Tuesday, August 17, 2010
pengalaman bersama sri

Kisah ini murni pengalaman pribadiku yang kualami saat aku baru naik ke kelas 2 SMU (kira2 6 tahun yang lalu). Namaku Adi anak ke-4 dari 8 bersaudara, waktu itu liburan kenaikan kelas baru saja dimulai dan biasanya selalu aku rayakan bersama teman2ku dengan acara2 seperti berkemah di pantai atau menelusuri hutan lindung yang berjarak puluhan kilo dari kota kediamanku. Tapi saat liburan ini hal tersebut diatas tidak dapat kami lakukan karena sebagian besar teman2 dekatku itu menghabiskan liburan mereka keluar kota / pulau (kotaku berada dipulau Kalimantan) sehingga aku putuskan untuk menghabiskan liburan kerumah nenekku di kampung (kira-kira 143 Km dari kotaku). Setelah menempuh perjalanan selama 1 hari sampailah aku dirumah nenekku, waktu itu sekitar jam 4 sore. Ternyata disana sudah ada beberapa sepupuku (dari kota yg lain) yang juga akan merayakan liburan mereka selama kurang lebih 2 mingguan, umur mereka rata2 antara 8 - 12 tahun. Yang paling besar namanya Sri (anak sulung dari adik mamaku, ketiga adiknya laki-laki semua) berwajah manis dengan hidung yang mancung dan kulit tubuh putih mulus, walaupun baru kelas 1 SMP tetapi badannya sudah padat berisi dan mulai berbentuk (bongsor).
Kejadiannya bermula ketika kami sama2 mandi sore (sekitar jam 5-an) di sungai kecil yang dangkal (kira2 100 m dibelakang rumah nenek) saat itu secara tidak sengaja aku melihat kearah Sri yang sedang membetulkan kain kembannya yang kendur, betapa kagetnya aku begitu terlihat selintas susu Sri yang mulai ranum dengan puting yang kemerah2an (karena kulit Sri sangat putih dan mulus). Aku merasakan kontolku langsung ngaceng dan keras (maklum, untuk umurku saat itu memang sedang tegangan tinggi), lalu aku berfikir keras mencari cara untuk mendekati Sri (kami sudah lama tidak bertemu, sehingga kurang akrab).
Ketika aku tengah melamunkan hal-hal jorok tiba-tiba Sri berteriak "Aduh !" dan secara reflek aku menoleh kearahnya ternyata dia terpeleset saat berjalan dipinggir sungai dengan segera aku berlari kearahnya untuk menolongnya (saat itu sepupu2ku yang lain sedang asyik bermain air sambil mandi sekitar 15 m jaraknya). "Ada apa Sri ?" tanyaku, "Aku terpeleset Bang waktu hendak naik dari sungai " jawabnya sambil meringis menahan sakit. Aku langsung membopong tubuhnya ke tempat permandian yang terbuat dari papan seluas 3 m persegi, lalu membantu mengurut kakinya yang keseleo. Pertama kali aku memijit kakinya Sri berteriak kecil "Aduh! sakit Bang!", "Oke.. oke.. aku akan memijitnya pelan-pelan" sahutku. Kemudian aku mengendurkan pijitanku di sekitar kakinya, sambil terus meringis Sri memejamkan matanya menahan sakit "Wah, kesempatan untuk mengintip nih!" fikirku sambil melotot kearah susu Sri yang mulai berbentuk dan yang lebih menggairahkanku kain kembannya yang basah membuat susunya samar2 terlihat jelas dan membayang. Semakin lama semakin asyik aku memijiti kakinya sementara itu Sri cuma tinggal memejamkan matanya saja tetapi suara rintihannya sudah tidak terdengar lagi. Perlahan-lahan aku mulai menggeser pijatanku dari engsel kakinya kearah betis dan terus keatas betis tepat dibelakang engsel lututnya "Wah, putih benar kulitnya mana mulus lagi.." fikirku sambil menelan ludah. Sekarang gerakan tanganku bukan memijit lagi tetapi telah berubah jadi mengelus-elus, sementara Sri semakin terpejam dan samar2 kudengar suara nafasnya semakin tidak beraturan "Sudah terangsang dia.." fikirku.
Tiba-tiba sepupu2ku yang tadi asyik mandi sudah berada didekat kami "Ada apa Bang Adi? Kenapa dengan kaki Kak Sri?" tanya mereka lugu, aku dengan cepat menurunkan tanganku kembali kearah engsel kaki Sri. "Ini, tadi dia terpeleset di tepi sungai dan kakinya keseleo jadi abang bantu membawanya kesini dan memijat kakinya" jawabku enteng. Kulihat raut wajah Sri yang menunjukkan sedikit kekecewaan karena terganggu oleh adik2nya. Kemudian kami beranjak pulang karena hari sudah mulai malam, dengan agak terpincang Sri berjalan sambil berpegangan denganku. Malam itu aku tidur larut sekali karena keasyikan ngobrol dengan kakek dan pamanku, ketika masuk kekamar tamu kulihat sepupu2ku (yang laki-laki) sudah tidur semua tetapi tidak beraturan sehingga aku tidak melihat ada ruang untuk aku tiduri. Kemudian aku keluar kamar berniat tidur di ruang TV, tiba-tiba terdengar suara kakekku yang bertanya mengapa aku tidak tidur di kamar tamu setelah aku jelaskan beliau menyuruhku untuk tidur dikamar nenek bersama nenekku (Kakekku punya kamar sendiri bersebelahan dengan kamar nenek).
Pertama-tama aku tidak melihat dengan siapa nenek tidur diatas ranjangnya karena lampu kamar yang sudah dimatikan dan hanya bercahayakan lampu teplok (nenekku selalu tidur dengan lampu minyak tanah yang digantung di dinding kamarnya), aku langsung merebahkan diri dilantai yang beralaskan tikar dengan sebuah bantal itu. Sekitar sepuluh menit saat akan terlelap tiba2 aku melihat ada yang berdiri dari ranjang nenekku menuju keluar untuk buang air kecil. Setelah kembali baru aku tahu bahwa yang keluar barusan adalah Sri sepupuku "Kebetulan nih.." fikirku, seketika itu pula hilang rasa kantukku dan secara perlahan-lahan dengan setengah berbisik aku bertanya "Gimana Sri kakimu, masih sakit?" "Eh Bang Adi, belum tidur Bang?" Sri balik bertanya. "Iya nih, aku baru saja selesai ngobrol sama kakek dan paman. Jadi keadaan kakimu gimana?" lanjutku bertanya. "Masih sedikit sakit Bang, tapi agak mendingan setelah diolesi nenek dengan minyak urut" jawabnya. "Coba sini aku bantu pijiti" kataku asal, "Memangnya abang belum pengen tidur?" tanyanya "Iya, sekalian nungguin mataku ngantuk" jawabku sekenanya. "Tapi pelan2 ya Bang?" "Iyaa.." jawabku bersemangat. Dengan posisi aku di lantai dan Sri berbaring diatas ranjang (nenekku sudah lama terlelap) aku memulai aksiku seperti tadi sore. Tapi untuk saat ini aku tidak berlama-lama memijit bagian kakinya yang sakit, karena utk sesaat kemudian tanganku sudah berada tepat dibelakang lutut Sri dengan gerakan membelai bukan memijit. "Mmmh. geli Bang." ujar Sri sambil terpejam, aku hanya diam. Sekitar sepuluh menit kemudian kudengar nafasnya sudah mulai tak beraturan, lalu aku mulai berani menaikkan sasaran tanganku kearah pahanya yang putih mulus (saat itu dia hanya mengenakan celana pendek yang agak longgar). Sri kembali mendesah lirih "Sshh.." sementara kedua tanganku semakin gila menggerayangi kedua pahanya yang semakin terbentang lebar. Untuk sesaat kami masih sibuk dengan aktifitas yang mulai memanas itu, lalu aku berinisiatif untuk menyuruhnya turun dari atas ranjang "Coba dibawah saja Sri sama Abang, nanti mengganggu nenek" ajakku setengah berbisik. Ia hanya mengangguk lemah menanggapi ajakanku sambil turun kebawah secara perlahan-lahan. Begitu Sri mulai merebahkan tubuhnya disampingku, aku mulai melanjutkan aksiku yang terhenti sejenak tadi. Semakin keatas tanganku, semakin cepat pula dengusan nafas Sri terdengar. Tanpa ragu-ragu aku mulai menyentuh bagian pinggir celana dalam Sri dengan jemariku, sesaat kemudian jari-jariku sudah tepat berada dibagian depan cd-nya "Ahhh." terdengar dengusan lirih yang panjang dari Sri dengan mata yang tetap terpejam. Kurasakan cairan kental yang mulai membanjiri celana dalamnya semakin banyak. Ketika kulihat mulutnya sedikit terbuka, dengan reflek aku langsung menyumbat mulutnya dengan mulutku "Ehh.!" serunya dengan mata melotot menatapku sambil melongo. Aku terus memainkan lidah dan bibirku didalam mulutnya sekenanya (maklum aku juga belum pernah berciuman dengan seorang gadis), sejenak Sri terperangah. tetapi semakin lama kulihat matanya semakin redup karena merasakan dua sensasi kenikmatan di dua tempat yang berbeda (bibir dan vaginanya). Kurasakan mulutnya mulai bergerak bersamaan dengan lidahnya, menyambut liarnya lidahku yang menari bebas didalam mulutnya "Mmmmhhhh. sshhhhhh." bunyi nafas kami bersamaan yang sedang didera libido hebat. Sekarang aku mulai menjilati bagian leher Sri yang jenjang hingga kebelakang telinganya (foreplay ini kuketahui dari film2 bokep yang sering aku lihat bersama teman-temanku) seiring dengan pelukannya yang semakin erat melingkari tubuhku, aku semakin liar. sesudah beberapa kali lidahku bolak-balik menjilati leher dan telinganya segera kuangkat baju kaos oblong Sri yang sudah acak2an dengan maksud membukanya. Agak susah juga karena baju yang dipakainya agak sedikit ketat dan ketika aku berhasil membukanya. ups!! Ternyata dia tidak memakai BH! Sejenak aku tertegun menyaksikan pemandangan indah dua bukit kembar yang sedang mekar dan mulai mengeras dihadapan mataku dengan kedua puting yang merah menantang seolah-olah mengundangku untuk mencicipinya. Dengan wajah malu2 Sri menutupi kedua susunya dengan tangannya, tak kubiarkan lama.. segera kuserang lagi bibir mungil yang tersaji indah disampingku dengan hebat. Hingga perlahan-lahan mulai kuturuni leher Sri jengkal demi jengkal hingga. mulutku tepat bersarang di puncak bukitnya yang sebelah kiri!
"Ahhh.!" seru Sri merasakan rasa geli bercampur nikmat di kedua puting susunya ketika lidah dan mulutku secara bergantian menjilat dan menyedot kedua bukit kembarnya dengan rakus. Sementara mulutku sibuk, tanganku mulai menyusup dari atas celana dalamnya kepermukaan vaginanya. Kurasakan bulu-bulu halus yang masih jarang tumbuh disana, lalu dengan perlahan-lahan kumasukan jari tengahku ke liang vaginanya yang masih sempit itu. Kugesek ke kanan dan kiri ujung jariku dipermukaan vaginanya "Ohhh. ahhh. mmmmmhh." dengusan Sri semakin tak terkendali, sesaat kemudian. "Aku mau kencing Banghh." ucapnya lirih. Aku hanya diam sambil mempercepat sedotan mulut dan gesekkan jari tanganku di kedua daerah sensitifnya, lalu. "Ahhh. ahhh. mmmmmhgh." secara tiba-tiba Sri mengejang sambil tubuhnya terangkat tinggi keatas. untuk beberapa detik kemudian terhempas kebawah secara cepat "Dug.." bunyi pantatnya yang montok ketika terhempas kelantai. Aku rasakan jepitan yang lumayan keras di liang vaginanya pada jariku dan berdenyut-denyut kurang lebih 10 detik lamanya "Dia sudah orgasme nich." fikirku sambil menghentikan seranganku kemudian menatapnya dengan tersenyum.
"Gimana yang, enak nggak?" tanyaku setengah berbisik, dia hanya mengangguk sambil tersenyum puas dengan kedua matanya masih terpejam. Kemudian secara tiba-tiba Sri merengkuhku kedalam pelukannya sehingga kami sekarang saling berpelukan kembali dengan posisi aku diatas dan dia dibawahku. "Enak Bang, enaaak sekali." bisiknya ditelingaku sambil mempererat pelukannya. Sri tidak peduli lagi akan keadaannya yang sudah setengah bugil pada bagian atas, dia seolah-olah tidak akan melepaskanku lagi "Aduh. gue nanggung nih." fikirku sambil membelai-belai rambut Sri yang hitam sebahu itu dan mengecup keningnya. Tapi kalo aku mulai lagi sekarang aku takut Sri nggak merasakan sensasi sehebat yang tadi, jadi aku biarkan dia beristirahat sejenak. Setelah kurang lebih sepuluh menit kurasakan pelukannya mulai mengendur lalu kuperhatikan wajahnya yang cantik secara seksama, "ah.. sudah tertidur dia.." gumamku setelah terdengar dengkur halus yang teratur keluar dari hidungnya yang mancung. Perlahan-lahan kulepaskan diriku dari pelukannya lalu kuusap batang kontolku yang belum mati2 dari tadi, kubuka sedikit kaki Sri yang sedang tidur terlentang dan tanganku mulai beraksi mempereteli celana pendek dan celana dalamnya secara bergantian sehingga tebentanglah pemandangan indah tubuh seorang gadis belia yang sedang mekar-mekarnya dihadapanku. Dengan sedikit tergesa-gesa akupun mulai menanggalkan seluruh pakaianku, lalu pelan-pelan kuarahkan kepala kontolku ke liang vagina Sri yang masih merah dan berbulu jarang itu.
Begitu hati-hati kugesek-gesekan kepala kontolku ke vagina Sri dengan gerakan keatas dan kebawah, semakin lama kurasakan semakin banyak lendir licin dari liang vagina Sri yang membasahi kepala kontolku. Tapi saat hendak kutekan kedalam kurasakan liang vagina Sri yang terlalu sempit untuk ukuran kontolku dan agak sedikit sakit di kepala kontolku, "kalo aku jebol perawannya sekarang berabe nih, soalnya nanti darahnya akan membasahi tikar dikamar nenek" fikirku. Kuputuskan untuk tidak memasukkan kontolku terlalu dalam, hanya sepertiganya saja. Setelah agak lama dan dengan bersusah payah kutekan, kurasakan batang kontolku sudah terbenam sepertiganya kedalam liang vagina Sri lalu kupompa pantatku naik turun secara teratur dan perlahan-lahan. Mulanya agak seret dan sempit tetapi lama-kelamaan sudah mulai lancar "mmhhhh. " dengusku sambil memperhatikan wajah cantik Sri yang masih tertidur pulas. Makin lama nafsuku makin tidak terkendali sehingga gerakan pantatku semakin cepat, tiba2 Sri terbangun. "Bang.!" serunya tertahan begitu melihat tubuhku sudah berada diatas tubuhnya dalam keadaan telanjang bulat dengan batang kontolku menghunjam diselangkangannya. Tanpa menghentikan gerakan pantatku segera kulumat mulutnya yang sedikit terbuka dan. yess! Usahaku berhasil! Semakin lama kulihat matanya mulai meredup kembali dan tubuhnya mulai bergoyang kekanan dan kekiri mengimbangi gerakan tubuhku, aku semakin bernafsu. "ahhh. ohhhh." desisnya perlahan. Untuk semakin membuatnya bernafsu kuarahkan jilatanku ke leher dan bawah telinga Sri lalu yang terakhir kukulum dan sedot secara bergantian kedua bukit kembarnya yang putih dan mulus sambil kuselingi dengan jilatan2 cepat "mmmhhhhh.. " serunya lirih semakin bernafsu.
Setelah kurang lebih sepuluh menit kemudian. "Banghh. aku mau kencing lagihh." ucapnya lirih tapi tidak kujawab malah semakin kupercepat gerakan memompaku diatas tubuhnya karena kurasakan juga sesuatu dari dalam kontolku yang akan melesak keluar. "Ahhh. uhhh." desahan Sri semakin liar seiring dengan gerakan pantatnya yang semakin kuat sehingga tanpa disadari posisi kami sekarang sudah mepet didinding kamar nenek, aku juga nggak mau kalah pompaan pantatku diatas tubuhnya semakin liar bahkan menjurus kasar. Lalu tiba-tiba Sri memelukku serta mengangkat pantatnya tinggi-tinggi secara reflek aku juga mengangkat pantatku untuk menjaga agar batang kemaluanku tidak terlanjur menjebol keperawanannya dan. "aaaaaaahhhh." desahnya panjang ketika mengalami orgasme hebat untuk kedua kalinya, kurasakan denyutan vagina yang sangat kuat pada kepala kontolku yang sedang berada didalamnya membuat sensasi kenikmatan yang tidak terhingga pada diriku sehingga tanpa dapat kutahan secara tiba-tiba batang kontolku berdenyut keras lalu. "aaahhhh.. " crot.! crooott. crooot! Cairan spermaku juga menyusul menyembur dengan keras kedalam liang vagina Sri membasahi rongga kemaluannya yang juga sudah penuh dengan lendir sehingga cairan spermaku ada yang meleleh keluar.
Kupeluk erat tubuh Sri yang sudah bermandikan keringat, untuk beberapa saat lamanya kami berpelukan sambil terpejam dengan sepertiga batang kemaluanku tertancap di vaginanya. Ada sekitar lima sampai enam kali semprotan kurasakan dari ejakulasiku tadi yang membuat liang vaginanya terasa becek, kemudian kucabut batang kontolku yang sekarang terlihat kemerah-merahan karena jepitan vagina Sri yang masih perawan itu. Kuambil celana dalamku yang tergeletak disamping tubuhnya lalu kuusapkan disekitar liang vaginanya untuk membersihkan lelehan air maniku agar tidak tumpah ke atas tikar nenek, sekilas baunya seperti aroma pemutih pakaian. "Tadi abang kencing didalam memek Sri ya?" tanyanya pelan, aku lalu tersenyum "Itu bukan kencing Sri, tapi sperma abang. itu tandanya abang sudah sampai di puncak kenikmatan sama seperti kamu" jawabku sambil membetulkan posisi badanku. Kemudian kukecup lembut bibirnya lalu berkata "Terimakasih sayang, memekmu sangat enak" lalu dipeluknya aku seraya berbisik "Sama-sama Bang, punya Abang juga enaaak banget nanti setiap malam kita begini lagi ya Bang?" ujarnya lirih sambil tersenyum manis sekali.

Malam itu kami tertidur sambil berpelukan sampai terbangun sekitar jam setengah empat pagi saat ayam mulai berkokok, kemudian kami berpakaian kembali dan merapikan diri agar tidak ada orang dirumah nenek yang curiga atas kejadian tadi malam.

Ingin tahu cerita selanjutnya...? Jangan lewatkan sambungannya minggu depan. Yang ingin kontak dan berbagi pengalaman dengan saya segera kirimkan email anda ke alamat saya

Posted at 10:24 am by pohonmangga
Make a comment  

cerita kecil

Lgsg aja ya gan...
kalo baca postingan gw sebelumnya pasti tau jalan cerita gue..
hhehehe..
selamat membaca..

sesudah putus dari cewek gue yg bernama monica,
hidup gue terasa hampa dan ga berarrti banget..
jadi gue ngabisin waktu gue pulang skul utk bermain game online di warnet deket rumah gue..
selama 2 tahun gue jalanin hidup seperti itu..
dan di warnet tersebut gue sering melihat seorang anak smp suatu madrasah yg letaknya ga jauh dari warnet tsb..
sebut saja nama nya dian, badannya pendek skitar 150an lah, beratnya sie kalo ga salah 37 keatas, kulit putih bersih ( tapi masih putihan gue), tiap hari memakai jilbab ya ialah namanya juga madrasah, buah dadanya se waktu itu ga terlalu gede mungkin 32an, ya gue maklumin namanya juga anak smp, wajah nya manis bgt walaupun memakai jilbab..

selama 2 tahun itu gue se ga perduli ma dya, toh gue ga tertarik ama anak smp,
namun setelah gue masuk kuliah, otomatis si dian pun naek kelas dan udah masuk sma.
nah karena gue ga terlalu merhatiin dia selama ini, pada suatu ketika dia bermain game online dan duduk disamping gue,
di warnet gue sistem lesehan ( duduk dilantai yg dikasih karpet) jarak antara komputer 1 ama yg laen paling sekitar 15cm, jadi deket bgt.
ketika itu gue melihat kearahnya,
"wah, dah gede ini anak. mana tambah cantik dan manis lagi.." gumam ku dalam hati..

gue lgsg tertarik kepadanya,
lgsg aja gue atur rencana untuk berkenalan ama dian.
sekitar 2jam bermain biasanya dian chatting buat iseng-iseng.
setelah gue tau nick name chattingnya, lgsg aja gue pindah kompi yg agak jauhan dari dia.
gue buka program chatting dan mencari nick name dian.
dan ketika udah ketemu lgsg deh rencana gue jalanin..

pertama.. pura-pura polos dan ajak kenalan..
kedua.. hibur dia dgn kata-kata humor..
ketiga.. tanya status dian..
keempat(kalo udah punya cowok).. "owh.. beruntung banget yg jadi pacar dian.. pasti seneng punya cewek cantik dan baek kek dian". dan misi selesai..
keempat(kalo lom punya cowok).."lho.. kok lom punya cowok, kalo gitu boleh donk daftar..heheheh".. lanjut ke step berikutnya..
kelima... minta nomer HP..
keenam.. gombal-gombalin si dia..
ketujuh ketika mau off.. " ywdah.. ati-ati dijalan ya.. tar malem bolehkan nelp dian.. buat pendekatan hhehehe..."..

sesudah dia memberikan nomer hape dan pulang,
gue jg lgsg pulang, dan bersiap mau nelp dian, setelah ngobrol" beberapa jam ( waktu itu pake provider yg nelp 2000 sepuasnya) lgsg aja gue bilang
"keknya pernah liat deh"..
"yang suka maen di warnet Z**** kan??"..tanya ku
"iya, lho tapi kok ga pernah ktemu ya?"..jawabnya
"wee, sering kaleee... kalo ga salah kamu yg pake jilbab kan.."tanya gue lagi
"iyah bner.. duh jadi penasaran nie ama kamu" jawabnya
"yaudah deh, tar kita ketemuan di warnet aja ya"usul ku..
"oke deh"jawabnya.

besok nya gue bersiap" buat ketemu dian di warnet, sambil nunggu gue main game online dulu..
kira-kira stgh jam dian datang ke warnet.
dian lgsg sms, " kamu yg mana se??"..
"yaudah tar aku yg nyamperin dian" balas ku..

gue samperin dan lgsg senyum ke arah dia..
tampak nya dian juga tertarik kepadaku.. jadi setelah bermain, saya menawarkan jasa ojek saya.. hahaha..
dian ga nolak, dia malah seneng bgt, setelah sampai dirumahnya gue komplain..
"weleh-weleh, jauh banget rumah lo dian.. kira-kira 8-10 km dari warnet nih.. tambahin bayarannya.." canda ku..
"hahahah... kamu nie pinter bgt buad dian ktawa.."jawabnya
"yee, malah ktawa.. bayar dunk.. bayaran nya dian mau ya jadi pacar aku".. tegas ku
"hmm.. gmana ya kak, tapi dian takut patah hati lagi."
"tenang aja, kalo tar kakak nyakitin dian, dian boleh dorong kakak dari jembatan di depan itu ( jembatan yg bawah nya terdapat sungai kecil)" jawab ku membuatnya yakin..
"hmm.. oke deh kak"..
"lho kok pake kak??"
"jadi pake apa??" tanya dian
"hhmmm,,, dinda ama kanda aja yah". jawab ku..
"iyah kanda.".

setelah itu gue pulang dengan rasa yg sangat bahagia..
besoknya gue atur rencana,
sebelum kejadian-kejadian kek kmaren terulang, lom ngapa"in udah putuz, mana tekor buat bayar ini itu supaya nyenengin pacar.
jadi kali ini gue ga mau rugi.
harus nyicip bodinya dolo, minimal isep buah dadanya lah..

gue ajak dia kebioskop, awalnya dian ga mau katanya dia ga pernah kebioskop kalo cuma berdua aja ma cowok.
wah, masih polos bgt brarti nie. jangan-jangan dian lom pernah bertindak yg lebih ama mantan"nya.
setelah gue tanya ternyata benar, dia pacaran ga pernah ngapa"in ama cowoknya, jangan kan jalan. pegangan tangan aja ga pernah. kalo emg harus deketan katanya dulu minimal 2 meter.
wah, susah nie dalam pikir ku buat dapetin bodinya.
tapi ga tau kenapa, dian malah mau ikut nonton berdua aja ama gue,

masih panjang sie ceritanya, di Fast Forward aja ya.

nonton pertama:
gue coba pegang tangannya, tapi lgsg dilepas. gue coba lagi, dan gue bilang " enak dinda pegangin tangan dinda, anget bgt". jadi dia kali ini diem aja gue pegang tangannya.

nonton kedua:
setelah gue terbiasa memegang tangannya, gue coba peluk dian.
eh dia diem aja, ya peluk dari samping se, jadi ga nyenggol apa".

malamnya gue ajak dia cerita ttg seks,
sumpah si dian bener" polos soal genean.
bahkan dia ga tau kalo penis cowok bisa masuk ke dalam vagina cewek.
setelah gue ajarin dasar"nya, gue coba ngajak dia buat pura-pura ngeseks lewat sms.
dian cepet bgt tanggepnya,
tanpa disuruh dia bisa menulis gene.
" akhh..akh... enak kanda, terus isepin sikembar (gue yg bilang kalo buah dadanya sikembar), akhh.... ahh... terus kanda.."
"kanda dinda mau icepin adek kanda (penis ku), mmmm..... mmppphh... mmmhhh..., dinda jilatin yah... elelelelelelel...(seolah-olah dia menjilat penis ku).."

walopun cuma lewat sms kontol gue nganceng berat, apalagi kalo ngebayangin dia yg make jilbab ngeseks ama gue, ngebayangin wajah polos yg imut itu mendesah.
bener-bener hayalan yg luar biasa..

nonton ketiga:
gue sengaja pilih film horor cz karena pasti gelep bgt.
lgsg aja gue peluk, kepala gue sengaja gue turunin tepat diatas dadanya.
"kanda... kena sikembar tuh" marah si dian
"gpp ya dinda, enak bgt nie.. sikembar punya dinda empuk bgt"
dia diem aja..
lgsg aja gue angkat kepala gue lgsg gue cium bibirnya yg tipis berwarna merah muda itu.
"ahmmm... mmm..." itu yg gue denger keluar dari mulut nya
setelah cape ciuman, gue lepas cium gue.
dian lgsg ngomong ke gue
"kanda nakal... tapi ciuman kanda lembut banget.. enak bgt mainin lidah dinda".jawabnya..
lgsg aja gue raba buah dadanya yg berukuran 34C itu ( gue tanya ama dia ukurannya brapa) dari balik kaos warna merah dan terlapisi jilbab putih dian, tapi buah dadanya tetep terasa kenceng bgt, lgsg aja gue tarik bajunya keatas, terlihat lah BH yg dia pakai. BH yg berwarna pink yg terdapat bordiran bunga di cup sebelah kiri..
wuih.. putih banget buah dadanya gan, montok banget. buah dadanya tuh tumbuh kedepan jadi ga bergantung. lgsg aja gue jilatin sekitar buah dadanya itu. "ssshhh... uhhhh..." dian mendesah.
gue ga perduli, gue ga mau lepas dari buah dadanya yg masih perawan ini, mulus banget, mungkin karena belom ada yg nyentuh nya..
ketika sedang asik, tiba-tiba lampu bioskop menyala.
wah kaget setengah mati gan, penis gue yg tegang lgsg ngecil secepat kilat..
lgsg aja gue tutupin buah dadanya itu..
wajah dian berubah jadi warna merah, ntah karena malu ato karena kenikmatan yg gue kasih tadi..

lgsg aja gue ajak dia pulang,
tapi dia ga mau, katanya masih jam setengah 3 ni.
waduh mau gue ajak kmana ya, gue ga ambil pusing lah. gue ajak aja dia ke rumah gue. yg ternyata ortu gue mau berangkat kondangan,
gue bilang aja ma ortu gue cuma mau ambil flash disk sebentar, jadi ortu gue percaya dan lgsg pergi.

nah udah ga ada orang nih pikir ku.
lgsg aj gue kunci pintu rumah ku, terus gue hampirin dian yg berada diruang tamu..
gue lgsg deketin dia, ngelus kpalanya yang tertutup jilbab. dan secepat kilat gue cium dia..
gue jilatin seluruh mulutnya, lidahnya sampai ke langit-langit mulutnya..
dian hanya mendesah pelan didalam mulutku..
selagi ciuman gue raba-raba buah dadanya dari luar bajunya
dadanya kenceng bgt... namun lembut..
saya coba memasukan tangan saya kedalam bajunya dian ga perduli, dia sedang larut dalam ciuman gue..
saya remas dada nya dengan ganas sampe" si dian melepasin ciuman gue dan mendesah " akhh... geli kanda... enak bgt...".
penis gue lgsg tegang bgt gan ketika liat wajahnya yg polos itu mendesah keenakan, akhirnya mimpi gue jadi kenyataan buat ngeliat wajah polosnya itu mendesah..
saya menyuruh dian untuk melepas bajunya, sembari tangan saya meremas" buah dadanya dari luar BH..
ketika bajunya telah terlepas, air liur gue keluar bnyak bgt gan..
bodynya mulus bgt.. putih bersih.. seperti bidadari yg lagi bugil aja..
lgsg gue dorong dia supaya rebahan di sofa agar gue bisa nikmatin tubuh mulusnya itu..
dian ini cewek tipe pasif, cuma mau nerima permainan gue aja..
ya jadi gue aja deh yg bergeliria diatas tubuh putihnya itu..
gue gigit kecil" disekitar buah dadanya itu, tanpa melepas BHnya gue jilatin seluruh bagian dadanya itu.
dian megelinjang keenakan, dan terus mendesah.. " enak kanda... terus... gelinya ampe kebawah"..katanya..
denger kek gitu lgsg aja gue elus V nya dari luar celana jeansnya,,
dian megelinjang hebat bgt..
pinggangnya bergerak ke atas, kebwh, keiri, kekanan, sesuai gerakan tangan gue..
setelah kurang lebih 7menit gue bergeliria, saya mencoba menyuruh dian buat mengulum P gue..

pertama" sie ga mau..
katanya jijik, namun saya terus bujuk dian agar mau menghisap P gue yg udah gede bgt..
akhirnya dian mau mencobanya,
dian memejamkan matanya dan membuka mulutnya lebar"..
pelan" saya masukan P saya kedalam mulutnya, susah sie Cz kena giginya sakit bgt..
jadi saya suruh dian buat ngeluarin lidahnya dulu,
seteleh dian ngeluarin lidahnya gue gesek"in P gue dilidahnya agar kepala P gue licin N mudah masuk kedalam mulutnya..
pelan" saya coba dorong P gue kemulutnya dian..
blup... masuk lah penis gue..
saya suruh dian agar menjilati kepla P gue dalam mulutnya..
terasa hangat bgt mulut dian, gue suruh hisap, dian lgsg menghisapnya..
owh..
sungguh sensai yg luar biasa, seorang cewek yg begitu polos sedang mengulum P gue dan masih memakai jilbabnya..
sekitar 3menit dian lgsg melepaskan kulumannya, dia lgsg ngom.. " asin bgt kanda.. dinda ga kuat"..
"owh, yaudah.. kita kekamar yug dinda.." ajak ku..
"mau ngapain??" tanya dinda..
"ada deh, kanda mau buat dinda keenakan sampe dinda ketagihan"..jawab ku..

ketika mau pindah kekamar gue, dian mau memakai bajunya..
tapi lgsag aja gue ambil baju nya N saya lari kearah kamar gue..
dian lgsg mengejar gue, wuih gan, dadanya yg ditampung BH itu seakan" mau loncat keluar..
udah gede, putih lagi..
udah ga tahan lagi nih mau nyoblos V nya..
masih perawan kah?????... tanya ku dalam hati..

setelah sampai diatas ranjang, lgsg saya dekati dian, muka dian memerah.. P ku menegang..
saya elus dadanya yg masih tertutup BH itu..
dian mulai mendesah lagi..
saya coba buat melepas BHnya dari belakang, ketika BH nya saya lepas lgsg buah dadanya berontak keluar..
buah dadanya begitu bulat dan tidak menggantung..
saya remas buah dadanya dari belakang, dian lgsg menyenderkan badannya ke badan gue sembari gue meremas dadanya...
"udah cukup pemanasannya" gumam gue dalam hati..

lgsg gue rebahin dian diatas ranjang..
gue lepas kancing jeansnya, dan saya turunin zippernya..
ternyata dian memakai CD berwarna pink juga, seragam dgn BHnya tadi..
ketika celananya telah terlepas saya coba menciumi V nya dari luar CD,,
"hmm... wangi banget V kamu dinda"..kata ku..
dian hanya tersenyum saja,
lgsg saya buka Cd nya..
trz gue jilatin..
pertama se geli... jijik gitu...
tapi lama" ketagihan nyium wangi V na si dinda,
"akh.. kanda... geli..." ceracau si dian..
"ahh... kanda... iya situ" itu ketika saya menjilat klirotis si dinda

kira" 10 menit gue jilatin V na dian, si dian mengejang hebat..
gue kaget cz ada yg nyemprot lidah gue dari dalem, rasa na asin bgt...
ternyata itu peju nya si dian, karena dia dah orgasme..

melihat kejadian itu, saya lgsg basahin kepala P gue ama cairan V na si dian..
sebagai pelumas buat acara ngebor yg akan segera dimulai..
pertama" saya gesek" kepala P gue di luar liang sensitifnya,
dian hanya menggerakkan pinggangnya sesuai dengan arah gesekan kpala P gue..

ketika saya menemukan lobang V na si dian, saya coba utk menusuknya pelan"..
tapi tiba"...
" KANDA!!!..." jeritnya..
kaget nya stgh mati..
" ada apa dinda???" tanya gue..
"sakit bgt!!!!!" udah ah..
wah masih perawan nih si dian pikirku..
udah kepalang tanggung nih kalo mau berhenti sampe sini..
jd lgsg saya peluk si dian yg lagi terlentang dan gue cium bibirnya...
pelan" gue tusuk V na dian dgn kpala P gue..
"mmmmmm!!!!!..." itu yg gue dengar dalam mulut gue..
ga tau gimana bunyi nya, tapi rasanya kek ada yg sobek akibat kpala P gue di liang V na si dian..
gue liat air matanya dian mengucur deras..
tampaknya dia sangat kesakitan akibat perbuatan gue td..

setelah kira" 3 menitan kami diam seperti patung,
saya memberanikan diri buat ngom sama dian..
"np dinda??"
"kanda jahat!!!, kanda tega sama dinda".
nah lo perkara nih.. tar diaduin lagi sama dian ke polisi.. (dalam pikiran gue).
"kanda jahat, sakit tau... pelan-pelan napa nusuknya.." weks, aduh nih cewek buat gue jantungan aja
"maav dinda, abis na kanda cinta bgt ma dinda" alibi gue
"bner cinta ama dinda??
"iyah, 100% cinta ga pake MSN" canda ku..
"kanda sakit bgt nih V dinda"
pelan" gue cabut kpala V gue yg udah mengecil dari tadi..
"akh... sakit" teriak dinda..
"ihhhh.... darah semua, jorok ah.." protes si dian

setelah gue bersihin P gue, dan sidian membersih kan V nya..
aku pun mengajak dian agar mau melakukannya lagi...
tapi dian menolak..



AH.. SUSU...
UDAH NGETIK SETENGAH MATI...
GARA" KELAMAAN JADI SURUH REFRESH LAGI..
EH PAS REFRESH MALAH ILANG SMUA...
ANJRIT DAH..
NYAPE"IN AJAH


terusannya...
intinya aja gan, tad udah cerita panjang lebar tapi malah ga kesave..
parahh...

setelah kejadian itu,
kami sering ngentot bareng di bioskop, di karaokean, di taman, di WC sekolahnya dian..

tapi setelah 2 bulan, dian minta putus..
walaupun udah gue rayu dian tetep ga mau..
bahkan belum seminggu putus dian udah gonta ganti pacar ga jelas...
denger" sih dia udah jadi cewek Bispak pencari kenikmatan..

baru kmaren dia telp N sms gue buat curhat..
katanya sih dia ga puas ML ma cowok"nya..
dan dia bilang mau balikan lagi ma aku...
tapi ogah ah, udah barang bekas gitu, dah SECOND-THIRD-FOURTH-DLL..
tar ada penyakit lagi..
tapi kalo buat dipake aja gue mau..
hehehe..
kan ada kondom..
wkwkwkwk..
kalo jadi bini,,,, ogah deh...
salah dia juga ga setia ma aku..
hwhwhw.....

Posted at 09:59 am by pohonmangga
Comment (1)  

Thursday, August 12, 2010
kisah andi



Setelah dibuai percintaan yang dahsyat, aku dan mamah Dina segera merapikan pakaian.
"An, mamah istirahat dulu ya di kamar, cape banget nih pengen tidur, baru dateng langsung diserang kamu pula," ujar mertuaku sambil berkedip manja.
"Iya mamah, istirahat yang banyak ya. Jangan khawatir Andi ga akan bicara ke siapapun tentang kejadian tadi," ucapku.

Mertuaku segera bergegas ke kamar tamu yg sudah siap dihuni setelah dibersihkan sari. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 10.30 pagi. Aku kemudian pergi ke halaman belakang utk melihat kolam ikan kesukaanku. Aku melintasi dapur. Kulihat Sari pembantuku dengan seorang gadis cilik.

"Eh Sar siapa tuh?"
"Eh iya Pak, ini ada keponakan Sari, baru dateng mampir, belum sempet bilang ke Bapak."

Gadis cilik itu bernama Dini. Ia anak dari kakak perempuan Sari. Umurnya baru 12 tahun. Dini baru lulus SD dan tidak melanjutkan sekolah karena orangtuanya hidup pas-pasan.

"Ya sudah Dini tinggal di sini aja Sar. Kan bisa bantu bantu kamu," ucapku.
"Aduh Sari jadi malu. Baru saja sari mau mengakatakn itu tapi rupanya Bapak sudah tau apa yg mau Sari katakan."
"Baguslah kalau begitu," ucapku.

Kuperhatikan sejenak Dini. Tubuhnya masih kecil masih kanak kanak. Toketnya baru sedikit menyembul dari kaosnya. Kubayangkan payudaranya itu memang masih kecil, baru tumbuh. Tapi kecantikan Dini sudah terpancar, lebih cantik dari Sari. Bibirnya yang tipis, hidunya bangir, bulu matanya lentik. Terlebih saat itu ia pake rok. Benar benar khas kanak kanak, tapi menggemaskan.

"Eh Sar kenalin sini dong keponakanmu," seruku. Sari kemudian menghampiriku bersama Dini.

"Aku Om Andi, siapa namamu gadis cantik?" Tanyaku.
"Namaku Dini om," ujarnya singkat.
"Namanya kaya sinetron ya..hehe" ucapku berguyon dengan harapan suasana menjadi nyaman.
"Dini tinggal di rumah om aja ya bantu bantu kak sari," tambahku. Dini memang memanggil Sari dengan sebutan kakak.
"Iya om, dini juga mau minta ijin tinggal di rumah om. Kata kak sari om andi itu baikkkkk banget..." Ujar ujar dini tersenyum.
"Iya dong om baik.. Tapi Dini juga ga boleh nakal yah dan selalu menuruti kata-kata om," pintaku.
"Iya om, Dini janji akan selalu menuruti kata kata om," tegasnya.

"Ya udah dini kan baru datang. Sekarang ga usah kerja, istirahat dulu di kamar sari. Kabetulan rumah om masih ada kamar kosong tapi belum dibersihkan. Nanti kalau sudah dibersihkan kamu tinggal di situ aja ya," pintaku.
"Iya om" jawab dini singkat. Sepintas kuamati kembali dadanya. Kubayangkan toketnya memang masih benar benar mungkil, lebih mungil dari payudara Icha. Membayangkan itu, perlahan tapi pasti kont*lku mulai bangun dari tidurnya.

Segera aku dan Sari mengantar Dini ke kamar sari. Sesampainya di kamar, kupanggil sari mendekat dan aku mulai berbincang dengannya dengan perlahan takut didengar Dini.
"Sar, Dini cantik banget yah..." Ucapku membuka pembicaraan, sedangkan Dini sedang asik di sudut kamar yg lain.
"Iya dong siapa dulu dong tantenya.." Ucap sari tersenyum. Terus terang saja pikiran ngeresku mulai mengembang. Meski tadi aku baru menyetubuhi mertuaku tapi hari ini aku ingin bersetubuh sepuas puasnya sebelum istriku datang.

"Sar, boleh ga aku melakukan sesuatu seperti yg aku lakukan padamu dengan Dini?" Aku mulai memberikan pertanyaan dgn pertanyaan yg paling halus agar sari tdk tersinggung. Sari terdiam sesaat, sepertinya agak terkaget juga tak menyangka aku akan meminta itu.

"Mhmm gimana ya pak. Bukannya sari tidak mau tapi Dini masih sangat kecil. Umurnya baru 12, belum saatnya. Memangnya bapak belum cukup yah dengan bu rara, icha, sari atau bu dina barusan?"

Sejenak aku tersentak kaget ternyata sari tahu persetubuhanku dengan mertuaku.
"Jangan kaget pak, tadi sari memang tidak sengaja melihat. Tenang pak, sari ga akan bilang siapa siapa," rupanya sari membaca pikiranku.

"Makasih Sar, terus bagaimana dengan Dini tadi?"
"Ya udah gimana Bapak aja. Tapi jangan ada paksaan sedikit pun dan Sari harus tetap di sini," akhirnya Sari menjawab setelah lama terdiam. Aku pun tersenyum sambil menganggukkan kepala. Aku pun menyuruh Sari untuk mengunci kamar pintu takut mertuaku terbangun.

"Din, sini dong duduk dekat om."
"Ada apa om?" Dini menghamiriku. Duduk disebalah kananku, sementara sari di sebelah kiriku. Rasanya aku ingin segera menyetubuhi gadis cilik yang cantik itu, tapi semua harus berjalan dengan baik dan tak boleh ada paksaan. Harus sama sama rela dan menikmati.

"Mhmm.. Ga apa apa Din. Tadi kan dini bilang dini akan menuruti semua kata kata om, bener ga tuh?"
"Bener dong om. Dini akan menuruti semua kata kata om."
"Kalau om pengen kamu buka baku boleh ga?"
"Ihhh mo ngapain om?"
"Tuh kan... Katanya mo nuruti kata kata om"
"Iya om tapi mo ngapain?"
"Dini kan cantik banget, om penasaran aja pengen liat dada kamu pasti indah banget..."

Suasana terdiam sejenak.
"Iya deh om, dini udah janji. Tapi om aja yang bukain."
Hatiku bersorek. Aku melihat Sari sejenak. Ia tersenyum sambil mengangguk. Aku pun segera membuka kaos sari. Ternyata meskipun masih kecil Dini sudah pake bra.

"Om bukain branya ya Din"
"Iya om" jawab dini lirih.

Aku segera membuka bra nya. Kini pemandangan yang menakjubkan tersaji di depan mataku. Benar saja toket Dini masih sangat kecil tapi sudah tumbuh. Pentilnya masih sangat mungil. Ingin aku segera menyentuhnya tapi harus minta ijin dulu.

"Din bolehnya om menyentuh payudaramu?"
"Katanya tadi cuma liat aja om. Emang enak gitu om kalau disentuh?"
"Kamu pejamin mata aja Din dan coba rasakan," ujarku dengan nafas mulai memburu.

Tanpa bilang ya atau tidak, dini memejamkan matanya, itu tanda persetujuan. Aku segera menyentuh susunya. Susunya sungguh sangat kencang. Aku mulai menyentuhnya dan memilin putingnya.

"Enak ga Din?"
"Geli om... Shhhmmm" rupanya dini mulai menikmati. Meskipun masih kecil tapi secara naluri dia bisa merasakan itu adalah kenikmatan.

Segera kudekatkan mukaku dengan payudaranya lalu mulai kujilati payudara kecil itu. Lidahku kumainkan berputar di atas putingnya. Sejenak kugigit lembut putingnya untuk menambah sensasi. Dini pun semakin disergap kenikmatan.

"Ahhh.... Tambah geli ommm..." Erangnya.

Sari yang dari tadi memperhatikan adegan panas ini mulai tak tahan. Ia kemudian bersimpuh di depanku dan mulai membuka resleting celanaku. Konto*lku yang dari tadi disergap birahi langsung tegak berdiri. Tanpa dikomando sari mulai mengulum batang kemaluanku. Aku yg sedang asik mengulum pentil Dini tak kuasa menahan nikmat. Sejenak aku menghentikan kulumanku itu.

"Ahhhhhhh......" Desisku.

Pegal dengan posisi duduk aku membawa Dini rebah di kasur. Lalu aku kembali menyerangnya dengan jilatan di toket. Tak kurasakan ia mengulum kembali senjataku. Rupanya ia sedang melakukan aksi lain. Ia melucuti rok Dini beserta cd nya. Aku pun menghentikan aksi jilatku ingin melihat mem*knya Dini. Sungguh panorama yg indah. Mem*knya mungil belum ditumbuhi satu bulu pun. Belahannya begitu halus dan alami.

"Mem*kmu indah sekali Din..." Ucapku berburu nafsu.
“iya om, tapi Dini mau diapain?”
Tanpa aku memiliki kesempatan untuk menjawab, justru Sari yang menyambar menjawab duluan.
“Rasakan aja Din, kakak ada sesuatu yang spesial buat kamu...”

Sari lalu mendekatkan wajahnya ke mem*k Dini. Ia mulai menjilati kemaluan Dini yang mungil itu. Sepertinya Sari sengaja merangsang Dini sekuat-kuatnya agar pada saatnya kont*lku dapat masuk lebih mudah ke lubang kenikmatan Dini yang pasti masih sangat sempit itu.

“Ahhhh kakak.... diapain kak... vagina Dini jadi bedenyut-denyut....” erang Dini. Sepertinya ia semakin diselimuti kenikmatan yang makin memuncak. Dini dalam hal ini lebih bersikap pasif karena ia belum berpengalaman. Aku sendiri makin tak kuat menahan birahi yang makin menjadi jadi. Konto*lku sudah berdenyut denyut ga karuan. Segera saja aku pergi ke belakang sari. Dan kupelorotkan celananya. Lalu kusodok kemaluannya dari belakang. Sementara Sari sendiri tetap asik menjilati mem*ek Dini.

“aghhh... aghhh.....” nafas sari megap-megap saat kont*lku mulai masuk menggeseki dinding-dinding kemaluannya. Sari merasakan kenikmatan sambil tetap bekerja merangsang Dini sekuat tenaga. Aku sendiri terus memaju mundurkan tongkolku semakin kencang. Cairan kenikmatan semakin terdesak ke ujung kemaluan.

“saarrrr.... aku sudah ga tahan... sebentar lagi sarr.....” erangku.
“aku juga pak, terus pak.... gesek terus cepat pak... kita keluar bareng....” rintih Sari.

Dan crotttt... crotttt.t....... tanpa terasa aku ejakulasi di dalam memiaw sari. Nikmat yang luar biasa menyelusup di dalam jiwaku. Aku pun terkulai sejenak.
“Maaf Sar, aku tak sengaja keluar di dalam....”
“nggak apa-apa pak, sari lagi ngga masa subur kok...”

Setelah istirahat sesaat, aku bertanya pada Dini.
“eh, kalau Dini udah menstruasi belum?” tanyaku.
“belum om, kenapa emang?”
“nggak apa apa, ya udah sekarang aku bantuin ya kerjaan Sari ke Dini..” ujarku pada Sari. Luar biasa memang, Dini belum mens, artinya selain dia memang masih kecil, aku pun bebas mengeluarkan pejuhku di dalam mem*knya karena tidak akan hamil.

Lalu aku segera mendekatkan wajahku ke mem*k Dini. Mulai kujilati sedikit demi sedikit. Permukaan vaginanya begitu halus dan licin. Kumasukkan sedikit lidahku ke dalam lubang kenikmatannya, lalu kuputar putar.

“ahhh.... om... enakkk.......” Dini makin tak bisa menyembunyikan kenikmatan yang direguknya. Pada saat yang bersamaan Sari tak mau tinggal diam. Ia membersihkan sisa air pejuhku yang tersisa di batang kemaluan. Setelah bersih ia mulai mengulumnya. Senjataku yang tadi mengerut kecil setelah mereguk kenikmatan, sedikit demi sedikit mulai bangkit kembali. Aku sendiri kini mulai mengalihkan jilatanku kembali ke toket Dini yang mungil itu.

“Din, boleh ya om masukin kont*l om ke mem*k Dini?” aku berbisik perlahan.
“tapi om ntar Dini hamil?”
“Ga akan Din, kamu kan belum mestruasi, jadi ga akan hamil...” terangku.
“Tapi om katanya sakit kalau dimasukin?”
“Ga akan Din, dijilati aja udah enak apalagi kalau dimasukin...” terangku lagi meyakinkan.

Tanpa menunggu jawaban, aku mulai melepaskan batang kemaluanku dari hisapan Sari. Kini mulai kuarahkan ke mem*k Dini yang supermungil itu. Sangat perlahan aku masukan sedikit demi sedikit. Benar saja, sungguh susah memasukannya. Tapi kurasakan memiaw Dini sudah basah. Ini satu modal agar kont*lku bisa menyelusup.

“sakit Din?”
“nggak om.. terus aja masukin pelan-pelan....”
Kini tongkolku sudah setengah masuk ke mem*k Dini.
“Sakit Din?” tanyaku lagi.
“nggak om, terus saja masukin....”

Ajaib, Dini yang kupikir akan merasakan sakit ternyata tidak. Ia begitu pandai merasakan kenikmatan yang baru pertama dialaminya. Kini konto*lku sudah masuk semua. Mulai kumaju mundurkan perlahan-lahan. Kurasakan dinding vagina Dini begitu hangat dan mulai bergerak memilin milin. Ah sungguh nikmatnya. Ternyata dinding vagina Dini begitu responsif saat ditimpa kenikmatan. Aku semakin kencang memaju mundurkan kont*lku.

“Ommmm... enak sekali ommmm....... shmmmmm” erang dini.
“Iya Din, mem*k kamu juga enak banget,......” desisku.
Sementara itu Sari yang menyaksikan aksi kami mulai terangsang kembali juga. Ia memasukkan jarinya sendiri ke dalam mem*knya untuk masturbasi.

“Om terusss ommm.... “
“Ommm... Dini kenapa ommmmmm.... ahmmmm......”
“tahan din kita keluar bareng bareng.......”
“ooommmmmmmmmmmmmm........................ ahhhhhhhhhhh..........”
“Diniii.... ahhhhhhhhhhhhh....”
Crot crotttt............. air maniku tak terbendung membanjiri vagina Dini. Dari belakang tiba tiba Sari memeluk pingganggku erat-erat. Rupanya dia pun baru saja merasakan ejakulasi akibat masturbasi yang dilakukannya. Lalu kulihat mem*k Dini dan sprei di bawahnya, ternyata tak ada bercak dara. Dari buku sex education yang kubaca, hilangnya keperawanan memang tidak selalu ditandai dengan keluar darah.

Habis menikmati kenikmatan yang tak terkira itu kami bertiga saling berpelukan sambil telanjang. Beberapa lama kemudian aku segera memakai baju kembali. Kalau kelamaan takut mertuaku keburu kebangun dan melihat aksiku. Dari saku celanaku lalu kuambil uang beberapa lembar ratusan ribu.

“Sar, Din, ini buat kalian jajan ya bagi dua. Ini ga ada hubungannya dengan kejadian tadi loh... Ini ikhlas aku berikan untuk kalian berdua...”
Kulihat Dini sangat girang sekali. Sepertinya ia baru pertama kali akan memegang uang sebanyak itu.
“makasih ya om.... tapi boleh ga kalau Dini minta yang seperti tadi lagi?” tanyanya sambil berkedip manja.
“tentu boleh sayang...” ucapku senang, “tapi dini nggak boleh bilang siapa-siapa.
“Pastinya Om,” jawab Dini.

ADIK IPARKU DAN PACARNYA YANG MASIH SD

Hari ini hari yang luar biasa. Aku sudah bercinta dengan mertuaku Mamah Dina, pembantuku Sari dan keponakan pembantuku Dini. Kenikmatan demi kenikmatan yang telah kureguk ternyata tidak membuat aku segera puas, tetapi justru ingin kenikmati kenikmatan demi kenikmatan yang lainnya. Mumpung isteriku baru pulang besok.

Dan kini waktu sudah pukul 14.00. Mertuaku sepertinya masih terlelap di kamar habis perjalanan jauh dan kusetubuhi. Sari dan Dina juga istirahat setelah kusetubuhi pula. Sementara aku, dari kamar Sari hendak sejenak istirahat di kamarku sambil kupikirkan dari lubang vagina siapa lagi yang akan kureguk kenikmatannya hari ini.

Menuju kamarku, aku melewati kamar Cinta, adik iparku. Tapi tiba tiba aku tertarik pada suara sepasang laki-laki perempuan dari kamar itu. Sepertinya mereka sedang bercengkrama. Aku jadi penasaran. Lalu segera saja kuintip. Kebetulan sekali kamarnya tidak terkunci sedikit terbuka. Rupanya Cinta lupa mengunci dan menutup pintu. Lalu pintunya kudorong sedikit agar aku lebih leluasa mengintip apa yang terjadi di dalam.

Ternyata yang ada di dalam adalah Cinta dan seorang anak lelaki yang lebih muda darinya. Jika Cinta berumur 16 dan duduk di kelas 1 SMA, maka anak lelaki itu kutaksir bahkan lebih muda dari Icha atau Dina, mungkin sekitar umur 11-an. Selain dari perawakannya, ini jelas sekali dari baju seragam yang dipakainya: seragam SD. Ini memang mengejutkanku. Kukira pacar Cinta berumur lebih dewasa, setingkat anak kuliahan, ternyata justru jauh lebih muda dari Icha, bahkan masih SD. Benar-benar di luar nalarku.

Aku jadi makin penasaran. Aku terus memperhatikan di balik pintu. Mereka berdua ada di tepi ranjang. Setelah mereka saling melempar ktawa, mereka memulai aksinya. Tampak Cinta yang begitu agresif. Ia mulai menciumi cowonya dan mereka pun mulai bergumul berciuman. Selanjutnya Cinta mulai memelorotkan celana pendek cowonya yang berwarna merah itu. Akupun mulai melihat tongkol anak SD itu. tongkolnya cukup mungil tapi sepertinya sudah begitu tegang. Icha mulai mengulumnya sedangkan anak SD itu mulai merem melek memejamkan matanya menahan nikmat.

Aku yang melihat kejadian panas itu otomatis terangsang. Senjataku mulai menegang. Meskipun aku juga baru bersetubuh tapi aku ingin mengulang dan mengulang lagi kenikmatan itu. Secara refleks tanganku mulai terarah ke batang kemaluanku dan mulai mengusap ngusapnya dari luar celana.

Sementara itu Cinta mulai melucuti satu per satu pakaian cowonya. Kini anak SD itu sudah telanjang bulat. Benar benar masih tubuh anak anak. Cinta kemudian menarik tangan cowonya dan mengajak berdiri kemudian menyandarkannya di dinding. Cinta benar benar agresif. Nafas keduanya kudengar semakin memburu. Anak SD itu pun dibuat tak tahan. Ia mulai melucuti pakaian Cinta. Lalu ia mulai mengulum payudaranya. Aku jadi semakin terangsang melihatnya. Ah, anak SD ingusan itu pasti sudah menyetubuhi Cinta berkali-kali, sementara aku belum diberi kesempatan.

Aku benar benar dibuat tak tahan. Aku segera membuka resleting celanaku dan mulai mengocok tongkolku dengan perlahan. Namun karena keasikan tanpa terasa siku tanganku mendorong pintu dan menyebabkan bunyi yang agak keras. “krekkkkkkk................”

Sontak suara pintu itu mengagetkan adik iparku dan pacarnya, padahal hampir saja tongkol anak SD itu mau masuk ke memiawnya Cinta. Aku juga ikut terkaget terlebih tongkolku sendiri sudah keluar dari resleting celana.

“Eh kakak...” ucap Cinta terbata-bata. Sementara cowo cinta terlihat pucat pasi melihat ke arahku.
“Lagi ngapain kalian?” ucapku sambil masuk ke dalam kamar dan kututupkan pintu. Sementara itu tongkolku tetap berdiri tegang di antara resleting.
“Mhmm... nggak kak, ini aku lagi sama cowokku. Ini kenalkan Nando..” ucap Cinta terbata-bata.
Lalu menghampiri Nando dan kami saling bersalaman memperkenalkan nama masing-masing.

Lalu kami saling duduk di pinggir ranjang.
“kakak tidak marah kok. Ayo teruskan saja apa yang tadi kalian lakukan. Tapi kakak boleh lihat kan?” ucapku.
“ah kakak yang aneh-aneh aja, kami malu dong kalau diliatin...” jawab Cinta.
“Gak usah dipikirkan nyantai aja lagi. Anggap saja nggak ada orang. Ayo lakukan lagi... Ayo Nando” pintaku.

Anak kecil itu tersenyum ke arahku. Lalu tanpa menunggu persetujuan Cinta ia berlutut menjura di hadapan Cinta. Ia membukakan kedua kaki cinta dan mulai menjulurkan lidahnya untuk menjilati memiaw Cinta. Rupanya anak SD itu sudah cukup pintar untuk memberikan kenikmatan kepada cewe buah hatinya. Cinta tak mampu menolak ia memejamkan mata mulai menikmati kembali permainan cowonya. “shhhhh............” desahnya. Aku sendiri makin penasaran dibuatnya. tongkolku yang tadi sempat melembek kini bangkit kembali.

Setelah puas menjilat memiaw, anak SD itu kemudian bangkit berdiri. Ia kemudian meraih kepala Cinta dengan perlahan dan mulai mengarahkan ke tongkolnya. Kini giliran Cinta yang berlutut di dapan Nando dan mulai mengulum barang pacarnya yang masih mungil itu. Nando dibuat merem melek. Dengusan nafas dan erangan terdengar dari mulutnya. Ia mencengkeram rambuat Cinta dengan erat. Sepertinya ia semakin tak tahan. Aku yang dari tadi melihat dua bocah sedang bersetubuh ini juga dibuat makin tak tahan.

Nando lalu merebahkan Cinta di kasur. Ia mulai menindihnya dan mengarahkan batang kemaluannya ke memiaw Cinta. Nando mulai menekan pantatnya. Dengan tongkolnya yang masih mungil, sepertinya ia tak kesulitan untuk membenamkan seluruh batang tongkolnya. Ia kemudian mulai memaju mundurkan. Sedangkan mulutnya sambil mengulum toket Cinta. Cinta dibuat melayang ke kenikmatan ketujuh. Ia berkali-kali mengeluarkan erangannya.

“Shhhhghhh..... enak banget sayang.....” jerit Cinta.
“aku juga sayang.... enak bangett.....” desah Nando di antara kuluman lidahnya ke susu Cinta.
Sementara itu tongkol Nando terus maju mundur mengeluarkan suara irama yang membuatkan semakin tak kuasa menahan birahi.

Kedua anak manusia itu nampaknya semakin tak tahan saja.
“aku udah ga tahan sayangggg........” erang Cinta. Setelah itu Cinta terlihat kelojotan rupanya dia sudah mencapai titik orgasmenya.
“ahhh.......” ucapnya sambil mencabik dan menjambak rambut Nando karena tak tahan didera kenikmatan.

Beberapa saat kemudian Nando mencabut batang kemaluannya lalu mengocoknya di atas toket Cinta. Beberapa saat kemudian, “ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.......” Nando mencapai puncak kenikmatannya. Kulihat hanya sedikit tetes air pejuh ya keluar dari tongkolnya. Anak sekecil dia nampaknya memang belum banyak memproduksi air pejuh.

Sesaat kemudian kedua anak manusia itu berpelukan di atas ranjang. Sementara tongkolku semakin tegang meminta giliran. Meskin hari ini aku sudah bercinta dengan tiga orang yang berbeda, tapi aku ingin kembali bercinta untuk keempat kalinya. Dan aku sudah tak tahan lagi untuk tidak meminta.
“Ndo... boleh ga giliran kakak menyetubuhi pacarmu?” pintaku. Mendengar permintaan intu, sejenak Nando terdiam.
“mhmm... gimana ya kak? Tanya Cinta aja,” jawabnya.
“Gimana Cinta?” lalu aku bertanya pada Cinta.
“Kalau Cinta gimana Nando... kalau Nando ga apa-apa Cinta mau..” jawabnya. Sesaat kemudian Nando menanggukkan kepala tanda memberikan persetujuan. “tapi Nando tetap di sini ya ingin melihat,” ucapnya perlahan. Dan aku pun menjawab pula dengan anggukan sambil tersenyum.

Segera saja kubuka seluruh pakaianku. Lalu aku mulai menghapiri Cinta yang masih terletang. Kujilati toketnya dengan lembut agar dia kembali terangsang setelah bercinta dengan pacarnya yang masih anak SD itu. Sementara itu tongkolku yang sudah ngaceng dari tadi, kugesek gesekkan di permukaan memiawnya. Lalu kupapah tangan Cinta untuk mulai mengelus ngelus tongkolku. Dengan cepat tongkolku semakin mengeras. Aku sudah tak sabar untuk segera menyetubuhi Cinta. Sementara itu, Nando dengan cermat terus mengamati pergumulanku dengan Cinta.

Aku tak henti hentinya menjilati toket Cinta. Kadang kugigit sedikit putingnya agar menimbulkan sensasi yang lebih dahsyat. Lalu kusapi dengan lembut seluruh permukaan pentilnya dengan lidahku. Sementara itu tangan kiriku meremas remas puting yang sebelahnya dengan gemas.

Usahaku tidak sia-sia, Cinta semakin terangsang. Ia mulai dibuai kenikmatan yang menyelusup ke sekujur tubuhnya. “Ahhh...... kakak Cinta ga tahan.......” erangnya.

“iya sayang... kakak masukin sekarang yah... tapi kamu tau sendiri kan tongkol kakak jauh lebih besar dari punya pacarmu itu... jadi tahan yah kalau agak susah masuknya...” bisikku perlahan lahan takut anak SD itu mendengar.
“iya kak, justu Cinta sekarang jadi penasaran...” bisiknya juga.

Tanpa pikir panjang aku mulai menyelusupkan tongkolku secara perlahan. Benar saja karena selama ini tamunya adalah barang milik anak SD maka lubang kenikmatan Cinta masih teramat sempit.

“enak sekali kak... masukan lagi terusssss...” pinta Cinta. Tangannya lalu meraih tongkolku dan memapahnya untuk masuk semakin kedalam. Semakin dalam jepitan dinding memiawnya makin terasa. Sungguh luar biasa. Ia mulai bereaksi seakan memilin milin. Kontaksinya semakin hebat. Dan tanpa terasa tongkolku sudah masuk seluruhnya ke dalam memiaw. Aku pun mulai keluar masukkan tongkolku secara ritmis, semakin lama semakin cepat.

“ahh... memiawmu enak banget Cinta.... kenapa nggak dari kemarin kamu serahkan memiawmu...” tanyaku.
“Cinta tidak akan menyerahkannya tanpa persetujuan pacarku kakakku sayang.... ahhhhhh.....” jawab Cinta di sela sela kenikmatan yang semakin dalam.

Sementara itu Nando terus menyaksikan pergumulan pacarnya dengan kakak iparnya itu. Terselip rasa bangga di dirinya karena Cinta baru mau bercinta dengan orang lain setelah dapat persetujuan pacarnya. Namun apa mau dikata, apa yang sedang ia lihat membuat Nando tersulut gairahnya kembali. tongkolnya yang mungil bangkit lagi.

“sayang.... aku ingin lagi.....” ujar Nando pada Cinta.
Pernyataan nando itu membuat percintaanku dengan Cinta terhenti sejenak.
“kesinikan tongkolmu sayang biar aku kulum aja....” ujar Cinta. Seperti seorang budak yang patuh pada majikannya, Nando menghampiri Cinta dan mengarahkan tongkolnya ke wajah Cinta. Lalu Cinta mengulumnya dengan lembut. Sementara aku kembali menyerang vaginanya. Semakin lama semakin kencang.

“aku udah ga tahan kak... ahhhhhhhh.....................” erang Cinta disela emutannya ke tongkol Nando.
“kakak juga sayang... tahan sebentar.............” ujarku. Lalu semakin kupacu serangan tongkolku. Sesaat ketika kurasa cairan kenikmatan hampir ke ujung tongkolku lalu segera kucabut tongkolku dari memiaw Cinta. Lalu kuarahkan tongkolku di atas muka Cinta dan kokocok dengan kencang.

“crrooootttt.... crooootttttttttttttttttt..................” air pejuhku membanjiri muka Cinta. Sementara itu tongkol Nando yang sudah lebih dulu dicabut dari kuluman Cinta dikocok cinta di atas toketnya. Dan sepertinya Nando semakin tidak tahan. Sejenak matanya memejam dan tangannya. Dan “crottttt............... crottt... crotttt.....” air maninya melumuri toket Cinta.

Sejenak setelah istirahat dan membersihkan diri, aku segera berpakaian dan setelah berpamitan aku segera menuju kamarku. Tak lupa aku mendaratkan satu kecupan sayang di pipi Cinta sambil mengedipkan mata pada pacarnya yang masih SD itu.

“baik baik ya kalian berdua,” ucapku sambil berlalu.

DUA GADIS CILIK

Sesampainya di kamar aku segera merebahkan diri di kasur. Bercinta dengan beberapa orang dalam sehari tentu membutuhkan stamina super ekstra. Lelah sesaat menyergap. Kini saatnya bagiku untuk istirahat. Satu botol air mineral kecil habis kuteguk.

Ah cukup pikirku. Hari cukup sudah petualangan cintaku. Besok istriku tiba dan pasti aku melepas rindu dengan bercinta habis habisan dengannya. Jadi aku harus menyisakan stamina.

Untuk mengisi waktu sisaku aku berniat untuk membeli beberapa buku di Gramedia. Setelah kurasa cukup waktu beristirahat, segera kuambil kunci mobil dan aku pun segera bergegas. Di pintu keluar ternyata sudah ada Cinta dan Nando, anak SD yang pacarnya itu. Rupanya Nando sudah mau pulang. Lalu karena searah, kutawarkan untuk berangkat bareng. Setelah mengiyakan akhirnya kami berangkat diiringi senyum manis Cinta.

Sepanjang perjalanan kami asik berbincang. Ternyata Nando dan Cinta sudah pacaran setahun lebih dan baru melakukan hubungan badan beberapa bulan terakhir. Saat pertama mereka bercinta Nando mengaku keduanya masih perawan dan perjaka. Namun yang cukup mengagetkanku, walaupun baru pertama bercinta dengan Cinta, namun sebelumnya Nando sering main dokter dokteran dengan dua gadis cilik tetangganya. Pertama, Eci umur 9 tahun kelas 3 SD dan yang kedua namanya Vina umur 10 tahun kelas 4 SD. Kalau sedang main dokter dokteran, ujar Nando, biasanya mereka telanjang bulat dan biasanya tongkol Nando dikocok sampai keluar. Kejadian seperti itu jika ada kesempatan masih berlangsung hingga sekarang. Luar biasa pikirku, anak jaman sekarang sudah jauh lebih dewasa dari umurnya, atau jangan jangan mereka masih begitu lugu dan tidak tau apa yang mereka kerjakan.

Awalnya aku akan menurunkan Nando di jalan dan membiarkan dia sampai ke rumahnya dengan naik angkot. Namun karena kasihan akhirnya aku mengantarkannya hingga ke rumahnya.

"Ayo kak masuk dulu sebentar. Minum dulu," pinta Nando. Awalnya aku nggak mau karena takut kesorean tapi karena melihat ajakan Nando yg tulus akhirnya aku tak kuasa menolak.

"Mas nando ada tamu tuh," ujar pembantu RT keluarha nando di depan pintu.
"Siapa bi?"
"Neng eci ama neng vina katanya mau belajar bareng."
Wah kebetulan, pikirku. Aku penasaran seperti apa yg namanya eci dan vina eh sekarang sedang di rumah nando.
"Kalau papa mama lagi ke mana bi?"
"Lagi ke rumah nenek kayanya pulang malam, cuma berpesan mas nando jangan lupa makan."

Akhirnya kami masuk ke dalam rumah. Di ruang tv dua orang gadis cilik sudah menunggu. Keduamya ternyata cantik cantik. Yang satu rambutnya dikepang, kulitnya kuning langsat. Ia pake kaus putih plus rok pendek warna merah tua. Tanpa sengaja, duduknya yang tidak teratur membuat cd nya sedikit terlihat. Warnanya putih. Yg ini ternyata namanya eci gadis cilik kelas 3 SD. Matanya yg besar tapi sipit serta hidungnya yang mancung mengingatkanku pada Agnes Monica saat kecil.

Sementara itu vina kulitnya lebih gelap tapi tak kalah cantiknya. Badannya padat berisi. Mirip pesinetron Amanda. Ia memakai kaos kuning dengan rok pendek pula.

Aku pun dikenalakan pada eci dan vina. Mereka begitu riang dan ramah ramah.
"Eh ngomong ngomong ada apa nih pada main ke rumah kakak?" Tanya nando pd mereka.
"Mau belajar kak. Mau nanyain PR matematik." Jawab vina.
"Bener nih mau belajar atau main dokter dokteran?" Goda nando.
"Ih kakak apa apaan sih, kan malu ama kak Andi." Ujar eci.
"Ya udah kakak takut ganggu kalian nih. Lagian kakak mau ke gramedia. Kakak pamit dulu ya," ujarku.
"Eh jangan dulu kak. Bantu dulu pr eci dan vina sebentar saja," pinta nando.

Akhirnya aku mengalah pada keinginan nando. Kami pun kemudian naik ke lantai dua ke kamar nando. Sungguh saat itu aku tak berpikir macem macem, hanya bermaksud membantu PR mereka saja.

Kamar nando cukup enak dan besar. Kasurnya king size dengan corak minimalis. Di sudut kamar sebuah meja belajar dengan komputer LCD. Di situ pula aku mulai menjelaskan pr matematik yg ditanyakan. Eci dan vina duduk di kursi yg tersedia sedangkan nando duduk di pinggir ranjang di belakang kursi. Aku sendiri berdiri sambil menjelaskan jawaban pr ke vina dan eci. Walaupun itu sesungguhnya pr vina tapi eci jg ikut menyimak.

Sungguh awalnya ku tdk berpikir macem macem meski nando sempat menjelaskan mereka suka main dokter dokteran. kulihat kedua gadis cilik ini memang cantik cantik. Kulitnya mulus. Apalagi eci yang kuning langsat. Namun itu pun tak membuat aku berpikir macem macem sampai kemudian nando berbuat nakal.

"Vin kita main dokter dokteran yu.." Ajak nando sesaat setelah PR matematik diselesaikan.
"Ih apaan sih kak? Kan ada kak andi, malu tau.." Jawab vina dgn muka memerah.
"Hey hey apaan sih dokter dokteran? Kok malu sih? Ga apa apa kali..." Ujarku pura pura gatau.
"Itu kak.. Main dokter dokteran itu buka baju..." Eci dengan lugu ikut menjawab.
"Oh gitu... Ya udah ga apa apa kok. Atau kakak keluar aja yah biar kalian tenang.." Ucapku.
"Ih jangan kak... Kok keluar sih. Di sini aja... Ya udah main dokter dokteran tp kakak jangan ngetawain yah.." Ucap vina. Akupun mengangguk sambil tersenyum.

Setelah itu vina mulai membuka kaosnya. Aku tertegun melihatnya. Kulitnya begitu mulus. Biar masih belia ia ternyata sudah pakai bra. Lalu ia membuka branya itu yg berwarna putih. Akupun kini melihat toketnya yg masih sangat mungil, baru sedikit menonjol. Aku yg asalnya tak berpikir yg macem macem mulai berpikir nakal, senjataku pun mulai bangun dari tidurnya.

"Langsung main dokter dokteran nih?" Tanya nando.
"Iya dong kak..." Jawab vina.
"Ya udah vina langsung berbaring ya.." Ucap nandom

Vina pun berbaring di kasur sementara nando duduk di sampingnya. Dengan gaya memeriksa seperti seorang dokter, nando mulai menyentuh toket vina. Ia pilin pilin putingnya. Vina mulai memejamkan matanya. Sepertinya ia mulai menikmati permainan dokter dokteran yang dilalkukan nando. Tak lama kemudian, nando mulai “memeriksa” toket vina dengan lidahnya. Ia membungkukkan badannya dan mulai menjilati toket yang masih super mungil itu. Aku lihat nando menjilati toket vina dengan sangat lembut. Sungguh luar biasa aku sedang menyaksikan dua anak cilik sedang melakukan perbuatan yang sebelumnya belum boleh mereka lakukan. Aku sendiri yang seharusnya memberikan wejangan kepada mereka untuk tidak melakukan itu, tidak bisa berbuat apa apa, malah semakin menikmati.

“ahh,..... kakak.... meriksanya geli banget......” erang Vina, sepertinya ia semakin menikmati permainan nando.
“iya adikku sayang... nikmati saja... pejamkan aja matanya.....” jawab nando.
“iya yak..... ah......”

Sesaat tak ada lagi kata kata. Nando dan vina sedang menikmati permainan mereka. Sementara aku tertegun melihat aksi mereka. Demikian pula Eci ia sedang asik menyaksikan aksi kedua sahabatnya. Sampai kemudian aku disentakkan oleh pertanyaan Vina.

“kakak nggak ikut main dokter dokteran?” tanyanya.
“mhmmm.... ah nggak, lagian kakak nggak tau meriksanya gimana. Lagian sekarang kan vina lagi diperiksa ama kak nando..” jawabku terbata bata.
“nggak apa apa kak, kan kakak bisa meriksa bagian bawah.... iya kan kak nando?” ujar Vina
“iya kak..” sela Nando sambil tersenyum dan mengedip.

Aku terdiam sejenak.
“bener nih nggak apa apa? Nggak nyesel?” tanyaku sekali lagi pada Vina.
“iya kak bener. Ngapain juga senyel kak, kan vina yang minta....” jawab vina mantap.

Nando melanjutkan aksinya “memeriksa” toket Vina. Sementara aku mulai menghampiri vina. Aku mulai menyingkapkan rok pendeknya. tongkolku yang sedari tadi sudah mulai mengeras kini semakin mengeras. Kulihat CD vina berwarna kuning selaras dengan kaosnya yang tadi dipakai.

“ga apa apa Vin celana dalamnya kakak buka?” tanyaku sekali lagi menegaskan.
“gak apa apa kak.. buka aja....”

Aku mulai memelorotkan Cd vina. Sengaja rok pendeknya tidak aku buka. Toh dengan mudah CD itu kupelorotkan tanpa harus membuka roknya. Kini di hadapanku terpampang memiaw dari seorang gadis cilik yang masih begitu imut. Sangat mulus. Belum ada bulu sedikit pun. Dulu aku pernah melihat gambar gambar gadis underage dari internet. Kini bukan hanya gambar yang kulihat, tapi sebuah kenyataan.

Aku memang sudah menyetubuhi gadis cilik lain, Dini, keponakan Sari pembantuku. Namun, gadis yang satu ini lebih muda lagi. Jika Dini berusia 12 tahun dan baru lulus SD, sedangkan Vina baru berusia 10 tahun dan baru kelas 4 SD. Terlintas dalam pikiranku apakah kelakuanku ini sudah sedemikian burukkan karena melakukan perbuatan yang belum saatnya dengan seorang gadis SD? Namun sungguh aku tak bisa mengelak dan menolak saat semua itu terhidang begitu saja di hadapanku. Yang pasti aku tidak memaksa sedikit pun, malah gadis cilik itu yang meminta.

Aku mulai menyentuh permukaan memiaw vina. Kenyal sekali. Kusentuh dengan lembut. Dan kini aku mulai merenggangkan kedua kakinya agar tanganku bisa semakin leluasa mempermainkan memiawnya. Kini memiawnya sedikit merekah. Aku dibuat makin tak tahan. tongkolku terus mengeras semakin tak terbendung.

Aku mulai memberanikan diri untuk menjilatin memiawnya. Kudekatkan wajahku. Dan mulai kujurkan lidahku. Aku mulai menjilati permukaan memiaw vina. Vina tidak menolak sedikit pun, bahkan ia makin merenggangkan kakinya. Lalu aku mulai mempermainkan lindahku di antara kedua belahan vagiannya. Kumasukkan lidahku semakin dalam. Kini lindahku sudah benar benar ada di antara dua belahan kenikmatan gadis cilik itu.

“ahhh..... geli banget kakak....... memiaw Vina diapain?? Enakk bangettt kak........ Geliii......” Vina mulai meracau. Nampaknya gadis cantik imut ini makin dirasuki kenikmatan. Aku pun semakin semangat untuk merangsang Vina. Sementara itu, Nando masih saja asik mengulum putingnya Vina. Lalu aku jadi penasaran bagaimana bila kukecup bibirnya Vina. Aku pun menghentikan aksiku di memiawnya.

Kudekatkan wajahku ke wajah Vina. Seakan mengerti, nando menghentikan aksinya dan meminggir memberikan ruang padaku untuk berinteraksi lebih intim dengan vina.

“vin, boleh ga kakak memeriksa bibir vina dengan bibir kakak?” bisikku di telinga vina.
“boleh kak....” jawab vina lirih.

Tanpa menunggu lama aku mulai mengecup bibirnya, lalu mulai kukulum dan kumainkan lidahku. Tanpa kuduga Vina juga membalas permainan lidahku. Ia bahkan membuat gerakan gerakan menyedot. Sudah mahir sekali, sudah berpengalaman. Artinya, Vina ama Nando sudah sering berciuman.

Nafas vina makin tersengal sengal. Safsunya sepertinya semakin memburu. Terlebih saat kulumat mulut dan bibirnya, tanganku pun tak lupa mengerayangi daerah toketnya terutama pusat sensitifnya di bagian puting. Aku pun semakin tak tahan diliputi nafsu yang makin bergelora. tongkolku dari tadi sudah sangat keras. Tapi aku belum buka baju.

“Kak, boleh ga Eci ikut main dokter dokteran?” tiba tiba Eci gadis 9 tahun itu bertanya memecah konsentrasiku.
“mhmmm... terserah Eci deh, emang gimana caranya?”
“Eci periksa tongkol kakak... boleh ga dibuka celananya?” sebuah permintaan mengagetkan terlontar dari mulut Eci. Aku pun hanya bisa mengangguk, senang bercampur kaget.

Lalu Eci segera memelorotkan celandaku, lalu CD ku. Ketika dibuka, langsung saja tongkolku yang sudah tegang dari tadi tegak berdiri. Saat aku masih sibuk berciuman dengan Vina, Eci mulai menentuh kemaluanku. Gadis 9 tahun itu mulai memaju mundurkan, mengubah sentuhan menjadi kocokan. Aku pun semakin disergap kenikmatan.

“egghhh............ enak banget sayang........” erangku. Eci hanya tersenyum sambil terus melanjutkan aksi kocokannya. Sementara itu, Nando yang dari tadi menghentikan aksinya kepada Vina mulai tak tahan pula untuk hanya menonton. Ia pergi ke belakang Eci yang sedang mengocok tongkolku. Nando mulai membuka kaos eci, eci rupanya belum pakai bra. Toket eci boleh dikatakan hampir belum tumbuh. Hanya sedikit tonjolan saja.

Aksi Nando tak hanya sampai di situ. Ia pun mulai memelorotkan rok mini dan CD yang dikenakan Eci, dan nando pun membuka seluruh celana dan bajunya sendiri. Nando pun mulai merangsang Eci dengan menyentuh toket dan veginya dari belakang.

Aku pun tak mau tinggal diam. Aku segera melepaskan rok pendek Vina yang masih melilit. Aku pun membuka bajuku sendiri. Kini kami berempat sudah telanjang bulat. Saat kulihat memiaw Eci, tak kalah mungilnya dari Vina, bahkan bisa dikatakan lebih mungil, mungkin karena Eci terpaut usia 1 tahun lebih muda dari Vina. Suasana yang tak pernah kubayangkan seumur hidup ini membuat aku semakin diliputi hawa nafsu. Tak lagi terbersit bahwa gadis gadis itu masih belia dan sesungguhnya belum waktunya untuk melakukan perbuatan seperti yang sedang terjadi ini.

“sayang, boleh ga aku memeriksa memiaw kamu dengan tongkol kakak?” akhirnya aku menanyakan itu kepada Vina karena sudah tak tahan lagi.
“Vina belum pernah diperiksa seperti itu kak.. Eci juga... sakit nggak kak?” jawab vina
“kakak periksanya pelan-pelan sayang. Nanti kalau sakit bilang aja...” ujarku.
“ya udaah deh kak....” jawab Vina membuatku menjadi sangat riang.
“tapi sebelum memiaw kamu kakak periksa, Vina periksa dulu yah tongkol Nando dengan mulutmu sampai keluar...” pintaku. Vina pun mengangguk.

Vina pun mulai mendekati Nando. Sementara nando masih sedang asik merangsang Eci. Lalu Vina mulai mengulum tongkol nando. Aku terus memperhatikan.

“ahhhhhh.... vina sayang......” erang nando. Ia mulai memejamkan matanya. Vina makin mempercepat aksinya. Nando dibuat makin merem melek. “terusss sayang....” nando kembali menerang. Tangannya mulai menggelepar gelepar, kadang mencengkeram Eci dari belakang. Tapi ia masih terus berupaya untuk sambil tetap merangsang Eci dengan memilin puting dan menyentuh vaginanya.

“sebentar lagi keluaar sayanggg.....” nafas nando semakin tersengal sengal. Tapi Vina tak mau melepaskan emutannya. Dan akhirnya “crotttt... crottttttttttt.......” air pejuh Nando yang masih sedikit itu melumuri mulut Vina. Sementara itu Nando mencengkeram erat Eci melepaskan kenikmatannya. Sehabis itu nando terkapar di ranjang kecapaian dengan nafas yang masih terengah engah.

“nah sekarang gantian kakak meriksa vagina Vina yah pakai tongkol kakak?” ucapku pada Vina. Vinanya menjawab dengan tersenyum sambil mengangguk.
“kalau Eci mau skalian diperiksa ga?” aku menawarkan pada Eci.
“mau kak...” jawab Eci.
“ya udah sekarang kalian berdua berbaring ya... kakak periksa Eci dulu, abis itu baru Vina,” aku memberikan arahan. Sengaja kudahulukan Eci karena kuyakin vagina Eci lebih kecil sehingga pasti lebih susah ditembus. Kedua gadis cilik itu menduruti arahanku.

Aku pun mulai mengangkah di atas tubuh mungil Eci yang sintal mirip bintang sinetron Amanda itu. Kusibakkan sedikit vagina mungilnya dengan tanganku dan mulai kusentuhkan kepala tongkolku di atas vaginanya. Lalu kutekan masuk perlahan lahan. Benar saja lubangnya masih sangat sempit. Lalu kubantu menyibakkan memiawnya dengan jariku. Beruntung vagina Eci sudah agak basah yang artinya dia juga sudah terangsang. Ini memudahkan tongkolku untuk menyelusup ke dalam. Walaupun demikian aku tetap menggerakan tongkolku dengan perlahan.

“sakit ga sayang?’ tanyaku pada Eci.
“nggak kok kak... terusin aja..” ucapnya.

Akupun makin memasukkan tongkolku. Semakin rasanya dalam semakin susah. Sepertinya tongkolku terperangkap di antara lubang kenikmatan yang begitu sempit. “ahhh.... kak.....” erang Eci.
“ada apa sayang?”
“agak ngilu kak....”
‘tahan bentar ya sayang ntar juga jadi enak...” ucapku meyakinkan. Aku memasukkan tongkolku semakin perlahan, jangan sampai menimbulkan trauma di vaginanya. Kini tiga per empat tongkolku sudah ambles.

“Gimana sayang sekarang masih ngilu?” tanyaku.
“udah nggak kak, masukin aja semuanya tapi pelan-pelan... “ jawab eci dengan lirih.
Lalu aku mulai memasukkan lagi tongkolku dengan perlahan. Akhirnya tongkolku bisa terbenam seluruhnya di daalam memiaw yang mungil itu. Lalu aku mulai mengeluarkan tongkolku dan kemudian memasukkan lagi secara berulang ulang. Gesekan di antara tongkol dan dinding vagina membuat sensasi kenikmatan yang luar biasa.

“kakak... enak banget meriksanya...... ahhhh.....” erang Vina. Rupanya rasa ngilu yang tadi dirasakan eci sudah benar benar hilang dan berganti kenikamatn yang mulai menjalar gadis cilik itu.
Aku pun demikian. Semakin aku memaju mundurkan tongkolku, kenikmatan yang kurasakan semakin bertubi tubi. Semakin lama dorongan air kenikmatan semakin mendesak di ujung tongkolku.

“ahhhhhh... kakakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk....................................” Eci menjerit sambil mencengkeram erat erat pingganggu. Rupanya gadis kelas 3 SD sudah sampai ke puncak kenikmatannya. Aku pun memeluknya erat. Lalu segera kegera kulepas tusukan tongkolku di memiawnya dan kukocok di atas mukanya. Dan “crooooootttttttttttttttttt.................. crotttt... crottttttttttttttt........”.... air pejuhku begitu banyak melumuri wajah gadis belia itu. Kenikmatan yang luar biasa baru saja kurasakan. Sesaat aku pun dilanda rasa lemas. Aku terkapar di samping Eci yang juga kecapaian. Meskipun saat kusetubuhi Eci tentunya masih perawan, tapi tak satu pun bercak darah keluar dari vaginanya. Hebatnya, dia pun tidak lama merasakan ngilu karena segera saja berganti dengan kenikmatan luar biasa.

Saat aku tepejam sambil istirahat, suara lembut Vina terdengar di telingaku.
“kak, vina juga pengen diperiksa kaya eci.....”
Akupun membuka mata perlahan sambil tersenyum. Yang kusaksikan ternyata Vina tak banyak memberikanku untuk sedikit istirahat. Tanpa menunggu persetujuan ia sudah ada di atas badanku dengan posisi duduk di betis.

Jujur kuakui saat itu aku sudah sangat lemas. Sudah berkali kali secara beruntun aku bercinta dengan orang yang berbeda hari ini, dan terakhir baru saja bercinta dengan Eci. Dan kini Vina gadis cilik kelas 4 SD itu memintaku untuk kembali bercinta. Ia sudah ada di atas betisku dan mulai menyentuh tongkolku.

"Sayang, bukannya kakak gak mau, tapi kakak udah lemes sekali..." Ucapku pada Vina. Jujur aku memang sudah sangat lemas, terlebih besok istriku Rara akan pulang jadi aku harus menyisakan stamina.
"Tenang aja kak, biar kakak nggak cape kakak diem aja. Biar Vina yang meriksa dan jadi dokternya.." Ujar vina ternyata tak bisa dihentikan.
"Tapi Vin..." Ujarku. Namun, sebelum aku melanjutkan perkataan, vina keburu mengocok tongkolku dengan perlahan. Aku hanya bisa memejam. Vina membuat gerakan yang pintar sekali. tongkolku yang tadi sudah terkulai lemas mulai bangkit. Gerakan mengocoknya semakin cepat meskipun kadang berhenti karena pegel. Dan penisku pun semakin keras.

Setelah bosan dengan mengocok, vina mulai mengulum penisku. Aku hanya menikmati, tidak melakukan reaksi sedikit pun sesuai anjuran vina. Lidahnya kini mulai menjilati pangkal tongkolku hingga kepala.
"Ahhhh sayang....." Aku tak bisa menyembunyikan rasa nikmat yang mulai hadir kembali. "Sayangggg...... Kamu pintar sekali....." Erangku lagi. Dan vina terus tak berhenti mengulum penisku.

Kini tongkolku sudah benar benar keras mendongak ke atas. Selanjutnya, vina kemudian membuat gerakan yang benar benar di luar dugaanku. Ia menggeser duduk menjadi di atas kemaluanku dan mulai mengarahkan penisku ke lubang kenikmatannya. Aku sungguh heran, gadis cilik yang menurut Nando belum pernah ia setubuhi tapi sudah nampak begitu mahir. Kini bagian kepala tongkolku sudah mulai masuk ke memiaw vina. Kurasakan tongkolku lebih mudah masuk ke memiaw vina dibanding eci, mungkin karena posisinya, di samping lubang memiaw vina yang sepertinya memang lebih besar.

Perlahan tongkolku semakin masuk ke dalam seiring posisi duduk vina yang dihentak semakin ke bawah. "Srlebbbbb......" Kini tongkolku sudah benar benar terbenam di memiaw vina.
"Shhhhh....... Ahhhhhhh....." Lagi lagi aku mengerang tak tahan. Terlebih vina mulai menaik turunkan badannya. Gesekan antara tongkolku dengan dinding memiawnya yang mungil menghadirkan sensasi yang luar biasa. Rasa lemas hilang sejenak diganti rasa nikmat yang makin menggelora.

"Vin, kakak udah ga tahannn......." Erangku. Kurasakan air penuhku semakin mendesak dan sebentar lagi akan keluar.
"Iya kakak sayang, kakak diam aja...." Jawab vina. Ia makin mempercepat gerakan menaikturunkan badannya. Dan "crottttttt..... crottttttt..... Crotttttt...." Sisa sisa air pejuhku hari itu melumuri lubang vagina Vina yang membuatku melayang ke puncak kenimatan di langit ketujuh.

Sepertinya vina sendiri belum klimaks. Tentu aku tak sampai hati untuk tidak memberinya puncak kenikmatan. Giliran aku untuk memuaskannya. Aku pun mengajak vina untuk berbaring di sampingku. Aku mulai menjilati toketnya yang baru sedikit tumbuh itu. Sementara tanganku mulai meraba vagina mungilnya. Jari tengahku kumasukkan, kucari kelentitnya, lalu kuusap usap dengan halus.

"Kakak... Geli sekaliii.... Shhhhhhh...." Vina mengerang. Aku terus mempercepat gesekan jariku di kelentitnya. Sementara lidahku menjilat jilat putingnya.
"Aaahhhhhhhhhhh........." Sambil memelukku erat vina menggigit telingaku. Akhirnya ia mencapai puncak kenikmatannya. "Makasih ya kak, meriksanya enak sekali," ujar vina. "Iya sayang," jawabku.

Sejenak setelah istirahat aku penasaran menanyakan apakah sebelumnya pernah bercinta atau belum. Dengan jujur ia mengatakan bahwa ia belum pernah bercinta dengan nando, namun ia sudah beberapa kali melakukan hubungan badan dengan kakak laki lakinya di rumah. Yang lebih mengagetkanku, bahkan vina juga pernah melakukan hubungan badan itu dengan dua kakaknya sekaligus, satu kakak laki lakinya itu yang kelas 2 SMA dan satu lagu kakak perempuannya yang kelas 1 SMP. Artinya kakak laki laki vina melakukan percitaan sekaligus dengan dua adiknya sendiri, luar biasa.

Setelah merapikan diri, aku pamit ke nando, vina dan eci untuk pulang. Tak lupa aku minta no hp Vina, karena kebetulan eci belum memiliki hp.

Aku pun bergegas ke gramedia untuk membeli buku buku yang sudah aku niatkan. Sepulang dari gramedia, aku mendapat telepon dari boss ku yang cukup menyebalkan. Besok ada rapat penting mendadak di Jakarta pagi pagi yang harus kuhadiri. Padahal besok hari kepulangan istriku Rara ke rumah. Segera kutelepon istriku untuk memberitakuhan kabar itu. Ternyata istriku sangat bijak, ia mempersilahkanku.
"Rinduku aku tahan sayang. Aa selesaikan dulu tugas kantornya, itu juga kan untuk aku..." Ucapnya.

Sebelum ke rumah, aku pun mampir ke stasiun kereta api untuk membeli tiket eksekutif bandung-jakarta besok jam 5 subuh.

Posted at 11:32 pm by pohonmangga
Comment (1)  

Wednesday, July 14, 2010
sepupuku tersayang

Perkenalkan namaku Roni (samaran) umur 25 tahun, bekerja pada suatu perusahaan Jepang di bekasi sebagai EDP.

Cerita ini bermula waktu aku masih SD kelas 5 dan mulai mengenal yang namanya seks. Itu juga pertama kali dengan adik sepupuku yang lumayan cakep lah.., ingat aktris sinetron "Dominique Sandra", seperti dia cantiknya.
Dia anak pakde ku yang tinggal di Jawa Tengah namanya .. Retno .. (8 tahun). (Sengaja aku kosongkan nama pertama dan terakhir, takut ketahuan kakak sepupuku yang lain. Hehehe..). Sedangkan aku tinggal di daerah Bekasi.
Waktu itu aku masih SD kelas 5 dan aku minta di sunat seperti kawan-kawan yang lain. Karena ku pikir udah saatnya aku disunat.

Biasanya seminggu sebelum disunat banyak keluarga dari bapak dan ibuku datang dan menginap juga sekalian membantu masak-masaknya. Nah, dari situlah aku mulai mengenal sepupuku. Pertama aku biasa saja karena kupikir dia masih sepupuku. Tapi kok kayaknya di semakin genit dan centil di depanku, tidak seperti sepupu cewek yang lain, ("yang katanya aku ganteng dan gagah dibandingkan cowok yang lain, katanya setelah aku "berhubungan" dengan dia"). Aku sih biasa saja, karena aku belum paham betul. Nah..

Puncaknya terjadi ketika malam sebelum aku disunat. Setelah semua orang tidur terlelap di rumahku, ada juga sih yang main kartu remi dan gaple, di luaran sambil begadangan dan ronda, yang padahal waktu itu juga aku pengen ikut begadang, tapi diomelin sama semua katanya, disuruh banyak istirahat supaya pada waktu di sunat tidak terlalu banyak mengeluarkan darah. Aku terjaga (mendusin) sekitar jam 01.00 malam karena ingin pipis. Setelah pipis aku melewati kamar dimana retno serta beberapa sepupu cewek yang lain termasuk adikku sendiri tidur.

Aku iseng ngeliat karena kebetulan lampunya mati maka aku jadi bebas. Aku juga ngga tahu tiba-tiba saja seperti ada yang menyuruhku untuk masuk ke dalam kamar itu. Lalu aku masuk dan kulihat retno tidur dibawah bersama adikku dan sepupu cewek lainnya menggunakan tikar, dia tidur dengan posisi yang agak menggairahkan dimana waktu itu dia memakai rok sedangkan kaki kanannya diangkat keatas sehingga terpampanglah paha mulus seorang anak kecil. Walaupun lampu mati tapi aku masih dengan jelas melihat paha dan CD-nya (walaupun remang-remang), karena masih ada lampu dapur yang nyala terang. Lalu aku lihat semua orang yang ada dikamar. Ah.. udah tidur semua.. iseng aku tidur dismping dia, karena kebetulan disamping kanannya kosong.. Sialan dia menurunkan kaki kanannya sehingga pahanya tertutup semua.

Sengaja aku tidak tidur karena diam-diam aku menarik rok nya sampai kedua pahanya yang mulus terlihat. Dan juga CD yang agak menggembung sedikit, walaupun belum ditumbuhi bulu. Tiba-tiba aku ngerasa ada perasaan aneh, dimana titit ku agak membesar, biasanya ini terjadi kalau aku bangun tidur dan langsung kencing, tapi ini lain. Ketika ku pegang, kok makin enak.. karena dari kecil aku termasuk anak yang cerdas dan cepat tanggap, maka dalam hal ini walaupun masih bingung kenapa, aku pun sudah bisa mencerna apa yang terjadi saat itu.
Lalu akupun bangun dan duduk didepan pahanya, dan terlihatlah sebuah CD putih dengan agak sedikit menggembung bagian tengahnya, walaupun belum ada bulunya. Dan juga dadanya yang sedikit menonjol menendakan bahwa dia agak bongsor. Nekat kudekati Cdnya, dan ku cium. Ah.. biasa saja. Tititku semakin tegang, dan ku sentuh di bagian tengah Cdnya, hangat.. lalu perlahan kuturunkan Cdnya, pelan dan sangat hati-hati takut dia terbangun. 1 centi.. lalu aku pura-pura tidur lagi.. melihat tidak ada reaksi kuturunkan lagi.. Lagi.. Dan lagi.. sampai mata kaki.

Dan.. saat itu pula dia bergerak.. aku gemetar, jantungku berdetak kencang sekali.. takut kalo dia bangun, teriak dan mengadukan hal ini pada semuanya. Tapi anehnya. Dia cuma menggeliat dan menaikkan kaki kanannya kembali tapi tidak penuh karena kaki kanan dan kiri terikat oleh Cdnya yang masih melingkar di mata kakinya. Melihat itu, aku segera melepas Cdnya dan berhasil..coy.. Kini didepanku terpampang sebuah pemandangan indah walaupun itu hanya vagina anak kecil tapi untuk seumuranku waktu itu membuat titikku semakin mengencang dan aku pun mengambil kesimpulan bahwa ini toh yang namanya terangsang, seperti yang aku baca di majalah-majalah Kartini, Femina, dll kepunyaan ibuku. Aku makin nekat dengan menciumi vaginanya yang mungil.. Ah..masih biasa juga.. tidak ada bau apa-apa. Tapi setelah dipikir-pikir.. nih enaknya pake senter, ya udah aku ambil senter di kamarku, senter kecil buatan bokap untuk aku, yang baterry nya cuma satu.

Dan jaman Sekarang pun aku punya tapi beli harganya +- Rp. 10000, merknya Energizer, udah ada yang jual dimana-mana. Terkadang kalo lagi bengong sambil ngeliatin senter kecilku, aku jadi tersenyum sendiri.
Setelah senternya kudapat, aku dekati dia lagi.. Masih dalam posisi yang sama. Kutunggu sebentar sampai semua terlihat aman. Lalu aku tiduran di sampingnya.. Kuamati wajahnya yang mungil.. busyet dah ternyata gua punya sepupu cantik buangeet.. Walaupun masih SD tapi tanda-tanda kecantikannya sudah terlihat. Mungkin karena udah keturunan kali ye.. He he he.. Ge eR dah Gua..
Wah kayaknya udah lelap banget nih retno, karena hanya terdengar nafasnya yang teratur dan lembut.. sialan bikin aku makin bernafsu aja..

Aku bangkit dan langsung kunyalakan senter, beruntung karena lampunya kecil jadi hanya diameter 3 centi saja, sinarnya. Lumayanlah untuk menerangi vaginanya retno.. eh.. dia bergerak dan melebarkan kedua pahanya, pucuk di cinta ulam tiba. Terlihat dengan jelas di kedua mataku, vaginanya yang masih merah dan ranum. Nekat kupegang dengan tangan kanan sedangkan kiri masih memegang senter. Kering..?? Aku colek terus aja.. eh.. terdengar nafasnya yang mulai tidak teratur.. Tapi kok mulai basah?? wah jangan-jangan dia ngompol nih.. tapi pas aku cium tanganku, ah.. bukan air kencing nih..air apa yak?? terus ku elus-elus vaginanya, lalu tanpa sadar aku langsung mencium dan menjilatnya.. Mmpphh..asin.. sial.. kok rasanya kayak gini sih?? ah.. peduli amat aku udah terlanjur terangsang.

Kudengar nafasnya mulai tidak beraturan tapi tidak berisik.. (unik kan). Lalu ku buka celana ku, karena aku masih kecil jadi belum pakai CD. Aku ngeliat tititku makin tegang dengan ujungnya yang masih tertutup oleh kulup. Dan sedikit keluar lendir.. aku makin heran lendir apaan nih..ku jilat.. kok asin juga sih.. Ku coba mencerna semua ini, tapi karena otak normal ku udah ditutupi oleh nafsu aku jadi tidak bisa berpikir secara teoritis. Yang ada saat itu hanya perasaan nikmat dan juga nafsu yang menggebu-gebu. Setelah puas menjilati vagina retno, yang sepertinya dia menikmati permainanku ini, aku lalu menurunkan kedua kakinya sampai lurus.
Lalu aku mulai merangkak di atas tubuh nya tanpa menyentuh tubuhnya sama sekali.

Setelah posisiku pas, aku turunkan tititku sehingga mendekati vaginanya. Kucoba masukkin, kok ngga mau masuk.. terus ku coba.. lagi..lagi.. ah capek.. susah juga, pikirku. Yah udah aku tiduran lagi disampingnya.. ah mendingan juga megangin vaginanya.. lagi asyik berfikir untuk melanjutkan aksiku, tiba-tiba dia menggeliat dan posisi tubuhnya miring menghadap diriku yang waktu itu aku juga sedang asyik menikmati wajahnya yang ayu. Di tambah lagi dengan kaki kirinya ditekuk ke atas sehingga sepertinya dia sudah pasrah untuk di setubuhi. Aku bingung.. Ku pegang lagi vaginanya.. wah kok tambah basah.. jangan-jangan dia tahu dan terangsang.. atau sedang mimpi sambil ikuta terangsang.. wajahku dengan wajahnya hanya berjarak 10 centi saja. Sehingga nafasnya yang berat dan menggebu terdengar sangat jelas. Aku berusaha bernafas dengan pelan supaya dia tidak terbangun dan kaget.

Tapi tiba-tiba tanpa kuduga dia tersenyum dan tangannya bergerak memegang tititku, Oouuppss.. ada apa nih.. aku kaget setengah mati.. ah mungkin nih anak ngga sadar kali yak.. Tapi setelah kuperhatikan mukanya, dia masih sambil tersenyum dan mulai membuka kedua matanya pelan-pelan. Aku makin kaget dan takut, kalau itu cuma tipuan dia setelah itu dia teriak.. lalu aku pun bangun sambil merapikan celanaku, tapi sebelum aku berjalan kaki ku ditahan oleh tangannya retno, sambil tangan kirinya memberi kode untuk kembali tidur disampingnya.
Aku menggeleng, tapi sambil tersenyum dia tetap memberi kode, dan aku pun seperti tersihir lalu aku tidur disampingnya kembali.

Kami tetap diam untuk beberapa saat.. sampai dia akhirnya berbisik kepadaku dengan bahasa bekasi karena dia tahu aku ngga bisa bahasa jawa, "Mas,.. akhirnya aku kesampean juga bisa pegang tititnya mas". "Lo, kok kamu ngomong gitu, sih", jawabku. "Entar aja aku ceritain, sekarang elus-elus lagi punyaku kayak tadi", jawabnya. Bagai disamber geledek di tengah malam, antara seang, kaget, gembira bercampu jadi satu, kuturuti kemauan dia. Tanpa di suruh dua kali aku langsung mengelus-elus vagina retno, dan dia sepertinya mendesis keenakan. Aku ngga peduli kenapa dia mau seperti, yang penting aku juga sudah terangsang berat.

"Ehmm..eesstt.. eennaakk mas..uuhh"..
"Hei..pelan-pelan, jangan berisik..", jariku makin liar menggosok vaginanya yang makin lama makin membanjir. Tangannya pun mulai meremas dadanya sendiri. Semua kami lakukan dengan sangat hati-hati takut membangunkan yang lainnya.
"Mmmass.. yang cepet dong.. Eesstt.. eesstt.. aahh..".
"Gila nih anak.. kecil-kecil udah pinter yang beginian, belajar darimana nih anak yak?", pikirku dalam hati.
Tak lama kemudian, setelah sekian lama aku menggosok vaginanya yang membuat tanganku pegal, dia merapatkan kedua pahanya..
"Ret.. tanganku jangan dijepit dong..", kataku pelan.
"Aakkuu mauu naympee, mass", katanya
"Nyampe kemana.. ret, ngaco kamu"
"Ohh..sstt.." sseerr..sseerr.. kurasakan jariku sepertinya ada cairan yang keluar lumayan banyak dari vaginanya.
"Kamu ngompol ya..?", kataku
"Bbb bukann Mass, ituu namanya cairan kenikmatan", jawabnya
"Ahh.. Eesstt", erangnya.

Kembali aku dibuatnya berpikir, kenapa nih anak.. Aku masih bingung..
Lalu kedua pahanya mulai mengendur dan perlahan membuka.. Tercium aroma yang aneh di udara kamar.. " Bau apa nih, ret..", tanyaku. "Itu namanya aroma punyaku", jawabnya. Aneh..??!!
Tak lama setelah dia orgasme (yang aku baru tahu setelah aku SMP), jariku di lapnya dengan menggunakan CDnya. Kami terdiam beberapa saat, sampai kemudian dia kembali memegang tititku yang sudah lemas, entah kapan aku juga tidak merasakan kapan tititku ini mengkerut.

"Mas, kok tititnya lemes sih"
"Mana aku tahu.."
"Ya udah sini retno bangunin lagi"
"Emangnya kamu bisa"
"Sini.. serahkan padaku"
Leherku dielus-elus dengan tangannya yang lembut, dicium, dijilat, yang membuatku merasakan sensasi yang aneh, asing tapi kok enak dan nikmat, sepertinya aku tak mau dia berhenti melakukannya. Tindakannya itu ternyata membuat tititku kembali menegang, dan rupanya dia juga sudah mengetahuinya dengan memegang tititku.
"Tuh.. kan dah bangun lagi"
"Trus aku mau diapain, sih"
"Pokoknya Mas tenang aja, dijamin enak deh"
"Terserah koe lah..", jawabku.

Lalu dia membuka resleting celana ku dan mengeluarkan tititku yang sudah menegang dengan hebat. "Ih.. lucu juga yah.. titit anak cowok kalo belum di sunat". "Cerewet luh..", kataku agak kesal karena dari tadi dia selalu menjatuhkan ku terus. "Jangan marah dong, Mas". "Nih kalo diginiin enak ngga?". Tangannya yang mungil mengocok-ocok tititku, sambil membuka kulup (kulit atas) bagian ujung tititku, sehingga terlihat seperti topeng Ksatria Baja Hitam kalo dibalik, apalsgi kalo dikasih 2 mata pake spidol, persis banget..!! (kata teman-teman sebayaku yang sudah disunat sewaktu kami mandi di kali, dan saling memperhatikan tititnya masing-masing).

"Ret.. eennaee rekk..".
"Hmm sstt..ohh.."
Tidak lama dia bangun dan kepalanya sudah berada diatas perutku, "Mau ngapain kamu ret.."
"Nikmatin aja yah Mas..". Gila dia mengulum tititku, sampai aku blingsatan keenakkan.
"Cah.. gemblung koe..", kataku pelan..
"Men.., sing penting ayu, akeh sing naksir karo aku, wee..", katanya..
Sialan juga nih bocah..
"Ohh.ret .. eennakk.. "
Sepertinya dia makin cepat mengulum penisku, sangat cepat, hingga aku merasakan sensasi yang sangat luar biasa yang baru pertama kali kurasakan seumur hidupku. Perasaan apa nih.. Dan sepertinya juga aku pingin pipis.
"Ret.. Aku pengin pipis nih".
Tapi dia cuek aja, sambil terus mengulum penisku, kulihat bibirnya yang mungil naik turun memasukkan dan mengeluarkan tititku.
"Akhh..Eeuuhh.. ", croott..crroot.. mau ngga mau aku akhirnya pipis juga.. tapi kok pipis rasanya lain, sangat nikmat. Dia terus mengisap sampai habis air mani ku habis..(semua ku tahu sampai detail setelah aku menginjak SMP).
Aku lemas dan tak berdaya, langsung saja aku terlentang, sementara retno sepertinya pergi keluar kamar.
"Enak ya, Mas..", katanya manja, setelah dia kembali ke kamar..
"Dari mana kamu, Ret?"
"Dari kamar mandi, buang mani, Mas".
"Mani? apaan tuh?"
"Ih.. Mas.. kok ngga tau sih.."
"Ya udah kita tidur lagi besok kan Mas mau disunat entar banyak darahnya lo kalo kurang tidur".
Dia pun mencium pipiku, aku pun merespon tindakan dia dengan mencium pipinya juga.
Aku pun bangkit, dan memakai celanaku.. kulihat tititku masih ada beberapa cairan yang saat itu aku ngga paham cairan apa itu.
"Ret,.. kapan kau mau ceritain semua ini", tanyaku.
"Entar.. aja.. masih banyak waktu.. Aku libur sekolah hampir 1,5 bulan, entar aja kalo Mas udah di sunat, nanti aku ceritain semuanya", jawabnya.
"Yo..wis..karep mu lah..", "met bobo yak..
"Met bobo juga Mas"..

Tanpa sadar kulirik jam sudah jam 03.00, berarti lama juga aku bercumbu sama retno.. aku harus tidur supaya besok pagi aku ngga cape dan ngantuk.
Aku pun ke kamar mandi untuk pipis dan pada saat pipis aku merasakan hal yang biasa saja, aku semakin bingung kenapa tadi pada saat aku pipis di mulut retno kok aku ngerasa enak dan nikmat, tapi kok sekarang biasa saja. Ah .. bodo amet.. Aku pun kembali ke kamar dan terlelap..

Hingga besok pesta sunatanku meriah sekali, aku berangkat ke mantri sekitar jam 06.00, dimana aku masih sangat terlihat sangat ngantuk, aku sempat di marahin sama ibu karena aku kurang istirahat, beruntung semua ngga ada yang tahu, kecuali kami berdua.

Ternyata or-tu ku mengundang banyak orang untuk hadir dalam pesta sunatanku. Banyak teman-temanku yang hadir, bahkan ada juga teman cewek yang nekat ingin ngeliat tititku yang udah disunat. Tapi ketika kulirik retno yang memang dari aku datang dari mantri dia selalu menemaniku, terlihat sangat tidak suka terhadap teman cewekku, sambil mempelototi cewek itu. Yah udah teman cewek ku tidak jadi ngeliat, ada satpamnya sih. Hehehehe..

Hingga aku sembuh retno masih menginap dirumahku padahal or-tunya sudah pulang ke jawa, katanya masih betah main sama adikku, padahal dia kurang begitu akrab sama adikku hanya sebatas main bekel, boneka, congklak, masak-masakan, dll.

Ternyata setelah waktu pas dia menceritakan kepadaku kalau dulu dia di kampung nya di ajarin oleh teman cowoknya yang katanya naksir sama dia, anak SMP kelas 2. Gila yak tuh cowok.. sepupu gua di mainin.. katanya dulu dia ajak main dokter-dokteran, trus sampai begini deh.. Untung aja retno kaga kecewa, karena setelah itu aku bertekad untuk melindungi retno dan sampai sekarangpun aku masih menjalin hubungan yang makin hangat, walaupun aku sempat berpikir untuk bersenggama dengannya, aku takut karena dia masih sepupuku, kami berkomitmen hanya sebatas petting saja, dan jangan lebih.

Ok.. rumahseks readers, masih banyak petualangan bercintaku dengan retno sepupuku, kayaknya episode selanjutnya aku dan retno bersex ria ketika aku SMA kelas 1. Pada saat aku liburan sekolah. Tunggu aja episode selanjutnya. Kritik dan saran sangat membantu, bagiku yang masih terbilang sangat awam dalam hal mengarang, karena dari dulu pelajaran bahasa indonesiaku dalam mengarang selalu standar, tidak pernah menakjubkan, hanya saja yang eksak seperti IPA, Matematika dan Or-kes aku selalu terlihat menonjol dibandingkan dengan teman-temanku yang lain..

NB: oh ya.. si retno nih punya lagu favorit, tahu lagu "Nenek moyangku Seorang Pelaut", mungkin bagi yang pernah ngalamin SD, tahu lagu ini, seperti ini, "KAKEK MOYANGKU SEORANG PELAUT, PUNYA SENJATA DI BAWAH PERUT, BISA MENGEMBANG, BISA MENGKERUT, SEKALI TEMBAK, CRUUT, PERUT CEWEK GENDUT", coba readers nyanyiin lagu ini deh, pasti akan tertawa.. bagi yang tahu dan kenal syair ini mungkin ada hubungannya sama aku atau retno..(dah..).

Posted at 04:33 pm by pohonmangga
Make a comment  

tetangga yang asikkk

Sinta adalah tetangga sebelahku yang sudah duduk dikelas dua SMA. Usianya 17 tahun tahun dengan wajah oval rambut sebahu kulit putih mulus dengan badan yang begitu langsing namun payudaranya lumayan proporsional, sekitar 34B. Wajahnya cantik dan manis, bahkan kalau tersenyum bagai bidadari.banyak pemuda dikampungku yang ingin mendekatinya, karena dia termasuk salah satu kembang di kampung bahkan di sekolahannya.Sinta adalah seorang gadis pendiam dan jarang sekali bergaul dengan teman sebayanya.Sebenarnya aku sudah mengenal Sinta sejak dia masih duduk di kelas 3 SMP. Waktu itu aku masih ingat betul dan payudaranya belum kelihatan tumbuh. Kedua orang tua Sinta telah porak poranda dan dia diasuh oleh neneknya. Agaknya ini salah satu faktor yang membuat dia memiliki satu kebiasaan buruk yaitu suka mencuri. Satu kebiasaan yang sangat disayangkan untuk cewek yang secantik dan semanis dia, mungkin himpitan ekonomi yang membuatnya menjadi begitu, karena aku tahu betul keadaan ekonomi neneknya tidaklah begitu cukup dengan rumah yang sangat sederhana itu. Sinta sering main ke tempatku bahkan sering sekali masuk ke kamarku untuk bermaun dengan adik sepupuku yang juga cewek yang masih duduk di bangku SD. Mungkin dia sedikit malas bergaul dengan teman sebayanya juga karena rasa minder dengan keadaan dirinya.

Dahulu sewaktu masih SMP seringkali Sinta bermain dikamarku dengan adik sepupuku dan tak jarang pula dia sampai tertidur disana.Kebiasaannya memakai celana pendek dan sering tertidur dikasurku pada siang hari waktu dia masih SMP dulu dengan paha mulusnya yang terlihat jelas cukup membuat otakku berpikiran ngeres, apalagi ketika ia bermain dikamarku pada saat aku menonton televisi tanpa dia sadari sering terlihat CD-nya cukup membuyarkan konsenstrasiku menonton televisi. Sampai sampai aku sering beronani mengandaikan jika aku suatu saat dapat memperkosa atau menikmati dirinya, namun semua itu hanya aku bawa dalam mimpi.

Akhir-akhir ini aku sangat heran dengan seringnya uangku yang aku taruh dalam dompet selalu berkurang alias hilang. Pada awalnya hanya lima rbuan, namun lambat laun jadi terus meningkat menjadi dua puluh ribuan bahkan lima puluh ribuan. Rupanya dugaanku tidak jauh meleset bahwa Sintalah penyebabnya. Aku sudah cukup faham sekali dengan kebiasaan buruknya melaui cerita cerita tetangga tentang dia. Siapa lagi kalau bukan Sinta? dia masih sering masuk ke kamarku dan bermain dengan adik sepupuku disana. dia juga yang sering menghabiskan minuman soft drink di kulkas kamarku yang sudah terbuka tutup botolnya. Tiba tiba ide setan melintas dibenakku.

Aku sengaja membeli sebuah obat perangsang dan aku taruh dalam botol fanta yang telah aku siapakan. siang itu sepulang sekolah seperti biasa Sinta berpura pura mencari adikku, padahal seharusnya dia sudah tahu kalau setiap hari Sabtu dan minggu adikku tidak pernah dirumah alias pergi kerumah neneknya bersama ayah dan ibuku, dan aku tahu apa sebenarnya maksud Sinta masuk kekamarku. Pasti dia akan berlagak menonton televisi sampai aku tertidur siang dan dia akan memulai aksinya mengambil uang dari dompetku pada saat aku tertidur. Namun aku telah menyiapkan semuanya dan dompet kutaruh dalam celana yang aku gantung ditempat yang terlihat.

" Siang mas, Anto..." sapa Sinta " Nita mana...?" , "Loh ini kan hari Sabtu masa lupa seh..?" jawabku.
"Oh iya ya Sinta lupa mas, berarti sendirian saja donk sekarang..?" tanyanya sembari membuka kulkas kamarku. Aku hanya mengangguk berpura pura cuek menonton televisi
" Mas ini buat sinta aja ya fantanya yang masih banyak Nita haus capek pulang dari sekolah nih..kan udah dibuka...."
Sekali lagi aku mengangguk berlagak cuek, namun dalam hatiku aku bersorak kegirangan Kena loh..!!!

Sejurus kemudian aku berpura pura ketiduran seperti biasanya. Selang lima belas menit aku melihat mukanya yang manis dan putih mulai memerah seperti kepanasan, nah ini pasti pertanda dari obat itu yang mulai bekerja. Dan benar saja dugaanku, karena tidak tahan tahan dia segera berkasi merogoh dompetku selang setengah jam kemudian.

Perlahan dia mulai bergerak menuju ke celana yang aku gantungkan dan kubiarkan dulu dia mengambil dompetku. Begitu dia memegang dompetku aku segera terbangun dan membentak dia.

"Ooooo.....jadi kamu ya yang selama ini mengambil uangku hah..????!!!" bentakku.
Sinta menggeragap, dia tidak menyangka sama sekali rupanya. Wajahnya yang putih dan sudah sedikit kemerahan itu tampak pucat keringatan, SSs..ah betapa cantik dan manisnya wajah itu seperti tampak lebih menggairahkan, dan aku semakin berani karena jebakan ini sebenarnya sudah kupersiapkan dengan matang sebelumnya.

"Ehh..anu..mas..anu kok ...sebenernya Sinta....."
"Sudah jangan banyak alasan!!! dasar kamu ya, kamu tau gak selama ini klo aku selama ini sudah sangat jengkel dengan seringnya uangku yang selalu hilang!! rupanya kamu ya malingnya, ck ck dasar...!!!"
Sinta terdiam dan semakin takut ketika aku menatap tajam kewajahnya, dia hanya tertunduk gemetaran.

"aku tidak mau lagi ada maling dirumah ini, sekarang juga aku akan lapor ke pak Rt dan polisi, biar tahu rasa ya kamu dasar maling..!!!"bentakku dengan ekspresi kuseram seramkan

Sinta langsung memeluk kakiku dan mulai menagis

"jangan mas.. jangan lapor mas .... kasihan Sinta mas ...kasihan nenek malu nanti.."
Aku pura pura pura terdiam dan Sinta masih menangis tertahan memeluk kakiku
" tolong Sinta mas... Sinta memang salah.. Sinta ngaku mas... tapi tolong jangan lapor ke polisi..tolong mas..maafin Sinta..." Sinta terus memohon.

"Untuk apa kamu mengambil uangku hah..?!" tanyaku " Maafin Sinta mas Sinta butuh seragam baru dan buku pelajaran, dan nenek tidak punya uang mas.." tangisnya sambil memeluk kakiku " maafin Sinta mas ,...Sinta janji tidak lagi'

"enak saja kamu meminta maaf begitu saja, sudah berapa uangku hilang terus .. ada kalau empat ratus ribu enak saja kamu begiutu saja meminta maaf...!!"

Sinta hanya terdiam sambil menangis.Tidak beranjak dari kakiku. Aku segera menutup pintu kamarku.

"baiklah aku maafin tapi ada satu syarat yang mesti kamu lakukan.."

Sinta hanya memandangku sejenak penuh harapan. lalu perlahan aku angkat kedua tangannya dan aku dudukkan dia di tepi ranjangku. Aku usap air matanya,dan dia sedikit terkejut dengan sikapku.
"jadi mas Anto mau maafin Sinta...?" aku tersenyum dan menjawab. "tentu saja Sin, asal mas boleh mencium kamu...boleh tidak..?" tanyaku dengan ekspresi lembut.

Sinta menangis sesenggukan dan tertunduk, aku ambilkan air putih yang sudah kupersiapkan untuknya dan sebenarnya air itu juga sudah kucampuri dengan obat perangsang juga. " Ini, minumlah Sin biar kamu sedikit lebih tenang..." Sinta menurut.

"ayo habiskan ya sayang..." dan Sinta tidak berani menolaknya.

"Sekarang mas cium kamu kamu ya...?" Sinta hanya terdiam...MERDEKA !!! sorakku dalam hati. penisku mulai berdiri ketika aku mulai menciumi bibirnya yang tipis dan merah alami itu. Sinta tidak membalas ciumanku, dia hanya terpejam, hanya saja aku lihat mukanya kini lebih memerah.

Aku sudah tak tahan lagi...tubuhnya yang seksi dan kecil itu segera aku banting saja ke kasurku, dan Sinta tentu saja terkejut. " Mas Anto apa apaan ini...? Sinta tidak mau mas .....tolong jangan mas...."

"Ooo jadi kamu mau aku melaporkan saja begitu..??" Sinta terlihat kebingungan. tanpa membuang waktu aku segera menindihnya dan meremas buah dadanya yang mulai tumbuh dan padat. "mas...jangan..." rintih Sinta tapi dia tidak berani melakukan perlawanan, dan aku semakin kesetanan, dengan paksa aku segera membuka kaos ketat Sinta dan terlihat buah dada yang terutup Bh hitamnya. Ah ternyata diluar dugaanku... buah dada itu terlihat jauh lebih putih dan padat dan lebih indah dari bentuk yang selama ini aku bayangkan. Sinta seperti tersadar dan dia langsung menyilangkan kedua tangannya didada. "mas....jangan mas Anto tolong mas..." aku tidak perduli ketika kedua tangannya tersilang didada aku segera melorotkan celana kolor pendeknya sekaligus denga CD-nya, Sinta terkejut dengan pergerakanku yang cepat dan kembali dia kebingungan.

"Ssshh...sin..lebih baik kamu diam saja ya sayang, jangan bikin aku marah lagi ya..?"
Rayuku sembari mencium bawah telinganya . Kurasakan air mata Sinta mengaliri pipiku namun aku semakin tak perduli, tangan Sinta aku silangkan dari dadanya pelan pelan namun dia sedikit menolak, PLAK!!! aku menapar pipinya " sudah kubilang jangan melawan..!!'" Sinta semakin pucat.Kuangkat pelan pelan lagi tangannya dari dadanya yang masih terutup BH itu, kali ini dia tidak berani melawan lagi, aku segera melepas Bh Sinta dan mulai mengulum kedua kedua putingnya yang kemerahan dan masih nampak kecil itu. Kali ini Sinta memejamkan matanya, walaupun tidak berani melawan lagi dia berusaha membanting tubuhnya kekiri dan kekanan, entah karena menahan rangsanganku yang mungkin pertama untuknya atau mungkin karena rasa geli yang tak tertahan karena kumainkan lidahku menyelusuri buah dada dan putingnya. kali ini dia menatap nanar padaku entah apa yang ada dipikirannya entah takut , marah jadi satu dalam hatinya namun aku sudah tidak perduli. persetan dengan semua itu.

Aku segera melepas seluruh pakaianku dan Sinta hanya pasrah memandangiku diatas tubuhnya ketika aku melepas baju. Mungkin dia sudah terangsang juga pikirku. tanpa membuang waktu lagi segera kubuka kedua paha kecil mulusnya, namun Sinta agak menolak dan tangannya menutupi vaginanya. Dia menggeleng perlahan sambil melelehkan air matanya dan memohon sekali lagi padaku...

"Mas Anto... sudah cukup ya menciumnya... sinta takut mas..."
"Sinta kan sudah mengijinkan mas Anto menciumi Sinta.." rajuknya

"Diam kamu...atau mau kamu aku pukul...?" kataku sambil mengepalkan tanganku diwajahnya. Sinta terdiam...

"Sekarang aku mau mencium inimu...buka...!!" bentakku.

Sinta kebingungan dan tanpa menunggu persetujuannya aku langsung menyibakkan kedua paha kecil miliknya. Luar biasa...!!!! pekikku dalam hati, bulunya masih jarang sekali, bahkan bentuknya pun lebih kecil dari yang kuduga atau kubayangkan sebelumnya. dan aku segera menjilati bibir vaginanya yang wangi sembari kedua tanganku sesekali memainkan buah dadanya. tatapan Sinta kini terlihat kosong membuat aku semakin liar saja. Vagina Sinta terus aku jilati sehingga terasa mulai asin pertanda bahwa vaginanya mulai basah oleh cairan kewanitaannya, dan jilatanku sekarang kuarahkan bagian klitorisnya. Aku sengaja membuatnya tersiksa dengan rangsangan kenikmatanku, kali ini Sinta tampaknya mulai menyerah. sesekali lidah nakalku mencoba menjulur ke dalam liang senggamanya namun tertahan oleh sesuatu sehinga tidak dapat masuk lagi, Ah Sinta betapa beruntungnya aku...ternyata kamu memang masih perawan..!!!

"SSsshh..oouwh..mas jangan mas.... Sinta ....awh ...aduuh mas...Sinta..." katanya terbata bata. kali ini dia terpejam seperti terbius rangsanganku. Gerakan badannya mulai terlihat seperti penari erotis yang sedang memamerkan keindahan tubuhnya, sepertinya dia sudah mulai melupakan semuanya tadi dan hanyut dalam permainan asmara.

"Mas Anto...aaaahh..mas Sinta..." dia terus melenggokkan tubuhnya ..bahkan semakin berani, mungkin ini juga termasuk dalam obat perngasang yang aku berikan ke dia.. Tiba tiba dan tanpa disangka Sinta menjambak rambutku dan menekan kepalaku sehingga wajahku terbenam diselangkangannya, tubuhnya tergetar hebat dan dia melenguh panjang... rupanya dia telah mengalami orgasmenya yang pertama.

tanpa membuang waktu lagi aku segera mengarahkan penisku kedalam liang senggamanya. penisku termasuk besar, jadi pada awal mulanya aku sedikt ragu apakah bisa masuk atau tidak ya kira kira..? namun aku segera ingat kata kata joni temanku bahwa sebesar apaun penis lelaki pasti masih dapat masuk ke dalam liang senggama wanita, jadi aku yang sudah tidak tahan lagi untuk segera membobol keperawanan Sinta yang sudah lama aku impikan semakin nekat.

Penisku tegak dan keras mengarah ke liang senggama Sinta, dan tampaknya gadis itu sudah pasrah. Aku sempat melihat dengan jelas cairan kewanitaannya sampai mengalir dibawah vaginanya yang mungil pertanda dia sudah terangsang hebat. Cairan itu mengalir antara anus dan vaginanya. Aku mengusap cairan itu dengan penisku agar lebih licin dalam melesakkannya nanti.

Penisku sudah ada dibibir vagina sinta, gadis itu masih terdiam pasrah, hanya saja setiap kali ketika aku mencoba menekan penisku dia selalu sedikit mundur kebelakang sambil meringis menahan sakit.

"Tenanglah sayang... tidak sakit kok....Sssst...sebentaaar saja ya sayang...?!!" bujukku. Aku masih mencoba sabar karena aku tahu dia masih perawan, dan Sinta hanya mngangguk pelan.
Sinta sudah tidak begitu mundur lagi sekarang seperti tadi sehingga aku agak susah mengejarnya. dia mencoba pasrah, namun setiap kali aku mencoba menekan pasti selalu meleset kebawah. Sampai aku jadi bingung, mana yang benar cara memerawani? waktu basah atau kering? kalau basah kenapa licin dan selalu meleset begini..?

setelah sekitar sepuluh menit aku mencoba sambil tanganku terus memepermainkan klitorisnya usahaku mulai membuahkan hasil. Kepala penisku mulai merasakan sebuah lobang yang terasa kecil, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu terus kutekan penisku dan aku merasakan lobang itu mulai kumasuki perlahan lahan.

Drrt...Drrrt...sedikit demi sedikit penisku merangsek vagina perawan milik Sinta yang sempit, oouwh sungguh sensasi yang luar biasa diujung kepala penisku. Dinding vagina yang rapat sekali dan hangat itu mulai bisa kurasakan sedikit demi sedikit menjalari penisku. satu senti... demi satu senti menjalari penisku..kehangatan dan sensasi itu Aaaah rasanya sulit untuk dilukiskan.....

Sinta mulai kembali berlinang air mata, rupanya dia sadar kalau mahkotanya telah kurenggut darinya, namun dia sudah tidak bisa berbuat apa apalagi selain mungkin menahan rasa sakit karena persetubuhan pertamanya ini. Aku mengangkat tubuh Sinta dalam posisi kupangku namun berhadapan, tangannya melingkari leherku wajahnya tergolek di bahuku. tubuh kecilnya semakin membuatku ingin segera mengocokkan penisku dalam liang vaginanya yang sempit ini namun karena masih masuk separuh penisku aku masih harus berusaha bersabar. Dalam posisi Sinta diatas pangkuanku secara berhadapan ini aku semakin merasakan jepitan vaginanyadan kali ini tanpa basa basi seperti sebelumnya..kulesakkan dalm dalam penisku dengan cepat.

"Aaakhh...mas ...sakit mas tolong jangan dulu..mas.. aduuuh...." airmata sinta menetes dibahuku. kali ini penisku telah masuk seluruhnya dalam vagina Sinta. terasa hangat dan berdenyut denyut disana, aku benar-benar menikmati sensasi ini. Setelah sekitar satu menit aku mencoba menarik mundur penisku sedikt dan Sinta terjingkat, rupanya rasa perih itu masih ada.

" Sekarang coba kamu tahan rasa sakitnya dan coba kamu nikmati ya sayang..."
Bisikku ditelinganya, Sinta hanya terdiam pasrah. Setiap kali aku memajukan dan memundurkan penisku perlahan setelah beberapa saat Sinta masih terjingkat jingkat menahan sakitnya tapi justru malah vaginanya menjadi menjepit batang penisku setiap dia terjingkat tanpa dia sadari, ah rasanya sungguh luar biasaaaa.........

Setelah melihat ekspresinya yang mulai agak terbiasa aku semakin berani mempercepat gerakan penisku divaginanya dalam posisi duduk berhadapan ini. dan setelah sekitar 20 menit penisku mengacak acak liang vaginanya yang pertama ditembus ini tanpa aku duga Sinta kembali mengalami orgasmenya, gadis ini memeluk tubuhku erat erat sambil meracau tidak keruan. Wajah putih manis oval dengan rambut lurus sebahu dengan hidung mancung bibir tipis dan dagu lancip itu terlihat semakin cantik ketika mengalami orgasme, dan benar benar sangat cantik seperti yang sudah sudah aku lihat ini jauh lebih cantik bahkan bagai bidadari yang sedang kasmaran namun dimabuk asmara.

ekpresi wajah sinta benar benar membuat penisku tidak mau diajak kompromi. selang beberapa saat kemudian aku meyusul Sinta dengan orgasme pertamaku di vagina Sinta yang beberapa saat lalu masih perawan. Croot croot...serr.... begitu banyak sperma yang aku keluarkan di liang vagina Sinta, dan aku langsung roboh kebelakang sehinggga tubuh Sinta juga ikut menindihku. Jika ada istilah dunia begitu gemerlap mungkin seperti itulah perasaanku saat itu.

Sinta langsung terguling lemas disisiku, dan selang beberapa menit gadis itu langsung tertidur pulas. Aku mencoba bangun untuk melihatnya dari agak jauh, darah keperawanan Sinta begitu banyak di sprei putihku masih belum mengering. bahkan sampai di pantat Sinta pun juga ikut terlihat merah terkena darah keperawanannya. Aku memeriksa penisku, ada sedikit selaput dara Sinta yang masih tertinggal dipangkal penisku rupanya, bahkan dipantatku pun juga terkena darah kesuciannya yang telah kurenggut

Aku tersenyum puas melihatnya, aahhh...gadis cantik nan seksi yang selama ini memenuhi obsesi onaniku telah menjadi kenyataan. impianku telah menjadi kenyataan dengan uang lima puluh ribuan pancinganku. Segera aku mengambil kamera digitalku dan kufoto Sinta cantik seksi yang malang yang sedang tertidur telanjang dari beberapa pose, dan foto ini aku gunakan sebagai ancaman kalau dia berani melaporkan perbuatanku ... akan aku sebar luaskan foto foto ini ke teman sekolah dan kampung. Biar sama sama hancur jika dia ingin mengancurkanku.

Tetapi akhirnya Sinta justru malah ketagihan dan menjadi budak seksku. karena aku juga ikut membantu kebutuhan sekolah dan kuliahnya.tapi justru jujur saja belakangan aku mulai ragu apakah Sinta adalah budak seksku atau justru malah aku yang menjadi budak seksnya, karena semakin hari permainan binal Sinta denganku semakin liar, sampai terkadang aku harus mengkonsumsi obat kuat kuat untuk melayaninya.....Aah..sungguh pengalaman yang mengagumkan. hubungan kami berlangsung sampai sekitar 3 tahun. Sekarang Sinta telah telah lulus kuliah dan bekerja dliuar kota, dan semua telah menjadi hanyalah sebuah kisah kenangan manis,
karena kabar terakhir yang aku dengar Sinta akan dinikahi oleh bosnya sendiri. Selamat menempuh hidup baru Sinta, selamat tidur kekasih gelapku........... terima kasih atas segala kenangan indah tubuh seksimu dan wajahmu yang memang cantik......

Posted at 04:31 pm by pohonmangga
Make a comment  

Sunday, July 11, 2010
anugrah tak terduga

Semasa SMU aku dikenal sebagai kutu buku yang bercita-cita tinggi, yang tak bisa memegang bola basket, minder terhadap urusan cewek dan tak punya pacar. Sehingga hampir setiap sabtu teman-teman melantunkan lagu Koes Plus untukku, “Sabtu malam kusendiri…” Namun ketika kami mengadakan reuni sepuluh tahun kemudian, ternyata teman-temanku justru terlihat seperti suami yang hidup di bawah bayang-bayang istri dan mertua, sedangkan aku justru mendapat pengalaman-pengalaman seks yang berkesan.

Tanpa sepengetahuan mereka, pengalaman pertamaku terjadi justru ketika aku masih mereka kenal sebagai kutu buku. Berawal dari kepindahan tugas ayahku ke kota lain, aku si rangking satu di sekolah diminta kepala sekolah untuk tidak ikut pindah dan menyelesaikan sekolahku di SMU itu, karena ada undangan dari Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia agar rangking pertama dari SMU-ku kuliah di sana. Demi masa depan, orang tuaku setuju dan menitipkanku di rumah temannya yang kebetulan anaknya, Budi, adalah teman sekelasku, sehingga aku menghabiskan kelas tiga SMU seribu kilometer jauhnya dari keluarga yang kucintai.

Kamar kost-ku tidak berada di ruang utama bangunan, tetapi cukup strategis untuk memonitor penghuni dan tamu yang keluar masuk rumah itu. Malam minggu itu seluruh keluarga temanku menghadiri pesta pernikahan sepupunya, meninggalkan aku si kutu buku asyik belajar sendiri. Untuk menghilangkan kantuk, aku menuju dapur di bangunan utama bermaksud membuat secangkir kopi dan semangkok mie instan. Tiba-tiba terdengar pintu pagar terbuka, rupanya Yumul, adik Budi, pulang lebih awal ditemani pacarnya Wadi. Mereka sudah pacaran setahun lebih dan kelihatannya telah direstui oleh kedua orang tuanya, karena Wadi meskipun baru berusia 21 tahun tetapi sudah hampir menyelesaikan kuliahnya dan Yumul berusia 17 tahun menjelang kelas tiga SMU.

“Tuh liat, kamarnya si kutu buku lagi terang. Seperti biasa, paling-paling dia lagi asyik ngapalin rumus-rumus yang njelimet, jadi kita aman di sini,” terdengar suara Yumul. Selang beberapa menit setelah mie dan kopiku siap hidang, aku beranjak menuju kamarku, namun aku terkesima karena di ruang tamu kulihat pemandangan yang jauh berbeda dengan rumus matematika yang sedang berputar di otakku. Yumul sedang merem-melek karena buah dadanya sedang dikulum Wadi. Karena khawatir mereka tahu kehadiranku bila kuteruskan langkahku maka aku berhenti, dan dengan hati berdegup terpaksa kuikuti lakon itu. Wadi terus menghisap kedua puting dari bukit mini namun ranum langsat, sembari tangannya menyusup ke dalam gaun pesta Yumul, dan seketika membuat Yumul menggeliat lirih, “Aahh.. uhh..” Berdasarkan ilmu biologi, jari tangan Wadi menemukan klitoris sensitif Yumul.

Sambil mendesah, tangan Yumul mencoba melakukan serangan balasan dengan mencari persembunyian meriam Wadi, meskipun harus bersusah payah melepas ikat pinggang, membuka reitsleting, memelorotkan celana panjang dan menyusup ke dalam benteng terakhir celana dalam. Wadi yang sudah tahu arah serangan, tetap saja tersentak dan mengerang sambil menekan pantatnya ke depan. Yumul terlihat lebih cekatan, mengeluarkan meriam Wadi dan mengulumnya hingga menekan tenggorokan. Wadi yang sempat terkesima sesaat, tergopoh-gopoh menyusun posisi untuk dapat memelorotkan celana dalam Yumul dan melahap kemaluan yumul dengan rakus sambil jari tengahnya merogoh ke dalam liang kewanitaan Yumul. Sambil berbaring mereka membentuk posisi enam sembilan dan terdengar duet alunan merdu. “Mmmh.. nyam-nyam.. sluurrp.. yessshh..”

Setelah merasa puas tiba-tiba Wadi berdiri, dan Yumul bagai telah hapal akting selanjutnya, juga ikut berdiri. Mereka berdekapan erat, berpagutan bibir, dan menggoyangkan pantat saling bertabrakan. “Astaga, mereka bersengggama,” pikirku sambil menelan ludah dan mengusap keringat saking menghayati ketegangan adegan.

Entah telah berapa puluh kali mereka saling menghunjam, tiba-tiba kudenggar Yumul berkata lirih, “Mas, kali ini dimasukkin beneran yach, jangan cuma dioles-oles.”
“Kamu nggak takut,” tanya Wadi dan dijawab dengan gelengan kepala Yumul.
“Nanti kamu nyesel,” tanya Wadi dan sekali lagi Yumul menggeleng sambil berkata, “Khan kata Papa kita akan menikah dua tahun lagi, yang penting jangan sampai hamil dulu.”
Wadi menghentikan goyangannya dan menatap Yumul dalam-dalam, “Jangan sekarang, kita beli kondom dulu.”
Yumul menggelayut manja dan merengek, “Yumul nggak tahan, pinginnya sekarang, nanti maninya mas jangan dikeluarin di dalam tapi di luar saja, seperti biasa.”
Meskipun adegan makin menegangkan, namun aku menghela napas lega, “Ah syukurlah, mereka belum bersenggama, tapi mereka akan… bagaimana cara mencegahnya?” Pikiranku buntu untuk bisa menghentikan mereka, karena jantungku terlalu kencang berdegup tak memberi kesempatan otakku berputar, sedangkan ujangku ikut-ikutan tegang tanda setuju adegan selanjutnya.

Nun jauh disana, Wadi telah menidurkan Yumul di atas karpet, Yumul membuka gerbang kangkangan kaki, dan laras torpedo Wadi mulai diarahkan, perlahan maju, mendekati liang, menempel dan.. tiba-tiba Wadi menghentikan gerakannya, menatap Yumul, sambil menelan ludah berkata, “Sebaiknya Kamu yang di atas, biar menekannya hati-hati, biar nggak terlalu sakit, soalnya kata orang hubungan yang pertama sakit buat perempuan.” Yumul yang sedari tadi memejamkan mata menghitung mundur saat terobosan pertama, kaget dan menjawab, “Yumul sudah merasakan sakitnya waktu Mas memasukkan jari ke memek Yumul.” Wadi belum mengerti maksudnya tapi kurang lebih Wadi harus tetap di atas dan menekan meriamnya ke dalam liang kewanitaan Yumul. Maka sekali lagi Wadi mengambil ancang-ancang, meluruskan, perlahan menekan dan akhirnya… “Kriingg…” suara telepon berdering, Wadi dan Yumul terkejut dan setelah sadar itu suara telepon mereka saling tersenyum, “Oo cuma telepon.. tapi bagaimana kalau si kutu buku mendengar dering telepon dan datang ke sini mau ngangkat telepon? Cepat Mas angkat dulu teleponnya biar nggak berdering terus,” Kata Yumul. Dengan mengendap Wadi mengangkat telepon, sesaat wajahnya serius, menutup telepon, sekonyong-konyong mengenakan kembali celana dan pakaiannya dan tergesa-gesa berkata, “Aku harus pergi, Mama sakit keras..” seraya menuju pintu keluar. Yumul yang berharap dapat melanjutkan adegan penerobosan pertama hanya terbengong tanpa sempat melakukan sesuatu kecuali mengucapkan, “Salam buat Mama, semoga lekas sembuh!”

Terkesima oleh pembatalan sepihak yang dilakukan sekejap, Yumul hanya dapat memandangi tubuhnya yang telah bugil. Perlahan tangannya membelai bibir kemaluannya seolah membujuk agar tidak sedih. Lalu Yumul memutuskan untuk menghibur diri dengan mempermainkan klitorisnya sendiri. Aku yang merasa drama telah berakhir bermaksud menyelinap ke kamarku, namun Yumul menangkap ada gerakan di dekat dapur. Sambil menutup tubuh seadanya ia menghampiri dapur dan memergokiku berdiri di sana. Yumul kaget dan terpaku, akupun gemetar tak mampu mengucap maaf. Antara malu, menangis, marah dan tertawa Yumul berkata, “Bang Obi dari tadi melihat kami?” Aku menunduk, tak berani menatap dan berkata lirih, “Maaf…” Sejenak hening, lalu tiba-tiba Yumul tesenyum simpul, “Hi, ada burung apa di celana Bang Obi..” Rupanya meriamku belum turun dan menyembul diantara celana hawaiku, karena memang kebetulan aku tidak pernah memakai celana dalam bila menjelang tidur. Belum hilang kagetku, tiba-tiba Yumul maju menangkap burungku dan mengelus, sementara aku tak bisa mundur meskipun ingin, karena kakiku terlalu gemetar.

Melihat aku tak berdaya bagai patung, Yumul memelorotkan celanaku sehingga burungku tak bersangkar lagi, dan seperti telah kulihat sebelumnya, Yumul mulai menjilati dan mengulum batang kejantananku. Aku semakin gemetar dan gagu serta tak mampu menghindar dari wanita birahi yang belum sempat terlampiaskan dengan Wadi. Yumul menarik pundakku turun lalu mendorong untuk merebahkanku. Di hadapanku terpampang gadis manis berambut ikal yang selama ini hanya kukenal keayuan wajahnya, kini memamerkan kemulusan tubuhnya. Lehernya yang jenjang menyatu dengan pundaknya yang lebar. Sembulan dua gunung kecil dengan puting centil merah muda, padat menantang selaras lekukan pinggul. Bulu-bulu halus di selangkangannya tak mampu menyembunyikan bibir tebal liang kewanitaannya dan mancungnya klitoris yang masih sedikit memerah akibat gesekan meriam dan jari Wadi.
Bidadari 17 tahun itu melangkahkan kaki jenjangnya berdiri mengangkangiku dan perlahan turun. Sambil memegang batang kejantananku Yumul meluruskan liang kewanitaannya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Yumul langsung menekan.., “Blesss…” mulai terjadi penetrasi, aku merasakan sempit dan seretnya. “Yumul..” hanya itu yang keluar dari mulutku tak tahu apa lanjutan kalimatnya. Yumul berhenti sejenak, mengatupkan mulutnya rapat-rapat, sedikit menutup matanya. Antara nikmat dan sakit, perlahan Yumul menekan lebih dalam…, “Blesss…” aku merasakan batang kejantananku didekap dan diremas hangat oleh liang kewanitaannya. Yumul berhenti lagi sejenak, menengadahkan wajahnya sambil menggigit bibirnya sendiri dan memejamkan mata. Lalu kembali perlahan Yumul menekan…, “Blesss…” terus menekan perlahan hingga selangkangan kami beradu, Yumul menghentikan tekanannya. Ah, burungku telah bersangkar di dalam liang kewanitaan Yumul dan merasakan pijatan dinding kewanitaannya. Yumul menatapku sambil tersenyum, akupun berusaha tersenyum sementara detak jantungku sudah tak beraturan dan keringatku mengalir dimana-mana.

Yumul menggoyangkan pantatnya kekiri kekanan dan berputar, stress-ku mulai mengendur dan mulai merasakan nikmatnya pijatan nikmat terhadap batang kejantananku. Lalu perlahan Yumul menaikkan dan menurunkan kembali pantatnya, semakin lama semakin cepat. Berulang naik turun, kiri kanan, berputar. Ketika melihat senyumnya yang menandakan kepuasannya, tanpa sadar akupun ikut menaikturunkan pantatku seirama dengan gerakannya. “Uhhh, mentok Bang.. enaak.” Karena batang kejantananku memang sudah tegang lama, maka tak lama kemudian kurasakan sesuatu mendesak untuk dimuncratkan. “Uhh.. aku mau keluar Yumul, uhh..” kataku tak jelas. “Iya.. hh.. tapi.. hh.. jangan dulu Bang, hh.. tunggu Yumul, hh.. nanti dikeluarinnya Bang.. hhh diluar saja..” kata Yumul sambil mempercepat goyangannya. Aku tak tahu bagaimana cara menahan pancaran yang siap mendesak keluar, hingga akhirnya, “Aaahh…” dan “Crottt.. crottt..” aku mengeluarkan maniku di dalam liang kewanitaan Yumul. Meskipun tahu aku sudah ejakulasi, Yumul terus bergoyang, seolah tak peduli atau mungkin karena iapun sedang menuju puncak. Tiba-tiba Yumul berteriak panjang dan keras sekali, “Aaahhhww…” dan terkulai lemas di atasku. “Sssttt..” kataku, karena takut terdengar entah oleh siapa.

Tanganku yang sedari tadi berperan sebagai penonton, memberanikan diri mendekapnya dan beberapa saat kami berpelukan erat. Aku penasaran dan tak menyia-nyiakan kesempatan untuk meraba buah dadanya, dan Yumul sedikit mengangkat badannya memberi kesempatan dan ruang gerak bagi tanganku agar leluasa meremas dan bahkan mempermainkan putingnya. Dan mulutku tak mau ketinggalan jatah, ikut mencium, mengulum dan mengisap puting yang baru mekar di bukit yang kenyal. Sementara dibagian bawah, batang kejantananku terus bersangkar di dalam liang kewanitaan Yumul, namun semakin lama semakin lunglai dan akhirnya keluar dari lubangnya, “Plup..”

Yumul menatapku dan berkata, “Bang Obi, tadi ngeluarinnya di dalam yaa..”
Aku mengangguk pelan.
“Bagaimana kalau Yumul hamil, Bang?” tanyanya.
“Yumul tetap dalam posisi tegak atau di atas, dan biarkan maniku mengalir keluar kemaluanmu sesuai gravitasi bumi,” entah teori apa yang kukatakan tapi Yumul menurut.
Setelah Yumul yakin bahwa maniku telah keluar semua ia beranjak dan berkata, “Kalau Bang Obi melaporkan hubunganku dengan Mas Wadi yang sudah cukup jauh, Yumul juga akan laporkan pada orang tua Bang Obi dan Guru bahwa Bang Obi telah menggauli Yumul, dan masa depan kita sama-sama hilang,” Yumul setengah mengancam dan segera beranjak dari tubuhku.

Yumul memperhatikan betapa banyak semprotan yang keluar dari liang kewanitaannya dan betapa banyak maniku yang mengalir kembali keluar dari liang kewanitaannya dan membasahi batang kejantananku. Selintas Yumul tersenyum namun tiba-tiba ia terkejut karena di batang kejantananku ada darah merah cukup banyak. “A..Aku masih perawan?!, oh.. kukira aku sudah tidak perawan karena tusukan jari Mas Wadi.” ia tampak menyesal dan segera meraih gaun pesta, celana dalam dan bra-nya serta berlari menuju kamarnya. Sayup-sayup terdengar gemercik air siraman mandi Yumul, lalu senyap.

Ketika keluarganya pulang dari undangan, aku sedang membersihkan keringat, bercak-bercak mani dan darah yang berserakan di lantai. Kukatakan bahwa mie instanku tertumpah. “Yumul sudah tidur, tadi pulang diantar Mas Wadi,” kataku ketika mereka menanyakan Yumul.

Keesokan harinya kudengar Yumul seharian mengurung diri di kamarnya dan hanya sesekali keluar untuk makan. Karena aku memang jarang ngomong sama Yumul tak ada yang curiga kalau Yumul sama sekali enggan ngomong denganku. Aku menyesal telah membuat Yumul menjadi pendiam dan aku berdoa agar dia dapat ceria kembali. Rupanya doaku terkabul. Tiga minggu kemudian kulihat ia sangat ceria, dan pada suatu kesempatan ia menghampiriku. “Maafkan Yumul ya Bang dan Bang Obi juga sudah Yumul maafka,” bisiknya mesra. “Koq?” aku tulalit. Seolah mengerti maksud pertanyaanku, Yumul menjawab, “Aku telah bersetubuh dengan Mas Wadi, dan dia yakin bahwa perawanku telah hilang saat dia masukkan jarinya padaku, dan keluargaku yakin murungku selama ini adalah karena mamanya mas Wadi diopname, jadi masa depanku cerah lagi.” Hanya itu yang dikatakan dan ia berlalu dengan ceria, gaya manja khas belia 17 tahun.

Posted at 09:16 am by pohonmangga
Make a comment  

Wednesday, June 23, 2010
Menikmati Tubuh Adikku

Maaf kawan, ini hanyalah sekedar cerita. Jadi jangan terlalu di dramasir semua penuturan seks di kategori cerita dewasa ini. Meskipun ada beberapa yang diambil dari kisah nyata.

Ayah sedang sakit. Ibu menjaganya di rumah. Tidak dibawa ke rumah sakit, karen ketiadaan uang. Untuk sementara, aku yang menggantikan ayah melaut. Ayah terus menerus batuk dan mengeluarkan darah. TBC, kata orang-orang. Aku pun menmbus kabut pagi ke tengah laut, semebari menebar jaring kecil sendirian dengan perahu milik ayah. Perahu kecil dengan cadik kesil di kedua sisinya. Aku pun berhenti sekolah. Adikku Sutinah, mulai besok libur sekolah. Dia kelas 1 SMP, tak lagi naik ke kelas 2. Aku senang, begitu adikku Sutinah libur, berarti ada yang menolong ibu di rumah. Tapi malah adikku SUtinah ingin ikut denganku melaut. Akhirnya ibu mengizinkannya.

Matahari belum muncul. Angin masih berhembus ke laut. Kami cepat-cepat naik perahu dan mengkayuh agak ke tengah. Lalu kami pasang layar kecil. Dan perahu pun melaju ke tengah laut. Aku tingalmenjaga kemudi agar perahu lurus jalannya. Sutinah duduk di depanku dan menghadap ke arahku. Sesekali dia mempermainkan air laut yang berdesir-desir. Dia berpegangan kuat ke dinding perahu dengan kedu tangannya. Tiba-tiba ombak di depan menggelombang. Perahu kami terangkat ke atas, kemudian tehempas ke bawah. Saat itu, rok Sutinah terangkat. Akh… Sutinah, tidak memakai celana dalam. Mungkin lupa, atau mungkin celana dalamnya lagi basah. Maklum dia hanya memiliki dua buah celana dalam. Akhirnya kami sampai ke pulau kecil. Aku menabur jaring kecil berkeliling. Usai itu, ujung tali, kami tambat ke buritan, dan kami sama-sama berkayuh ke tepi pantai pulau kecil itu.

Jangkar yang terbuat dari sepotong besi yang melengkung, kami jatuhkan, agar perahu tak bergerak. Kami perlahan-lahan menrik ujung tali. Tangan kami merasakan aga getar-getar kecil jauh di ujung jaring. Aku yakin, ada ikan di dalamnya. Jaring semakin mendekat. Kami pun mengangkatnya. Benar, ada pulan ikan ukuran kecil, sedang dan agak besar. Kami memasukkannya ke dala perut perahu. Saat mengangkat yang terakhir, Sutinah tepeleset. Tercebur ke laut. Untung aku masih sempat mengangkat semua jaring itu ke dalamperahu. AKu melihat Sutinah bersusah payah berenang mendekati perahu. Aku mencebur ke laut dan menangkap adikku itu. Diakugendong dan kuangkat ke dalam perahu. Saat kutolak pantatnya, terpegang oleh pantatnya yang tanpa celana dalam. Aku menyentuh buah dadanya yang mungil.

Sutinah hanya memakai baju kaos tipis dan tidak juga memakai beha. Selama ini dia hanya memakai singlet saja.. Akibat kuyup, teteknya membayang di bajunya, tanpa dia sadari. Aku terkesima dan langsug birahiku bangkit. AKu diam saja, agar tetek itu tetapmembayang di bajunya yang basah.
“Maafkan aku, Mas,” katanya ketakutan. Dia takut aku marah, karena ketidakhati-hatiannya. Aku diam saja dan membenahi jaring untuk kubuang sekali lagi. Sutinah mendekatiku dan mendekapku, sembari kembali meminta maaf. Aku kasihan padanya. Aku balas memeluknya. Kami berpelukan. Kemudian perlahan kembali mengkayuh ke tengah dan menebar jaring yang kedua kalinya. Dua puluh menit kemudian, kami kembali menariknya dan mengangkat puluhan ekor ikan yang ukuran kecil dan menengah. Kami hitung bersama, ada 62 ekor ikan, berkisar 11 kilogram. Kami pun merapatkan perahu ke pulau kecil. Sutinah kuajak ke sebuah pancuran kecil yang mengalirkan air sejuh dari puncak bukit. Kupangil Sutinah untuk mandi. Mulanya dia ragu. Kuseret tangannya. Lalu kubuka pakaiannya.
“Malu Mas” katanya.
“Kamu harus mandi dik. Nanti kamu sakit, air laut lengket di tubuhku,” kataku beralasan. AkhirnyaSutinah mamu membuka bajunya dan bertelanjang. Dia menutupi teteknya dengan sebelah tangannya dan sebelah lagi menutupi memeknya yang belum berbulu sama sekali. Aku juga membuka pakaiankua dan bertelanjang lalu sama-sama mandidi pancuran kecil itu. Aku menyuruhnya cepat, takut kalau ada nelayan lain yang datang. Kemudian aku mencuci pakaiannya yangkena air laut. Setelah memerasnya, memakaikannya kembali. Hari meulai meninggi. Kami takut, ikan kamitak laku, kami pulang ke tepian. Kami naik ke perahu.

Layarakecil, kembali kami pasang agar tak perlu mengkayuh. Kumintaagar Sutinah dekat denganku. Saat perahu berjalan perlahan, kuminta agar Sutinah naik ke pangkuanku. Lagi-lagi Sutinah ragu. Setelahkupelototi, akhirnya dia naik ke pangkuanku. Punggungnya menyender ke dadaku. Perlahan penisku naik. Perlahan celana yang hanya pakai karet tanpacelana dalam itu kupelorotkan ke bawah. Lalu kuangkat Sutinah dan kusingkap rok-nya. Jelas, penisku menempel di belahan pantatnya. Sebelah tanganku memegang kemudi dan sebelah lagi memeluknya. Kumasukkan tanganku ke sebalik baju kaosnya dan mengelus-elus buah dadanya.
“Mas… nanti…”
“Udah… diam saja,” aku setengah membentak. Perahu terus melaju menuju tepian. Menurut perkiraan, akan sampai berkisar satu jam lagi. Secepatnya jika angin kencang, 45 menit.
“Mas… geli…”
“Yah. Mas tahu, geli. Tapi neak kan? Jangan bohong,” kataku. Sutinah diam. Akhirnya Sutinah menggeliat-geliat. Ujung penisku sudah sesekali menyentuh-centuh parit memeknya. Aku merasa nimat sekali. Sutinah pun menunduk-nunduk sepertinya dia mencari-cari agar ujung penisku mengenai klentitnya. Aku mendengar sesekali dia mendesah. Kuciumi lehernya seraya terus meraba pentil teteknya yang masih kecil. Sampai akhirnya aku melepaskan spermaku.

Kami sampai di darat. Ibu sudah menunggu di tepian. Pembeli ikan naik sepeda sudah menungu juga. Akhirnya ikan kami jual. Rp. 83.000,- Ibu tersenyum.
“Rezeki kamu bagus Rin,” kata ibu.
“Ini rezeki Sutinah, Bu,” kataku. Sutinah tersenyum.
“Baguslah. Kalau begitu Besok Sutinah ikut lagi, ya” kata ibu pada Sutinah. Sutinah tersenyum dan menganguk. AKu senang.
“Sutinah harus ikut bu. Biar adatemanku dan Sutinah rezekinya bagus,” pujikupula. Ibu tersenyum.
Di rumah, aku memperbaiki jaring yang koyak dan SUtinah datang.
“Besok akuikut lagi ya, Mas,”kata Sutinah sepertai membujuk.
“Ya.. Tapi seperti tadi ya. Jangan pakai celana dalam dan pakai baju kaos saja,” kataku. Sutinah mengangguk. Aman pikirku.

Jaring kami tabur lagi dan tarik. Kami tabur lagi dan kami arik pula sampai tiga kali. Kami mendapatkan ikan lebih banyak dari kemarin. Aku mengajak Sutinah mandi ke pancuran. Aku sudah membawa sabun mandi. Kami mandi bedua bertelanjang. Sutinah seperti mulai biasa dan tidak malu lagi. Dalam tubuh kami dilamuri sabun, kami berpelukan. Kucium Sutinah, kuemut teteknya sampai Sutinah mengelinjang. Setelah puasmenciuminya, kami cepat memakai pakaian dan naik ke perahu. Perahu-perahu besar sudah lebih dahulu ke darat. Mereka ingin mendahului kami, agar ikan mereka lebih mahal. Aku justru senang, kami belakangan dari mereka. Perlahan aku memasang layar dan perahu melajur perlahan pula. Sutinah seperti tahu sendiri, dia mendatangiku dan naik ke pangkuanku. Aku justru memintanya agar dia menghadapku. Perlahan dia naik mengangkangi kedua kakiku. AKu sudah mengeluarkan penisku yang tegang.
“Pegang titit, Mas. Kenakan ke anu-mu,” perintahku. Sutinah pun memegang penisku lalu ujungnya dia tempelkan ke lubang memeknya. Perahu terus melaju dan gelombang kecil mengayun-ayunkan kami. Gesekan demi gesekan kami rasakan, membuat kami kenikmatan. Sampai akhirnya kami berpelukan dan aku melepaskan sepermaku beberapa kali ke pintu lubang memek Sutinah.
Bibir pantai sudah jelas terlihat. Aku minta Sutinah agar duduk di tengah. Perlahan diabangkit dan duduk di tengah berpegangan pada kedua sisi perahu.

Kami tiba di pantai. Ibu juga sudah menunggu. Pedagang ikan mulai berdatangan. Kebetulan harga ikan naik dan kami menjual ikan seharga Rp.118.000,- Kembali ibu tersenyum dan memuji kami. Aku tetap memuji Sutinah. Sutinah pun tersenyum dan bangga. kamipulang ke rumah setelah menambatkan perahu dan aku pun kembali memperbaiki jaring yang rusak serta memebli benang yang kurang.

Atas pertolongan penyuluh kesehatan yang memasuki desa-desa dan ABRI masuk Desa, akhirnya ayahku mendapat kesempatan untuk berobat gratis ke rumahsakit di kabupaten. Ayah dibawa naik ambulance militer dengan sirene meraung-raung. Sutinah menangis, ketia ayah dibawa naik ambulance itu. Dia memelukku. Ibu menemani ayah ke rumah sakit dengan membawa semua peralatan yang dibutuhkan. Kata mereka setidaknya ayah harus dipname selama 4 embualn, kemudian harus makan obat teratur dan diawasi. TBC, masih bisa disembuhkan, kata mereka. Kami pun agak lega juga.

Aku dan adikku Sutinah, menyusul ayah dengan naik sepeda. Siang kami tiba di rumah sakit. Ayah dirawat. Tangannya sebelah diinfus. Hidungnya, diberi pernafasan. Kata mereka namanya oksigen. Ayah mulai lega bernafas. Ibu pun dirawat juga dengan diinjeksi dan diberi obat. Kami hanya dua jam di rumah sakity. Setelah itu, kami pulang dan tak lupa membeli peralatan untuk menempel jaring. Kami sempat makan di warung tepi jalan dan makan dengan lahapnya. Pukul 17.00, kami baru tiba di rumah. Aku langsung tidur, karean keletihan mengkayuh sepeda.

Dalam aku tertidur, aku merasakan, kemaluanku seperti dielus-elus. Aku terbangun. Kulihat adikku Sutinah sedang mengelus-elus kontolku.
“Ada apa, SU?” tanyaku.
“Tadinya titit Mas kecil. Lama-lama jadi besar?” kata adikku. Aku tersenyum saja
“Aku laga-laga ke tempikku ya Mas. Seperti di perahu itu?” kata adikku. Aku diam saja dan kembali menutup mataku. Sutinah langsung meniki tubuhku. Kedua kakinya mengangkangi tubuhku. Ditangkapnya kontolku dan dileganya ke lubang memeknya. Kedua lututnya bertumpu pada lantai.
“Tekan yang kuat, Su. Titit Mas, dimasuki ke dalam lubang tempikmu,” kataku. Adikku melakukannya.
“Ah.. Mas. Sakit,” katanya.
“Perlahan-lahan. Nanti lama-lama gak sakit lagi,” kataku. Dia melakukannya, tapi mengataan tetap sakit. Ya sudah.
“Kamu buka bajumu. Kamu telanjang saja,” kataku.
“Nanti dilihat orang,” bisiknya.
“Tak ada yangmelihat. Hanya kita beruda saja,” kataku. AKhirnya Sutinah mau dan melepas pakaiannya sampai telanjang. Aku duduk dan memangkunya. Aku mempraktekkan, bagaimana Lek Parto menjilati pentil tetek isterinya dan menjilati memek isterinya. Isteri Lek Parti menggeliat-geliat kenikmatan. AKu akan buat adikku nikmat, bisik hatiku. Aku juga melepas semua pakaianku. Aku mulai menjilati tetek Sutinah. Pentilnya yang kecil dan teteknya yang kecil. Benar. Sutinah merasa kegelian. Aku minta dia menikmatinya. Sutinah diam, mulai menikmatinya.
“Enak kan?” bisikku.
“Heemmm…” jawab Sutinah.
“Kami pigi ke belakang duku. Cebik tempikmu pakai sabun sampai bersih, gi” kataku.
“Untuk apa Mas?”
“Ikut saja apa aku bilang. Sana…” Sutinah mengikuti saranku. Aku ingin mendengar desahnya, seperti desah isteri Lek Parto. Sekembali SUtinah, aku suruh dia menelentang di lantai berlasakan tikar. Di rumah kami memang tak ada tilam. Sutinah mengikut. Aku mulai menjilati memeknya. Memek yang belum berbulu sama sekali. Memek yang masih ada satu garis dengan bibirnya yang sedikit membentuk.
“Ah…” Sutinah mulai mendesah, setelah lidahku mulai meliuk-liuk pada itilnya.
“Mas…”
“Udah diam saja… Enak kok,” kataku. Sutinah diam dan kembali mendesah-desah.
“Udah Mas. Aku mau pipis… udah,” katanya. Aku meneruskan. Tak mungkin Sutinah berani pipis di mulutku, pikirku. Aku terus menjilati memeknya. Sampai dia menjepit kepalaku dengan kedua kakinya.
“Mas aku pipissss….” Desahnya. Aku terusmenjilatinya sampai akhirnya kedua kakinya melemas.
“Udah mas. Kasihan Suti Mas,” katanya. Cairan kental meleleh di ujung lidahku. Aku memeluknya.
“Maaf Mas. Aku tadi pipis di mulut Mas,” katanya. Aku diam saja. Aku terus memeluknya dan menempelkan kontolku ke tempiknya.
“Kamu masukin titit mas ke dalam mulutmu,” kataku. Sutinah ragu.
“Ayo…” kataku. Sutinah duduk di sisiku dan memegang kontolku. Perlaha dia masukkan kontolku ke mulutnya. Kuminta dia memainkan lidahnya pada kontolku dan giginya jangan sampai mengenai kontolku. Sutinah melakukannya. Aku mengulur tarik kontolku dalam mulutnya. Sampai maniku menumpah di dalam mulutnya beberapa kali.
“Mas..” katanya.
“Kalau kamu gak mau telan, ya dibuang saja,” kataku. Suti pun meludahkan maniku dari mulutnya. Kuraih tubuhnya dan memeluknya sembari menciumi pipinya. Kami bepelukan lagi.
Tak lama Suti mengatakan nasi sudah siap dari tadi dan kami harus makan.

Suti membuat nasi ke piringku dan ke piringnya bersama lauknya.
“Aku seperti ibu ya Mas. Dan Mas jadi bapak,: katanya.
“Ya. Kita main suami-isteri. AKu suaminya dan kamu isterinya?” kataku pula mengikuti ucapannya. Dia tersenyum. Lalu Suti pun menirukan kelakukan ibu kepada ayah kami. Bagaimana ibu memperhatikan ibu dan memperlakukan ayah, begitu pula Suti terhadapku. IBu kami juga memangil Mas kepada ayah dan ayah memanggil bu ne kepada ibu kami. Ketika aku panggi namanya SUti, Suti memintaku agar aku memanggilnya Bu ne, sembari tersenyum. Aku mengikutinya.
“Tapi kalau tak ada yang mendengar ya?” kataku. Suti mengangguk. Aku pun meanggilnya Bu ne. Nampaknya dia senang. Ya sudah.

Malamnya kami tidur untuk besok subuh kami harus melaut. Kami bepelukan.
Subuh Sutimembangunkan aku. Orang-orang sudah berlalu lalang mau melaut. Kami bangun, mencuci muka dan membuka pintu. Kami turun dari rumah melalui tangga. Di bawah rumah kami melepas perahu setelah mengisinya dengan jaring. Perahu memang tertambat di bawah rumah kami yang airnya lebih setinggilutut. Hampir sepinggang. Kami nak ke atas perahu.
“Bu ne, kamu jangan terlalu jauh ke depan, kataku. Dengan senyum Suti mengiikutiku dan berpindah mendekatiku ke belakang sembarimendayung. Kami mengikuti alur air menuju laut tengah. Dengan cekatan setelah berada 50meter di laut, Suti memacakkan tiang layar dan mengikat layarnya. Dia sudah cekatan nampaknya. Tali layar.dia pegang kuat dan mengulurnya sedikit jika perahu oleng. Aku memegang kemudi.
“Bu ne bersandar ke dada Mas ya?” katanya manja. Dia sudah pula menyebut dirinya dengan kata Bu ne. AKu biarkan saja. Hari masih gelap, perahu-perahu kecil berlayar plastik putih keliahatan sudah mulai banyak di tengah laut. Kami mengikutinya dengan menjaga jarak, agar mereka tidak melihat Suti bersandar padaku dengan manja.
“Kita ke tempat biasa ya Mas, “Kata Suti. Aku mengarahkan perahu ke sana. Tapi di sana sudah adadua perahu lebih dulu. Akhirnya kami mengarahkan perahu ke rimbunnya pohon-pohon bakau seperti sebuah teluk kecil. Kami mulai melepas jaring. Kemudian menariknya perlahan. Aku merasakan ikan-ikan bergetar di dalam jaring.
“Hati-hati, nampaknya ikannya banyak,” kataku. Benar saja, ikan menggelpar-gelepar di jaring. Setelah melepas ikan-ikan itu, kami menebar lagi di tempat yang sama. Kami tarik lagi. TIga kali kami menebarnya, kemudian kami keluar dari teluk itu. Kami tersenyum. Tangkapan kami hari ini, lumayan baik.
Kutarik Suti mendekatiku dan kukecup bibirnya, seperti apa yag dilakukan Lek Parto pada isterinya.
“Kamu isap lidah Mas ya. Kita bergantian mengisap lidah,” kataku. Suti menatapku.
“Kamu mau ya Bu ne…” kataku meayunya. Suti tersenyum setiap kali aku memanggilnya Bu ne. Kulurkan lidahku dan Suti mulai mengemutnya. Kami bergantian.
“Ayo sudah. Kita harus cepat ke darat. Nanti pembeli ikan pada pulang,” kataku. Kami memasang layar dan mengarahkannya pulang. Perahu melayu agak kencang, karean angin yang hidup menolak kami ke darat.
Para pembeli ikan menyerbu kami dan kami menjualnya Seorang tentara yang ikut masuk desa mengawasi kami. Pembeli ikan tak berani macam-macam. Kami mendapat uang hampir dua ratus ribu rupiah.
Perahu kami kayuhke kolong rumah dan kami naik ke atas. Aku minta Suti membeli mi goreng dua bungkus dan aku memasak nasi. Begitu nasi masak. Suti sudah pulang dari membeli Mi goreng. Kami makan nasi bercampur mi goreng. Kami makan dengan lahap.
“Kita tidur-tiduran lagi ya, Mas?” kata Suti.
“Sebentar, biar Mas betulin jaring dulu. Setelah siap kita boleh todur. Kalau tidak, nanti kita keasyikan dan lupa memperbaiki jaring,” kataku. Suti merajuk.
“Sabar dong Bu ne…” kataku merayu. Suti tersenyum dan memelukku.
“Iya mas. Bu ne ikut membantu ya?” katanya menyeret tanganku. Kami mengeluarkan jaring dari perahu dan menjemurnya, sembari memperbaikinya.
mafia_arab is offline Add to mafia_arab’s Reputation Report Post       Reply With Quote Multi-Quote This Message Quick reply to this message Thanks
The Following 10 Users Say Thank You to mafia_arab For This Useful Post:
assan69, eqeubec, h0w2HiGh, IgoManiac, joxzin, nimpuk.monyet, priagila, Revolutions, skunkcool, willyoung
Sponsored Links
mafia_arab
View Public Profile
Send a private message to mafia_arab
Find More Posts by mafia_arab
Add mafia_arab to Your Contacts
Old 11-30-2009, 03:18 AM       #2
mafia_arab
murid bb17

mafia_arab’s Avatar

User Id: 13536
Join Date: Apr 2008
Posts: 249
Thanks: 60
Thanked 350 Times in 36 Posts
mafia_arab baru gabung jadi belum dikenal di BB17

Default
Ibu senang sekali, ketika aku dan Sutimembezuk ayah ke rumah sakit. Kami membawa tiga bungkus mie goreng. Mie goreng di bukota Kabupaten ternyata jauh lebih enak dari di kampung kami. Satu untuk ayah, satu bungkus untuk ibu dan satu bungkus untuk kami bagi berdua. Selain itu, aku menyerahkan uang Ro. 200 ribu untuk ayah. Mana tau ada keperluan yang harus dibeli. Ayah dan ibu senang sekali. Kata ibu, kalau ung, tolong di simpan saja. Nanti kalau kami butuh, kami akan minta. Sebab kami di rumah sakit, semua obat ditanggung oleh pemerintah. Menurut ibu uang Rp. 200 ribu itu cukup untuk sepuluh hari. Ibu meminta kami agar jangan lupa makan, menjaga kesehatan dan ayah tak lama lagi akan dicabut oksigennya dari hidung. Infusnya juga akan dicabut. Ayah butuh istirahat tiga bulan lebih lagi, kata ibu.

Kami pun pulang ke kampung lagi. Kami beli beras secukupnya dan segala kebutuhan, seperti garam, bubik teh, gula dan sebagainya. Sutini senang sekali membelanjakan uang untuk kebutuhan kami satu minggu. Dia merasa benar-benar menjadi seorang ibu beneran. Sore setelah empat jam berkayu sepeda, kami tiba di rumah. Semua kebutuhan kami angkat ke rumah dan kami mulai masak bersama. Telur ayam, beras dan sebagainya kami angkat. Sementara Suti membenahi makan malam, aku membenahi jaring. Jaring aku perbesar dan perpanjang. Kami berharap, ikan akan lebih banyak dapat. Kalau selama ini jaring kamu sepanjang 18 meter, kini jadi 32 meter. Perahu terasa penuh berisi jaring.

Seusai makan malam, kami tidur. Suti memakai kain sarung batik tanpa apa-apa lagi di dalamnya,. Dia menirukan ibu kami. Aku hanya memakai sarung dan kaos singlet. Setelah menyiapkan serantang nasi dan lauk telur rebus dan kecap kecil untuk bekal kami besok pagi du laut, kami mematikan lampu dan masuk tidur. Aku melepas semu pakaianku dan meminta Suti juga melepas pakaiannya. Kami tidur bertelanjang. Au tanya apakah SUti sudah cebok dan menyabuni tempiknya, Suti menjawab sudah. Kami tersenyum dalam gelap gulit. Hanya ada cahaya bintang memasuki rumah gubuk kami dari celah-celah dinding.
“Kamu pernah melihat ayah menindih ibu waktu malam?” tanyaku pada Suti. RUmah kami tidak berkamar. Hanya dibatasi oleh kain saja, membedakan dimana ibu dan ayah kami tidur dan dimana aku dan Suti tidur. Suti menjawab pernah. Dua atau tiga kami kai pernah mengintip ayah dan ibu tidur tindih-tindihan di tengah malam, saat kami sudah tertidur lelap.
“Ya sudah. Kita juga seperti tu,” kataku.
“Tapi Mas kan berat?” katanya.
:Kalau ayah bisa menindih ibu, kenapa kamu tidak. Kita ciba saja,” kataku. Suti setuju. Kami berpelukan dulu seperti ayah dan ibu. Berciuman seperti Lek Parto dan isterinya. Mengisap tetek dan menjilati memek dan mengemut kontol bergantian. Semua yang pernah kami lihat, kami lakukan. Ternyata memang enak.

“Mas buka tempikmu ya. Mas masukkan titi Mas ke dalamnya ya?” kataku. Suti setuju. Setelah mejilati memeknya, aku tujukan ujung kontolku ke lubang memek SUti. Aku menekannya. Suti merintih.
“Sakit Mas…”
“Ya… Mulanya sakit, tapi nanti kalau sudah hilang sakitnya, jadi enak,” kataku.
“Memang Mas sudah pernah melakukannya?” tanya Suti.
Aku bercerita, teman-temanku sudah pernah melakukanna dan mengatakan begitu. Suti pun mau. Ku tekan kontolku ke dalam lubang memeknya. Suti merintih.
“Bagaimana, masih tahan?” tanyaku membiarkan kontolku di lubang memeknya. Suti diam saja.
“Tapi betulkan, kalau sudah hilang sakitnya, pasti jadi enak kan?” tanyanya.
“Ya.. pasti,” kataku. Padahal itu hanya ucapan Lek Parto yang kutanyai dan bercerita tentang persetubuhan di bawah pohon kelapa sembari kami memperbaiki jaring. Kutekan lagi kontolku dengan lebih kuat. UJung kontolku terasa sakit.
“Aduh.. Mas… Sakiiiiittttt,” rintihnya.
“Ya. Mas juga kesakitan kok. Bagaimana, KIta berhenti atau kita teruskan,” kataku. Suti diam tak menjawab sembari menggigit bibirnya. Ketkika kucium pipinya, terasa olehku ada lelehan airmata di sana.
“Maaf dik…” kataku.
“Bu ne merasa sakit, Mas…” katanya meringis.
“Maaf Bu ne. Tapi sebentar lagi gak sakit lagi kok. Mas janji Bu ne,” kataku. Suti kembali senang dipanggil Bu ne.
“Ya.. Sudah diteruskan aja Mas. Tapi pelan-pelan ya?” katanya. Aku menciumnya dan memeluknya, lalu menekan kuat-kuat kontolku. Sreeeggg… sreeeggg. Kontolku sudah terbenam semuanya. Suti menjerit agak kuat.
“Massss…” Aku langsung menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya, agar suaranya tak keluar. Dia terus menangis. Aku membelai-belai rambutnya.
“Sakit ya Bu ne…” rayuku. Suti terus menengis. Aku mengatakan, kalau kontolku juga sangat sakit. Tapi aku percaya dua hari lagi, sakitnya pasti hilang. Hari ketiga kita sudah menikmatinya. Suti pun tak menangis lagi. Tapi sesekali suara sesenggukan terdengar juga.

Pagiitu, kami tidak ke laut, karena kesingan bangun. Ketika kami bangun, mata hari sudah menyapu-nyapu waja kami. Kami bangun dan aku menuntun Suti ke belakang untuk mandi. Aku takut juga, ketika Suti menangis saat melangkah. Katanya sangat sakit dan perih. Begitu juga saat dia pipis, katanya lubang pipisnya sangat sakit sekali. Aku jadi ketakutan dan sedih. Akhirnya setelah dia usai mamndi aku membopognya. Aku memasak nasi. Ketika kami makan, tubuh Suti hangat. Aku takut. Bu Mantri lewat dan aku memangilnya. Bu Mantri memagang kening Suti. Suti disuntik dan diberikan obat. Besok sudah tenang dan sehat, kata bu mantri. Aku senang. Setelahkusuapi makan, aku memberikannya obat.
“Biar cepat sembuh ya Bu ne…” rayuku. Suti tersenyum. Akupun minta izin untuk memancing, agar kami nanti malam dan sore serta besok pagi kami punya lauk ke laut. Suti melepasku dengan senyumnya.

Begtiu aku pulang membawa empat ekor ikan dan dua ekor kepiting serta 15 butir kerang, Suti melaporkan, kalau darah dari memeknya sudah berhenti. Kupegang keningnya sudah tak hangat lagi. Aku menyuapinya makan dan memberinya obat.
“Besok aku belum bisa melaut Mas. Aku takut dingin…” katanya memelas.
“Ya sudah Bu ne., Mas saja besok y ag melaut,” rayuku sembari mencium pipinya. Suti nampaknya senang sekali.
Kami pun tidur berpelukan dengan kegelapan malam. Ah… indah sekali rasanya tidur bertelanjang di bawah selimut sepotong kain batik. Suti sepertinya begitu erat memelukku. Dia kedinginan. Aku menebalkan selimut untuknya. Dia minta dikeloni terus agar hangat. Aku memeluknya. Subuhpun menjelang. Akuterbangun dan membanguni Suti. Cepat dia berpakaian dan menyiapkan bekalku. AKu berangkat ke laut dal;am lambaiannya. Kubisikkan padanya, agar semua kejadian dia tak boleh bercerita pada siapapun juga.
“Bu ne janji, Mas…” katanya setengah berbisik. Aku menuruni tangga rumah memikul jaring menuju perahu. Aku mengkayuh menuju tengah laut. Setelah menebar sekali jaring, akupulang. AKu takut, Suti entah bagaimana. Aku menjual ikan dan langsung pulang.
“Kenapa cepat pulag, Mas?” tanya SUti. Aku menjelaskan, hanya sekali menebar jaring dapat ikan sedikit dan langsung pulang. Aku takut kalau Bu ne entah kenapa-kenapa, kataku. Suti tersenyum manja. Dia memelukku Aku balas memeluknya. Nasi sudah siap, kami makan bersama, kemudian memberinya obat. Sudah empat hari, obat sudah habis dan Suti benar-benar sudah sehat. Langkahnya sudah pasti. Pipis sudah tak sakit lagi. Sudah biasa, katanya. Aku tersenyum.
“Jika kita lakukan lagi, pasti sudah enak, tak akan ada sakit lagi,” kataku memastikan.
“Bu ne mau Mas…: katanya.
“Setelah memperbaiki jaring, nanti kita mancing ke hutan bakau,” katraku. Suti setuju. Maksudnya sebagai uji coba, apakah Suti sudah mampu mendayung dan siap memancing.
Pandangan ahli

Setelah makan siang, aku masuk k peahu dengan membawa pancing dan jala. Adikku Suti ikut. Perlahan kami mendayung ke laut. Orang-orang melihat kami dan kagum. Mereka tahu, kami kerja keras, untuk kehidupan dan untuk orang tua di rumah sakit. ABRI yang masuk Desa pun tidak memaksaku yang masih berusia 18 tahun untuk ikut bekerja membuat benteng kampung nelayan dan saluran ar.
Angin menyeruak dari laut. Kamu harus melawan angin untuk bisa sampai ke tengah laut. Bersama kami mendayung perahu. Udang dan sotong kecil sebagai umpan sudah kami bawa. Juga ada sedikit ubi goreng sebagai makanan selingan kami. Satu jam lamanya kami mendayung, akhirnya kami sampai juga pad sebuah paluh. Kami mulai menetak pancing kami di rimbunnya pohon-pohon bakau. Sesekali aku menebar jala. AKu kurang pintar mengembangkan jala. AKu berpikir, jika jala tidak kutebar, sudah pasti aku tidk dapat ikan. Setidak pandainya aku menebar, jalan bila dia kutebar, mana tau nasib berkata lain, aku bisa dapat seekor-dua ekor ikan. Benar saja, tali jalaku bergetar. AKu menariknya lamat-lamat. seekor ikan hampir sekilo beratnya tertangkap. Kakak merah yang nyasar ke paluh. Aku dan Suti gembira sekali. Kami akan menggorangnya, dan akan kami bawa ke rumah sakit untk ayah dan ibu. Tak lama, pancing Suti juga menangkap seekor ikan ukuran sedang. Kami senang sekali.

“Bu ne, kamu cantik sekali,” rayuku.
“Apa benar, Mas?”
“Ya… benar kamu cantik sekali, kataku. Sebenarnya, kontolku sudah mengeras. Mataku awas ke sekeliling.
“Maukah kamu mengisap tititku?” kataku memohon. Suti tersenyum manis. Dia menganggukkan kepalanya. Dia mendekatiku. AKu mengeluarkan kontolku dari balik celanaku. Suti berjongkok di lantai perahu. Kontolku yang sudah mengeras dia jilat lalu dia kulum dan mempermainkan lidahnya pada bagian bawah kotolku.
“Aku senang, Mas…” katanya. Aku tersenyum. Kuelus kepalanya, lalu kusapu-sapu teteknya dari bawah.
“Kalau dia keluar, boleh aku menelannya, Mas?” tanya Suti.
“Terserah saja…” Kontolku kembali dimasukkannya ke dalam mulutnya. AKu melihat, Suti semakin dekat denganku. Perahu kami sesekali diterpa alun kecil, membuatnya bergoyang. Tapi ujungnya sudah kami tambatkan ke sebuah akar bakau. Aku semakin menikmatinya. Aku pun mengejang lalu aku menyemburkan maniku dalam mulutnya. AKu mendengar spermaku tertelan oleh Suti.
“Asin Mas…”
“Karena belum terbiasa,” kataku. Aku pipis dari atas perahu dan mencuci kontolku dengan air laut. Aku tersenyum pada Suti. Dia membalas senyumku.
“Kamu mau?” tanyaku?
“Dijilat saja ya Mas…” katanya tersenyum. Aku mengangguk. Kuminta dia mencucui memeknya terlebih dahulu. Suti yang tak memakai celana dalam setiap kali kami melaut dan juga di rumah, menurutinya. Setelah bersih kuminta dia rebahan di kepingan lantai papan perahu. Aku melihat sekeliling. Aku yakin kami aman. Belum lagi aku memulainya, pancingku ditarik oleh ikan. Aku menariknya. Seekor ikan sembilang terangkat dan aku memasukkannya ke lantai dasar perahu yang berair, biar Kakap dan sembilangnya tidak mati.

Suti mengangkangkan kedua kakinya selebar mungkin. Betisnya berada di sisi perahu dan dia bersandar pada ujung perahu. Sesekali burung-burung kecil bersiul-siul di pucuk-pucuk pohon bakau. AKu memulai menjilati memeknya. UJung lidahku bermain pada itilnya. Sesekali kusedot itil itu dan lidahku pun menari-nari pada sebiji kacang memek-nya. Aku tahu Suti menggelinjang dan menikmatinya. Dia semakin mampu menikmati betapa enaknya dijilati. Sesekali dia mendesah. Desahnya cepat hilang ditelan angin laut. Kedau kakinya sudah berpindah. Kedau kakinya sudah berada di atas punggungku dan pahanya menjepit kepalaku.
“Akhhhh….” desahnya kuat lalu melemas. Aku menghentikan jilatanku. Aku tahu Suti sudah sampai pada puncaknya. Dia tersenyum. Kami kembali menetak pancing kami, seperti tak terjadi apa-apa. Semenit kemudian, sebuah perahu melintas mau memasuki paluh. Orang itu, berhenti dan memutar haluannya, karena melihat kami dan paluh sempit itu tak mungkin dilintasi dua perhu yang bercadik.
“Sudah banyak dapat?” orang itu menegur kami.
“Baru satu Mang…” jawabku tenang. Kami meneruskan memancing. Suti tersenyum.
“Dia melihat kita tadi, Mas?” tanya Suti.
“Aku yakin tidak,” jawabku. Aku kembali mengambil jala dan menbarnya. Sekali, dua kali, tiga kali dan kali yag ke empat, aku dapat dua ekor ikan ukuran sedang. Aku mengajak Suti pulang ke rumah, sebelum angin berbalik arah. Suti setuju. Kami mengayuh perahu keluar dari paluh. Suti menancapkan tiang layar dan menarik layarnya. Angin berhembus membawa perahu. Sore seperti itu, pasang naik dan angin mengencang dan kembali sedikit enang setelah tengah malam. Kami terbawa angin dengan cepat ke tepian.

“Ada dapat dik?” tanya pak tentara.
“Satu ekor pak. Untuk kami masak dan kami bawa kerumah sakit untuk ayah,” jawabku. Tentara itu tersenyum.
“Ya… hatimu bagus sekali dik. Kamu sayang pada ayahmu. Begitulah seharusnya kepada orangtua,” katanya bangga. Aku tersenyum. Kami meneruskan mengayuh perahu kami ke bawah kolong rumah dan menambatkannya. Delapan ekor ikan kami bawa naik. Tiba, tiba seorang ibu bidan mendatangi kami.
“Sebentar lagi, kami ke rumah sakit. Ada titipan,” kata bu Bidan yang ikut dengan tim ABRI masuk Desa.
“Ya.. BU. Kami boleh titip ikan untuk ibu dan ayah?” kataku.
“Boleh… setengah jam lagi aku ambil,” kata bu Bidan. Kami cepat mempeisangi ikan-ikan itu. Kami goreng dan kami sambal. Ikan Kakap yang besar dan ikan Sembilang. IKa dan sambalnya, kami bungkus pakai daun pisang dan kami ikat dengan baik. Bu Bidan datang dan kami memberikan oleh-oleh untuk ibu.
Setelah bu bidan pergi, Suti pergi mandi, lalu kususul, dan kami mun makan setelah usai shalat mahgrib. Kami mempersiapkan makanan untuk besok subuh ke laut. Semuanya sudah beres.
“KIta tidur yuk… biar besuk cepat bangun dan ke laut. Kamu iku Bu ne?” tanyaku.
“Ya mas. Aku ikut,” kata Suti. Karena belum laurt, kami mengecilkan lampu saja di ruang tengah dan kami berangkat tidur dikelilingi kain pembatas. Dalam gelap kami melepas pakaian kami. Kami mulai berpelukan.

“Kamu mau bukti, kalau sekarang sudah tidak sakit lagi, malah akan nimmat,” kataku mulai merayu Suti.
“Pasti gak sakit lagi, kan Mas?”
“Ya.. pasti,” kataku sembari mencium bibirnya dan melumatnya. Lalu aku mengisap-isap teteknya dan sebelah tanganku mengelus-elus memeknya. Suti mendesah-desah. AKu merasakan memeknya sudah ada lendir.
“Mas masuki ya, Bu ne..” bisikku.
“Ya..”
Aku mengarahkan kontolku ke memeknya. Ujungnya sudah mulai menyentuh lubang memeknya. Perlahan aku menekannya. Perlahan dan perlahan. Masuk…masuk…dan masuk.
“Sakit?” tanyaku.
“Dikiiiiitttt…” jawabnya. Perlahan kutarik kontolku dan perlahan pula aku mendorongnya. Begitu terus bergantian. Suti mendesah dan memelukku.
“Dimasukin semua, Mas…” pintanya mendesah.
Aku menekan semakin dalam dan dalam.
“Yang cepat Mas…” bisik SUti mendesah dan memelukkukuat. Aku menggenjotkan semakin cepat…. cepat dan cepat.
“Ayo Mas… lagi…. ayooo….” Suti mendesah lagi. Aku menggenjotnya semakin cepat dan cepat dan cepat dan ccepat dan cepatttt.
Tubuhku dan tubuh SUti demikian rapatnya. Lengket. Kami sama-sama mengejang dan melepaskan kenikmatan kami. Beberapa kali aku menyemprotkan mani ke dalam lubang Suti. Dia memelukku sekuat tenaganya.

Kami beperlukan dan kontolku yang melemas, lepas dari lubang Suti.
“Kamu cantik sekali Suti..” biskku.
“BUkan Suti Mas. Bu Ne…” bantahnya.
“Ya… kamu cantik sekali Bu ne…” ulangku. Suti memelukku dan mengecup pipiku. Kami tertidur nyenyak. Kami terbangun saat menjelang subuh. Kami menyiapkan jaring dan memasukkannya ke dalam perahu. Kami pun menuju ke tengah laut, untuk mencari ikan dan akan kami jual untuk kehidupan kami.
mafia_arab is offline Add to mafia_arab’s Reputation Report Post       Reply With Quote Multi-Quote This Message Quick reply to this message
mafia_arab
View Public Profile
Send a private message to mafia_arab
Find More Posts by mafia_arab
Add mafia_arab to Your Contacts
Old 11-30-2009, 03:19 AM       #3
mafia_arab
murid bb17

mafia_arab’s Avatar

User Id: 13536
Join Date: Apr 2008
Posts: 249
Thanks: 60
Thanked 350 Times in 36 Posts
mafia_arab baru gabung jadi belum dikenal di BB17

Default
Setelah sekian lama kami berdua di rumah, rumahkembali menjadi ramai. Ayahku kembali dari rumah sakit. Tak boleh kerja berat dulu. Tak boleh minum kopi, minum alkohol dan tak boleh tidur larut malam serta harus istirahat. Tubuhnya sudah mulai berisi. Ibu sudah boleh menjual ikan kembali bahkan ibu mulai mencari kerang, bila air surut. Kami senang. Justru adikku Suti yang sedikit gelisah. Aku tak memanggilnya lagi Bu ne. Kecuali kalau berkelakar. Wajahnya selalu cemberut.

Besok Suti harus sekolah. Dia sudah mempersiapkan baju, sepatu, tas, buku dan sebagainya yang semuanya serba baru. Ayah dan ibu sangat senang padaku sebagai kakak begitu menyayangi adikku Suti. Kemanjaan Suti, membuat ayah dan ibuku semakin menyenanginya. Mereka senang kalau kami selalu dekat, karena hanya kami beruda anak mereka.
Ayah dan ibu kembali menempat tempatnya di kamar kecil dekat jendela depan. Kami lebar membatasi tempat kami. Aku dan Suti tidur di sebelahnya. Kami berdua tersenyum mendengar ayah mendengkur. SUti pun tak mau diam tangannya. Dia mulai menggerayangi kontolku.
“Ayo, Mas… mereka sudah tidur,” bisiknya di telingaku.
“Kapan-kapan saja. Nanti ketahuan,” kataku. Dasar Suti kalau sudah ada maunya, susah untuk menolaknya. Dia terus mengelus-elus kontolku sampai kontolku tegang.
“Aku ambil karet dulu. Supaya kamu tidak bunting” kataku. Kokoyak sebungkus kondom dan menddekatkannya padaku di bawah bantal. Suti membuka kancing bajunya dan mengeluarkan teteknya.
“Ayo… Mas….” bisiknya merengek. AKu mendekatkan mulutku ke teteknya dan mulai menjilatinya. Saat itu ibu mendehem dari balik kain sebelah. Aku terus mengisapi tetek Suti. Bergantian kiri dan kanan. Setelah Suti puas, bibirnya mengecup bibirku. Kami berpagutan. Sampai akhirnya Suti meminta aku menaiki tubuhnya. Dia kangkangkan kedua kakinya dn memintaku menindihnya. Kubuka bungkos kondom dan memasangnya. Setelah siap, perlahan aku menaiki tubuhnya. Suti segera menangkap kontolku dan mengarahkannya ke lubang memeknya. Aku mulai menggenjotnya. Kami berupaya agar kami tidak ribut, agar tak terdengar pada ayah dan ibu yang tidur di sebelah kami dipisahkan oleh kain lebar. Sampai akhirnya Suti membisikkanku agar aku mempercepat genjotanku. Aku mempercepat genjotanku. Saat itu, betisku dicubit. Ketika kutolehke belakang, ternyata yang mencubit betisku adalah ibuku. Ibu menggelengkan kepalanya dengan tatapan melotot. Tapi pucakku sudah beradadi ubun-ubun. Aku meneruskan genjotanku dan Suti menggoyang tubuhnya dan merangkulku dengan erat, sampai kami melepaskan nikmat kami bersama.

Kontolku semakin mengecil dan terlepas dari memek Suti. Kami menutupi tubuh kami dan tertidur seperti biasa, layaknya tak terjadi apa-apa. Tapi aku sudah susah tertidur, karena memikirkan, apa yang dilakukan ibu barusan. Dia mencubitku. Kami telah tertangkap basah melakukan hubungan suami isteri. Akhirnya aku tertidur juga. Ibu membangunkanku, saat subuh mulai tiba. Ibu sudah menyiapkan nasi dan lauknya ke dalam rantang plastik untuk kubawa ke tengah laut.

Ibu membantuku menurunkan jaring ke dalam perahu. Aku hanya diam dan malu, karena ibu mengetahui apa yang kami lakukan tadi malam. Cepat-cepat aku meluncurkan perahu dari kolong ruah melalui alur air ke tengah laut. Segera kupasang layar dan aku menuju tengah laut. Pikiranku masih tetap juga tak tenang. Akhirnya kulemparkan jaring. Beberapa kali sampai matahari meninggi dan terang. Para nmelayan lain sudah menuju daratan, sementara aku masih terus menebar jaring. Tangkapanku harini benar-benar gawat. Mungkin aku yang kurang konsentrasi, atau lagi sial. Akhirnya aku pulang hanya membawa sedikit ikan. Ibu sudah menungguku di tepi pantai. Kami menjualnya dan memberi dua kilo beras. Hanya itu yang bisa kami peroleh hari ini. Ketka aku mendayung perahu pulang ibu mendekatiku. Dadaku berdebar.
“Apa y ang kamu lakukan tadi malam sama adikmu?” tanya ibu datar. Aku diam. Ibu bertanya lagi dan aku hanya diam.
“Sudah berapakali kamu lakukan?” tanya ibuku. Lagi-lagi aku diam. Ibu tau, aku melakukannya dengan Suti sudah sering. Katanya dia melihat kami begitu menikmatinya dan Suti serta aku seperti suami isteri yang sudah terbiasa melakukannya. Kembali aku hanya diam saja.

Perahu sudah memasuki kolong rumah. Aku mengangkat jaringku untuk kuperbaiki. Ibu datang membantu setelah dai selesai masak nasi dan lauk serta membawakannya untukku. Aku makan, kini giliran ibu melihat jaring yang rusak. Ketika kami kembali melakukan perbaikan bersama, ibu menasehatiku, agar aku tak melakukannya lagi, karea akan menjadi aib, kalau Suti hamil. Ibu tidak tahu, kalau aku memakai kondom. Aku sudah menyembunyikian kondom dengan rapi di tempat yang tak mungkin ditemukan. Aku hanya tertunduk. Perbaikan jaring pun selsai.

Ibu mengajakku untuk mencari kerang ke pulau kecil takberapa jauh daripantai dan mencari kepiting. Kepiting boleh dijual besok, karean dia susah matinya. Aku menyetujuinya, agar ibu tak marah lagi pikirku. Setelah meminta izin ayah, kami melaut. Sebuah pulau kecil yang sunyi. Ibuku turun dari perahu. Dia mulai meraba-raba lumpur untuk mendapatkan kerang. Lumayan juga hasilnya ada dua meber besar. Kami pun mulai memasuki akar-akar bakau mencari kepiting. Perahu kami tambatkan di sebatang bakau. Ibuku yang bersia 37 tahun cekatan mencari kepiting. Kami mendapatkan beberapa ekor dan aku mengikatnya lalu memasukkannya ke dalam perahu.

Pulai itu sunyi. Sepi. Hanya terdengar suara desau angin, sesekali hempasan gelombang kecil dan cicit burung. Sesekali terdengar kepak sayang bangau, hinggap di pucuk bakau mengintip ikan kecil. Melihat bangau mulai ramai di pohon bakau, aku mulai menebar jaring, pastibanyak ikannya. Kalau tidak, mana mungkin bangau mau datang mengintipnya. BVenar sana, tebaran pertama aku mendapat tiga ekor ikan ukuran sedang. Beberapa kali aku menabar jala dan mendapatkan sembilan ekor ikan. Cukup untuk lauk kami sekeluarga.

“Kita ke pancuran, Bu. Kita mandi dan mencuci tubuh kita yang bau lumpur,” kataku. Ibuku setuju. kami naik perahu menuju pancuran dan mengambil air dalam jerigen. Aku mandi tanpamembuka celanaku. Membersihkan tubuhku. Ibuku juga mandi dan mengibas-ngibaskan celana pendeknya yang terkena lumpur. Aku melilhat bayangan tubuh ibu dari kainnya yang basah. Teteknya membayang dari kaos basah yang dipakainya. Zakarku membesar. Tapi dia ibuku. Ibuku… tak mungkin….
“Kamu nengok apa?” tanya ibuku. Aku tersipu malu dan menunduk. Lalu ibu meneruskan mandinya dan mengangkat baju kaosnya dan aku melihat jelas teteknya. Aku berdiri dan menatap laut. AKu tak melihat satu pun perahu. Benar-benar sepi.
“Bu…” sapaku. Ibu menoleh. Aku mendekatinya. Aku memeluknya dari belakang.
“Ada apa tole…?” tanyanya. Aku diam. Mulai meremas tetek ibuku dengan sebelah tangan dan sebelah lagi kumasukan melalu celananya yang berkaret. Kuelus jembutibuku.
“Ikh… kamu ini bagaimana….?” kata ibuku menepiskan tanganku. Cepat kupelorotkan celana ibu. Terus sampai mata kakinya, hingga ibu benar-benar tidak mengenakan apa-apa dari pusat ke bawah.
“He… kamu ini kenapa?” Aku diam dan hanyamemeluknya.
“Kamu mau buat aku seperti Suti, ya?”
Cepat kusogok kontolku dari belakang. Ibu berbalik dan aku langsung memeluknya dan menyogokkan kontolku disela-sela memeknya.
“Kamu ini…” kata ibu marah dan menolak tubuhku. Aku lebih kuat memeluknya dan kedua kakiku sudah berada di antara kedua kakinya. Kusandarkan ibu di batu besar dan landai. Langsung kusetubuhi.
“Kamu ini… ” kata ibu berteriak. Aku yakin, tak akan ada orang yang mendengarnyadalam sunyi ini. Terus kusetubuhi ibuku. Sampai aku merasakan memek ibu menjadi licin. Aku tau, kalau selama dua bulan lebih di rumahsakit, ibu tak mungkin bersetubuh. Aku terus menyetubuhinya. sampai akhirnya, ibu tak lagi berteriak dan menolak tubuhku. Ibu mulai menggeliat dan mengelinjang saat teteknya aku emut dan aku hisap-isap.

“Oh… kamu ini kurang ajar sekali, Tole…” katanya mendesah. Aku tak memperdulikannya. Kontolku terus maju-mundur dalam liang memeknya. Ibu pun… memelukku dari bawah. kami saling berpelukan dan erat sekali dan melepaskan keinkmatan kami bersama pula. Kucabut kontolku. Ibu tertunduk lesu. Diameneteskan airmatanya dan meleleh di pipinya. Aku membujuknya dan dia menepiskan tanganku. Kuajak dia naik ke perahu dan akumulai melepaskan tali ikatan perahu. Aku sengaja membawanya berbelok-beloj di sela-sela pohon bakau untuk mencari, mana tau ada kepiting lagi, sembari pulang. Kuminta ibu duduk di belakang dekat denganku, agar perahu bisa melaju. Ibu mundur dan mendekat ke arah diriku. Kupeluk ibu dari belakang dan membisikkan kepadanya agar dia memaafkan aku. Ibudiam saja. Kontolku merapat ke pinggangnya dan aku mengelus teteknya lagi.

“Ah… jangan… ini laut. Nanti hantu laut marah,” katanya. Aku diam saja dan tersmemilin teteknya dan menciumi tengkuknya. Kontolku kembali berdiri dan kuilepas celanaku ke bawah. Lalu kulepas pula celana ibuku hingga terlapas dari kedua kakinya. Ibukusudah setengahtelanjang. Kuangkat ibu ke pangkuanku, membelakangi diru. Kumasukkan kontolku dari belakang.
“Ah… kamu ini…” ibuku mendesah. aku terus menusukkannya Sampai jauh ke dalam. Perahu bergoyang-goyangdan aku menimmatinya. Ibupun mulai menjepit kontolkudan menekan pantannya agar kontolku masuk ke dalam.
“Ahhh….” katanya mengocok kontolku dan kontolkupun mengeluarkan sperma. Cepat kami memakai celana kami dan berkayuh pulang.
Dalam perjalanan ibu bertanya dengan wajahnya menatap ke haluan nan jauh.
“Kamu dan Suti melakukan ini juga di sana, kan?” tanya ibu. Aku diam. Ibu juga diam.
Saat kami tiba di rumah, ayah katanya ada di warung minum teh manis panas.

Sejak saat itu, aku dan ibu, suka melakukannya. Tidak di rumah, tapi di hutan bakau saat menangkap kepiting. Kodenya, ibu atau aku yang mengajak untuk menangkap kepiting. Jika menangkap kepiting, pasti kami melakukannya. Tak perduli walau kami hanya membawa dua ekor kepitingsaja. Berkali-kali dan berkali-kali. Akhirnya ibuku hamil. Kami yakin, anak itu adalah anak kami.

Jika aku mengajak Suti menangkap kepiting, ibu hanya cemberut. Dia juga tahu, kalau aku dan Suti pasti melakukan persetubuhan. Rahasiaku dan Sutidiketahui oleh ibu, tapi rahasiaku dan ibu tak seorang pun yang tahu.

Posted at 05:47 pm by pohonmangga
Make a comment  

Sunday, May 23, 2010
kisah nyataku... 1

Ini kisah nyata ku.......


Ini adalah kisah yang pernah ku alami dalam hidup ku, tentunya dalam hubungan seks, mungkin di forum inilah aku bisa mengutarakan apa yg jadi rahasia dalam hidupku selama 19 tahun ini . Perkenalkan namaku DENI ( nama-nama yang saya sebut semuanya nama samaran ) aku adalah seorang mahasiswa yg berumur 27 tahun dari keluarga yang berada di sebuah DESA di pulau jawa...hehehe. di desa yang lumayan terpencil dan termasuk desa yg rata penduduknya di bawah kecukupan.

Langsung saja ya bro....

Ini berawal dari aku masih duduk di kelas 2 sekolah dasar tetapnya aku berusia 8 tahun yg sudah mengenal yang namanya hubungan suami istri (entah sudah berapa kali aku melakukan hubungan yg tidak seharusnya aku lakukan ini) di sekolah aku mempunyai seorang teman, bisa di bilang sahabat, Sebut saja namanya MAMAN rumahnya tepat di samping rumah ku agak belakang sebab rumah di depanya adalah rumah neneknya yg tinggal bersama pamannya (pamannya maman adalah seorang buruh tani bernama AHMAD yang sudah menikah di karuniyai 1 orang, istrinya bernama YATI yang berwajah biasa alias wajah-wajah deso..hehehehe..tp tubuhnya seksi banget), maman adalah adik kelas ku dia masih kelas 1 karena bertetangga aku berteman sejak kecil sejak sebelum aku sekolah.

Maman mempunyai dua orang kakak perempuan, yang pertama namanya ENI (berusia sekitar 13 tahunan waktu itu klo gak salah dia kelas 1 smp) dan yang kedua namanya ENDAH (kira kira berusia 12 tahunan dia kelas 6 sekolah dasar satu sekolahan sama aku dan maman). Kami selalu bermain di kala siang bersama anak di kampung lainya layaknya anak-anak di usiaku dengan berbagai permain...

Singkat cerita....

Pada suatu hari sehabis pulang sekolah seperti biasa aku bermain bersama tetangga-tetangga dan maman bersaudara, waktu itu aku main petak umpet gak cewek n gak laku kami bermain bersama tepat di depan rumah ku dan kamu berempat aku dan maman bersaudara saat kami bersembunyi di rumah neneknya, tepatnya di ruang tamu, saaat kami sembunyi dalam permaianan, kami terdengar suara kaya kayu bergesekan kreket-kreket, Karena kami berempat penasaran kami pun mencari simber suara tadi. Pas sampainya di depan kamar pak Ahmad begitu kami memanggil beliau ( waktu itu pintu kamar tidak tertutup keseluruhan, mungkin karena di rumahnya Cuma ada neneknya maman yg sudah pikun, kok pintu kamar cedala aja terbuka lebar, sebab depan jendela cuma semak-semak kecil dan tembok samping rumah ku yg cukup tinggi ) kami berempat kaget setengah mati melihat apa yang di lakukan pak Ahmad dan istrinya, mereka melakukah hubungan suami istri yg belum pernah kami lihat, dalam kamar itu dengan posisi istri pak ahmad mengangkan dan di tindih, pak ahmad kelihatan bersemangat menggenjot istrinya yg sudah kelihatan lemas, cukup lama kami melihat adegan itu, sampai saat pak ahmad dan istrinya mencapai kenikmatan, dengan di akhiri karta aaauuuuccchhhhh dan merekapun tergeletak lemas dan kami pun segera pergi dari depan pintu itu takut ketahuan. Saking bingungnya kami melihat kejadian itu kami lupa klo sedang main petak umpet.

Keesokan harinya di sekoalah kami (kecuali eni sebab eni beda sekolahan) membicarakan tentang kejadian yang kami lihat dan merencanakan untuk melakuan pengintaian lagi di rumah pak ahmad, setelah pulang sekolah aku bermain kerumah maman bersaudara dan memberitahu eni tentang rencana kami tadi dan Eni pun setuju, maka kami pun memulai rencana tersebut, segeralah kami kerumah pak ahmad dengan alasan mau belajar bareng dan kami pun berpura2 belajar di ruang tamu, cukup lama kami menanti ternyata pak ahmad dan istrinya tidak melakukan hubungan seks maka kami pun pulang dengan hati yang kecewa.

Rencana pengintaian yang kita lakukan sudah berkali-kali gagal yang membuat kami putus asa dan menghentikan pengintaian. Hingga suatu hari klo g salah malam jumat, malam itu aku lagi asik main nitendo ibu ku manggil klo aku di cari maman, pas aku keluar rumah aku melihat maman dengan sikap terburu-buru ngajak aku kerumahnya, kata “ pamanku lagi main sama istrinya” tanpa pikir panjang akupun segera pamit ma ibu tuk kerumah maman dan segerlah kami pergi sesampainya di rumah pak ahmad kami lewat samping rumah di sana sudah ada eni dan endah dengan pandangan tajam ke arah kamar pak ahmad kali ini kami ngintip lewat jendela sebab jendelanya tidak tertutup alias terbuka lebar, di bawah pohonlah kami duduk di tumpukan kayu melihat adegan yang mebuat kami penasaran itu. Cukup lama kali ini kami liat permainan pak ahmad dengan berbagai gaya dan posisi, sekitar 20 menitan eh...belum sampai selesai kami liat permaian pak ahmad maman terjatuh dari tempat duduknya, sontak membuat kami semua jatuh dan membuat suara yg membuat pak ahmad tahu klo kami sedang mengintip, kami pun lari berhampuran pergi dan aku pun pulang.
Keesokan harinya kami takut bertemu pak ahmad hingga pada suatu hari saat kami lagi bermain secara tidak langsung kami berempat bertemu pak ahmad dan ternyata beliau tidak marah, mungkin beliau tidak tau kalau kami yang mengintip, sejak itulah kami sering mengnitip pak ahmad dan istrinya, sampai-sampai kami tahu jadwal dan waktunya pak ahmad berhubungan intim.

Dari sinilah petualangan seks ku di mulai.......

Pada suatu hari kami berempat sepulang sekolah ingin melakukan pengintaian meski hujan deras di hari itu, seperti biasa kamu mencari-cari alasan agar dapat masuk kerumah itu, tapi pada saat sampai dirumah itu tidak ada pak amhad dan istrinya. Hanya ada neneknya maman yang sedang duduk di ruang dapur, terus maman bertanya kepada neneknya “paman kemana nek” jawab nenek “pergi kerumah mertuanya”.
Rencana kami pun gagal dengan hati kecewa kami pun Cuma duduk-duduk di ruang tamu sebab hujan belum kunjung reda. Cukup lama kami ngobrol hingga saat eni punya ide gila.

Eni : gimana klo kita main kayak paman??
Endah : emang g papa mbak?
Eni : ya g papa lah, kita kan masih kecil

Aku dan maman saat itu hanya terdiam saja mendengarkan obrolan mereka berdua.
Dalam pikiran ku saat itu tidak ada rasa apapun, Cuma pengen tahu rasanya dan aku pun mulai berhayal bagaimana rasanya bila melakukan, cukup lama aku berhayal sampai-sampai endah bertanya padaku aku pun Cuma bengong sampai eni menepuk punggung ku yang bikin aku kaget hingga aku tersadar dari hayalan ku.

Eni : kok malah bengong???!!!
Aku : apa mbak??
Endah : gimana klo kita main kaya paman???
Aku : sekarang ??trus dimana??
Eni : ya sekarang lah mau pakan lagi, mumpung rumah ini kosong, Cuma nenek saja, main di gudang
Maman : paling nenek bentar lagi tidur
Aku : ayo kalo gitu, trus aku sama sapa??
Eni : kamu sama aku dan maman sama endah gimana??
Endah : gimana?? sahut endah
Aku : ayo kalo gitu
Kami pun bergegas melihat nenek yang tadi sedang di dapur, pas kamu kedapur nenek sudah g anda. Endah menyuruh maman tuk lihat ke kamar nenek, setelah maman ngecek kamar nenek ternyata nenek sudah tidur.
Maka kamipun sengera menuju gudang ruangan kosong tempat menyimpan kayu dan beras di sebelah ruangan dapur. Pertama-tama kami menyiapkan alas berupa karung plastik untuk wadah beras dan bantal dari kayu, kami menyiapkan dua tempat layaknya tempat tidur beserta batalnya. Setelah itu eni dan endah mulah melepas celana dalam dan menyikapkan rok mereka lalu berbaring mengangkang di tempat yang sudah saya sediakan tadi, aku dan maman disuruh eni melapas celana pendek kami, waktu itu aku belum memakai celana dalam. Setelah itu aku jongkok tepat di depan eni yg sedang berbaring begitu juga maman berada di depan endah.

Waktu itu perasaanku campur aduk melihat vagina eni yang mungil dan belum di tumbuhi bulu, vagina yang masih memerah banget dan entah dari mana tongkolku yang mungil dan belum di sunat itu pun mulai tegak berdiri siap untuk bertempur, lalu eni menyuruh aku segera memasuk kan tongkol ku ke dalam vagina nya, menengar perintah eni aku pun memasukan montolku kedalam vaginanya, dengan intruksi-intruksinya aku mulai menggenjot tongkol ku hingga terpenam keseluruhan tongkolku kedalam vaginanya eni, dan eni pun merintih sakit.
Yg membuat aku tertawa, melihat eni merintih aku pun bertanya “ sakit ya mbak”jawab eni “iya tapi kok enak” teruskan aja den.
Maka aku menggenjot eni dengan sekuat tenaga sampai eni merintih, meremas dan menarik baju ku aku g peduli. Perasaan ku pada saat itu aneh banget kadang merinding dan tongkol ku terasa hangat, entahlah yang jelas berjuta rasa campur aduk yang bikin aku merasa keenakan padahal waktu itu yg belum tahu apa-apa.
Setelah beberapa menit aku menggenjot eni sekuat tenaga sampai aku berkeringat, entah apa yang dipikirkan eni seingatku dia mengejang dan aku merasakan kehangatan penisku. Eni sudah mencapai orgasme yg pada saat itu aku g tau apa namanya orgasme, dia minta aku berhenti dan menyudahi permain itu. Ku cabut tongkol ku dari vaginanya eni, aku melihat ada cairan merah dan putih di vagina eni dan tongkolku, aku sedikit bingung dengan fenomena tersebut dan aku pun bertanya ke eni “ mbak kok memiawMu ada cairan itu” eni pun menjelaskan dengan rinci apa namanya cairan itu dan dari situlah aku tau tentang samua hal intim wanita ( maklum eni adalah siswa smp jadi mungkin dia sudah tau seluk beluk hubungan suami istri). Lalu eni balik tanya “kamu tadi sudah pipis di memiaw ku belum” jawabku “aku g tau, Cuma tadi terasa enak gitu aja” (padahal belum hehhehehe), Lama kami ngobrol kami g sadar kalo di samping kami ada orang.

Sedangkan di sampingku maman dan endah masih kebingungan mungkin mereka agak canggung atau g tau cara nglakinnya karena mereka berdua gak tau, beda ma aku yang dari awal sudah di arakan sama eni. waktu itu kami melakukan permainan sendiri dan g peduli dengan permaian maman dan eni. Setelah melihat aku dan eni selesai maka mereka pun ikut selesai. Kami pun menyudahi permaianan tersebut dan Memakai pakaian masing masing.

Setelah berbenah dan merapikan gudang kami pun keluar dan aku pulang kerumah ku sebab hari itu sudah mulai sore dan hujan pun sudah berhenti, dalam perjalanan ku pulang aku masih kepikiran dengan kejadian tadi, aku merasa nikmat tapi kok g sampai puas. Semalaman aku memikirkan kejadian tersebut hingga aku tertidur.

Waktu berlalu dan kami jarang bertemu mungkin karena waktunya ujian kami banyak menghabiskan waktu untuk belajar apa lagi eni yang harus mempersiapkan Ebatanas biar bisa lulus dengan baik.

Setelah ujian selesai, kami libur dan mengisi hari-hari libur dengan bermain-main seperti bisa, di pagi hari waktu itu anak-anak kampung lagi ngumpul di pos ronda, aku pun ketemu dengan maman bersaudara tapi waktu itu eni g ada sebab dia masuk sekolah, aku menghampiri mereka. Saat aku lagi asik main ama anak laki-laki, aku di panggil endah, dia ngajak aku ngobrol bahas masalah kejadian di gudang waktu itu. Dia pengen mengutarakan sesuatu makanya kami ngobrol agak jauh dari anak-anak. (obrolan anak kecil maksudnya)

Endah : den, waktu kamu melakukan ama mbak ku kamu merasakan enak gak??
Aku : iya enak, tapi kok ada g bisa puas yaa??
Endah : aku kok enggak yaa...
Aku : masak sih??
Endah : waktu sehabis dari gudang, dirumah tanya aku tanya mbak eni, dia bilang kok enak?? Gimana sih caranya??
Aku : aku Cuma nuruti perintah mbak mu ajak, ya aku gejot gitu deh..
Endah : oo...emang tongkolmu bisa berdiri...?? ( ini pertanyaan yg bikin aku ketawa seumur hidup ku heheheh)
Aku : ya bisa lah..emang kenapa??
Endah : waktu aku main ama adik ku, tongkolnya maman kok kecil banget n berdirinya susah..
Aku : masak sih??
Endah : iyaa...aku g merasakan apa-apa waktu itu...
Aku : ooo...(aku hanya bengong dengerin ceritanya)
Endah : den, kapan kapan kita main kaya gitu lagi yuk.
Aku : ayuk...(dalam dengan senang hati..hehehehehe)
Endah : tapi kita berdua aja, sebab klo ber empat aku sama maman lagi dong....

Setelah kami sepakat dalam obrolan tersebut kami cari-cari waktu tanpa sepengetahuan maman dan eni, hari itu rumahku lagi kosong sebab bapak ku pergi kekantor dan ibuku ikut bapak karena ada acara di kantor bapak.
Pagi-pagi betul kira kira jam 8 aku kerumah maman mencari endah, dan mengajak indah kerumah ku kami lewat pintu samping rumahku agar g ketahuan orang. Langsung saja aku ajak endah ke kamar ku.
Dikamar kami mulai buka baju, waktu itu endah Cuma buka celana dalam saja, tp setelah aku suruh buka semua diapun membuka baju hingga telanjang bulat, aku pun juga begitu. Kami berduapun berbaring di atas ranjang. Pertama kami Cuma bengong sebab sama-sama awamnya, trus aku berkata “kita lakuakan seperti pamanmu saja” dan dia Cuma ngangguk pasrah maka langsung aku kulum bibirnya sambil ku penggang teteknya yg masih rata kuremas, ku plintrir puting susunya dan dia pun mengimbanginya dengan memegang dan mengelus elus tongkol ku, semua itu kami lakukan sesuai naluri kami, setelah cukup lama kami melakukan ciuman aku mulai turun kebawah lalu menjilati teteknya yang masih mungi dan puting yang masih lembut banget yg membuat tongkol ku mulai kepingin memaskukan ke vaginanya (dalam hatiku).
Akupun mulai menarik dan mengangkat pahanya. Sekarang posisinya sudah mengangkan didepan ku, mulai ku menindingnya dan dengan pelan aku masukkan tongkol ku. Perlahan sesuai apa yang pernah aku lakukan dengan eni aku mulai genjot tongkolku, tapi pada waktu aku genjot dan tongkolku sudah masuk di liang vaginanya, dia menjerit AAUUU!!!! dan itu membuat aku kaget setangah mati Langsung kubungkam mulutnya, aku bilang “gak papa mbak eni dulu juga begini, katanya sakit tapi enak” jawabanya “tapi sakit dan perih” ya udah pelan-pelan saja balasku.
Aku pun melanjutkan genjotanku perlahan tapi pasti, sampai tak teras gengotanku makin lama makin cencang. Cukup lama kami mekakukannya hingga akhirnya endah mencapai orgasme pertamanya tubuhnya mengejang erat sprai tempat tidurku sambil memegang dan kakinya menjepit tubuhku dengan sekuat tenaga, melihat itu aku menghentikan genjotanku dan aku menikmati cairan hangat serta cengkraman vaginanya di tongkolku, ohh nikmat banget.
Selang beberapa lama aku mulai menggenjot lagi, endah pun mulai terbiasa dengan genjotanku dan mengikuti irama genjotan ku, sempat dia berpisik padaku ‘ nikmat banget ya den” tapi aku pun diam karena aku masih fokus pada genjotan tongkolku. Saking cepatnya genjotanku yg membuat tubuh kami berbenturan hingga menimbulkan suara plek-plek. Lama aku menggenjot tongkolku aku mulai merinding dan kepengen pipis waktu itu aku bilang sama endah “ mbak aku pepingin pipis” dengan polosnya dia jawab “aku juga merinding lagi, tapi kalo pipis jangan di memiaw ku” aku yang mendengar perkataanya langsung aku cabut tongkolku, saking g tahanya aku pipis di depan endah yang masih dalam posisi mengangkang.aauuuhhhh...nikmat banget maka keluarlah spermaku “crot-crot” yang dulu kami sebut adalah “ mau pipis” hehehehe...
Setelah kami merasakan kenikmatan itu akupun capek dan berbaring di samping endah, trus dia memeluk ku sambil berkata “ nikmat banget ya Den, kapan kapan kita lakukan lagi yuk”. Setelah kami beri istirahat untuk memulihkan tenaga kami segara mengenakan pakaian kembali dan menuju dapur untuk minum karena kehausan. Setelah minum segelas air lalu endah pamit untuk pulang.

Inilah sepenggal kisah ku, masih banyak lagi petualangan seks yg gak lazin di usiaku saat itu....klo berkenan nanti saya lanjutin lagi...sebab butuh waktu lama tuk menceritakan semua kejadian yang aku alami selama 19 tahun ini dan masih banyak wanita pernah aku tiduri dan aku perwani...

Posted at 12:20 pm by pohonmangga
Comments (2)  

MIMPI LELAKI TUA YANG MENJADI NYATA


http://neothesdony.b...20vian.jpgSejak masih kelas 1 SMP, Tasya sudah terlihat cantik. Dulu tubuhnya mungil. Berkulit bersih. (Bagi umumnya orang Jawa, kulitnya sudah termasuk putih) Di antara cewek sekelasnya kecantikannya paling menonjol. Tasya menjadi pusat perhatian juga karena kecerdasannya. Itu diakui oleh teman-teman dan para guru. Tetapi kekurangan Tasya adalah, dia cewek pemalu. Tidak PD. Bila didekati cowok, salting (salah tingkah) . Karena kekurangannya ini, Tasya tak punya banyak teman cowok. Meskipun sebenarnya banyak yang naksir berat sama dia.
Diam-diam salah seorang gurunya menaruh hati pada cewek mungil ini. Pak Wid, yang di usia 40 masih sendiri. Bujang Lapuak, kata orang Minang. Sebagai guru, dia tahu diri, sadar usia, maka yang bisa dilakukan hanya sebatas menggoda atau kadang-kadang memberi tugas ringan, mengambilkan tas di kantor atau disuruh foto kopi soal di koperasi sekolah. Bagi Pak Wid, yang penting bisa dekat, bisa bicara dan kalau bisa, …. sedikit menyentuh tangannya atau mencubit pipinya. Itu sudah cukup. Begitu terus sampai kelas tiga dan lulus, Pak Wid belum berhasil pedekate. Bahkan sampai lulus!!!!http://neothesdony.bluefameupload.com/img/f6d7af4ac391a0ebf4cc8ded04528114/Vian%20besar.jpg
Di mata para siswa, dia guru yang menyenangkan, berjiwa muda, pandai bikin lelucon segar saat mengajar dan ….. murah hati. Maka ketika mereka sudah lulus, masih sering mengunjungi rumah Pak Wid yang tinggal di situ ditemani ibunya yang sudah lanjut usia. Tidak heran jika acara reuni pertama mereka setelah 3 tahun meninggalkan SMP tercinta, diselenggarakan di rumah Pak Wid. Sederhana tetapi meriah. Acara demi acara lancar dan meninggalkan kesan yang mendalam. Hampir seluruh siswa hadir. Tidak terkecuali TASYA. Pak Wid belum melupakan Tasya. Guru jomblo itu masih memegang teguh tekadnya untuk mendapatkan Tasya.
Acara reuni sudah selesai. Sudah banyak yang pulang. Pak Wid berusaha menahan sebentar agar cewek pujaannya itu tidak pulang dulu. Bujangan tua ini sudah menyiapkan trik menarik, dia berharap bisa berhasil.
“Tasya, jangan pulang dulu. Sebentaaaar saja.”
“Ada, apa Pak.” Tasya menahan langkahnya di tangga teras.
“Mumpung kamu pakai pakaian cantik, aku mau ambil gambarmu.”
“Ah, malu, Pak!” Tasya langsung sembunyi di balik tubuh Kiki yang ada di dekatnya. Tetap saja dia masih pemalu.
“ Dewi, Sumi dan Andre, temani Tasya. Dia malu foto sendirian.” Masih terasa wibawa Pak Wid sebagai guru. Beberapa anak bergaya di depan kamera. Tetapi Pak Wid hanya meng- close up Tasya saja. Mereka nggak tahu tipuan itu.. Selesai foto mereka keluar dari teras menuju motor masing-masing. Pak Wid melambai ke Tasya juga. Dia membocengkan Kiki, sahabat dekatnya. Akhirnya rumah itu sepi. Tetapi Pak Wid masih berdiri di pintu pekarangan. Ada sesuatu yang ditunggu. 2 menit, 3 menit sampai 7 menit tak ada apa-apa. Pak Wid melangkah masuk, tiba-tiba langkahnya terhenti dan menoleh. Dia mendengar suara sepeda motor mendekat. Pak Wid tersenyum. Pasti anak itu mau ambil helm yang sengaja disembunykan agar cewek pujaan htinya yang pemalu itu kembali saat yang lain sudah pulang.
“Aduuuuh, Pak, helmku di mana ya?” Tasya bertanya dengan cemas.
“Lho, sudah sampai di mana? Kok baru ingat kalau nggak pake helm?” Pak Wid pura-pura heran.
“Gara-gara saya difoto-foto tadi, jadi saya tertinggal teman-teman.” Tasya cemberut, dia protes. “Aku pake topi serasa pake helm.Ternyata belum pake helm. Untung Kiki mengingatkan.”
“Wah, sorry Tasya. Betul juga kamu. Kalau masih banyak teman kan bisa bertanya .” Pak Wid mencoba menenangkan kepanikan cewek cantik itu. “Masuk sana! Dicari di dalam. Seingat kamu ditaruh di mana?”
“Tadi di stang motor!” Tasya sangat yakin. Wajahnya menampakkan kecemasan.
“Ya, siapa tahu ada yang meminjam tapi mengembalikan di tempat lain?” Pak Wid menjawab dengan kalem.
Tasya masuk kembali ke rumah. Kiki ikut mencari. Pak Wid juga “ikut-ikutan” mencari. Tapi tidak ada.
“Sudah, pake saja helm ku. Itu di motorku!” Pak Wid menawarkan jasa. Tasya ragu sejenak, tetapi merasa lega. Minimal dia bisa pinjam dulu untuk pulang.
“Pinjam dulu, ya Pak?” mengambil helm yang ditunjukkan gurunya.
“Bawa saja, aku punya dua kok.” Pak Wid menjawab tenang. ”Tapi duduk dulu sebentar dong.”
Karena merasa berhutang budi. Tasya menurut dan duduk bersama Kiki. Pak Wid mengumpulkan keberanian untuk memulai triknya.
“Hmm…ehm..Kiki dan Tasya rencana mau kuliah apa kerja.” Dia membuka pembicaraan.
“Kerja, Pak.” Kiki menjawab pendek. “tapi sambil sekolah.”
“Bagus…… jangan menganggur terlalu lama. Bahaya. Makin lama makin susah cari kerja.”
“Aku juga mau cari kerja, Pak. Tapi di mana…..carikan to, Pak!” Tasya tampak putus asa.
“Apa tujuan kamu kerja?” pancing pria bujangan itu cerdik.
“Ya mengembangkan ilmu yang diperoleh di sekolah.” Cerdas dan tangkas Tasya menyahut.
“Good. Jawaban yang cerdas.” Guru tua itu mengacungkan jempol supaya Tasya bangga.
“Kalau kamu, Kiki…………..?”
“Golek duwit, Pak” singkat saja Kiki menjawab.
“Betul, kamu Ki. Pinter. Akhirnya…..ujung-ujungnya…….” Dia sengaja berhenti untuk memancing reaksi.
“Du…wit!” Kiki dan Tasya menjawab bareng disusul tawa mereka meriah. Pak Wid puas. Umpan masuk!
“Kamu sudah tahu kan, waktu PPL, berapa upah minimum karyawan” Pak Wid menunggu.
“Nggak tau, Pak” Kiki bingung. wajah dan otaknya memang pas-pasan. Mudah bingung.
“Kalau yang saya dengar, 150 apa 600, nggak begitu jelas.” Tasya mencoba mengingat.
“Ya hampir mendekati betul. Upah seminggu 150 ribu . Jika sebulan ya 600 ribu.” Pak Wid memperjelas.
“Wah, besar sekali.” Kiki heran. Pak Wid juga heran, kenapa uang segitu dianggap banyak?
“Uang sekolah kita saja 100 ribu, transport 100 ribu. Ya kecil lah, Ki….” Tasya memprotes Kiki.
“Uang segitu hanya pas untuk makan, Ki” Pak Wid menjelaskan.”Padahal kita punya banyak kebutuhan lain.”
“Sudahlah, kamu memang belum perlu mikir seperti itu. Yang penting kamu kerja. Wis”
“Lha yo kuwi Pak, kerja apa? Beli pulsa sebulan aja sudah 50 ribu. Belum beli bedak, jajan” Tasya menghitung.
“Ada kabar baik dan kabar buruk.” Pak Wid mulai menebarkan racun. Dua cewek itu diam memperhatikan dengan serius. “Yang baik dulu apa yang buruk dulu?”
“Yang baik dulu Pak” Kiki usul tetapi dibantah oleh Tasya. Keduanya terlibat perdebatan seru. Baik dulu, apa buruk???
“Sudahlah, aku beri tahu yang buruk dulu?” diam sejenak…….hening….serius
“Aku punya lowongan kerja?”
“Horeeeeee……..!” dua cewek itu berteriak gembira tetapi sesaat kemudian kaget sendiri terus diam.
“ Ini kan kabar buruk? Piye to Pak. Ada lowongan kerja kok kabar buruk” Kiki bingung lagi menatap gurunya penuh tanda tanya. Pak Wid membiarkan keduanya tercekam rasa penasaran.
“Buruknya…… kamu belum tentu mau kerja. Males. Enak di rumah. Ya…..kan??”
“Ah, eng….gak…lah. Kerjo kok males. Susah-susah cari kerja. Sudah dapat kok malah males.” Kiki ngedumel.
“Itu kabar baik,” Tasya meluruskan. “ Bagiku….pekerjaan itu menyenangkan. Trus, kerja apa itu, Pak.” Tasya penasaran.
“Lho, nggak ingin tahu kabar baiknya…..?” pancing Pak Wid yang membuat dua cewek lugu itu semakin penasaran terhadap gurunya yang “baik hati” itu.
“Apa……Pak….he…he….he…..” Kiki tertawa senang. Yang buruk saja menyenangkan. Apalagi ini….”
“Ya iya lah!” Tasya juga penasaran.
“Baiknya….. pekerjaan itu ada upahnya…..”
“Aaaaahh…..yo mestiiiiiiiiiiiiiii ” kedua cewek itu memukuli punggung gurunya yang “nakal” Senang sekali Pak Wid
“Belum selesai …sudah main pukul…” pura-pura dia marah, “Kalau di pabrik upahnya 600 ribu sebulan. Tetapi pekerjaan yang aku tawarkan ini …upahnya cuma 200 ribu …..”
“Huuuuuuuuuuuuuu………” langsung mereka cemberut, tapi hanya sesaat karena guru itu melanjutkan, “ SEHARI!”
Aku ulangi Se….haaaaa…….ri”
“Haaaaa…? 200 ribu rupiah sehariii? Gek kerjo opo….kuwi?” spontan dan hampir bersamaan mereka bertanya
“Ringan….. tidak memerlukan pikiran dan tenaga yang berat. Hanya perlu sedikit keberanian dan…. tekad yang kuat. BEKERJA….DEMI UANG. “ Bau “racun” itu sedap sekali…. Sewangi “janji surga”
“Kerja apa to, Pak? Aku kok ora mudeng?” Kiki betul betul bingung.
“Pokoknya siapa yang mau kerja, Ayo, ikut aku! Tidak bisa ditunda. Besok sudah direbut orang lain. Siapa yang mau ?”
“Aku…Pak” keduanya menjawab serempak. Mereka bingung, tapi juga takut kehilangan kesempatan.
Pak Wid membawa keduanya ke sebuah hotel melati. Dipesan satu kamar yang besar dan cukup sinar dari jendela. Di tempat itulah kedua cewek itu baru tau bahwa mereka akan difoto. Mula-mula foto biasa. Masih berpakaian lengkap. Mereka bergaya dengan bangga. Selesai dua tiga cepretan. Uang 10 ribuan dibagi. Lepas sepatu dan kaos kaki, berani. Klap! Klap! Klap! Dapat 15 ribu, Artinya naik 5 ribu. Lepas baju luar, masih pakai kaos atau rangkapan dalam. Tambah lagi 5 ribu. Tak terasa sekarang tinggal Bra dan CD. Pada tahap inilah mereka mulai alot dan bertahan. Bahkan minta berhenti.
Pak Wid melambaikan lembaran uang berwarna biru kea rah Kiki. Karena terus ragu-ragu, Pak Wid menyelipkan uang itu di belahan dada Kiki. Dia sudah pegang 45 ribu. Sekarang di dadanya ada 50 ribu. Wah, hampir 100 ribu. Dengan mantap Kiki melepas bra-nya. Uang itu ditaruh di dompetnya. Susunya masih kecil. Tapi bagi Pak Wid yang penting Kiki berani lepas bra. Ini akan mempengaruhi Tasya. Klap! Cuma sekali. BH Kiki dikembalikan. Kiki mengenakan kembali.
Tasya berpikir. Apa susahnya? Hanya difoto sekali. Dapat 50 ribu. Lalu boleh pakai beha lagi. Pak Wid tidak menunggu Tasya. Lembaran itu langsung diselipkan di belahan susu Tasya. Tasya ragu-ragu sejenak dan …… melepas juga. Beha dilempar ke tempat tidur. Sambil memberi aba-aba dan mengarahkan Tasya untuk bergaya, diam-diam Pak Wid menyembuhyikan beha itu di bawah bantal. Dada Tasya biasanya tampak rata jika pakai seragam itu, ternyata…. Buesar! Pak Wid terpana! Klap! Klap! Dari samping Klap! Tak disangka, cewek kecil dan cantik ini menyembunyikan keindahan yang……dahsyat! Tasya disuruh duduk, dipotret dari atas. Klap! Benar-benar bulat dan putih. Tanpa membiarkan Tasya berpikir Pak Wid menyelipkan lembaran merah 100 ribuan ke CD Kiki. Melihat Tasya sudah mondar-mandir dengan dadanya yang besar tanpa malu-malu, Kiki tumbuh keberanian. Dipelorotkannya CDnya. Tampaklah memiawnya yang masih berjembie tipis. Klap!Klap! Kiki disuruh berbaring bugil. Klap! Tasya mencari-cari behanya, tapi tak menemukan. Kedua tangannya tak mampu menyembunyikan bukit-bukit putihnya itu. Tetap tumpah ke luar. Sambil terus memotret Kiki Pak Wid berpikir terus, bagaimana membujuk Tasya melepas CD nya.http://neothesdony.bluefameupload.com/img/a54de942f226d0b622f0f47e0eef2713/iki%20susu.jpg
“Aku nggak bisa Pak.” Rengek Tasya ” Malu…to Pak.” Wajahnya tampak memelas.
“Jangan malu, Kiki yang motret dari depan. Aku di belakang kamu.” Kuselipkan lembaran merah di CD putihnya. Pak Wid menarik Tasya menjauhi Kiki. Kamera diberikan kepada Kiki yang bingung tidak tahu caranya.
“Pencet aja tombol kecil di atas itu, Yak, sekarang.” Pak Wid menyemangati Kiki. Tasya masih bertahan tidak mau melepaskan satu-satunya penutup tubuhnya itu.
“Liat, Kiki tidak bisa motret. Kamu aman tidak kena. Jadi kenapa malu.” Pak Wid terus membujuk sambil memegang kedua tangannya agar melepas CDnya. Akhirnya tangan kiri Pak Wid bisa menurunkan CD sampai di atas lutut. Spontan Tasya menutup kemaluannya dengan kedua tangannya.
“Duuuuh….maluuuuu” terus Tasya merengek. Kubisikkan di telinganya “Ssssttt…ada tambahan uang 200 rb…tapi jangan sampai Kiki tahu……” Tasya mengendorkan pertahanannya
“Nanti selesai kuberikan….tapi jangan bilang Kiki….” Bisik Pak Wid sambil menurunkan CDnya. Sulit tapi akhirnya lepas. Dikantonginya CD putih bertuliskan “tasya” di kantong celana. Kamera diambil alih.http://neothesdony.bluefameupload.com/img/5bf4ee0482ae56bdb44cdb22a7aa6482/dipotret.jpg
Penampakan yang luar biasa. Impian 6 tahun kini menjadi kenyataan. Cewek cantik ini sekarang ada di hadapan Pak Wid tanpa selembar benang pun! Klap! Klap Klap! Tempiknya masih kuncup kecil dengan jembut tipis. Hmmm…..imuuut banget. Dadanya bulat, putih..perut ramping kecil…..
“Tasya, pakai dua tangahnmu untuk membuka “itu”mu!” perintah si fotografer. Tasya patuh. Di jembrengnya kemaluannya hingga nampak bagian dalamnya yang merah. Pak Wid menyuruh Tasya berbaring. Klap! Pahanya mulusss. Klap! Close up lubang kemaluan. Klap!
Tahap awal sudah selesai. Uang yang dijanjikan diberikan. Dengan rasa senang dan rasa aneh, dua cewek ABG itu menerima uang hasil “pekerjaan” mereka hari itu. Pak Wid tetap sadar diri. Tidak menyentuh “boneka” kesayangannya itu…. Sekarang belum saatnya. Dia ingin menanamkan rasa aman di hati Tasya. Tasya harus yakin, bahwa Pak Wid tidak berbahaya. Tapi Pak Wid masih punya keinginan membara, malahan semakin menggila.
*******
Tiga bulan setelah itu, Tasya menelpon “tukang foto” itu.
“Pak, kok tidak ada pemotretan lagi. Uangku udah habis.” Suara Tasya di sana. Berbunga-bunga lelaki tua itu mendengar suara merdu di seberang sana. Segala perlengkapan disiapkan Handycam dan kamera. Sebelum dimulai, melalui hape terjadi tawar-menawar harga. Akhirnya setuju 300 ribu? Deal! Tempat di hotel yang sama.
Tidak menunggu lama Tasya datang sendiri. Bawa motor sendiri. Tasya pakai celana panjang, baju kotak-kotak, baju itu tampak kebesaran. Maksudnya untuk menyembunyikan dadanya yang besar itu. Tasya memang cewek yang tidak percaya diri. Punya “kelebihan” kok disembuyikan. Ada perubahan nyata pada sikap Tasya. Tanpa malu-malu dan tanpa disuruh dia melepas sendiri semua pakaiannya. Sampai-sampai Pak Wid menahannya.
“Stop. Bertahap Tas….. Bagian atas dulu pelan…. Muter…..Naah……lepas yang bawah……”
Sessi pertama adalah pemotretan di kamar mandi. Pak Wid pengin memandikan cewek cantik ini. Melihat dari dekat, merabai seluruh permukaan kulit cewek ABG. Oooh …. bagaimana rasanya??? Tanpa membantah, Tasya membawa handuk yang diterima dari Pak Wid. Siang itu memang panas sekali. Mandi dapat menyegarkan tubuh.
Disabuninya kulit mulus itu. Tangannya kini merasakan secara langsung bagaimana halus dan empuknya bukit kembar yang indah itu. Tasya memandang dengan penuh perhatian dadanya yang dibelai. Ooooh…nikmat!
Oohhh….besaaar... empuuk…Putingnya yg merah itu jadi tegak, Karena diremes-remes Tasya merinding. Lubang di bawah jadi terasa lembab. Tangan gurunya ini bener-bener usil. Lereng-lereng bukit kembar itu dielus dan ditelusuri. Tasya terbuai sampai matanya merem sesaat. Pak Wid lalu jongkok, tanpa dapat dicegah oleh Tasya, mulut lelaki tua itu melahap bibir bawahnya. Karena nikmatnya, sampai Tasya mengangkat-angkat sebelah kakinya. Apalgi saat- dua serangan dilancarkan bersamaan. Tasya hanya dapat menggigit bibir. Untuk mengerang dia malu. Setalah tubuhnya diguyur air dan bersih dari bursa sabun, kembali mulut lelaki tua itu mencari sasaran baru. Acara “mimi cucu” mulai.
Tasya memandang ke bawah dengan tatapan takjub, bibir lelaki tua ini bisa mendatangkan kenikmatan ..ooh! Tasya membiarkan dua payudaranya yang super itu bergantian dikenyot “bayi nakal” sampai puas.
“Tasya, tolong lepaskan celanaku. Gerah sekali” Lelaki tua itu sudah merasa perlu untuk meningkat ke permainan berikutnya. Dari tanda-tanda dan basa tubuh, diketahui cewek abg ini sudah “menunggu dipetik”
“Ha? Jangan….Pak! Saya…nggak enak.” Tetapi dalam hati ia ingin tahu, “Kaya apa sih…?”
“ Aku saja nggak apa-apa, kok kamu nggak enak.” Pak Wid memaksa. Tasya melepaskan celana juga CD gurunya dan….. Ha? Ada benda aneh…. Coklat, panjang. Tasya merem. Pura-pura takut. Pak Wid menuntun jari-jari Tasya untuk mengurut-urut “burungnya” dengan sabun.Masih dengan mata terpejam dan ragu-ragu Tasya mengurut benda aneh itu. Makin lama terasa mengembang dan bertambah besar. Telapak tangannya tak muat lagi. Rasa-rasanya benda ini bertambah panjang terus. Tasya membuka matanya dan terkejut…hiiii…..kok jadi segede ni? Penampakan itu menimbulkan rangsangan hebat. Tubuhnya bergetar, darahnya mendesir-desir lebih cepat. Karena terserang “demam” tak dirasakannya tangan gurunya yang nakal itu mengusap-usap vaginanya. Sentuhan di vegi nya itu menambah hebat rangsangan birahinya. Ia ingin melenguh tapi malu. Maka hanya bisa menggigit bibir.
“Aduh, Pak. Sudah, Pak.” Ketika sampai di puncaknya dia tak tahan lagi. Tanpa disadarinya pinggulnya bergoyang. Lelaki tua itu paham betul. Tasya sudah “on” Dia berjongkok. Lubang kemaluan yang masih rapat itu dibuka dengan sapuan lidahnya. Jempol kaki Tasya tegak ke atas, menahan setrum ribuan watt dari lidah si tua bangka itu. Matanya tak lepas dari TKP, dilihatnya lidah itu menari-nari di lubangnya. Menusuk-nusuk bagaikan jari yang basah dan hangat. Tangan Tasya erat meremas sabun di tangannya. Sabun hotel yang tipis itu sampai putus dan hancur. “Penderitaan” Tasya semakin parah ketika dua tangan keriput dan hitam meremas bukit kembarnya yang super besar itu. Ooo…gila, mengapa bisa senikmat ini. Sinyal gelombang kenikmatan itu datang silih berganti dari dada, dari vegi terus menerus. “Sudaaaaahhhh Paaak!” tetapi yang terdengar di telinga guru bejat itu adalah ‘”Teruuuussss Pak!”
Pak Wid keluar dari kamar mandi. Tasya ditelentangkan di kasur. Pahanya yang putih mulus terpampang indah. Di tengah-tengah selangkangan yang putih itu terlihat kemaluannya seperti segitiga terbalik. Segitiga itu dihiasi jembut tipis. Kembali lubang kemaluan gadis kecil itu dikelamut habis-habisan. Tasya sudah tidak melawan lagi. Pak Wid mengangkangi tubuh Tasya yang kecil. Tasya membuka pahanya yang putih mulus, dengan pandangan mata yang pasrah.
“Pak, jangan dimasukkan dalam-dalam ya?” Pintanya mengiba. Tasya tidak tahu bahwa kalau benda tumpul itu sudah masuk, sedalam apa pun rasanya sama saja (enaknya). Pak Wid mengangguk.
“Lima senti cukup, Tasya . Nanti kalau terlalu dalam bilang ya?”
Mula-mula dipukul-pukulnya “kentongan” itu dengan “pemukul” ajaibnya. Plak, plak, plak. Lalu helm itu dipakai untuk nguleg itilnya merah yang mekar mengembang.
“Duuuuh….sakiiit. Jangan diuleg-uleg, Masukkan saja, Pak” terdengar merdu rintihan cewek ini.
Berkali-kali benda coklat itu gagal penetrasi. Kembali lidah sutera bertindak membasahi “jalan ke surga”
Coba lagi dimasukinya, sekarang lubang “kentongan” itu semakin licin.Kemaluan Viani mengeluarkan pelumas sendiri. Putih bening sehingga Pak Wid bisa masuk sedikit.
“Aduuh…jangan dalam-dalam, Pak…..” Pak Wid selalu menafsirkan kebalikannya.” Kurang dalam, Pak” Ditekan lagi, maju sedikit demi sedikit. Tiba-tiba Tasya menjerit lirih
“Aaaauuu…… sakiiiiit….jangan sampai robek ya Pak” rintihnya polos sekali. Padahal Sudah robek. Oh Tasya … Tasya, apakah kamu tidak tahu gurumu sudah mengambil kesucianmu?.
Dengan pecahnya selaput perawan itu, kini lancarlah jalan ke surga. Pelaaaann… dan lambat. Akhirnya semua bagian dari penis laki-laki tua itu masuk. Tasya mendongak dan menggigit bibir. Tetap jaim. Dia berusaha tidak mengeluarkan erangan. Tapi jari-jari kakinya jelas terlihat tegang meregang. Jari tangannya erat meremas kasur. Itu tanda yamh jelas kalau cewek jaim itu menahan hebat kenikmatan yang dirasakannya. Pak Wid kini bergerak naik turun, naik lagi, turuuuun lagi dengan halus.
“Pak jangan dalam-dalam…..ya…..Bapakku sudah wanti-wanti…….jangan sampai ….adduuuuh…” Tak bisa menyelesaikan ucapannya Tasya “terganggu” lewatnya arus “listrik 100 megawatt” diseluruh jaringan syarafnya.
“Jangan apa, cah ayuuuuuu……” Pak Wid semakin menikmati “living reality” mimpi yang jadi kenyataan.
“Kalo robek aku nggak perawan lagi oohh….sakiiit” tusukan itu menjawab protes Tasya. Pak Wid ingin ganti posisi. Tapi tidak berani menyuruh Tasya nungging .takut macem-macem, kuwatir Tasya protes. Yang penting sekarang hasratnya terpenuhi dulu. Tanpa bilang-bilang penisnya dicopot begitu saja lalu berdiri di samping tempat tidur. Tasya yang baru larut dalam kenikmatan tentu saja kaget dan kecewa. Tapi tetap saja jaim dia.
“Sudah selesai, Pak.” Yang diucapkan, tetapi dalam hati berkata, “Kok sudah Pak?”
“Sudah, aja, nanti kamu nggak perawan lagi. Wis, ya?” Pak Wid menggoda.
“Aaaa….Pak Wiiid nakaal, ya pelan-pelan to Pak. Asal jangan dalam-dalam.” Tasya ketagihan. Laki-laki tua itu bersorak dalam hati penuh kemenangan. Hu…. Akhirnya minta juga!
“Ayo balik badanmu. Sinikan pantatmu! Naah….. gitu. Masih utuh . Masih perawan. Kok. Jangan kawatir.” Pak Wid menjilat semua bekas darah di sekitar selangkangan Tasya. Nah, bersih. Diarahkannya lagi tongkat kenikmatannya ke lubang di tengah pantat putih itu. Enam tahun sudah, perjuangan tak kenal lelah. Akhirnya ….ah…pantat indah ini disodorkan di depanku, Tasya aaa…. Aku masuk lagi.
Kini terasa lubang itu semakin licin tetapi tetap sereeeet dan kenceng. Setiap batangnya mau ditarik keluar, bibir-bibir sexy anak cantik ini mengatup rapat dan menahan seakan mengucapkan “jangan keluar dong-yang” sehingga terasa diurut-urut urat-urat batang kemaluan Pak Wid. Eeeennaaaak tenan.
Pak Wid menyadari murid kesayangannya sudah sepenuhnya terikat dalam jerat kenikmatan yang memabukkan. Bagaikan daya hipnotis, buaian nafsu itu membuat Tasya lupa dan hilang kesadaran. Merasa “jalan” sudah lancar, Pak Wid mempercepat sodokannya. Diraihnya bukit kembar yang terayun-ayun di bawah sana. Diremas-remas dengan lembut dan penuh perasaan. Tasya tidak bisa jaga image lagi. Jebollah pertahanannya. Lepaslah kini erangan dan rintihan yang sudah lama ditahannya.
“Ahhhhh….. ssssss…….uuuh…….terusss……aahhh….”
“Enak ……….. sayaaaaaaang?”
“Enaaaak……sekali….”
“Tasya aaa……. Aku sayaaaang kamu…..cah ayu” Ini saatnya untuk mengatakan, yang terpendam selama ribuan hari dan jam di hatinya.
“Aku juga sayang Pak Wid. Ooooh……..” dalam ketidak sadaran akibat candu sex mulut mungil itu bicara. Pak Wid sudah puas mendengar jawaban itu. Dia tidak perlu memiliki Tasya. Kasihan, dia kan masih sangat muda, Baru 18 tahun. Sekarang dirinya sudah 46 tahun. Terlalu jauh beda usianya. Yang penting sudah diperolehnya saat-saat berharga yaitu keperawanan gadis yang lama diidam-idamkan dan dicintainya. Tusukan demi tusukan menghantarkan Tasya ke ujung perjalanan kenikmatannya. Tanpa disadarinya dia menghentak-hentak maju mundur dengan cepat. Mulutnya terbuka. Kedua payudaranya t erayun-ayun mengikuti gerakan tubuhnya. Nafasnya mmburu. Bintik-bintik keringat memenuhi wajahnya sekitar mulut dan dahi. Jadi semakin cantiiiiik. “Aaaaaaaahhhhh…….huuuuuuuuu hffff………” sambil merapatkan pantatnya erat-erat ke belakang. Pak Wid lalu mencabut penisnya yang berkedut-kedut di bawanya ke depan, ke mulut Tasya yang menganga. “Croootz….croooot” Tasya malah tersenyum bahagia. Mengulum penis yang masih licin itu dan menjilatnya bersih.
Pak Wid memeluk erat muridnya. Bibir mungil itu dikecupnya. Tasya membalas penuh gelora nafsu membara. Suatu perpaduan yang sangat kontras. Cewek secantik dan semuda itu dipeluk dan dicium lelaki tua yang sudah pantas jadi kakeknya. Kulit si gadis putih, kulit lelaki tua itu hitam dan sudah berkeriput. Lama sekali mereka berdekapan. Sampai hape Tasya mengingatkan untuk segera pulang. Pak Wid tidak jadi memberi 300 ribu. Tetapi 5 lembar ratusan. Dia iklas karena merasa sangat puas.
Kapan lagi Tasya telepon? Pasti ….. suatu saat akan didengarnya suara merdu Tasya di hapenya, “Pak ada job nggak?

Posted at 12:02 pm by pohonmangga
Make a comment  

Friday, May 07, 2010
ade imut

Ketika aku SMA kelas 2 saya memiliki teman yg bernama Erwin (kelas 3SMP) dan Indra (klas 6 SD). Mereka adalah kakak adik yg kehidupan pribadinya total loss. Dia tinggal bersama bapaknya sebagai ahli listrik sedang ibunya telah cerai dg bapaknya.
Erwin memiliki pacar Ria kls 2 SMP anaknya periang cantik dan sedikit nekat sedang indra memiliki pacar Ade kls 5SD wajahnya istimewa bagiku, kalem cantik, periang, aku sediri blm memiliki pacar karena keasyikan dg hobyku sendiri yaitu koleksi Reptil. Hubungan mereka dg pacarnya kurang harmonis karena dg alasan dia ga bisa di gituin alias buntu wkkkkk.... maklum anak kecil ga ada pengalamannya blas. a

Awal mulanya begini, waktu aku pindah kekostan udah ga tetanggaan dg mereka ttp dekat sekolahan Ade dan Ria. Maklum sekolahan di kota gede ada play group sampai SMUnya. ketika itu kira2 pagi jam6 waktu aku madikan reptil2 kesayangan di depan kamar kost. kebetulan aku jg malas masuk sekolah jd ya ga ada persiapan kesekolah juga. Pas kebetulan si ADE cewek imut kls 5 SD liwat dan sempat kaget liat aku kost dkt sekolahan dia. dia panggil Kak Don..... terlihat wajahnya ceria. memang kala itu Ade suka curhat masalah indra dg aku dan hubunganku dg ade sangat dkt karena masih tak anggap anak kecil ini.

"Kok ga sekolah?" tanya ade
"Ga ah, males lagian" jawabku datar
"aku jg males tu kak, aku tak mbolos disini ya" sambil dg posisi merayuku
"Terserah" jawabku

dia langsung bergerak cepat masuk ke kamar kostku yg bisa dibilang Guede kamarnya (8 X 4m)
didalam dia sedikit kagum melihat koleksiku yg aneh2 seperti ular, kadal, buaya, katak yg jumlahnya kira2 hampir 50 ekor dan ikan cupang yg jumlahnya ga terhitung. Tempat tidurku berada di tengah ruangan karena setiap sudut aku pakai untuk menyalurkan hoby dan bisnisku.

Ketika aku masuk kamar aku lihat Ade masih asyik.
"De aku mandi dulu ya" kataku sambil membawa handuk dan perlengkapan mandiku. aku beranjak kekamar mandi yang letaknya depan kamarku persis. Habis mandi aku lihat ade udah tiduran dikasur. Sedang aku hanya menggunakan handuk. "Kak pinjem baju dong biar ga kusut" aku berikan bajuku yang agak kecil ke dia trus dia langsung ganti didepanku tanpa sungkan ataupun risih. kululihat teteknya mulai mengembang karena dia ga menggunakan BH melainkan cuma kaos singlet yg juga ikutan dilepas ma dia. karena bajunya kebesaran maka ga perlu pinjam celana pendek. dia loloskan roknya pula trus di gantung didekat lemari pakaianku. akupun ganti tanpa canggung melepas handukku trus menggunakan celana pendek tanpa pakai CD.
seperti kakak adik yg tanpa canggung.

"Kak don, aku tu heran kenapa indra marah2 terus ma aku ya" tanya ade
aku bilang "biarin aja, wong dianya maunya cabul terus ma kamu tapi kamunya ga bisa dimasukin"
"ya kak, aku sih nurut aja ma dia suru gini ya gini suru gitu ya gitu tapi dianya tetep aja marah2 mulu ma aku" dg muka sebel
"kak don pernah ML? ajarin dong aku"
WAKKKK.... kaget aku. Kamu tuh masih kecil ga boleh jawabku........
kaaakkk...... ajarin yaaaa dg manja. akhirnya aku putuskan ya, tetapi aku ajarin oral aja dalam hatiku sekalian aku puas juga ga merusak masa depannya.

sini jawabku sambil mengelualkan Mr.P ku yg masih loyo. ade menghampiriku sambil bengong "diapain kak?" tanyanya polos. "kamu mau ga diajari"
"ya ya ya ya ya"dengan tergesa2 ade langsung memegang tetapi ga tau apa yg akan dilakukan." diapain kak" tanyanya polos.
"kamu jilati semua dari bawah sampe atas."
"wek jijik to.........."
"ya udah" aku masukkan lagi Mr.P ku kecelana
"Lho.............." wajahnya kecewa
" katanya jijik ?!?!?!"
"ya udah tak coba kak"
akulepas celanaku dan udah telanjang bulat

di baui seluruh daerah kemaluanku setelah dia yakin tidak bau dan bersih dijilat mr.P ku. setelah lama dijilat aku suruh masukkan kedalam mulut Mr.P ku yg dari tadi ga bisa tegang ini. "kok ga bangun2 ya kak?" tanyanya.
"buka bajumu gih biar kakak bisa bangun" tanpa komando dia lsg bugil dlm hitungan detik. aku lihat dia bersemangat sekali.
kembali dia memasukkan penisku di mulutnya. kulihat teteknya kecil yang sedikit mekar dan memiaw yg masih 100% botak ini akhirnya Mr.P ku sedikit merespon. dia masih pelan2 mengoral aku. aku mencari sensasi sendiri dg mengelus2 teteknya yg kecil ini. trus pindah misV yg botak ini aku gosok2. ade mulai terangsang kelihatan dari bahasa tubuhnya yg mulai menggeliat2 ga karuan sambil menghisap penisku. akhirnya dia akan mencapai puncak dan mengoralku dg keras bgt. dia mengejang kuat dan dg reflek dia jg menggigit penisku dg kuat. aku menjerit kesakitan. dia kaget dan bilang "maaf kak... maaf yaaaa....., ga sengaja". penisku pun dibikin ngilu setengah mati kena giginya sampai ga bisa apa2 rasanya. ade merasa bersalah bgt. aku mau dibawa ke dokter olehnya tp aku bilang ga usah.

akhirnya beberapa hari ini ade tiap pulang sekolah kadang bolos jg ketempatku menanyakan kabar penisku. memang beberapa hari aku mengalami impoten. pada suatu hari tepat 10 hari aku mendapati penisku tegak waktu bangun tidur. aku kegirangan banget. udah ga ada rasa sakit lagi dalam kata lain normal 100%. ketika itu ade masuk kamarku, aku inget itu hari sabtu. ade aku kasi kabar lsg dia bolos sekolah. dia berjanji akan memperlakukan lebih halus lagi. memang beberapa hari ini dia berusaha mengoral aku ttp ga bisa berdiri. kali ini dia mau belajar lagi tapi aku sedikit trauma dg kejadian kemarin.

"kak ade mau lagi kaya kemarin" katanya manja
"ga mau kapok aku"
"kaaakkkkkk..." dg wajah mau nangis gitu
akhirnya aku iyakan tp ati2 lho jawabku. aku punya pikiran mendingan dia tak kerjai dl sampe keluar jd aku bisa terangsang trus ga resiko kegigit lagi. akhirnya dia aku suru duduk di sofa kamarku. aku jilati putingnya yg dlm waktu 10 hari ini aja kelihatan perubahan yg cukup mengejutkan. trus tangan kananku menggosok2 klitorisnya yg, aku mulai jilat telinganya turun ke buah dadanya, turun ke missVnya, aku jilat dg rakus karena selain kecil botak ga bau sama sekali. aku jilat dari pantat naik e atas dg cepad dan sebentar kau tusukkan lidahku ke dalam pantatnya dana gantian ke miss Vnya yg masin 1000% perawan ini. dia mulai mengejang dan akhirnya organsme dia.

kulihat wajahnya yg nggemesin dan berkeringat tersenyum puas. akhirnya gantian aku di oral tapi kali ini lain. karena dia takut kena gigi maka mulutnya dibuka lebar2. aku bilang "jgn gitu rasanya ga enak tau, biasa aja ky kemarin tapi pake ati2". tanpa dikomando langsung dia bergerak. kali ini aku rasa hisapannya udah lain lebih kuat dan enak banget. dan akhirnya aku bilang "coba masukin yang dalam biar mentok, bisa ga?" kulihat dia berusaha memasukkan dalam2 penisku dan ternyata bisa. gila padahal penisku 16cm an kalo buat anak seukuran dia itu termasuk gede bgt, bisa amblas mentok masuk ke gorokannya. Rasanya sampe napas aja susah karena keenakan. meskipun gerakannya pelan tapi rasanya seperti didunia lain akhirnya aku ga tahan dan....... crot...crot....crot.... ga tau rasanya berkali2 sampe melayang. itupun tanpa pemisi dimulut jd langsung aku keluarin ditenggorokannya. aku langsung ambruk lemes. enak bgt kataku. Ade tersenyum puas karena merasa dia bisa memuaskan aku. aku dan ade langsung tidur.

kira2 jam 11 pagi akupun bangun kulihat ade masih tidur aku tinggal kekamar mandi. rasanya lemes bgt sampe buat berdiri rasanya bergetar lututku. aku putuskan beli makanan dulu disupermarket dan minuman energi biar ga lemes ky gini.
sampai dirumah kulihat ade baru keluar dari kamar mandi.

"Kak enak banget ya" katanya polos
"ya" jawabku sinkat sambil memasang komporgas portable yg jarang sekali aku gunakan dan aku memasak indomie 3bungkus. setelah masak aku makan berdua. setelah itu aku santai2 sambil nonton TV dia tidur di pangkuanku. dibalikkan wajahnya jd sekarang dia menghadap Mr P ku. di buka celanaku yg cuma kolor tanpa cd itu dan dimainkan lagi dg wajah dan tangan akhirnya berdiri lagi. "ehhh... udah dong, kamu kok jadi hyper gitu sih". " kak, aku sekarang jadi ga seneng ma indra, aku sekarang seneng ma ko doni. mulai hari ini aku putus ma dia" katanya menggebu2. "weee anak kecil aja kaya dah gede pake putus2 segala" candaku.
"serius kak"
"ya udah terserah sana' aku sambil terlentang
MrP ku masih di kerjai. dia mengulang suskesnya dengan mengoral pake tenggorokan.
rasanya nafsuku udah naik lagi tapi tak biarkan aja, soalnya mo ngapain lagi wong anak kecil.
akhirnya dia naik ke badanku. melepaskan semua pakaiannya.
dia berusaha memasukkan MrP ku ke vaginanya. aku jadi kaget.
"wak. kamu mau apa" seruku?
"Nyoba Masukan ya ko"
"jangan, kamu ga takut perawanmu hilang? nanti kamu nyesel lho"
"ga kok, suer"
"terserah sana, usaha sendiri"
dia masih berusaha dg posisi di atas mencoba memasukkan mr P ku.
pelan pelan akrhirnya yg kudengar kretek dan bles masuk mr P ku ke vaginanya.
kulihat sakit tapi ditahan. "katanya enak, kok sakitnya kaya gini ya kak"
kamu tenang dulu diemin aja didalam, lemesin badanmu dulu.
akhirnya setelah rasa nyerinya hilang ade mulai gerak2kan badannya naik turun. semakin lama semakin cepat
tubuhnya meliuk2 bikin tambah gemes aja. ga lama kemudian dia mengejang dan diam ga bergerak diatas tubuhku. kurasakan denyutan di vaginanya di mr p ku cepat dan kuat sekali.

sebentar dia bangkit menggoyang tubuhnya lagi, gerakkannya lebih luwes. kini ade bergerak dengan menjilati leherku naik ke daguku, trus mulutku dilahap kayak makan ice cream cornelo. wah gila rasanya. aku ga tahan juga. aku imbangi dg menggosok2 buah dadanya. sebentar kemudian ketika lidahnya terasa didalam telingaku aku merasakan akan keluar.
"deee kakak mau keluar......."
"akuuu iyaaa kak......."
selang beberapa detik dia mengejang dan kemudian aku menyusul karena meskipun diam didalam rasanya berdenyut kuat, dan....
croottt...crottt.... ga tau berapa kali akhirnya kami diam berpelukan erat.
sempat ketiduran.

setelah itu kami bangun dan kaget setengah mati. hampir separo ranjang darah semua termasuk badanku. kami berduapun kalang kabut dibuatnya. aku takut ade mengalami pendarahan tetapi ternyata tidak. wuih selamet rasanya. akhirnya aku putuskan kasur bersama sprei aku buang. kebetulan ada tukang sampah jadi aku langsung angkat masukkan aja ketruck sampah.

beberapa hari ini aku tidur beralaskan kardus TV yg biasanya aku pake alas kasur. maklum anak kost dan dagangan ikan dan reptil sepi jd ya ngirit. beberapa hari kemudian ada kiriman kasur serta mebel yg aku baru ketahui itu dari ade. maklum anak orang kaya, bapak ibunya jarang dirumah dan anak tunggal. jadi beli apa2 tinggal gesek aja. dia beli kasur serta mebel, ac, kulkas poko perabot komplit yang totalnya hampir 30 juta. Sempat mamanya curiga akhirnya datang ke kostanku. kami ngobrol2 dengan mamanya.
ade waktu itu keliatan manja bgt ma mamanya mungkin jarang ketemu.

"Ibu, saya ga minta barang2 ky gini ma ade. saya belinya aja ga tau. tau2 ada kiriman. dan semuanya dipasang2in oleh tukangnya, trus saya harus bgmana bu?" tanyaku ma ibunya ade
"Ya udah, pake aja pokok jelas uang keluarnya kemana ibu jg ga masalah kok. Ibu takutnya ade itu main narkoba aja"
"Mami, pokoknya kalo mami ga ada ade bobok sini" kata ade manja
"terserah pokok kamu jangan nakal" jawab ibunya

sesampai dirumah ibunya berbicara dg ade
"kamu ada hubungan apa to ma doni"
"itu ma dia tu ngajari semua pelajaran ade, yg ga tau ade tanya ma kak doni. orangnya pinter tapi ya agak aneh. itu yg bikin ade kerasan kalo disana. bayak ikan dan ular dikamarnya tapi tetep rapi kamarnya. ade jd betah. ini nilai ade juga bagus2 berkat kak doni" dengan menggebu2
"ya udah kalo gitu, kamu baik2 ya, besok mama mau berangkat keindia ma papi. ada proyek disana jd mungkin agak lama"
"ya mi"

keesokan harinya kamu udah seperti suami istri. hidup berdua, ML ampe puas, tidur bareng sekamar poko kaya suami istri gitu deh. orang lain liatnya kaya kakak adik karena memang terpaut jauh bgt. udah bisa bayangin sendiri kan (ga perlu jelasin crat cret crot gitu).

dan akhirnya dia punya pacar dan dikenalkan kalo ga salah namanya hendrik. dia pacaran ma hendrik tp tetep ML ma aku sekarang dia sudah nikah juga ma hendrik dan mengatakan hidupnya bahagia. kami kadang2 masih SMS dan curhat. kalo ada masalah pasti aku yg menyelesaikan

Posted at 10:49 pm by pohonmangga
Make a comment  

Next Page
Anak kampung
dibawah pohon mangga
Di Jakarta
Jangan Lupa Asal

Laut Disana
Begitu luas..
Jangan Lupa Asal



   

<< August 2010 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed