnya yang terletak tidak jauh dari tempat dia mencuci pakaianya, berselang satu menit Alay menyusuk Kakak iparnya ke dalam kamar, saat itu Kakak iparnya sedang duduk di sisi ranjang sambil menatap ke arah pintu seolah-olah sedang menunggu seseorang dan seseorang itu adalah Alay,
“Anto ngapain kamu ke kamar Kakak !!!” Tanya Melissa pura-pura merasa kaget dengan kehadiran Alay,
Setelah mengunci kamar Kakaknya perlahan dia mendekati Melissa yang seolah terpaku memandang dirinya, dan tanpa membuang waktu Alay langsung menindih tubuh Kakaknya, mendapat perlakuan seperti itu Melissa berpura-pura menolak keinginan Alay, dengan teriakan-teriakan kecil Melissa meminta dan memohon kepada Alay agar melepaskan dirinya, tetapi teriakan itu terdengar di telinga Alay sebagai ramuan untuk menggoda dirinya,

Tanpa bersusah payah Alay menelanjangi Kakaknya yang kini tergolek pasrah dengan hanya mengenakan celana dalam yang berwarna merah tua, perlahan ciumannya mendarat ke bibir sexi Kakak iparnya, sedangkan tangannya menyelusup masuk turun menyentuh vagina Kakaknya, entah dari mana asalnya tiba-tiba saja Alay merasa bahwa dirinya begitu terbiasa pandai dalam menaklukan setiap wanita di atas ranjang dan tanpa dia sadari ada sesuatu yang seolah-olah menuntun dirinya,
“AaHgg… Jangan To, Ehhmmppp…. ” Pekik Melissa yang kemudian kembali terdiam ketika bibirnya kembali tersumbat bibirnya Alay,
Tubuh Melissa nenggelinjang keenakan ketika jari-jari Alay berhasil masuk kedalam rongga vaginanya, walaupun gerakan tangannya tidak cepat tetapi benar-benar dapat membuat tubuh bugil Melissa menggeliat seperti belut,
“Uhhkk…. isep terus sayang !!!” Pinta Lissa ketika dia merasakan bibir dan lidah Alay bermain di kedua putting susunya,
“Putting Kakak bagus sekali…. ” Ujar Alay dengan raut wajah yang tanpa begitu menikmati setiap inci tubuh kakak iparnya, lalu pelan-pelan Alay kembali mengulum putting Kakak iparnya yang mencuat keatas, rasa nikmat yang di berikan Alay benar-benar membuat Melissa mabuk kepayang,
Perlahan ciuman Alay merambat turun ke bawah menyelusuri perut Melissa yang licin dan putih mulus, lalu berhenti tepat di selangkangan Kakaknya yang masih mengenakan celana dalam, dengan sekali sentakan celana dalam Melissa terlepas dari pinggulnya, dan sekarang Melissa sudah sempurna bertelanjang bulat di hadapan Alay,
“Rambut yang lebat, tetapi terasa halus dan baunya juga sangat harum… !!!” komentar Alay sambil menghirup aroma yang di timbulkan oleh vagina Melissa

Memang harus di akui Melissa sangat rajin membersihkan vaginanya sehingga membuat vaginanya terlihat bersih dan harum, Dan kemudian dia menunduk menempatkan wajahnya di depan selangkangan Melissa yang terlihat telah berlendir, matanya menatap tajam ke arah vagina Melissa yang terbuka lebar, hembusan nafasnya semakin terasa letika wajahnya semakin dekat dengan kemaluan Melissa,
“Aahhkk…. ” Desahan lembut keluar dari mulut Melissa ketika lidah Alay menyapu clitorisnya,

Gerakan lidah Alay yang liar menyapu bibir vagina Melissa membuat Melissa merasa ada sesuatu desakan yang sangat hebat, yang membuat dirinya semakin tidak terkendali teriakan-terikannya semakin terdengar melengking hebat. Sadar kalau Kakaknya sudah semakin dalam terperangkap, membuat Alay semakin giat mempermainkan permukaan vagina Kakaknya, sesekali Alay menusukan lidahnya kedalam lobang vagina Kakaknya dan sekali-kali dia menggigit kecil bibir vagina Kakaknya yang semakin basah, di perlakukan seperti itu membuat Melissa merasa tubuhnya di aliri listrik dengan tegangan tinggi, dan sampai akhirnya gelombang listrik tersebut meledak,
“Aaaaahhhggg…. ” Diiringi dengan terikan tertahan, Melissa mengalami orgasme pertamanya, tubuhnya mengejang-ejang hebat, dan kakinya menerjang apa saja yang ada di dekatnya dan itu bertanda gelombang tersebut sangat besar sekali,
Tubuh Melissa terlihat lemas, orgasme barusan yang dia rasakan benar-benar menguras tenaganya, nafasnyapun terdengar bergitu berat bertanda kalau dia benar-benar merasa kelelahan atas apa yang barusan dia alami, Alay berdiri memandang Kakak iparnya dan kemudian mulai membuka satu-persatu pakaiannya sehingga Alay kini sama dengan Melissa yaitu sama-sama telanjang bulat,
“Ka’ tolong emutin punyaku ya… !!!” Pinta Alay yang kemudian mengarahkan penisnya, sebenarnya Melissa tanpa rakjub memandang penis Alay yang hitam dan berurat, apa lagi kurannya sangat besar dengan lebarnya yang juga tidak kalah besarnya,
Pada awalnya Melissa menolak permintaan Adiknya, tetapi desakan di dalam dadanya membuat dirinya tidak mampu menolak keinginan Adiknya tersebut, perlahan Melissa menutup matanya seiring dengan mulutnya yang terbuka dan siap menerima ukuran penis Adiknya yang sangat besar tersebut,
“Uhhkk… enak Kak terusss…. !!!” Rintih Alay sambil memegangi kepalah Kakaknya yang bergerak maju mundur, Melissa merasa wajahnya semakin tertekan keselangkangan Alay sehingga aroma tidak sedap tercium olehnya,

Semakin lama Alay semakin mempercepat gerakan pinggulnya sehingga membuat Melissa terkadang tersedak karena dia sedikit merasa kesulitan saat bernafas, tetapi Alay tanpa cuek dan terus menikmati sentuhan bibir sexi Kakaknya yang selama ini sebulumnya tidak perna terpikirkan oleh dirinya, kalau dia akan menikmati tubuh Kakak iparnya. Hampir sepuluh menit Melissa mengoral penis Alay dan sampai akhirnya dia dapat bernafas lega ketika dia di minta menghentikan aktivitasnya, tetapi Melissa sadar kalau semua itu masih berkelanjutan sehingga dia tanpa pasrah ketika tubuhnya di baringkan di atas kasurnya yang menjadi saksi perselingkuhan dirinya dengan Adik iparnya sendiri. Tanpa membuang waktu Alay langsung menindih tubuh Melissa yang telah berkeringat, dan kemudian perlahan Alay mencium bibir Melissa beberapa kali lalu setelah itu dia memeluk erat tubuh Kakak iparnya sambil berusaha melesatkan penisnya agar dapat masuk ke dalam rongga vagina Kakaknya, walaupun Melissa sudah tidak perwan lagi tetapi tetap saja Alay mengalami kesulitan saat ingin membobol pertahanan terakhir Kakaknya, maklum saja karena ukuran penis Alay memang sangat besar dan panjang,
“Eehhkk… ” Melissa merintih menahan sakit saat Penis Alay melesat masuk ke dalam rongga vaginanya, Dengan beberapa kali gerakan tarik dorong yang keras namun lembut dan sampai akhirnya penis Alay berhasil terbenam semuanya, terlihat Melissa menggigit bibirnya menahan rasa nyeri yang dia rasakan,
“Enak… Kak, baru kali ini aku merasakan permainan seenak ini !!!” Ujar Alay,
“tongkol kamu besar sekali, memiaw Kakak terasa penuh…. “
“He… He… emang punya mas Judi tidak sebesar punyaku ya Kak ??”
Melissa hanya mengangguk dan kemudian mulai memberi sinyal agar Alay mulai memompa vaginanya dengan penis Alay yang berukuran besar, Alay yang mengerti langsung menarik penisnya dari dalam vagina Kakaknya dan kemudian dengan sekali hentakan keras penis Alay kembali terbenam kedasar vagina Melissa yang terasa menejepit erat penis Alay,

Vagina Melissa yang sempit mulai terasa licin sehingga membuat Alay sedikit lebih mudah dalam melakukan tugasnya walaupun himpitan dinding vagina Melissa masih terasa, semakin lama gerakan Alay semakin cepat tetapi tetap terasa lembut dan sangat nikmat sekali bagi Melissa yang di buat merem melek oleh Adik iparnya tersebut. Penis besar Alay makin keras menghunjam vagina Melissa sambil tangannya meremas keras pantat bahenol kakak iparnya itu. Mulut mereka dengan liar berpagutan dan beradu lidah. Seluruh urat di kemaluan mereka berdenyut-denyut dan darah berdesir hebat saat itu. Alay memeluk pinggang Melissa, dan Melissa pun memeluknya dengan erat sambil menggoyangkan pinggulnya. Dua gundukan daging di dadanya yang montok itu menekan dada adik iparnya yang berwajah aneh, bergesek-gesek menimbulkan kenikmatan tersendiri dari kekenyalannya. Setelah 15 menit mereka bersetubuh akhirnya Melissa tidak kuat lagi menahan gelombang hasratnya, tetapi kali ini gelombang itu datang lebih dasyat di bandingkan dengan sebelumnya, tubuhnya menggelinjang hebat ketika dirinya kembali mencapai puncak kenikmatan,
“Aku keluarrrr !!!!” teriak Melissa,
Melihat Kakak iparnya yang telah dua kali mengalangi orgasme membuat Alay semakin bersemangat memacu penisnya, kini tubuh Melissa ditarik sehingga posisinya menungging dengan posisi ini Alay merasa lebih leluasa dan menikmatinya, dengan hentakan-hentakan yang keras namun sangat lembut membuat Alay akhirnya dapat merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dari ujung penisnya, dan 1 menit kemudian sebuah semburan hangat menyerami rahim Kakaknya,
“Aaaaahhkk…..” Pekik Alay ketika dia mengalami orgasme,
Sensasi yang begitu luar biasa dapat di rasakan oleh keduanya, dan setelah beberapa detik kemudian Alay terseyum memandang wajah cantik Melissa yang terlihat kelelahan habis melayani dirinya, ada sesuatu kebanggaan di dalam dirinya karena berhasil menaklukan Melissa, tetapi semua itu tetap tidak lepas dari kalung keramat yang di berikan oleh Kakeknya,
“Terimakasih kak, pelajaran ini tidak akan pernah aku lupakan !!!” Bisik Alay yang kemudian mencium bibir Kakak iparnya lalu dia bangkit dari tubuh Melissa yang terbaring di atas ranjang tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuhnya.
Setelah mengenakan kembali pakaiannya Alay melangkah keluar dari dalam kamar Kakaknya dengan membawa perasaan campur aduk antara bahagia dan kepuasan yang tidak dapat di ucapkan dengan kata-kata maupun tulisan, begitu juga dengan perasaan Melissa yang bercampur aduk antara menyesal, takut dan kepuasan yang dia dapatkan.

Posted at 07:50 am by pohonmangga
Make a comment  

Wednesday, March 06, 2013
pembantu kecil

Aku, seorang pria berumur 29 taon, biniku setaun lebih tua. berkali kali ganti pembokat karena pada gak cocok sama bini aku. orangnya emang agak bawel gitu sih, nah pada suatu ketika setelah berkali kali bongkar pasang formasi gelandang serang buat urusan harian rumah tangga, mertua bawa pembokat dari kampung, katanya dulu bekas muridnya, mertuaku ini guru SD. sebut aja namanya latri.

Sebenarnya sih aku gak pernah yang ada rasa apa apa sama dia maupun pembokatku yang dulu dulu, walo pernah ada yang sedikit lebih mending dari tu anak sebelomnya. Si latri ini, katanya umurnya 13 tahun lebih dikit, anaknya manis, kalem, tocil banget jadi kaya’ anak kecil gitu, itu yang semangkin buat aku gak tega, amit amit deh pedo.

Nah, pada suatu ketika, aku lembur kerjaan, secara aku emang sering kerja sampe larut di rumah, pas aku bosen (waktu itu dah dini hari, jam 3 an) aku puter bokep di kompi buat ngeredemin otak, gak nyadar sampe 2 jam an lebih aku nonton. Wuih, jam 5 subuh deh. Karena kebelet pipis, kompi aku tinggal aja. Ternyata pembokat aku selain baik juga rajin bro, jam segitu dah bangun, n mulai bersih2 rumah. Pas aku balik ke ruangan kerja aku ternyata do’I lagi bersihin meja aku, sambil lirik lirik kompi aku yang secara masih muter bokep. Kaget bukan kepalang aku, malu minta ampun, doi juga sama.

Saat itu gak terjadi apa2, doi langsung ngabur keluar ruang kerjaku, dan hari hari berlalu tanpa aku maupun dia nyinggung2 masalah itu. Pada suatu siang, aku balik cepet dari kantor, maklum suntuk jadi ngabur, pas sampe rumah, keadaan sepi, maklum bini juga kerja. Iseng2 nonton TV doi nimbrung, eh malah minta ganti nonton infotaiment ins*rt siang ato apalah geto. Yaw dah aku relain aja, padahal di kamar dia dah aku sedianin TV sendiri. Jadilah kita nonton berdua di ruang TV. Gak tau siapa yang memulai, kita dah ngobrol ngalor ngidul aja..

Sampai ke obrolan masalah pagi itu, pas dia secara gak sengaja nonton bokep di kompi aku. Aku tawarin doi apa mau nonton lagi, eh dianya mau sambil malu malu gitu, jadilah kita dari nonton infotainment ke berbokep ria. Aku mulai adem panas nih, aku Tanya apa dia pernah gituan, dia gak mau jawab, eh malah cerita cuiman dia ama pacarnya. Katanya dia suka banget kalo pacarnya nyiumin dia make lidah.

Hari berlalu lagi, tanpa terjadi apa2, siang itu aku ada di rumah karena baru balik tugas kantor dari luar kota selama beberapa hari,akhirnya kantor ngasih off selama sehari buat rehat. Bangun tidur hamper jam 10 siang, aku lalu mandi terus sarapan, lalu ngeloyor ke ruang kerja buat nyicil bikin laporan meeting. Tenyata siang itu otak masih agak buntu, sedikit kecapekan kali, akhirnya cuman buka e book dan baca baca sambil ngedengerin musik lewat headset. “misi pah, kakinya” tiba-tiba ada suara dari belakang, aku kaget karena konsen baca dan dengerin musik make head set jadinya ga tau ada orang, ternyata si latri lagi nyapu.

Dia memang manggil aku papa, kliatanya yang nyuruh bini, biar kaya keluarga, katanya.
“Kok siang nyapunya lat?” tanyaku,
“iya” jawabnya singkat.
“Dah sarapan?” tanyaku lagi,
“udah pa, papa udah?” dia balik nanya.
“udah” jawabku singkat.
“Masih banyak kerjaan ya?” tanyaku lagi,
“enggak pa, cuman tinggal nyetrika dikit cucian kemarin sore” jawabnya.
“pah…” dia mau bilang sesuatu tapi di tahan.
“iya” kataku, “ada apa?” tanyaku lagi.
“itu pah, latri kalau boleh mau belajar computer, mau bisa buka buka internet gitu”.
“oya, boleh dong, pake aja”. Ternyata dia takut kalau ngerusakin karena salah pencet, akhirnya aku yakinkan kalau computer gak akan rusak kalo cuman salah pencet, iya rusak kalo di banting. Dia ketawa lalu aku suruh dia ambil kursi buat belajar.

Untuk pembaca ketahui, aku sudah di karuniai satu anak, usia 4 tahun, dia sama mamanya di ikutkan full day schooling, jadi jam 5 sore baru di jemput mamanya pas pulang kantor, kata dia, mending taruh anak di lingkungan edukasi daripada di rumah sama mbak yang kurang bisa ngajarin ini itu. Aku sih menurut aja. Hampir dua jam, gak terasa aku belajarin dia computer dan internet, dari words sampai bikin e mail dan buka account facebook. Dia sampai bikin catatan. Tampak serius banget, aku liat liat lama lama cantik juga ni anak, pendiem, serius kerja, serius belajar. Buset, masa aku ada feel ama anak ini, yang bukan hanya pembantu tapi udah di anggap keluarga sendiri masih anak anak lagi. Jangan deh...

“Udah capek?” tanyaku, setelah liat dia menarik nafas panjang sambil nutup kertas yang di pakainya mencatat. Sekilas aku melirik ke dadanya yang kecil jadi sedikit membusung pada saat dia menarik nafas.
“istirahat bentar ya pah?” tanyanya.
“lama juga boleh” candaku,
“mau apa lagi nih? Mau nonton lagi?” candaku lagi, dia hanya senyam senyum, lalu bilang “Kalau mau nonton di kamar latri aja pah, laptopnya di bawa ke sana, soalnya latri mau sambil nyetrika, takut kerjaan tertunda”

Ahirnya dari nonton di ruang kerja aku, kita pindah ke kamar doi di lantai dua. Untuk setrika dia senang sambil lesehan, gak pegel katanya,jadinya aku duduk di samping kanan dia sambil nonton bokep yang aku setel di laptop dan aku taruh di depan kami, di seberang meja setrika. Sambil ngobrol2 lagi aku pancing2 soal ciuman, dengan malu2 dia cerita, trus pas aku Tanya mau ciuman sama aku gak? Dia cuman nunduk malu malu gitu, entah setan mana yang nyambet, tiba tiba aku nekat nyosor.

Jadilah bibir kita beradu, tanpa aku sangka doi tidak menolak, malah sedikit menyambut ciumanku, aku sodorin lidahku dia isep isep sambil mulai berani nyodor nyodorin lidah doi. Jadilah kita French Kiss yang agak panas. Bener memang apa yang di katain sama temenku, sensasinya beda, hamper seperti ciuman pertama, deg deg an banget. Diantara nafsu dan takut takut gitu, alhasil tangan pun jadi gemeter dan belum berani gerilya ke sana kemari. Cuman melingkar di pinggang kecil dia. Rasanya mesra dan anget banget.

Lama kita bersilat lidah, seakan dia gak mau cepet cepet nyelesaiin adu mulut yang kita lakukan begitu juga dengan aku. Tangan kiriku semakin erat memeluk pinggang dia, sedang tangan kananku di pegang dan di remas remas sama dia, seiring irama ciuman kami. Nafas kami makin tersenggal senggal karena lamanya kami FK. Sejenak dia lepasin bibir sia, tapi herannya dia tidak menarik mukanya jauh jauh dari muka ku.

Sambil terengah engah dia ngeliatin muka ku, jujur aku gak tau apa yang ada di pikiran anak ini. Saat itu posisi kita masih duduk berjejeran. Tiba tiba dia bangkit lalu bilang “latri minta pangku boleh ya pah?”. langsung pahanya aku tarik melewati kakiku, waktu itu aku masih dalam posisi bersila, alhasil dalam posisi dia aku pangku dengan mengangkangi pinggang ku itu, memek dia langsung berhdapan dengan kontol ku yang memang sudah berdiri dari tadi.

Waktu itu, dia memakai celana legging item sepaha dan kaos tipis ketat biru ala ABG sedangkan aku cuman memakai boxer tanpa celana dalam dan kaos dalaman (bukan singlet). Aku sengaja naikin sedikit pahaku sehingga duduk dia melorot ke depan, alhasil memek dia langsung bersentuhan dengan kontolku yang memang sudah tegak. “eh, papah…” erangnya kaget, tanpa menyia nyaian moment aku langsung merangkul punggung dia dan merapatkan dadanya dengan dadaku. Tangan dia juga langsung melingkar di leherku, baru aja kita mau mulai perang mulut babak ke dua, tiba tiba..

TING-TONG Tingtungtingtungtingtengtongtengtong…bel rumahku berteriak gaduh…Game paused!

Kami sama sama ketawa, tanpa ku sangka dia sempet langsung menyambar bibirku dengan cepat sebelum bangkit dari pangkuanku dan bilang “bentar ya pah..”. Dia langsung berdiri dan berjalan ke ruang tamu untuk membuka pintu, aku melihat dari belakang pantat kecilnya yang nyeplak di legging dia, aku senyum sendiri karena mikir, kenapa gak dari tadi ku obok obok? Ngegemesin banget tuh pantat kecil. Udah miring emang otak ini…

Ternyata temen dia, dua orang pembantu tetangga sebelah rumah mau main, karena gak tau kalau aku ada di rumah. Jadinya latri cuman buka sedikit pintu, dan pada bisik bisik di depan pintu. Pelan aku turun dari tangga, sekilas aku masih denger dia di godain ama temennya “iye, mentang mentang papahnya ada di rumah, di mainin gak mau” lalu yang satunya nimpalin “secara papah ganteng tersayang gitoo, hihihi…”. Latri cuman senyum sambil nyubit temennya. Tak lama kemudian aku denger pintu di tutup. Latri bergegas langsung masuk, melihat aku sudah ada di ruang makan sambil duduk dan minum segelas air, tampak sedikit raut aneh di muka dia. “lho papah dah turun?” tanyanya.

“iya, abis haus mo nyari minum” jawabku ringan. “oh, ya udah…” katanya sambil nunduk dan bergegas mau naik ke kamarnya. Kalau nurutin insting, aku pasti udah menarik tangan dia dan ku lumat bibir dan tubuhnya saat itu juga. Tapi entah mengapa gak aku lakukan. “lat!” aku panggil dia cepat, sebelum dia sempat naik anak tangga ke dua. “tadi maaf ya, papah khilaf nyium latri” kataku, dia cuman tersenyum lalu bilang “papah sih nakal…” lalu naik tangga, sampai di tengah, dia nengok sambil senyum penuh ari.

Latri, latri….
Kamu bisa bikin papah mu ini gila beneran, batinku…
Lalu ku ngeloyor ke ruang kerja, nyalain PC karena laptopku masih di kamar latri.

Kliatanya agak lama aku cuman duduk di sana, mataku kosong menatap layer PC yang cuman nongolin gambar desktop background yang memang aku belum buka program apa apa, pikiranku entah di mana. Sampai tersentak kaget saat ada yang negor “hayo, papa ngalamun aja, ntar kesambet lho…”. “Eh, kamu lat, mau mandi?” tanyaku karena melihat dia bawa handuk. “iya, kan udah jam setengah empat pah” jawabnya ringan sambil tangannya merapikan laptop yang sekalian dia bawa karena tadi masih aku tinggal di kamar dia. Setelah dia menggeloyor pergi, baru aku liat jam. Ini mah gila, ternyata aku dah ngalamun lebih dari sejam di depan layar PC kosong.

Hari hari berlalu sejak kejadian itu. Semua aktivitas berjalan normal seperti biasanya. Selain aku juga di sibukkan dengan kerjaan kantor yang akhir akhir ini sedang banyak banyaknya, juga tidak ada kesempatan untuk berdua di rumah. Kadang kalau tidak sengaja berpapasan kita hanya saling pandang dan dia selalu tersenyum penuh arti. Akupun juga tidak berusaha untuk menggoda dia lagi. Padahal sebagai seorang cowok, track recordku juga tidak bisa terbilang bagus.

Beberapa wanita mewarnai kehidupan pernikahanku, dari perselingkuhan yang hampir menghancurkan keluargaku sampai ABG yang sering aku bayar untuk memuaskan libido ku yang memang besar. Bahkan saat ini aku ada affair dengan sekertarisku di kantor. Tentu saja di rumah (atau di manapun) aku berusaha tampil sebagai laki laki, suami dan ayah yang baik. Tetapi setelah perselingkuhanku yang hampir menghancurkan keluargaku itu, istriku seperti agak dingin. Bahkan kita terbilang sangat jarang melakukan hubungan sex, walau itu seharusnya tidak menjadi alasan mengapa aku ‘jajan’ kesana kemari. Apalagi sekarang dengan latri, pembantuku sendiri, aku tentunya sangat sangat tidak menginginkan hal seperti itu terjadi, tetapi kadang saat libido sudah membara, tindakan yang aku lakukan jadi berseberangan dengan akal sehat ku sendiri.

Malam itu, sekitar jam 9, setelah menemani anakku tidur dengan cara membacakan cerita kesukaannya, aku dan istriku duduk di sofa depan TV. Dia ada di pelukanku. Sambil nonton TV aku iseng main mainin putting dia yang malam itu tidak di bungkus BH. Istriku hanya mengenakan daster tipis, tanpa BH dan CD, dia memang sering suka tidur seperti itu. Beberapa saat setelah putingnya aku buat mainan, ternyata istriku mulai terangsang, dia mulai mendesah desah. “aahhh…mmmm…ssshh…” katanya.

Tanpa aba aba, dia langsung jongkok di depan sofa, memelorotkan celanaku dan mulai mengoral kontol ku. “ough…clough…ggghhh…agghhh…” kontolku yang mempunyai panjang dan diameter di atas rata rata ini memang kurang muat di mulut dia. Tapi istriku mempunyai cara oral yang lain daripada yang lain, aku gak tau apa yang dia lakukan di dalam mulutnya, kontolku selalu terasa terpilin, tersedot dan pada waktu yang sama seperti di elus ataudi jepit jepit, itu belum sensasi kasar kasar giginya yang gingsul dan tidak rata. Sebentar saja aku sudah mengerang erang. 10 menit di oral seperti itu, aku hamper tidak tahan. Istriku langsung aku tarik ke sofa.

Di sofa, dia aku terlentangkan. Aku buka lebar lebar pahanya, langsung ku arahkan ujung kontolku ke memek dia. Memang seperti ini yang dia suka, dia gampang sekali menjadi panas sekaligus gampang juga menjadi ‘dingin’ kadang foreplay yang romantis atau agak sedikit lama, seperti FK, ngenyot putting dia, mengoral memek atau menjilati klentit dia malah ‘membunuh’ gairahnya. Bertele tele, katanya. Makanya…bless…”ackh…dooorooong paaah…achkh…” dalam sekejap kontol ku sudah di telan oleh memeknya. Setelah masuk, aku langsung ambil posisi, dengan dia terlentang melintang di sofa, maka separuh pantatnya masih menggantung. Aku lalu memegang kedua kakinya di mata kaki dan mengangkatnya melewati bahuku. Dengan begitu akses kontolku semakin leluasa menggasak memeknya.

Jleb…jleb…jleb…kcak…kcak…clack…clack…
Aku mengayuh istriku dengan tempo sedang, kontol ku keluara masuk dengan mulus di memek dia, bahkan biji pelirku seakan akan menampar nampar pantatnya dari depan. Aku lihat istriku sibuk mempernikmat dirinya sendiri, dia pilinpilin sendiri putingnya, sambil mendesah desah sementara memeknya di serahkan kepadaku untuk menggenjot. Cairan memek dia semakin banyak keluar, menimbulkan suara kecipak kecipak yang semakin keras, di selingi desahan desahan nya yang memang ku biarkan bebas berekspresi. Masih dengan tempo sedang, aku mengayunkan pantat untuk mendorong dan menarik kontolku di lorong memek istriku, aku terperanjat ketika memandang ke depan.

Sofa itu memang membelakangi tangga ke lantai dua, di sana aku melihat sosok yang membuatku kaku. “latri??” kataku dalam batin. “sejak kapan dia di sana?”. Dengan santai, memakai kaos tidur terusan sepaha, dia melihat ku ngentotin istriku tanpa berkedip. Melihat aku memergoki dirinya dia malah dengan cueknya membungkuk melekas celana dalamnya lalu berjongkok dan mulai bermasturbasi mengobel obel memeknya. Walau aku tidak bisa melihat secara jelas memeknya karena jarak dan cahaya yang temaram, tetapi apa yang dia lakukan semerta merta mendongkrak libidoku. Kontolku seakan mengeras 2x lipat, tanpa sadar aku menggenjot memek istriku lebih kuat dan lebih cepat. Istriku yang tidak tahu kejadian itu, malah tambah menikmati. Sambil mengerang ngerang dia meremas remas susunya kuat kuat.

Samara samar dengan jarak itu, aku melihat latri mengobel memeknya dengan cara memasukkan jari tengahnya ke lobang memeknya. “sudah tidak perawan dia?” batinku. Perasaanku tambah tidak karuan, libido yang naik ke ubun ubun membuatku secara tidak sadar telah mengenjot istriku dengan RPM tinggi sejak 10 menitan yang lalu. Di antara selangkanganku, istriku kelojotan mencapai orgasmenya yang entah ke berapa sedangkan kontolku bagai piston panas masih menggenjot dengan ganas memek dia. Tak seberama lama kemudian akupun merasakan dorongan spermaku sudah mencapai ujung tanduk. Dengan mengerang keras, sengaja suaraku tidak ku tahan, sambil menatap latri lekat lekat ku semburkan lahar panasku ke rahim istriku walau di dalam imajinasiku, sperma itu seakan ku semprotkan ke dalam rahim mungil latri. “Arrggghhh…!!” CROT…CROT…CROOOOTT…

Istriku langsung mencabut kontol ku dari memeknya dan memasukkan ke dalam mulutnya sambil berguman “mmmm…kontol papa nikmat banget malam ini…”. Sedangkan pandanganku masih lekat ke latri yang kelihatanya sudah pula mencapai orgasme. Dia duduk mengelosoh di tangga. Sesaat istriku menarik kepalaku untuk di ajak FK, aku mengikutinya. Kami FK dalam dalam. Setalah selesai Fk, pandanganku kembali ku arahkan ke tempat latri, tetapi dia sudah tidak ada di sana.

Istriku beringsut bagun dan menuju kamar mandi, setelah dia di dalam, aku menuju ke lokasi dimana si latri bermastuebasi tadi, di sana ku temukan genangan lendir encer di lantai. “mmm…orgasme juga dia rupanya” batinku. Aku saput lendir itu dengan jariku, kucium, lalu ku jilati dan ku telan. Hanya dengan itu, libidoku dibuatnya bangkit kembali, seakan aku ingin saat itu juga menerjang ke kamarnya dan menggumuli badan mungilnya serta menggenjot memek sempitnya. Tapi, sekali lagi aku NAKAL, bukan GILA.

BERSAMBUNG....
Beneran bersambung gan, udah saya tulis sih, tapi tergantung respon masta-masta, kalau permintaan dan "Thanks" memadai (bukan bermaksud menjadi matre), pasti bakalan saya release...

Posted at 11:59 am by pohonmangga
Make a comment  

Previous Page Next Page