Wednesday, July 14, 2010
sepupuku tersayang

Perkenalkan namaku Roni (samaran) umur 25 tahun, bekerja pada suatu perusahaan Jepang di bekasi sebagai EDP.

Cerita ini bermula waktu aku masih SD kelas 5 dan mulai mengenal yang namanya seks. Itu juga pertama kali dengan adik sepupuku yang lumayan cakep lah.., ingat aktris sinetron "Dominique Sandra", seperti dia cantiknya.
Dia anak pakde ku yang tinggal di Jawa Tengah namanya .. Retno .. (8 tahun). (Sengaja aku kosongkan nama pertama dan terakhir, takut ketahuan kakak sepupuku yang lain. Hehehe..). Sedangkan aku tinggal di daerah Bekasi.
Waktu itu aku masih SD kelas 5 dan aku minta di sunat seperti kawan-kawan yang lain. Karena ku pikir udah saatnya aku disunat.

Biasanya seminggu sebelum disunat banyak keluarga dari bapak dan ibuku datang dan menginap juga sekalian membantu masak-masaknya. Nah, dari situlah aku mulai mengenal sepupuku. Pertama aku biasa saja karena kupikir dia masih sepupuku. Tapi kok kayaknya di semakin genit dan centil di depanku, tidak seperti sepupu cewek yang lain, ("yang katanya aku ganteng dan gagah dibandingkan cowok yang lain, katanya setelah aku "berhubungan" dengan dia"). Aku sih biasa saja, karena aku belum paham betul. Nah..

Puncaknya terjadi ketika malam sebelum aku disunat. Setelah semua orang tidur terlelap di rumahku, ada juga sih yang main kartu remi dan gaple, di luaran sambil begadangan dan ronda, yang padahal waktu itu juga aku pengen ikut begadang, tapi diomelin sama semua katanya, disuruh banyak istirahat supaya pada waktu di sunat tidak terlalu banyak mengeluarkan darah. Aku terjaga (mendusin) sekitar jam 01.00 malam karena ingin pipis. Setelah pipis aku melewati kamar dimana retno serta beberapa sepupu cewek yang lain termasuk adikku sendiri tidur.

Aku iseng ngeliat karena kebetulan lampunya mati maka aku jadi bebas. Aku juga ngga tahu tiba-tiba saja seperti ada yang menyuruhku untuk masuk ke dalam kamar itu. Lalu aku masuk dan kulihat retno tidur dibawah bersama adikku dan sepupu cewek lainnya menggunakan tikar, dia tidur dengan posisi yang agak menggairahkan dimana waktu itu dia memakai rok sedangkan kaki kanannya diangkat keatas sehingga terpampanglah paha mulus seorang anak kecil. Walaupun lampu mati tapi aku masih dengan jelas melihat paha dan CD-nya (walaupun remang-remang), karena masih ada lampu dapur yang nyala terang. Lalu aku lihat semua orang yang ada dikamar. Ah.. udah tidur semua.. iseng aku tidur dismping dia, karena kebetulan disamping kanannya kosong.. Sialan dia menurunkan kaki kanannya sehingga pahanya tertutup semua.

Sengaja aku tidak tidur karena diam-diam aku menarik rok nya sampai kedua pahanya yang mulus terlihat. Dan juga CD yang agak menggembung sedikit, walaupun belum ditumbuhi bulu. Tiba-tiba aku ngerasa ada perasaan aneh, dimana titit ku agak membesar, biasanya ini terjadi kalau aku bangun tidur dan langsung kencing, tapi ini lain. Ketika ku pegang, kok makin enak.. karena dari kecil aku termasuk anak yang cerdas dan cepat tanggap, maka dalam hal ini walaupun masih bingung kenapa, aku pun sudah bisa mencerna apa yang terjadi saat itu.
Lalu akupun bangun dan duduk didepan pahanya, dan terlihatlah sebuah CD putih dengan agak sedikit menggembung bagian tengahnya, walaupun belum ada bulunya. Dan juga dadanya yang sedikit menonjol menendakan bahwa dia agak bongsor. Nekat kudekati Cdnya, dan ku cium. Ah.. biasa saja. Tititku semakin tegang, dan ku sentuh di bagian tengah Cdnya, hangat.. lalu perlahan kuturunkan Cdnya, pelan dan sangat hati-hati takut dia terbangun. 1 centi.. lalu aku pura-pura tidur lagi.. melihat tidak ada reaksi kuturunkan lagi.. Lagi.. Dan lagi.. sampai mata kaki.

Dan.. saat itu pula dia bergerak.. aku gemetar, jantungku berdetak kencang sekali.. takut kalo dia bangun, teriak dan mengadukan hal ini pada semuanya. Tapi anehnya. Dia cuma menggeliat dan menaikkan kaki kanannya kembali tapi tidak penuh karena kaki kanan dan kiri terikat oleh Cdnya yang masih melingkar di mata kakinya. Melihat itu, aku segera melepas Cdnya dan berhasil..coy.. Kini didepanku terpampang sebuah pemandangan indah walaupun itu hanya vagina anak kecil tapi untuk seumuranku waktu itu membuat titikku semakin mengencang dan aku pun mengambil kesimpulan bahwa ini toh yang namanya terangsang, seperti yang aku baca di majalah-majalah Kartini, Femina, dll kepunyaan ibuku. Aku makin nekat dengan menciumi vaginanya yang mungil.. Ah..masih biasa juga.. tidak ada bau apa-apa. Tapi setelah dipikir-pikir.. nih enaknya pake senter, ya udah aku ambil senter di kamarku, senter kecil buatan bokap untuk aku, yang baterry nya cuma satu.

Dan jaman Sekarang pun aku punya tapi beli harganya +- Rp. 10000, merknya Energizer, udah ada yang jual dimana-mana. Terkadang kalo lagi bengong sambil ngeliatin senter kecilku, aku jadi tersenyum sendiri.
Setelah senternya kudapat, aku dekati dia lagi.. Masih dalam posisi yang sama. Kutunggu sebentar sampai semua terlihat aman. Lalu aku tiduran di sampingnya.. Kuamati wajahnya yang mungil.. busyet dah ternyata gua punya sepupu cantik buangeet.. Walaupun masih SD tapi tanda-tanda kecantikannya sudah terlihat. Mungkin karena udah keturunan kali ye.. He he he.. Ge eR dah Gua..
Wah kayaknya udah lelap banget nih retno, karena hanya terdengar nafasnya yang teratur dan lembut.. sialan bikin aku makin bernafsu aja..

Aku bangkit dan langsung kunyalakan senter, beruntung karena lampunya kecil jadi hanya diameter 3 centi saja, sinarnya. Lumayanlah untuk menerangi vaginanya retno.. eh.. dia bergerak dan melebarkan kedua pahanya, pucuk di cinta ulam tiba. Terlihat dengan jelas di kedua mataku, vaginanya yang masih merah dan ranum. Nekat kupegang dengan tangan kanan sedangkan kiri masih memegang senter. Kering..?? Aku colek terus aja.. eh.. terdengar nafasnya yang mulai tidak teratur.. Tapi kok mulai basah?? wah jangan-jangan dia ngompol nih.. tapi pas aku cium tanganku, ah.. bukan air kencing nih..air apa yak?? terus ku elus-elus vaginanya, lalu tanpa sadar aku langsung mencium dan menjilatnya.. Mmpphh..asin.. sial.. kok rasanya kayak gini sih?? ah.. peduli amat aku udah terlanjur terangsang.

Kudengar nafasnya mulai tidak beraturan tapi tidak berisik.. (unik kan). Lalu ku buka celana ku, karena aku masih kecil jadi belum pakai CD. Aku ngeliat tititku makin tegang dengan ujungnya yang masih tertutup oleh kulup. Dan sedikit keluar lendir.. aku makin heran lendir apaan nih..ku jilat.. kok asin juga sih.. Ku coba mencerna semua ini, tapi karena otak normal ku udah ditutupi oleh nafsu aku jadi tidak bisa berpikir secara teoritis. Yang ada saat itu hanya perasaan nikmat dan juga nafsu yang menggebu-gebu. Setelah puas menjilati vagina retno, yang sepertinya dia menikmati permainanku ini, aku lalu menurunkan kedua kakinya sampai lurus.
Lalu aku mulai merangkak di atas tubuh nya tanpa menyentuh tubuhnya sama sekali.

Setelah posisiku pas, aku turunkan tititku sehingga mendekati vaginanya. Kucoba masukkin, kok ngga mau masuk.. terus ku coba.. lagi..lagi.. ah capek.. susah juga, pikirku. Yah udah aku tiduran lagi disampingnya.. ah mendingan juga megangin vaginanya.. lagi asyik berfikir untuk melanjutkan aksiku, tiba-tiba dia menggeliat dan posisi tubuhnya miring menghadap diriku yang waktu itu aku juga sedang asyik menikmati wajahnya yang ayu. Di tambah lagi dengan kaki kirinya ditekuk ke atas sehingga sepertinya dia sudah pasrah untuk di setubuhi. Aku bingung.. Ku pegang lagi vaginanya.. wah kok tambah basah.. jangan-jangan dia tahu dan terangsang.. atau sedang mimpi sambil ikuta terangsang.. wajahku dengan wajahnya hanya berjarak 10 centi saja. Sehingga nafasnya yang berat dan menggebu terdengar sangat jelas. Aku berusaha bernafas dengan pelan supaya dia tidak terbangun dan kaget.

Tapi tiba-tiba tanpa kuduga dia tersenyum dan tangannya bergerak memegang tititku, Oouuppss.. ada apa nih.. aku kaget setengah mati.. ah mungkin nih anak ngga sadar kali yak.. Tapi setelah kuperhatikan mukanya, dia masih sambil tersenyum dan mulai membuka kedua matanya pelan-pelan. Aku makin kaget dan takut, kalau itu cuma tipuan dia setelah itu dia teriak.. lalu aku pun bangun sambil merapikan celanaku, tapi sebelum aku berjalan kaki ku ditahan oleh tangannya retno, sambil tangan kirinya memberi kode untuk kembali tidur disampingnya.
Aku menggeleng, tapi sambil tersenyum dia tetap memberi kode, dan aku pun seperti tersihir lalu aku tidur disampingnya kembali.

Kami tetap diam untuk beberapa saat.. sampai dia akhirnya berbisik kepadaku dengan bahasa bekasi karena dia tahu aku ngga bisa bahasa jawa, "Mas,.. akhirnya aku kesampean juga bisa pegang tititnya mas". "Lo, kok kamu ngomong gitu, sih", jawabku. "Entar aja aku ceritain, sekarang elus-elus lagi punyaku kayak tadi", jawabnya. Bagai disamber geledek di tengah malam, antara seang, kaget, gembira bercampu jadi satu, kuturuti kemauan dia. Tanpa di suruh dua kali aku langsung mengelus-elus vagina retno, dan dia sepertinya mendesis keenakan. Aku ngga peduli kenapa dia mau seperti, yang penting aku juga sudah terangsang berat.

"Ehmm..eesstt.. eennaakk mas..uuhh"..
"Hei..pelan-pelan, jangan berisik..", jariku makin liar menggosok vaginanya yang makin lama makin membanjir. Tangannya pun mulai meremas dadanya sendiri. Semua kami lakukan dengan sangat hati-hati takut membangunkan yang lainnya.
"Mmmass.. yang cepet dong.. Eesstt.. eesstt.. aahh..".
"Gila nih anak.. kecil-kecil udah pinter yang beginian, belajar darimana nih anak yak?", pikirku dalam hati.
Tak lama kemudian, setelah sekian lama aku menggosok vaginanya yang membuat tanganku pegal, dia merapatkan kedua pahanya..
"Ret.. tanganku jangan dijepit dong..", kataku pelan.
"Aakkuu mauu naympee, mass", katanya
"Nyampe kemana.. ret, ngaco kamu"
"Ohh..sstt.." sseerr..sseerr.. kurasakan jariku sepertinya ada cairan yang keluar lumayan banyak dari vaginanya.
"Kamu ngompol ya..?", kataku
"Bbb bukann Mass, ituu namanya cairan kenikmatan", jawabnya
"Ahh.. Eesstt", erangnya.

Kembali aku dibuatnya berpikir, kenapa nih anak.. Aku masih bingung..
Lalu kedua pahanya mulai mengendur dan perlahan membuka.. Tercium aroma yang aneh di udara kamar.. " Bau apa nih, ret..", tanyaku. "Itu namanya aroma punyaku", jawabnya. Aneh..??!!
Tak lama setelah dia orgasme (yang aku baru tahu setelah aku SMP), jariku di lapnya dengan menggunakan CDnya. Kami terdiam beberapa saat, sampai kemudian dia kembali memegang tititku yang sudah lemas, entah kapan aku juga tidak merasakan kapan tititku ini mengkerut.

"Mas, kok tititnya lemes sih"
"Mana aku tahu.."
"Ya udah sini retno bangunin lagi"
"Emangnya kamu bisa"
"Sini.. serahkan padaku"
Leherku dielus-elus dengan tangannya yang lembut, dicium, dijilat, yang membuatku merasakan sensasi yang aneh, asing tapi kok enak dan nikmat, sepertinya aku tak mau dia berhenti melakukannya. Tindakannya itu ternyata membuat tititku kembali menegang, dan rupanya dia juga sudah mengetahuinya dengan memegang tititku.
"Tuh.. kan dah bangun lagi"
"Trus aku mau diapain, sih"
"Pokoknya Mas tenang aja, dijamin enak deh"
"Terserah koe lah..", jawabku.

Lalu dia membuka resleting celana ku dan mengeluarkan tititku yang sudah menegang dengan hebat. "Ih.. lucu juga yah.. titit anak cowok kalo belum di sunat". "Cerewet luh..", kataku agak kesal karena dari tadi dia selalu menjatuhkan ku terus. "Jangan marah dong, Mas". "Nih kalo diginiin enak ngga?". Tangannya yang mungil mengocok-ocok tititku, sambil membuka kulup (kulit atas) bagian ujung tititku, sehingga terlihat seperti topeng Ksatria Baja Hitam kalo dibalik, apalsgi kalo dikasih 2 mata pake spidol, persis banget..!! (kata teman-teman sebayaku yang sudah disunat sewaktu kami mandi di kali, dan saling memperhatikan tititnya masing-masing).

"Ret.. eennaee rekk..".
"Hmm sstt..ohh.."
Tidak lama dia bangun dan kepalanya sudah berada diatas perutku, "Mau ngapain kamu ret.."
"Nikmatin aja yah Mas..". Gila dia mengulum tititku, sampai aku blingsatan keenakkan.
"Cah.. gemblung koe..", kataku pelan..
"Men.., sing penting ayu, akeh sing naksir karo aku, wee..", katanya..
Sialan juga nih bocah..
"Ohh.ret .. eennakk.. "
Sepertinya dia makin cepat mengulum penisku, sangat cepat, hingga aku merasakan sensasi yang sangat luar biasa yang baru pertama kali kurasakan seumur hidupku. Perasaan apa nih.. Dan sepertinya juga aku pingin pipis.
"Ret.. Aku pengin pipis nih".
Tapi dia cuek aja, sambil terus mengulum penisku, kulihat bibirnya yang mungil naik turun memasukkan dan mengeluarkan tititku.
"Akhh..Eeuuhh.. ", croott..crroot.. mau ngga mau aku akhirnya pipis juga.. tapi kok pipis rasanya lain, sangat nikmat. Dia terus mengisap sampai habis air mani ku habis..(semua ku tahu sampai detail setelah aku menginjak SMP).
Aku lemas dan tak berdaya, langsung saja aku terlentang, sementara retno sepertinya pergi keluar kamar.
"Enak ya, Mas..", katanya manja, setelah dia kembali ke kamar..
"Dari mana kamu, Ret?"
"Dari kamar mandi, buang mani, Mas".
"Mani? apaan tuh?"
"Ih.. Mas.. kok ngga tau sih.."
"Ya udah kita tidur lagi besok kan Mas mau disunat entar banyak darahnya lo kalo kurang tidur".
Dia pun mencium pipiku, aku pun merespon tindakan dia dengan mencium pipinya juga.
Aku pun bangkit, dan memakai celanaku.. kulihat tititku masih ada beberapa cairan yang saat itu aku ngga paham cairan apa itu.
"Ret,.. kapan kau mau ceritain semua ini", tanyaku.
"Entar.. aja.. masih banyak waktu.. Aku libur sekolah hampir 1,5 bulan, entar aja kalo Mas udah di sunat, nanti aku ceritain semuanya", jawabnya.
"Yo..wis..karep mu lah..", "met bobo yak..
"Met bobo juga Mas"..

Tanpa sadar kulirik jam sudah jam 03.00, berarti lama juga aku bercumbu sama retno.. aku harus tidur supaya besok pagi aku ngga cape dan ngantuk.
Aku pun ke kamar mandi untuk pipis dan pada saat pipis aku merasakan hal yang biasa saja, aku semakin bingung kenapa tadi pada saat aku pipis di mulut retno kok aku ngerasa enak dan nikmat, tapi kok sekarang biasa saja. Ah .. bodo amet.. Aku pun kembali ke kamar dan terlelap..

Hingga besok pesta sunatanku meriah sekali, aku berangkat ke mantri sekitar jam 06.00, dimana aku masih sangat terlihat sangat ngantuk, aku sempat di marahin sama ibu karena aku kurang istirahat, beruntung semua ngga ada yang tahu, kecuali kami berdua.

Ternyata or-tu ku mengundang banyak orang untuk hadir dalam pesta sunatanku. Banyak teman-temanku yang hadir, bahkan ada juga teman cewek yang nekat ingin ngeliat tititku yang udah disunat. Tapi ketika kulirik retno yang memang dari aku datang dari mantri dia selalu menemaniku, terlihat sangat tidak suka terhadap teman cewekku, sambil mempelototi cewek itu. Yah udah teman cewek ku tidak jadi ngeliat, ada satpamnya sih. Hehehehe..

Hingga aku sembuh retno masih menginap dirumahku padahal or-tunya sudah pulang ke jawa, katanya masih betah main sama adikku, padahal dia kurang begitu akrab sama adikku hanya sebatas main bekel, boneka, congklak, masak-masakan, dll.

Ternyata setelah waktu pas dia menceritakan kepadaku kalau dulu dia di kampung nya di ajarin oleh teman cowoknya yang katanya naksir sama dia, anak SMP kelas 2. Gila yak tuh cowok.. sepupu gua di mainin.. katanya dulu dia ajak main dokter-dokteran, trus sampai begini deh.. Untung aja retno kaga kecewa, karena setelah itu aku bertekad untuk melindungi retno dan sampai sekarangpun aku masih menjalin hubungan yang makin hangat, walaupun aku sempat berpikir untuk bersenggama dengannya, aku takut karena dia masih sepupuku, kami berkomitmen hanya sebatas petting saja, dan jangan lebih.

Ok.. rumahseks readers, masih banyak petualangan bercintaku dengan retno sepupuku, kayaknya episode selanjutnya aku dan retno bersex ria ketika aku SMA kelas 1. Pada saat aku liburan sekolah. Tunggu aja episode selanjutnya. Kritik dan saran sangat membantu, bagiku yang masih terbilang sangat awam dalam hal mengarang, karena dari dulu pelajaran bahasa indonesiaku dalam mengarang selalu standar, tidak pernah menakjubkan, hanya saja yang eksak seperti IPA, Matematika dan Or-kes aku selalu terlihat menonjol dibandingkan dengan teman-temanku yang lain..

NB: oh ya.. si retno nih punya lagu favorit, tahu lagu "Nenek moyangku Seorang Pelaut", mungkin bagi yang pernah ngalamin SD, tahu lagu ini, seperti ini, "KAKEK MOYANGKU SEORANG PELAUT, PUNYA SENJATA DI BAWAH PERUT, BISA MENGEMBANG, BISA MENGKERUT, SEKALI TEMBAK, CRUUT, PERUT CEWEK GENDUT", coba readers nyanyiin lagu ini deh, pasti akan tertawa.. bagi yang tahu dan kenal syair ini mungkin ada hubungannya sama aku atau retno..(dah..).

Posted at 04:33 pm by pohonmangga
Make a comment  

tetangga yang asikkk

Sinta adalah tetangga sebelahku yang sudah duduk dikelas dua SMA. Usianya 17 tahun tahun dengan wajah oval rambut sebahu kulit putih mulus dengan badan yang begitu langsing namun payudaranya lumayan proporsional, sekitar 34B. Wajahnya cantik dan manis, bahkan kalau tersenyum bagai bidadari.banyak pemuda dikampungku yang ingin mendekatinya, karena dia termasuk salah satu kembang di kampung bahkan di sekolahannya.Sinta adalah seorang gadis pendiam dan jarang sekali bergaul dengan teman sebayanya.Sebenarnya aku sudah mengenal Sinta sejak dia masih duduk di kelas 3 SMP. Waktu itu aku masih ingat betul dan payudaranya belum kelihatan tumbuh. Kedua orang tua Sinta telah porak poranda dan dia diasuh oleh neneknya. Agaknya ini salah satu faktor yang membuat dia memiliki satu kebiasaan buruk yaitu suka mencuri. Satu kebiasaan yang sangat disayangkan untuk cewek yang secantik dan semanis dia, mungkin himpitan ekonomi yang membuatnya menjadi begitu, karena aku tahu betul keadaan ekonomi neneknya tidaklah begitu cukup dengan rumah yang sangat sederhana itu. Sinta sering main ke tempatku bahkan sering sekali masuk ke kamarku untuk bermaun dengan adik sepupuku yang juga cewek yang masih duduk di bangku SD. Mungkin dia sedikit malas bergaul dengan teman sebayanya juga karena rasa minder dengan keadaan dirinya.

Dahulu sewaktu masih SMP seringkali Sinta bermain dikamarku dengan adik sepupuku dan tak jarang pula dia sampai tertidur disana.Kebiasaannya memakai celana pendek dan sering tertidur dikasurku pada siang hari waktu dia masih SMP dulu dengan paha mulusnya yang terlihat jelas cukup membuat otakku berpikiran ngeres, apalagi ketika ia bermain dikamarku pada saat aku menonton televisi tanpa dia sadari sering terlihat CD-nya cukup membuyarkan konsenstrasiku menonton televisi. Sampai sampai aku sering beronani mengandaikan jika aku suatu saat dapat memperkosa atau menikmati dirinya, namun semua itu hanya aku bawa dalam mimpi.

Akhir-akhir ini aku sangat heran dengan seringnya uangku yang aku taruh dalam dompet selalu berkurang alias hilang. Pada awalnya hanya lima rbuan, namun lambat laun jadi terus meningkat menjadi dua puluh ribuan bahkan lima puluh ribuan. Rupanya dugaanku tidak jauh meleset bahwa Sintalah penyebabnya. Aku sudah cukup faham sekali dengan kebiasaan buruknya melaui cerita cerita tetangga tentang dia. Siapa lagi kalau bukan Sinta? dia masih sering masuk ke kamarku dan bermain dengan adik sepupuku disana. dia juga yang sering menghabiskan minuman soft drink di kulkas kamarku yang sudah terbuka tutup botolnya. Tiba tiba ide setan melintas dibenakku.

Aku sengaja membeli sebuah obat perangsang dan aku taruh dalam botol fanta yang telah aku siapakan. siang itu sepulang sekolah seperti biasa Sinta berpura pura mencari adikku, padahal seharusnya dia sudah tahu kalau setiap hari Sabtu dan minggu adikku tidak pernah dirumah alias pergi kerumah neneknya bersama ayah dan ibuku, dan aku tahu apa sebenarnya maksud Sinta masuk kekamarku. Pasti dia akan berlagak menonton televisi sampai aku tertidur siang dan dia akan memulai aksinya mengambil uang dari dompetku pada saat aku tertidur. Namun aku telah menyiapkan semuanya dan dompet kutaruh dalam celana yang aku gantung ditempat yang terlihat.

" Siang mas, Anto..." sapa Sinta " Nita mana...?" , "Loh ini kan hari Sabtu masa lupa seh..?" jawabku.
"Oh iya ya Sinta lupa mas, berarti sendirian saja donk sekarang..?" tanyanya sembari membuka kulkas kamarku. Aku hanya mengangguk berpura pura cuek menonton televisi
" Mas ini buat sinta aja ya fantanya yang masih banyak Nita haus capek pulang dari sekolah nih..kan udah dibuka...."
Sekali lagi aku mengangguk berlagak cuek, namun dalam hatiku aku bersorak kegirangan Kena loh..!!!

Sejurus kemudian aku berpura pura ketiduran seperti biasanya. Selang lima belas menit aku melihat mukanya yang manis dan putih mulai memerah seperti kepanasan, nah ini pasti pertanda dari obat itu yang mulai bekerja. Dan benar saja dugaanku, karena tidak tahan tahan dia segera berkasi merogoh dompetku selang setengah jam kemudian.

Perlahan dia mulai bergerak menuju ke celana yang aku gantungkan dan kubiarkan dulu dia mengambil dompetku. Begitu dia memegang dompetku aku segera terbangun dan membentak dia.

"Ooooo.....jadi kamu ya yang selama ini mengambil uangku hah..????!!!" bentakku.
Sinta menggeragap, dia tidak menyangka sama sekali rupanya. Wajahnya yang putih dan sudah sedikit kemerahan itu tampak pucat keringatan, SSs..ah betapa cantik dan manisnya wajah itu seperti tampak lebih menggairahkan, dan aku semakin berani karena jebakan ini sebenarnya sudah kupersiapkan dengan matang sebelumnya.

"Ehh..anu..mas..anu kok ...sebenernya Sinta....."
"Sudah jangan banyak alasan!!! dasar kamu ya, kamu tau gak selama ini klo aku selama ini sudah sangat jengkel dengan seringnya uangku yang selalu hilang!! rupanya kamu ya malingnya, ck ck dasar...!!!"
Sinta terdiam dan semakin takut ketika aku menatap tajam kewajahnya, dia hanya tertunduk gemetaran.

"aku tidak mau lagi ada maling dirumah ini, sekarang juga aku akan lapor ke pak Rt dan polisi, biar tahu rasa ya kamu dasar maling..!!!"bentakku dengan ekspresi kuseram seramkan

Sinta langsung memeluk kakiku dan mulai menagis

"jangan mas.. jangan lapor mas .... kasihan Sinta mas ...kasihan nenek malu nanti.."
Aku pura pura pura terdiam dan Sinta masih menangis tertahan memeluk kakiku
" tolong Sinta mas... Sinta memang salah.. Sinta ngaku mas... tapi tolong jangan lapor ke polisi..tolong mas..maafin Sinta..." Sinta terus memohon.

"Untuk apa kamu mengambil uangku hah..?!" tanyaku " Maafin Sinta mas Sinta butuh seragam baru dan buku pelajaran, dan nenek tidak punya uang mas.." tangisnya sambil memeluk kakiku " maafin Sinta mas ,...Sinta janji tidak lagi'

"enak saja kamu meminta maaf begitu saja, sudah berapa uangku hilang terus .. ada kalau empat ratus ribu enak saja kamu begiutu saja meminta maaf...!!"

Sinta hanya terdiam sambil menangis.Tidak beranjak dari kakiku. Aku segera menutup pintu kamarku.

"baiklah aku maafin tapi ada satu syarat yang mesti kamu lakukan.."

Sinta hanya memandangku sejenak penuh harapan. lalu perlahan aku angkat kedua tangannya dan aku dudukkan dia di tepi ranjangku. Aku usap air matanya,dan dia sedikit terkejut dengan sikapku.
"jadi mas Anto mau maafin Sinta...?" aku tersenyum dan menjawab. "tentu saja Sin, asal mas boleh mencium kamu...boleh tidak..?" tanyaku dengan ekspresi lembut.

Sinta menangis sesenggukan dan tertunduk, aku ambilkan air putih yang sudah kupersiapkan untuknya dan sebenarnya air itu juga sudah kucampuri dengan obat perangsang juga. " Ini, minumlah Sin biar kamu sedikit lebih tenang..." Sinta menurut.

"ayo habiskan ya sayang..." dan Sinta tidak berani menolaknya.

"Sekarang mas cium kamu kamu ya...?" Sinta hanya terdiam...MERDEKA !!! sorakku dalam hati. penisku mulai berdiri ketika aku mulai menciumi bibirnya yang tipis dan merah alami itu. Sinta tidak membalas ciumanku, dia hanya terpejam, hanya saja aku lihat mukanya kini lebih memerah.

Aku sudah tak tahan lagi...tubuhnya yang seksi dan kecil itu segera aku banting saja ke kasurku, dan Sinta tentu saja terkejut. " Mas Anto apa apaan ini...? Sinta tidak mau mas .....tolong jangan mas...."

"Ooo jadi kamu mau aku melaporkan saja begitu..??" Sinta terlihat kebingungan. tanpa membuang waktu aku segera menindihnya dan meremas buah dadanya yang mulai tumbuh dan padat. "mas...jangan..." rintih Sinta tapi dia tidak berani melakukan perlawanan, dan aku semakin kesetanan, dengan paksa aku segera membuka kaos ketat Sinta dan terlihat buah dada yang terutup Bh hitamnya. Ah ternyata diluar dugaanku... buah dada itu terlihat jauh lebih putih dan padat dan lebih indah dari bentuk yang selama ini aku bayangkan. Sinta seperti tersadar dan dia langsung menyilangkan kedua tangannya didada. "mas....jangan mas Anto tolong mas..." aku tidak perduli ketika kedua tangannya tersilang didada aku segera melorotkan celana kolor pendeknya sekaligus denga CD-nya, Sinta terkejut dengan pergerakanku yang cepat dan kembali dia kebingungan.

"Ssshh...sin..lebih baik kamu diam saja ya sayang, jangan bikin aku marah lagi ya..?"
Rayuku sembari mencium bawah telinganya . Kurasakan air mata Sinta mengaliri pipiku namun aku semakin tak perduli, tangan Sinta aku silangkan dari dadanya pelan pelan namun dia sedikit menolak, PLAK!!! aku menapar pipinya " sudah kubilang jangan melawan..!!'" Sinta semakin pucat.Kuangkat pelan pelan lagi tangannya dari dadanya yang masih terutup BH itu, kali ini dia tidak berani melawan lagi, aku segera melepas Bh Sinta dan mulai mengulum kedua kedua putingnya yang kemerahan dan masih nampak kecil itu. Kali ini Sinta memejamkan matanya, walaupun tidak berani melawan lagi dia berusaha membanting tubuhnya kekiri dan kekanan, entah karena menahan rangsanganku yang mungkin pertama untuknya atau mungkin karena rasa geli yang tak tertahan karena kumainkan lidahku menyelusuri buah dada dan putingnya. kali ini dia menatap nanar padaku entah apa yang ada dipikirannya entah takut , marah jadi satu dalam hatinya namun aku sudah tidak perduli. persetan dengan semua itu.

Aku segera melepas seluruh pakaianku dan Sinta hanya pasrah memandangiku diatas tubuhnya ketika aku melepas baju. Mungkin dia sudah terangsang juga pikirku. tanpa membuang waktu lagi segera kubuka kedua paha kecil mulusnya, namun Sinta agak menolak dan tangannya menutupi vaginanya. Dia menggeleng perlahan sambil melelehkan air matanya dan memohon sekali lagi padaku...

"Mas Anto... sudah cukup ya menciumnya... sinta takut mas..."
"Sinta kan sudah mengijinkan mas Anto menciumi Sinta.." rajuknya

"Diam kamu...atau mau kamu aku pukul...?" kataku sambil mengepalkan tanganku diwajahnya. Sinta terdiam...

"Sekarang aku mau mencium inimu...buka...!!" bentakku.

Sinta kebingungan dan tanpa menunggu persetujuannya aku langsung menyibakkan kedua paha kecil miliknya. Luar biasa...!!!! pekikku dalam hati, bulunya masih jarang sekali, bahkan bentuknya pun lebih kecil dari yang kuduga atau kubayangkan sebelumnya. dan aku segera menjilati bibir vaginanya yang wangi sembari kedua tanganku sesekali memainkan buah dadanya. tatapan Sinta kini terlihat kosong membuat aku semakin liar saja. Vagina Sinta terus aku jilati sehingga terasa mulai asin pertanda bahwa vaginanya mulai basah oleh cairan kewanitaannya, dan jilatanku sekarang kuarahkan bagian klitorisnya. Aku sengaja membuatnya tersiksa dengan rangsangan kenikmatanku, kali ini Sinta tampaknya mulai menyerah. sesekali lidah nakalku mencoba menjulur ke dalam liang senggamanya namun tertahan oleh sesuatu sehinga tidak dapat masuk lagi, Ah Sinta betapa beruntungnya aku...ternyata kamu memang masih perawan..!!!

"SSsshh..oouwh..mas jangan mas.... Sinta ....awh ...aduuh mas...Sinta..." katanya terbata bata. kali ini dia terpejam seperti terbius rangsanganku. Gerakan badannya mulai terlihat seperti penari erotis yang sedang memamerkan keindahan tubuhnya, sepertinya dia sudah mulai melupakan semuanya tadi dan hanyut dalam permainan asmara.

"Mas Anto...aaaahh..mas Sinta..." dia terus melenggokkan tubuhnya ..bahkan semakin berani, mungkin ini juga termasuk dalam obat perngasang yang aku berikan ke dia.. Tiba tiba dan tanpa disangka Sinta menjambak rambutku dan menekan kepalaku sehingga wajahku terbenam diselangkangannya, tubuhnya tergetar hebat dan dia melenguh panjang... rupanya dia telah mengalami orgasmenya yang pertama.

tanpa membuang waktu lagi aku segera mengarahkan penisku kedalam liang senggamanya. penisku termasuk besar, jadi pada awal mulanya aku sedikt ragu apakah bisa masuk atau tidak ya kira kira..? namun aku segera ingat kata kata joni temanku bahwa sebesar apaun penis lelaki pasti masih dapat masuk ke dalam liang senggama wanita, jadi aku yang sudah tidak tahan lagi untuk segera membobol keperawanan Sinta yang sudah lama aku impikan semakin nekat.

Penisku tegak dan keras mengarah ke liang senggama Sinta, dan tampaknya gadis itu sudah pasrah. Aku sempat melihat dengan jelas cairan kewanitaannya sampai mengalir dibawah vaginanya yang mungil pertanda dia sudah terangsang hebat. Cairan itu mengalir antara anus dan vaginanya. Aku mengusap cairan itu dengan penisku agar lebih licin dalam melesakkannya nanti.

Penisku sudah ada dibibir vagina sinta, gadis itu masih terdiam pasrah, hanya saja setiap kali ketika aku mencoba menekan penisku dia selalu sedikit mundur kebelakang sambil meringis menahan sakit.

"Tenanglah sayang... tidak sakit kok....Sssst...sebentaaar saja ya sayang...?!!" bujukku. Aku masih mencoba sabar karena aku tahu dia masih perawan, dan Sinta hanya mngangguk pelan.
Sinta sudah tidak begitu mundur lagi sekarang seperti tadi sehingga aku agak susah mengejarnya. dia mencoba pasrah, namun setiap kali aku mencoba menekan pasti selalu meleset kebawah. Sampai aku jadi bingung, mana yang benar cara memerawani? waktu basah atau kering? kalau basah kenapa licin dan selalu meleset begini..?

setelah sekitar sepuluh menit aku mencoba sambil tanganku terus memepermainkan klitorisnya usahaku mulai membuahkan hasil. Kepala penisku mulai merasakan sebuah lobang yang terasa kecil, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu terus kutekan penisku dan aku merasakan lobang itu mulai kumasuki perlahan lahan.

Drrt...Drrrt...sedikit demi sedikit penisku merangsek vagina perawan milik Sinta yang sempit, oouwh sungguh sensasi yang luar biasa diujung kepala penisku. Dinding vagina yang rapat sekali dan hangat itu mulai bisa kurasakan sedikit demi sedikit menjalari penisku. satu senti... demi satu senti menjalari penisku..kehangatan dan sensasi itu Aaaah rasanya sulit untuk dilukiskan.....

Sinta mulai kembali berlinang air mata, rupanya dia sadar kalau mahkotanya telah kurenggut darinya, namun dia sudah tidak bisa berbuat apa apalagi selain mungkin menahan rasa sakit karena persetubuhan pertamanya ini. Aku mengangkat tubuh Sinta dalam posisi kupangku namun berhadapan, tangannya melingkari leherku wajahnya tergolek di bahuku. tubuh kecilnya semakin membuatku ingin segera mengocokkan penisku dalam liang vaginanya yang sempit ini namun karena masih masuk separuh penisku aku masih harus berusaha bersabar. Dalam posisi Sinta diatas pangkuanku secara berhadapan ini aku semakin merasakan jepitan vaginanyadan kali ini tanpa basa basi seperti sebelumnya..kulesakkan dalm dalam penisku dengan cepat.

"Aaakhh...mas ...sakit mas tolong jangan dulu..mas.. aduuuh...." airmata sinta menetes dibahuku. kali ini penisku telah masuk seluruhnya dalam vagina Sinta. terasa hangat dan berdenyut denyut disana, aku benar-benar menikmati sensasi ini. Setelah sekitar satu menit aku mencoba menarik mundur penisku sedikt dan Sinta terjingkat, rupanya rasa perih itu masih ada.

" Sekarang coba kamu tahan rasa sakitnya dan coba kamu nikmati ya sayang..."
Bisikku ditelinganya, Sinta hanya terdiam pasrah. Setiap kali aku memajukan dan memundurkan penisku perlahan setelah beberapa saat Sinta masih terjingkat jingkat menahan sakitnya tapi justru malah vaginanya menjadi menjepit batang penisku setiap dia terjingkat tanpa dia sadari, ah rasanya sungguh luar biasaaaa.........

Setelah melihat ekspresinya yang mulai agak terbiasa aku semakin berani mempercepat gerakan penisku divaginanya dalam posisi duduk berhadapan ini. dan setelah sekitar 20 menit penisku mengacak acak liang vaginanya yang pertama ditembus ini tanpa aku duga Sinta kembali mengalami orgasmenya, gadis ini memeluk tubuhku erat erat sambil meracau tidak keruan. Wajah putih manis oval dengan rambut lurus sebahu dengan hidung mancung bibir tipis dan dagu lancip itu terlihat semakin cantik ketika mengalami orgasme, dan benar benar sangat cantik seperti yang sudah sudah aku lihat ini jauh lebih cantik bahkan bagai bidadari yang sedang kasmaran namun dimabuk asmara.

ekpresi wajah sinta benar benar membuat penisku tidak mau diajak kompromi. selang beberapa saat kemudian aku meyusul Sinta dengan orgasme pertamaku di vagina Sinta yang beberapa saat lalu masih perawan. Croot croot...serr.... begitu banyak sperma yang aku keluarkan di liang vagina Sinta, dan aku langsung roboh kebelakang sehinggga tubuh Sinta juga ikut menindihku. Jika ada istilah dunia begitu gemerlap mungkin seperti itulah perasaanku saat itu.

Sinta langsung terguling lemas disisiku, dan selang beberapa menit gadis itu langsung tertidur pulas. Aku mencoba bangun untuk melihatnya dari agak jauh, darah keperawanan Sinta begitu banyak di sprei putihku masih belum mengering. bahkan sampai di pantat Sinta pun juga ikut terlihat merah terkena darah keperawanannya. Aku memeriksa penisku, ada sedikit selaput dara Sinta yang masih tertinggal dipangkal penisku rupanya, bahkan dipantatku pun juga terkena darah kesuciannya yang telah kurenggut

Aku tersenyum puas melihatnya, aahhh...gadis cantik nan seksi yang selama ini memenuhi obsesi onaniku telah menjadi kenyataan. impianku telah menjadi kenyataan dengan uang lima puluh ribuan pancinganku. Segera aku mengambil kamera digitalku dan kufoto Sinta cantik seksi yang malang yang sedang tertidur telanjang dari beberapa pose, dan foto ini aku gunakan sebagai ancaman kalau dia berani melaporkan perbuatanku ... akan aku sebar luaskan foto foto ini ke teman sekolah dan kampung. Biar sama sama hancur jika dia ingin mengancurkanku.

Tetapi akhirnya Sinta justru malah ketagihan dan menjadi budak seksku. karena aku juga ikut membantu kebutuhan sekolah dan kuliahnya.tapi justru jujur saja belakangan aku mulai ragu apakah Sinta adalah budak seksku atau justru malah aku yang menjadi budak seksnya, karena semakin hari permainan binal Sinta denganku semakin liar, sampai terkadang aku harus mengkonsumsi obat kuat kuat untuk melayaninya.....Aah..sungguh pengalaman yang mengagumkan. hubungan kami berlangsung sampai sekitar 3 tahun. Sekarang Sinta telah telah lulus kuliah dan bekerja dliuar kota, dan semua telah menjadi hanyalah sebuah kisah kenangan manis,
karena kabar terakhir yang aku dengar Sinta akan dinikahi oleh bosnya sendiri. Selamat menempuh hidup baru Sinta, selamat tidur kekasih gelapku........... terima kasih atas segala kenangan indah tubuh seksimu dan wajahmu yang memang cantik......

Posted at 04:31 pm by pohonmangga
Make a comment  

Sunday, July 11, 2010
anugrah tak terduga

Semasa SMU aku dikenal sebagai kutu buku yang bercita-cita tinggi, yang tak bisa memegang bola basket, minder terhadap urusan cewek dan tak punya pacar. Sehingga hampir setiap sabtu teman-teman melantunkan lagu Koes Plus untukku, “Sabtu malam kusendiri…” Namun ketika kami mengadakan reuni sepuluh tahun kemudian, ternyata teman-temanku justru terlihat seperti suami yang hidup di bawah bayang-bayang istri dan mertua, sedangkan aku justru mendapat pengalaman-pengalaman seks yang berkesan.

Tanpa sepengetahuan mereka, pengalaman pertamaku terjadi justru ketika aku masih mereka kenal sebagai kutu buku. Berawal dari kepindahan tugas ayahku ke kota lain, aku si rangking satu di sekolah diminta kepala sekolah untuk tidak ikut pindah dan menyelesaikan sekolahku di SMU itu, karena ada undangan dari Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia agar rangking pertama dari SMU-ku kuliah di sana. Demi masa depan, orang tuaku setuju dan menitipkanku di rumah temannya yang kebetulan anaknya, Budi, adalah teman sekelasku, sehingga aku menghabiskan kelas tiga SMU seribu kilometer jauhnya dari keluarga yang kucintai.

Kamar kost-ku tidak berada di ruang utama bangunan, tetapi cukup strategis untuk memonitor penghuni dan tamu yang keluar masuk rumah itu. Malam minggu itu seluruh keluarga temanku menghadiri pesta pernikahan sepupunya, meninggalkan aku si kutu buku asyik belajar sendiri. Untuk menghilangkan kantuk, aku menuju dapur di bangunan utama bermaksud membuat secangkir kopi dan semangkok mie instan. Tiba-tiba terdengar pintu pagar terbuka, rupanya Yumul, adik Budi, pulang lebih awal ditemani pacarnya Wadi. Mereka sudah pacaran setahun lebih dan kelihatannya telah direstui oleh kedua orang tuanya, karena Wadi meskipun baru berusia 21 tahun tetapi sudah hampir menyelesaikan kuliahnya dan Yumul berusia 17 tahun menjelang kelas tiga SMU.

“Tuh liat, kamarnya si kutu buku lagi terang. Seperti biasa, paling-paling dia lagi asyik ngapalin rumus-rumus yang njelimet, jadi kita aman di sini,” terdengar suara Yumul. Selang beberapa menit setelah mie dan kopiku siap hidang, aku beranjak menuju kamarku, namun aku terkesima karena di ruang tamu kulihat pemandangan yang jauh berbeda dengan rumus matematika yang sedang berputar di otakku. Yumul sedang merem-melek karena buah dadanya sedang dikulum Wadi. Karena khawatir mereka tahu kehadiranku bila kuteruskan langkahku maka aku berhenti, dan dengan hati berdegup terpaksa kuikuti lakon itu. Wadi terus menghisap kedua puting dari bukit mini namun ranum langsat, sembari tangannya menyusup ke dalam gaun pesta Yumul, dan seketika membuat Yumul menggeliat lirih, “Aahh.. uhh..” Berdasarkan ilmu biologi, jari tangan Wadi menemukan klitoris sensitif Yumul.

Sambil mendesah, tangan Yumul mencoba melakukan serangan balasan dengan mencari persembunyian meriam Wadi, meskipun harus bersusah payah melepas ikat pinggang, membuka reitsleting, memelorotkan celana panjang dan menyusup ke dalam benteng terakhir celana dalam. Wadi yang sudah tahu arah serangan, tetap saja tersentak dan mengerang sambil menekan pantatnya ke depan. Yumul terlihat lebih cekatan, mengeluarkan meriam Wadi dan mengulumnya hingga menekan tenggorokan. Wadi yang sempat terkesima sesaat, tergopoh-gopoh menyusun posisi untuk dapat memelorotkan celana dalam Yumul dan melahap kemaluan yumul dengan rakus sambil jari tengahnya merogoh ke dalam liang kewanitaan Yumul. Sambil berbaring mereka membentuk posisi enam sembilan dan terdengar duet alunan merdu. “Mmmh.. nyam-nyam.. sluurrp.. yessshh..”

Setelah merasa puas tiba-tiba Wadi berdiri, dan Yumul bagai telah hapal akting selanjutnya, juga ikut berdiri. Mereka berdekapan erat, berpagutan bibir, dan menggoyangkan pantat saling bertabrakan. “Astaga, mereka bersengggama,” pikirku sambil menelan ludah dan mengusap keringat saking menghayati ketegangan adegan.

Entah telah berapa puluh kali mereka saling menghunjam, tiba-tiba kudenggar Yumul berkata lirih, “Mas, kali ini dimasukkin beneran yach, jangan cuma dioles-oles.”
“Kamu nggak takut,” tanya Wadi dan dijawab dengan gelengan kepala Yumul.
“Nanti kamu nyesel,” tanya Wadi dan sekali lagi Yumul menggeleng sambil berkata, “Khan kata Papa kita akan menikah dua tahun lagi, yang penting jangan sampai hamil dulu.”
Wadi menghentikan goyangannya dan menatap Yumul dalam-dalam, “Jangan sekarang, kita beli kondom dulu.”
Yumul menggelayut manja dan merengek, “Yumul nggak tahan, pinginnya sekarang, nanti maninya mas jangan dikeluarin di dalam tapi di luar saja, seperti biasa.”
Meskipun adegan makin menegangkan, namun aku menghela napas lega, “Ah syukurlah, mereka belum bersenggama, tapi mereka akan… bagaimana cara mencegahnya?” Pikiranku buntu untuk bisa menghentikan mereka, karena jantungku terlalu kencang berdegup tak memberi kesempatan otakku berputar, sedangkan ujangku ikut-ikutan tegang tanda setuju adegan selanjutnya.

Nun jauh disana, Wadi telah menidurkan Yumul di atas karpet, Yumul membuka gerbang kangkangan kaki, dan laras torpedo Wadi mulai diarahkan, perlahan maju, mendekati liang, menempel dan.. tiba-tiba Wadi menghentikan gerakannya, menatap Yumul, sambil menelan ludah berkata, “Sebaiknya Kamu yang di atas, biar menekannya hati-hati, biar nggak terlalu sakit, soalnya kata orang hubungan yang pertama sakit buat perempuan.” Yumul yang sedari tadi memejamkan mata menghitung mundur saat terobosan pertama, kaget dan menjawab, “Yumul sudah merasakan sakitnya waktu Mas memasukkan jari ke memek Yumul.” Wadi belum mengerti maksudnya tapi kurang lebih Wadi harus tetap di atas dan menekan meriamnya ke dalam liang kewanitaan Yumul. Maka sekali lagi Wadi mengambil ancang-ancang, meluruskan, perlahan menekan dan akhirnya… “Kriingg…” suara telepon berdering, Wadi dan Yumul terkejut dan setelah sadar itu suara telepon mereka saling tersenyum, “Oo cuma telepon.. tapi bagaimana kalau si kutu buku mendengar dering telepon dan datang ke sini mau ngangkat telepon? Cepat Mas angkat dulu teleponnya biar nggak berdering terus,” Kata Yumul. Dengan mengendap Wadi mengangkat telepon, sesaat wajahnya serius, menutup telepon, sekonyong-konyong mengenakan kembali celana dan pakaiannya dan tergesa-gesa berkata, “Aku harus pergi, Mama sakit keras..” seraya menuju pintu keluar. Yumul yang berharap dapat melanjutkan adegan penerobosan pertama hanya terbengong tanpa sempat melakukan sesuatu kecuali mengucapkan, “Salam buat Mama, semoga lekas sembuh!”

Terkesima oleh pembatalan sepihak yang dilakukan sekejap, Yumul hanya dapat memandangi tubuhnya yang telah bugil. Perlahan tangannya membelai bibir kemaluannya seolah membujuk agar tidak sedih. Lalu Yumul memutuskan untuk menghibur diri dengan mempermainkan klitorisnya sendiri. Aku yang merasa drama telah berakhir bermaksud menyelinap ke kamarku, namun Yumul menangkap ada gerakan di dekat dapur. Sambil menutup tubuh seadanya ia menghampiri dapur dan memergokiku berdiri di sana. Yumul kaget dan terpaku, akupun gemetar tak mampu mengucap maaf. Antara malu, menangis, marah dan tertawa Yumul berkata, “Bang Obi dari tadi melihat kami?” Aku menunduk, tak berani menatap dan berkata lirih, “Maaf…” Sejenak hening, lalu tiba-tiba Yumul tesenyum simpul, “Hi, ada burung apa di celana Bang Obi..” Rupanya meriamku belum turun dan menyembul diantara celana hawaiku, karena memang kebetulan aku tidak pernah memakai celana dalam bila menjelang tidur. Belum hilang kagetku, tiba-tiba Yumul maju menangkap burungku dan mengelus, sementara aku tak bisa mundur meskipun ingin, karena kakiku terlalu gemetar.

Melihat aku tak berdaya bagai patung, Yumul memelorotkan celanaku sehingga burungku tak bersangkar lagi, dan seperti telah kulihat sebelumnya, Yumul mulai menjilati dan mengulum batang kejantananku. Aku semakin gemetar dan gagu serta tak mampu menghindar dari wanita birahi yang belum sempat terlampiaskan dengan Wadi. Yumul menarik pundakku turun lalu mendorong untuk merebahkanku. Di hadapanku terpampang gadis manis berambut ikal yang selama ini hanya kukenal keayuan wajahnya, kini memamerkan kemulusan tubuhnya. Lehernya yang jenjang menyatu dengan pundaknya yang lebar. Sembulan dua gunung kecil dengan puting centil merah muda, padat menantang selaras lekukan pinggul. Bulu-bulu halus di selangkangannya tak mampu menyembunyikan bibir tebal liang kewanitaannya dan mancungnya klitoris yang masih sedikit memerah akibat gesekan meriam dan jari Wadi.
Bidadari 17 tahun itu melangkahkan kaki jenjangnya berdiri mengangkangiku dan perlahan turun. Sambil memegang batang kejantananku Yumul meluruskan liang kewanitaannya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Yumul langsung menekan.., “Blesss…” mulai terjadi penetrasi, aku merasakan sempit dan seretnya. “Yumul..” hanya itu yang keluar dari mulutku tak tahu apa lanjutan kalimatnya. Yumul berhenti sejenak, mengatupkan mulutnya rapat-rapat, sedikit menutup matanya. Antara nikmat dan sakit, perlahan Yumul menekan lebih dalam…, “Blesss…” aku merasakan batang kejantananku didekap dan diremas hangat oleh liang kewanitaannya. Yumul berhenti lagi sejenak, menengadahkan wajahnya sambil menggigit bibirnya sendiri dan memejamkan mata. Lalu kembali perlahan Yumul menekan…, “Blesss…” terus menekan perlahan hingga selangkangan kami beradu, Yumul menghentikan tekanannya. Ah, burungku telah bersangkar di dalam liang kewanitaan Yumul dan merasakan pijatan dinding kewanitaannya. Yumul menatapku sambil tersenyum, akupun berusaha tersenyum sementara detak jantungku sudah tak beraturan dan keringatku mengalir dimana-mana.

Yumul menggoyangkan pantatnya kekiri kekanan dan berputar, stress-ku mulai mengendur dan mulai merasakan nikmatnya pijatan nikmat terhadap batang kejantananku. Lalu perlahan Yumul menaikkan dan menurunkan kembali pantatnya, semakin lama semakin cepat. Berulang naik turun, kiri kanan, berputar. Ketika melihat senyumnya yang menandakan kepuasannya, tanpa sadar akupun ikut menaikturunkan pantatku seirama dengan gerakannya. “Uhhh, mentok Bang.. enaak.” Karena batang kejantananku memang sudah tegang lama, maka tak lama kemudian kurasakan sesuatu mendesak untuk dimuncratkan. “Uhh.. aku mau keluar Yumul, uhh..” kataku tak jelas. “Iya.. hh.. tapi.. hh.. jangan dulu Bang, hh.. tunggu Yumul, hh.. nanti dikeluarinnya Bang.. hhh diluar saja..” kata Yumul sambil mempercepat goyangannya. Aku tak tahu bagaimana cara menahan pancaran yang siap mendesak keluar, hingga akhirnya, “Aaahh…” dan “Crottt.. crottt..” aku mengeluarkan maniku di dalam liang kewanitaan Yumul. Meskipun tahu aku sudah ejakulasi, Yumul terus bergoyang, seolah tak peduli atau mungkin karena iapun sedang menuju puncak. Tiba-tiba Yumul berteriak panjang dan keras sekali, “Aaahhhww…” dan terkulai lemas di atasku. “Sssttt..” kataku, karena takut terdengar entah oleh siapa.

Tanganku yang sedari tadi berperan sebagai penonton, memberanikan diri mendekapnya dan beberapa saat kami berpelukan erat. Aku penasaran dan tak menyia-nyiakan kesempatan untuk meraba buah dadanya, dan Yumul sedikit mengangkat badannya memberi kesempatan dan ruang gerak bagi tanganku agar leluasa meremas dan bahkan mempermainkan putingnya. Dan mulutku tak mau ketinggalan jatah, ikut mencium, mengulum dan mengisap puting yang baru mekar di bukit yang kenyal. Sementara dibagian bawah, batang kejantananku terus bersangkar di dalam liang kewanitaan Yumul, namun semakin lama semakin lunglai dan akhirnya keluar dari lubangnya, “Plup..”

Yumul menatapku dan berkata, “Bang Obi, tadi ngeluarinnya di dalam yaa..”
Aku mengangguk pelan.
“Bagaimana kalau Yumul hamil, Bang?” tanyanya.
“Yumul tetap dalam posisi tegak atau di atas, dan biarkan maniku mengalir keluar kemaluanmu sesuai gravitasi bumi,” entah teori apa yang kukatakan tapi Yumul menurut.
Setelah Yumul yakin bahwa maniku telah keluar semua ia beranjak dan berkata, “Kalau Bang Obi melaporkan hubunganku dengan Mas Wadi yang sudah cukup jauh, Yumul juga akan laporkan pada orang tua Bang Obi dan Guru bahwa Bang Obi telah menggauli Yumul, dan masa depan kita sama-sama hilang,” Yumul setengah mengancam dan segera beranjak dari tubuhku.

Yumul memperhatikan betapa banyak semprotan yang keluar dari liang kewanitaannya dan betapa banyak maniku yang mengalir kembali keluar dari liang kewanitaannya dan membasahi batang kejantananku. Selintas Yumul tersenyum namun tiba-tiba ia terkejut karena di batang kejantananku ada darah merah cukup banyak. “A..Aku masih perawan?!, oh.. kukira aku sudah tidak perawan karena tusukan jari Mas Wadi.” ia tampak menyesal dan segera meraih gaun pesta, celana dalam dan bra-nya serta berlari menuju kamarnya. Sayup-sayup terdengar gemercik air siraman mandi Yumul, lalu senyap.

Ketika keluarganya pulang dari undangan, aku sedang membersihkan keringat, bercak-bercak mani dan darah yang berserakan di lantai. Kukatakan bahwa mie instanku tertumpah. “Yumul sudah tidur, tadi pulang diantar Mas Wadi,” kataku ketika mereka menanyakan Yumul.

Keesokan harinya kudengar Yumul seharian mengurung diri di kamarnya dan hanya sesekali keluar untuk makan. Karena aku memang jarang ngomong sama Yumul tak ada yang curiga kalau Yumul sama sekali enggan ngomong denganku. Aku menyesal telah membuat Yumul menjadi pendiam dan aku berdoa agar dia dapat ceria kembali. Rupanya doaku terkabul. Tiga minggu kemudian kulihat ia sangat ceria, dan pada suatu kesempatan ia menghampiriku. “Maafkan Yumul ya Bang dan Bang Obi juga sudah Yumul maafka,” bisiknya mesra. “Koq?” aku tulalit. Seolah mengerti maksud pertanyaanku, Yumul menjawab, “Aku telah bersetubuh dengan Mas Wadi, dan dia yakin bahwa perawanku telah hilang saat dia masukkan jarinya padaku, dan keluargaku yakin murungku selama ini adalah karena mamanya mas Wadi diopname, jadi masa depanku cerah lagi.” Hanya itu yang dikatakan dan ia berlalu dengan ceria, gaya manja khas belia 17 tahun.


Posted at 09:16 am by pohonmangga
Make a comment  

Wednesday, June 23, 2010
Menikmati Tubuh Adikku

Maaf kawan, ini hanyalah sekedar cerita. Jadi jangan terlalu di dramasir semua penuturan seks di kategori cerita dewasa ini. Meskipun ada beberapa yang diambil dari kisah nyata.

Ayah sedang sakit. Ibu menjaganya di rumah. Tidak dibawa ke rumah sakit, karen ketiadaan uang. Untuk sementara, aku yang menggantikan ayah melaut. Ayah terus menerus batuk dan mengeluarkan darah. TBC, kata orang-orang. Aku pun menmbus kabut pagi ke tengah laut, semebari menebar jaring kecil sendirian dengan perahu milik ayah. Perahu kecil dengan cadik kesil di kedua sisinya. Aku pun berhenti sekolah. Adikku Sutinah, mulai besok libur sekolah. Dia kelas 1 SMP, tak lagi naik ke kelas 2. Aku senang, begitu adikku Sutinah libur, berarti ada yang menolong ibu di rumah. Tapi malah adikku SUtinah ingin ikut denganku melaut. Akhirnya ibu mengizinkannya.

Matahari belum muncul. Angin masih berhembus ke laut. Kami cepat-cepat naik perahu dan mengkayuh agak ke tengah. Lalu kami pasang layar kecil. Dan perahu pun melaju ke tengah laut. Aku tingalmenjaga kemudi agar perahu lurus jalannya. Sutinah duduk di depanku dan menghadap ke arahku. Sesekali dia mempermainkan air laut yang berdesir-desir. Dia berpegangan kuat ke dinding perahu dengan kedu tangannya. Tiba-tiba ombak di depan menggelombang. Perahu kami terangkat ke atas, kemudian tehempas ke bawah. Saat itu, rok Sutinah terangkat. Akh… Sutinah, tidak memakai celana dalam. Mungkin lupa, atau mungkin celana dalamnya lagi basah. Maklum dia hanya memiliki dua buah celana dalam. Akhirnya kami sampai ke pulau kecil. Aku menabur jaring kecil berkeliling. Usai itu, ujung tali, kami tambat ke buritan, dan kami sama-sama berkayuh ke tepi pantai pulau kecil itu.

Jangkar yang terbuat dari sepotong besi yang melengkung, kami jatuhkan, agar perahu tak bergerak. Kami perlahan-lahan menrik ujung tali. Tangan kami merasakan aga getar-getar kecil jauh di ujung jaring. Aku yakin, ada ikan di dalamnya. Jaring semakin mendekat. Kami pun mengangkatnya. Benar, ada pulan ikan ukuran kecil, sedang dan agak besar. Kami memasukkannya ke dala perut perahu. Saat mengangkat yang terakhir, Sutinah tepeleset. Tercebur ke laut. Untung aku masih sempat mengangkat semua jaring itu ke dalamperahu. AKu melihat Sutinah bersusah payah berenang mendekati perahu. Aku mencebur ke laut dan menangkap adikku itu. Diakugendong dan kuangkat ke dalam perahu. Saat kutolak pantatnya, terpegang oleh pantatnya yang tanpa celana dalam. Aku menyentuh buah dadanya yang mungil.

Sutinah hanya memakai baju kaos tipis dan tidak juga memakai beha. Selama ini dia hanya memakai singlet saja.. Akibat kuyup, teteknya membayang di bajunya, tanpa dia sadari. Aku terkesima dan langsug birahiku bangkit. AKu diam saja, agar tetek itu tetapmembayang di bajunya yang basah.
“Maafkan aku, Mas,” katanya ketakutan. Dia takut aku marah, karena ketidakhati-hatiannya. Aku diam saja dan membenahi jaring untuk kubuang sekali lagi. Sutinah mendekatiku dan mendekapku, sembari kembali meminta maaf. Aku kasihan padanya. Aku balas memeluknya. Kami berpelukan. Kemudian perlahan kembali mengkayuh ke tengah dan menebar jaring yang kedua kalinya. Dua puluh menit kemudian, kami kembali menariknya dan mengangkat puluhan ekor ikan yang ukuran kecil dan menengah. Kami hitung bersama, ada 62 ekor ikan, berkisar 11 kilogram. Kami pun merapatkan perahu ke pulau kecil. Sutinah kuajak ke sebuah pancuran kecil yang mengalirkan air sejuh dari puncak bukit. Kupangil Sutinah untuk mandi. Mulanya dia ragu. Kuseret tangannya. Lalu kubuka pakaiannya.
“Malu Mas” katanya.
“Kamu harus mandi dik. Nanti kamu sakit, air laut lengket di tubuhku,” kataku beralasan. AkhirnyaSutinah mamu membuka bajunya dan bertelanjang. Dia menutupi teteknya dengan sebelah tangannya dan sebelah lagi menutupi memeknya yang belum berbulu sama sekali. Aku juga membuka pakaiankua dan bertelanjang lalu sama-sama mandidi pancuran kecil itu. Aku menyuruhnya cepat, takut kalau ada nelayan lain yang datang. Kemudian aku mencuci pakaiannya yangkena air laut. Setelah memerasnya, memakaikannya kembali. Hari meulai meninggi. Kami takut, ikan kamitak laku, kami pulang ke tepian. Kami naik ke perahu.

Layarakecil, kembali kami pasang agar tak perlu mengkayuh. Kumintaagar Sutinah dekat denganku. Saat perahu berjalan perlahan, kuminta agar Sutinah naik ke pangkuanku. Lagi-lagi Sutinah ragu. Setelahkupelototi, akhirnya dia naik ke pangkuanku. Punggungnya menyender ke dadaku. Perlahan penisku naik. Perlahan celana yang hanya pakai karet tanpacelana dalam itu kupelorotkan ke bawah. Lalu kuangkat Sutinah dan kusingkap rok-nya. Jelas, penisku menempel di belahan pantatnya. Sebelah tanganku memegang kemudi dan sebelah lagi memeluknya. Kumasukkan tanganku ke sebalik baju kaosnya dan mengelus-elus buah dadanya.
“Mas… nanti…”
“Udah… diam saja,” aku setengah membentak. Perahu terus melaju menuju tepian. Menurut perkiraan, akan sampai berkisar satu jam lagi. Secepatnya jika angin kencang, 45 menit.
“Mas… geli…”
“Yah. Mas tahu, geli. Tapi neak kan? Jangan bohong,” kataku. Sutinah diam. Akhirnya Sutinah menggeliat-geliat. Ujung penisku sudah sesekali menyentuh-centuh parit memeknya. Aku merasa nimat sekali. Sutinah pun menunduk-nunduk sepertinya dia mencari-cari agar ujung penisku mengenai klentitnya. Aku mendengar sesekali dia mendesah. Kuciumi lehernya seraya terus meraba pentil teteknya yang masih kecil. Sampai akhirnya aku melepaskan spermaku.

Kami sampai di darat. Ibu sudah menunggu di tepian. Pembeli ikan naik sepeda sudah menungu juga. Akhirnya ikan kami jual. Rp. 83.000,- Ibu tersenyum.
“Rezeki kamu bagus Rin,” kata ibu.
“Ini rezeki Sutinah, Bu,” kataku. Sutinah tersenyum.
“Baguslah. Kalau begitu Besok Sutinah ikut lagi, ya” kata ibu pada Sutinah. Sutinah tersenyum dan menganguk. AKu senang.
“Sutinah harus ikut bu. Biar adatemanku dan Sutinah rezekinya bagus,” pujikupula. Ibu tersenyum.
Di rumah, aku memperbaiki jaring yang koyak dan SUtinah datang.
“Besok akuikut lagi ya, Mas,”kata Sutinah sepertai membujuk.
“Ya.. Tapi seperti tadi ya. Jangan pakai celana dalam dan pakai baju kaos saja,” kataku. Sutinah mengangguk. Aman pikirku.

Jaring kami tabur lagi dan tarik. Kami tabur lagi dan kami arik pula sampai tiga kali. Kami mendapatkan ikan lebih banyak dari kemarin. Aku mengajak Sutinah mandi ke pancuran. Aku sudah membawa sabun mandi. Kami mandi bedua bertelanjang. Sutinah seperti mulai biasa dan tidak malu lagi. Dalam tubuh kami dilamuri sabun, kami berpelukan. Kucium Sutinah, kuemut teteknya sampai Sutinah mengelinjang. Setelah puasmenciuminya, kami cepat memakai pakaian dan naik ke perahu. Perahu-perahu besar sudah lebih dahulu ke darat. Mereka ingin mendahului kami, agar ikan mereka lebih mahal. Aku justru senang, kami belakangan dari mereka. Perlahan aku memasang layar dan perahu melajur perlahan pula. Sutinah seperti tahu sendiri, dia mendatangiku dan naik ke pangkuanku. Aku justru memintanya agar dia menghadapku. Perlahan dia naik mengangkangi kedua kakiku. AKu sudah mengeluarkan penisku yang tegang.
“Pegang titit, Mas. Kenakan ke anu-mu,” perintahku. Sutinah pun memegang penisku lalu ujungnya dia tempelkan ke lubang memeknya. Perahu terus melaju dan gelombang kecil mengayun-ayunkan kami. Gesekan demi gesekan kami rasakan, membuat kami kenikmatan. Sampai akhirnya kami berpelukan dan aku melepaskan sepermaku beberapa kali ke pintu lubang memek Sutinah.
Bibir pantai sudah jelas terlihat. Aku minta Sutinah agar duduk di tengah. Perlahan diabangkit dan duduk di tengah berpegangan pada kedua sisi perahu.

Kami tiba di pantai. Ibu juga sudah menunggu. Pedagang ikan mulai berdatangan. Kebetulan harga ikan naik dan kami menjual ikan seharga Rp.118.000,- Kembali ibu tersenyum dan memuji kami. Aku tetap memuji Sutinah. Sutinah pun tersenyum dan bangga. kamipulang ke rumah setelah menambatkan perahu dan aku pun kembali memperbaiki jaring yang rusak serta memebli benang yang kurang.

Atas pertolongan penyuluh kesehatan yang memasuki desa-desa dan ABRI masuk Desa, akhirnya ayahku mendapat kesempatan untuk berobat gratis ke rumahsakit di kabupaten. Ayah dibawa naik ambulance militer dengan sirene meraung-raung. Sutinah menangis, ketia ayah dibawa naik ambulance itu. Dia memelukku. Ibu menemani ayah ke rumah sakit dengan membawa semua peralatan yang dibutuhkan. Kata mereka setidaknya ayah harus dipname selama 4 embualn, kemudian harus makan obat teratur dan diawasi. TBC, masih bisa disembuhkan, kata mereka. Kami pun agak lega juga.

Aku dan adikku Sutinah, menyusul ayah dengan naik sepeda. Siang kami tiba di rumah sakit. Ayah dirawat. Tangannya sebelah diinfus. Hidungnya, diberi pernafasan. Kata mereka namanya oksigen. Ayah mulai lega bernafas. Ibu pun dirawat juga dengan diinjeksi dan diberi obat. Kami hanya dua jam di rumah sakity. Setelah itu, kami pulang dan tak lupa membeli peralatan untuk menempel jaring. Kami sempat makan di warung tepi jalan dan makan dengan lahapnya. Pukul 17.00, kami baru tiba di rumah. Aku langsung tidur, karean keletihan mengkayuh sepeda.

Dalam aku tertidur, aku merasakan, kemaluanku seperti dielus-elus. Aku terbangun. Kulihat adikku Sutinah sedang mengelus-elus kontolku.
“Ada apa, SU?” tanyaku.
“Tadinya titit Mas kecil. Lama-lama jadi besar?” kata adikku. Aku tersenyum saja
“Aku laga-laga ke tempikku ya Mas. Seperti di perahu itu?” kata adikku. Aku diam saja dan kembali menutup mataku. Sutinah langsung meniki tubuhku. Kedua kakinya mengangkangi tubuhku. Ditangkapnya kontolku dan dileganya ke lubang memeknya. Kedua lututnya bertumpu pada lantai.
“Tekan yang kuat, Su. Titit Mas, dimasuki ke dalam lubang tempikmu,” kataku. Adikku melakukannya.
“Ah.. Mas. Sakit,” katanya.
“Perlahan-lahan. Nanti lama-lama gak sakit lagi,” kataku. Dia melakukannya, tapi mengataan tetap sakit. Ya sudah.
“Kamu buka bajumu. Kamu telanjang saja,” kataku.
“Nanti dilihat orang,” bisiknya.
“Tak ada yangmelihat. Hanya kita beruda saja,” kataku. AKhirnya Sutinah mau dan melepas pakaiannya sampai telanjang. Aku duduk dan memangkunya. Aku mempraktekkan, bagaimana Lek Parto menjilati pentil tetek isterinya dan menjilati memek isterinya. Isteri Lek Parti menggeliat-geliat kenikmatan. AKu akan buat adikku nikmat, bisik hatiku. Aku juga melepas semua pakaianku. Aku mulai menjilati tetek Sutinah. Pentilnya yang kecil dan teteknya yang kecil. Benar. Sutinah merasa kegelian. Aku minta dia menikmatinya. Sutinah diam, mulai menikmatinya.
“Enak kan?” bisikku.
“Heemmm…” jawab Sutinah.
“Kami pigi ke belakang duku. Cebik tempikmu pakai sabun sampai bersih, gi” kataku.
“Untuk apa Mas?”
“Ikut saja apa aku bilang. Sana…” Sutinah mengikuti saranku. Aku ingin mendengar desahnya, seperti desah isteri Lek Parto. Sekembali SUtinah, aku suruh dia menelentang di lantai berlasakan tikar. Di rumah kami memang tak ada tilam. Sutinah mengikut. Aku mulai menjilati memeknya. Memek yang belum berbulu sama sekali. Memek yang masih ada satu garis dengan bibirnya yang sedikit membentuk.
“Ah…” Sutinah mulai mendesah, setelah lidahku mulai meliuk-liuk pada itilnya.
“Mas…”
“Udah diam saja… Enak kok,” kataku. Sutinah diam dan kembali mendesah-desah.
“Udah Mas. Aku mau pipis… udah,” katanya. Aku meneruskan. Tak mungkin Sutinah berani pipis di mulutku, pikirku. Aku terus menjilati memeknya. Sampai dia menjepit kepalaku dengan kedua kakinya.
“Mas aku pipissss….” Desahnya. Aku terusmenjilatinya sampai akhirnya kedua kakinya melemas.
“Udah mas. Kasihan Suti Mas,” katanya. Cairan kental meleleh di ujung lidahku. Aku memeluknya.
“Maaf Mas. Aku tadi pipis di mulut Mas,” katanya. Aku diam saja. Aku terus memeluknya dan menempelkan kontolku ke tempiknya.
“Kamu masukin titit mas ke dalam mulutmu,” kataku. Sutinah ragu.
“Ayo…” kataku. Sutinah duduk di sisiku dan memegang kontolku. Perlaha dia masukkan kontolku ke mulutnya. Kuminta dia memainkan lidahnya pada kontolku dan giginya jangan sampai mengenai kontolku. Sutinah melakukannya. Aku mengulur tarik kontolku dalam mulutnya. Sampai maniku menumpah di dalam mulutnya beberapa kali.
“Mas..” katanya.
“Kalau kamu gak mau telan, ya dibuang saja,” kataku. Suti pun meludahkan maniku dari mulutnya. Kuraih tubuhnya dan memeluknya sembari menciumi pipinya. Kami bepelukan lagi.
Tak lama Suti mengatakan nasi sudah siap dari tadi dan kami harus makan.

Suti membuat nasi ke piringku dan ke piringnya bersama lauknya.
“Aku seperti ibu ya Mas. Dan Mas jadi bapak,: katanya.
“Ya. Kita main suami-isteri. AKu suaminya dan kamu isterinya?” kataku pula mengikuti ucapannya. Dia tersenyum. Lalu Suti pun menirukan kelakukan ibu kepada ayah kami. Bagaimana ibu memperhatikan ibu dan memperlakukan ayah, begitu pula Suti terhadapku. IBu kami juga memangil Mas kepada ayah dan ayah memanggil bu ne kepada ibu kami. Ketika aku panggi namanya SUti, Suti memintaku agar aku memanggilnya Bu ne, sembari tersenyum. Aku mengikutinya.
“Tapi kalau tak ada yang mendengar ya?” kataku. Suti mengangguk. Aku pun meanggilnya Bu ne. Nampaknya dia senang. Ya sudah.

Malamnya kami tidur untuk besok subuh kami harus melaut. Kami bepelukan.
Subuh Sutimembangunkan aku. Orang-orang sudah berlalu lalang mau melaut. Kami bangun, mencuci muka dan membuka pintu. Kami turun dari rumah melalui tangga. Di bawah rumah kami melepas perahu setelah mengisinya dengan jaring. Perahu memang tertambat di bawah rumah kami yang airnya lebih setinggilutut. Hampir sepinggang. Kami nak ke atas perahu.
“Bu ne, kamu jangan terlalu jauh ke depan, kataku. Dengan senyum Suti mengiikutiku dan berpindah mendekatiku ke belakang sembarimendayung. Kami mengikuti alur air menuju laut tengah. Dengan cekatan setelah berada 50meter di laut, Suti memacakkan tiang layar dan mengikat layarnya. Dia sudah cekatan nampaknya. Tali layar.dia pegang kuat dan mengulurnya sedikit jika perahu oleng. Aku memegang kemudi.
“Bu ne bersandar ke dada Mas ya?” katanya manja. Dia sudah pula menyebut dirinya dengan kata Bu ne. AKu biarkan saja. Hari masih gelap, perahu-perahu kecil berlayar plastik putih keliahatan sudah mulai banyak di tengah laut. Kami mengikutinya dengan menjaga jarak, agar mereka tidak melihat Suti bersandar padaku dengan manja.
“Kita ke tempat biasa ya Mas, “Kata Suti. Aku mengarahkan perahu ke sana. Tapi di sana sudah adadua perahu lebih dulu. Akhirnya kami mengarahkan perahu ke rimbunnya pohon-pohon bakau seperti sebuah teluk kecil. Kami mulai melepas jaring. Kemudian menariknya perlahan. Aku merasakan ikan-ikan bergetar di dalam jaring.
“Hati-hati, nampaknya ikannya banyak,” kataku. Benar saja, ikan menggelpar-gelepar di jaring. Setelah melepas ikan-ikan itu, kami menebar lagi di tempat yang sama. Kami tarik lagi. TIga kali kami menebarnya, kemudian kami keluar dari teluk itu. Kami tersenyum. Tangkapan kami hari ini, lumayan baik.
Kutarik Suti mendekatiku dan kukecup bibirnya, seperti apa yag dilakukan Lek Parto pada isterinya.
“Kamu isap lidah Mas ya. Kita bergantian mengisap lidah,” kataku. Suti menatapku.
“Kamu mau ya Bu ne…” kataku meayunya. Suti tersenyum setiap kali aku memanggilnya Bu ne. Kulurkan lidahku dan Suti mulai mengemutnya. Kami bergantian.
“Ayo sudah. Kita harus cepat ke darat. Nanti pembeli ikan pada pulang,” kataku. Kami memasang layar dan mengarahkannya pulang. Perahu melayu agak kencang, karean angin yang hidup menolak kami ke darat.
Para pembeli ikan menyerbu kami dan kami menjualnya Seorang tentara yang ikut masuk desa mengawasi kami. Pembeli ikan tak berani macam-macam. Kami mendapat uang hampir dua ratus ribu rupiah.
Perahu kami kayuhke kolong rumah dan kami naik ke atas. Aku minta Suti membeli mi goreng dua bungkus dan aku memasak nasi. Begitu nasi masak. Suti sudah pulang dari membeli Mi goreng. Kami makan nasi bercampur mi goreng. Kami makan dengan lahap.
“Kita tidur-tiduran lagi ya, Mas?” kata Suti.
“Sebentar, biar Mas betulin jaring dulu. Setelah siap kita boleh todur. Kalau tidak, nanti kita keasyikan dan lupa memperbaiki jaring,” kataku. Suti merajuk.
“Sabar dong Bu ne…” kataku merayu. Suti tersenyum dan memelukku.
“Iya mas. Bu ne ikut membantu ya?” katanya menyeret tanganku. Kami mengeluarkan jaring dari perahu dan menjemurnya, sembari memperbaikinya.
mafia_arab is offline Add to mafia_arab’s Reputation Report Post       Reply With Quote Multi-Quote This Message Quick reply to this message Thanks
The Following 10 Users Say Thank You to mafia_arab For This Useful Post:
assan69, eqeubec, h0w2HiGh, IgoManiac, joxzin, nimpuk.monyet, priagila, Revolutions, skunkcool, willyoung
Sponsored Links
mafia_arab
View Public Profile
Send a private message to mafia_arab
Find More Posts by mafia_arab
Add mafia_arab to Your Contacts
Old 11-30-2009, 03:18 AM       #2
mafia_arab
murid bb17

mafia_arab’s Avatar

User Id: 13536
Join Date: Apr 2008
Posts: 249
Thanks: 60
Thanked 350 Times in 36 Posts
mafia_arab baru gabung jadi belum dikenal di BB17

Default
Ibu senang sekali, ketika aku dan Sutimembezuk ayah ke rumah sakit. Kami membawa tiga bungkus mie goreng. Mie goreng di bukota Kabupaten ternyata jauh lebih enak dari di kampung kami. Satu untuk ayah, satu bungkus untuk ibu dan satu bungkus untuk kami bagi berdua. Selain itu, aku menyerahkan uang Ro. 200 ribu untuk ayah. Mana tau ada keperluan yang harus dibeli. Ayah dan ibu senang sekali. Kata ibu, kalau ung, tolong di simpan saja. Nanti kalau kami butuh, kami akan minta. Sebab kami di rumah sakit, semua obat ditanggung oleh pemerintah. Menurut ibu uang Rp. 200 ribu itu cukup untuk sepuluh hari. Ibu meminta kami agar jangan lupa makan, menjaga kesehatan dan ayah tak lama lagi akan dicabut oksigennya dari hidung. Infusnya juga akan dicabut. Ayah butuh istirahat tiga bulan lebih lagi, kata ibu.

Kami pun pulang ke kampung lagi. Kami beli beras secukupnya dan segala kebutuhan, seperti garam, bubik teh, gula dan sebagainya. Sutini senang sekali membelanjakan uang untuk kebutuhan kami satu minggu. Dia merasa benar-benar menjadi seorang ibu beneran. Sore setelah empat jam berkayu sepeda, kami tiba di rumah. Semua kebutuhan kami angkat ke rumah dan kami mulai masak bersama. Telur ayam, beras dan sebagainya kami angkat. Sementara Suti membenahi makan malam, aku membenahi jaring. Jaring aku perbesar dan perpanjang. Kami berharap, ikan akan lebih banyak dapat. Kalau selama ini jaring kamu sepanjang 18 meter, kini jadi 32 meter. Perahu terasa penuh berisi jaring.

Seusai makan malam, kami tidur. Suti memakai kain sarung batik tanpa apa-apa lagi di dalamnya,. Dia menirukan ibu kami. Aku hanya memakai sarung dan kaos singlet. Setelah menyiapkan serantang nasi dan lauk telur rebus dan kecap kecil untuk bekal kami besok pagi du laut, kami mematikan lampu dan masuk tidur. Aku melepas semu pakaianku dan meminta Suti juga melepas pakaiannya. Kami tidur bertelanjang. Au tanya apakah SUti sudah cebok dan menyabuni tempiknya, Suti menjawab sudah. Kami tersenyum dalam gelap gulit. Hanya ada cahaya bintang memasuki rumah gubuk kami dari celah-celah dinding.
“Kamu pernah melihat ayah menindih ibu waktu malam?” tanyaku pada Suti. RUmah kami tidak berkamar. Hanya dibatasi oleh kain saja, membedakan dimana ibu dan ayah kami tidur dan dimana aku dan Suti tidur. Suti menjawab pernah. Dua atau tiga kami kai pernah mengintip ayah dan ibu tidur tindih-tindihan di tengah malam, saat kami sudah tertidur lelap.
“Ya sudah. Kita juga seperti tu,” kataku.
“Tapi Mas kan berat?” katanya.
:Kalau ayah bisa menindih ibu, kenapa kamu tidak. Kita ciba saja,” kataku. Suti setuju. Kami berpelukan dulu seperti ayah dan ibu. Berciuman seperti Lek Parto dan isterinya. Mengisap tetek dan menjilati memek dan mengemut kontol bergantian. Semua yang pernah kami lihat, kami lakukan. Ternyata memang enak.

“Mas buka tempikmu ya. Mas masukkan titi Mas ke dalamnya ya?” kataku. Suti setuju. Setelah mejilati memeknya, aku tujukan ujung kontolku ke lubang memek SUti. Aku menekannya. Suti merintih.
“Sakit Mas…”
“Ya… Mulanya sakit, tapi nanti kalau sudah hilang sakitnya, jadi enak,” kataku.
“Memang Mas sudah pernah melakukannya?” tanya Suti.
Aku bercerita, teman-temanku sudah pernah melakukanna dan mengatakan begitu. Suti pun mau. Ku tekan kontolku ke dalam lubang memeknya. Suti merintih.
“Bagaimana, masih tahan?” tanyaku membiarkan kontolku di lubang memeknya. Suti diam saja.
“Tapi betulkan, kalau sudah hilang sakitnya, pasti jadi enak kan?” tanyanya.
“Ya.. pasti,” kataku. Padahal itu hanya ucapan Lek Parto yang kutanyai dan bercerita tentang persetubuhan di bawah pohon kelapa sembari kami memperbaiki jaring. Kutekan lagi kontolku dengan lebih kuat. UJung kontolku terasa sakit.
“Aduh.. Mas… Sakiiiiittttt,” rintihnya.
“Ya. Mas juga kesakitan kok. Bagaimana, KIta berhenti atau kita teruskan,” kataku. Suti diam tak menjawab sembari menggigit bibirnya. Ketkika kucium pipinya, terasa olehku ada lelehan airmata di sana.
“Maaf dik…” kataku.
“Bu ne merasa sakit, Mas…” katanya meringis.
“Maaf Bu ne. Tapi sebentar lagi gak sakit lagi kok. Mas janji Bu ne,” kataku. Suti kembali senang dipanggil Bu ne.
“Ya.. Sudah diteruskan aja Mas. Tapi pelan-pelan ya?” katanya. Aku menciumnya dan memeluknya, lalu menekan kuat-kuat kontolku. Sreeeggg… sreeeggg. Kontolku sudah terbenam semuanya. Suti menjerit agak kuat.
“Massss…” Aku langsung menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya, agar suaranya tak keluar. Dia terus menangis. Aku membelai-belai rambutnya.
“Sakit ya Bu ne…” rayuku. Suti terus menengis. Aku mengatakan, kalau kontolku juga sangat sakit. Tapi aku percaya dua hari lagi, sakitnya pasti hilang. Hari ketiga kita sudah menikmatinya. Suti pun tak menangis lagi. Tapi sesekali suara sesenggukan terdengar juga.

Pagiitu, kami tidak ke laut, karena kesingan bangun. Ketika kami bangun, mata hari sudah menyapu-nyapu waja kami. Kami bangun dan aku menuntun Suti ke belakang untuk mandi. Aku takut juga, ketika Suti menangis saat melangkah. Katanya sangat sakit dan perih. Begitu juga saat dia pipis, katanya lubang pipisnya sangat sakit sekali. Aku jadi ketakutan dan sedih. Akhirnya setelah dia usai mamndi aku membopognya. Aku memasak nasi. Ketika kami makan, tubuh Suti hangat. Aku takut. Bu Mantri lewat dan aku memangilnya. Bu Mantri memagang kening Suti. Suti disuntik dan diberikan obat. Besok sudah tenang dan sehat, kata bu mantri. Aku senang. Setelahkusuapi makan, aku memberikannya obat.
“Biar cepat sembuh ya Bu ne…” rayuku. Suti tersenyum. Akupun minta izin untuk memancing, agar kami nanti malam dan sore serta besok pagi kami punya lauk ke laut. Suti melepasku dengan senyumnya.

Begtiu aku pulang membawa empat ekor ikan dan dua ekor kepiting serta 15 butir kerang, Suti melaporkan, kalau darah dari memeknya sudah berhenti. Kupegang keningnya sudah tak hangat lagi. Aku menyuapinya makan dan memberinya obat.
“Besok aku belum bisa melaut Mas. Aku takut dingin…” katanya memelas.
“Ya sudah Bu ne., Mas saja besok y ag melaut,” rayuku sembari mencium pipinya. Suti nampaknya senang sekali.
Kami pun tidur berpelukan dengan kegelapan malam. Ah… indah sekali rasanya tidur bertelanjang di bawah selimut sepotong kain batik. Suti sepertinya begitu erat memelukku. Dia kedinginan. Aku menebalkan selimut untuknya. Dia minta dikeloni terus agar hangat. Aku memeluknya. Subuhpun menjelang. Akuterbangun dan membanguni Suti. Cepat dia berpakaian dan menyiapkan bekalku. AKu berangkat ke laut dal;am lambaiannya. Kubisikkan padanya, agar semua kejadian dia tak boleh bercerita pada siapapun juga.
“Bu ne janji, Mas…” katanya setengah berbisik. Aku menuruni tangga rumah memikul jaring menuju perahu. Aku mengkayuh menuju tengah laut. Setelah menebar sekali jaring, akupulang. AKu takut, Suti entah bagaimana. Aku menjual ikan dan langsung pulang.
“Kenapa cepat pulag, Mas?” tanya SUti. Aku menjelaskan, hanya sekali menebar jaring dapat ikan sedikit dan langsung pulang. Aku takut kalau Bu ne entah kenapa-kenapa, kataku. Suti tersenyum manja. Dia memelukku Aku balas memeluknya. Nasi sudah siap, kami makan bersama, kemudian memberinya obat. Sudah empat hari, obat sudah habis dan Suti benar-benar sudah sehat. Langkahnya sudah pasti. Pipis sudah tak sakit lagi. Sudah biasa, katanya. Aku tersenyum.
“Jika kita lakukan lagi, pasti sudah enak, tak akan ada sakit lagi,” kataku memastikan.
“Bu ne mau Mas…: katanya.
“Setelah memperbaiki jaring, nanti kita mancing ke hutan bakau,” katraku. Suti setuju. Maksudnya sebagai uji coba, apakah Suti sudah mampu mendayung dan siap memancing.
Pandangan ahli

Setelah makan siang, aku masuk k peahu dengan membawa pancing dan jala. Adikku Suti ikut. Perlahan kami mendayung ke laut. Orang-orang melihat kami dan kagum. Mereka tahu, kami kerja keras, untuk kehidupan dan untuk orang tua di rumah sakit. ABRI yang masuk Desa pun tidak memaksaku yang masih berusia 18 tahun untuk ikut bekerja membuat benteng kampung nelayan dan saluran ar.
Angin menyeruak dari laut. Kamu harus melawan angin untuk bisa sampai ke tengah laut. Bersama kami mendayung perahu. Udang dan sotong kecil sebagai umpan sudah kami bawa. Juga ada sedikit ubi goreng sebagai makanan selingan kami. Satu jam lamanya kami mendayung, akhirnya kami sampai juga pad sebuah paluh. Kami mulai menetak pancing kami di rimbunnya pohon-pohon bakau. Sesekali aku menebar jala. AKu kurang pintar mengembangkan jala. AKu berpikir, jika jala tidak kutebar, sudah pasti aku tidk dapat ikan. Setidak pandainya aku menebar, jalan bila dia kutebar, mana tau nasib berkata lain, aku bisa dapat seekor-dua ekor ikan. Benar saja, tali jalaku bergetar. AKu menariknya lamat-lamat. seekor ikan hampir sekilo beratnya tertangkap. Kakak merah yang nyasar ke paluh. Aku dan Suti gembira sekali. Kami akan menggorangnya, dan akan kami bawa ke rumah sakit untk ayah dan ibu. Tak lama, pancing Suti juga menangkap seekor ikan ukuran sedang. Kami senang sekali.

“Bu ne, kamu cantik sekali,” rayuku.
“Apa benar, Mas?”
“Ya… benar kamu cantik sekali, kataku. Sebenarnya, kontolku sudah mengeras. Mataku awas ke sekeliling.
“Maukah kamu mengisap tititku?” kataku memohon. Suti tersenyum manis. Dia menganggukkan kepalanya. Dia mendekatiku. AKu mengeluarkan kontolku dari balik celanaku. Suti berjongkok di lantai perahu. Kontolku yang sudah mengeras dia jilat lalu dia kulum dan mempermainkan lidahnya pada bagian bawah kotolku.
“Aku senang, Mas…” katanya. Aku tersenyum. Kuelus kepalanya, lalu kusapu-sapu teteknya dari bawah.
“Kalau dia keluar, boleh aku menelannya, Mas?” tanya Suti.
“Terserah saja…” Kontolku kembali dimasukkannya ke dalam mulutnya. AKu melihat, Suti semakin dekat denganku. Perahu kami sesekali diterpa alun kecil, membuatnya bergoyang. Tapi ujungnya sudah kami tambatkan ke sebuah akar bakau. Aku semakin menikmatinya. Aku pun mengejang lalu aku menyemburkan maniku dalam mulutnya. AKu mendengar spermaku tertelan oleh Suti.
“Asin Mas…”
“Karena belum terbiasa,” kataku. Aku pipis dari atas perahu dan mencuci kontolku dengan air laut. Aku tersenyum pada Suti. Dia membalas senyumku.
“Kamu mau?” tanyaku?
“Dijilat saja ya Mas…” katanya tersenyum. Aku mengangguk. Kuminta dia mencucui memeknya terlebih dahulu. Suti yang tak memakai celana dalam setiap kali kami melaut dan juga di rumah, menurutinya. Setelah bersih kuminta dia rebahan di kepingan lantai papan perahu. Aku melihat sekeliling. Aku yakin kami aman. Belum lagi aku memulainya, pancingku ditarik oleh ikan. Aku menariknya. Seekor ikan sembilang terangkat dan aku memasukkannya ke lantai dasar perahu yang berair, biar Kakap dan sembilangnya tidak mati.

Suti mengangkangkan kedua kakinya selebar mungkin. Betisnya berada di sisi perahu dan dia bersandar pada ujung perahu. Sesekali burung-burung kecil bersiul-siul di pucuk-pucuk pohon bakau. AKu memulai menjilati memeknya. UJung lidahku bermain pada itilnya. Sesekali kusedot itil itu dan lidahku pun menari-nari pada sebiji kacang memek-nya. Aku tahu Suti menggelinjang dan menikmatinya. Dia semakin mampu menikmati betapa enaknya dijilati. Sesekali dia mendesah. Desahnya cepat hilang ditelan angin laut. Kedau kakinya sudah berpindah. Kedau kakinya sudah berada di atas punggungku dan pahanya menjepit kepalaku.
“Akhhhh….” desahnya kuat lalu melemas. Aku menghentikan jilatanku. Aku tahu Suti sudah sampai pada puncaknya. Dia tersenyum. Kami kembali menetak pancing kami, seperti tak terjadi apa-apa. Semenit kemudian, sebuah perahu melintas mau memasuki paluh. Orang itu, berhenti dan memutar haluannya, karena melihat kami dan paluh sempit itu tak mungkin dilintasi dua perhu yang bercadik.
“Sudah banyak dapat?” orang itu menegur kami.
“Baru satu Mang…” jawabku tenang. Kami meneruskan memancing. Suti tersenyum.
“Dia melihat kita tadi, Mas?” tanya Suti.
“Aku yakin tidak,” jawabku. Aku kembali mengambil jala dan menbarnya. Sekali, dua kali, tiga kali dan kali yag ke empat, aku dapat dua ekor ikan ukuran sedang. Aku mengajak Suti pulang ke rumah, sebelum angin berbalik arah. Suti setuju. Kami mengayuh perahu keluar dari paluh. Suti menancapkan tiang layar dan menarik layarnya. Angin berhembus membawa perahu. Sore seperti itu, pasang naik dan angin mengencang dan kembali sedikit enang setelah tengah malam. Kami terbawa angin dengan cepat ke tepian.

“Ada dapat dik?” tanya pak tentara.
“Satu ekor pak. Untuk kami masak dan kami bawa kerumah sakit untuk ayah,” jawabku. Tentara itu tersenyum.
“Ya… hatimu bagus sekali dik. Kamu sayang pada ayahmu. Begitulah seharusnya kepada orangtua,” katanya bangga. Aku tersenyum. Kami meneruskan mengayuh perahu kami ke bawah kolong rumah dan menambatkannya. Delapan ekor ikan kami bawa naik. Tiba, tiba seorang ibu bidan mendatangi kami.
“Sebentar lagi, kami ke rumah sakit. Ada titipan,” kata bu Bidan yang ikut dengan tim ABRI masuk Desa.
“Ya.. BU. Kami boleh titip ikan untuk ibu dan ayah?” kataku.
“Boleh… setengah jam lagi aku ambil,” kata bu Bidan. Kami cepat mempeisangi ikan-ikan itu. Kami goreng dan kami sambal. Ikan Kakap yang besar dan ikan Sembilang. IKa dan sambalnya, kami bungkus pakai daun pisang dan kami ikat dengan baik. Bu Bidan datang dan kami memberikan oleh-oleh untuk ibu.
Setelah bu bidan pergi, Suti pergi mandi, lalu kususul, dan kami mun makan setelah usai shalat mahgrib. Kami mempersiapkan makanan untuk besok subuh ke laut. Semuanya sudah beres.
“KIta tidur yuk… biar besuk cepat bangun dan ke laut. Kamu iku Bu ne?” tanyaku.
“Ya mas. Aku ikut,” kata Suti. Karena belum laurt, kami mengecilkan lampu saja di ruang tengah dan kami berangkat tidur dikelilingi kain pembatas. Dalam gelap kami melepas pakaian kami. Kami mulai berpelukan.

“Kamu mau bukti, kalau sekarang sudah tidak sakit lagi, malah akan nimmat,” kataku mulai merayu Suti.
“Pasti gak sakit lagi, kan Mas?”
“Ya.. pasti,” kataku sembari mencium bibirnya dan melumatnya. Lalu aku mengisap-isap teteknya dan sebelah tanganku mengelus-elus memeknya. Suti mendesah-desah. AKu merasakan memeknya sudah ada lendir.
“Mas masuki ya, Bu ne..” bisikku.
“Ya..”
Aku mengarahkan kontolku ke memeknya. Ujungnya sudah mulai menyentuh lubang memeknya. Perlahan aku menekannya. Perlahan dan perlahan. Masuk…masuk…dan masuk.
“Sakit?” tanyaku.
“Dikiiiiitttt…” jawabnya. Perlahan kutarik kontolku dan perlahan pula aku mendorongnya. Begitu terus bergantian. Suti mendesah dan memelukku.
“Dimasukin semua, Mas…” pintanya mendesah.
Aku menekan semakin dalam dan dalam.
“Yang cepat Mas…” bisik SUti mendesah dan memelukkukuat. Aku menggenjotkan semakin cepat…. cepat dan cepat.
“Ayo Mas… lagi…. ayooo….” Suti mendesah lagi. Aku menggenjotnya semakin cepat dan cepat dan cepat dan ccepat dan cepatttt.
Tubuhku dan tubuh SUti demikian rapatnya. Lengket. Kami sama-sama mengejang dan melepaskan kenikmatan kami. Beberapa kali aku menyemprotkan mani ke dalam lubang Suti. Dia memelukku sekuat tenaganya.

Kami beperlukan dan kontolku yang melemas, lepas dari lubang Suti.
“Kamu cantik sekali Suti..” biskku.
“BUkan Suti Mas. Bu Ne…” bantahnya.
“Ya… kamu cantik sekali Bu ne…” ulangku. Suti memelukku dan mengecup pipiku. Kami tertidur nyenyak. Kami terbangun saat menjelang subuh. Kami menyiapkan jaring dan memasukkannya ke dalam perahu. Kami pun menuju ke tengah laut, untuk mencari ikan dan akan kami jual untuk kehidupan kami.
mafia_arab is offline Add to mafia_arab’s Reputation Report Post       Reply With Quote Multi-Quote This Message Quick reply to this message
mafia_arab
View Public Profile
Send a private message to mafia_arab
Find More Posts by mafia_arab
Add mafia_arab to Your Contacts
Old 11-30-2009, 03:19 AM       #3
mafia_arab
murid bb17

mafia_arab’s Avatar

User Id: 13536
Join Date: Apr 2008
Posts: 249
Thanks: 60
Thanked 350 Times in 36 Posts
mafia_arab baru gabung jadi belum dikenal di BB17

Default
Setelah sekian lama kami berdua di rumah, rumahkembali menjadi ramai. Ayahku kembali dari rumah sakit. Tak boleh kerja berat dulu. Tak boleh minum kopi, minum alkohol dan tak boleh tidur larut malam serta harus istirahat. Tubuhnya sudah mulai berisi. Ibu sudah boleh menjual ikan kembali bahkan ibu mulai mencari kerang, bila air surut. Kami senang. Justru adikku Suti yang sedikit gelisah. Aku tak memanggilnya lagi Bu ne. Kecuali kalau berkelakar. Wajahnya selalu cemberut.

Besok Suti harus sekolah. Dia sudah mempersiapkan baju, sepatu, tas, buku dan sebagainya yang semuanya serba baru. Ayah dan ibu sangat senang padaku sebagai kakak begitu menyayangi adikku Suti. Kemanjaan Suti, membuat ayah dan ibuku semakin menyenanginya. Mereka senang kalau kami selalu dekat, karena hanya kami beruda anak mereka.
Ayah dan ibu kembali menempat tempatnya di kamar kecil dekat jendela depan. Kami lebar membatasi tempat kami. Aku dan Suti tidur di sebelahnya. Kami berdua tersenyum mendengar ayah mendengkur. SUti pun tak mau diam tangannya. Dia mulai menggerayangi kontolku.
“Ayo, Mas… mereka sudah tidur,” bisiknya di telingaku.
“Kapan-kapan saja. Nanti ketahuan,” kataku. Dasar Suti kalau sudah ada maunya, susah untuk menolaknya. Dia terus mengelus-elus kontolku sampai kontolku tegang.
“Aku ambil karet dulu. Supaya kamu tidak bunting” kataku. Kokoyak sebungkus kondom dan menddekatkannya padaku di bawah bantal. Suti membuka kancing bajunya dan mengeluarkan teteknya.
“Ayo… Mas….” bisiknya merengek. AKu mendekatkan mulutku ke teteknya dan mulai menjilatinya. Saat itu ibu mendehem dari balik kain sebelah. Aku terus mengisapi tetek Suti. Bergantian kiri dan kanan. Setelah Suti puas, bibirnya mengecup bibirku. Kami berpagutan. Sampai akhirnya Suti meminta aku menaiki tubuhnya. Dia kangkangkan kedua kakinya dn memintaku menindihnya. Kubuka bungkos kondom dan memasangnya. Setelah siap, perlahan aku menaiki tubuhnya. Suti segera menangkap kontolku dan mengarahkannya ke lubang memeknya. Aku mulai menggenjotnya. Kami berupaya agar kami tidak ribut, agar tak terdengar pada ayah dan ibu yang tidur di sebelah kami dipisahkan oleh kain lebar. Sampai akhirnya Suti membisikkanku agar aku mempercepat genjotanku. Aku mempercepat genjotanku. Saat itu, betisku dicubit. Ketika kutolehke belakang, ternyata yang mencubit betisku adalah ibuku. Ibu menggelengkan kepalanya dengan tatapan melotot. Tapi pucakku sudah beradadi ubun-ubun. Aku meneruskan genjotanku dan Suti menggoyang tubuhnya dan merangkulku dengan erat, sampai kami melepaskan nikmat kami bersama.

Kontolku semakin mengecil dan terlepas dari memek Suti. Kami menutupi tubuh kami dan tertidur seperti biasa, layaknya tak terjadi apa-apa. Tapi aku sudah susah tertidur, karena memikirkan, apa yang dilakukan ibu barusan. Dia mencubitku. Kami telah tertangkap basah melakukan hubungan suami isteri. Akhirnya aku tertidur juga. Ibu membangunkanku, saat subuh mulai tiba. Ibu sudah menyiapkan nasi dan lauknya ke dalam rantang plastik untuk kubawa ke tengah laut.

Ibu membantuku menurunkan jaring ke dalam perahu. Aku hanya diam dan malu, karena ibu mengetahui apa yang kami lakukan tadi malam. Cepat-cepat aku meluncurkan perahu dari kolong ruah melalui alur air ke tengah laut. Segera kupasang layar dan aku menuju tengah laut. Pikiranku masih tetap juga tak tenang. Akhirnya kulemparkan jaring. Beberapa kali sampai matahari meninggi dan terang. Para nmelayan lain sudah menuju daratan, sementara aku masih terus menebar jaring. Tangkapanku harini benar-benar gawat. Mungkin aku yang kurang konsentrasi, atau lagi sial. Akhirnya aku pulang hanya membawa sedikit ikan. Ibu sudah menungguku di tepi pantai. Kami menjualnya dan memberi dua kilo beras. Hanya itu yang bisa kami peroleh hari ini. Ketka aku mendayung perahu pulang ibu mendekatiku. Dadaku berdebar.
“Apa y ang kamu lakukan tadi malam sama adikmu?” tanya ibu datar. Aku diam. Ibu bertanya lagi dan aku hanya diam.
“Sudah berapakali kamu lakukan?” tanya ibuku. Lagi-lagi aku diam. Ibu tau, aku melakukannya dengan Suti sudah sering. Katanya dia melihat kami begitu menikmatinya dan Suti serta aku seperti suami isteri yang sudah terbiasa melakukannya. Kembali aku hanya diam saja.

Perahu sudah memasuki kolong rumah. Aku mengangkat jaringku untuk kuperbaiki. Ibu datang membantu setelah dai selesai masak nasi dan lauk serta membawakannya untukku. Aku makan, kini giliran ibu melihat jaring yang rusak. Ketika kami kembali melakukan perbaikan bersama, ibu menasehatiku, agar aku tak melakukannya lagi, karea akan menjadi aib, kalau Suti hamil. Ibu tidak tahu, kalau aku memakai kondom. Aku sudah menyembunyikian kondom dengan rapi di tempat yang tak mungkin ditemukan. Aku hanya tertunduk. Perbaikan jaring pun selsai.

Ibu mengajakku untuk mencari kerang ke pulau kecil takberapa jauh daripantai dan mencari kepiting. Kepiting boleh dijual besok, karean dia susah matinya. Aku menyetujuinya, agar ibu tak marah lagi pikirku. Setelah meminta izin ayah, kami melaut. Sebuah pulau kecil yang sunyi. Ibuku turun dari perahu. Dia mulai meraba-raba lumpur untuk mendapatkan kerang. Lumayan juga hasilnya ada dua meber besar. Kami pun mulai memasuki akar-akar bakau mencari kepiting. Perahu kami tambatkan di sebatang bakau. Ibuku yang bersia 37 tahun cekatan mencari kepiting. Kami mendapatkan beberapa ekor dan aku mengikatnya lalu memasukkannya ke dalam perahu.

Pulai itu sunyi. Sepi. Hanya terdengar suara desau angin, sesekali hempasan gelombang kecil dan cicit burung. Sesekali terdengar kepak sayang bangau, hinggap di pucuk bakau mengintip ikan kecil. Melihat bangau mulai ramai di pohon bakau, aku mulai menebar jaring, pastibanyak ikannya. Kalau tidak, mana mungkin bangau mau datang mengintipnya. BVenar sana, tebaran pertama aku mendapat tiga ekor ikan ukuran sedang. Beberapa kali aku menabar jala dan mendapatkan sembilan ekor ikan. Cukup untuk lauk kami sekeluarga.

“Kita ke pancuran, Bu. Kita mandi dan mencuci tubuh kita yang bau lumpur,” kataku. Ibuku setuju. kami naik perahu menuju pancuran dan mengambil air dalam jerigen. Aku mandi tanpamembuka celanaku. Membersihkan tubuhku. Ibuku juga mandi dan mengibas-ngibaskan celana pendeknya yang terkena lumpur. Aku melilhat bayangan tubuh ibu dari kainnya yang basah. Teteknya membayang dari kaos basah yang dipakainya. Zakarku membesar. Tapi dia ibuku. Ibuku… tak mungkin….
“Kamu nengok apa?” tanya ibuku. Aku tersipu malu dan menunduk. Lalu ibu meneruskan mandinya dan mengangkat baju kaosnya dan aku melihat jelas teteknya. Aku berdiri dan menatap laut. AKu tak melihat satu pun perahu. Benar-benar sepi.
“Bu…” sapaku. Ibu menoleh. Aku mendekatinya. Aku memeluknya dari belakang.
“Ada apa tole…?” tanyanya. Aku diam. Mulai meremas tetek ibuku dengan sebelah tangan dan sebelah lagi kumasukan melalu celananya yang berkaret. Kuelus jembutibuku.
“Ikh… kamu ini bagaimana….?” kata ibuku menepiskan tanganku. Cepat kupelorotkan celana ibu. Terus sampai mata kakinya, hingga ibu benar-benar tidak mengenakan apa-apa dari pusat ke bawah.
“He… kamu ini kenapa?” Aku diam dan hanyamemeluknya.
“Kamu mau buat aku seperti Suti, ya?”
Cepat kusogok kontolku dari belakang. Ibu berbalik dan aku langsung memeluknya dan menyogokkan kontolku disela-sela memeknya.
“Kamu ini…” kata ibu marah dan menolak tubuhku. Aku lebih kuat memeluknya dan kedua kakiku sudah berada di antara kedua kakinya. Kusandarkan ibu di batu besar dan landai. Langsung kusetubuhi.
“Kamu ini… ” kata ibu berteriak. Aku yakin, tak akan ada orang yang mendengarnyadalam sunyi ini. Terus kusetubuhi ibuku. Sampai aku merasakan memek ibu menjadi licin. Aku tau, kalau selama dua bulan lebih di rumahsakit, ibu tak mungkin bersetubuh. Aku terus menyetubuhinya. sampai akhirnya, ibu tak lagi berteriak dan menolak tubuhku. Ibu mulai menggeliat dan mengelinjang saat teteknya aku emut dan aku hisap-isap.

“Oh… kamu ini kurang ajar sekali, Tole…” katanya mendesah. Aku tak memperdulikannya. Kontolku terus maju-mundur dalam liang memeknya. Ibu pun… memelukku dari bawah. kami saling berpelukan dan erat sekali dan melepaskan keinkmatan kami bersama pula. Kucabut kontolku. Ibu tertunduk lesu. Diameneteskan airmatanya dan meleleh di pipinya. Aku membujuknya dan dia menepiskan tanganku. Kuajak dia naik ke perahu dan akumulai melepaskan tali ikatan perahu. Aku sengaja membawanya berbelok-beloj di sela-sela pohon bakau untuk mencari, mana tau ada kepiting lagi, sembari pulang. Kuminta ibu duduk di belakang dekat denganku, agar perahu bisa melaju. Ibu mundur dan mendekat ke arah diriku. Kupeluk ibu dari belakang dan membisikkan kepadanya agar dia memaafkan aku. Ibudiam saja. Kontolku merapat ke pinggangnya dan aku mengelus teteknya lagi.

“Ah… jangan… ini laut. Nanti hantu laut marah,” katanya. Aku diam saja dan tersmemilin teteknya dan menciumi tengkuknya. Kontolku kembali berdiri dan kuilepas celanaku ke bawah. Lalu kulepas pula celana ibuku hingga terlapas dari kedua kakinya. Ibukusudah setengahtelanjang. Kuangkat ibu ke pangkuanku, membelakangi diru. Kumasukkan kontolku dari belakang.
“Ah… kamu ini…” ibuku mendesah. aku terus menusukkannya Sampai jauh ke dalam. Perahu bergoyang-goyangdan aku menimmatinya. Ibupun mulai menjepit kontolkudan menekan pantannya agar kontolku masuk ke dalam.
“Ahhh….” katanya mengocok kontolku dan kontolkupun mengeluarkan sperma. Cepat kami memakai celana kami dan berkayuh pulang.
Dalam perjalanan ibu bertanya dengan wajahnya menatap ke haluan nan jauh.
“Kamu dan Suti melakukan ini juga di sana, kan?” tanya ibu. Aku diam. Ibu juga diam.
Saat kami tiba di rumah, ayah katanya ada di warung minum teh manis panas.

Sejak saat itu, aku dan ibu, suka melakukannya. Tidak di rumah, tapi di hutan bakau saat menangkap kepiting. Kodenya, ibu atau aku yang mengajak untuk menangkap kepiting. Jika menangkap kepiting, pasti kami melakukannya. Tak perduli walau kami hanya membawa dua ekor kepitingsaja. Berkali-kali dan berkali-kali. Akhirnya ibuku hamil. Kami yakin, anak itu adalah anak kami.

Jika aku mengajak Suti menangkap kepiting, ibu hanya cemberut. Dia juga tahu, kalau aku dan Suti pasti melakukan persetubuhan. Rahasiaku dan Sutidiketahui oleh ibu, tapi rahasiaku dan ibu tak seorang pun yang tahu.

Posted at 05:47 pm by pohonmangga
Make a comment  

Sunday, May 23, 2010
kisah nyataku... 1

Ini kisah nyata ku.......


Ini adalah kisah yang pernah ku alami dalam hidup ku, tentunya dalam hubungan seks, mungkin di forum inilah aku bisa mengutarakan apa yg jadi rahasia dalam hidupku selama 19 tahun ini . Perkenalkan namaku DENI ( nama-nama yang saya sebut semuanya nama samaran ) aku adalah seorang mahasiswa yg berumur 27 tahun dari keluarga yang berada di sebuah DESA di pulau jawa...hehehe. di desa yang lumayan terpencil dan termasuk desa yg rata penduduknya di bawah kecukupan.

Langsung saja ya bro....

Ini berawal dari aku masih duduk di kelas 2 sekolah dasar tetapnya aku berusia 8 tahun yg sudah mengenal yang namanya hubungan suami istri (entah sudah berapa kali aku melakukan hubungan yg tidak seharusnya aku lakukan ini) di sekolah aku mempunyai seorang teman, bisa di bilang sahabat, Sebut saja namanya MAMAN rumahnya tepat di samping rumah ku agak belakang sebab rumah di depanya adalah rumah neneknya yg tinggal bersama pamannya (pamannya maman adalah seorang buruh tani bernama AHMAD yang sudah menikah di karuniyai 1 orang, istrinya bernama YATI yang berwajah biasa alias wajah-wajah deso..hehehehe..tp tubuhnya seksi banget), maman adalah adik kelas ku dia masih kelas 1 karena bertetangga aku berteman sejak kecil sejak sebelum aku sekolah.

Maman mempunyai dua orang kakak perempuan, yang pertama namanya ENI (berusia sekitar 13 tahunan waktu itu klo gak salah dia kelas 1 smp) dan yang kedua namanya ENDAH (kira kira berusia 12 tahunan dia kelas 6 sekolah dasar satu sekolahan sama aku dan maman). Kami selalu bermain di kala siang bersama anak di kampung lainya layaknya anak-anak di usiaku dengan berbagai permain...

Singkat cerita....

Pada suatu hari sehabis pulang sekolah seperti biasa aku bermain bersama tetangga-tetangga dan maman bersaudara, waktu itu aku main petak umpet gak cewek n gak laku kami bermain bersama tepat di depan rumah ku dan kamu berempat aku dan maman bersaudara saat kami bersembunyi di rumah neneknya, tepatnya di ruang tamu, saaat kami sembunyi dalam permaianan, kami terdengar suara kaya kayu bergesekan kreket-kreket, Karena kami berempat penasaran kami pun mencari simber suara tadi. Pas sampainya di depan kamar pak Ahmad begitu kami memanggil beliau ( waktu itu pintu kamar tidak tertutup keseluruhan, mungkin karena di rumahnya Cuma ada neneknya maman yg sudah pikun, kok pintu kamar cedala aja terbuka lebar, sebab depan jendela cuma semak-semak kecil dan tembok samping rumah ku yg cukup tinggi ) kami berempat kaget setengah mati melihat apa yang di lakukan pak Ahmad dan istrinya, mereka melakukah hubungan suami istri yg belum pernah kami lihat, dalam kamar itu dengan posisi istri pak ahmad mengangkan dan di tindih, pak ahmad kelihatan bersemangat menggenjot istrinya yg sudah kelihatan lemas, cukup lama kami melihat adegan itu, sampai saat pak ahmad dan istrinya mencapai kenikmatan, dengan di akhiri karta aaauuuuccchhhhh dan merekapun tergeletak lemas dan kami pun segera pergi dari depan pintu itu takut ketahuan. Saking bingungnya kami melihat kejadian itu kami lupa klo sedang main petak umpet.

Keesokan harinya di sekoalah kami (kecuali eni sebab eni beda sekolahan) membicarakan tentang kejadian yang kami lihat dan merencanakan untuk melakuan pengintaian lagi di rumah pak ahmad, setelah pulang sekolah aku bermain kerumah maman bersaudara dan memberitahu eni tentang rencana kami tadi dan Eni pun setuju, maka kami pun memulai rencana tersebut, segeralah kami kerumah pak ahmad dengan alasan mau belajar bareng dan kami pun berpura2 belajar di ruang tamu, cukup lama kami menanti ternyata pak ahmad dan istrinya tidak melakukan hubungan seks maka kami pun pulang dengan hati yang kecewa.

Rencana pengintaian yang kita lakukan sudah berkali-kali gagal yang membuat kami putus asa dan menghentikan pengintaian. Hingga suatu hari klo g salah malam jumat, malam itu aku lagi asik main nitendo ibu ku manggil klo aku di cari maman, pas aku keluar rumah aku melihat maman dengan sikap terburu-buru ngajak aku kerumahnya, kata “ pamanku lagi main sama istrinya” tanpa pikir panjang akupun segera pamit ma ibu tuk kerumah maman dan segerlah kami pergi sesampainya di rumah pak ahmad kami lewat samping rumah di sana sudah ada eni dan endah dengan pandangan tajam ke arah kamar pak ahmad kali ini kami ngintip lewat jendela sebab jendelanya tidak tertutup alias terbuka lebar, di bawah pohonlah kami duduk di tumpukan kayu melihat adegan yang mebuat kami penasaran itu. Cukup lama kali ini kami liat permainan pak ahmad dengan berbagai gaya dan posisi, sekitar 20 menitan eh...belum sampai selesai kami liat permaian pak ahmad maman terjatuh dari tempat duduknya, sontak membuat kami semua jatuh dan membuat suara yg membuat pak ahmad tahu klo kami sedang mengintip, kami pun lari berhampuran pergi dan aku pun pulang.
Keesokan harinya kami takut bertemu pak ahmad hingga pada suatu hari saat kami lagi bermain secara tidak langsung kami berempat bertemu pak ahmad dan ternyata beliau tidak marah, mungkin beliau tidak tau kalau kami yang mengintip, sejak itulah kami sering mengnitip pak ahmad dan istrinya, sampai-sampai kami tahu jadwal dan waktunya pak ahmad berhubungan intim.

Dari sinilah petualangan seks ku di mulai.......

Pada suatu hari kami berempat sepulang sekolah ingin melakukan pengintaian meski hujan deras di hari itu, seperti biasa kamu mencari-cari alasan agar dapat masuk kerumah itu, tapi pada saat sampai dirumah itu tidak ada pak amhad dan istrinya. Hanya ada neneknya maman yang sedang duduk di ruang dapur, terus maman bertanya kepada neneknya “paman kemana nek” jawab nenek “pergi kerumah mertuanya”.
Rencana kami pun gagal dengan hati kecewa kami pun Cuma duduk-duduk di ruang tamu sebab hujan belum kunjung reda. Cukup lama kami ngobrol hingga saat eni punya ide gila.

Eni : gimana klo kita main kayak paman??
Endah : emang g papa mbak?
Eni : ya g papa lah, kita kan masih kecil

Aku dan maman saat itu hanya terdiam saja mendengarkan obrolan mereka berdua.
Dalam pikiran ku saat itu tidak ada rasa apapun, Cuma pengen tahu rasanya dan aku pun mulai berhayal bagaimana rasanya bila melakukan, cukup lama aku berhayal sampai-sampai endah bertanya padaku aku pun Cuma bengong sampai eni menepuk punggung ku yang bikin aku kaget hingga aku tersadar dari hayalan ku.

Eni : kok malah bengong???!!!
Aku : apa mbak??
Endah : gimana klo kita main kaya paman???
Aku : sekarang ??trus dimana??
Eni : ya sekarang lah mau pakan lagi, mumpung rumah ini kosong, Cuma nenek saja, main di gudang
Maman : paling nenek bentar lagi tidur
Aku : ayo kalo gitu, trus aku sama sapa??
Eni : kamu sama aku dan maman sama endah gimana??
Endah : gimana?? sahut endah
Aku : ayo kalo gitu
Kami pun bergegas melihat nenek yang tadi sedang di dapur, pas kamu kedapur nenek sudah g anda. Endah menyuruh maman tuk lihat ke kamar nenek, setelah maman ngecek kamar nenek ternyata nenek sudah tidur.
Maka kamipun sengera menuju gudang ruangan kosong tempat menyimpan kayu dan beras di sebelah ruangan dapur. Pertama-tama kami menyiapkan alas berupa karung plastik untuk wadah beras dan bantal dari kayu, kami menyiapkan dua tempat layaknya tempat tidur beserta batalnya. Setelah itu eni dan endah mulah melepas celana dalam dan menyikapkan rok mereka lalu berbaring mengangkang di tempat yang sudah saya sediakan tadi, aku dan maman disuruh eni melapas celana pendek kami, waktu itu aku belum memakai celana dalam. Setelah itu aku jongkok tepat di depan eni yg sedang berbaring begitu juga maman berada di depan endah.

Waktu itu perasaanku campur aduk melihat vagina eni yang mungil dan belum di tumbuhi bulu, vagina yang masih memerah banget dan entah dari mana tongkolku yang mungil dan belum di sunat itu pun mulai tegak berdiri siap untuk bertempur, lalu eni menyuruh aku segera memasuk kan tongkol ku ke dalam vagina nya, menengar perintah eni aku pun memasukan montolku kedalam vaginanya, dengan intruksi-intruksinya aku mulai menggenjot tongkol ku hingga terpenam keseluruhan tongkolku kedalam vaginanya eni, dan eni pun merintih sakit.
Yg membuat aku tertawa, melihat eni merintih aku pun bertanya “ sakit ya mbak”jawab eni “iya tapi kok enak” teruskan aja den.
Maka aku menggenjot eni dengan sekuat tenaga sampai eni merintih, meremas dan menarik baju ku aku g peduli. Perasaan ku pada saat itu aneh banget kadang merinding dan tongkol ku terasa hangat, entahlah yang jelas berjuta rasa campur aduk yang bikin aku merasa keenakan padahal waktu itu yg belum tahu apa-apa.
Setelah beberapa menit aku menggenjot eni sekuat tenaga sampai aku berkeringat, entah apa yang dipikirkan eni seingatku dia mengejang dan aku merasakan kehangatan penisku. Eni sudah mencapai orgasme yg pada saat itu aku g tau apa namanya orgasme, dia minta aku berhenti dan menyudahi permain itu. Ku cabut tongkol ku dari vaginanya eni, aku melihat ada cairan merah dan putih di vagina eni dan tongkolku, aku sedikit bingung dengan fenomena tersebut dan aku pun bertanya ke eni “ mbak kok memiawMu ada cairan itu” eni pun menjelaskan dengan rinci apa namanya cairan itu dan dari situlah aku tau tentang samua hal intim wanita ( maklum eni adalah siswa smp jadi mungkin dia sudah tau seluk beluk hubungan suami istri). Lalu eni balik tanya “kamu tadi sudah pipis di memiaw ku belum” jawabku “aku g tau, Cuma tadi terasa enak gitu aja” (padahal belum hehhehehe), Lama kami ngobrol kami g sadar kalo di samping kami ada orang.

Sedangkan di sampingku maman dan endah masih kebingungan mungkin mereka agak canggung atau g tau cara nglakinnya karena mereka berdua gak tau, beda ma aku yang dari awal sudah di arakan sama eni. waktu itu kami melakukan permainan sendiri dan g peduli dengan permaian maman dan eni. Setelah melihat aku dan eni selesai maka mereka pun ikut selesai. Kami pun menyudahi permaianan tersebut dan Memakai pakaian masing masing.

Setelah berbenah dan merapikan gudang kami pun keluar dan aku pulang kerumah ku sebab hari itu sudah mulai sore dan hujan pun sudah berhenti, dalam perjalanan ku pulang aku masih kepikiran dengan kejadian tadi, aku merasa nikmat tapi kok g sampai puas. Semalaman aku memikirkan kejadian tersebut hingga aku tertidur.

Waktu berlalu dan kami jarang bertemu mungkin karena waktunya ujian kami banyak menghabiskan waktu untuk belajar apa lagi eni yang harus mempersiapkan Ebatanas biar bisa lulus dengan baik.

Setelah ujian selesai, kami libur dan mengisi hari-hari libur dengan bermain-main seperti bisa, di pagi hari waktu itu anak-anak kampung lagi ngumpul di pos ronda, aku pun ketemu dengan maman bersaudara tapi waktu itu eni g ada sebab dia masuk sekolah, aku menghampiri mereka. Saat aku lagi asik main ama anak laki-laki, aku di panggil endah, dia ngajak aku ngobrol bahas masalah kejadian di gudang waktu itu. Dia pengen mengutarakan sesuatu makanya kami ngobrol agak jauh dari anak-anak. (obrolan anak kecil maksudnya)

Endah : den, waktu kamu melakukan ama mbak ku kamu merasakan enak gak??
Aku : iya enak, tapi kok ada g bisa puas yaa??
Endah : aku kok enggak yaa...
Aku : masak sih??
Endah : waktu sehabis dari gudang, dirumah tanya aku tanya mbak eni, dia bilang kok enak?? Gimana sih caranya??
Aku : aku Cuma nuruti perintah mbak mu ajak, ya aku gejot gitu deh..
Endah : oo...emang tongkolmu bisa berdiri...?? ( ini pertanyaan yg bikin aku ketawa seumur hidup ku heheheh)
Aku : ya bisa lah..emang kenapa??
Endah : waktu aku main ama adik ku, tongkolnya maman kok kecil banget n berdirinya susah..
Aku : masak sih??
Endah : iyaa...aku g merasakan apa-apa waktu itu...
Aku : ooo...(aku hanya bengong dengerin ceritanya)
Endah : den, kapan kapan kita main kaya gitu lagi yuk.
Aku : ayuk...(dalam dengan senang hati..hehehehehe)
Endah : tapi kita berdua aja, sebab klo ber empat aku sama maman lagi dong....

Setelah kami sepakat dalam obrolan tersebut kami cari-cari waktu tanpa sepengetahuan maman dan eni, hari itu rumahku lagi kosong sebab bapak ku pergi kekantor dan ibuku ikut bapak karena ada acara di kantor bapak.
Pagi-pagi betul kira kira jam 8 aku kerumah maman mencari endah, dan mengajak indah kerumah ku kami lewat pintu samping rumahku agar g ketahuan orang. Langsung saja aku ajak endah ke kamar ku.
Dikamar kami mulai buka baju, waktu itu endah Cuma buka celana dalam saja, tp setelah aku suruh buka semua diapun membuka baju hingga telanjang bulat, aku pun juga begitu. Kami berduapun berbaring di atas ranjang. Pertama kami Cuma bengong sebab sama-sama awamnya, trus aku berkata “kita lakuakan seperti pamanmu saja” dan dia Cuma ngangguk pasrah maka langsung aku kulum bibirnya sambil ku penggang teteknya yg masih rata kuremas, ku plintrir puting susunya dan dia pun mengimbanginya dengan memegang dan mengelus elus tongkol ku, semua itu kami lakukan sesuai naluri kami, setelah cukup lama kami melakukan ciuman aku mulai turun kebawah lalu menjilati teteknya yang masih mungi dan puting yang masih lembut banget yg membuat tongkol ku mulai kepingin memaskukan ke vaginanya (dalam hatiku).
Akupun mulai menarik dan mengangkat pahanya. Sekarang posisinya sudah mengangkan didepan ku, mulai ku menindingnya dan dengan pelan aku masukkan tongkol ku. Perlahan sesuai apa yang pernah aku lakukan dengan eni aku mulai genjot tongkolku, tapi pada waktu aku genjot dan tongkolku sudah masuk di liang vaginanya, dia menjerit AAUUU!!!! dan itu membuat aku kaget setangah mati Langsung kubungkam mulutnya, aku bilang “gak papa mbak eni dulu juga begini, katanya sakit tapi enak” jawabanya “tapi sakit dan perih” ya udah pelan-pelan saja balasku.
Aku pun melanjutkan genjotanku perlahan tapi pasti, sampai tak teras gengotanku makin lama makin cencang. Cukup lama kami mekakukannya hingga akhirnya endah mencapai orgasme pertamanya tubuhnya mengejang erat sprai tempat tidurku sambil memegang dan kakinya menjepit tubuhku dengan sekuat tenaga, melihat itu aku menghentikan genjotanku dan aku menikmati cairan hangat serta cengkraman vaginanya di tongkolku, ohh nikmat banget.
Selang beberapa lama aku mulai menggenjot lagi, endah pun mulai terbiasa dengan genjotanku dan mengikuti irama genjotan ku, sempat dia berpisik padaku ‘ nikmat banget ya den” tapi aku pun diam karena aku masih fokus pada genjotan tongkolku. Saking cepatnya genjotanku yg membuat tubuh kami berbenturan hingga menimbulkan suara plek-plek. Lama aku menggenjot tongkolku aku mulai merinding dan kepengen pipis waktu itu aku bilang sama endah “ mbak aku pepingin pipis” dengan polosnya dia jawab “aku juga merinding lagi, tapi kalo pipis jangan di memiaw ku” aku yang mendengar perkataanya langsung aku cabut tongkolku, saking g tahanya aku pipis di depan endah yang masih dalam posisi mengangkang.aauuuhhhh...nikmat banget maka keluarlah spermaku “crot-crot” yang dulu kami sebut adalah “ mau pipis” hehehehe...
Setelah kami merasakan kenikmatan itu akupun capek dan berbaring di samping endah, trus dia memeluk ku sambil berkata “ nikmat banget ya Den, kapan kapan kita lakukan lagi yuk”. Setelah kami beri istirahat untuk memulihkan tenaga kami segara mengenakan pakaian kembali dan menuju dapur untuk minum karena kehausan. Setelah minum segelas air lalu endah pamit untuk pulang.

Inilah sepenggal kisah ku, masih banyak lagi petualangan seks yg gak lazin di usiaku saat itu....klo berkenan nanti saya lanjutin lagi...sebab butuh waktu lama tuk menceritakan semua kejadian yang aku alami selama 19 tahun ini dan masih banyak wanita pernah aku tiduri dan aku perwani...

Posted at 12:20 pm by pohonmangga
Comments (2)  

MIMPI LELAKI TUA YANG MENJADI NYATA


http://neothesdony.b...20vian.jpgSejak masih kelas 1 SMP, Tasya sudah terlihat cantik. Dulu tubuhnya mungil. Berkulit bersih. (Bagi umumnya orang Jawa, kulitnya sudah termasuk putih) Di antara cewek sekelasnya kecantikannya paling menonjol. Tasya menjadi pusat perhatian juga karena kecerdasannya. Itu diakui oleh teman-teman dan para guru. Tetapi kekurangan Tasya adalah, dia cewek pemalu. Tidak PD. Bila didekati cowok, salting (salah tingkah) . Karena kekurangannya ini, Tasya tak punya banyak teman cowok. Meskipun sebenarnya banyak yang naksir berat sama dia.
Diam-diam salah seorang gurunya menaruh hati pada cewek mungil ini. Pak Wid, yang di usia 40 masih sendiri. Bujang Lapuak, kata orang Minang. Sebagai guru, dia tahu diri, sadar usia, maka yang bisa dilakukan hanya sebatas menggoda atau kadang-kadang memberi tugas ringan, mengambilkan tas di kantor atau disuruh foto kopi soal di koperasi sekolah. Bagi Pak Wid, yang penting bisa dekat, bisa bicara dan kalau bisa, …. sedikit menyentuh tangannya atau mencubit pipinya. Itu sudah cukup. Begitu terus sampai kelas tiga dan lulus, Pak Wid belum berhasil pedekate. Bahkan sampai lulus!!!!http://neothesdony.bluefameupload.com/img/f6d7af4ac391a0ebf4cc8ded04528114/Vian%20besar.jpg
Di mata para siswa, dia guru yang menyenangkan, berjiwa muda, pandai bikin lelucon segar saat mengajar dan ….. murah hati. Maka ketika mereka sudah lulus, masih sering mengunjungi rumah Pak Wid yang tinggal di situ ditemani ibunya yang sudah lanjut usia. Tidak heran jika acara reuni pertama mereka setelah 3 tahun meninggalkan SMP tercinta, diselenggarakan di rumah Pak Wid. Sederhana tetapi meriah. Acara demi acara lancar dan meninggalkan kesan yang mendalam. Hampir seluruh siswa hadir. Tidak terkecuali TASYA. Pak Wid belum melupakan Tasya. Guru jomblo itu masih memegang teguh tekadnya untuk mendapatkan Tasya.
Acara reuni sudah selesai. Sudah banyak yang pulang. Pak Wid berusaha menahan sebentar agar cewek pujaannya itu tidak pulang dulu. Bujangan tua ini sudah menyiapkan trik menarik, dia berharap bisa berhasil.
“Tasya, jangan pulang dulu. Sebentaaaar saja.”
“Ada, apa Pak.” Tasya menahan langkahnya di tangga teras.
“Mumpung kamu pakai pakaian cantik, aku mau ambil gambarmu.”
“Ah, malu, Pak!” Tasya langsung sembunyi di balik tubuh Kiki yang ada di dekatnya. Tetap saja dia masih pemalu.
“ Dewi, Sumi dan Andre, temani Tasya. Dia malu foto sendirian.” Masih terasa wibawa Pak Wid sebagai guru. Beberapa anak bergaya di depan kamera. Tetapi Pak Wid hanya meng- close up Tasya saja. Mereka nggak tahu tipuan itu.. Selesai foto mereka keluar dari teras menuju motor masing-masing. Pak Wid melambai ke Tasya juga. Dia membocengkan Kiki, sahabat dekatnya. Akhirnya rumah itu sepi. Tetapi Pak Wid masih berdiri di pintu pekarangan. Ada sesuatu yang ditunggu. 2 menit, 3 menit sampai 7 menit tak ada apa-apa. Pak Wid melangkah masuk, tiba-tiba langkahnya terhenti dan menoleh. Dia mendengar suara sepeda motor mendekat. Pak Wid tersenyum. Pasti anak itu mau ambil helm yang sengaja disembunykan agar cewek pujaan htinya yang pemalu itu kembali saat yang lain sudah pulang.
“Aduuuuh, Pak, helmku di mana ya?” Tasya bertanya dengan cemas.
“Lho, sudah sampai di mana? Kok baru ingat kalau nggak pake helm?” Pak Wid pura-pura heran.
“Gara-gara saya difoto-foto tadi, jadi saya tertinggal teman-teman.” Tasya cemberut, dia protes. “Aku pake topi serasa pake helm.Ternyata belum pake helm. Untung Kiki mengingatkan.”
“Wah, sorry Tasya. Betul juga kamu. Kalau masih banyak teman kan bisa bertanya .” Pak Wid mencoba menenangkan kepanikan cewek cantik itu. “Masuk sana! Dicari di dalam. Seingat kamu ditaruh di mana?”
“Tadi di stang motor!” Tasya sangat yakin. Wajahnya menampakkan kecemasan.
“Ya, siapa tahu ada yang meminjam tapi mengembalikan di tempat lain?” Pak Wid menjawab dengan kalem.
Tasya masuk kembali ke rumah. Kiki ikut mencari. Pak Wid juga “ikut-ikutan” mencari. Tapi tidak ada.
“Sudah, pake saja helm ku. Itu di motorku!” Pak Wid menawarkan jasa. Tasya ragu sejenak, tetapi merasa lega. Minimal dia bisa pinjam dulu untuk pulang.
“Pinjam dulu, ya Pak?” mengambil helm yang ditunjukkan gurunya.
“Bawa saja, aku punya dua kok.” Pak Wid menjawab tenang. ”Tapi duduk dulu sebentar dong.”
Karena merasa berhutang budi. Tasya menurut dan duduk bersama Kiki. Pak Wid mengumpulkan keberanian untuk memulai triknya.
“Hmm…ehm..Kiki dan Tasya rencana mau kuliah apa kerja.” Dia membuka pembicaraan.
“Kerja, Pak.” Kiki menjawab pendek. “tapi sambil sekolah.”
“Bagus…… jangan menganggur terlalu lama. Bahaya. Makin lama makin susah cari kerja.”
“Aku juga mau cari kerja, Pak. Tapi di mana…..carikan to, Pak!” Tasya tampak putus asa.
“Apa tujuan kamu kerja?” pancing pria bujangan itu cerdik.
“Ya mengembangkan ilmu yang diperoleh di sekolah.” Cerdas dan tangkas Tasya menyahut.
“Good. Jawaban yang cerdas.” Guru tua itu mengacungkan jempol supaya Tasya bangga.
“Kalau kamu, Kiki…………..?”
“Golek duwit, Pak” singkat saja Kiki menjawab.
“Betul, kamu Ki. Pinter. Akhirnya…..ujung-ujungnya…….” Dia sengaja berhenti untuk memancing reaksi.
“Du…wit!” Kiki dan Tasya menjawab bareng disusul tawa mereka meriah. Pak Wid puas. Umpan masuk!
“Kamu sudah tahu kan, waktu PPL, berapa upah minimum karyawan” Pak Wid menunggu.
“Nggak tau, Pak” Kiki bingung. wajah dan otaknya memang pas-pasan. Mudah bingung.
“Kalau yang saya dengar, 150 apa 600, nggak begitu jelas.” Tasya mencoba mengingat.
“Ya hampir mendekati betul. Upah seminggu 150 ribu . Jika sebulan ya 600 ribu.” Pak Wid memperjelas.
“Wah, besar sekali.” Kiki heran. Pak Wid juga heran, kenapa uang segitu dianggap banyak?
“Uang sekolah kita saja 100 ribu, transport 100 ribu. Ya kecil lah, Ki….” Tasya memprotes Kiki.
“Uang segitu hanya pas untuk makan, Ki” Pak Wid menjelaskan.”Padahal kita punya banyak kebutuhan lain.”
“Sudahlah, kamu memang belum perlu mikir seperti itu. Yang penting kamu kerja. Wis”
“Lha yo kuwi Pak, kerja apa? Beli pulsa sebulan aja sudah 50 ribu. Belum beli bedak, jajan” Tasya menghitung.
“Ada kabar baik dan kabar buruk.” Pak Wid mulai menebarkan racun. Dua cewek itu diam memperhatikan dengan serius. “Yang baik dulu apa yang buruk dulu?”
“Yang baik dulu Pak” Kiki usul tetapi dibantah oleh Tasya. Keduanya terlibat perdebatan seru. Baik dulu, apa buruk???
“Sudahlah, aku beri tahu yang buruk dulu?” diam sejenak…….hening….serius
“Aku punya lowongan kerja?”
“Horeeeeee……..!” dua cewek itu berteriak gembira tetapi sesaat kemudian kaget sendiri terus diam.
“ Ini kan kabar buruk? Piye to Pak. Ada lowongan kerja kok kabar buruk” Kiki bingung lagi menatap gurunya penuh tanda tanya. Pak Wid membiarkan keduanya tercekam rasa penasaran.
“Buruknya…… kamu belum tentu mau kerja. Males. Enak di rumah. Ya…..kan??”
“Ah, eng….gak…lah. Kerjo kok males. Susah-susah cari kerja. Sudah dapat kok malah males.” Kiki ngedumel.
“Itu kabar baik,” Tasya meluruskan. “ Bagiku….pekerjaan itu menyenangkan. Trus, kerja apa itu, Pak.” Tasya penasaran.
“Lho, nggak ingin tahu kabar baiknya…..?” pancing Pak Wid yang membuat dua cewek lugu itu semakin penasaran terhadap gurunya yang “baik hati” itu.
“Apa……Pak….he…he….he…..” Kiki tertawa senang. Yang buruk saja menyenangkan. Apalagi ini….”
“Ya iya lah!” Tasya juga penasaran.
“Baiknya….. pekerjaan itu ada upahnya…..”
“Aaaaahh…..yo mestiiiiiiiiiiiiiii ” kedua cewek itu memukuli punggung gurunya yang “nakal” Senang sekali Pak Wid
“Belum selesai …sudah main pukul…” pura-pura dia marah, “Kalau di pabrik upahnya 600 ribu sebulan. Tetapi pekerjaan yang aku tawarkan ini …upahnya cuma 200 ribu …..”
“Huuuuuuuuuuuuuu………” langsung mereka cemberut, tapi hanya sesaat karena guru itu melanjutkan, “ SEHARI!”
Aku ulangi Se….haaaaa…….ri”
“Haaaaa…? 200 ribu rupiah sehariii? Gek kerjo opo….kuwi?” spontan dan hampir bersamaan mereka bertanya
“Ringan….. tidak memerlukan pikiran dan tenaga yang berat. Hanya perlu sedikit keberanian dan…. tekad yang kuat. BEKERJA….DEMI UANG. “ Bau “racun” itu sedap sekali…. Sewangi “janji surga”
“Kerja apa to, Pak? Aku kok ora mudeng?” Kiki betul betul bingung.
“Pokoknya siapa yang mau kerja, Ayo, ikut aku! Tidak bisa ditunda. Besok sudah direbut orang lain. Siapa yang mau ?”
“Aku…Pak” keduanya menjawab serempak. Mereka bingung, tapi juga takut kehilangan kesempatan.
Pak Wid membawa keduanya ke sebuah hotel melati. Dipesan satu kamar yang besar dan cukup sinar dari jendela. Di tempat itulah kedua cewek itu baru tau bahwa mereka akan difoto. Mula-mula foto biasa. Masih berpakaian lengkap. Mereka bergaya dengan bangga. Selesai dua tiga cepretan. Uang 10 ribuan dibagi. Lepas sepatu dan kaos kaki, berani. Klap! Klap! Klap! Dapat 15 ribu, Artinya naik 5 ribu. Lepas baju luar, masih pakai kaos atau rangkapan dalam. Tambah lagi 5 ribu. Tak terasa sekarang tinggal Bra dan CD. Pada tahap inilah mereka mulai alot dan bertahan. Bahkan minta berhenti.
Pak Wid melambaikan lembaran uang berwarna biru kea rah Kiki. Karena terus ragu-ragu, Pak Wid menyelipkan uang itu di belahan dada Kiki. Dia sudah pegang 45 ribu. Sekarang di dadanya ada 50 ribu. Wah, hampir 100 ribu. Dengan mantap Kiki melepas bra-nya. Uang itu ditaruh di dompetnya. Susunya masih kecil. Tapi bagi Pak Wid yang penting Kiki berani lepas bra. Ini akan mempengaruhi Tasya. Klap! Cuma sekali. BH Kiki dikembalikan. Kiki mengenakan kembali.
Tasya berpikir. Apa susahnya? Hanya difoto sekali. Dapat 50 ribu. Lalu boleh pakai beha lagi. Pak Wid tidak menunggu Tasya. Lembaran itu langsung diselipkan di belahan susu Tasya. Tasya ragu-ragu sejenak dan …… melepas juga. Beha dilempar ke tempat tidur. Sambil memberi aba-aba dan mengarahkan Tasya untuk bergaya, diam-diam Pak Wid menyembuhyikan beha itu di bawah bantal. Dada Tasya biasanya tampak rata jika pakai seragam itu, ternyata…. Buesar! Pak Wid terpana! Klap! Klap! Dari samping Klap! Tak disangka, cewek kecil dan cantik ini menyembunyikan keindahan yang……dahsyat! Tasya disuruh duduk, dipotret dari atas. Klap! Benar-benar bulat dan putih. Tanpa membiarkan Tasya berpikir Pak Wid menyelipkan lembaran merah 100 ribuan ke CD Kiki. Melihat Tasya sudah mondar-mandir dengan dadanya yang besar tanpa malu-malu, Kiki tumbuh keberanian. Dipelorotkannya CDnya. Tampaklah memiawnya yang masih berjembie tipis. Klap!Klap! Kiki disuruh berbaring bugil. Klap! Tasya mencari-cari behanya, tapi tak menemukan. Kedua tangannya tak mampu menyembunyikan bukit-bukit putihnya itu. Tetap tumpah ke luar. Sambil terus memotret Kiki Pak Wid berpikir terus, bagaimana membujuk Tasya melepas CD nya.http://neothesdony.bluefameupload.com/img/a54de942f226d0b622f0f47e0eef2713/iki%20susu.jpg
“Aku nggak bisa Pak.” Rengek Tasya ” Malu…to Pak.” Wajahnya tampak memelas.
“Jangan malu, Kiki yang motret dari depan. Aku di belakang kamu.” Kuselipkan lembaran merah di CD putihnya. Pak Wid menarik Tasya menjauhi Kiki. Kamera diberikan kepada Kiki yang bingung tidak tahu caranya.
“Pencet aja tombol kecil di atas itu, Yak, sekarang.” Pak Wid menyemangati Kiki. Tasya masih bertahan tidak mau melepaskan satu-satunya penutup tubuhnya itu.
“Liat, Kiki tidak bisa motret. Kamu aman tidak kena. Jadi kenapa malu.” Pak Wid terus membujuk sambil memegang kedua tangannya agar melepas CDnya. Akhirnya tangan kiri Pak Wid bisa menurunkan CD sampai di atas lutut. Spontan Tasya menutup kemaluannya dengan kedua tangannya.
“Duuuuh….maluuuuu” terus Tasya merengek. Kubisikkan di telinganya “Ssssttt…ada tambahan uang 200 rb…tapi jangan sampai Kiki tahu……” Tasya mengendorkan pertahanannya
“Nanti selesai kuberikan….tapi jangan bilang Kiki….” Bisik Pak Wid sambil menurunkan CDnya. Sulit tapi akhirnya lepas. Dikantonginya CD putih bertuliskan “tasya” di kantong celana. Kamera diambil alih.http://neothesdony.bluefameupload.com/img/5bf4ee0482ae56bdb44cdb22a7aa6482/dipotret.jpg
Penampakan yang luar biasa. Impian 6 tahun kini menjadi kenyataan. Cewek cantik ini sekarang ada di hadapan Pak Wid tanpa selembar benang pun! Klap! Klap Klap! Tempiknya masih kuncup kecil dengan jembut tipis. Hmmm…..imuuut banget. Dadanya bulat, putih..perut ramping kecil…..
“Tasya, pakai dua tangahnmu untuk membuka “itu”mu!” perintah si fotografer. Tasya patuh. Di jembrengnya kemaluannya hingga nampak bagian dalamnya yang merah. Pak Wid menyuruh Tasya berbaring. Klap! Pahanya mulusss. Klap! Close up lubang kemaluan. Klap!
Tahap awal sudah selesai. Uang yang dijanjikan diberikan. Dengan rasa senang dan rasa aneh, dua cewek ABG itu menerima uang hasil “pekerjaan” mereka hari itu. Pak Wid tetap sadar diri. Tidak menyentuh “boneka” kesayangannya itu…. Sekarang belum saatnya. Dia ingin menanamkan rasa aman di hati Tasya. Tasya harus yakin, bahwa Pak Wid tidak berbahaya. Tapi Pak Wid masih punya keinginan membara, malahan semakin menggila.
*******
Tiga bulan setelah itu, Tasya menelpon “tukang foto” itu.
“Pak, kok tidak ada pemotretan lagi. Uangku udah habis.” Suara Tasya di sana. Berbunga-bunga lelaki tua itu mendengar suara merdu di seberang sana. Segala perlengkapan disiapkan Handycam dan kamera. Sebelum dimulai, melalui hape terjadi tawar-menawar harga. Akhirnya setuju 300 ribu? Deal! Tempat di hotel yang sama.
Tidak menunggu lama Tasya datang sendiri. Bawa motor sendiri. Tasya pakai celana panjang, baju kotak-kotak, baju itu tampak kebesaran. Maksudnya untuk menyembunyikan dadanya yang besar itu. Tasya memang cewek yang tidak percaya diri. Punya “kelebihan” kok disembuyikan. Ada perubahan nyata pada sikap Tasya. Tanpa malu-malu dan tanpa disuruh dia melepas sendiri semua pakaiannya. Sampai-sampai Pak Wid menahannya.
“Stop. Bertahap Tas….. Bagian atas dulu pelan…. Muter…..Naah……lepas yang bawah……”
Sessi pertama adalah pemotretan di kamar mandi. Pak Wid pengin memandikan cewek cantik ini. Melihat dari dekat, merabai seluruh permukaan kulit cewek ABG. Oooh …. bagaimana rasanya??? Tanpa membantah, Tasya membawa handuk yang diterima dari Pak Wid. Siang itu memang panas sekali. Mandi dapat menyegarkan tubuh.
Disabuninya kulit mulus itu. Tangannya kini merasakan secara langsung bagaimana halus dan empuknya bukit kembar yang indah itu. Tasya memandang dengan penuh perhatian dadanya yang dibelai. Ooooh…nikmat!
Oohhh….besaaar... empuuk…Putingnya yg merah itu jadi tegak, Karena diremes-remes Tasya merinding. Lubang di bawah jadi terasa lembab. Tangan gurunya ini bener-bener usil. Lereng-lereng bukit kembar itu dielus dan ditelusuri. Tasya terbuai sampai matanya merem sesaat. Pak Wid lalu jongkok, tanpa dapat dicegah oleh Tasya, mulut lelaki tua itu melahap bibir bawahnya. Karena nikmatnya, sampai Tasya mengangkat-angkat sebelah kakinya. Apalgi saat- dua serangan dilancarkan bersamaan. Tasya hanya dapat menggigit bibir. Untuk mengerang dia malu. Setalah tubuhnya diguyur air dan bersih dari bursa sabun, kembali mulut lelaki tua itu mencari sasaran baru. Acara “mimi cucu” mulai.
Tasya memandang ke bawah dengan tatapan takjub, bibir lelaki tua ini bisa mendatangkan kenikmatan ..ooh! Tasya membiarkan dua payudaranya yang super itu bergantian dikenyot “bayi nakal” sampai puas.
“Tasya, tolong lepaskan celanaku. Gerah sekali” Lelaki tua itu sudah merasa perlu untuk meningkat ke permainan berikutnya. Dari tanda-tanda dan basa tubuh, diketahui cewek abg ini sudah “menunggu dipetik”
“Ha? Jangan….Pak! Saya…nggak enak.” Tetapi dalam hati ia ingin tahu, “Kaya apa sih…?”
“ Aku saja nggak apa-apa, kok kamu nggak enak.” Pak Wid memaksa. Tasya melepaskan celana juga CD gurunya dan….. Ha? Ada benda aneh…. Coklat, panjang. Tasya merem. Pura-pura takut. Pak Wid menuntun jari-jari Tasya untuk mengurut-urut “burungnya” dengan sabun.Masih dengan mata terpejam dan ragu-ragu Tasya mengurut benda aneh itu. Makin lama terasa mengembang dan bertambah besar. Telapak tangannya tak muat lagi. Rasa-rasanya benda ini bertambah panjang terus. Tasya membuka matanya dan terkejut…hiiii…..kok jadi segede ni? Penampakan itu menimbulkan rangsangan hebat. Tubuhnya bergetar, darahnya mendesir-desir lebih cepat. Karena terserang “demam” tak dirasakannya tangan gurunya yang nakal itu mengusap-usap vaginanya. Sentuhan di vegi nya itu menambah hebat rangsangan birahinya. Ia ingin melenguh tapi malu. Maka hanya bisa menggigit bibir.
“Aduh, Pak. Sudah, Pak.” Ketika sampai di puncaknya dia tak tahan lagi. Tanpa disadarinya pinggulnya bergoyang. Lelaki tua itu paham betul. Tasya sudah “on” Dia berjongkok. Lubang kemaluan yang masih rapat itu dibuka dengan sapuan lidahnya. Jempol kaki Tasya tegak ke atas, menahan setrum ribuan watt dari lidah si tua bangka itu. Matanya tak lepas dari TKP, dilihatnya lidah itu menari-nari di lubangnya. Menusuk-nusuk bagaikan jari yang basah dan hangat. Tangan Tasya erat meremas sabun di tangannya. Sabun hotel yang tipis itu sampai putus dan hancur. “Penderitaan” Tasya semakin parah ketika dua tangan keriput dan hitam meremas bukit kembarnya yang super besar itu. Ooo…gila, mengapa bisa senikmat ini. Sinyal gelombang kenikmatan itu datang silih berganti dari dada, dari vegi terus menerus. “Sudaaaaahhhh Paaak!” tetapi yang terdengar di telinga guru bejat itu adalah ‘”Teruuuussss Pak!”
Pak Wid keluar dari kamar mandi. Tasya ditelentangkan di kasur. Pahanya yang putih mulus terpampang indah. Di tengah-tengah selangkangan yang putih itu terlihat kemaluannya seperti segitiga terbalik. Segitiga itu dihiasi jembut tipis. Kembali lubang kemaluan gadis kecil itu dikelamut habis-habisan. Tasya sudah tidak melawan lagi. Pak Wid mengangkangi tubuh Tasya yang kecil. Tasya membuka pahanya yang putih mulus, dengan pandangan mata yang pasrah.
“Pak, jangan dimasukkan dalam-dalam ya?” Pintanya mengiba. Tasya tidak tahu bahwa kalau benda tumpul itu sudah masuk, sedalam apa pun rasanya sama saja (enaknya). Pak Wid mengangguk.
“Lima senti cukup, Tasya . Nanti kalau terlalu dalam bilang ya?”
Mula-mula dipukul-pukulnya “kentongan” itu dengan “pemukul” ajaibnya. Plak, plak, plak. Lalu helm itu dipakai untuk nguleg itilnya merah yang mekar mengembang.
“Duuuuh….sakiiit. Jangan diuleg-uleg, Masukkan saja, Pak” terdengar merdu rintihan cewek ini.
Berkali-kali benda coklat itu gagal penetrasi. Kembali lidah sutera bertindak membasahi “jalan ke surga”
Coba lagi dimasukinya, sekarang lubang “kentongan” itu semakin licin.Kemaluan Viani mengeluarkan pelumas sendiri. Putih bening sehingga Pak Wid bisa masuk sedikit.
“Aduuh…jangan dalam-dalam, Pak…..” Pak Wid selalu menafsirkan kebalikannya.” Kurang dalam, Pak” Ditekan lagi, maju sedikit demi sedikit. Tiba-tiba Tasya menjerit lirih
“Aaaauuu…… sakiiiiit….jangan sampai robek ya Pak” rintihnya polos sekali. Padahal Sudah robek. Oh Tasya … Tasya, apakah kamu tidak tahu gurumu sudah mengambil kesucianmu?.
Dengan pecahnya selaput perawan itu, kini lancarlah jalan ke surga. Pelaaaann… dan lambat. Akhirnya semua bagian dari penis laki-laki tua itu masuk. Tasya mendongak dan menggigit bibir. Tetap jaim. Dia berusaha tidak mengeluarkan erangan. Tapi jari-jari kakinya jelas terlihat tegang meregang. Jari tangannya erat meremas kasur. Itu tanda yamh jelas kalau cewek jaim itu menahan hebat kenikmatan yang dirasakannya. Pak Wid kini bergerak naik turun, naik lagi, turuuuun lagi dengan halus.
“Pak jangan dalam-dalam…..ya…..Bapakku sudah wanti-wanti…….jangan sampai ….adduuuuh…” Tak bisa menyelesaikan ucapannya Tasya “terganggu” lewatnya arus “listrik 100 megawatt” diseluruh jaringan syarafnya.
“Jangan apa, cah ayuuuuuu……” Pak Wid semakin menikmati “living reality” mimpi yang jadi kenyataan.
“Kalo robek aku nggak perawan lagi oohh….sakiiit” tusukan itu menjawab protes Tasya. Pak Wid ingin ganti posisi. Tapi tidak berani menyuruh Tasya nungging .takut macem-macem, kuwatir Tasya protes. Yang penting sekarang hasratnya terpenuhi dulu. Tanpa bilang-bilang penisnya dicopot begitu saja lalu berdiri di samping tempat tidur. Tasya yang baru larut dalam kenikmatan tentu saja kaget dan kecewa. Tapi tetap saja jaim dia.
“Sudah selesai, Pak.” Yang diucapkan, tetapi dalam hati berkata, “Kok sudah Pak?”
“Sudah, aja, nanti kamu nggak perawan lagi. Wis, ya?” Pak Wid menggoda.
“Aaaa….Pak Wiiid nakaal, ya pelan-pelan to Pak. Asal jangan dalam-dalam.” Tasya ketagihan. Laki-laki tua itu bersorak dalam hati penuh kemenangan. Hu…. Akhirnya minta juga!
“Ayo balik badanmu. Sinikan pantatmu! Naah….. gitu. Masih utuh . Masih perawan. Kok. Jangan kawatir.” Pak Wid menjilat semua bekas darah di sekitar selangkangan Tasya. Nah, bersih. Diarahkannya lagi tongkat kenikmatannya ke lubang di tengah pantat putih itu. Enam tahun sudah, perjuangan tak kenal lelah. Akhirnya ….ah…pantat indah ini disodorkan di depanku, Tasya aaa…. Aku masuk lagi.
Kini terasa lubang itu semakin licin tetapi tetap sereeeet dan kenceng. Setiap batangnya mau ditarik keluar, bibir-bibir sexy anak cantik ini mengatup rapat dan menahan seakan mengucapkan “jangan keluar dong-yang” sehingga terasa diurut-urut urat-urat batang kemaluan Pak Wid. Eeeennaaaak tenan.
Pak Wid menyadari murid kesayangannya sudah sepenuhnya terikat dalam jerat kenikmatan yang memabukkan. Bagaikan daya hipnotis, buaian nafsu itu membuat Tasya lupa dan hilang kesadaran. Merasa “jalan” sudah lancar, Pak Wid mempercepat sodokannya. Diraihnya bukit kembar yang terayun-ayun di bawah sana. Diremas-remas dengan lembut dan penuh perasaan. Tasya tidak bisa jaga image lagi. Jebollah pertahanannya. Lepaslah kini erangan dan rintihan yang sudah lama ditahannya.
“Ahhhhh….. ssssss…….uuuh…….terusss……aahhh….”
“Enak ……….. sayaaaaaaang?”
“Enaaaak……sekali….”
“Tasya aaa……. Aku sayaaaang kamu…..cah ayu” Ini saatnya untuk mengatakan, yang terpendam selama ribuan hari dan jam di hatinya.
“Aku juga sayang Pak Wid. Ooooh……..” dalam ketidak sadaran akibat candu sex mulut mungil itu bicara. Pak Wid sudah puas mendengar jawaban itu. Dia tidak perlu memiliki Tasya. Kasihan, dia kan masih sangat muda, Baru 18 tahun. Sekarang dirinya sudah 46 tahun. Terlalu jauh beda usianya. Yang penting sudah diperolehnya saat-saat berharga yaitu keperawanan gadis yang lama diidam-idamkan dan dicintainya. Tusukan demi tusukan menghantarkan Tasya ke ujung perjalanan kenikmatannya. Tanpa disadarinya dia menghentak-hentak maju mundur dengan cepat. Mulutnya terbuka. Kedua payudaranya t erayun-ayun mengikuti gerakan tubuhnya. Nafasnya mmburu. Bintik-bintik keringat memenuhi wajahnya sekitar mulut dan dahi. Jadi semakin cantiiiiik. “Aaaaaaaahhhhh…….huuuuuuuuu hffff………” sambil merapatkan pantatnya erat-erat ke belakang. Pak Wid lalu mencabut penisnya yang berkedut-kedut di bawanya ke depan, ke mulut Tasya yang menganga. “Croootz….croooot” Tasya malah tersenyum bahagia. Mengulum penis yang masih licin itu dan menjilatnya bersih.
Pak Wid memeluk erat muridnya. Bibir mungil itu dikecupnya. Tasya membalas penuh gelora nafsu membara. Suatu perpaduan yang sangat kontras. Cewek secantik dan semuda itu dipeluk dan dicium lelaki tua yang sudah pantas jadi kakeknya. Kulit si gadis putih, kulit lelaki tua itu hitam dan sudah berkeriput. Lama sekali mereka berdekapan. Sampai hape Tasya mengingatkan untuk segera pulang. Pak Wid tidak jadi memberi 300 ribu. Tetapi 5 lembar ratusan. Dia iklas karena merasa sangat puas.
Kapan lagi Tasya telepon? Pasti ….. suatu saat akan didengarnya suara merdu Tasya di hapenya, “Pak ada job nggak?

Posted at 12:02 pm by pohonmangga
Make a comment  

Friday, May 07, 2010
ade imut

Ketika aku SMA kelas 2 saya memiliki teman yg bernama Erwin (kelas 3SMP) dan Indra (klas 6 SD). Mereka adalah kakak adik yg kehidupan pribadinya total loss. Dia tinggal bersama bapaknya sebagai ahli listrik sedang ibunya telah cerai dg bapaknya.
Erwin memiliki pacar Ria kls 2 SMP anaknya periang cantik dan sedikit nekat sedang indra memiliki pacar Ade kls 5SD wajahnya istimewa bagiku, kalem cantik, periang, aku sediri blm memiliki pacar karena keasyikan dg hobyku sendiri yaitu koleksi Reptil. Hubungan mereka dg pacarnya kurang harmonis karena dg alasan dia ga bisa di gituin alias buntu wkkkkk.... maklum anak kecil ga ada pengalamannya blas. a

Awal mulanya begini, waktu aku pindah kekostan udah ga tetanggaan dg mereka ttp dekat sekolahan Ade dan Ria. Maklum sekolahan di kota gede ada play group sampai SMUnya. ketika itu kira2 pagi jam6 waktu aku madikan reptil2 kesayangan di depan kamar kost. kebetulan aku jg malas masuk sekolah jd ya ga ada persiapan kesekolah juga. Pas kebetulan si ADE cewek imut kls 5 SD liwat dan sempat kaget liat aku kost dkt sekolahan dia. dia panggil Kak Don..... terlihat wajahnya ceria. memang kala itu Ade suka curhat masalah indra dg aku dan hubunganku dg ade sangat dkt karena masih tak anggap anak kecil ini.

"Kok ga sekolah?" tanya ade
"Ga ah, males lagian" jawabku datar
"aku jg males tu kak, aku tak mbolos disini ya" sambil dg posisi merayuku
"Terserah" jawabku

dia langsung bergerak cepat masuk ke kamar kostku yg bisa dibilang Guede kamarnya (8 X 4m)
didalam dia sedikit kagum melihat koleksiku yg aneh2 seperti ular, kadal, buaya, katak yg jumlahnya kira2 hampir 50 ekor dan ikan cupang yg jumlahnya ga terhitung. Tempat tidurku berada di tengah ruangan karena setiap sudut aku pakai untuk menyalurkan hoby dan bisnisku.

Ketika aku masuk kamar aku lihat Ade masih asyik.
"De aku mandi dulu ya" kataku sambil membawa handuk dan perlengkapan mandiku. aku beranjak kekamar mandi yang letaknya depan kamarku persis. Habis mandi aku lihat ade udah tiduran dikasur. Sedang aku hanya menggunakan handuk. "Kak pinjem baju dong biar ga kusut" aku berikan bajuku yang agak kecil ke dia trus dia langsung ganti didepanku tanpa sungkan ataupun risih. kululihat teteknya mulai mengembang karena dia ga menggunakan BH melainkan cuma kaos singlet yg juga ikutan dilepas ma dia. karena bajunya kebesaran maka ga perlu pinjam celana pendek. dia loloskan roknya pula trus di gantung didekat lemari pakaianku. akupun ganti tanpa canggung melepas handukku trus menggunakan celana pendek tanpa pakai CD.
seperti kakak adik yg tanpa canggung.

"Kak don, aku tu heran kenapa indra marah2 terus ma aku ya" tanya ade
aku bilang "biarin aja, wong dianya maunya cabul terus ma kamu tapi kamunya ga bisa dimasukin"
"ya kak, aku sih nurut aja ma dia suru gini ya gini suru gitu ya gitu tapi dianya tetep aja marah2 mulu ma aku" dg muka sebel
"kak don pernah ML? ajarin dong aku"
WAKKKK.... kaget aku. Kamu tuh masih kecil ga boleh jawabku........
kaaakkk...... ajarin yaaaa dg manja. akhirnya aku putuskan ya, tetapi aku ajarin oral aja dalam hatiku sekalian aku puas juga ga merusak masa depannya.

sini jawabku sambil mengelualkan Mr.P ku yg masih loyo. ade menghampiriku sambil bengong "diapain kak?" tanyanya polos. "kamu mau ga diajari"
"ya ya ya ya ya"dengan tergesa2 ade langsung memegang tetapi ga tau apa yg akan dilakukan." diapain kak" tanyanya polos.
"kamu jilati semua dari bawah sampe atas."
"wek jijik to.........."
"ya udah" aku masukkan lagi Mr.P ku kecelana
"Lho.............." wajahnya kecewa
" katanya jijik ?!?!?!"
"ya udah tak coba kak"
akulepas celanaku dan udah telanjang bulat

di baui seluruh daerah kemaluanku setelah dia yakin tidak bau dan bersih dijilat mr.P ku. setelah lama dijilat aku suruh masukkan kedalam mulut Mr.P ku yg dari tadi ga bisa tegang ini. "kok ga bangun2 ya kak?" tanyanya.
"buka bajumu gih biar kakak bisa bangun" tanpa komando dia lsg bugil dlm hitungan detik. aku lihat dia bersemangat sekali.
kembali dia memasukkan penisku di mulutnya. kulihat teteknya kecil yang sedikit mekar dan memiaw yg masih 100% botak ini akhirnya Mr.P ku sedikit merespon. dia masih pelan2 mengoral aku. aku mencari sensasi sendiri dg mengelus2 teteknya yg kecil ini. trus pindah misV yg botak ini aku gosok2. ade mulai terangsang kelihatan dari bahasa tubuhnya yg mulai menggeliat2 ga karuan sambil menghisap penisku. akhirnya dia akan mencapai puncak dan mengoralku dg keras bgt. dia mengejang kuat dan dg reflek dia jg menggigit penisku dg kuat. aku menjerit kesakitan. dia kaget dan bilang "maaf kak... maaf yaaaa....., ga sengaja". penisku pun dibikin ngilu setengah mati kena giginya sampai ga bisa apa2 rasanya. ade merasa bersalah bgt. aku mau dibawa ke dokter olehnya tp aku bilang ga usah.

akhirnya beberapa hari ini ade tiap pulang sekolah kadang bolos jg ketempatku menanyakan kabar penisku. memang beberapa hari aku mengalami impoten. pada suatu hari tepat 10 hari aku mendapati penisku tegak waktu bangun tidur. aku kegirangan banget. udah ga ada rasa sakit lagi dalam kata lain normal 100%. ketika itu ade masuk kamarku, aku inget itu hari sabtu. ade aku kasi kabar lsg dia bolos sekolah. dia berjanji akan memperlakukan lebih halus lagi. memang beberapa hari ini dia berusaha mengoral aku ttp ga bisa berdiri. kali ini dia mau belajar lagi tapi aku sedikit trauma dg kejadian kemarin.

"kak ade mau lagi kaya kemarin" katanya manja
"ga mau kapok aku"
"kaaakkkkkk..." dg wajah mau nangis gitu
akhirnya aku iyakan tp ati2 lho jawabku. aku punya pikiran mendingan dia tak kerjai dl sampe keluar jd aku bisa terangsang trus ga resiko kegigit lagi. akhirnya dia aku suru duduk di sofa kamarku. aku jilati putingnya yg dlm waktu 10 hari ini aja kelihatan perubahan yg cukup mengejutkan. trus tangan kananku menggosok2 klitorisnya yg, aku mulai jilat telinganya turun ke buah dadanya, turun ke missVnya, aku jilat dg rakus karena selain kecil botak ga bau sama sekali. aku jilat dari pantat naik e atas dg cepad dan sebentar kau tusukkan lidahku ke dalam pantatnya dana gantian ke miss Vnya yg masin 1000% perawan ini. dia mulai mengejang dan akhirnya organsme dia.

kulihat wajahnya yg nggemesin dan berkeringat tersenyum puas. akhirnya gantian aku di oral tapi kali ini lain. karena dia takut kena gigi maka mulutnya dibuka lebar2. aku bilang "jgn gitu rasanya ga enak tau, biasa aja ky kemarin tapi pake ati2". tanpa dikomando langsung dia bergerak. kali ini aku rasa hisapannya udah lain lebih kuat dan enak banget. dan akhirnya aku bilang "coba masukin yang dalam biar mentok, bisa ga?" kulihat dia berusaha memasukkan dalam2 penisku dan ternyata bisa. gila padahal penisku 16cm an kalo buat anak seukuran dia itu termasuk gede bgt, bisa amblas mentok masuk ke gorokannya. Rasanya sampe napas aja susah karena keenakan. meskipun gerakannya pelan tapi rasanya seperti didunia lain akhirnya aku ga tahan dan....... crot...crot....crot.... ga tau rasanya berkali2 sampe melayang. itupun tanpa pemisi dimulut jd langsung aku keluarin ditenggorokannya. aku langsung ambruk lemes. enak bgt kataku. Ade tersenyum puas karena merasa dia bisa memuaskan aku. aku dan ade langsung tidur.

kira2 jam 11 pagi akupun bangun kulihat ade masih tidur aku tinggal kekamar mandi. rasanya lemes bgt sampe buat berdiri rasanya bergetar lututku. aku putuskan beli makanan dulu disupermarket dan minuman energi biar ga lemes ky gini.
sampai dirumah kulihat ade baru keluar dari kamar mandi.

"Kak enak banget ya" katanya polos
"ya" jawabku sinkat sambil memasang komporgas portable yg jarang sekali aku gunakan dan aku memasak indomie 3bungkus. setelah masak aku makan berdua. setelah itu aku santai2 sambil nonton TV dia tidur di pangkuanku. dibalikkan wajahnya jd sekarang dia menghadap Mr P ku. di buka celanaku yg cuma kolor tanpa cd itu dan dimainkan lagi dg wajah dan tangan akhirnya berdiri lagi. "ehhh... udah dong, kamu kok jadi hyper gitu sih". " kak, aku sekarang jadi ga seneng ma indra, aku sekarang seneng ma ko doni. mulai hari ini aku putus ma dia" katanya menggebu2. "weee anak kecil aja kaya dah gede pake putus2 segala" candaku.
"serius kak"
"ya udah terserah sana' aku sambil terlentang
MrP ku masih di kerjai. dia mengulang suskesnya dengan mengoral pake tenggorokan.
rasanya nafsuku udah naik lagi tapi tak biarkan aja, soalnya mo ngapain lagi wong anak kecil.
akhirnya dia naik ke badanku. melepaskan semua pakaiannya.
dia berusaha memasukkan MrP ku ke vaginanya. aku jadi kaget.
"wak. kamu mau apa" seruku?
"Nyoba Masukan ya ko"
"jangan, kamu ga takut perawanmu hilang? nanti kamu nyesel lho"
"ga kok, suer"
"terserah sana, usaha sendiri"
dia masih berusaha dg posisi di atas mencoba memasukkan mr P ku.
pelan pelan akrhirnya yg kudengar kretek dan bles masuk mr P ku ke vaginanya.
kulihat sakit tapi ditahan. "katanya enak, kok sakitnya kaya gini ya kak"
kamu tenang dulu diemin aja didalam, lemesin badanmu dulu.
akhirnya setelah rasa nyerinya hilang ade mulai gerak2kan badannya naik turun. semakin lama semakin cepat
tubuhnya meliuk2 bikin tambah gemes aja. ga lama kemudian dia mengejang dan diam ga bergerak diatas tubuhku. kurasakan denyutan di vaginanya di mr p ku cepat dan kuat sekali.

sebentar dia bangkit menggoyang tubuhnya lagi, gerakkannya lebih luwes. kini ade bergerak dengan menjilati leherku naik ke daguku, trus mulutku dilahap kayak makan ice cream cornelo. wah gila rasanya. aku ga tahan juga. aku imbangi dg menggosok2 buah dadanya. sebentar kemudian ketika lidahnya terasa didalam telingaku aku merasakan akan keluar.
"deee kakak mau keluar......."
"akuuu iyaaa kak......."
selang beberapa detik dia mengejang dan kemudian aku menyusul karena meskipun diam didalam rasanya berdenyut kuat, dan....
croottt...crottt.... ga tau berapa kali akhirnya kami diam berpelukan erat.
sempat ketiduran.

setelah itu kami bangun dan kaget setengah mati. hampir separo ranjang darah semua termasuk badanku. kami berduapun kalang kabut dibuatnya. aku takut ade mengalami pendarahan tetapi ternyata tidak. wuih selamet rasanya. akhirnya aku putuskan kasur bersama sprei aku buang. kebetulan ada tukang sampah jadi aku langsung angkat masukkan aja ketruck sampah.

beberapa hari ini aku tidur beralaskan kardus TV yg biasanya aku pake alas kasur. maklum anak kost dan dagangan ikan dan reptil sepi jd ya ngirit. beberapa hari kemudian ada kiriman kasur serta mebel yg aku baru ketahui itu dari ade. maklum anak orang kaya, bapak ibunya jarang dirumah dan anak tunggal. jadi beli apa2 tinggal gesek aja. dia beli kasur serta mebel, ac, kulkas poko perabot komplit yang totalnya hampir 30 juta. Sempat mamanya curiga akhirnya datang ke kostanku. kami ngobrol2 dengan mamanya.
ade waktu itu keliatan manja bgt ma mamanya mungkin jarang ketemu.

"Ibu, saya ga minta barang2 ky gini ma ade. saya belinya aja ga tau. tau2 ada kiriman. dan semuanya dipasang2in oleh tukangnya, trus saya harus bgmana bu?" tanyaku ma ibunya ade
"Ya udah, pake aja pokok jelas uang keluarnya kemana ibu jg ga masalah kok. Ibu takutnya ade itu main narkoba aja"
"Mami, pokoknya kalo mami ga ada ade bobok sini" kata ade manja
"terserah pokok kamu jangan nakal" jawab ibunya

sesampai dirumah ibunya berbicara dg ade
"kamu ada hubungan apa to ma doni"
"itu ma dia tu ngajari semua pelajaran ade, yg ga tau ade tanya ma kak doni. orangnya pinter tapi ya agak aneh. itu yg bikin ade kerasan kalo disana. bayak ikan dan ular dikamarnya tapi tetep rapi kamarnya. ade jd betah. ini nilai ade juga bagus2 berkat kak doni" dengan menggebu2
"ya udah kalo gitu, kamu baik2 ya, besok mama mau berangkat keindia ma papi. ada proyek disana jd mungkin agak lama"
"ya mi"

keesokan harinya kamu udah seperti suami istri. hidup berdua, ML ampe puas, tidur bareng sekamar poko kaya suami istri gitu deh. orang lain liatnya kaya kakak adik karena memang terpaut jauh bgt. udah bisa bayangin sendiri kan (ga perlu jelasin crat cret crot gitu).

dan akhirnya dia punya pacar dan dikenalkan kalo ga salah namanya hendrik. dia pacaran ma hendrik tp tetep ML ma aku sekarang dia sudah nikah juga ma hendrik dan mengatakan hidupnya bahagia. kami kadang2 masih SMS dan curhat. kalo ada masalah pasti aku yg menyelesaikan

Posted at 10:49 pm by pohonmangga
Make a comment  

risa bermain disekolah

aCerita Panas,Namaku risa atau biasanya dipanggil icha. aku memiliki wajah yg sedikit indo didukung dengan badanku yg kata teman2ku seksi. aku baru saja lulus smu. cerita ini adalah pengalaman sewaktu aku masih duduk di bangku sma kelas 1. Hari ini pelajaran yg diberikan belum terlalu banyak karena kami masih dalam tahap2 transisi dari murid smp menjadi murid smu. Tak terbayang olehku dapat masuk ke smu yg masih tergolong favorit di ibu kota ini. impianku sejak dulu adalh memakai sragam putih abu2 karena seragam ini memiliki model rok yg lebih membuatku kelihatan seksi.

diantara teman2 baruku ada seorang co yg amat menarik perhatianku, sebut saja namanya indra. membayangkan wajahnya saja bisa membuatku terangsang. aku sering melakukan masturbasi sambil membayangkan indra. walaupun sering bermasturbasi tp saat itu akku belum pernah bercinta atau ngentot, bahkan petting jg belum. entah setan apa yg masuk ke dalam otakku hari itu karena aku berencana untuk menyatakan cinta kpd indra. maka saat istirahat aku memanggil indra, “dra, gw gk tau gmn ngomongnya…” aku benar2 kalut saat itu ingin mundur tp udah telat. “dra gw sayang ma elo, lo mau kan jd cowo gw?” aku merasa amat malu saat itu, rasanya seperti ditelanjangi di kelas (paling tidak sampai SEKARANG aku masih memakai seragam lengkap. indra hanya tersenyum, “nanti aja ya gw jawabnya pas pulang”.

selama jam pelajaran pikiranku tak menentu, “gimana kalo indra gak mau?” dalam hatiku “pasti gw jd bahan celaan!” berbagai pertanyaan terus mengalir di otakku. untungnya pelajaran belum begitu maksimal. bel pulang pun berdering, jantungku berdegup cepat. aku hanya duduk menunggu di bangkuku, aku tidak memiliki keberanian untuk menghampiri indra dan menanyakan jawabannya. saat kelas sudah berangsur sepi indra menghampiriku “bentar ya cha, gw dipanggil bentar” katanya. aku menunggu sendirian di kelas. “jangan2 indra ingin agar sekolah sepi dan mengajakku bercinta?” kepalaku penuh pertanyaan, hingga aku sama sekali tidak dapat berpikir sehat. dalam penantianku tiba2 ada orang datang. aku kecewa karena bukan indra yg datang melainkan malik dan ardy dari kelas I-3. mereka menghampiriku, malik didepanku dan ardy disampingku. perlu diketahui mereka bisa dikatakan sangat jauh dari tampan. dengan kulit yg hitam dan badan yg kurus kering, aku rasa akan menyulitkan mereka untuk mendapatkan pacar di sekolah ini. “lagi nugguin indra cha?” kata malik. “koq tau?” kataku “tadi indra cerita.” apa2an nih indra pake cerita segala dalam hatiku. “lo suka ma indra ya cha?” tanya malik lagi. aku cuma diam saja. “koq diem?” kata ardy. “males aja jawabnya” kataku

perasaan bt mulai menjalar tp aku harus menahan karena pikirku ardy dan malik adalah teman indra. “koq lo bisa suka ma indra sih cha?” tanya ardy tp kali ini sambil merapatkan duduknya kepadaku dan menaruh tangannya di pahaku. “indra ganteng n gak kurang ajar kayak lo!” sambil menepis tangannya dari pahaku. “kurang ajar kaya gimana maksud lo?” tanya ardy lag i sambil menaruh tangannya lg di pahaku dan mulai mengelus2nya “ya kayak gini!” jawabku sambil menunjuk tangannya tp tidak menepisnya karena aku mulai terangsang dan berpikir mungkin mereka disuruh indra. “tapi enak kan?” kali ini malik ikut bicara. ardy mulai mengelus2 pangkal pahaku. aku pura2 berontak padahal dalam hati aku ingin dia melanjutkannya. “udah jangan sok berontak” kata malik sambil menunjukkan cengiran lebarnya. makin lama usapannya membuatku membuka lebar pahaku. “td bilang kita kurang ajar, eh skarang malah ngangkang.” “nantangin yah?” kata malik. dia menggeser bangku di depan mejaku dan mulai masuk ke kolong mejaku. sekarang ardy berganti mengerjai payudaraku, tangan kirinya mengusap payudara kananku sedangkan mulutnya menciumi dan menghisap payudarakiriku sehingga seragamku basah tepat di daerah payudaranya saja. malik yg berada di kolong meja menjilat2 paha sampai pangakal pahaku dan sesekali lidahnya menyentuh memekku yg msh terbungkus cd tipisku yg berwarna putih. perbuatan mereka membuatku menggelinjang dan sesaat membuatku melupakan indra. ardy melepas kancing kemeja seragamku satu persatu dan kemudian melempar seragam itu entah kemana. merasa kurang puas ia pun melepas dan melempar braku. lidahnya menari2 di putingku membuatnya menjadi semakin membesar. “ough dy udah dong, gimana nanti kalo ketauan” kataku “tenang aja guru dah pada pulang” kata malik dari dalam rokku. sedangkan ardy terus mengerjai kedua payudaraku memilinnya, meremas, memghisap, bahkan sesekali menggigitnya. aku benar2 tak berdaya saat ini, tak berdaya karena nikmat. aku merasakan ada sesuatu yg basah mengenai vaginaku, aku rasa malik menjilatinya. aku tak dapat melihatnya karena tertutp oleh rokku.

perlakuan mereka sungguh membuatku melayang. aku merasa kemaluanku sudah amat basah dan malik menarik lepas cdku dan melemparnya juga. ia menyingkap rokku dan terus mnjilati kemaluanku. tak berapa lama aku merasa badanku menegang. aku sadar aku akan orgasme. aku merasa amat malu karena menikmati permainan ini. aku melenguuh panjang, setengah berteriak. aku mengalami orgasme di depan 2 orang buruk rupa yg baru aku kenal. “hahahaha..” mereka tertawa berbarengan. “ternyata lo suka juga yah?” kata ardy sambil tertawa. “jelas lah” sambung malik “smp dia kan dulu terkenak pecunnya” kata2 mereka membuat telingaku panas. kemudian mereka mengangkatku dan menelentangkanku di lantai. mreka membuka pakainnya “oh..” ini pertama kalinya aku melihat penis secara langsung. biasanya aku hanya melihat di film2 porno. malik membuka lebar pahaku dan menaruh kakiku di atas pundaknya. pelan2 ia memasukkan penisnya ke liang senggamaku. “ough, sakit lik” teriakku “tenang cha, entar juga lo keenakan” kata malik ” ketagihan malah “sambung ardy”

perlahan2 ia mulai menggenjotku, rasanya perih tp nikmat. sementara ardy meraih tanganku dan menuntunnya ke penis miliknya. ia memintaku mengocoknya. malik memberi kode kepada ardy, aku tidak mengerti maksudnya. ardy mendekatkan penisnya kemulutku dan memintaku mengulumnya. aku mejilatinya sesaat dan kemudian me masukkannya ke mulutku. “isep kontol gw kuat2 cha” katanya. aku mulai menghisap dan mengocoknya dgn mulutku. tampaknya ini membuatnya ketagihan. ia memaju mundurkan pingangnya lebih cepat. disaaat bersamaan malik menghujamkan penisnya lebih dalam. “mmmffhh” aku ingin berteriak tp terhalang oleh penis ardy. rupanya arti dr kode mereka ini, agar aku tak berteriak. aku sadar ke virginanku diambil mereka, oleh orang yg baru beberapa hari aku kenal. “ternyata masih ada juga nak smp sb yg masih virgin” “memek ce virgin emang paling enak” kata malik. dia menggenjotku semakin liar, dan tanpa sadar goyangan pingulku dan hisapanku terhadap penis ardy jg semakin cepat. tak lama aku orgasme untuk yg kedua kalinya. akupun menjadi sangat lemas tp karena goyangan malik malik semakin liar aku pun juga tetap bergoyang dan meghisap dengan liarnya. tak lama malik menarik keluar penisnya dan melenguh panjang disusul deerasnya semprotan maninya ke perutku. ia merasa puas dan menyingkir.

sudah 45 menit aku menghisap penis ardy tp ia tak kunjung orgasme jg. ia mencabut penis dari mulutku, aku pikir ia akan orgasme tp aku salah. ia telentang dan memintaku naik diatasnya. aku disetubuhi dengan gaya woman on top. aku berpegangan pada dadanya agar tidak jatuh, sedangkan ardy leluasa meremas susuku. sekitar 10 menit dengan gaya ini tiba2 malik mendorongku dan akupun jatuh menindih ardy. malik menyingkap rokku yg selama bergaya woman on top telah jatuh dan menutupi bagian bawahku. ia mulai mengorek2 lubang anusku. aku ingin berontak tapi aku tidak ingin saat ini selesai begitu saja. jadi aku biarkan ia mengerjai liang duburku. tak lama aku yg sudah membelakanginya segera ditindah. penisnya masuk ke dalam anusku dengan ganas dan mulai mengaduk2 duburku. tubuhku betul2 tersa penuh. aku menikmati keadaan ini. sampai akhirnya ia mulai memasukkan penuh penisnya ke dalam anusku. aku merasakan perih dan nikmat yg tidak karuan. jadilah aku berteriak2 sekeras2nya. aku yg kesakitan tdk membuat mereka iba tetapi malah semakin bersemangat menggenjotku. sekitar 15 menit mereka membuatku menjadi daging roti lapis dan akhirnya aku orgasme lagi untuk yg kesekian kalinya. kali ini aku berteriak amat keras dan kemudian jatuh lemas menindih ardy. saat itu penjaga sekolah masuk tanpa aku sadar dan menonton aku yg sedang dikerjai 2 orang biadab ini.

goyangan mereka semakin buas menandakan mereka akan segera orgasme. aku yg sudah lemas hanya bisa pasrah saja menerima semua perlakuan ini. tak lama mereka berdua memelukku dan melenguh panjang mereka menyemprotkan maninya di dalam kedua liangku. aku dapat merasakan cairan itu mengalir keluar karena memekku tidak cukup menampungnya. mereka mencabut kedua penis mereka. aku yg lemas dan hampir pingsan langsung tersadar begitu mendengar ardy berkata “nih giliran pak maman ngerasain icha” aku melihat penjaga sekolah itu telah telanjang bulat dan penisnya yg lebih besar dari ardy dan malik dengan gagahnya mengangkangiku seakan menginginkan lubang untuk dimasuki. ia menuntun penisnya kemulutku untuk kuhisap. aku kewalahan karena ukurannya yg sangat besar. melihat aku kewalahan tampaknya ia berbaik hati mencabutnya. tetapi sekarang ia malah membuatku menungging. ia mengorek2 kemaluanku yang sudah basah sehingga makin lama akupun mengangkat pantatku. aku sungguh takut ia menyodomiku.

akhirnya aku bisa sedikit lega saat penisnya menyentuh bibir kemaluanku. dua jarinya membuka memekku sedangkan penisnya terus mencoba memasukinya. entah apa yg aku pikirkan, aku menuntun penisnya masuk ke memekku. ia pun mulai menggoyangnya perlahan. aku secara tak sadar mengikuti irama dari goyangannya. rokku yag tersinggkap dibuka kancingnya dan dinaikkannya sehingga ia melepas rok abu2ku melalui kepalaku. saat ini aku telah telanjang bulat. tangannya meremas payudaraku dan terus menggerayangi tubuhku. disaat2 kenikmatan aku tak sengaja menoleh dan melihat indra duduk di pojok. dewi teman sebangkuku megoralnya yg lebih mengagetkan ia memegang handycam dan itu menagarah ke diriku. aku kesal tp terlalu horny untuk berontak. akhirnya aku hanya menikmati persenggamaan ini sambil direkam oleh orang yg aku sukai.

pak maman semakin ganas meremas dadaku gerakannya pun semakin cepat. tapi entah kenapa dari tadi aku selalu lebih dulu orgasme dibandingkan mereka. aku berteriak panjang dan disusul pak maman yang menjambak rambutku kemudian mencabut penisnya dan menyuruhku meghisapnya. ia berteriak tak karuan. menjambakku, meremas2 dadaku sampai akhirnya ia menembakan maninya di mulutku. terdengar entah malik, ardy, atau indra yang berteriak telan semuanya. aku pun menelannya. mereka meninggalkanku yg telanjang di kelas sendirian. setelah mereka pergi aku menangis sambil mencari2 seragamku yg mereka lempar dan berserakan di ruang kelas. aku menemukan braku telah digunting tepat di bagian putingnya dan aku menemukan cdku di depan kelas telah dirobek2. sehingga aku pulang tanpa cd dan bra yg robek bagian putingnya. di dekat tasku ada sepucuk memo yg bertuliskan


Posted at 08:56 pm by pohonmangga
Make a comment  

bocah imut tommy

Tommy, sepupuku, baru duduk di kelas empat SD. Baru saja ia tiba di rumah. Tommy nongkrong di lantai teras depan rumah. Rumahnya kosong. Ayah dan ibunya pergi bekerja, sedangkan ia anak tunggal. Tommy asyik membaca sebuah novel yang seharusnya hanya boleh dibaca oleh orang dewasa.

"Halo, Tommy. Lagi asyik baca nih. Mama udah pulang belum?", Datang seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluh tahunan.
"Eh, Tante Tika. Mama belum pulang tuh!" jawab Tommy sambil menyembunyikan novel yang dibacanya ke belakang tubuhnya. Tante Tika, adik ayah Tommy, baru saja bercerai dengan suaminya.
"Eh, Tommy baca apa sih? Kok pake di umpet-umpetin segala? Tante boleh lihat nggak?" Setelah dibujuk-bujuk, Tommu mau menyerahkan novel itu kepada Tante Tika.

"Astaga, Tommy. Masih kecil bacaannya ginian!", seru Tante Tika setelah melihat sampul buku yang bergambarkan seorang gadis muda dengan busana yang sangat minim dan pose yang menggiurkan. Tante Tika lalu membolak-balik halaman novel itu. Saat membaca bagian di mana terdapat adegan yang merangsang dalam buku itu, sekilas terjadi perubahan pada wajahnya.
"Tom, daripada kamu sendirian di sini, lebih baik ke rumah Tante yuk!", ajak Tante Tika.
"Tapi, Tante, Tonny disuruh Mama jaga rumah".
"Alaa, tinggal kunci pintu saja sudah", kata Tante Tika sambil mengunci pintu rumah lalu ia menarik tangan Tommu ke mobilnya.

Mobil Tante Tika sudah meluncur di jalan raya menuju rumahnya. Sebentar-sebentar ia menoleh ke arah Tommy yang duduk di sampingnya.
"Masih kecil sudah ganteng begini", gumam Tante Tika dalam hati. Ia menggerakkan tangannya meremas-remas kemaluan bocah yang masih hijau itu.
"Aduh, Tante. Geli ah", kata Tommy. Tante Tika tersenyum penuh arti. Ia menarik tangannya ketika mobil sudah tiba di depan rumahnya yang megah bak istana di seberang danau Sunter.

Tante Tika usianya sudah mencapai tiga puluh dua tahun, tapi penampilannya masih seperti gadis berusia dua puluh tahunan berkat giatnya ia mengikuti senam aerobik di sebuah klub kebugaran beken di Jakarta. Wajahnya yang cantik ditambah dengan tubuhnya yang bahenol serta seksi. Payudaranya yang besar memang amat menawan, apalagi dia sekarang seorang janda. Sudah banyak lelaki yang mencoba merebut hatinya, tapi semua itu ditolaknya mentah-mentah. Menurutnya mereka hanya menginginkan hartanya saja. Tante Tika memang kaya raya, mobil mewahnya ada beberapa buah dari model yang mutakhir lagi. Rumahnya mentereng, di kawasan perumahan elite lagi. Itu semua berkat kerja kerasnya sebagai direktris sebuah perusahaan asuransi papan atas.

Oh ya, Tante Tika mempunyai seorang anak gadis bernama Andriana, putri satu-satunya, tapi biasa dipanggil Andri saja. Gadis manis ini duduk di kelas dua sebuah SMP swasta top di daerah Kelapa Gading. Pada usianya yang baru menginjak empat belas tahun ini, tubuh Andri sedang mekar-mekarnya. Payudara remajanya sudah ranum sekali, berukuran lebih besar daripada gadis-gadis sebayanya, laksana payudara gadis berusia tujuh belas tahun. Mungkin kemontokannya ini warisan dari ibunya. Tapi Andri memang anak yang agak kurang pergaulan alias kuper karena kebebasannya dibatasi dengan ketat oleh ibunya, yang kuatir ada pihak-pihak yang memanfaatkan kemolekan tubuh anaknya tersebut. Sama sekali Andri belum pernah merasakan apa artinya itu cinta. Padahal banyak sudah cowok yang naksir dia. Namun Andri belum sadar akan cinta.

"Tom, badan Tante pegal nih. Tolong pijatin ya", kata Tante Tika sambil mengajak Tommy ke kamar tidurnya. Tante Tika membuka busananya. Lalu ia membaringkan tubuhnya yang telanjang bulat tengkurap di ranjang. Tommy masih lugu sekali. Ia belum tahu apa-apa tentang keindahan tubuh wanita.

"Tante kok buka baju? Kepanasan ya?", tanya Tommy dengan polosnya. Tante Tika mengangguk. Lalu Tommy memijati tubuh Tante Tika. Mula-mula punggungnya. Lalu turun ke bawah. Tante Tika mendesah sewaktu tangan mungil Tommy memijati gumpalan pantatnya yang montok.

"Tante, kenapa? Sakit ya?", tanya Tommy lugu. Mula Tante Tika memerah. Dia duduk di atas ranjang. Tangannya menarik tangan Tommy ke payudaranya.
"Tante, ini apaan? Kok empuk amat sih?", tanya Tommy ketika tangannya menjamah payudara tantenya. Tante Tika mulai bangkit nafsu birahinya.
"Ini namanya payudara, Tom".
"Kok Tante punya sih? Tommy nggak ada?".
"Tommy, Tommy. Kamu bukan cewek. Semua cewek kalau udah gede pasti akan punya payudara. Payudara adalah lambang keindahan tubuh wanita", Tante Tika menjelaskan dengan bahasa yang terlalu tinggi bagi anak seusia Tommy.
"Lalu pentilan ini apa namanya?", tanya Tommy sambil memijit puting susu tantenya. Tante Tika sedikit menggelinjang terangsang.
"Ah.., Ini namanya puting susu. Semua wanita juga mempunyai puting susu. Mamamu juga punya. Dulu waktu kamu masih bayi, kamu minum susu dari sini".
"Masa sih Tante. Biasanya kan susu dari sapi?"
"Mau nyobain nih kalo kamu nggak percaya. Sini deh kamu isap puting susu Tante!".

Tommy kecil mendekatkan mulutnya pada payudara Tante Tika lalu diisapnya puting susunya.
"Ih, Tante bohong. Kok nggak keluar apa-apa?", kata Tommy sambil terus menyedoti puting susu Tante Tika yang tinggi menegang itu. Tapi tantenya nampaknya tidak mempedulikan perkataan keponakannya itu.
"Teruskan.., Tom.., Sedot terus.., Ouuhh..", kata Tante Tika bernafsu. Karena merasa mendapat mainan baru, Tommypun menurut. Dengan ganasnya ia menyedot-nyedot puting susunya. Tante Tika menggerinjal-gerinjal. Tak sengaja tangannya menyenggol gelas yang ada di meja di dekatnya, sehingga isinya tumpah membasahi bahu dan celana pendek Tommy.
"Ya, Tante. Pakaian Tommy basah deh!", kata Tommy sambil melepaskan isapannya pada puting susu Tante Tika.
"Ya, Tommy. Kamu buka baju dulu deh. Nanti Tante ambilkan baju ganti. Siapa tahu ada yang pas buat kamu", kata Tante Tika sambil beranjak ke luar kamar tidur. Sempat dilihatnya tubuh telanjang Tommy. Dikenalkannya pakaiannya lagi. Tante Tika pergi ke kamar anaknya, Andri, yang baru saja pulang dari sekolah.

"Dri".
"Apa, Ma?", tanya Andri yang masih memakai baju seragam. Blus putih dan rok berwarna biru.
"Kamu punya baju yang sudah nggak kamu pakai lagi nggak?".
"Ngg.., Ada Ma. Tunggu sebentar", Andri mengeluarkan daster yang sudah kekecilan buat tubuhnya dari dalam lemari pakaiannya.
"Buat apa sih, Ma?", kata Andri seraya menyerahkan dasternya kepada ibunya.
"Itu, buat si Tommy. Tadi pakaiannya basah ketumpahan air minum".
"Tommy datang ke sini, Ma? Sekarang dia di mana?".
"Sudah! Kamu belajar dulu. Nanti Tommy akan Mama suruh ke sini!".
"Ya.., Mama!" Gerutu Andri kesal. Ibunya tak mengindahkannya. Andri senang pada Tommy karena ia sering saling menukar permainan komputer dengannya. Tapi Andri keras kepala. Setelah jarak ibunya cukup jauh, diam-diam ia membuntuti dari belakang tanpa ketahuan. Sampai di depan kamar ibunya, Andri mengintip ke dalam melalui pintu yang sedikit terbuka. Dilihatnya ibunya sedang berbicara dengan Tommy.

"Tommy, coba kamu pake baju ini dulu. Bajunya Andri, sambil nunggu pakaian kamu kering", kata Tante Tika sambil memberikan daster milik Andri kepada Tommy.
"Ya, Tante. Tommy nggak mau pake baju ini. Ini kan baju perempuan! Nanti Tommy jadi punya payudara kayak perempuan. Tommy nggak mau!".
"Nggak mau ya sudah!", kata Tante Tika sambil tersenyum penuh arti. Kebetulan, batinnya. Kemudian ia menanggalkan busananya kembali.
"Kalo yang ini apa namanya, Tom?", tanya Tante Tika sambil menunjuk batang kemaluan Tommy yang masih kecil.
"Kata Papa, ini namanya burung", jawab Tommy polos.
"Tommy tahu nggak, burung Tommy itu gunanya buat apa?".
"Buat pipis, Tante".
"Bener, tapi bukan buat itu aja. Kamu bisa menggunakannya untuk yang lain lagi. Tapi itu nanti kalo kamu sudah gede".

Andri heran melihat ibunya telanjang bulat di depan Tommy. Semakin heran lagi melihat mulut ibunya mengulum batang kemaluannya. Rasanya dulu ibunya pernah melakukan hal yang sama pada kemaluan ayahnya. Semua itu dilihatnya ketika kebetulan ia mengintip dari lubang kunci pintu kamar ibunya. Kenapa ya burung si Tommy itu, pikir Andri.
"Enak kan, Tom, begini?", tanya Tante Tika sembari menjilati ujung batang kemaluan Tommy.
"Enak, Tante, tapi geli!", jawab Tommy meringis kegelian.
"Kamu mau yang lebih nikmat nggak?".
"Mau! Mau, Tante!".
"Kalau mau, ini di pantat Tante ada gua. Coba kamu masukkan burung kamu ke dalamnya. Terus sodok keras-keras. Pasti nikmat deh", kata Tante Tika menunjuk selangkangannya.

"Cobain dong, Tante", Tante Tika menyodokkan pantatnya ke depan Tommy. Tommy dengan takut-takut memasukkan "burung"nya ke dalam liang vagina Tante Tika. Kemudian disodoknya dengan keras. Tante Tika menjerit kecil ketika dinding "gua"nya bergesekkan dengan "burung" Tommy. Andri yang masih mengintip bertambah heran. Ia tidak mengerti apa yang dilakukan ibunya sampai menjerit begitu. Tapi Andri segera berlari kembali ke kamarnya ketika ia melihat ibunya bangkit dan berjalan ke arah pintu, diikuti oleh Tommy yang hanya memakai celana dalam ibunya. Sampai di kamarnya, Andri berbaring di ranjang membaca buku fisikanya. Tommy muncul di pintu kamar.

"Mbak Andri. Kata Tante tadi Mbak mau cari Tommy ya?".
"Iya, kamu bawa game baru nggak?", tanya Andri. Tommy menggeleng.
"Eh, Tom. Ngomong-ngomong tadi kamu ngapain sama mamaku?".
"Nah ya, Mbak tadi ngintip ya? Pokoknya tadi nikmat deh, Mbak!", kata Tommy berapi-api sambil mengacungkan jempolnya.
"Enak gimana?", Andri bertanya penasaran.
"Mbak mau ngerasain?".
"Mau, Tom".
"Kalo begitu, Mbak buka baju juga kayak Tante tadi", kata Tommy.
"Buka baju?", tanya Andri, "Malu dong!".

Akhirnya dengan malu-malu, gadis manis itu mau membuka blus, rok, BH, dan celana dalamnya hingga telanjang bulat. Tommy tidak terangsang melihat tubuh mulus yang membentang di depannya. Payudara ranum yang putih dan masih kencang dengan puting susu kemerahan, paha yang putih dan mulut, pantat yang montok. Masih kecil sih Tommy!

"Bener kata Tante. Mbak Andri juga punya payudara. Tapi punyanya Tante lebih gede dari punya Mbak. Pentilnya Mbak juga nggak tinggi kayak Tante", Tommy menyamakan payudara dan puting susu Andri dengan milik ibunya.
"Pentil Mbak keluar susu, nggak?".
"Nggak tahu tuh, Tom. Nggak pernah ngerasain sih!", kata Andri lugu.
"Pentilnya Tante nggak bisa ngeluarin apa-apa, payah!".
"Masak sih bisa keluar susu dari pentilku?", kata Andri tidak percaya sambil memandangi puting susunya yang sudah meninggi meskipun belum setinggi milik ibunya.
"Mbak nggak percaya? Mau dibuktiin?".
"Boleh!", kata Andri sambil menyodorkan payudaranya yang ranum.

Mulut Tommy langsung menyambarnya. Diisap-isapnya puting susu Andri, membuat gadis itu menggerinjal-gerinjal kegelian.
"Ya, kok nggak ada susunya sih, Mbak?".
"Coba kamu isap lebih keras lagi!", kata Andri. Tommy segera menyedoti puting susu Andri. Tapi lagi-lagi ia kecewa karena puting susu itu tidak mengeluarkan air susu. Tapi Tommy belum puas. Diisapnya puting susu Andri semakin keras, membuat gadis manis itu membelalak menahan geli.
"Nggak keluar juga ya, Tom", tanya Andri penasaran.
"Kali kayak sapi. Harus diperas dulu baru bisa keluar susunya", kata Tommy.
"Mungkin juga. Ayo deh coba!", kata Andri seraya meremas-remas payudaranya sendiri seperti orang sedang memerah susu sapi. Sementara itu Tommy masih terus mengisapi puting susunya. Akhirnya mereka berdua putus asa.

"Kok nggak bisa keluar sih. Coba yang lain aja yuk!", kata Tommy membuka celana dalamnya.
"Apaan tuh yang nonjol-nonjol, Tom?", tanya Andri ingin tahu.
"Kata Papa, itu namanya burung. Cuma laki-laki yang punya. Tapi kata Tante namanya kemaluan. Tau yang bener yang mana!".
"Aku nggak punya kok, Tom?", kata Andri sambil memperhatikan daerah di bawah pusarnya. Tidak ada tonjolan apa-apa".
"Mbak kan perempuan, jadi nggak punya. Kata Tante, anak perempuan punya.., apa tuh namanya.., va.., vagina. Katanya di pantat tempatnya.
"Di pantat? Yang mana? Yang ini? Ini kan tempat 'eek, Tom?!", kata Andri sambil menunjuk duburnya.
"Bukan, lubang di sebelahnya", kata Tommy yakin.
"Yang ini?", tanya Andri sembari membuka bibir liang vaginanya.
"Kali!".
"Jadi ini namanya vagina. Namanya kayak nama mamanya Hanny ya?", kata Andri. Ia menyamakan kata vagina dengan Tante Gina, ibuku.
"Tadi mamaku ngisep-ngisep burung kamu. Emangnya kenapa sih?", lanjut Andri.
"Tommy juga nggak tahu, Mbak".
"Enak kali ya?".
"Kali, tapi Tommy sih keenakan tadi".

Tanpa rasa risih, Andri memasukkan batang kemaluan Tommy ke dalam mulutnya, lalu diisap-isapnya.
"Ah, nggak enak kok Tom. Bau!", kata Andri sambil meludah.
"Tapi kok kudengar mamaku menjerit-jerit. Ada apaan?", tanya Andri kemudian.
"Gara-gara Tommy masukin burung Tommy ke dalam guanya. Nggak tahu tuh, kok tahu-tahu Tante menjerit".
"Gua yang mana?", Andri penasaran.
"Yang tadi tuh, Mbak. Yang namanya vagina".
"Apa nggak sakit tuh, Tom?".
"Sakit sih sedikit. Tapi nikmat kok. Mbak!".
"Bener nih?".
"Bener, Mbak Andri. Tommy berani sumpah deh!".
"Coba deh", Andri akhirnya percaya juga.

Tommy memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang vagina Andri yang masih sempit. Andri menyeringai.
"Sakit dikit, Tom".
Tommy menyodok-nyodokkan "burung"nya berulang kali dengan keras ke "gua" Andri. Andri mulai menjerit-jerit kesakitan. Tapi Tommy tidak peduli karena merasa nikmat. Andri tambah menjerit dengan keras. Mendengar lengkingan Andri, Tante Tika berlari tergopoh-gopoh ke kamar putrinya itu.
"Dri, Andri. Kenapa kami?", tanya Tante Tika. Ia terkejut melihat Andri yang meronta-ronta kesakitan disetubuhi oleh Tommy kecil.
"Ya ampun, Tommy! Berhenti! Gila kamu!" teriaknya naik darah. Apalagi setelah ia melihat darah yang mengalir dari selangkangan Andri melalui pahanya yang mulus.

Astaga! Andri telah ternoda oleh anak kecil berusia sepuluh tahun, sepupunya lagi?! Putrinya yang baru berumur empat belas tahun itu sudah tidak perawan lagi?!
"Nanti aja, Tante! Enak!".
"Anak jahanam!", teriak Tante Tika marah. Ia menempeleng Tommy, sehingga bocah itu hampir mental. Sementara itu, Andri langsung ambruk tak sadarkan diri.
Sejak kejadian itu hubungan keluarga Tommy dengan Tante Tika menjadi tegang.

TAMAT

Posted at 08:54 pm by pohonmangga
Make a comment  

abg ranum

ku baru saja pulang kuliah. Di tempat kosku yang baru, aku selalu saja gerah. Kamarku yang berukuran 3,5X3 meter itu, hanya memiliki sebuah jendela, sebuah tempat tiodur, satu meja kecil tempat komputerku dan rak buku mini. Kamar kecil itulah istanaku.

Di sebelah kamarku, ada taman kecil yang kubuat sendiri, sekedar untuk menghilangkan penat. Ada jemuran dan kutanami beberapa pohon bunga agar sedikit lebih terasa asri. Di sanalah aku menyelesaikan tugas-tugas kuliahku. Apalagi sebentar lagi aku akan memasuki Ujian Akhir Kuliah (UAS). Semoga tahun depan aku bisa menyelesaikan sarjanaku.

Aku tinggal kos dengan sebuah keluarga, memiliki dua orang anak. Yang sulung berusia 15 tahun laki-laki, yang nomor dua berusia 13 tahun, perempuan dan yang kecil berusia 11 tahun perempuan.

Aku mau menceritakan kisahku y ang sebenarnya pada Evi anak perempuan berusia 11 tahun itu. Dia duduk di kelas 5 SD. Centil dan sangat grusah-grusuh, tapi baik hati. Dia suka membawakan makanan kecil dan mau disuruh membelikan rokok serta membelikan gorengan untuk cemilan sore. Selalu saja dia mendapatkan bagian dari cemilan. itu. Saat aku tidur sore, dia suka membanguni aku, agar cepat mandi, karena sudah sore. Tak lupa setelah itu dia membawakan PR-nya untuk kami kerjakan bersama. Tentu saja aku suka, karean Evi memang anak yang baik, bersih, berkulit putih. Ayah ibunya sangat senang, karean aku suka mengajarinya menyanyi oleh vocal. Sebagai mahasiswa Fakultas Kesenian jurusan etnomusikologi, aku juga senang memainkan gitar klasikku. Terkadang dari seberangkamarku, ibu Evi suka mengikuti nyanyianku. Apalagi kalau aku memetik gitarku dengan lagu-lagu nostalgia seperti Love Sotery atau send me the pillow.

Sore itu, aku gerah sekali. Aku mengenakan kain sarung. Biasa itu aku lakukan untuk mengusir rasa gerah. Semua keluarga tau itu. Kali ini seperti biasanya aku mengenakan kain sarung tanpa baju seperti biasanya, hanya saja kali ini aku tidak mengenakan CD.

“Wandy (nama samaran)…ibu pergi dulu ya. Temani Evi, ya,” ibu kosku setengah berteriak dari ruang tamu.

“Ok…bu!”jawabku singkat. Aku duduk di tempat tidurku sembari membaca novel Pramoedya Ananta Toer. AKu mendengar suara pintu tertutup dan Evi menguncinya. Tak lama Evi datang ke kamarku. Dia hanya memakai minishirt. Mungkin karean gerah juga. Terlihat jelas olehku, teteknya yang mungil baru tumbuh membayang. Pentilnya yang aku rasa baru sebesar beras menyembul dari balik minishirt itu. Evi baru saja mandi. Memakai celana hotpant. Entah kenapa, tiba-tiba burungku menggeliat. Saat Evi mendekatiku, langsung dia kupeluk dan kucium pipinya. Mencium pipinya, sudah menjadi hal yang biasa. Di depan ibu dan ayahnya, aku sudah beberapa kali mencium pipinya, terkadang mencubit pipi montok putih mulus itu.

Evi pun kupangku. Kupeluk dengannafsu. Dia diam saja, karen tak tau apa yang bakal tejadi. Setelah puas mencium kedua pipinya, kini kucium bibirnya. Biobir bagian bawah yang tipis itu kusedot perlahan sekali dengan lembut. Evi menatapku dalam diam. Aku tersenyum dan Evi membalas senyumku. Evi berontak sat lidahku memasuki mulutnya. Tapi aku tetap mengelus-elus rambutnya.

“Ulurkan lidahmu, nanti kamu akan tau, betapa enaknya,” kataku berusaha menggunakan bahasa anak-anak.

“Ah…jijik,”katanya. Aku terus merayunya dengan lembut. Akhirnya Evi menurutinya. Aku mengulum bibirnya dengan lembut. Sebaliknya kuajari dia mkenyedot-nyedot lidahku. Sebelumnya aku mengatakan, kalau aku sudah sikat gigi.

“Bagaimana, enak kan?” kataku. Evi diam saja. Aku berjanji akan memberikan yang lebih nikmat lagi. Evi mengangukkan kepalanya. Dia mau yang lebih nikmat lagi. Dengan pelan kubuka minishirt-nya.

“Malu dong, kak?” katanya. Aku meyakinkannya, kalau kami hanya berdua di rumah dan tak akan ada yang melihat. Aku bujuk dia kalau kalau mau tau rasa enak dan nanti akan kubawa jajan. Bujukanku mengena. Perlahan kubuka minishirt-nya. Bul….buah dadanya yang baru tumbuh itu menyembul. Benar saja, pentilnya masih sebesar beras. Dengan lembut dan sangat hati-hati, kujilati teteknya itu. Lidahku bermain di pentil teteknya. Kiri dan kanan. Kulihat Evi mulai kegelian.

“Bagaimana…enakkan? Mau diterusin atau stop aja?” tanyaku. Evi hanya tersenyum saja.

Kuturunkan dia dari pangkuanku. Lalu kuminta dia bertelanjang. Mulanya dia menolak, tapi aku terus membujuknya dan akupun melepaskan kain sarungku, hingga aku lebih dulu telanjang. Perlahan kubuka celana pendeknya dan kolornya. Lalu dia kupangku lagi. Kini belahan vaginanya kurapatkan ke burungku yang sudah berdiri tegak bagai tiang bendera. Tubuhnya yang mungil menempel di tubuhku. Kami berpelukan dan bergantian menyedot bibir dan lidah. Dengan cepat sekali Evi dapat mempelajari apa yang kusarankan. Dia benar-benar menikmati jilatanku pada teteknya yang mungil itu.

“Evi mau lebih enak lagi enggak?” tanyaku. Lagi-lagi Evi diam. Kutidurkan dia di atas tempat tidurku. Lalu kukangkangkan kedua pahanya. Vagina mulus tanpa bulu dan bibir itu, begitu indahnya. Mulai kujilati vaginanya. Dengan lidah secara lembut kuarahkan lidahku pada klitorisnya. Naik-turun, naik-turun. Kulihat Evi memejamkan matanya.

“Bagaimana, nikmat?” tanyaku. Lagi-lagi Evi yang suka grusah grusuh itu diam saja. Kulanjutkan menjilati vaginanya. Aku belum sampai hati merusak perawannya. Dia harus tetap perawan, pikirku. Evi pun menggelinjang. Tiba-tiba dia minta berhenti. Saat aku memberhentikannya, dia dengan cepat berlari ke kamar mandi. Aku mendengar suara, Evi sedang kencing. AKua mengerti, kalau Evi masih kecil. Setelah dia cebok, dia kembali lagi ke kamarku.

Evi meminta lagi, agar teteknya dijilati. Nanti kalau sudah tetek di jilati, memek Evi jilati lagi ya Kak? katanya. Aku tersenyum. Dia sudah dapat rasa nikmat pikirku. Aku mengangguk. Setelah dia kurebahkan kembali di tempat tidur, kukangkangkan kedua pahanya. Kini burungku kugesek-gesekkan ke vaginanya. Kucari klitorisnya. Pada klitoris itulah kepala burungku kugesek-gesekkan. Aku sengaja memegang burungku, agar tak sampai merusak Evi. Sementara lidahku, terus menjilati puting teteknya. Aku merasa tak puas. Walaupun aku laki-laki, aku selalu menyediakan lotion di kamarku, kalau hari panas lotion itu mampu mengghilangkan kegerahan pada kulitku. Dengan cepat lotion itu kuolesi pada bvurungku. Lalu kuolesi pula pada vagina Evi dan selangkangannya. Kini Evi kembali kupangku.

Vaginanya yang sudah licin dan burungku yang sudah licin, berlaga. Kugesek-gesek. Pantatnya yang mungil kumaju-mundurkan. Tangan kananku berada di pantatnya agar mudah memaju-mundurkannya. Sebelah lagi tanganku memeluk tubuhnya. Dadanya yang ditumbuhi tetek munguil itu merapat ke perutku. Aku tertunduk untuk menjilati lehernya. Rasa licin akibat lotion membuat Evi semakin kuat memeluk leherku. Aku juga memeluknya erat. Kini bungkahan lahar mau meletus dari burungku. Dengan cepat kuarahkan kepala burungku ke lubang vaginanya. Setelah menempel dengan cepat tanganku mengocok burung yang tegang itu. Dan crooot…crooot…crooot. Spermaku keluar. Aku yakin, dia sperma itu akan muncrat di lubang vagina Evi. Kini tubuh Evi kudekap kuat. Evi membalas dekapanku. Nafasnya semakin tak teratur.

“Ah…kak, Evi mau pipis nih,” katanya.

“Pipis saja,” kataku sembari memeluknya semakin erat. Evi membalas pelukanku lebih erat lagi. Kedua kakinya menjepit pinggangku, kuat sekali. Aku membiarkannya memperlakukan aku demikian. Tak lama. Perlahan-lahan jepitan kedua aki Evi melemas. Rangkulannya pada leherku, juga melemas. Dengan kasih sayang, aku mencium pipinya. Kugendong dia ke kamar mandi. Aku tak melihat ada sperma di selangkangannya. Mungkinkah spermaku memasuki vaginanya? Aku tak perduli, karean aku tau Evi belum haid.

Kupakaikan pakaiannya, setelah di kamar. Aku makai kain sarungku. Mari kita bobo, kataku. Evi menganguk.

“Besok lagi, ya Kak,” katanya.

“Ya..besok lagi atau nanti. Tapi ini rahasia kita berdua ya. Tak boleh diketahui oleh siapapun juga,” kataku. Evi mengangguk. Kucium pipinya dan kami tertidur pulas di kamar.

Kami terbangun, setelah terdengar suara bell. Evi kubangunkan untuk membuka pintu. Mamanya pulang dengan papanya. Sedang aku pura-pura tertidur. Jantungku berdetak keras. Apakah Evi menceritakan kejadian itu kepada mamanya atau tidak. Ternyata tidak. Evi hanya bercerita, kalau dia ketiduran di sampingku yang katanya masih tertidur pulas.

“Sudah buat PR, tanya papanya.

“Sudah siap, dibantu kakak tadi,” katanya. Ternyata Evi secara refleks sudah pandai berbohong. Selamat, pikirku.

Setelah itu, setiap kali ada kesempatan, kami selalu bertelanjang. Jika kesempatan sempit, kami hanya cipokan saja. Aku menggendongnya lalu mencium bibirnya.
Hal itu kami lakukan 16 bulan lamanya, sampai aku jadi sarjana dan aku harus mencari pekerjaan.

Malam perpisahan, kami melakukannya. Karena terlalu sering melaga kepala burungku ke vaginanya, ketika kukuakkan vaginanya, aku melihat selaput daranya masioh utuh. Masa depannya pasti masih baik, pikirku. Aku tak merusak vagina mungil itu.

Sesekali aku merindukan Evi, setelah lima tahun kejadian. AKu tak tahu sebesar apa teteknya sekarang, apakah dia ketagihan atau tidak. Kalau ketagihan, apakah perawannya sudah jebol atau tidak. Semoga saja tidak.


Posted at 08:52 pm by pohonmangga
Make a comment  

Previous Page Next Page
Anak kampung
dibawah pohon mangga
Di Jakarta
Jangan Lupa Asal

Laut Disana
Begitu luas..
Jangan Lupa Asal



   

<< October 2011 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed